Ah, masih saja terjadi. Di zaman internet sudah menjadi sebuah kebutuhan seperti sekarang ini, sebuah pernikahan harus ditentukan oleh ‘hitung-hitungan’ sang kyai dukun. Meskipun katanya seorang kyai, saya lebih suka menyebutnya dukun.
Category: Refleksi Page 5 of 6
Lari di Sabuga (Sasana Budaya Ganesha), meskipun tidak serutin dulu lagi, tetap merupakan aktivitas favorit saya. Sabuga merupakan salah satu tempat pelarian saya ketika kepala sudah terasa sangat penat atau ketika sedih, marah dan ketika hati merasa terganggu. Berlari, sampai batas terlelah fisik, sampai tidak sanggup untuk berlari lagi, sampai kepayahan bernafas, sampai akhirnya terduduk lemas di pinggiran track lari tersebut.
Bulan Desember selalu memiliki arti penting bagi saya. Alasannya hanya 1, karena ternyata banyak juga teman-teman wanita yang saya kenal lahir di bulan ini. Beberapa orang yang lahir di bulan ini juga memiliki posisi yang ‘istimewa’ dalam hidup saya. Istimewa sebagai sahabat, guru, atau pun…ya, tahu sendiri lah. Setidaknya sampai saat ini. Dan karena itulah, tepat di awal Desember, tulisan ini saya dedikasikan bagi wanita-wanita tersebut.
Jika dibandingkan dengan para pengemis dalam tulisan sebelumnya, anak-anak jalanan barangkali lebih baik. Kemiskinan mereka lebih nyata, meskipun saya masih saja sangsi untuk memberi mereka uang. Itu yang saya lihat ketika untuk pertama kalinya saya datang untuk membantu teman-teman mengajari mereka membaca dan menulis di Pasar Ciroyom, Bandung. Karena kegiatan tersebut juga merupakan salah satu program kerja Divisi Dakwah dan Sosial, SSG Cibeunying, tentunya tidak hanya mengajari baca-tulis huruf latin saja, tapi juga mengaji, shalat atau nilai-nilai Islam.
Surat Pembaca koran Pikiran Rakyat hari Rabu kemarin, 21 Nopember 2007, memuat sebuah cerita yang sebetulnya sangat memprihatinkan, tapi saya sempat terbahak-bahak juga membacanya. Sewaktu sedang mengobrol di depan kamar salah satu teman kost-an saya, tiba-tiba saya disodori koran tersebut “nih, baca…!” katanya.