The Most Inspiring Love Story: Kabayan and Iteung

Kuatnya pengaruh film-film barat dan perasaan inferior yang sudah sangat kronis dari bangsa Indonesia, membuat kita silau akan segala hal yang berbau Barat. Termasuk juga dalam film dan cerita-cerita yang menjadi inspirasi. Dalam novel 5cm, yang pengarangnya memiliki nama depan sama dengan saya, tidak ditemukan satu pun film dari Indonesia yang menjadi inspirasi dari novel tersebut. Hampir seluruhnya Amerika punya. Padahal, menurut saya, ada film-film yang cukup menginspirasi.

Bagi saya, kisah cinta Kabayan dan Iteung lebih menginspirasi daripada kisah-kisah cinta yang pernah ada. Bukan Romeo and Juliet, tidak cerita Nabi Yusuf dan Zulaikha, tidak juga kisah cinta Fahri dan Aisha di Ayat-ayat cinta, atau Layla Majnun, apalagi cerita film Titanic. Romeo dan Juliet, entah kenapa saya malah menganggapnya sebagai kisah cinta paling bodoh yang pernah ada. Fahri dan Aisha, ah…terlalu sempurna, meskipun tidak mustahil ada laki-laki seperti Fahri di dunia ini.

Sebagai anak yang ditakdirkan sebagai suku Sunda, orang tua saya lebih dulu mengenalkan saya dengan cerita-cerita dari tanah sunda. Kabayan adalah salah satunya. Akan tetapi, gambaran sosok yang agak lebih utuh saya dapatkan ketika menonton film-film Kabayan yang diperankan dengan sangat baik oleh Didi Petet, bahkan lebih baik daripada Kang Ibing. Saya tidak tahu persis apakah sosok Kabayan memang seperti itu atau tidak, yang jelas peran Didi Petet sebagai Kabayan memang belum tergantikan sampai saat ini. Terus terang saja, saya cukup merindukan peran Didi Petet sebagai Kabayan lagi, hanya saja agak sulit untuk membuat -misalnya- film ‘Si Kabayan jadi 2’.

Dari film-film Kabayan itu, jadi lebih tergambar jelas bagaimana kisah cinta Kabayan dan Iteung. Itulah hebatnya media gambar bergerak. Serta bagaimana ‘benci’-nya si Abah terhadap Kabayan, tapi sesungguhnya sangat sayang kepada si Kabayan. Panggilan ‘borokokok’ adalah panggilan ‘sayang’ si Abah untuk Kabayan, dan hanya dimiliki oleh si Kabayan. Jadi kalau suatu saat Malaysia mau mengklaim dan mempatenkan panggilan ‘borokokok’, harus berhadapan dulu dengan si Abah 😀

Cinta si Kabayan juga tidak neko-neko, terlebih cinta si Iteung pada si Kabayan. Meskipun sudah beberapa kali didekati oleh pria-pria yang secara ekonomi jauh lebih baik dan masa depan yang lebih cerah daripada si Kabayan, Iteung tidak bergeming. Cinta-nya hanya untuk Kabayan, seorang lelaki pemalas yang teman setianya hanya kerbau dan dijamin tidak punya masa depan yang cerah. Bahkan ketika cinta-nya berusaha dihalang-halangi oleh Abah, yang merupakan ayah si Iteung, mereka berdua tidak pernah menyerah, bahkan mereka semakin cinta.

Kabayan adalah kombinasi spontanitas, keluguan, kecerdasan sekaligus ketulusan dan kepasrahan terhadap takdir. Sebenarnya, masih terjadi polemik apakah si Kabayan itu orang yang bodoh atau cerdas, tapi kalau saya cenderung mengatakan cerdas. Karena keluguannya, dia disukai orang-orang. Karena kecerdasannya, dia bisa survive menjalani hidup yang apa adanya dan bisa selamat dari berbagai ancaman, dan karena ketulusannya dia selalu menolong orang tanpa pamrih. Akan tetapi, karena ‘dilahirkan’ di tanah sunda, atribut tukang heureuy dan usil juga melekat pada diri si Kabayan.

Dalam ‘Si Kabayan Saba Kota‘, Kabayan menyusul ke kota Bandung yang baru sekali dipijaknya, berbekal alamat rumah temannya untuk disinggahi. Dalam ‘Si Kabayan Saba Metropolitan‘, dia menyusul Iteung ke Ibu Kota, Jakarta, tanpa satu pun orang yang dikenalnya. Bahkan harus dihukum push-up oleh polisi gara-gara salah tempat ketika menyeberang jalan. Dan dalam ‘Si Kabayan dan Anak Jin‘, dia menyusul ke Yogyakarta untuk menyelamatkan Iteung. Bukankah itu romantis?

Akan tetapi, Kabayan juga bukan sosok yang egois. Dia juga sosok yang realistis. Kecintaan Kabayan pada Iteung ternyata tidak membuatnya mengorbankan sesuatu yang lebih penting dan lebih besar. Dalam ‘Si Kabayan Saba Metropolitan‘ diceritakan Kabayan dipaksa untuk menjual tanah yang dimilikinya kepada para konglomerat. Bahkan, Kabayan diiming-imingi akan dinikahkan dengan Iteung jika dia bersedia menjual tanah tersebut. Kabayan sempat tergoda dan ‘terpaksa’ menyetujui untuk menjualnya, sebelum akhirnya memutuskan untuk membatalkannya dan meninggalkan Iteung serta Abah di Jakarta, sambil mencium tanah dan mengatakan “Pffuah…tanah di Kota mah tidak enak!! saya mah mau pulang saja, terserah Abah dan Iteung kalau mau menjual tanah milik abah mah“. Sebab, dengan menjual tanahnya kepada orang-orang kota, Kabayan tahu akan terjadi kerusakan di tanah yang dicintainya. Namun, pada akhirnya, Abah dan Iteung yang menyusul pulang dan menyesali perbuatannya.

Kecintaannya pada Iteung juga tidak membuat Kabayan mengumbar habis-habisan nafsunya, meskipun kesempatan itu ada. Dia menghormati Iteung, dan lebih dari itu, dia juga masih menghormati ‘keberadaan’ Tuhan. Tidak pernah diceritakan Kabayan dan Iteung bermesra-mesraan, apalagi mendapati cerita Kabayan berciuman dengan Iteung sebelum menikah. Cerita cinta ‘kan tidak berarti harus ada adegan ciuman, dan tidak ‘kering’ juga suatu film tanpa adegan ciuman. Sementara sekarang, sudah menjadi stereotip kalau film-film romantis harus ada adegan ciuman. Bahkan, meskipun sering, Kabayan dan Iteung masih saja malu-malu jika bertemu. Ini yang membuat saya gemas.

Film Kabayan lekat dalam ingatan saya karena selain kisah cintanya, juga karena terasa lebih dekat dengan kehidupan saya, dan mungkin kehidupan orang-orang Indonesia. Apalagi unsur budaya sunda-nya yang cukup kuat. Terlebih ketika digambarkan suasana pesawahan dengan background suling sunda, ‘asa waas‘ kalau kata orang sunda. Apalagi jika film ini ditonton di tanah perantauan…wuih, bisa bikin kangen habis-habisan. Sudah lama rasanya sineas perfilman Indonesia tidak mengangkat cerita-cerita semacam Kabayan yang mengangkat kearifan budaya setempat. Padahal, film juga bisa digunakan untuk menjaga kelestarian budaya bangsa Indonesia.

C 1 H 3 U L 4 17 6. 271107. 23.30

loading...

Previous

Kamana Atuh, Cinta?

Next

Wanita-Wanita Tangguh

6 Comments

  1. kang, udah denger yg versi drama radio?
    coba “kabayan site:multiply.com/music” dan search di google
    dijamin nyeri beuteung

  2. Hmm.. menginspirasi atau tidaknya sebuah film/novel, agak subjektif juga sih.
    Tetap saja, novel 5cm tidak menuliskan sebuah judul film Indonesia secara tertulis, tapi kebanyakan cerita nya malah terlihat terinspirasi oleh cerita-cerita dalam film Indonesia.

  3. iya setuju sama @echi, coba 5cm ada yang mau gituh buat film nya, mayan bagus tuh…. atau film kabayan di remake, jangan pilm pilm gak jelas tuh kaya siluman nyi bloroong lah atau apa lah ….. walaupun pernah ada legenda nya tapi di film IMHO terlalu di lebih lebihkan, malah gak bagus.

  4. Donny

    @agah: belum gah, geuning dicari di mbah gugel gk ada ya?
    @echi: memang subjektif, inspiring menurut saya juga kan belum tentu.
    @suprie: ya, kalau di film kan sih bagus, tapi apa gk ‘risih’ kalau di film itu ‘nyebut-nyebut’ film luar?

  5. hmmmh… Serendipity… Always makes me thrilled
    ^_^

  6. aini

    :tweety1:
    setuju dech ama supri….

Leave a Reply

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén