Browsing Category: "SerbaSerbi"

Guitar Player

Curhat, SerbaSerbi June 22nd, 2008

Forgotten Guitar Player

Saya sedang merindukan bermain gitar. Terutama di waktu-waktu sedang sering menyendiri seperti sekarang. Setidaknya sudah hampir 4 tahun saya tidak benar-benar bermain gitar lagi. Pernah beberapa kali memegang gitar lagi, tapi tidak lama. Nyaris lupa dengan lagu-lagu yang pernah saya mainkan sejak SMP sampai awal-awal kuliah.

Saya pernah bermimpi menjadi seorang musisi. Tidak banyak yang tahu bahwa alasan saya memilih kuliah di Bandung sesungguhnya adalah untuk menjadi seorang musisi. Namun, justru setelah di Bandung, keinginan saya itu mulai terkikis. Saya merasa, dunia glamor, dunia panggung atau dunia hiburan, bukan dunia saya. Ada perasaan ketidaknyamanan dalam hati yang membuat saya memilih untuk tidak melanjutkan cita-cita tersebut.

Old Guitar Saya mulai bermain gitar sejak kelas 1 SMP. Alasan saya ingin belajar gitar karena rasanya cool dan macho kalau melihat para pemain gitar. Dan … sepertinya menyenangkan dikelilingi perempuan ketika bermain gitar. Saya tahu rasanya dan … memang menyenangkan. :setan1: Itu, duluuuu. Namun, sesungguhnya saya merasa nyaman saja ketika dalam suasana hati seperti apa pun bisa melampiaskannya melalui gitar. Ada yang bilang, saya terlihat lebih tampan dan tampak melankolis kalau sedang bermain gitar. (Huehehe, anda boleh muntah …!!)

Adalah sahabat-sahabat saya di SMP yang mengajari saya bermain gitar. Lagu pertama yang saya mainkan dengan lancar adalah “Kuberkhayal” dari Five Minutes yang waktu itu kemana-mana memakai sarung. Menyusul kemudian lagu “Kemesraan” dari Iwan Fals. Dari pergaulan dengan sahabat-sahabat saya, kemudian menyusul berbagai macam lagu lainnya yang bisa saya mainkan. Jadi, saya belajar secara otodidak.

Ketika SMA saya mulai membentuk Band dengan teman-teman sekelas. Namun, selama 3 tahun, hanya tiga kali naik panggung. Kelas 1 sekali, kelas 2 sekali dan kelas 3 sekali … alias setahun sekali. Pernah bergabung dengan beberapa band, dari yang paling hancur sampai yang sedikit lebih baik dari pada yang paling hancur :D . Dari yang pop-melankolis sampai yang nge-rock abis. Herdyan pernah latihan juga dengan saya. Ketika perpisahan kelas 3, saya jadi gitaris untuk membawakan 3 buah lagu dari Helloween, band rock asal Jerman. Saat itu saya sepanggung dengan Funky Kopral formasi awal, dimana Bondan Prakoso dan Onci “Ungu” masih tergabung didalamnya.

Saking tergila-gilanya ingin menjadi musisi, saya kemudian berlangganan tabloid musik. Saat itu ada Mumu (Muda Musika), tabloid musik yang terbit seminggu sekali. Saya pelajari tips-tips yang ada di tabloid tersebut. Jadilah saya orang yang agak melek soal musik saat itu.

Saat SMA Kelas 3, biasanya tiap kelas memiliki nama. Saya masuk ke kelas 3 IPA 3, yang diberi nama Xtreme (eXacta Three Milenium). Kebetulan saya bisa memainkan lagu “More Than Words” dari Extreme. Jadilah lagu tersebut sebagai lagu “kebangsaan” kelas tersebut dan termasuk lagu yang paling sering dinyanyikan bersama-sama. Sekarang, saya sudah lupa sama sekali dengan chord lagu tersebut.

Gitaris favorit saya adalah Dewa Budjana dan Pay, sementara gitaris luar negeri saya tergila-gila dengan permainan gitar John Petrucci. Sempat juga terpengaruh oleh Paul Gilbert dan Nuno Bettencourt. Saya sangat menyukai lagu instrumental bertajuk “Wanita” dan “Selamat Tidur … Sayang!” dari Budjana, serta “Lost Without You” dari John Petrucci. Beberapa bagian solo gitar John Petrucci di beberapa lagu Dream Theater dan Liquid Tension Experiment sampai membuat saya terkagum-kagum. Namun, sesungguhnya saya sangat ingin sekali bermain gitar seperti Naudo. Gitaris Spanyol kelahiran Brazil yang sudah bermain gitar sejak berumur 5 tahun.

Budjana petrucci02.jpg

Ketika mendengarkan musik, sesungguhnya bukan hanya gitar saja yang menjadi perhatian saya. Bass dan ketukan Drum serta permainan Keyboard atau Piano -jika ada- juga sering saya perhatikan. Saya sangat menyukai gaya permainan drum Ronald ketika masih tergabung di GIGI, terutama di album 3/4.

Pada dasarnya, saya menyukai segala jenis musik. Dari musik sunda sampai rock cadas. Akan tetapi, lagu-lagu yang saya suka adalah yang melodius dan tidak membosankan. Apa pun jenis musiknya. Terutama jika lagu tersebut agak menonjolkan kemampuan musisinya. Terlebih jika unsur gitarnya menonjol, terutama gitar akustik. Beberapa contoh lagu adalah “Have You Ever Really Loved a Woman” dari Bryan Adams, “Merepih Alam” versi Audy, “Khayalku” versi Chrisye dan Nicky Astria serta “The Spirit Carries On” dari Dream Theater. Entah mengapa, rasanya sulit sekali mendapati lagu-lagu Indonesia sekarang yang seperti itu.

Arrrggghhhh, sepertinya saya harus beli gitar lagi…

Bandung, 22 Juni 2008. 01.00

Daftar Gambar:

Ruang Foto

Aktivitas, SerbaSerbi June 8th, 2008

Ruang Foto adalah sebuah usaha saya menyeriusi fotografi. Memang belum ada foto yang terlalu istimewa di sana, mengingat saya memegang kamera yang agak ‘bener’ saja baru seminggu ini. Mengikuti jejak Andri, saya pun menyediakan ruang khusus untuk menyimpan foto-foto yang menurut saya bagus dibanding yang lainnya. Cuma bedanya kamera saya masih kamera amatiran :D .

Dari 5 foto yang pertama kali diangkat, saya yakin banyak ditemukan kesalahan-kesalahan minor atau mayor. Saya sendiri merasakannya. Gaya memotret saya yang kurang menyukai penggunaan flash seringkali menyebabkan gambar-gambar menjadi kabur. Terutama di dalam ruangan. Bukti lain kalau saya belum ahli.

Namun, apa pun yang terjadi, the show must go on.  Tadinya sih mau saya pasangi label donnyreza.net atau ruangfoto.donnyreza.net pada foto-foto tersebut.  Namun, setelah dipikir-pikir lagi, lebih baik dibiarkan saja. Barangkali foto-foto saya ada yang mau menggunakannya dan bisa berguna buat orang lain.  Bahkan kalau ada yang minta ukuran aslinya pun, akan saya beri.  Hanya saja yang perlu ditegaskan adalah setiap penggunaan karya cipta siapa pun, perlu menyertakan nama yang membuatnya. :-)

Para Tetangga

SerbaSerbi, WP Technology June 6th, 2008

Keinginan saya untuk menampilkan semua link alamat bloger yang pernah memberikan komentar di sini terwujud juga. Terima kasih pada SQL yang mempermudah kerja saya sehingga tidak perlu repot-repot membuat seluruh tautan sendiri atau melakukan add link satu persatu di blogroll.

Tercatat ada 280 tautan dari seluruh bloger yang pernah memberikan komentarnya di blog ini. Termasuk yang redundan, trackback, tautan kosong dan punya saya sendiri. Tautan-tautan yang berisi spam sudah saya bantai sebelumnya, jadi tidak ikut terseleksi. Seluruh tautan dari bloger yang pernah memberikan komentar di blog ini, saya simpan di sini.

Nama yang tercantum berdasarkan nama yang dimasukan di dalam form komentar. Kecuali beberapa nama yang saya edit, selebihnya saya biarkan apa adanya.

Saya belum pernah mencobanya di blog yang ikut hosting di Wordpress. Karena sewa hosting sendiri, saya tinggal membuka phpmyadmin yang disediakan oleh penyedia hosting. Kemudian ketikan perintah SQL berikut pada form yang tersedia:

SELECT CONCAT( ‘<a href=”‘, `comment_author_url` , ‘” target=”_blank”>’, `comment_author` , ‘</a>’ ) Link FROM `wp_comments` GROUP BY `comment_author_url`

Contoh hasil seleksi akan menjadi kode HTML seperti ini:

Linklist

Setelah melakukan sedikit seleksi lagi, buka write page pada Dashboard Wordpress. Copy seluruh tautan di atas dan paste pada text editor wordpress. Oopps, hampir lupa. Pada text editor ada dua bagian, visual dan code. Copy seluruh tautan di atas pada bagian code. Publish, jadi deh.

code

Saya tidak tahu apakah ada plugins untuk ini, belum pernah mencari tahu.

Selain itu, ada juga kabar yang cukup menggembirakan bagi saya. Beberapa teman dekat saya sudah mulai sering menulis blog. Mudah-mudahan bisa seterusnya rajin menulis.

Ada Herdyan Fajar, sobat masa SMA yang diam-diam sudah mulai rajin posting dan sebentar menyempurnakan setengah dien-nya. Ada Dela, sobat di kampus saya. Deden, yang saya beri motivasi untuk berani menampilkan diri dan jangan terlalu memedulikan apa yang orang lain pikirkan tentang karya kita. Juga Wahyu, sobat SMA dan teman berbagi cerita mengenai fotografi. Selain itu, Ochi yang akhirnya memilih untuk menggunakan Wordpress juga, setelah sebelumnya menggunakan blog Friendster dan Blogspot. So, ayo kunjungi mereka … hehe.

Komentar ke-1000

SerbaSerbi May 18th, 2008

Saya tidak terlalu peduli dengan banyaknya komentar dalam tulisan-tulisan blog ini. Akan tetapi, saya selalu berusaha untuk mengapresiasi para komentator dengan cara berkunjung balik ke blog yang bersangkutan, menjawab komentar atau memberikan komentar di blog yang bersangkutan. Meskipun, tidak setiap saat saya berkunjung lantas memberikan komentar. Ada tulisan yang bisa saya komentari, tapi juga ada tulisan yang malas saya komentari atau tidak tahu lagi mau komentar apa.

Setiap komentar dalam blog ini berusaha saya jawab, meskipun kadang terlambat … bahkan sangat terlambat. Akan tetapi, ternyata menjawab setiap komentar juga perlu waktu yang luang. Untuk menjawab komentar di sela-sela pekerjaan rasanya kurang efektif juga. Oleh sebab itu, sekarang, biasanya saya jawab dalam waktu satu minggu sekali. Mohon maaf jika merasa kurang nyaman dan jadinya kurang interaktif.

Tadinya, saya tidak berniat untuk posting apa pun. Akan tetapi, setelah melihat gambar di bawah ini, saya jadi tertarik untuk menjadikan sebuah posting.

stats.JPG

Ternyata komentar dalam blog saya sudah sampai angka 1000. Penasaran, mau tahu siapa komentator ke-1000 tersebut.

comment.JPG

Ternyata, Neng Tri tersangkanya. Guru TK yang kesenengan kalau disebut masih anak SMA. Salah seorang anggota komunitas BATAGOR. Baru sekali bertemu di dunia nyata. Berikut gambar komentarnya.

isikomen.JPG

Komentar ke-1000, bersamaan dengan postingan tentang pernikahan. *SIGH*. Lain kali saya adakan sayembara aja kali ya? Untuk cowok pemberi komentar ke-2000 akan saya jadikan saudara, untuk cewek pemberi komentar ke-2000 dan sudah menikah akan saya jadikan saudara dan untuk cewek pemberi komentar ke-2000 dan belum menikah akan saya … jadikan saudara juga. :setanngakak:

So, untuk seluruh pembaca yang sudah menyediakan waktunya untuk sekedar berkomentar, entah itu penting, tidak penting, sangat penting atau cuma HOAX sekalipun, saya ucapkan terima kasih. Untuk komentator ke-1000, nih hadiahnya …! :kado: . Copas atau donlot aja gambarnya! :bayingelel:

Terima kasih atas kesediaan sobat-sobat, akang, teteh, ibu, bapak, om, tante, adik-adik, kakek, nenek dan saudara sekalian untuk membaca tulisan tidak penting ini.

Salam,

Donny Reza

Lakukan Saja Pak Menteri!

5, SerbaSerbi March 29th, 2008

Saya belum selesai membaca Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU-ITE). Malas sebetulnya. Akan tetapi, saya perlu tahu karena bagaimanapun saya ‘orang IT’, ditambah sekarang di tempat kerja sedang mengurusi hal yang berhubungan dengan perundang-undangan. Meskipun cuma mengurusi kulitnya saja.

Berhubungan dengan UU-ITE tersebut, manuver pertama yang dilakukan oleh pemerintah kita adalah dengan mengeluarkan kebijakan untuk menangkal situs-situs p0r170 (supaya nggak kena sensor) :setan1: . Bahkan sampai mengeluarkan perangkat lunak untuk membantu menyensor situs-situs parno tersebut. Timbul pro dan kontra :setanvsangel: . Seperti biasa. Ada yang optimis, ada yang pesimis. :balancing: ada juga yang masa bodoh :bingung: . Saya sudah pasti setuju. Niat baik perlu didukung. Bicara masalah teknis, nanti saja dulu.

Pihak yang kontra mengatakan bahwa pemerintah seharusnya jangan dulu mengurusi hal-hal ‘kecil’ semacam itu. Lebih baik urus saja masalah kemiskinan, pengangguran dan masalah lain yang ‘lebih besar’. Jadi, kasus seorang wanita diperkosa oleh 30 orang pria di Mataram setelah nonton VCD parno, yang dalam 2 hari terakhir ramai di berita-berita televisi kita adalah masalah kecil. Atau kasus seorang anak SD diperkosa oleh teman-teman sekelasnya, akibat VCD parno, juga masalah kecil. Hmmm. :bayipreman:

Masih dari pihak kontra, mereka berpendapat bahwa informasi tidak perlu disaring. Sebaiknya yang perlu dilakukan pemerintah adalah berfikir untuk memberikan edukasi dan pembinaan mental yang baik. Dengan begitu, setiap orang tahu mana yang baik dan mana yang buruk sehingga memiliki filter sendiri.

Lha, bukankah apa yang dilakukan oleh pemerintah sekarang juga sebuah edukasi? Bahwa pornografi -bagaimanapun bentuknya- tidak bisa dibenarkan. Lagipula, sekuat dan sebesar apa sih ‘lubang’ saringan yang kita miliki?! Kalau lubangnya besar-besar, sama saja bohong kalau kita gunakan untuk menyaring yang katanya ‘kecil’ itu, masih tembus juga. Kalau kurang kuat, jebol juga kan? Jadi, mengandalkan filter dalam diri saja tidak cukup.

Garbage in, Garbage out. Sebuah istilah yang sangat familiar dalam dunia pemrograman. Sederhananya, input (informasi) yang baik (benar) akan menghasilkan output yang baik (benar) pula. Juga sebaliknya, yang dimasukan sampah, keluarannya sampah juga. Orang-orang yang berkecimpung di dunia IT mestinya sangat paham. Kalau istilahnya AA Gym, “teko hanya mengeluarkan apa yang dimasukan ke dalamnya“. Komputer memang tidak sama dengan manusia. Komputer tidak punya hati sebagai filter untuk menimbang mana yang benar dan mana yang salah. Akan tetapi, hati manusia juga bisa ‘mati’ jika otak disesaki oleh informasi yang salah apalagi informasi yang termasuk ke dalam kategori sampah.

Dari sisi ekonomi, ada yang berpendapat bahwa maraknya situs-situs p0r170 tersebut juga karena banyaknya permintaan. Sayangnya, pendapat ini juga tidak sepenuhnya benar. Ada kalanya -bahkan sering- sebuah produk menjadi laku karena bagusnya branding atau marketing meskipun awalnya konsumen tidak tertarik untuk melakukan permintaan. Maraknya peredaran pornografi di Indonesia -saya kira- justru karena faktor branding dan marketing ini. Apalagi, orang Indonesia ini terkenal dengan sifat penasaran dan latah. Ada yang rame…ikut ngeramein, padahal nggak ngerti apa yang diramein.

Kalau kata Bang Napi, “kejahatan terjadi bukan hanya karena ada niat, tapi juga karena ada kesempatan“. So, inilah yang pemerintah kita lakukan. Mengurangi kesempatan itu. Perihal masih ada yang mencuri-curi kesempatan, bukan hal yang aneh lagi.

Kekhawatiran lain dengan dilakukannya bloking terhadap situs-situs p0r170 tersebut adalah akan membuka jalan untuk dibloknya informasi lain seperti politik. Disinilah kita perlu mengawal pemerintah. Jangan sampai pemerintah terlalu berlebihan dan masuk ke ranah non-pornografi. Caranya? Organisasi ke-internet-an di Indonesia kan lumayan banyak. Ada AWARI (Assosiasi Warnet Indonesia), IndoWLI, RuangKopi (loh, emang masuk? :p ), dll. Bersuaralah lewat itu, saya kira Pak Menteri akan memahami.

Itu baru non-teknis. Soal teknis, ya perlu diakui, ini adalah tantangan bagi kita, terutama para praktisi IT di Indonesia. Saya rasanya kurang setuju dengan sebagian orang yang meremehkan pemerintah kita. Memang benar bahwa hal ini akan menghabiskan biaya yang besar, sumber daya yang tidak kecil dan teknologi yang lebih canggih. Akan tetapi, itu adalah ongkos belajar, jika kemudian terbukti tidak efektif, setidaknya kita pernah berbuat salah. Daripada tidak pernah berbuat salah, kita tidak akan pernah belajar. Saya pikir, akan lebih besar lagi uang yang terbuang percuma hanya gara-gara mengakses situs parno. Bikin ‘macet’ bandwidth pula. :setanngambek:

Jadi daripada bersikap pesimis, bukankah lebih baik jika kita membantu pemerintah dalam hal ini? Daripada sekedar berbicara,”mustahil, sistem yang dibangun pasti jebol…“. Well, itu benar, tapi itu sebuah tantangan kan bagi anda-anda yang merasa paham networking? Atau, jangan-jangan, saking mengertinya makanya berbicara seperti itu? Saya pun mengerti bahwa tidak ada sistem yang 100% aman, tidak mungkin 100% situs seperti itu kena bloking. Pemerintah pun pasti paham soal ini, tapi setidaknya kita bisa meminimalisir hal-hal semacam itu. Barangkali om Andri bisa berbicara lebih banyak soal teknis?!

Kalau kita menyikapi secara berbeda, mungkin Pak Nuh selaku Menkominfo secara tidak langsung ingin berkata seperti ini, “kami ingin menyensor situs-situs pornografi, tapi kami sadar bahwa itu bukan pekerjaan yang mudah. Jadi bagi anda-anda yang mengerti, tolong bantu kami dengan skill anda, dengan pikiran anda, demi kemajuan bangsa Indonesia….”. Halah!

Jangan diartikan bahwa saya dan orang yang mendukung langkah pemerintah sebagai orang-orang yang “sok suci”. Kata-kata yang selalu digunakan untuk ‘menyerang’ orang-orang yang mengajak kebaikan. Padahal, jujur saja, tidak ada pikiran bahwa saya adalah “orang suci”. Tidak sama sekali. Justru karena saya sudah sangat muak dengan kesalahan-kesalahan yang saya lakukan, saya ingin mengajak anda untuk menemani saya bersama-sama berjalan ke arah yang lebih baik. Itu saja.

Jadi, lakukan saja Pak Menteri!! I support U. Btw, Pak Menteri, blog saya jangan diblok ya?! Halah!

C 1 H 3 U L 4 17 6. 290308. 05.30.

blank