mind.donnyreza.net

Category: Artikel Page 4 of 6

Ramadhan Bareng, Lebaran Bareng

Menarik sekali mengikuti berlangsungnya Ramadhan, ‘Iedul Fitri dan ‘Iedul Adha beberapa tahun terakhir.  Tentu saja, yang menjadi menarik adalah mengenai apakah Ramadhan, Lebaran dan ‘Iedul Adha tahun ini akan berbeda atau berbarengan lagi?  Akan tetapi, yang lebih menarik bagi saya adalah -tentu saja- proses ilmiah dibalik pengambilan keputusan penetapan momen-momen tersebut.

DomaiNesia

Adalah sebuah buku karya T. Djamaludin yang berjudul Fiqih Astronomi yang membuka pikiran saya dan sedikit menjawab kebingungan saya beberapa tahun lalu.  Buku yang sangat ilmiah, baik dari sisi Islam maupun sisi Ilmu Pengetahuan, sekaligus juga bisa menjawab permasalahan tentang terjadinya perbedaan pendapat mengenai momen-momen penting bagi Umat Islam tersebut.  Tentunya dilengkapi juga dengan dalil-dalil ilmiah (Al-Qur’an, Hadits, data-data astronomis, gambar, dll).  Meskipun masih ada istilah-istilah yang sampai saat ini belum saya pahami juga karena saya tidak mendalaminya.  Akan tetapi, dalam waktu-waktu selanjutnya, saya sangat terbantu ketika akan memutuskan kapan sebaiknya saya melakukan ibadah Shaum Ramadhan, ‘Iedul Fitri dan ‘Iedul Adha.

Menurut saya, terjadinya perbedaan pendapat mengenai momen-momen tersebut bukan sebuah indikasi terjadinya perpecahan.  Akan tetapi, sebuah proses yang harus dilalui oleh Umat Islam di Indonesia khususnya, menuju ke arah kedewasaan.  Toh, meskipun terjadi perbedaan waktu Ramadhan, Lebaran dan Iedul Adha, setidaknya sampai saat ini, tidak pernah sekalipun terdengar adanya bentrok fisik.  Bahkan, yang terjadi kemudian, Umat Islam semakin lebih toleran.  Juga Umat Islam semakin terbuka pikirannya, bahwa ternyata ada berbagai macam metode dan kriteria dalam hal penentuan waktu-waktu tersebut.  Ada proses pendidikan di sana, yang disadari atau tidak disadari oleh umat Islam di Indonesia.

Dulu, ketika segalanya ditentukan oleh pemerintah, kita tidak pernah tahu apa itu “hilal”, “ru’yat” atau “hisab”.  Akan tetapi, sekarang, hampir setiap mendekati Ramadhan, kita dapati penjelasan tentang hal-hal tersebut dalam media massa, buku atau blog.  Menjadi sangat mudah mendapatkan informasi-informasi tentang itu.  Diskusi-diskusi mengenai hal tersebut lebih sering diadakan di Masjid-masjid, kampus-kampus atau di forum-forum dunia maya.

Sesungguhnya pula, kebingungan yang terjadi ketika mendengar soal perbedaan pelaksanaan ibadah-ibadah tersebut, adalah hasil dari kemalasan berpikir.  Padahal, setelah kita mengetahui alasan atau dalil-dalil yang digunakan, meskipun sedikit yang kita pahami, segalanya bisa menjadi sangat masuk akal.  Bahkan -mungkin- kita juga bisa saja mengkritisi sebuah keputusan suatu lembaga terkait dengan momen-momen tersebut.  Atau memprediksi kapan waktu yang dirasa lebih tepat untuk melaksanakan Ramadhan, Lebaran atau ‘Iedul Adha.  Setidaknya untuk diri sendiri, syukur-syukur bisa memahamkan orang lain juga.

Kalau dipikir lebih jauh, indah sekali bagaimana Allah SWT mengatur hal-hal semacam ini.  Dalil-dalil mengenai awal dan akhir Ramadhan -misalnya- terasa lebih fleksibel.  Membuka peluang akal untuk melakukan ijtihad serta mengeksplorasi lebih jauh tentang ilmu pengetahuan yang terkait dengan proses tersebut.  Meski banyak yang mencukupkan dengan makna harfiahnya, tetapi banyak pula yang memilih untuk semakin mendalami kajian bidang tersebut.  Hasilnya, muncul metode hisab yang erat kaitannya dengan Astronomi atau ilmu falak.  Karenanya, perhitungan dan prediksi terjadinya fenomena alam semacam gerhana matahari, gerhana bulan atau waktu shalat menjadi lebih presisi.  Gerhana bulan yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir, sudah dapat diprediksikan berbulan-bulan sebelumnya.

Tentu saja, kita semua ingin melaksanakan Ramadhan, Iedul Fitri dan Iedul Adha secara bersama-sama.  Dan tahun ini, insya allah, semua itu dapat terlaksana.  Muhammadiyah dan PERSIS -meskipun memiliki kriteria hisab yang berbeda- sudah sepakat bahwa Ramadhan, ‘Iedul Fitri dan ‘Iedul Adha tahun ini tidak akan terjadi perbedaan hari lagi.  NU, Hizbut Tahrir dan Pemerintah memang belum memutuskan karena menggunakan metode Ru’yatul Hilal.  Akan tetapi, jika dilihat dari data hisab yang didapat dari Muhammadiyah dan Persis, kemungkinan besar tidak akan terjadi perbedaan waktu dalam pelaksanaan momen tersebut.  Alhamdulillah.

Web Hosting

Sumber Informasi:

Dimaafin

Ya … ya…

Saya tahu anda banyak dosa, banyak salah, banyak khilaf.

Jadi, sejak dari awal sudah saya maafkan kok… :setannyengir:

Selamat Menjalankan Ibadah Shaum Ramadhan 1429H

Salam Cinta,

:setancinta: :bayikiss:

Donny Reza yang suka bikin Catatan, suka Curhat, seringnya ber-Celoteh dan lebih sering Caper-nya.

Terapi Energi

Kali ini, saya ingin menyoroti -lagi- salah satu cabang seni yang saya sukai. Musik. Khususnya perkembangan musik di Indonesia saat ini. Meskipun, saya sudah tidak terlalu mengikuti lagi perkembangannya. Anda tahu arah pembicaraan saya kemana? Bagus kalau begitu. Tidak mengerti? Ya, mau bagaimana lagi..? 😀

Bukan kapasitas saya untuk menentukan sebuah karya seni itu buruk atau baik. Meskipun, secara subjektif saya juga bisa menilai mana karya seni yang menurut saya baik, dan mana yang tidak. Baik menurut saya, belum tentu baik menurut orang lain. Selera berbicara. Ketika berbicara selera, maka perdebatan tentangnya akan menjadi sebuah debat kusir tak berujung. Menghabiskan energi.

Seperti juga dalam bidang-bidang lainnya, dalam (industri) musik juga muncul musisi-musisi yang idealis. Adalah mereka yang tidak mau atau enggan berkompromi dengan pasar. Lebih cenderung ingin menjadi trend-setter, meski tidak kunjung nge-trend, dan terkesan egois karena karya yang dihasilkan biasanya ‘beda’ jika tidak ingin dikatakan ‘aneh’. Akan tetapi, musisi semacam ini biasanya memiliki fans yang loyal dan fanatik, meskipun tidak sebanyak fans musisi yang mapan di ‘pasar’. Beberapa memang muncul dan tetap eksis dengan idealismenya, tapi lebih banyak yang mati di tengah jalan atau tergoda oleh kemapanan industri musik dengan mengikuti selera pasar. Begitulah nasib idealis, dimanapun. Selalu berada diantara pilihan antara tetap idealis, atau mengikuti selera pasar.

Memang, ketika berbicara tentang industri musik, tidak bisa dipisahkan dari yang namanya uang. Pastinya seorang idealis pun butuh uang, yang banyak kalau bisa. Lagipula, tidak ada ceritanya seorang idealis identik dengan kemiskinan. Toh, perkembangan musik saat ini juga ditentukan oleh para idealis. The Beatles, Queen atau Elvis Prestley adalah idealis di zamannya. Karena mereka unik, mereka menjadi ikon perubahan dan menginspirasi sampai sekarang. Di Indonesia contoh yang paling kongkrit adalah Slank dan Iwan Fals. Oh ya, satu lagi … Rhoma Irama dan Soneta-nya. Musisi mana yang memiliki fans lebih banyak daripada mereka?

Hanya saja, karena industri dikuasai oleh pemilik uang, maka yang bersangkutanlah yang menjadi decision maker. Pemilik uang tentulah mencari musisi yang -diperkirakan- akan menghasilkan keuntungan besar bagi perusahaan. Singkatnya, perusahaan mencari musisi yang karyanya dipastikan akan laku di pasaran. Sementara yang laku di pasaran biasanya hanya genre musik tertentu saja. Di sinilah sesungguhnya ‘malapetaka’ bagi seniman musik dan musik itu sendiri, terutama bagi para idealis. Sebab, peluang bagi karya musik yang termasuk kategori ‘tidak laku’, ‘kurang peminat’ atau ‘kurang dikenal’ menjadi sangat kecil untuk bisa memasuki industri musik, apalagi sampai masuk ke pasar.

Untungnya, tidak semua pelaku industri juga perilakunya sama. Ada juga yang idealis. Masalahnya, mempertemukan sesama idealis ini juga bukan hal yang mudah. Seperti mencari jodoh saja. Dirasa-rasa cocok, nyatanya tidak. Dirasa-rasa tidak cocok, ternyata memang tidak cocok. Harus sevisi atau setidaknya memiliki beberapa kesamaan maksud dan tujuan, meski tidak harus semua sama. Dan yang jelas, harus siap dengan segala kerugian yang mungkin ditanggung. Disinilah letak perjudiannya.

Pertengahan 90-an adalah saat dimana gerakan Indie (independent) Label mulai muncul. Bandung menjadi barometernya saat itu. Dari deretan musisi Indie, muncul nama-nama yang saat ini sudah cukup dikenal, PAS Band dan /rif. Saat itu, karya mereka memang unik dan beda. Beberapa nama band tetap berada di jalur Indie, atau bahkan ‘mati’. Puppen, Pure Saturday dan Koil adalah contohnya. Ide Indie Label adalah sebuah jawaban atas sulitnya memasuki industri musik saat itu. Dengan dana sendiri -atau patungan- musisi tersebut merekam, mendistribusikan dan mempromosikannya sendiri, tanpa mengorbankan ide-ide mereka dalam bermusik. “Ini karya gua, lu suka? Dengerin! Gak suka? Tinggalin!“, begitu barangkali dalam benak mereka.

Meskipun telinga saya juga terbiasa dengan musik-musik di pasaran, akan tetapi ada saat dimana saya merasa muak bosan dengan kondisi industri musik di Indonesia. Dalam penilaian saya, tidak ada bedanya situasi sekarang dengan era 80-an, ketika lagu-lagu didominasi oleh lagu melankolis nan sendu. Atau ketika musik Malaysia ‘menjajah’ Indonesia. Hanya beda karakter musik saja. Nyaris seluruh musisi baru saat ini menawarkan tipikal musik yang sama. Bertema cinta, romantis, mendayu-dayu, melankolis dan -kalau bisa- bikin nangis. Ah, siapa yang tidak suka lagu semacam itu?

Persoalannya, lagu-lagu semacam itu cenderung ‘melemahkan’ hati pendengarnya. Ya, ya … saya juga tahu rasanya menjadi sentimentil dan melankolis. Dan rasanya tidak bagus, serasa manusia paling apes sedunia. Pret!! Itulah sebabnya, ketika berlagu saya sudah tidak sampai pada tahap ‘menghayati’ isi lirik lagu lagi. Sekedar bersenandung saja, tanpa makna, apalagi sampai menyamakan suasana hati dengan lirik lagu. Kualitas musik adalah yang utama, isi lirik tidak terlalu diperhatikan. Kecuali pada beberapa lagu yang memang berisi pencerahan atau mengajak merenung atau liriknya lucu, seperti lagu “Kesaksian Diri” dari Opick. Sampai merinding saya dibuatnya.

Beruntung, saya masih mendapati dan bisa mendengarkan beberapa musisi yang berani tampil beda. Terus terang saja, di tengah gempuran musik-musik mellow seperti sekarang, musik rock berubah menjadi sesuatu yang begitu saya rindukan. Saya suka musik rock seperti juga saya menyukai genre musik yang lain. Musik alternatife rock pernah begitu berjaya di akhir 90-an dan awal 2000. Akan tetapi, saya kurang menyukai jenis musik tersebut saat itu. Berbeda situasinya dengan sekarang, rasanya ada yang kurang tanpa kehadiran musik rock. Barangkali sebuah indikasi bahwa saya mulai jenuh dengan musik-musik yang mellow.

Maka, mulailah saya mencari musik-musik yang cenderung lebih nge-rock, berisik dan chaos. Ya, saya perlu musik-musik yang lebih bersemangat untuk didengarkan di pagi hari. Seakan-akan hari itu akan berangkat perang, berjuang. Saya memerlukan energi baru. Bukan akan patah hati. Dan ternyata saya mendapati beberapa lagu yang selama ini saya abaikan, lagu “What If” dari Creed dan “Simple” dari Collective Soul adalah contoh musik yang galak.

Lalu saya dipertemukan juga dengan musik-musik Bondan Prakoso & Fade2Black, The Miracle dan Saint Loco. Yeah, i like it. Saya sempat underestimate dengan The Miracle dan Saint Loco, tapi ternyata lagu-lagu mereka yang paling sering saya putar sekarang. Ketidaknyamanan saya hanya pada beberapa lirik lagu Bondan yang cenderung kasar.

The Miracle dijuluki Dream Theater nya Indonesia, karena pada awalnya mereka memang selalu membawakan lagu-lagu Dream Theater. Album perdananya, TheM, juga 80% terpengaruh Dream Theater. Meski tidak segarang Dream Theater. Ada kemegahan dalam musik mereka, keindahan melodi dan pastinya macho. Semuanya menjadi satu. Meski lirik lagu mereka lebih sederhana, tentang cinta juga, tapi musiknya lah yang menjadi kekuatan utamanya.

Diluar dugaan, saya benar-benar jatuh cinta pada musik yang ditawarkan Saint Loco. Sebagian besar materi musiknya bergenre hip rock a la Linkin Park, meski di beberapa bagian, saya merasa seperti mendengar influence Dream Theater. Beberapa lagu menjadi favorit saya, yaitu “Hip Rock”, “Get Up” dan “Terapi Energi”. Saya -sedang- suka sekali dengan geberan gitar dan hentakan drumnya yang ‘galak’. Musik yang benar-benar bisa menyuntikan energi baru.

Siapa Lu?! 2

Belum juga hilang rasa kesal ketika membuat tulisan Siapa Lu?! Eh, malah ada lagi yang bikin gregetan …

Rabiah seharusnya berterima kasih kepada Soetrisno Bachir karena dipublikasikan gratis di televisi. Perempuan yang dikenal sebagai Suster Apung itu, katanya, akan menjadi lebih terkenal nantinya setelah membintangi iklan Soetrisno.

Suster Apung seharusnya sadar, dirinya sedang berhadapan dengan ketua umum partai besar,” ungkap Ramli.

(http://www.detiknews.com/read/2008/08/15/172056/989424/10/dpw-pan-sulsel-akan-selidiki-orang-di-balik-protes-suster-apung)

Duh, yang mesti berterima kasih itu siapa, Pak?  Semestinya bapak, dong.  Bu Rabiah barangkali tidak membutuhkan ketenaran itu.  Bu Rabiah juga mungkin tidak peduli dengan kebesaran partai Bapak.  Buktinya, beliau keberatan diasosiasikan dengan partai bapak dan merasa terganggu.

Rabiah mengeluh pekerjaannya jadi terganggu dengan stigma masyarakat akibat dari iklan politik itu. Perempuan berjilbab ini ingin menjalankan tugasnya dengan tenang. Bagi Rabiah, pekerjaannya mengarungi laut lepas demi menolong warga adalah tanggung jawab sipil, tanpa embel-embel politik.

Tuh, lihat sendiri kan, Pak?

Kenapa mesti bapak yang berterima kasih? Ya, iya dong, masa ya iya lah… buah aja kedondong, bukan kedonlah.  Tuh, jadi aja…halah!!  Dibandingkan Soetrisno Bachir, Ibu Rabiah lebih dulu tenar, Pak.  Buktinya, bapak yang ngikut-ngikut bu Rabiah, bapak yang mendekati bu Rabiah.  Dibandingkan bapak, Bu Rabiah lebih menghayati jargon yang bapak gembar-gemborkan itu.

Kalau mau disebut orang yang peduli, nggak perlu bikin iklan, Pak.  Mending duitnya dipakai buat biayain Bu Rabiah.  Berapa milyar, tuh? Tenar mah datang sendiri, pak … kalau sudah ada hasil karyanya.  Atau kalau ngikutin jargon bapak, sudah ada perbuatannya.  Buktinya, Bu Rabiah jadi terkenal -mudah2an- karena keihklasannya.  Karena berbuat, pak.  Seperti yang bapak gembar-gemborkan itu …

Oh, ya.  Asal tahu saja, saya terganggu juga tuh dengan iklan-iklan bapak.  Sangat terganggu.  Terutama kalau yang sedang kepikiran adalah, berapa milyar duit yang terbuang karena iklan nggak penting semacam itu ya?  Lha, iya pak … pentingnya dimana coba?  Penting buat bapak, mungkin … tapi nggak penting buat saya.  Swear deh, pak … samber gledek deh bapak.

Hak bapak sih.  Duit, duit Bapak … mungkin.  Cuma, saya bingung, pak … sebenernya bapak ngiklan gitu pengen jadi presiden, ya, pak?  Ooppsss …

Siapa Lu?!

Rokok tidak haram, karena saya sendiri juga merokok, dan tidak ada akibat apapun yang terjadi. Intinya, rokok dalam islam dihukumkan tidak haram, asalkan tidak berbahaya bagi penggunanya,” kata Mbah Idris saat ditemui detiksurabaya.com di kediamannya, Jalam KH Abdul Karim, Kelurahan Lirboyo, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, Kamis (14/8/2008).

(http://surabaya.detik.com/read/2008/08/14/144501/988596/475/pimpinan-ponpes-lirboyo-rokok-tidak-haram)

Lho, memangnya SIAPA ANDA? Apakah kalau si Mbah berzina kemudian zina jadi halal? Kalau si Mbah korupsi, korupsi jadi halal?!  Subhanallah.  Si Mbah yakin tidak terjadi apa-apa? Hebat, mbah… Hebat!!  Cuma, barangkali, si Mbah belum periksa ke dokter, ya Mbah?

Tapi jumlah ulama yang mengharamkan dan menghalalkan, jauh lebih banyak yang menghalalkan. Di Arab Saudi, perokok justru disertai dengan candu dan itu sama sekali tidak membahayakan bagi mereka,” jelas Mbah Idris.

Seberapa banyak Mbah? Sudah dilakukan penelitian dan survey? Data statistiknya mana?  Memangnya kalau orang Arab mabok kita juga boleh mabok mbah?

Yang jelas saya nyatakan rokok tidak haram, karena saya memiliki pedoman sendiri. Jika umat islam di Indonesia tak ingin menuruti fatwa MUI ya itu hak mereka, asalkan mereka juga memiliki pedoman yang kuat,” tegas Mbah Idris.

Sekali lagi, memangnya SIAPA ANDA?!! Pedomannya apa, mbah?  Jangan-jangan pedomannya hawa nafsu, mbah? Ingat lho, Mbah… MUI saja masih berdiskusi soal ini, belum berani mengeluarkan fatwa.  Oh, mungkin si Mbah lebih hebat daripada orang-orang di MUI ya, Mbah?!  Pantas kalau begitu …

Secara keseluruhan, antara mudharat dan manfaat rokok lebih banyak mana, mbah?  Saya kok lebih melihat banyak mudharatnya, mbah.  Tanyakan saja pada yang merokok, Mbah!!  Apalagi sama yang tidak merokok, Mbah.  Si Mbah mungkin jantungnya masih kuat, paru-parunya masih sehat, tapi jutaan orang yang tidak merokok tersiksa, Mbah.

Memang benar ada ribuan orang jadi pegawai di perusahaan rokok, Mbah.  Puluhan juta rupiah juga masuk ke kas negara dari pajak rokok, Mbah.  Tapi, barangkali karena itulah, negara kita belum bisa jadi negara yang barokah, Mbah.  Sebab pendapatan negaranya didapat dari ‘menyiksa’ dan meracuni jutaan orang… Barangkali loh,  Mbah.  Saya kan cuma menduga-duga, si Mbah mestinya lebih paham daripada saya, iya kan, Mbah?

Lupakan soal Fatwa MUI, Mbah.  Lupakan soal haram-halal, karena akan selalu jadi perdebatan, Mbah.  Hanya saja, sebagai seorang Ulama, si Mbah mestinya lebih peka daripada kami yang lebih banyak kesalnya terhadap para perokok seperti si Mbah.  Terhadap kondisi lingkungan sekitar, terhadap kelangsungan hidup masyarakat, terhadap kenyamanan bersosialisasi.  Apalagi si Mbah banyak didengarkan orang, banyak dituruti orang, banyak dipuja orang…

Salam, Mbah… Bah!!

Page 4 of 6

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén