Lebaran Yang Lucu

Lebaran 1428H yang telah lalu barangkali merupakan lebaran yang paling lucu buat saya dan mungkin juga bagi keluarga saya. Meskipun pada awalnya seluruh anggota keluarga diliputi kebingungan dengan terjadinya lagi perbedaan keputusan berlebaran antara pemerintah dengan beberapa ormas, diantaranya dengan Muhammadiyah. Seperti biasa, yang menjadi sumber perbedaan tersebut adalah metode pengambilan keputusan yang digunakan oleh pemerintah dan Muhammadiyah. Pemerintah dengan ru’yatul hilal-nya, dan Muhammadiyah dengan hisab ditambah kriteria wujudul hilal-nya. Namun, keduanya meyakini bahwa metode yang digunakan bisa dipertanggungjwabkan secara hukum syariat dan ilmu pengetahuan.

Pada tahun-tahun sebelumnya, saya dan keluarga biasanya mengikuti Muhammadiyah, entah awal ramadhan, lebaran maupun ber-idul adha. Ibu saya yang dibesarkan di lingkungan Muhammadiyah menjadi salah satu alasannya, sementara ayah saya biasanya mengikuti ibu, begitu pula anak-anaknya, termasuk saya. Akan tetapi, belakangan ini, pendapat-pendapat saya juga sudah mulai dipertimbangkan. Mungkin mereka menyadari bahwa saya sudah bukan anak kecil lagi, apalagi orang tua saya juga mengetahui minat saya mempelajari Islam. Pengetahuan saya tentang isyu-isyu dunia Islam yang sedikit lebih banyak dibandingkan seluruh anggota keluarga juga menjadikan omongan saya ‘didengar’. Bahkan adik saya pernah menyarankan kepada saya untuk menjadi ustadz atau dai saja, sementara saya hanya garuk-garuk kepala saja mendengarnya, meskipun tidak ada yang gatal. Karena bagi saya lebih mudah untuk menulis seharian daripada berbicara di depan umum 10 menit, apalagi berjam-jam.

Keluarga saya biasanya terbuka dengan permasalahan-permasalahan semacam ini, tidak jarang terjadi perdebatan kecil antara saya dengan ayah, dengan ibu atau dengan adik. Paling sering dengan ibu, mungkin karena selama ini, ibu memang lebih mengerti tentang agama dibandingkan ayah dan anak-anaknya. Belakangan, setelah sedikit demi sedikit pengetahuan tentang Islam masuk ke dalam diri saya, seringkali saya menjadi seorang pengkritik terhadap ibu. Sementara ayah biasanya percaya dan nurut saja dengan penjelasan yang diberikan oleh saya, ibu atau adik, mungkin menyadari keterbatasan dirinya dalam bidang agama. Akan tetapi, tujuan kami sebenarnya baik, berdiskusi untuk menentukan keputusan terbaik, minimal bagi keluarga kami. Namun, toh, tidak pernah terjadi perasaan sakit hati diantara kami, karena diskusi yang dilakukan juga dilakukan dalam suasana sebuah keluarga yang dilakukan secara santai namun tetap serius.

Mentang-mentang sudah membaca buku ‘Fiqih Astronomi’ karya Thomas Djamaludin sejak 2 tahun yang lalu, saya mulai jadi ‘sok tahu’. Buku tersebut berisi kumpulan tulisan penulis mengenai permasalahan penentuan awal bulan dalam Islam. Dari buku tersebut juga saya mengetahui tentang hilal, ru’yat dan hisab, serta kriteria-kriteria yang dipakai dalam pengambilan keputusan untuk menentukan awal bulan.

Adakalanya mengetahui tentang sesuatu tidak selalu memudahkan. Apa yang terjadi pada saya setelah membaca buku tersebut adalah sebuah kebingungan. Bukan terhadap isi buku tersebut, tapi pada bagaimana sebaiknya bersikap atau memilih. Jika dulu, sebelum tahu dalil-dalil atau metode yang digunakan untuk menentukan awal bulan, saya tinggal mengikuti saja mau lebaran kapan pun tidak ada beban. Namun, sekarang, setelah mengetahui ilmu yang sedikit itu, saya merasa tidak bisa lagi bersikap seperti itu. Barangkali karena baru tahu sedikit itulah saya menjadi bingung

Ke-sok tahu-an saya mulai akut ketika menjelang lebaran yang lalu saya ‘mengeluarkan fatwa’ untuk berlebaran pada hari Sabtu, 13 Oktober 2007, kepada keluarga saya. Itu artinya, untuk lebaran kali ini keluarga kami ‘cerai’ dulu dari Muhammadiyah. Bukan tanpa alasan saya memutuskan untuk berlebaran hari sabtu. Sebuah tulisan di majalah Risalah keluaran PERSIS cukup meyakinkan saya bahwa hari Kamis (11/10/07), hilal tidak mungkin terlihat di Indonesia, meskipun sebetulnya Muhammadiyah pun sudah jauh-jauh hari mengatakan bahwa hilal memang mustahil terlihat saat itu, karena syarat-syarat terlihatnya hilal memang tidak terpenuhi. Selain itu, fatwa MUI yang memerintahkan setiap umat Islam untuk mengikuti dan mentaati pemerintah menjadi alasan yang cukup kuat bagi saya untuk ‘mengeluarkan fatwa’ itu. Yang terakhir adalah dalil-dalil dari hadits-hadits sahih yang memerintahkan untuk berpuasa ketika melihat hilal dan berbuka jika melihat hilal. Demi agar lebaran yang saya lakukan sesuai dengan syariat Allah dan Rasul-Nya. Meskipun, yang sesungguhnya terjadi, saya merasa sudah ‘mengkhianati’ akal dan keyakinan saya sendiri, karena sesungguhnya saya lebih meyakini metode pengambilan keputusan yang dilakukan oleh Muhammadiyah dengan hisab dan kriteria wujudul hilal-nya.

Resikonya sama saja. Jika Muhammadiyah benar, maka ada jutaan orang yang shaum di hari raya, yang hukumnya Haram. Jika pemerintah benar, ada jutaan orang lainnya yang tidak shaum sehari di bulan Ramadhan. Padahal, meninggalkan shaum sehari saja, tidak bisa diganti oleh shaum yang dilakukan sepanjang tahun. Tidak mungkin keduanya benar, mesti ada salah satu yang salah. Oleh karena itu, perkara ini memang bukan perkara yang mudah dan main-main. Menyadari hal inilah, saya kemudian merasa agak ‘menyesal’ juga jadi tahu ilmunya meskipun sedikit, sebab itu berati saya tidak bisa lagi asal ikut-ikutan.

Saya selalu meyakini bahwa ilmu pengetahuan dan syariat itu tidak mungkin bertentangan. Keduanya saling mengisi atau saling menguatkan. Itu lah yang sesungguhnya terjadi dengan hisab dan hilal. Dengan hisab, kita bisa mengetahui kapan sesungguhnya hilal bisa terlihat. Perbedaan keputusan yang terjadi saat ini sesungguhnya karena perbedaan kriteria antara sesama pengguna hisab saja. Padahal, prediksi mengenai kapan terjadinya gerhana bulan atau matahari, tidak pernah meleset. Jika ingin mengetahui kapan terjadinya gerhana, tanyakan saja pada ahli hisab! Bagaimana bisa meleset jika mataharinya itu-itu juga, bulannya itu-itu juga, planet-planetnya yang itu-itu juga, pergerakannya dari hari ke hari, ya begitu-begitu saja. Dengan bantuan hisab pula saya meyakini bahwa sebagian umat Islam yang melakukan shalat ied pada hari Kamis(11/10/07), diantaranya kelompok An-Nadzim di Gorontalo dan Tariqat Naqsabandiyah di Padang, sudah melakukan kesalahan.

Singkatnya, setelah mendengar keputusan sidang Isbath Departemen Agama di televisi, seluruh keluarga menyepakati untuk berlebaran hari Sabtu, meskipun saya pun tahu bahwa ibu sesungguhnya merasa tidak nyaman dengan keputusan itu. Begitu juga adik bungsu saya yang uring-uringan, karena baginya, itu berarti dia harus shaum sehari lagi, padahal dia sudah malas shaum dan ingin segera berlebaran. Ah, dasar, alasan yang tidak ilmiah. Hanya saya, ayah dan adik perempuan saya yang cukup mantap dengan keputusan itu.

Seperti biasa, menjelang shubuh, ibu menyiapkan sahur, sebuah pertanda bahwa keluarga kami akan melaksanakan shaum sehari lagi. Dalam bayangan saya, keluarga kami akan shaum hari itu. Nyatanya tidak demikian. Setelah shalat shubuh, ibu memohon ijin untuk pergi ke pasar bersama kakaknya. Sementara saya, karena tidak tidur semalaman gara-gara ‘berantem’ dengan puluhan nyamuk, memutuskan untuk tidur 1 jam kemudian. Setelah itu, saya tidak tahu apa yang terjadi.

Saya terbangun sekitar pukul 10 karena suasana rumah yang rasanya lebih ramai daripada biasanya. Ternyata sanak keluarga dari pihak ibu yang memang tinggalnya berdekatan sedang berkumpul di rumah kami. Dan betapa terkejutnya saya ketika melihat adik bungsu saya sedang makan ketupat dan opor ayam kiriman dari uwak saya. Ternyata, ketika pergi ke pasar bersama kakaknya, ibu mendapati bahwa di lapangan Sempur Bogor ramai oleh orang yang akan melakukan shalat ied hari itu. Karena saya tahu ibu merasa tidak nyaman berpuasa hari itu, saya cukup memahami keputusannya untuk mengikuti shalat ied hari itu. Lalu bagaimana dengan adik bungsu saya? Setelah mendapatkan penjelasan tentang hari tasyrik atau ‘hari yang meragukan’ dari paman saya yang lulusan Gontor, adik saya sangat senang, karena itu dia cukup mantap untuk membatalkan shaumnya. Atau bisa dikatakan dengan sangat bahagia melakukannya. Sementara ayah saya pun pada akhirnya menuruti paman saya tersebut dan membatalkan shaumnya juga.

Saya pun sempat merasakan kebimbangan yang sangat antara membatalkan atau melanjutkan shaum, karena saya pun mengetahui perihal ‘hari yang meragukan’ itu. Rasulullah pernah memerintahkan untuk tidak melakukan shaum di hari-hari yang dianggap meragukan. Namun, setelah meyakinkan diri, saya tetap melanjutkan shaum, begitu pula adik perempuan saya. Maka, jadilah lebaran kali ini sebagai lebaran yang paling berantakan bagi keluarga saya, sekaligus lucu, karena saya sendiri malah ingin tertawa ketika mengalami hal tersebut. Dipikir-pikir, memang lucu, barangkali hanya keluarga saya saja yang mengalami kejadian semacam itu dan tidak menjadikan pengalaman itu sebagai suatu masalah yang besar. Ibu tidak memaksa kami untuk berlebaran hari itu, begitu pula saya pun memahami kegelisahan ibu, atau adik bungsu saya yang mendapatkan ‘alasan yang tepat’ untuk membatalkan shaumnya, semuanya saling menghargai dan menghormati keputusan yang diambil. Barangkali dalam pikiran kedua orang tua saya, “toh, kalian sudah besar…apa yang kalian lakukan akan menjadi tanggung jawab kalian sendiri.

Kenyataannya, bagi kami, lebaran kapan pun sama saja, yang penting kami bisa berkumpul dan bersilaturahmi hari itu. Kadang-kadang makanan pun seadanya. Seadanya dalam arti yang sesungguhnya, karena saya sendiri pernah mengalami berlebaran hanya makan mie instan, karena memang itu yang ada. Tidak ada ketupat atau opor ayam atau pun makanan-makanan ringan khas lebaran. Dan sudah sejak lama saya tidak pernah membeli baju baru di hari lebaran. Jangankan lebaran, di hari lain pun sudah lama saya tidak membeli pakaian baru. Pakaian yang saya gunakan untuk shalat ied yang lalu pun merupakan pakaian pinjaman dari ayah saya. Barangkali, bisa juga diartikan sebagai bentuk protes saya terhadap tradisi yang selama ini melekat.

Bagi saya sendiri, saya mencoba memahami lebaran dari esensinya. Hari kemenangan. Hari bagi mereka yang berhasil menundukan dirinya dari penguasaan hawa nafsu. Tidak makan, minum dan melakukan hubungan seks di siang hari, baru tahap yang paling mudah untuk dilakukan. (Eh, ralat, saya tidak tahu apakah menahan diri untuk tidak melakukan hubungan seks di siang hari itu mudah atau tidak, belum pengalaman soalnya). Akan tetapi, Ramadhan yang lalu mengajarkan saya bahwa sesungguhnya ada hal yang lebih penting untuk dilakukan. Mengendalikan hawa nafsu. Dan saya menyadari betul sudah berkali-kali terjerumus untuk memuaskan hawa nafsu tersebut, bahkan di bulan Ramadhan sekali pun. Lalu apa hak saya ‘berpesta’ di hari kemenangan itu jika saya sendiri termasuk orang-orang yang kalah?

Saya tidak menyalahkan siapa pun perihal ‘kekacauan’ lebaran yang telah lalu atau pun yang mungkin akan terjadi di masa mendatang. Tidak Muhammadiyah, tidak pemerintah, tidak NU atau PERSIS. Bagaimana pun, mereka sudah berusaha untuk melakukan tugasnya dengan baik dan dilakukan dengan cara yang sesuai dengan ketentuan syariat. Saya menilai semua itu sebagai proses yang mungkin masih cukup panjang untuk dilalui sebelum akhirnya mencapai kata sepakat. Saya pun bersyukur mengetahui perihal niat baik mereka untuk berdialog satu sama lain, yang sudah berkali-kali dilakukan, meskipun belum mencapai kata sepakat.

Barangkali yang patut disalahkan adalah kita, sebagian besar umat Islam, yang sudah berkali-kali mengalami perbedaan hari lebaran, tapi masih masa bodoh dan membiarkan dirinya untuk tidak mau tahu-menahu perihal ilmu-ilmu yang berkaitan dengan shaum atau lebaran tersebut. Dan ketika perbedaan itu terjadi lagi, kita hanya bisa mengeluh, menyalahkan dan memaki ‘Aduuh, lebarannya kenapa beda lagi sih? nggak rame kan?‘ Untungnya, lebaran memang bukan untuk orang-orang yang menginginkan ‘keramaian’, tapi untuk mereka yang berhasil mengendalikan hawa nafsu dan menjadikan dirinya lebih takwa.

Akan tetapi, dari pengalaman lebaran yang lalu, untuk selanjutnya saya memilih untuk ‘rujuk’ kembali dengan Muhammadiyah. Karena ternyata, kejadian hari itu malah menyulitkan saya dan keluarga dalam menjalani shaum atau pun lebaran dengan khusyu. Ada perasaan ragu-ragu dan was-was, padahal sesungguhnya Islam mengajarkan untuk meninggalkan sesuatu yang meragukan. Barangkali, itulah sebabnya Allah melalui Rasulullah memerintahkan untuk tidak shaum di hari yang meragukan, karena ternyata memang menyulitkan bagi yang menjalaninya. Maha Suci Allah. Setelah kejadian itu, saya hanya berharap semoga Allah mengampuni kesalahan yang mungkin saya dan keluarga saya lakukan. Amiin.

S 3 K 3 L 0 4. 311007. 02.02.

loading...

Previous

Pesta Blogger, Pesta Orang-orang Besar

Next

Karena Wanita Ingin Dimarahi

3 Comments

  1. lebaran ikut yang duluan ajah… 😀

  2. M Shodiq Mustika

    Kami mengundang Dik Donny menjadi juri di http://muhshodiq.wordpress.com/2007/11/19/pemilihan-top-posts-september-oktober-2007/

    Sebagaimana juri lain, boleh memilih postingan sendiri, boleh pula postingan orang lain. Terima kasih.

  3. sky

    Sementara saya, karena tidak tidur semalaman gara-gara ‘berantem’ dengan puluhan nyamuk,

Leave a Reply

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén