Pekalah!

Jika anda akan berwudhlu, perhatikan:

  1. Apakah banyak orang mengantri di belakang anda?
  2. Cukupkah air yang ada untuk anda dan orang-orang di belakang anda?

Jika anda tidak mendapati kondisi di atas, silahkan berwudhlu ‘sesuka’ anda! Akan tetapi, jika satu saja kondisi terpenuhi di antara 2 kondisi di atas, antara banyak yang mengantri dan air yang kurang, sebaiknya ber-wudhlu-lah dengan cepat dan hemat!

Kemudian, ketika memasuki masjid dan berniat untuk melakukan shalat sunat qabliah (sebelum shalat wajib), lihatlah ke sekeliling anda:

  1. Berapa banyak orang di masjid tersebut?
  2. Apakah anda tiba lebih awal daripada yang lain?
  3. Jika banyak, mana yang lebih banyak, yang melakukan shalat sunat atau yang menunggu iqamat?

Jika anda tiba lebih awal daripada yang lain, silahkan lakukan shalat sunat. Namun, jika anda tiba agak terlambat dibandingkan yang lain, apalagi anda melihat lebih banyak yang menunggu iqamat, lupakan niat anda untuk shalat sunat. Sebab, ketika anda melakukan shalat sunat, anda dzalim pada banyak orang yang membuat mereka menunggu anda menyelesaikan shalat sunat. Kalau pun anda keukeuh melakukan shalat sunat, pastikan shalat yang anda lakukan tidak membuat orang lain menunggu terlalu lama.

Sebelum anda melakukan shalat berjamaah, perhatikan diri anda:

  • Bagaimana bau badan anda?
  • Apakah mulut anda menyebarkan bau tidak enak?
  • Sebelum melakukan shalat, apa dan di mana anda melakukan aktivitas?

Jika sebelum shalat anda ‘bersilaturahmi’ ke kandang kambing, atau bergaul dengan kambing, bersihkanlah dulu badan anda, dan pakailah wewangian. Tidak semua orang merasa nyaman dengan bau kambing. Sebagian orang sangat sensitif terhadap bau-bauan. Pastikan mulut dan badan anda tidak menyebarkan bau tidak sedap. Sebab, bau-bauan itu akan mengganggu kekhusyuan shalat. Bukan shalat anda, tapi shalat orang di sebelah anda.

Jika anda ditunjuk menjadi seorang imam, perhatikan ini:

  • Adakah orang-orang sepuh dalam jamaah?
  • Adakah anak-anak?
  • Adakah orang yang sedang dalam perjalanan?
  • Adakah orang yang sedang terburu-buru?
  • Adakah orang yang sakit?

Jika anda merasa yakin bahwa orang-orang tersebut tidak ada dalam jama’ah yang akan anda pimpin, silahkan shalat ‘sesuka’ anda. Akan tetapi, jika anda tidak yakin, percepatlah shalat anda. Pilihlah surat-surat yang pendek. Sebab, orang-orang dalam kondisi di atas cenderung ‘kesal’ apabila imam yang mereka ikuti terasa lama. Hatta, jika anda sudah terbiasa jadi imam shalat di suatu masjid sekali pun. Apalagi, anak-anak yang cenderung agresif dan tidak bisa diam. Malahan, mereka akan mengganggu ketertiban shalat jamaah.

Selain itu, perhatikan juga, adakah orang lain yang hafalan Qur’an-nya sama atau minimal mendekati hafalan Qur’an anda? Jika anda merasa tidak yakin, bacalah surat-surat yang dikenal oleh orang banyak. Sebab, anda ditunjuk jadi imam bukan untuk menunjukan kehebatan anda dalam soal hafalan Qur’an!! Anda ditunjuk jadi imam untuk membimbing jamaah anda, akan tetapi anda pun harus menyadari bahwa anda bukan seorang yang sempurna. Suatu saat anda bisa lupa. Disinilah perlunya orang lain yang bisa mengoreksi dan mengingatkan jika anda lupa.

Ketika anda akan melakukan shalat sunat ba’diah (setelah shalat wajib), perhatikanlah:

  • Apakah tempat anda shalat menghalangi jalan keluar-masuk?
  • Adakah orang lain di luar yang mengantri untuk melakukan shalat wajib?

Jika anda yakin tidak ditemukan kondisi di atas, shalatlah. Akan tetapi, jika anda tidak yakin, tunggulah sampai masjid sedikit lebih lengang dan carilah tempat shalat yang aman dari lalu lintas orang-orang. Jika anda mendapati ada orang lain mengantri shalat jamaah, lupakan niat anda shalat sunat, segeralah keluar dan berikan kesempatan kepada orang lain untuk melakukan shalat berjamaah. Sebab ketika anda memaksa diri untuk melakukan shalat sunat dalam kondisi-kondisi tersebut, anda sudah dzalim pada orang lain.

Pertanyaannya, bagaimana mungkin ibadah yang kita lakukan bisa mendzalimi orang lain? Kenyataannya sangat mungkin dan bisa. Hanya saja, barangkali kita tidak menyadari ketika kita melakukan ibadah, ada hak orang lain yang terganggu. Adalah sebuah kedzaliman ketika -misalnya- kita menghabiskan waktu berdzikir, sementara ada orang lain menunggu kita dan sedang terburu-buru.

Saya bukan ingin melarang siapa pun untuk melakukan ibadah, berdosa sekali saya jika melakukan itu. Saya sangat senang jika setiap orang rajin beribadah. Akan tetapi, sebelum beribadah, cobalah untuk memperhatikan orang-orang di sekitar kita. Pekalah dengan situasi di sekeliling. Saya tidak yakin ibadah kita diterima oleh Allah SWT, jika ada orang lain yang terdzalimi ketika kita melakukan ibadah. Sejatinya, ibadah yang kita lakukan dengan baik akan menuntun kita menjadi orang-orang yang peka dengan kondisi sekitar. Sebab, semakin dekat seseorang dengan Rabb-nya, seharusnya dia akan semakin peduli dengan lingkungan sekitarnya.

Ada yang mau menambahkan?

C 1 H 3 U L 4 17 6. 260108. 07.45.

NB: duh, perasaan kok kayak saya yang udah bener aja ya? ๐Ÿ˜€

loading...

Previous

Kangen…

Next

Pak Harto di Hatiku

14 Comments

  1. iya emang, kadang nyebelin klo orang khutbah jum’at panjang – panjang tapi pokok masalah gak meruncing, malah melebar, kayanya dia sendiri gak tau yang diomonginnya.. udah gitu bacaan nya panjang – panjang. Solat baru selesai seperampat jam sebelum jam 1… kapan makannya ??? keburu masuk kerja…:(

  2. Agak OOT dikit. Beberapa waktu yang lalu di masjid deket kosku. Ustadz di masjid bilang kalau mulai malam itu akan diadakan diskusi. Kemudian dia ngomong begini begitu tentang pentingnya diskusi bahkan sampai merembet jauh ngomongin ini itu seperti orang ceramah kayak biasanya. Aku yang denger dari kos seperti ingin ketawa, loh..ini diskusinya kapan? Katanya mau diskusi, kok malah ceramah sama sekali gak ada diskusinya. Kok jadi enggak fokus gitu. Padahal, mungkin saja setelah diberitahu ada forum diskusi, banyak jamaah yang ingin bertanya berbagai macam. Tapi itu urung terjadi. Wallahu alam…

  3. @suprie dan mr.bambang: tadinya saya mau masukin jg soal khotib jum’at dan penceramah, tapi keburu males nulis :))

  4. Akan lebih lengkap lagi jika disertai dalil2.
    Ada banyak hadis yang membahas masalah itu.

  5. Untuk Imam bukunya : Kriteria Imam dalam Sholat sesuai Al-Qur’an dan As Sunnah.

  6. langkah syetan menurut ibnu qayyim
    1. syirik
    2. bid’ah
    3. al kabaair (dosa besar)
    4. ash shagaair (dosa kecil)
    5. terlalu berlebihan dalam hal mubah

    DAN terkait tulisan ini
    6. memilih amal yang kurang utama dibanding amal yang lebih utama

    punten bukan sok pinter, tapi materi ini kebeneran nempel banget karena dibawakan oleh mentor islam pertama saya dalam hidup ๐Ÿ™‚

  7. 1. Khutbah Jumat memang banyak bikin masalah ๐Ÿ™‚
    Memang idealnya ringkas, to the point. Bukan cuma cuap-cuap tidak jelas, sekedar memenuhi “kuota” 30 menit, he he

    2. Kalau menjadi imam, memang sebaiknya bacaan ringkas saja. Kita tidak tahu mungkin ada jamaah yang sedang ada keperluan lainnya yang mendesak.

    3. Bukan satu dua kali saya melihat orang sholat sunat, tapi di pintu masuk/keluar ๐Ÿ™
    Sayang ya, diberi otak oleh Allah swt, tapi tidak dimanfaatkan.

    4. Jika sholat di musholla yang kecil / ramai / pada waktu Maghrib, perhatikan situasi dengan seksama.

    Misalnya; anda masbuq (ketinggalan/imam sudah mulai sholat), jangan langsung mulai sholat. Lihat dulu tempat sholat Anda, apakah di dekat pintu ?

    Jika ya, maka tunda sholat anda. Karena kalau anda paksakan, maka setelah kloter tsb selesai sholat, SEMUANYA bisa tertahan Anda !
    Yang sudah selesai tidak bisa keluar, yang belum sholat tidak bisa masuk.

    Yang sering terjadi, akhirnya Anda dilangkahi oleh banyak orang. Lenyap khusuk sholat kita, dan kita justru mendapat umpatan dari orang-orang yang kita zalimi.

    5. Ceramah ustadz – salah satu tanda ustadz yang berilmu adalah dia ringkaskan ceramahnya, dan melamakan tanya-jawab / diskusi.

    Kalau ustadz yang tidak banyak ilmunya, dia tidak berani ditanya macam-macam ๐Ÿ˜€ lebih mending dia cuap-cuap tidak keruan selama 2 jam, he he

    6. Anak-anak di mesjid : saya kira perlu kita lazimkan.
    Kalau ada yang marah-marah karena tidak bisa khusuk, berarti ybs masih perlu latihan sholat khusuk lebih lanjut ๐Ÿ˜€

    Saya sudah membawa anak-anak saya ke mesjid dari umur 2 tahun. Untungnya, pengurus mesjid tsb paham tentang pentingnya mengakrabkan anak dengan mesjid, dan tahu bagaimana sayangnya Rasulullah saw dengan anak-anak.
    Jadi walaupun anak kita teriak / menangis sekalipun, tidak ada yang protes. Justru mereka melihat ke kita dengan pandangan memahami, dan melihat ke anak-anak kita dengan penuh sayang.

    Geli saya kalau melihat orang-orang yang marah-marah dengan anak-anak — lupa ya kalau dulu mereka juga seperti itu ? Ha ha ๐Ÿ˜€

  8. Hmmmh… ๐Ÿ™‚ Adem ayem euy…. Seneng dehhyy bacanya…. Jadi inget dulu jaman SMP, kalo mao sholat berjamah ngarep bgt imamnya yg baca surat yg pendek2 aja.. jejeje.. :P, soalnya waktu itu pernah ikut pesantren kilat gituw.. Trus berjamaah shalat malam… Saya pas sujud terakhir lamaaaa bgt, bukannya terlalu khusyu atau doanya panjang.. tp sayah TayduRRrr… Zzzzzz…. hehehehe.. abisnya panjangggg bet..
    Dan kita2 cewe2 SMP malemnya pasti ga tidur ketika waktu tidur, yaa curhat, ya cerita2 serem, seruu.. huhuhu.. jd kangen jaman dulu yak..

    _cheers_
    ^_^

  9. @Rosyidi: terima kasih saran dan informasi bukunya. Saya memang tidak menyempatkan diri untuk melengkapi tulisan-tulisan ini dengan dalil.

    @Agah: barangkali masalahnya karena ‘kita’ kurang menyadari dan nggak pernah ada yang ngasih tahu ya?

    @sufehmi: wow, banyak pisan ๐Ÿ˜€ soal anak2, memang perlu dilazimkan, saya pun pasti akan mengajak anak-anak saya ke masjid suatu hari nanti. Barangkali yang sering ‘mengganggu’ itu kalau anak-anak sudah menangis ya?! orangtuanya juga kasihan sih, jadi kurang khusyu shalatnya.

    @soputiful: saya juga senengnya sama imam yang suratnya pendek2 sih ๐Ÿ˜€

  10. Sip, setuju. Yang begini yang seharusnya diajarkan dalam pelajaran/kuliah Agama ๐Ÿ™‚

  11. yup, setuju banget, mas donny. postingan ini mengingatkan kita bahwa islam benar-benar agama yang rahmatan lil ‘alamin.

  12. Tulisan yang cerdas!
    Terutama bagian ketika harus memperhatikan ada tidaknya anak2 saat jadi imam. Keberadaan anak2 sangat dipertimbangkan, dengan kata lain tidak dihilangkan.
    Sebagaimana Bpk. Sufehmi, suami saya juga sudah membiasakan membawa anak ke masjid sejak usia 2 th. Tapi di lingkungan saya masih pro dan kontra. Saya sering panas kalau mendengar ada Bapak2 yang menegur mereka dengan kasar. Ketika suatu kali saya protes, mereka bilang anak2 ribut jadi gak khusyu shalatnya, kami bukan nabi yang bisa khusyu meski ada suara ribut. Hhhhh…. Tak heran kalau sekarang ini yang banyak memenuhi masjid adalah orang2 yang sudah tua, karena para remajanya tidak dibiasakan ke masjid. Saat mereka kecil ke masjid sering dimarahi oleh Bapk2.

  13. atu lagi:
    – kalau berwudu jangan beridiri dianatara dua tempat wudhu.
    – kalau mau masuk masjid, habisin dulu ngobrolnya diluar masjid.
    -jangan ngbrol dipintu masji,

    ah bosan, banyak kesalnya kalau ketemu hal yang ginian, jadi bosan ngeliat manusia2 yang sellau masih dalam kebelengguan diri mereka sendiir

    *perubahan dari diri sendiri sangat berarti, dan orang kuat adalah orang yang bisa merubah diri mereka dan mampu mengalahkan nafsu mereka sendiri*

  14. Barangkali yang sering โ€˜menggangguโ€™ itu kalau anak-anak sudah menangis ya?!

    Ah iya, ini kelewat…. setuju sekali. Ini sangat saya sayangkan, dan masalah yang cukup marak — orang tua yang tidak bisa mengontrol anaknya.

    Jadi ingat hadits tentang tanda-tanda kiamat, salah satunya disebut bahwa anak akan menjadi tuan dari orang tuanya ๐Ÿ™‚ eh atau ๐Ÿ™

    Dan ini sekarang sudah banyak terlihat dimana-mana; ketika anak-anak sudah menangis, orang tuanya tidak mampu mendiamkan. Akhirnya sang orang tua kalah, dan terpaksa mengikuti apa saja kemauan sang anak.

    Ini sangat menyedihkan, karena untuk psikologis sang anak pun juga tidak baik. Istilahnya oom Smith, “spoiled rotten” ๐Ÿ™‚

    Alhamdulillah sejauh ini anak-anak saya masih bisa terkontrol oleh saya. Jika ada sesuatu yang tidak tepat mereka lakukan, biasanya cukup saya panggil nama mereka, dan mereka langsung paham.
    Dan caranya sebetulnya gampang ! Kuncinya adalah : tegas, dan konsisten.

    Mudah2an nanti saya bisa buatkan artikel seputar topik ini.
    .-= sufehmi´s last blog ..MySQL – Sharding =-.

Leave a Reply

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén