Menu of The Day: Batagor, Starbucks dan Flexy plus Nasi Padang

Nama saya sudah terdaftar sebagai anggota dan kontributor komunitas Batagor sejak awal komunitas ini terbentuk. Akan tetapi, baru hari minggu ini saya berkesempatan untuk menghadiri kopdar dengan orang-orang yang tergabung di komunitas tersebut. Sebelumnya, setiap kali Batagor mengadakan acara, selalu bentrok dengan kegiatan lainnya.

Setelah mencukur kumis dan jenggot serta menyiapkan senjata andalan saya, Olympus C-160, saya menuju LoaNet untuk menjemput Jalal. Kami menuju lokasi pertemuan “Bebersih Bandung Jilid III” di Taman Lansia, Jl. Cisangkuy dengan berjalan kaki. Selain tempatnya yang sebetulnya sangat dekat, kami merasa percuma saja naik angkot kalau sudah dipastikan terjebak macet di Gasibu yang kalau setiap hari Minggu dipenuhi oleh ribuan orang. Jangankan naik kendaraan, jalan kaki saja macet.

Tiba di lokasi dengan selamat, tanpa kurang satu apa pun, saya dan Jalal langsung melihat wajah yang sudah familiar, Inoex, salah satu teman di komunitas Forum Dudung.Net dan wakil ketua KLuB (Komunitas Linux Bandung). Dari KLuB selain Inoex, datang juga Rolly dan Rendy Maulana, juragan hosting pemilik Qwords.com, tempat saya menyewa hosting dan domain blog ini.

Dengan teman-teman Batagoris sendiri, cuma Catur yang teramat sangat saya kenal. Dengan Batagoris lainnya memang baru saat itu saja saya bertemu. Saya kira Agah Juragan Republik Kuliner juga akan datang, ternyata tidak ada (Kamana Gah?). Saya memang tidak langsung mengenalkan diri, tapi langsung SKSD. Selain Batagoris dan KLuBer, acara ini juga dihadiri oleh Flexter serta dari Starbucks.

Acara bersih-bersih dimulai sekitar pukul setengah 10. Seluruh peserta yang hadir dibagi menjadi 3 tim, setiap orang dibekali kantung kresek warna hitam untuk mengumpulkan sampah. Bersih-bersih sampah tidak berlangsung lama, hanya sekitar setengah jam, bahkan seingat saya kurang dari setengah jam.

Setelah bersih-bersih, acara kemudian berlanjut dengan acara game. Saya tidak terlalu tertarik untuk ikut-ikutan game. Lebih tertarik ambil foto dan jadi penonton saja. Catur ikut game goyang Dewi Persik, dapat hadiah tas. Saingan sama Nenek Nani yang ikut serta bersih-bersih dan datang entah darimana.

Acara game selesai. Bagi-bagi hadiah selesai. Saatnya makan siang. Terima kasih kepada Flexy yang sudah ‘traktir’ seluruh peserta makan nasi padang. Saya, Jalal, Catur dan beberapa Batagoris lainnya memilih makan di bawah pohon rindang. Termasuk Aki Herry dan Mamay Syani di dalam kelompok tersebut.
Setelah makan siang, dilanjutkan dengan ngobrol sana-sini dengan beberapa Batagoris lainnya, diantaranya dengan Adam. Batagoris terbagi ke dalam beberapa kelompok. Ada juga yang lebih dulu pulang. Catur termasuk salah satu yang lebih dulu meninggalkan arena kegiatan setelah diminta untuk mengantar Budi Putra yang hari itu datang ke acara tersebut. Selain Budi Putra, Jay juga datang dengan ‘senjata’-nya, sebuah kamera DSLR. Jay benar-benar bikin saya iri.

Menghabiskan waktu sekitar 20 menit sebelum akhirnya seluruh Batagoris membubarkan diri. Beberapa orang dikomandoi Aki Herry menuju ke lokasi Bedah Gubuk. Saya belum bisa ikut serta dikarenakan sudah ada janji lain dengan seorang sahabat. Saya dan Jalal pulang dengan berjalan kaki lagi. Melewati kemacetan dan keruwetan daerah Gasibu. Hari itu, Bandung sangat cerah, secerah wajah Batagoris yang hadir di acara bersih-bersih kali ini.

Bandung. 270408. 17.50.

NB: Beberapa foto bisa dilihat dimari. Belum semua diupload, fakir benwit euy!! Baru 3 foto, yang lain menyusul deh.


Islam Versi Bajakan: Ahmadiyah Ditinjau Sebagai Sebuah Sistem Operasi Komputer

Latar Belakang

Jika diibaratkan sebuah Sistem Operasi dalam komputer, Islam adalah sebuah merk dagang Sistem Operasi yang terkenal, jaminan mutu, fleksibel, berdaya saing dan berdaya jual tinggi serta most-recomended. Kualitasnya menyebabkan produk tersebut bisa bertahan lama sejak pertama kali masuk ke pasar. Dengan alasan kualitas itu pula, produk Islam digunakan turun temurun dan bahkan setiap orang tua mewajibkan anak-anak bahkan cucu-cucunya untuk menggunakan produk tersebut.

Islam menyebar menggunakan metode Dakwah dengan tim marketingnya terdiri dari orang-orang yang berkualitas tinggi dan sangat memahami seluk beluk Islam. Hebatnya lagi, tim marketing Islam adalah orang-orang yang melakukan dakwah secara sukarela. Barangkali persis seperti apa yang dilakukan oleh para pengguna Linux dan Open Source Software(OSS) di seluruh dunia.

Metode dakwah adalah sebuah metode marketing yang sangat fleksibel, bisa disesuaikan dengan kondisi psikologi sang juru dakwah maupun calon konsumennya. Namun sang juru dakwah dituntut untuk lebih memahami psikologi calon konsumen. Selain itu, seorang juru dakwah dilarang untuk memaksa calon konsumen menggunakan produk tersebut.

Tugas seorang juru dakwah hanya menyampaikan bahwa ada sebuah Sistem Operasi dengan merk dagang Islam yang memiliki berbagai kelebihan dibandingkan Sistem Operasi yang lain. Setiap orang bisa terlibat menjadi seorang juru dakwah. Bahkan, seringkali seseorang tidak menyadari bahwa dirinya sudah berperan menjadi seorang juru dakwah dan menyebabkan orang lain tertarik kepada Islam.

Islam kemudian tumbuh menjadi sebuah Sistem Operasi yang tidak lepas dari kehidupan sehari-hari seseorang. Oleh karenanya, Islam begitu dicintai oleh mereka yang menamakan dirinya Umat Islam atau Kaum Muslimin. Setiap orang yang sudah menggunakan Sistem Operasi Islam, maka dia sudah menjadi bagian dari Umat Islam.

Setiap pengguna Sistem Operasi Islam dianjurkan untuk membaca buku panduan Sistem Operasi tersebut agar tidak salah jalan dalam menggunakan Islam. Buku panduan tersebut dinamakan Al-Quran. Al-Quran diyakini berasal dari yang menciptakan Islam itu sendiri dan hanya satu-satunya buku panduan yang legal. Setiap pemalsuan ataupun modifikasi terhadap buku panduan ini tidak pernah berhasil karena ternyata isi buku panduan tersebut banyak dihafal oleh Umat Islam. Maka kesalahan satu huruf saja bisa langsung terdeteksi.

Al-Quran adalah sebuah produk open source dan berlisensi. Lisensi yang digunakan adalah Creative Commons Attribution-No Derivative Works 3.0 Unported License. Bebas diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun. Setiap orang bebas menyebarkan dan menjual duplikasi Al-Quran. Namun, setiap penjualan Al-Quran terjemahan harus disertai dengan sumber aslinya. Tujuannya sebagai fungsi koreksi jika terdapat kesalahan dalam terjemahan. Redaksi dari sumber aslinya tidak boleh dimodifikasi sedikitpun. Akan tetapi desain, penggunaan huruf dan penambahan ornamen pada Al-Quran -selama tidak merubah redaksi dari Al-Quran- diperbolehkan. Bahkan sebagian Umat Islam ada yang menganjurkan untuk memperindah bentuk tulisan kode sumbernya.

Sang Kreator Islam, Allah, memilih dan mengutus seseorang yang bernama Muhammad sebagai guru, pengajar dan pendidik yang memberikan pencerahan tentang bagaimana mengaplikasikan Islam yang baik dan benar. Oleh sebab itu, Muhammad bergelar Rasulullah, Sang Utusan Allah. Rasulullah memiliki otoritas penuh untuk menentukan mana yang boleh dilakukan, mana yang tidak boleh dilakukan dalam mengaplikasikan Islam. Rasulullah juga diyakini paling memahami penafsiran terhadap Al-Quran untuk kemudian diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Rasulullah kemudian mengajarkan apa yang dipahaminya dalam bentuk ucapan, perintah, larangan, sikap, tindakan, persetujuannya atau mencontohkannya. Kesemuanya itu ternyata memiliki makna yang mendalam bagi para sahabatnya. Oleh karena itu, tidak sedikit pula yang menuliskannya dan mengajarkannya ke anak atau murid-murid mereka, karena lebih banyak berisi teknis menjalankan Sistem Operasi Islam. Al-Quran tidak memuat teknis mengoperasikan Islam, hanya petunjuk-petunjuk umum. Step by Step atau How To pengoperasian tidak dibahas di dalam Al-Quran. Petunjuk teknis inilah yang kemudian dibukukan juga dan diberi nama Al-Hadits.

Sayangnya, jika dibandingkan membaca Al-Quran, sangat sedikit sekali Kaum Muslimin yang tertarik untuk membaca Al-Hadits. Barangkali karena terlalu banyak, dirasa membebani. Implikasinya, dalam hal melakukan praktik maintenance atau diistilahkan Ibadah dalam Islam, banyak yang tidak sesuai dengan petunjuk teknisnya. Perbedaan pemahaman dalam hal teknis inilah yang kemudian memunculkan berbagai Mazhab di tubuh Umat Islam.

Umat Islam yang memiliki pemahaman sama terhadap suatu pelaksanaan teknis, biasanya mendirikan sebuah organisasi, agar terakomodir dengan baik. Maka kemudian muncul berbagai organisasi dengan Platform Islam. Dalam Islam, platform tersebut berarti Aqidah. Berbagai macam organisasi ini dalam dunia Linux barangkali lebih dikenal sebagai Distro. Platformnya sama, Islam, tetapi citarasanya berbeda. Meskipun kerap kali terjadi ‘gesekan’ antar-pengguna Distro, tetapi tidak satu pun yang menyatakan mereka bukan ‘pengguna’ Islam.

Sebuah distro (organisasi) dikatakan memiliki Platform Islam jika: Pertama, menyatakan bahwa Allah adalah Sang Kreator Islam, tidak ada Kreator selain Allah; kedua Al-Quran merupakan satu-satunya Buku Panduan yang legal; ketiga Muhammad adalah Rasulullah dan merupakan utusan terakhir. Ini semua adalah harga mati. Oleh sebab itu, Muhammadiyah, NU, Persis, Hidayatullah, Hizbut Tahrir atau PKS di Indonesia masih dalam Platform Islam. Sama halnya dengan Fedora, Redhat, Ubuntu atau Mandriva yang masih disebut Linux.

Dalam keyakinan Kaum Muslimin, Islam yang ada sekarang merupakan Islam Final Release. Tidak akan mungkin muncul Islam versi yang baru ataupun utusan yang baru. Islam Final Release juga diklaim sebagai Sistem Operasi yang paling sempurna oleh sang Kreator. Oleh sebab itu, tidak akan pernah muncul Islam Service Pack 1 atau 2 atau berapapun yang berisi patch terhadap Islam Final Release.

Munculnya Ahmadiyah dan Penolakan Kaum Muslimin

Di tengah-tengah kemapanan Islam, di India muncul seseorang yang mengklaim dirinya sebagai utusan baru. Sang Utusan bernama Mirza Ghulam Ahmad (MZA). MZA kemudian menawarkan sebuah Sistem Operasi baru yang ‘dimodifikasi’ dari Islam. Sistem Operasi baru tersebut kemudian dikenal sebagai Ahmadiyah.

Masalah muncul ketika MZA memasarkan Sistem Operasi tersebut dengan merk dagang Islam. Selain itu, pengguna Ahmadiyah juga diberikan buku panduan baru yang diberi nama Tadzkirah. Ternyata, Tadzkirah sebagian besar diambil dari Al-Quran yang kemudian dimodifikasi oleh MZA. Selain itu, posisi Muhammad tidak menjadi utusan terakhir lagi dan posisinya digantikan oleh MZA.

Hal tersebut tentu saja menyulut keberatan dan kemarahan sebagian besar Kaum Muslimin. MZA diklaim telah melakukan pembajakan merk dagang Islam. Posisi Ahmadiyah pun menjadi serba tanggung, tidak bisa dikatakan Islam juga tidak bisa dikatakan sebagai sebuah Distro baru, karena platform yang digunakan sudah berbeda.

Sebagian besar Kaum Muslimin tidak terlalu mempermasalahkan terjadinya perubahan platform. Masalah terbesar adalah penggunaan merk dagang Islam sebagai Sistem Operasi baru tersebut. Jika dilihat dari sudut pandang pengusaha atau sebuah perusahaan, hal ini tentu saja sebuah masalah besar, bahkan hidup-matinya sebuah perusahaan. Terlebih jika merk dagang tersebut sudah mendarah daging dikalangan penggunanya. Dari sisi hukum, penggunaan merk dagang yang sama tidak bisa dibenarkan dan merupakan sebuah pelanggaran berat. Apalagi dilakukan secara terang-terangan.

Oleh sebab itu, kekhawatiran Kaum Muslimin sangat bisa dimengerti dan menjadi sebuah kewajaran jika Kaum Muslimin menuntut pembubaran Ahmadiyah atau meminta menggantinya dengan merk dagang yang baru. Inti masalahnya bukan terletak pada ketakutan atas berkurangnya pengguna Islam, akan tetapi lebih kepada kesalahpahaman yang dimungkinkan akan terjadi terhadap Kaum Muslimin dan Islam itu sendiri. Hanya saja, tetap tidak dibenarkan Kaum Muslimin melakukan perusakan terhadap Sistem Operasi tersebut.

Sebuah Opini

Shakespeare berpendapat, “apalah artinya sebuah nama“. Saya berpendapat, “hanya orang bodoh yang percaya pendapat Shakespeare“. Sebab ternyata pe-nama-an menjadi sangat penting dalam banyak hal. Allah saja mengajarkan Adam nama-nama benda terlebih dahulu. Di sisi lain, nama juga bisa menjadi fungsi koreksi jika ada pernyataan atau kutipan yang diatasnamakan terhadap seseorang.

Dalam kasus Ahmadiyah, penggunaan nama Islam jelas tidak bisa diterima karena ‘barang’-nya saja sudah berbeda. Di dalam agama Kristen pun pernah terjadi ‘perubahan’ platform tersebut. Sehingga muncul Protestan sebagai nama baru sebuah agama. Orang Katolik tidak mau disebut Protestan, begitu juga sebaliknya.

Penggunaan isu HAM pun menjadi tidak relevan karena persoalannya bukan terletak pada boleh-tidaknya seseorang beribadah dan meyakini sesuatu. Bayangkan saja anda memiliki sebuah perusahaan yang sudah anda bangun bertahun-tahun, sudah memiliki nama besar dan dikenal banyak orang. Lalu tiba-tiba, muncul sebuah perusahaan dengan nama yang sama dan diklaim sebagai perusahaan yang sama dengan perusahaan yang anda miliki.

Saya yakin anda pun akan menuntut pembubaran atau meminta perusahaan tersebut mengganti nama bahkan anda pun berhak untuk meminta ganti rugi atau menuntut mereka ke pengadilan. Tidak ada hubungannya sama sekali dengan HAM, karena itu adalah sebuah pelanggaran. Justru anda dan perusahaan anda telah menjadi korban pembajakan. Jika kemudian terjadi penyimpangan di lapangan oleh karyawan perusahaan tersebut, perusahaan anda pun akan menjadi terkena imbasnya. Anda tentu tidak ingin nama baik perusahaan rusak atau memberikan ganti rugi jika terjadi kerugian dipihak pengguna.

Di sisi lain, anda pun tentu akan melakukan gerakan penyadaran kepada para pengguna produk perusahaan ‘saingan’ anda tersebut bahwa produk tersebut bukan produk anda. Atau anda akan mengatakan bahwa perusahaan anda tidak pernah mengeluarkan produk seperti itu. Keberatan anda bukan pada para pengguna karena menggunakan produk ‘bajakan’ tersebut, akan tetapi pada perusahaan pembajak tersebut yang sudah semena-mena menggunakan nama perusahaan anda. Hal yang sama juga dilakukan oleh Kaum Muslimin terhadap Ahmadiyah, demi menjaga nama Islam itu sendiri.

Kesimpulan

Inti permasalah kasus Ahmadiyah adalah pada penggunaan nama Islam oleh Ahmadiyah. Salah satu cara agar Ahmadiyah tetap bisa leluasa bergerak dan ‘menjual produknya’ adalah dengan mengganti nama dan melepaskan embel-embel Islam. Selama nama Islam masih melekat pada Ahmadiyah, selama itu pula Kaum Muslimin akan tetap mempermasalahkan. Sayangnya, Ahmadiyah sepertinya tidak pernah berniat mengganti nama Islam.

Oleh sebab itu, dalil HAM tidak bisa digunakan dan tidak relevan karena kasus yang terjadi sesungguhnya bukan pada pelarangan Jemaah Ahmadiyah untuk meyakini apa yang diyakininya atau pelarangan beribadah. Persoalan keyakinan dan ibadah adalah urusan personal yang dilindungi dan dihormati oleh Islam. Akan tetapi, penggunaan nama Islam untuk Ahmadiyah tetap tidak bisa dibenarkan. Sebab Ahmadiyah merupakan sebuah entitas yang berbeda dengan Islam jika ditinjau dari platform (aqidah) Islam yang dibawa oleh Muhammad SAW.

Saran

Bagi Ahmadiyah, Ganti nama. Dengan resiko Ahmadiyah akan kehilangan beberapa Jemaahnya karena tidak merasa lagi sebagai orang Islam. Saya berpendapat begitu karena saya meyakini bahwa banyaknya Jemaah Ahmadiyah di Indonesia sebagiannya karena mengusung nama Islam. Oleh sebab itu, ketika Ahmadiyah dinyatakan bukan Islam, ada kemungkinan banyak Jemaah yang keluar dari Ahmadiyah.

Namun, tentunya Ahmadiyah tidak akan merasa khawatir dengan hal tersebut jika meyakini bahwa banyaknya Jemaah Ahmadiyah bukan karena mengusung nama Islam.

Bagi Pemerintah, segera buat kebijakan yang menjelaskan status Ahmadiyah. Jika mencontoh kepada Pakistan, Brunei dan Malaysia serta merujuk kepada Rabithah Alam Islami, maka Ahmadiyah dinyatakan sebagai sebuah agama. [Harry Sufehmi, Hidup Damai Bersama Ahmadiyah]

Bagi Umat Islam, tetap sabar, hindari pengrusakan dan perbanyak dialog. Kenali Islam dengan baik agar tidak salah pilih.

Bandung, 22.00, 19 April 2008.

Tulisan Terkait dari Blogger lain

Update: Kata Open Source pada tulisan ini saya coret setelah merujuk ke sini.  Ada kesalahpahaman dari saya pribadi.  Terima kasih.


Tentang Wanita Berjilbab

Banyak yang tidak percaya dan penasaran dengan kalimat “Tergila-gila wanita berjilbab sejak balita” dalam tulisan Facts About Donny Reza. Beberapa diantaranya adalah teman kerja saya. Sebagian besar yang bertanya merasa tidak percaya bahkan menganggap saya hanya sekedar bercanda. Salah satu yang penasaran adalah ‘rekan’ penulis buku Istikharah Cinta, mbak Soraya Fadillah, yang dapat dibaca di komen ini. Asli nih, bakal panjang!!

Sejak kecil, saya sering dititipkan oleh orang tua saya ke tempat saudara-saudara mereka. Minggu ini di rumah Paman saya di Sumedang, minggu depan saya sudah di Nenek saya di Garut, esoknya di rumah Uwak saya di Cianjur. Maklum, jarak antara saya dan adik saya dan adik bungsu saya memang sangat rapat. Saya dan adik perempuan saya berselang satu tahun setengah, adik perempuan saya dengan si bungsu berselang 2 tahun. Sebagai anak yang paling tua, saya harus rela berbagi kasih sayang dengan kedua adik saya. Namun, saya dapat kasih sayang dari keluarga yang lain. Tentu saja.

Saya lupa lagi kapan tepatnya, yang jelas sebelum saya masuk SD, suatu hari saya diajak oleh paman saya untuk bertemu dengan teman-temannya. Saya masuk SD tahun 1988. Bagi Donny kecil saat itu yang penting dibelikan Teh Botol atau Teh Kotak, Donny kecil pasti ikut. Apalagi paman saya tersebut yang ‘meracuni’ saya dengan Teh Botol dan Teh Kotak.

Saat itulah, saya melihat sesosok wanita yang berbeda dari biasanya. Saya masih saja ingat, dengan pakaian berwarna merah agak tua dan jilbab bercorak dengan warna dasar sama, wanita tersebut sangat menonjol dibandingkan yang lainnya. Wanita tersebut sangat cantik dan manis di mata Donny kecil saat itu. Dan dia juga hanya satu-satunya wanita berjilbab saat itu diantara teman-teman Paman saya. Cinta pertama Donny? Entahlah. Kurang mengerti saya. :D

Tahun 80-an barangkali adalah masa perjuangan bagi para wanita berjilbab karena seringkali mendapatkan ‘perlawanan’ dari tempatnya sekolah atau bekerja. Kalau pun ada yang berjilbab, biasanya ibu-ibu dan nenek-nenek, anak muda jarang. Donny kecil tidak mengerti soal itu, yang jelas sejak saat itu, dalam benak Donny kecil sudah tertanam sesosok wanita seperti itu.

Waktu berlalu, Donny kecil beranjak menjadi Donny ABG. Sekitar kelas 6 SD Ibu saya mengikutsertakan saya belajar mengaji di sekitar kompleks tempat tinggal kami. Pengajarnya beberapa orang mahasiswa, berjilbab semua. Donny ABG menemukan kembali mutiaranya yang hilang. Donny ABG semangat datang ke tempat itu bukan untuk mengaji, tapi untuk bisa dekat-dekat dengan mutiara-mutiara itu. :setannyengir: Saya jadi berpikir, jangan-jangan anak jalanan yang sekarang ‘diurus’ oleh sahabat-sahabat saya juga memiliki pikiran yang sama dengan Donny ABG ya? :D

Hanya saja, kegiatan mengaji tersebut tidak berlangsung lama. Donny ABG sudah beranjak menjadi anak SMP. Saat itu Donny ABG mulai mengenal yang namanya Cinta sama Monyet. Donny ABG jatuh cinta sama salah seorang wanita paling cantik di SMP tersebut. Gebetan sekaligus saingan, sebab dalam 3 tahun di SMP tersebut Donny ABG dan gebetan selalu berebut posisi siswa teladan. :gaya: (Gini-gini juga mantan siswa teladan)

Awalnya dia tidak berjilbab. Suatu pagi Donny ABG kebingungan karena tidak menemukan sang gebetan. Namun, Donny ABG terkejut melihat seorang wanita berjilbab di lapangan sedang mendapat hukuman karena datang terlambat. Dan ternyata, itu dia!! :angelcinta: Wow! Makin kelihatan cantik. Dan, lagi-lagi, Donny ABG serasa menemukan kembali mutiaranya yang hilang. Ketika itu, dia merupakan siswi pertama di SMP tersebut yang memakai jilbab. Sejak saat itu, sahabat-sahabatnya pun banyak yang memutuskan untuk mengikuti jejaknya. Saya sendiri jadi sangat termotivasi untuk shalat, biasanya hanya shalat maghrib saja, kala itu jadi rajin.

Waktu berlalu. Masa perpisahan tiba. Donny ABG memilih untuk melanjutkan ke sekolah favorit di Bogor. SMUN 3 Bogor. Sang gebetan memilih untuk ke Pesantren Gontor. Kami berpisah. Tanpa pernah ada pernyataan “cinta” atau “suka” diantara kami, meskipun kata teman-teman saya dia menunggu pernyataan itu. :angelpusing: Yah, Donny ABG memang tidak pernah PD soal cinta-cintaan. Sebenernya sampai sekarang juga begitu. Kabar terakhir, dia sudah menjadi seorang ustadzah sekarang. Alhamdulillah.

Saatnya masa SMA. Masa yang katanya paling indah. Memang, saya pun mengakui. Di sini Donny ABG menemukan juga tambatan hati yang lainnya. Halah. Sama, sang tambatan hati awalnya belum memakai jilbab. Lagi, hari pertama kelas 2, Donny ABG dikagetkan dengan peristiwa yang sama. Sang tambatan hati memakai jilbab juga, meskipun saat itu sudah mulai banyak yang memakai jilbab. Sejak hari itu, saya merasa hal semacam itu menjadi sebuah “kutukan” buat saya. Namun, kutukan yang baik tentunya.

Mengapa kutukan? Begini…Di dalam kepala saya mungkin sudah banyak lintasan-lintasan pikiran mengenai beberapa nama wanita. Hanya lintasan pikiran saja. “Kalau si A gimana ya?“, “Kalau si B gimana ya?“. Baik yang berjilbab, maupun yang tidak. Herannya, hampir semua wanita tidak berjilbab yang sempat saya pikirkan itu, sekarang memakai jilbab. Sebagian besar. Hanya saja, saya tidak mungkin menyebut nama. Ini tentu saja mengherankan saya. Bahkan sempat terpikir, “jangan-jangan kekuatan pikiran saya yang menyebabkan mereka memakai jilbab“. Hihi. Saya nggak ngerti soal itu. Saya juga bukan peramal. Bagi saya hanya sebuah ‘kebetulan’ saja, atau mungkin juga insting saya yang cukup tajam.

Akan tetapi, jangan diartikan teman-teman saya yang memakai jilbab juga karena saya pun pernah memikirkannya. Bisa merusak tatanan persahabatan. Itu sih kesadaran mereka sendiri. Untungnya, kalau wanita berjilbab yang masuk ke dalam pikiran saya tidak satu pun yang akhirnya membuka kembali jilbab mereka. Malah biasanya semakin istiqamah.

Masa SMA dilalui kurang lebih sama dengan masa SMP. Maksudnya dalam urusan cinta-cintaan. Donny ABG tidak pernah merasakan pacaran, sampai sekarang. Untungnya hal tersebut jadi sesuatu yang saya syukuri sekarang. Saya masih orisinil, beruntung banget kan yang jadi istri saya? Heu3x.

Perlu dicatat, dengan kedua wanita berjilbab yang saya ceritakan di sini, jarang sekali saya mengobrol dengan mereka. Kecuali setelah lulus. Ah, Donny memang seperti itu. Tidak pernah PD kalau urusan wanita. :D Sekalinya ke-PD-an, malah patah hati berbulan-bulan. Heu3x. Makanya, sekarang saya tidak terlalu tertarik lagi urusan cinta-cintaan zaman ABG dulu. Lebih tertarik ikutan jalurnya Fahri di Ayat-ayat Cinta :D

Baru setelah lulus SMA, saya mulai membatasi diri untuk ‘mencari’ dan mensyaratkan jilbab untuk calon pendamping. Alasan saya sederhana. Wanita berjilbab 99% Muslim. Saya tidak perlu repot mengira-ngira lagi, “agama dia apa ya?“. Sudah jelas, meskipun di Indonesia muslim masih mayoritas. Sesuai juga dengan apa yang tercantum dalam Al-Quran, “agar mudah dikenali“. Meskipun tidak selalu, tapi jilbab juga merupakan simbol ketaatan, simbol keshalihan. Kalau pada Allah Yang Maha Agung saja taat, mestinya ke suami juga taat. Dalam arti yang positif tentunya. Dan bagi saya, jilbab juga sebuah simbol pembebasan, bukan pengekangan.

Saya merasa, peristiwa masa kecil yang telah terjadi merupakan sebuah pengkondisian dari Allah untuk saya. Sampai akhirnya saya pernah dan masih serta mudah-mudahan selalu istiqamah untuk terlibat dalam organisasi yang -katanya- bergerak di bidang dakwah. Satu hal lagi yang sebetulnya patut saya syukuri. Perlu saya akui bahwa orientasi hidup saya berubah cukup drastis setelah berkecimpung di ranah dakwah yang berat berliku tajam dan kadang-kadang menukik. Meskipun, sejujurnya saya menjalaninya masih setengah-setengah, bahkan saya masih merasa belum berdakwah sama sekali, masih takut-takut dan malu-malu gitu deh. Tanda kurang iman sebetulnya.

So, begitulah. Asal muasal mengapa saya lebih tertarik wanita berjilbab. Awalnya faktor psikologis masa kecil, kemudian dikuatkan dengan peristiwa-peristiwa yang ‘memaksa’ saya tidak bisa lepas dari kutukan baik ini. Akhirnya, semuanya saya lakukan dengan penuh kesadaran dan menjadi pilihan hidup saya juga. Dan saya sangat bersyukur untuk itu.

C 1 H 3 U L 4 17 6. 130308. 06.00.


Rafling With Anak Jalanan

Alhamdulillah, salah satu program untuk membahagiakan anak-anak jalanan yang kami (SSG Daarut Tauhiid Wilayah Cibeunying) bina, berjalan dengan baik.

Hari Sabtu malam (5 April 2008) -ketika saya berada di warnet- Takwir (Ketua Wilayah) mengirim sms yang berisi pesan meminta bantuan untuk mengondisikan anak-anak jalanan bersiap-siap diberangkatkan ke Daarut Tauhiid hari Minggu Pagi (6 April 2008). Sayangnya saya tidak bisa ikut membantu pagi hari itu, karena sudah ada rencana di pagi hari. Lagipula, saya juga baru tahu ketika sms tersebut sampai ke HP saya.

Akan tetapi, saya tetap datang jam setengah 11 pagi, sudah sangat terlambat sebetulnya. Hari ini jadwal saya memang tidak terlalu padat, jadinya bisa datang. Ketika sampai di DT, saya langsung menuju area sentral 5, karena fasilitas rafling ada di sana. Area yang serba guna. Selain sebagai tempat parkir, bisa juga digunakan untuk futsal, syuting TV, kegiatan konser bahkan shalat.

Dari kejauhan saya melihat wajah-wajah yang sangat kenal. Sahabat-sahabat saya di SSG dan juga anak-anak jalanan tersebut, mereka semua berkumpul di bekat dinding rafling. Moment tersebut juga menjadi salah satu obat rindu bagi saya karena sudah hampir 1 bulan saya tidak pernah bertemu lagi dengan mereka.

Baru datang, saya langsung disuruh mendokumentasikan kegiatan tersebut. Untungnya, saya membawa kamera, meskipun ada juga kamera lain yang dibawa oleh teman saya. Beberapa hasilnya, bisa dilihat di bawah.

Raf_1

Salah satu Jargon DT yang dipasang di dinding rafling

 

 

 

Raf_2

Foto Agak Siluet :gaya:

 

 

Raf_3

Yeah, Jump!!

 

 

Raf_4

Situasi belajar-mengajar setelah rafling.

Biasanya di Ciroyom, khusus hari ini dipindahkan di DT.

 

 

Raf_5

Pribadi Tangguh Pantang Mengeluh…cenah!!

 

 

Raf_6
Langitnya cerah ya?!

 

Raf_7
Shalat Dzuhur berjama’ah

 

 Raf_7
Foto Bareng sebelum bubar.

 

Yah, begitulah.  Setelah shalat dzuhur dan makan siang bersama, kami membubarkan diri.  Anak-anak jalanan diantar ke Ciroyom kembali oleh Pak Ketua, Takwir yang rela mobil kijangnya sampai nyaris ceper gara-gara overload :-o .

Keinginan kami selanjutnya adalah mengajak anak-anak jalanan untuk bisa menikmati pengalaman ke Taman Safari atau Dufan.   Hanya saja kami sedang berusaha untuk mengumpulkan dana atau mencari donatur yang bersedia.  Mudah-mudahan ada yang bersedia.  Selain itu, keinginan terbesar kami adalah mengembalikan mereka ke orangtuanya.  Bagaimanapun, anak-anak tersebut masih memiliki hak pengasuhan yang lebih layak dari orang tua mereka.  Semoga saja.

Saya tidak langsung pulang.  Sempat melihat-lihat buku di SMM (Super Mini Market)  DT, kemudian saya mengejar shalat ashar berjama’ah di Salman.  Disanalah saya bertemu dengannya (siapa Don? oiyyy…siapa?!) :tweety1: , setelah hampir 2 tahun.  Sebetulnya bukan bertemu, hanya melihat.  Dia sedang bersama sahabat-sahabatnya.  Sebetulnya ingin menyapanya  :daah: , tapi…ah, sudahlah!  Lebih baik saya pulang saja.  Lagipula, melihatnya baik-baik saja sudah cukup membuat saya bahagia. :-)

Monumen.  060408. Maghrib.

NB:

  • 6 April…Happy Birthday Dad!! I Do Love You!
  • Nggak usah penasaran dengan orang di paragraf terakhir, nggak penting.  Lagian pake ditulis segala sih ya? bikin berantakan cerita aja… :bayinyengir: