Ah, masih saja terjadi. Di zaman internet sudah menjadi sebuah kebutuhan seperti sekarang ini, sebuah pernikahan harus ditentukan oleh ‘hitung-hitungan’ sang kyai dukun. Meskipun katanya seorang kyai, saya lebih suka menyebutnya dukun.
Tadinya acara jalan-jalan ke Pameran Buku Kompas-Gramedia di Sabuga niatnya hanya ingin mencari buku-buku bagus nan murah, atau mengikuti beberapa acara talkshow dengan harapan ada acara bagi-bagi hadiahnya. Akan tetapi, tidak satu pun buku bagus yang saya beli, soalnya diskonnya irit sekali. Acara talkshow pun tidak memberikan hadiah, batal deh punya buku gratisan lagi 🙂
Lari di Sabuga (Sasana Budaya Ganesha), meskipun tidak serutin dulu lagi, tetap merupakan aktivitas favorit saya. Sabuga merupakan salah satu tempat pelarian saya ketika kepala sudah terasa sangat penat atau ketika sedih, marah dan ketika hati merasa terganggu. Berlari, sampai batas terlelah fisik, sampai tidak sanggup untuk berlari lagi, sampai kepayahan bernafas, sampai akhirnya terduduk lemas di pinggiran track lari tersebut.
Bulan Desember selalu memiliki arti penting bagi saya. Alasannya hanya 1, karena ternyata banyak juga teman-teman wanita yang saya kenal lahir di bulan ini. Beberapa orang yang lahir di bulan ini juga memiliki posisi yang ‘istimewa’ dalam hidup saya. Istimewa sebagai sahabat, guru, atau pun…ya, tahu sendiri lah. Setidaknya sampai saat ini. Dan karena itulah, tepat di awal Desember, tulisan ini saya dedikasikan bagi wanita-wanita tersebut.
Kuatnya pengaruh film-film barat dan perasaan inferior yang sudah sangat kronis dari bangsa Indonesia, membuat kita silau akan segala hal yang berbau Barat. Termasuk juga dalam film dan cerita-cerita yang menjadi inspirasi. Dalam novel 5cm, yang pengarangnya memiliki nama depan sama dengan saya, tidak ditemukan satu pun film dari Indonesia yang menjadi inspirasi dari novel tersebut. Hampir seluruhnya Amerika punya. Padahal, menurut saya, ada film-film yang cukup menginspirasi.