Mau Kaya? Ngemis Aja!!

Surat Pembaca koran Pikiran Rakyat hari Rabu kemarin, 21 Nopember 2007, memuat sebuah cerita yang sebetulnya sangat memprihatinkan, tapi saya sempat terbahak-bahak juga membacanya. Sewaktu sedang mengobrol di depan kamar salah satu teman kost-an saya, tiba-tiba saya disodori koran tersebut “nih, baca…!” katanya.

Penulis surat pembaca tersebut menceritakan soal pengalamannya dengan pengemis. Ketika dia sedang duduk-duduk di pelataran Masjid Agung Bandung, tiba-tiba datang pengemis sedang menggendong anaknya, dengan tampang yang memprihatinkan. Bilangnya sih, “belum makan 2 hari“. Karena merasa iba, penulis tersebut, yang ternyata seorang mahasiswi Fikom Unpad, berniat memberi uang sebesar Rp. 5000. Namun, sebelum sempat diberikan, tiba-tiba terdengar ringtone HP, konon lagu dari group band Ungu. Tiba-tiba saja, pengemis tersebut misah-misuh merogoh tasnya dan mengeluarkan…jreng…HP Nokia terbaru, dan lebih bagus daripada si mahasiswi tersebut. Konon pengemis tersebut mengatakan…”nanti telpon lagi, saya sedang kerja sekarang.

Pengalaman lain, baru saya alami sebelum menulis ini. Ketika jaga warnet, datang seorang pengemis. Seperti biasa, saya dan teman-teman di warnet itu selalu memberi kepada setiap pengemis yang datang. Saya memberi Rp. 1000 kepada pengemis itu. Namun, tiba-tiba pengemis itu meminta untuk menukar seluruh uang receh miliknya. Setelah dihitung-hitung, total uang yang ditukarkan sebanyak Rp. 40.000. Whew!! Lebih besar daripada gaji harian seluruh pegawai warnet itu. Gila, itu baru setengah hari…misalkan dia mendapatkan tambahan Rp. 40.000 lagi setengah hari berikutnya, total dia dapat Rp. 80.000. Misalkan dia ‘kerja’ selama 6 hari/minggu. Dia sudah ‘menghasilkan’ uang’ lebih dari Rp. 1.800.000/bulan. Weleh-weleh…!!

Cerita lain, sewaktu saya dan teman duduk di kursi depan sebuah angkot. Saat itu, kami melihat seorang pengemis yang memang sangat mengkhawatirkan, lebih-lebih karena secara fisik, dia memang cacat. Ketika saya dan teman saya ngobrol ‘mengasihani’ orang tersebut, tiba-tiba sopir angkot tersebut menimpali. “Wah, dia tuh sehari bisa dapat 400 ribu, kalau lagi sepi juga bisa dapat 200 rb. Dia udah punya 4 buah motor, dan anak-anaknya bisa kuliah. Rumah nya aja loteng.” Dan tiba-tiba, saya ingin mengutuk…

C 1 H 3 U L 4 17 6. 221107. 15.07

loading...

Previous

Bakat Terpendam: Jadi Psikopat!!

Next

Mengaji Yes, Teler OK!

10 Comments

  1. Jadi serba salah… Pendapatan dia lebih gede gitu… Mestinya kita yang disumbang Don, bukan mereka, huehehhee..

  2. karena itulah saya tidak pernah ngasih duit ke pengemis di pinggir jalan karena kebanyakan menjadikan mengemis sebagai bisnis, lebih baik kusumbang ke yang jelas aku tahu butuh, atau ke lembaga terpercaya semacam Rumah Zakat atau PKPU ….

    * SIGH *

  3. JaF

    “Nanti telepon lagi, saya sedang kerja sekarang..” Wuakakakakkk.. Ya emang betul sih mereka sedang kerja haha..

    Ikhlasken aja om.. Materinya emang mereka yang dapat, tapi insya Alloh pahalanya jatah kita. Betul?

    *tadinya tak pikir judulnya : Mau kaya? Ngemsi aja hehe*

  4. haha :)) emang kalo dihitung (pernah temen waktu itu yang menghitung dan mendata, kurang kerjaan). Penghasilan pengemis itu luar biasa loh

  5. Betul sekali nih. Mereka, para pengemis pendapatannya lumayan lho, apalagi menjelang lebaran. Saya pribadi sih memang jarang memberi ke pengemis, juga sekalian membiasakan diri mengingat sebentar lagi undang-udangnya keluar.

    Mendingan berderma langsung ke rumah yatim piatu misalnya, atau ke panti jompo dsb 🙂

  6. Donny

    @Arya : iya, setuju…
    @Andri: Setuju juga, saya juga sudah sejak lama tidak memberikan uang sebetulnya, lebih sreg memberikan kepada amil zakat yang bisa dipercaya.
    @Jaf: Saya juga dulu berpendapat begitu, tapi kalo dibiasakan, malah jadi seperti ini…:D
    @rd limosin: Wah, perlu tuh di publish hasil ‘penelitiannya’
    @riyogarta: akur om…;)

  7. Dy

    gile..pengemis hapenya nokia keluaran terbaru..aku aja gak klo pulang hapeny pinjem mlulu..hehe
    tapi iya sih, sudah sering kali aku denger cerita seperti di atas, bahwa pengemis itu kaya2,
    trus kalau bulan Ramadhan, mereka panen tuh..kalau papaku suka milih2, yg udah bener2 cacat baru mau ngasih, hehe..
    tapi di pekanbaru ada yg kreatif juga lho..ngemis sambil jual koran(eh ini namanya pedagang asongan ya? :D)..krn udah saking banyaknya pengemis dan anak jalanan di pekanbaru sekarang, jd susah deh ngebedainnya..
    tp menurutku ini lebih baik..setidaknya ada usaha gak hanya minta2 doang..walaupun tak niat baca, setidakny kan kita bisa tergerak utk beli aja dulu itung2 bs sekalian sedekah..

  8. aLe

    *baca komen om JaF*

    haha, iya neh, kirain ngemsi aja 😆

  9. kikuk

    kalo gua boleh ma bonyok gua, mending ngemis deh, dibanding cari kerja.. susah jo!!!!!!!

  10. emang kadang melihat pengemis yang kelihatan segar dan sehat jadi ogah mau beri, tapi kalo dipikir-pikir yach cape juga, kita serahkan kepada ke ikhlasan kita ketika memberi
    .-= Roza´s last blog ..APAKAH HALAMAN WEB ANDA MUDAH TERINDEKS ? =-.

Leave a Reply

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén