Aduh, kenapa ya? Rasa-rasanya belakangan ini saya sedang berada di titik nadir kehidupan saya. Perasaan inferior yang terlalu berlebihan, sering tulalit kalau mengobrol, tidak fokus dengan apa yang saya lakukan, ketinggalan cerita dan informasi. Walhasil, saya merasa seperti hidup di dalam tempurung saja. Dunia berjalan terasa sangat cepat, tapi kemajuan yang saya dapatkan dalam diri terasa sangat lambat…bahkan terasa terlampau lambat. Jadinya tertinggal jauh, jauuuhhh sekali. Ini yang saya rasakan sekarang.
Ada 3 resensi terbaru di KataPengantar, ketiganya merupakan buah tangan Oci. Jadi malu sendiri, tadinya KataPengantar merupakan project pribadi untuk sharing atau resensi buku-buku yang pernah saya baca. Akan tetapi, beberapa buku sudah saya selesaikan, tapi resensinya tertunda terus. Dari 7 buku yang ada di KataPengantar, baru satu buku yang merupakan kontribusi saya, sisanya hasil kerja Oci. Malu…
Saat-saat mencintai shalat tahajud setiap malam,
Saat-saat suka shalat dhuha setiap pagi,
Saat-saat melakukan tilawah setiap selesai shalat wajib,
Saat-saat senang melakukan shaum sunat.
Sekarang, berat sekali rasanya melakukan itu semua 🙁
C 1 H 3 U L 4 17 6. 111207. 21.16
NB: Terbayang sesosok malaikat geleng-geleng kepala dan berkata “celaka kamu Don, Celaka!!” :((
Saya baru ingat kalau saya pernah berkomentar di blognya Oci yang lama, yang kemudian di re-post di blognya yang baru. Isinya seperti ini:
Sebetulnya, seni dalam hidup adalah ketika kita pernah berbuat kesalahan, melakukan dosa, dan bertindak bodoh. Dan moment-moment yang telah terjadi adalah sebuah catatan dalam hidup kita, maka ketika kita membaca catatan tersebut, kita jadi ingat tentang kesalahan-kesalahan kita. Dan itu menjadi sebuah kontrol dalam hidup kita agar tidak pernah melakukan hal yang sama lagi.
Serasa nggak percaya kalau pernah menulis kata-kata seperti itu 😀