Menanti Terwujudnya Sebuah Impian

Sekali lagi, saya merasakan manfaat dari menulis. Sungguh tidak pernah saya bayangkan sebelumnya ketika suatu pagi, SMS yang saya terima benar-benar membahagiakan saya, sekaligus membuat saya tidak habis pikir. Sebuah ajakan sekaligus kesempatan untuk mewujudkan mimpi saya. Nama saya tercantum sebagai penulis buku. Meskipun, hanya sebuah ‘sumbangan’ untuk mengisi proyek bersama sebuah buku, bukan sebuah buku yang saya tulis sendiri. Naskah tulisan tersebut, kabarnya, sudah masuk ke pihak penerbit. Mudah-mudahan saja bisa goal.

Tidak berfikir panjang ketika saya membalas SMS tersebut, langsung saya sanggupi. Meskipun, ternyata, setelah saya baca detail kisi-kisi tulisan yang harus saya buat, saya sempat terperangah juga. Wah-wah…rupanya saya harus kerja keras untuk menghasilkan sebuah tulisan yang mudah dipahami sekaligus berbobot dan bisa mengajak orang lain untuk melakukan apa yang menjadi misi buku tersebut. Anak panah sudah dilepaskan, tidak mungkin ditarik kembali, maka dengan deadline 5 hari sejak SMS saya terima, saya benar-benar dibuat bekerja keras untuk menghasilkan tulisan yang bagus.

Sedikit bocoran, saya kebagian tugas untuk menulis tentang hubungan antara Jodoh, Istikharah dan Matematika serta sedikit menyinggung Fisika Kuantum. Sebetulnya aneh juga saya yang belum memiliki jodoh disuruh menulis tentang kiat-kiat mendapatkan jodoh. Jangan-jangan, yang bersangkutan nyindir saya ya? 😀 Lebih mudah untuk mendapatkan referensi tentang istikharah dan hubungannya dengan jodoh. Namun, berhubungan dengan Fisika Kuantum? Di sinilah saya benar-benar dibikin kerja keras sekaligus ‘memutar’ otak. Hanya sedikit sekali referensi yang saya miliki tentang fisika kuantum. Sebuah buku milik saya, Atom & Quark, yang membahas sedikit tentang fisika kuantum, ada di rumah saya, di Bogor. Begitu juga dengan buku The Hidden Connection (Fritjof Capra) yang menyinggung soal fisika kuantum. Terpikir untuk meminjam The Tao of Physics (Fritjof Capra), sayang sekali teman yang bersangkutan sedang tidak berada di Bandung. Jadinya, tidak sedikitpun buku-buku tersebut menjadi referensi saya.

Beruntung, saya memiliki akses gratis ke internet, namanya juga operator warnet. Saya mulai mencari hal-hal yang berbau fisika kuantum, probabilitas, istikharah dan kaitannya dengan jodoh. Berbekal kemampuan Bahasa Inggris yang teramat pas-pasan, saya paksakan diri saya untuk memahami apa itu fisika kuantum dan bagaimana kaitannya dengan kehidupan manusia. Sungguh menarik bagaimana dunia dipandang dari sisi fisika kuantum. Saya sangat terbantu oleh tulisan-tulisan berbahasa Indonesia yang saya temui di internet yang kemudian menjadi rujukan saya.

Saya acak-acak lagi komputer saya, dan Alhamdulillah, saya menemukan beberapa artikel lagi yang kemudian menambah referensi saya. Salah satunya dari dosen fisika yang pernah bekerja sama dengan saya ketika menjadi asisten dosen fisika, sayangnya karena keterbatasan waktu dan kesibukan, saya tidak sempat bertemu dan mendiskusikan naskah tersebut. Meskipun, saya ingin sekali untuk berdiskusi dengan beliau, tentunya agar tulisan tersebut tidak ‘keluar jalur’. Kemudian, saya buka-buka lagi buku saya yang pernah saya baca, atau yang saya curigai mengulas atau menyinggung tentang fisika kuantum. Alhamdulillah, ada beberapa buku yang menyinggung soal itu, meskipun terlalu sedikit. Saya pun kemudian memaksakan diri untuk main ke gramedia demi untuk itu. Sayangnya, tidak banyak yang bisa saya dapatkan di sana, mestinya saya main ke perpustakaan ITB atau UNPAD saja ya?

Ketika saya menyanggupi untuk menulis artikel tersebut, saya tidak menduga kalau waktu yang ‘disediakan’ hanya 5 hari. Tadinya, saya kira, untuk 2 minggu yang akan datang. Saya terlambat membaca email, berkurang 1 hari jatah saya. Kemudian, ternyata saya sudah menjadwalkan 1 hari untuk berangkat ke Jakarta dalam rangka menghadiri undangan 3 orang teman saya. Sisa 3 hari lagi. Esoknya, saya harus menjadi panitia pernikahan teman di Bandung, setelah itu saya harus langsung memenuhi kewajiban saya jaga warnet. Satu hari lagi terbuang. Meskipun ketika jaga warnet saya berada di depan komputer, tidak banyak yang bisa saya tulis, karena terlalu banyak gangguan. Maka, saya gunakan waktu tersebut untuk membaca-baca saja, sekaligus mengendapkan kerangka pikiran artikel tersebut. Dan terpaksa, saya meminta jatah 1 hari lagi, karena ketika menjelang deadline, artikel tersebut belum sampai setengah dari 20-30 halaman yang diminta.

Sungguh pengalaman luar biasa. Bukan hal yang mudah ternyata menghasilkan tulisan yang ilmiah, mudah dipahami, sekaligus menggugah. Mungkin, karena saya yang belum terbiasa juga. Selama ini, saya menulis di blog secara spontan, atau berdasarkan pengalaman, atau berdasarkan apa yang sudah lama ‘diendapkan’ di dalam otak saya. Kecuali skripsi atau tugas-tugas kampus, jarang sekali saya menulis secara sistematis dan melalui proses observasi. Apalagi, sudah 2 tahun sejak saya lulus kuliah, tidak pernah lagi saya menulis secara sistematis.

Ada satu saat dimana saya benar-benar kehabisan kata-kata. Blank. Saya baca kembali artikel tersebut berulang kali, dan saya tidak tahu harus menulis apa lagi. Saya ceritakan kondisi saya ini melalui SMS kepada seorang teman. Dia kemudian menyemangati saya agar tetap optimis. Saya sih selalu optimis bisa menyelesaikan apa pun yang saya kerjakan, termasuk artikel tersebut. Saya pun kemudian memaksakan diri mengejar target tersebut, dan ternyata berhasil juga mencapai target minimal halaman yang harus saya penuhi. Meskipun, banyak sekali kekurangan yang bisa ditemukan, terlalu banyak repetisi (pengulangan). Dan ada bagian yang, menurut saya, agak membosankan juga. Namun, akhirnya saya kirim juga tulisan tersebut, sisanya…tinggal berdo’a saja.

Sebagai uji kelayakan, saya percayai 3 orang (oci, dajal dan arita) untuk melakukan kritik, masukan, komentar dan saran perihal artikel tersebut. Dan tentunya dengan pesan agar tulisan tersebut jangan bocor dulu ke orang lain. Hehe. Dua orang diantaranya sudah membaca tulisan tersebut dan memberikan masukan, satu orang lagi belum sempat dikarenakan ada masalah. Namun, Alhamdulillah, masukan yang saya dapatkan positif, meskipun saya juga menerima sebuah kritikan tentang terlalu banyaknya repetisi di tulisan tersebut dan adanya dalil-dalil yang kurang kuat dan kurang relevan, serta adanya kesalahan pengetikan yang ternyata malah ‘menyesatkan’. Dan konon, artikel tersebut setengahnya ‘dibuang’ dan dilakukan revisi oleh editor yang sekaligus orang yang mengajak saya tersebut, yaitu kang Shodiq.

Muncul juga sebuah kekhawatiran seandainya artikel tersebut jadi diterbitkan. Yaitu, ketika tulisan tersebut sampai ke tangan-tangan mereka yang lebih ahli, utamanya dalam bidang fisika, matematika dan fikih. Namun, saya pikir, tentunya akan lebih berguna bagi saya jika kemudian saya mendapatkan kritik dari para ahli tersebut. Yah, ini sih cuma GR-GR-an saja. Hehehe. Harapan saya, tentunya artikel tersebut bisa mewarnai khazanah dunia tulis menulis di Indonesia, dan memiliki manfaat untuk orang lain, sehingga jadi amal jariah buat saya. Bangga juga kan meninggalkan sesuatu yang bisa membuat orang lain mengingat kita?

Namun, ada yang lebih berat lagi daripada itu semua, yaitu mengamalkan apa yang saya tulis tersebut. Wah, benar-benar sebuah perjuangan. Mudah-mudahan saya bisa istiqamah.

C1H3uL4176. 230807. 21.08.

Nb : Thanks to Kang Shodiq, Oci, Dajal dan Arita 🙂

loading...

Next

Penting, Kurang Penting, Tidak Penting

1 Comment

  1. kabar yang menggembirakan…
    met berjuang bro …… !

1 Pingback

  1. \')/*

Leave a Reply

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén