Melampaui Materi

Sepulang dari tugas dan melakukan perjalanan hampir setengah hari dan setengah malam, saya tiba di Bandung menjelang tengah malam. Dengan kondisi lelah dan lapar, saya memutuskan untuk singgah terlebih dahulu di sebuah warung mie rebus langganan. Demi untuk menghilangkan rasa lapar tersebut.

Di warung tersebut terdapat sebuah televisi yang sedang menyiarkan berita-berita terkini. Bang Jek, pemilik warung tersebut, memang menyukai berita dan film action Oh, ya … satu lagi, acaranya si Tukul yang sempat dilarang itu. Oleh karena kesukaannya itu, saya seringkali menghindari datang di-jam-nya si Tukul itu.

Setiap kali saya datang, seringkali dia ‘mengajak’ saya untuk berdiskusi perihal masalah-masalah terkini. Apa pun yang sedang ramai di televisi saat itu. Seperti biasa, Bang Jek akan melontarkan opininya tentang apa pun. Adakalanya saya layani, seringkali saya cuma manggut-manggut saja, atau saya berikan jawaban ketika dia menanyakan sesuatu, atau bahkan saya diamkan, karena saya sedang malas untuk sekedar memberikan tanggapan.

Hanya karena pendidikan saya lebih tinggi, Bang Jek sering memosisikan saya sebagai orang yang lebih tahu daripada dirinya. Dalam hal apa pun. Meskipun saya juga sudah berkali-kali memberikan jawaban “tidak tahu” atau memang tidak saya berikan jawaban, karena saya bingung untuk menjelaskan dengan bahasa yang sangat sederhana dan mudah dimengerti. Saya selama ini tidak pernah menggunakan istilah-istilah asing ketika berdiskusi dengan Bang Jek, tapi tetap saja, mengemasnya menjadi sangat sederhana juga perlu seni tersendiri.

Televisi sedang menayangkan tentang Gaza ketika saya sedang menyantap mie rebus pesanan saya, juga segelas teh hangat. Bang Jek mulai berbicara tentang kekesalannya terhadap Israel, juga keheranannya -sekaligus kagum- terhadap warga Palestina yang meskipun sudah berkali-kali diserang, tapi jumlahnya seperti tidak habis-habis. Lalu mulai berbicara tentang Obama, tentang HAMAS, tentang pemerintah Indonesia dan tentang orang-orang Arab. Ketika berbicara tentang orang-orang Arab itu, tiba-tiba Bang Jek mengeluarkan pernyataan …”Orang-orang Arab mah enak ya? Mereka bisa naik haji kapan pun, nggak perlu bayar ongkos tinggi-tinggi. Nggak seperti kita yang harus nyediain uang puluhan juta.

Mie rebus sudah habis ketika pernyataan itu keluar dari mulut Bang Jek. Saya tergelitik untuk memberikan tanggapan. Saya kemudian menjelaskan, orang-orang Arab memang diberikan keistimewaan seperti itu, mereka juga bisa mendapatkan uang banyak setiap saat karena banyaknya umat Islam yang melakukan Umroh dan Haji. Buat mereka, ibadah haji tidak menjadi sebuah ‘persoalan’ seperti bagi umat Islam di negara lainnya, terutama negara miskin. Mereka bisa berhaji kapan pun, asal mereka mau. Tidak seperti orang-orang Indonesia yang harus jual tanah, atau menabung bertahun-tahun untuk bisa berangkat melaksanakan ibadah Haji. Bahkan banyak juga yang sepanjang hidupnya menabung, dan tetap belum bisa berangkat haji sampai ajal tiba. Ibadah haji menjadi sebuah impian dan cita-cita. Minimal sekali dalam seumur hidup, oleh sebab itu, ibadah Haji jadi ‘barang’ yang mahal.

Akan tetapi, umat Islam Arab, khususnya Mekah, tidak akan memperolah keistimewaan lainnya yang hanya akan diberikan kepada mereka yang berada jauh dari Mekah. Keistimewaan tersebut adalah pahala dari Allah SWT bagi mereka yang berusaha untuk melaksanakan ibadah haji dengan segala daya dan upayanya. Setiap rupiah yang ditabung dan diniatkan untuk beribadah tersebut, akan menjadi tabungan pahala juga. Bahkan jika kemudian meninggal sebelum berangkat Haji, orang tersebut, insya Allah, akan mendapatkan pahala yang bisa jadi nilainya juga lebih besar daripada hajinya orang-orang Arab. Nilai dan arti sebuah pengorbanan sangat terasa bagi umat Islam yang jauh dari Arab.

Keistimewaan lainnya, barangkali, kenikmatan menjalankan ibadah Haji tersebut. Sebuah perjalanan haji bagi seorang muslim layaknya perjalanan pulang. Perjalanan kembali untuk mengenal ‘akar’ darimana dia berasal. Oleh sebab itu, ibadah haji begitu dirindukan oleh setiap muslim. Dan karenanya, ibadah haji menjadi begitu sangat berharga. Perjalanan haji juga menjadi sebuah perjalanan yang penuh kesan, terkadang mengharukan. Maka, tidak mengherankan jika hampir sebagian besar mereka yang pernah melakukan ibadah haji, dipastikan menangis ketika melakukan ibadah tersebut.

Cerita mengharukan tentang seseorang yang mengorbankan ongkos hajinya untuk mengobati tetangganya yang sedang sakit, sementara dia merelakan dirinya tidak jadi berangkat haji. Lalu kemudian Malaikat mengabari dirinya memperoleh pahala Haji mabrur, hanya bisa muncul dari negara yang jauh dari Arab, seperti Indonesia ini. Begitu juga bermacam-macam cerita mengharukan bagaimana seseorang bisa berangkat haji, hanya muncul dari negara yang jauh dari Arab. Karena itu, sebuah perjalanan haji juga bisa berubah menjadi sebuah perjalanan spiritual seseorang. Saya yakin, orang-orang Mekah tidak akan merasakan kenikmatan yang dirasakan oleh mereka yang berangkat haji dari negara seperti Indonesia.

Jika perjalanan ibadah haji bisa dilakukan dimanapun, tidak akan muncul film sebagus “Le Grande Voyage”, misalnya. Begitu pula sinetron “Para Pencari Tuhan”, atau bahkan cerita-cerita ‘seru’ lainnya yang bisa kita dapatkan dari mereka yang pernah melakukan ibadah haji. Maka, disinilah letak adilnya Allah SWT. Orang-orang Arab mendapatkan materi, tapi orang-orang Indonesia yang berhaji mendapatkan lebih banyak hal, yang nilainya melampaui materi. Ibadah haji bisa menjadi kebahagiaan, kenikmatan, pengalaman spiritual atau bahkan kebanggaan seseorang, yang tidak bisa begitu saja hilang dari diri seseorang. Maka, inilah kekayaan sesungguhnya. Kekayaan yang bahkan materi pun tidak bisa menggantikannya, malahan orang-orang rela mengorbankan materi untuk mendapatkannya.

Tentu saja, apa yang saya tulis di atas tidak persis dengan apa yang saya jelaskan pada Bang Jek. Saya menjelaskan jauh lebih sedikit. Saya cukupkan penjelasan ketika Bang Jek mengatakan, “oh …iya, ya?!”. Bagi saya, itu artinya Bang Jek sudah cukup memahami apa yang saya maksud, tidak perlu berpanjang-panjang lebar seperti tulisan ini.

Di perjalanan pulang dari warung Bang Jek ke kostan yang berjarak 100 meter, saya kemudian teringat tentang sebuah komentar. Isinya tentang tuduhan bahwa ibadah haji merupakan rekayasa orang-orang Arab agar mereka bisa mendapatkan devisa yang banyak dari negara lain. Umat Islam selama ratusan tahun sudah dibodoh-bodohi oleh orang-orang Arab. Sekilas memang tampak benar, tapi saya kemudian berani mengambil kesimpulan bahwa orang yang menuduh tersebut tidak pernah atau belum pernah merasakan nikmatnya sebuah keimanan dan beribadah. Cara berfikir orang tersebut sangat materialistis. Padahal, jika nikmatnya keimanan sudah merasuki jiwa seseorang, jangankan berkorban harta, dirinya pun akan dikorbankan.

loading...

Previous

Hentikan Pemakaian Lampu Putih pada Kendaraan!!

Next

Virus

22 Comments

  1. hasrat saya utk bisa berhaji tetep ada, mas donny, entah kaoan bisa terlaksana. bagi saya, ibadah haji memang bukan lantaran umat islam yang mau dibodohi orang arab hanya alasan devisa dan materi, tapi bentuk ibadah dan rasa syukur atas limpahan rezeki yang diberikan oleh-Nya.

    sawali tuhusetyas last blog post..Merindukan Multiwajah Indonesia yang Ramah

  2. Betul kang, dan juga, ibadah haji udah ada dari jaman rasul, jauh sebelum muncul kata devisa, hehe.

    sepengetahuan saya, orang arab sendiri tidak bisa seenaknya pergi haji kang, kalau gak salah ada pembatasan beberapa tahun, baru bisa naik haji lagi. Orang Arab sendiri harus terdaftar untuk ibadah haji.
    Soalnya kalau gak dibatas, bahaya juga kebanyakan jemaah.

    hevi.fauzans last blog post..Hadiah Seorang Ayah

  3. lala

    hmmm… nuhun ah.

  4. gue ikut koment neh don..

    ada hal yang gak gue setuju dengan pernyataan lu yang mungkin aja lu pun gak bermaksud demikian. gue rasa mau deket mau jauh perjalanan haji untuk umat darimanapun pasti ada isrimewanya..gak berarti yang jauh akan lebih spesial..mungkin aja lu koment begitu karena memang kita2 yang disini tuh ya lebih banyak dapet cerita dari orang sini yang udah pergi kesana..kan kita gak dapet cerita sisi lain dari orang turki, arab saudi, pakistan,dll.

    gue meyakini..sangat meyakini dari arah manapun dan sedekat juga sejauh apapun yang datang untuk berhaji pasti punya kisah unik dan keistimewaan sendiri. yang ada bukan mana yang lebih istimewa,tapi yang ada justru keistimewaan yang berbeda – beda.dan istimewanya cerita orang2 kita, adalah istimewa versi kita..dan gue yakin ada istimewa versi orang2 dibelahan dunia manapun yang gak kalah menarik.

    urusan berhaji juga gue rasa gak luput dari “panggilan” dari sang Pemilik Rumah..yang berjarak dekat mungkin aja bisa datang, mungkin juga tidak. yang jauh mungkin aja bisa datang..mungkin juga tidak.

    yang pergi pun, isi hati dan niatnya hanya Allah yang tau, bisa aja jual sawah pergi ke haji bukan memang rindu untuk kesana..bisa jadi ada niat dalam hati ingin unjuk gigi ke orang lain fakta bahwa IA MAMPU PERGI.

    yang kita perkirakan kesana cuma pelesir dan ajang ngabisin uang doang saking banyaknya harta juga siapa tau memang justru kerinduannya untuk datang jauh lebih tulus dari yang lain. semua hanya Allah yang tau…kita gak akan mampu benar2 menyelami.

    gue setuju kalo pergi kesana adalah cita2 sebagian besar dari kita. dan gue percaya manusia muslim belahan dunia lainpun sama. temen chatting gue yang orang pakistan sana juga diawal perkenalan gue sebelum jadi temen kayak sekarang sempet tanya apa gue udah pergi berhaji..dan kita sama2 punya harapan yang sama untuk pergi kesana.bahkan saat itu saling menyemangati bahwa suatu saat bener2 harus pergi haji.

    ok..moga2 kita ada kesempatan kesana ya don..jangan bosen ngoceh kapanpun don..kalo setuju kita bisa sepakat, kalo gak sama kita bisa adu lidah..he..he..

    smangat don!

    obenks last blog post..Rumah gue dilabrak tetangga semalem

  5. ketika haji hanya sebatas ritual perjalanan semata, maka nikmat beribadahnya akan hilang ๐Ÿ™‚

    afwan auliyars last blog post..Review Berantai 4

  6. haji… kapan gw ya? hehe

    ichanxs last blog post..24 Tips Cara Kenalan Dengan Cewek

  7. Luar biasa memang, Allah Maha Adil.. Betul Tidak??? Ya iyalah..

    Dantas last blog post..Guest Blogger di Melodanta dot Com

  8. bener tuh komentar dari bung hei fauzan.
    setahuku,org arab sendiri tidak bisa seenaknya naik haji.

    yonkys last blog post..Memulai Hidup Sehat

  9. jadi pengen berhaji muda
    biar lebih kuat

    ^_^
    salam kenal

  10. tapi bener lo….sekalinya ke sana jadi kangen pengen kesana lagi..alhamdulillah saya dulu pernah umroh….

  11. Insya Allah kalau rejeki sudah melimpah saya akan pergi haji
    do’a kan saya ya??
    amien,,,

    M Shodiq Mustikas last blog post..Kunci Sukses Barcelona FC, Manchester United, dan Internazionale Milan

  12. assalamu’alaikum wak haji…. betul wak… orang yang datang dari jauh lebih banyak mempunyai kesan…. aku deket dengan Baturraden, tapi lebih berkesan kalau saya pergi ke Pengandaran… kok bisa yah…

    madhystas last blog post..Sedih lagi – Mohon Maaf

  13. assalmualaikum wr.wb
    kapan nih mau nulis lagi??
    saya tunggu ya

    M Shodiq Mustikas last blog post..Pengalaman Memalukan: โ€œKayaโ€ Mendadak, Malah Hilang Ingatan walau hanya sesaat

  14. Yang penting niatnya harus bener.

    Edi Psws last blog post..Gerakan Sekali Bilas Molto Ultra

  15. Saya heran…
    mengapa bisa ada komentar yang seperti itu ya?
    Sayang sekali….

    ‘Nins last blog post..5 Hari di Rumah Sakit

  16. Donny Reza

    All, maaf semua, baru bisa balas komentarnya ๐Ÿ˜€

    Sawali,
    Semoga hasratnya bisa segera terlaksana ya, Pak?! Kita saling mendo’akan.

    hevi.fauzan,
    Terima kasih atas koreksinya, tapi kalau melihat film “La Grande Voyage”, dari Prancis pun bisa berangkat sendiri. Entah, karena di film tersebut juga tidak diceritakan soal administrasi atau soal pendaftaran haji. Tapi, itu kasuistis saya kira. Soal dari Arab, saya masih mencari jawaban pastinya ๐Ÿ™‚

    Lala,
    nuhun oge.

    Obenk,
    Well, yang gua tekankan sebetulnya lebih ke proses menuju ke ibadah hajinya itu. Analogi sederhananya sih gini, orang yang tiap hari makan apel dengan orang yang setahun sekali makan apel itu nikmatnya kan beda. Gitu juga dengan orang yang -sebetulnya- bisa lihat Ka’bah tiap hari, bisa Umroh tiap hari, bisa Shalat di Masjidil Haram tiap hari akan beda kenikmatannya dengan yang bahkan untuk ke sana pun harus jual sawah atau nabung puluhan tahun.

    Lalu soal niat, gua kutip tulisan lu ya … “yang pergi pun, isi hati dan niatnya hanya Allah yang tau, bisa aja jual sawah pergi ke haji bukan memang rindu untuk kesana..bisa jadi ada niat dalam hati ingin unjuk gigi ke orang lain fakta bahwa IA MAMPU PERGI.

    Soal niat gua cetak tebal, artinya dalam tulisan di atas, gua menghindari soal mempertanyakan niat. As you said, niat hanya Allah yang tahu. So, lebih baik gua pukul rata saja bahwa niat mereka memang benar-benar ibadah haji, soal niat-niat lainnya, ngapain juga dibahas di sini?

    Afwan,
    Saya sih nggak ngerti banget dengan yang dimaksud “ritual perjalanan” itu seperti apa, tapi yang jelas perjalanan itu sendiri akan menjadi bagian dari ibadah haji.

    Ichanx,
    Semoga cepet2 deh ๐Ÿ™‚

    Danta,
    Betul, Allah Maha Adil … hanya seringkali keadilannya tidak langsung kita rasakan ๐Ÿ™‚

    Yonky,
    terima kasih untuk informasi tambahannya ๐Ÿ™‚

    Firman,
    Semoga bisa berhaji saat masih muda ya? mumpung masih kuat ๐Ÿ™‚

    Yusdi,
    Alhamdulillah, kalau sudah pernah. Begitu juga yang saya dengar dari orang tua dan teman saya yang pernah merasakan atmosfir Umroh dan Haji ๐Ÿ™‚

    M Shodiq Mustika,
    Tentu Kang Shodiq, semoga Kang shodiq bisa segera melaksanakan ibadah haji

    Madhysta,
    Alamiah saja sebetulnya, semakin dekat dengan sesuatu, semakin mudah mencapainya, ada hubungannya juga dengan faktor keuangan misalnya, atau kelelahan, dll. Sehingga, untuk yang jauh akan lebih terasa nikmatnya.

    Edi Psw,
    Tentu, niat lebih utama daripada pelaksanaannya itu sendiri. Kalau niat sudah salah, pelaksanaan ibadah sudah tidak ada artinya lagi.

    ‘Nin,
    Tidak perlu ada yang diherankan sebetulnya, itulah gambaran dari sebagian umat Islam di negara kita ๐Ÿ™‚

  17. doain aja..itu yang diimpikan aku , semoga secepatnya bisa brangkat
    Alnect Computer

  18. Tentu, niat lebih utama daripada pelaksanaannya itu sendiri. Kalau niat sudah salah, pelaksanaan ibadah sudah tidak ada artinya lagi.

  19. Pergi ke sana bermaksud kita menyahut panggilan Allah SWT yang telah dilaungkan oleh nabi-nabi terdahulu seperti Adam dan Ibrahim. Dan serukanlah umat manusia untuk mengerjakan ibadat Haji nescaya mereka akan datang ke rumah Tuhan mu dengan berjalan kaki dan dengan menunggang berjenis-jenis unta yang kurus yang datangnya dari berbagai jalan dan ceruk rantau yang jauh.

  20. good article..i appreciate it.

  21. So the title “Learning smallville dvd” is apt. It is great for beginners as a frasier dvd to private lessons.

Leave a Reply

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén