Penyakit Kuliner

Artikel August 13th, 2008

Ibnu Khaldun, salah seorang filosof Islam klasik, dalam bukunya yang terkenal, Muqaddimah, membahas satu bab khusus soal pengaruh makanan terhadap karakter manusia.  Juga terhadap ketahanan tubuh, kecerdasan bahkan terhadap persoalan agama dan ibadah.

Bahwa makanan yang berlebih-lebihan dan pencampuradukan makanan yang terlalu banyak, makanan yang rusak dan basah yang tidak dapat dicernakan dengan baik di dalam perut dan meninggalkan endapan-endapan yang berbahaya yang menyebabkan gemuk, menutupi kulit dan mengubah bentuk badan.  Uap yang buruk yang ditimbulkan makanan itu kemudian naik ke otak dan menutupi proses pemikiran yang menyebabkan kedunguan, masa bodoh dan kurang sabar.

(Ibnu Khaldun. Muqaddimah. Pustaka Firdaus, Cetakan keenam: April 2006. Hal.102)

Orang-orang badui yang hidup sederhana, dan orang-orang kota yang hidup berlapar-lapar serta meninggalkan makanan yang mewah-mewah, mereka lebih baik dalam beragama dan dalam beribadah dibandingkan dengan orang-orang yang hidup mewah dan berlebih-lebihan.

(Ibnu Khaldun. Muqaddimah. Pustaka Firdaus, Cetakan keenam: April 2006. Hal.103)

Belakangan ini, saya banyak diingatkan soal makanan.  Di tengah zaman wisata kuliner seperti sekarang, saya justru sedang merasa takut dengan efek jangka panjang makanan.  Entah kekurangan asupan makanan bergizi, atau terlalu banyak makan yang tidak bergizi.  Dua-duanya bukan pilihan yang bagus.  Akan tetapi untuk sekedar memberi nutrisi yang baik bagi tubuh pun bukan masalah yang mudah, meskipun tidak terlalu sulit.  Hanya perlu sedikit disiplin.

Masalahnya ada di selera makanan.  Saya termasuk yang paling parah dalam hal selera makanan.  Tidak suka susu, tidak suka daging merah (sapi, kambing, dll), kurang minum air putih, jarang makan sayuran, dan sedikit makan buah.  Paling banyak makanan yang digoreng.  Sementara, minyak yang dipanaskan adalah salah satu sumber kolesterol.  Sementara nilai gizi dalam makanan yang digoreng, bisa dipastikan berkurang akibat panas minyak goreng.  Maka, sangat dimungkinkan terjadi penumpukan kolesterol dalam darah saya.  Ditambah kegiatan olahraga sudah semakin berkurang intensitasnya.  Inginnya melakukan cek kesehatan, tapi belum sempat - atau lebih tepatnya belum menyempatkan diri.

Tidak sedikit yang menyadari bahwa pola makan dan asupan makanan yang masuk ke dalam tubuh sangat tidak sesuai dengan kebutuhan tubuh.  Sebagai contoh, saya masih lebih memilih makanan yang saya sukai daripada yang tubuh saya butuhkan, meski saya tahu makanan tersebut tidak memiliki nilai gizi sama sekali.  Dan tidak sedikit juga yang menyadari efek dari terlalu banyak makan di masa depan.

Ayah saya adalah contoh yang baik mengenai makanan, meski beliau tidak menerapkan soal pola makan sehat dan bukan contoh yang paling baik juga.  Sampai saat ini satu-satunya penyakit yang sering dideritanya ‘hanya’ sakit kepala.  Sesekali terkena flu juga.  Itu pun jika beliau terlalu lelah saja.  Selebihnya, saya tidak mendapati adanya ancaman dari penyakit-penyakit serius semacam stroke, ginjal atau
jantung.  Bahkan, di usianya yang ke-54, dalam laporan medical check-up yang belum lama ini dilakukan, hasilnya dinyatakan normal hampir di seluruh organ tubuhnya.  Kecuali bahwa terdapat kelebihan kolesterol di dalam darah.  Dipastikan makanan yang digoreng adalah penyebabnya.

Seperti halnya saya, ayah saya tidak terlalu berminat untuk menyicipi jenis-jenis makanan yang asing bagi lidahnya.  Bedanya dengan saya, saya terlalu pilih-pilih soal makanan, sementara ayah saya cenderung apa adanya.  Apa yang ada di meja makan, itu yang dimakan.  Tidak pernah sekalipun saya mendengar ayah saya protes soal makanan kepada ibu saya, apalagi sampai marah-marah.  Seleranya juga memang sederhana, yang penting nikmat.  Itulah sebabnya, jika melakukan perjalanan ke kota-kota baru yang dikunjungi, saya tidak terlalu tertarik untuk menyicipi makanan khas kota tersebut.  Kecuali kalau saya yakin makanan tersebut akan masuk ke perut saya.  Begitu juga ayah saya.

Ayah saya juga cenderung mengalah kepada keluarganya soal makanan.  Tidak jarang, ketika yang lain makan ayam goreng, beliau hanya makan tempe goreng karena jatahnya diberikan untuk anak-anaknya.  Bahkan jika ditraktir makan di restoran yang cukup mahal pun, makanan yang beliau pilih adalah yang sederhana.  Berbeda dengan kakaknya.  Kakak ayah saya termasuk seorang ‘penjelajah’ makanan.  Tidak ada pantangan dalam hal makanan.  Dari daun-daunan sampai daging-dagingan.  Hampir segala jenis masakan di sebagian wilayah Indonesia dicicipinya.  Makanya, paman saya itu gemuk, sementara ayah saya kurus.

Akan tetapi, ketika mereka berdua diperiksa oleh ahli pengobatan alternatif, hasilnya cukup mencengangkan.  Ayah saya dinyatakan normal, sementara saraf-saraf dalam tubuh paman saya dinyatakan banyak yang sudah ‘mati’.  Itu pun setelah sebelumnya terkena stroke.  Menurut sang ahli tersebut, penyebabnya adalah makanan.  Dan yang paling menggelikan, paman saya dilarang untuk makan lagi makanan kesukaannya.  Dulu, paman saya sering ‘meledek’ ayah saya terkait makanan, sekarang paman saya mengakui bahwa apa yang ayah saya lakukan ternyata ‘benar’.

Pengalaman lain adalah dari salah seorang guru saya yang belum lama ini terkapar selama 2 bulan akibat penyakit asam urat.  Beliau juga mengingatkan agar berhati-hati soal makanan jika tidak ingin mengalami hal yang serupa.  “Kita tahunya makanan tersebut enak dan dimakan banyak-banyak, tapi kita tidak tahu prosesnya seperti apa, isinya apa saja.“, sembari menyebut jenis-jenis makanan ‘favorit’ seperti bakso dan makanan-makanan yang terlalu pedas sebagai penyebab penyakit tersebut.

Dari sisi Islam, selain gizinya, tentu saja kehalalannya wajib menjadi perhatian.  Jika seorang Abu Bakar ra sampai memuntahkan kembali makanan yang diketahuinya haram, maka umat Islam saat ini setidaknya wajib waspada terhadap makanan yang akan disantapnya.  Ada ‘kaidah’ yang sudah lumrah di masyarakat, (seolah-olah) tidak mengapa menyantap makanan yang haram selama tidak mengetahui.  Pertanyaannya sekarang, apakah kita berusaha untuk mencari tahu soal kehalalan makanan tersebut?  Sayangnya, hal ini jarang sekali dilakukan.  Padahal, yang  semestinya dilakukan adalah mencari tahu dulu sebelum makanan tersebut masuk ke dalam tubuh.  Hanya saja, kalau seperti itu, kapan makannya ya? :D  Setidaknya, sisakan sedikit ruang ‘waspada’ dalam diri kita jika akan memakan sesuatu.  Bahkan jika makanan tersebut pun sudah dinyatakan halal.

Menurut saya, itulah sebabnya mengapa bisa terjadi praktek-praktek ilegal dalam perdagangan makanan di Indonesia.  Misalnya, ayam tiren, sapi glonggongan, kasus borax, dll.  Hal ini disebabkan kurang kritisnya kita terhadap kehalalan makanan sehari-hari.

Terakhir, tentu saja dari cara kita mendapatkan makanan tersebut.  Dengan cara haram atau cara halal?  Oleh sebab itu, makanan yang kita beli dari uang hasil korupsi hanya akan menjadi ‘penyakit’.  Meskipun perlu dilakukan penelitian secara lebih mendalam lagi, tapi sering juga saya mendengar kalau orang-orang yang sudah diketahui umum melakukan praktik korupsi, biasanya terkena stroke atau sakit parah (komplikasi) di hari tuanya.  Akan tetapi, sekali lagi, hal tersebut masih perlu diteliti lebih lanjut, sebab yang jujur pun banyak juga yang terkena stroke.

Dalam Islam ada konsep “halalan thoyyiban“.  Arti sederhananya, halal serta baik.  Makanan halal akan berdampak terhadap sisi psikologis seseorang, sehingga ruhaninya menjadi sehat.  Sementara makanan yang baik gizi dan keadaannya, akan berdampak pada fisik seseorang, sehingga jasmaninya yang menjadi sehat.

Maka, atas dasar itulah saya berniat untuk memperbaiki pola makan dan asupan makanan yang masuk ke dalam tubuh saya.  Masalahnya, ya… itu … makanan yang dibutuhkan tubuh saya justru merupakan makanan yang sebagian besar masuk kategori ‘tidak enak’ dalam kamus hidup saya selama ini.  Selain itu, tentu saja, mulai lebih memperhatikan kehalalan makanan tersebut, entah zatnya, atau pun cara mendapatkannya.  Daripada nanti di hari tua terancam sakit-sakitan, ‘ditunggu’ neraka pula.  Apes.

Cerdas, Katanya…

SerbaSerbi August 11th, 2008

award-brillante-weblog.jpg

Alhamdulillah…

Tadinya mau menulis yang lain, tapi akhirnya saya memutuskan untuk membayar hutang menjawab posting dari mbak Nin yang memberikan award untuk blog ini. Brilian, katanya. Syukurlah kalau ada yang menilai begitu. Saya hanya selalu berharap bahwa tulisan-tulisan dalam blog ini saya buat dalam keadaan ikhlas. Meski sesekali ada juga tulisan sampah di blog ini.

Saya tertarik untuk menulis karena saya melihat bahwa seorang penulis sesungguhnya sangat berpeluang untuk menjadikan tulisan-tulisannya sebagai ladang untuk beramal jariah. Meski pada saat yang bersamaan juga bisa menghancurkan. Tergantung materi apa yang ditulis. Beruntunglah anda yang sering menulis dan mencerahkan orang banyak. Mudah-mudahan tulisan anda jadi amal jariah yang pahalanya mengalir terus menerus.

Ah, sesungguhnya saya tidak berhak untuk melarang orang lain untuk menulis apa pun. Hanya saja kalau boleh meminta, akan lebih baik jika tulisan-tulisan yang kita buat lebih konstruktif. Apalagi jika blog anda sudah mulai sering dikunjungi dan dibanjiri komentar. Kesempatan tulisan anda untuk mencerahkan dan bermanfaat untuk orang lain lebih terbuka. Dan karenanya, terbuka pula peluang untuk menjadi amal jariah.

Sejenak, lupakanlah dulu soal SEO atau pagerank. Dari beberapa bloger berikut, barangkali kita bisa belajar. Sedikit komentar, tidak menghalangi kreativitas dan berkarya. Dan, tentu saja, kita bisa belajar dari muatan tulisan dan pesan yang ingin disampaikan. Jika mbak Nin menganggap saya cerdas karena tulisan di blog ini, maka mbak Nin pun akan setuju dengan bloger-bloger berikut yang menurut saya tulisannya lebih cerdas daripada tulisan saya. :-) Terlepas dari setuju atau tidaknya dengan materi tulisan yang disampaikan.

  1. Warastuti,
  2. Agorsiloku,
  3. M. Shodiq,
  4. Suluk,
  5. Lucky Luqman,
  6. Pak Sawali,
  7. Azka,
  8. Ales
  9. dll, dll, dll

Sayangnya, Lucky memang sudah tidak terlalu aktif menulis di blog karena kesibukannya. Tentunya masih banyak bloger lain yang bisa dikategorikan brilian. Tentu saja, penilaian saya masih bersifat subjektif.

Jika pada awalnya peraturannya adalah sebagai berikut:

  1. Put the logo on your blog.
  2. Add a link to the person who awarded you.
  3. Nominate at least 7 other blogs
  4. Add links to those blogs on yours.
  5. Leave a message for your nominees on their blogs

Maka, saya tidak mengharuskan peraturan tersebut. Suka-suka saja lah, karena saya tahu bahwa tidak semua bloger suka melakukan hal-hal semacam ini. :-)

Rakyat dan Tuhan

Artikel, Esai August 4th, 2008

Pada awalnya adalah sebuah pepatah, vox populi vox dei (suara rakyat adalah suara Tuhan).  Selanjutnya menjadi sebuah jargon demokrasi, seolah-olah menjadi sebuah pembenaran, bahwa kehendak rakyat adalah kehendak Tuhan juga, bahwa keinginan rakyat adalah keinginan Tuhan, atau bahwa pilihan rakyat adalah pilihan Tuhan.

Menurut Dictionary of the History of Ideas, pepatah tersebut pertama kali ditemukan dalam surat Alcuin kepada Charlemagne di awal abad pertengahan (abad ke-8) .

In fact it was during the early Middle Ages (eighth
century) that the proverb,
Vox populi vox Dei was first
recorded. It occurs in a letter of Alcuin to Charle-
magne. In this letter Alcuin says that the proverb is
a customary saying and that the Emperor ought to pay
no attention to it, since the populus ought to be led,
not followed.

Alcuin sendiri yang menjelaskan bahwa pepatah tersebut hanya sesuatu yang biasa saja dan bukan hal yang perlu diseriusi.  Sebab rakyat seharusnya dipimpin, bukan diikuti.  E. Cobham Brewer menegaskan,  “This does not mean that the voice of the many is wise and good, but only that it is irresistible.” Suara terbanyak belum tentu yang terbaik.  Rakyat Indonesia tahu dan merasakan betul soal ini.  Maka, tentu menjadi tidak pada tempatnya jika Tuhan yang dipersalahkan dalam keruwetan bangsa Indonesia.

Pada dasarnya, suara rakyat memang banyak.  Adakalanya saling kontradiksi.  Lantas suara rakyat yang manakah yang merupakan suara Tuhan?  Dalam kacamata Islam, mustahil terjadi kontradiksi dalam “diri” Tuhan.  Tuhan Yang Ahad, tidak mungkin menyatakan “benar” dan “salah” pada saat yang bersamaan untuk sebuah perkara.  Kecuali anda meyakini juga bahwa Tuhan Maha Bingung.

Lain halnya jika dipandang dari kacamata yang berpendapat bahwa ada beberapa Tuhan yang sama kuat dan pengaruhnya terhadap manusia.  Vox populi vox dei bisa jadi sangat relevan.  Maka, ‘peperangan rakyat’ yang terjadi bisa menjadi sebuah indikator bahwa sesama Tuhan sedang ‘berperang’.  Tentu ini semakin membingungkan, karena jika begitu adanya, para Tuhan rasanya terlalu sering bertengkar.  Meskipun memang sering terjadi peperangan antara penganut agama, tidak berarti bahwa ada banyak Tuhan, apalagi bertengkar.

Dalam sejarah Islam, jumlah nabi yang diutus sudah mencapai ribuan orang.  Ini artinya, ribuan kali pula Tuhan mengingatkan bahwa ada yang salah dengan rakyat (kaum).  Kisah Nabi Luth dan kaum Soddom-Gomorrah adalah sebuah contoh terjadinya ‘pertentangan’ antara kehendak rakyat dan Tuhan.  Pun kisah Nabi-Nabi lainnya yang secara eksplisit menjelaskan bahwa suara rakyat belum tentu suara Tuhan.

Kebenaran Tuhan bersifat mutlak, sementara kebenaran manusia bersifat relatif.  Jika tidak dikawal oleh aturan Tuhan, nilai kebenaran itu sendiri akan selalu berubah-ubah.  Judi bisa menjadi benar, begitu pun pencurian, perzinaan dan mabuk-mabukan.  Sebab kecenderungan manusia adalah memenuhi segala keinginannya dengan segala macam cara.  Tanpa aturan Tuhan, hukum rimba yang berlaku.  Sementara dalam hukum rimba, tidak ada benar-salah, segalanya bisa menjadi benar.

Vox populi vox dei bisa menjadi benar, jika rakyat memang berpegang pada aturan-aturan Tuhan.  Maka, bagaimana mungkin bisa dikatakan bahwa suara rakyat adalah suara Tuhan, jika rakyatnya sendiri tidak mengenal  dan “berhubungan” dengan Tuhannya?  Tidak cukup mengenal, tapi juga harus sampai -setidaknya- memahami apa yang sesungguhnya dimaksud oleh Tuhan.  Barulah kemudian disuarakan.

Jika dihubungkan dengan negara, tidak mungkin ada negara sekuler, seandainya benar yang disuarakan rakyat adalah suara Tuhan.  Maka, menjadi menarik ketika ternyata konsep vox populi vox dei lebih dekat dengan sebagian umat Islam yang mencita-citakan berdirinya kembali pemerintahan Islam yang diyakini sebagai sebuah perintah dari Tuhan.

Tentunya mustahil jika -misalnya- rakyat membenarkan perjudian, perzinaan dan hal-hal maksiat lainnya, lantas hal tersebut adalah suara Tuhan juga.  Sebab Tuhan tidak mungkin sedungu itu.  Oleh karena pada dasarnya Tuhan memiliki sifat-sifat yang sangat mulia dan tidak dimiliki oleh rakyat yang notabene adalah manusia-manusia yang serba memiliki kekurangan.

S3K3L04. 040808. 03.30.

Dicolek Malaikat Maut

Curhat, Refleksi July 24th, 2008

Gila.  Saya baru 2 bulan mengendarai motor di jalanan, tapi sudah berkali-kali ‘dicolek’ sama kematian.  Untungnya, malaikat maut baru ‘nyolek’, belum sampai benar-benar mencabut nyawa.  Jalanan memang mengerikan, kematian mengintai di mana-mana jika saja tidak berhati-hati dan kondisi kendaraan kita tidak baik.

Nyaris ditabrak angkot yang belok tanpa lampu sein.  Nyaris menabrak motor yang berjalan zig-zag.  Nyaris ditabrak truk gara-gara saya mengira truk tersebut akan lurus karena tanpa sein, tapi ternyata belok ke kiri.  Dan hampir-hampir ‘bergesekan’ dengan sesama motor yang ketika akan saya susul, motor tersebut malah berbelok ke kanan dan, lagi-lagi, tanpa sein.  Duh!!  Betapa pentingnya lampu sein bukan?!

Dan kalau saja saya jahat, ingin sekali rasanya menendang pengendara motor yang berkendaraan sambil menelpon.  Bikin kagok karena dengan tidak sadar mengendarai motor secara zig-zag.

Berdasarkan’pengamatan’ langsung, secara garis besar pembuat kekacauan di jalanan adalah; pertama, angkutan umum.  Segala jenis angkutan umum.  Kedua, motor, yang berarti saya juga termasuk di dalamnya.  Perilaku sopir angkutan umum di Indonesia memang sangat mengesalkan.  Ngetem seenaknya, berhenti mendadak.  Kalau perlu ketika melihat calon penumpang, berhenti saat itu juga.  Dan saya selalu waspada tiap kali di depan saya adalah angkutan umum.

Pengendara motor, kadang lebih gila lagi.  Karena ukurannya yang kecil dan bisa masuk ke celah-celah kemacetan, seringkali jadi bikin jalanan tambah ruwet.  Dan banyak sekali saya temukan, di tengah kemacetan semacam itu, dijadikan ajang pamer kebolehan karena bisa kebut-kebutan di tengah kemacetan.  Belum lagi jika motor tersebut menggunakan knalpot yang membuat cekak telinga.  Lengkap sudah kekacauan tersebut.

Rupanya banyak saya temukan pengendara yang tidak mau standar-standar saja.  Artinya, pengendara tersebut ingin kelihatan berbeda dengan yang lain.  Maka, knalpot dibuat berisik, lampu dibuat terang sekali, kalau perlu lampu kabut dipasang, sampai-sampai menyilaukan pengendara dari arah berlawanan.  Masa bodoh dengan keamanan dan keselamatan diri dan orang lain.  Saya bingung, eksistensi diri semacam apa yang ingin dicari di jalanan? Kawan saya mengatakan orang-orang tersebut egois, dan saya sepakat.

Saya merasa lebih nyaman justru ketika melakukan perjalanan ke luar kota karena kendaraan cenderung tidak lebih padat dibandingkan di dalam kota.  Di Bandung, saya paling grogi ketika memasuki daerah Cimahi sampai Padalarang.  Juga di jalan Soekarno-Hatta.  Stress sekali rasanya karena banyaknya motor di jalan-jalan tersebut.

Barangkali memang benar kata ayah saya, setiap orang bisa ngebut, tapi tidak setiap orang bisa membawa kendaraannya pelan-pelan.  Sebab membawa kendaraan pelan-pelan lebih banyak menuntut kesabaran.  Itulah sebabnya di kursus-kursus mengemudi, orang diajari pelan-pelan dulu, tidak langsung ngebut.  Kalau ngebut, orang tidak perlu diajari, cuma perlu keberanian untuk mengambil resiko saja.  Sementara, tidak banyak orang yang mau memberi kesempatan kendaraan lain berbelok atau orang lain menyeberang.

Berikut, daftar pelanggaran yang sering saya temukan di jalanan:

  • Belok tanpa sein
  • Melanggar Lampu Merah, saya belum pernah menemukan pelanggaran terhadap lampu hijau soalnya :p
  • Menyusul dari kanan ketika akan berbelok ke kiri, ini akan mengagetkan pengendara yang disusul
  • Melawan arah untuk mengambil jalan pintas
  • Menelpon saat mengendarai motor
  • Dll, anda sebutkan saja :D

CTM61.240708.12.00.

Blank #1

SerbaSerbi July 17th, 2008

Ada yang kangen sama tulisan saya? :D

Pilihan Jawaban:

a.  ya, saya … kangeeeeeennn banget!!

b. cuih!! siapa kamu?!!

c.  Ya Tuhan!! Kenapa harus ada makhluk narsis seperti ini … ??? nyesel saya baca blog ini…

d.  …… (isi sendiri)

Duh, hampir sebulan … cuma ini yang bisa ditulis? Kasihan sekali saya!! Ada apa dengan saya? Hehe. Semua baik-baik saja.  Sedang menyiapkan sesuatu.  Yang pasti, masih rajin datangi acara pernikahan yang semakin banyak.  Sepertinya mau menyaingi “baby boom” nih peserta nikah tahun ini :)) Dan, sepertinya saya agak cemburu juga pada sahabat saya :(

Ya, ya… ini hanya sebuah tulisan nggak penting lainnya.  Maaf.

Buah nangka kulitnya berduri

tak disangka hatiku tercuri….

blank