Pak Harto di Hatiku
Refleksi January 28th, 2008
Haduh, judulnya :-p
Kemarin siang, setelah pulang dari sebuah kegiatan yang berlangsung semalaman, saya melihat berita. “Pak Harto Kritis”, judul berita tersebut. Entah kenapa, saat itu saya merasa tidak yakin bahwa beliau akan bertahan lebih lama lagi. Prediksi saya, siang itu akan jadi hari terakhirnya. Barangkali karena saya juga sudah terlalu jenuh dengan ekspose media yang berlebihan mengenai kondisi kesehatannya. Benar saja, ketika terbangun dari tidur saya melihat televisi dengan judul yang sudah berubah, “Pak Harto Wafat”. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.
Secara personal, saya tidak punya masalah apa pun dengan Bapak Pembangunan tersebut. Pun, tidak merasa berhutang budi. Netral. Tidak terlalu bangga dengan ‘prestasi’ yang pernah dicapai selama kepemimpinannya, juga tidak terlalu membabi buta mencaci apalagi sampai menghinakan ‘kesalahan’-nya. He’s not Superman. Namun, bahwa beliau memiliki karisma dan seorang tokoh yang kontroversial, patut diakui. Dicintai, pada saat yang sama juga ditakuti sekaligus dibenci. Bukankah panggung sejarah dipenuhi oleh tokoh-tokoh semacam ini? Jadi, ndak mesti heran toh?
Pada dasarnya, barangkali sebagian besar masyarakat Indonesia sudah memaafkan atau bahkan melupakan kesalahannya, seperti juga ‘kita’ sudah memaafkan dan melupakan kesalahan Soekarno. Saya jadi ingat salah seorang tokoh favorit saya, HAMKA. Betapa pun beliau pernah merasakan penderitaan akibat perlakuan Soekarno, HAMKA masih berbesar hati untuk menjadi imam shalat jenazah Soekarno. Kali ini pun saya melihat hal yang serupa terjadi pada diri AM Fatwa, tahanan politik zaman Soeharto, yang bersedia untuk melayat jenazah Soeharto. Sungguh, sebuah sikap yang patut dipuji.
Sebagai seorang suami, ayah dan kakek, saya melihat Pak Harto sebagai sosok yang hangat dan penuh kasih sayang. Akan tetapi, sebagai seorang Presiden, tindakan atau kebijakannya yang dirasa ‘merugikan’ -mungkin- dirasa perlu saat itu, demi stabilitas negara. Benar dan salah, hanya masalah perspektif saja. Saya sendiri tidak pernah meragukan nasionalisme dan loyalitasnya terhadap bangsa Indonesia. Hanya saja kekuasaan memang kerap menjerumuskan manusia, apalagi jika disekitarnya adalah para penjilat yang mencari aman dan kesenangan dirinya sendiri. Dan, entah mengapa saya merasa yakin meskipun tanpa bukti, 32 tahun Pak Harto berkuasa sebagiannya merupakan andil para penjilat ini.
Dan, sekarang, saya hanya bisa berdo’a, semoga beliau baik-baik saja di alam sana. Hanya saja, saya penasaran, sewaktu beliau sekarat, ada yang membimbing beliau untuk mengucapkan kalimat tahlil tidak ya?! Rasanya keterlaluan jika diantara banyak manusia dan ekspose media yang bertubi-tubi itu, tidak ada satu pun orang yang mengingatkan keluarganya untuk melakukan hal itu.
C 1 H 3 U L 4 7 6. 280108.07.00
NB: saya kok malah paling suka melihat ekspresi sedih-nya pak Harto ketika prosesi pemakaman ibu Tien ya? Beda aja, jarang-jarang melihat ekspresi beliau seperti itu.



January 28th, 2008 at 8:29 am
Kan ada Alwi Shihab
January 28th, 2008 at 9:27 am
January 28th, 2008 at 10:28 am
January 28th, 2008 at 11:16 am
January 28th, 2008 at 8:24 pm
January 29th, 2008 at 11:07 am
January 29th, 2008 at 4:52 pm
dulu waktu soekarno sekarat n wafat koran2, TV, media me ekspos pak karno gak yah… kasian juga soekarno, di jauhi oleh negara yang di proklamirkan nya
*mikir
January 29th, 2008 at 6:08 pm
January 30th, 2008 at 2:58 am
knapa ya pada menganggap mantan presiden soeharto tuh bersalah? bukannya proses hukumnya aja belom selesai?
bukannya kita ga boleh berprasangka buruk?
kabur…… V^-^
January 30th, 2008 at 9:41 am
January 30th, 2008 at 12:09 pm
selesai sudah hari-hari yang menderitakan di RS,mungkin beliau sudah tenang disana.
kangen rasanya melihat pak harto senyum… adem…
January 30th, 2008 at 4:19 pm
January 31st, 2008 at 9:02 am
“Pak Harto di Hatiku”.
Daku cuma mengingatkan, “di” yang disatukan sama kata berikutnya itu disebut imbuhan, contoh “dimarahi”, “dilukai”. Kalo “di” yang ada di judul artikelmu ini fungsinya sebagai kata depan, sama kayak “ke”, “dari”, “pada”, “daripada”. Tulisannya pun dipisah dengan kata berikutnya.
Nanti kalo ada ahli bahasa baca blogmu bisa diketawain ;) Mungkin beliau (atau siapapun itu) bakal bilang:
“Wah sayang sekali, isi tulisannya inspiratif, tapi penulisnya kurang memedulikan penggunaan bahasa yang baik.”
Kalo dirimu perbaiki, ucapannya pasti diralat jadi kayak gini:
“Wah hebat sekali, isi tulisannya ispiratif! Penulisnya pun mampu memanfaatkan bahasa dengan optimal. Benar-benar tulisan-tulisan layak baca!”
Hehehe… jadi begitu, Kek.
[sekalinya komentar panjang malah ngajarin kaidah bahasa, hehehe... maafkan...] ^.^
Ngomong-ngomong, saya juga merasa rindu pada senyum mendamaikan Kakek Soeharto sewaktu beliau masih hidup…
January 31st, 2008 at 9:08 am
January 31st, 2008 at 11:01 pm
February 1st, 2008 at 10:38 am
Semoga Golkar menang di Pemilu nanti, kan mbak Tutut masuk Golkar lagi
February 1st, 2008 at 10:54 pm
BTW..Semoga amal ibadah Beliau diterima di sisi-Nya
PS: saya juga punya artikel ttg pak harto di blog saya, mas…MOnggo mampir2, ya..:)
February 3rd, 2008 at 10:24 pm
@suprie: haha, jangan-jangan gara-gara temen mu itu ya?
@mr.bambang: yup, betool…kita-kita ini secara tidak langsung kadang ‘rindu’ balik lagi ke kehidupan di zamannya pak harto
@ridu: idealnya memang begitu sih, jangan terlalu berlebihan
@andex: hehe, udah lupa sama sang ‘kakek’ nih yeee?
@adit: insya allah, dit…amin
@chatoer: ah, teu ngarti saya mah tur, tapi yang nganter kan banyak jg tuh. Cuma keluarganya emang kesel banget sama pak Harto, gara-gara gk dimakamin di Bogor sesuai keinginan Soekarno.
@sawali: amin, mudah-mudahan dengan wafatnya beliau ada banyak pelajaran yang bisa kita ambil ya?
@dajal007: biarin aja
lha, siapa yang nganggap bersalah yak?!
@Rafi: betul, sebaiknya memang seperti itu, saya juga setuju.
@dodot: iya, senyumnya emang bikin adem
@iin: menurunkan jumlah kemiskinan dari 70 juta menjadi 23 juta, jelas berjaya banget…!!
@Putri Hujan: Iya, Nek…Terima kasih untuk koreksinya :-p Daku lupa atau nggak nyadar kalau ‘hatiku’ itu berarti tempat ya?! Udah diperbaiki kok…lain kali, kalau mau nulis komen, baca lagi ya Nenek, biar gak salah…:-p
@Harry: lho, kok di sini sih nulisnya? kekeke
@aNdRa: haha, bebas-bebas aja lah…!
yang penting tahu tempe murah :-p
@putri: iya lah, saya aja 16 tahun ‘menikmati’ kebersamaan dengannya di tv-tv alias setengah dari seluruh masa kekuasaannya
February 4th, 2008 at 3:16 am
Sweden menuturkan, Soeharto bukanlah orang yang suka becanda, namun ia tak pernah melihatnya marah-marah. Kalau pun marah pun, menurut Sweden, Soeharto hanya diam.
Masa-masa Soeharto sebelum masuk rumah sakit, lanjut Sweden, dihabiskan dengan kegiatan-kegiatan rutin, seperti shalat subuh, melakukan shalat tahajjud, dan ibadah shalat lainnya. Itu pun dilakukan di atas kursi, karena Soeharto sudah tidak bisa lagi melakukannya sambil berdiri. Selepas beribadah, Soeharto mengisi pagi hari dengan sarapan dan minum kopi non-kafein.
Ketika ditanya, apakah Soeharto suka mengungkapkan keinginannya berjalan-jalan ke luar rumah, Sweden mengungkapkan, perintah itu kerap datang mendadak. Tiba-tiba saja Soeharto memintanya untuk membawanya ke luar rumah. “Karena saya tidak punya pengawal, kalau saya mau keluar (dengan Soeharto), saya lapor pada putra-putrinya, terutama Mbak Tutut (putri sulung Soeharto, Red).” Singkat cerita, ke mana pun Soeharto pergi, di situ harus ada Sweden.
Sweden mengungkapkan, jika atasannya itu ingin berjalan-jalan keluar rumah, ia harus mengusahakannya sendiri. “Tak ada protokoler, jadi saya harus usaha sendiri, sehingga aman di jalan.”
Pria asal Bali yang mau mempelajari sedikit bahasa dan tatakrama Jawa ini berprinsip, apa pun tugas yang diberikan padanya, harus diupayakan dengan maksimal, walau pun kelihatannya mustahil. “Saya betul-betul ikhlas. Saya juga berterima kasih sekali kepada istri saya. Saya bisa menjaga sampai akhir hayat beliau. Kenapa? Istri saya tidak pernah mengeluh juga,” tutur Sweden.
Menjelang Soeharto menghembuskan nafasnya yang terakhir, menurut Sweden, tak ada baginya. Namun, ada sebuah pesan yang disampaikan sang mantan presiden, yang sempat didengar oleh beberapa orang yang hadir di di kamar rawat Soeharto di RSPP, Jakarta. “Sekarang ini, semoga rakyat ini banyak dapat pekerjaan, dan semoga Indonesia jaya dan makmur. Amin!” ucap Sweden, menirukan ucapan atasannya.
lalu pak Harto pingsan dan mnghenbuskan nafas terakhir
semoga doa beliau mustajab, Amien
February 4th, 2008 at 3:19 am
1.wajib belajar 9 tahun
2.KB lestari
3.Dwi Fungsi ABRI/ABRI masuk Desa
4.Swasembada Pangan
5.Repelita 1-5
6.Pembangunan SD Inpres dan Puskesmas
7.Pembangunan Irigasi dan 999 masjid
8.dan 50 penghargaan lainnya
February 4th, 2008 at 8:36 am
February 4th, 2008 at 7:39 pm
@kayu putih: Andai…beliau terbukti bersalah, apa iya kita tidak boleh menegakan hukum? kan nggak seperti itu juga…:-)
@putri hujan: ah, si nenek…koreksinya setengah2 :-p udah tuh :-p
February 6th, 2008 at 12:37 pm
saya juga sedih liat pak harto meneteskan air mata di hari kepergian bu tien,,
May 17th, 2008 at 8:56 pm
Dan sekarang akibatnya lebih parah. malingnya nyamar jadi wakil rakyat.
Kang Prabowo munculah segera habisin mereka!!!!!!!!!!!!!!!!!!
July 12th, 2008 at 1:31 pm
September 11th, 2009 at 11:50 am
Jadilah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya dong…
CPNS 2009´s last blog ..Akhir Dari Pencarian Akan Penjahit Online
September 11th, 2009 at 11:52 am
Beliau adalah orang yang pernah memberikan kontribusi banyak bagi kemajuan bangsa ini.
Money For Blogger´s last blog ..Free Exchange Link With My Page Rank 2 Blog
October 17th, 2009 at 8:31 pm
saya juga sedih liat pak harto meneteskan air mata di hari kepergian bu tien,,
April 26th, 2010 at 11:30 am