Ruang Kosong

Salah satu favorit saya dalam buku Filosofi Kopi karya Dee (Dewi Lestari) adalah tulisan yang berjudul Spasi.

Seindah apa pun huruf terukir, dapatkah ia bermakna apabila tak ada jeda? Dapatkah ia dimengerti jika tak ada spasi?

Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak? Dan saling menyayang bila ada ruang? Kasih sayang akan membawa dua orang semakin berdekatan, tapi ia tak ingin mencekik, jadi ulurlah tali itu.

Napas akan melega dengan sepasang paru-paru yang tak dibagi. Darah mengalir deras dengan jantung yang tak dipakai 2 kali. Jiwa tidaklah dibelah, tapi bersua dengan jiwa lain yang searah. Jadi jangan lumpuhkan aku dengan mengatasnamakan kasih sayang.

Mari berkelana dengan rapat tapi tak dibebat. Janganlah saling membendung apabila tak ingin tersandung.

Pegang tanganku, tapi jangan terlalu erat, karena aku ingin seiring dan bukan digiring.

Dewi Lestari – Spasi

Spasi atau ruang kosong atau jarak. Sudah sejak lama sebetulnya saya ingin menulis tentang ini. Bahkan, sebelum membaca tulisan Dee tersebut. Sebetulnya sudah banyak juga yang membahasnya.

Akan tetapi, beberapa minggu yang lalu untuk kedua kalinya saya menonton Kick Andy episode AA Gym. Kali ini versi lengkapnya. Ternyata, banyak juga quote dan rahasia menarik dari cerita AA Gym yang tidak ditampilkan pada episode sebelumnya. Hanya saja, fokus saya kali ini bukan pada hal itu.

Sehubungan dengan spasi, ada yang menarik dari cerita pengalaman AA Gym di acara tersebut. Berdasarkan pengakuan AA Gym, tidak banyak yang tahu bahwa ternyata kesibukan dakwahnya selama ini malah menjerumuskan dirinya ke dalam rutinitas yang tidak sehat dan menjauhkannya dari keluarga. Tidak ada waktu untuk dirinya dan keluarga. Bahkan dalam dunia dakwah sekali pun, ternyata jika dilakukan terlalu berlebihan berdampak tidak sehat juga. Beliau menganalogikan dirinya dengan gergaji yang digunakan terus-menerus selama 5 tahun tanpa henti. Pada akhirnya gergaji tersebut akan tumpul, rusak dan tidak efektif lagi untuk memotong kayu.

Sudah sangat lumrah jika setiap orang memerlukan waktu untuk bisa menyendiri, merenung dan beristirahat. Itulah spasi, jarak, ruang kosong. Hanya saja, tidak sedikit juga yang menyadari fungsi aktivitas tersebut untuk kesehatan jiwanya. Memang setiap malam kita tidur, tapi itu hanya memenuhi kebutuhan fisik saja. Dan itu pun tidak selalu efektif. Sebab tidak jarang juga kita tidur dengan otak yang sibuk memikirkan pekerjaan dan rutinitas lainnya. Sementara kebutuhan jiwa seringkali tidak terpenuhi.

Oleh sebab itu, saya sangat memahami ketika beberapa orang sahabat saya belakangan ini melakukan kontemplasi. Bagaimanapun, kontemplasi adalah kebutuhan jiwa. Saya termasuk orang yang sering melakukan kontemplasi. Untungnya saya bisa berkontemplasi di mana pun. Bahkan dikeramaian. Paling sering di jalanan. Makanya, saya lebih suka duduk di dekat kaca bus atau kereta. Selain bisa menikmati pemandangan, pikiran saya bisa mengawang-awang. Merenung, muhasabah, berencana…apa saja yang terpikirkan. Itu sebabnya, saya memilih sendiri dan kurang berminat untuk mengobrol dengan orang lain jika melakukan perjalanan. Saya lebih suka membiarkan pikiran saya ‘melayang’ kemana-mana. Ada kalanya, ide muncul ketika itu. Ide apa pun.

Jiwa manusia itu memang unik. Ketika sudah ‘penuh’ yang terjadi adalah kejenuhan, saat itulah perlu ‘dikosongkan’. Ketika sudah kosong, tidak bisa dibiarkan terlalu lama. Harus diisi kembali. Dengan ilmu, dengan nasihat, dengan membaca. Barangkali, itulah sebabnya ada yang mengatakan bahwa para penulis adalah orang-orang yang sehat jiwanya. Sebab dalam diri penulis terjadi siklus ‘mengisi-mengosongkan’ yang kontinyu. Jiwanya selalu ‘baru’.

Ada saat mengisi jiwanya dengan bacaan-bacaan, dengan pengalaman dan informasi. Lalu, ketika seluruh ‘bahan’ tersebut terkumpul, bisa dipastikan, setiap penulis akan merasakan kegelisahan ketika ide-idenya belum tertuangkan ke dalam sebuah tulisan. Sangat mudah saja jika ingin ‘menyiksa’ penulis atau para blogger. Hindarkan dia dari kertas, dari buku, dari alat tulis, dari komputer, dari mesin tik…seorang penulis sejati akan gila diperlakukan seperti itu. Sebetulnya hal tersebut tidak hanya berlaku bagi para penulis, tapi juga untuk segala profesi yang berbasis karya. Musisi, penyair, pelukis, programer, desainer atau bahkan fotografer.

Dalam mitologi Yunani, diceritakan ada seorang tokoh yang dihukum oleh Dewa. Sisifus namanya. Hukumannya sederhana saja. Dia harus mengangkat sebuah batu yang besar, hingga ke puncak gunung, setelah tiba di atas gunung, batu itu harus digelindingkan lagi. Didorong lagi ke atas, untuk kemudian digelindingkan lagi. Seperti itu, terus menerus.

Bagi saya itu sebuah hukuman yang menyakitkan. Memang hukuman yang sederhana, tapi bayangkan yang terjadi pada jiwa kita. Kehampaan, kejenuhan, kebosanan. Kita melakukan hal tersebut terus menerus, sepanjang hidup, tanpa jeda. Tidak ada kesempatan untuk sekedar berencana. Ditambah lagi apa yang kita lakukan benar-benar tidak ada artinya. Bagi saya mengerikan. Tidak ada harapan, tidak ada impian sama sekali. Padahal impian dan harapan yang menjadikan hidup menjadi ‘sedikit’ lebih indah bukan?

Saya kemudian jadi terbayang, Islam menggambarkan berbagai macam hukuman dalam neraka bentuknya seperti itu. Bahkan, jika misalkan saya masuk neraka dan dihukum persis seperti Sisifus, itu saja sudah bisa membuat saya sangat tersiksa dan menderita. Apalagi pakai api segala…dibakar, hancur lebur, utuh lagi, dibakar lagi, hancur lebur, utuh lagi…neverending. Naudzubillahi.

C 1 H 3 U L 4 17 6. 230308.10.30

NB: ini sebetulnya draft tulisan yang tertunda sejak 2 bulan yang lalu. Rasanya kok nggak fokus ya? melenceng kemana-mana?

loading...

Previous

Senangkanlah Hatimu!

Next

Pernak-Pernik

19 Comments

  1. Pertamax bersubsidi kah???

    wah don kalo di angkot, makanya lu suka duduk paling pojok yah 😛

    kalo gua pernah yg ngalamain, lonely inside, crowded outside… kosong di dalem tapi ramai diluar, makanya kl udah gini enaknya menyendiri

    chatoer’s last blog post..Mendadak Bodoh !

    Iya, emang…tapi sebenernya lebih enak di depan sih Tur. Masalahnya di Bandung ini duduk di depan serasa nggak privacy gitu deh…:p

  2. pas banget, pas, adukannya pas

    *holoh… apa ini*

    tapi pas lah penuturannya, menandakan lagi gimana… gitu

    Haha, kayak semen aja pake diaduk segala…:p

  3. spasi atau jeda memang diperlukan ketika hidup kita sudah bergerak pada titik kejenuhan. perlu ruang dan waktu untuk melakukan refleksi dan kontemplasi agar mampu menata ulang siklus kehidupan yang makin silang-sengkarut. ketika kita memaksakan diri dalam kejenuhan, tanpa spasi, maka yang terjadi kemudian *halah sok tahu nih* situasi chaos yang bisa membelenggu jiwa dan batin manusia dalam menggapai makna kearifan hidup.

    sawali tuhusetya’s last blog post..Gatutkaca Memburu Teroris

    Sayangnya, banyak juga yang tidak menyadari jebakan ‘kejenuhan’ ini dan orang cenderung memilih untuk menjadi Sisifus-sisifus lainnya. Barangkali bagi orang lain tidak menjadi masalah, tapi kalau saya sih tidak bisa membayangkan seperti itu terus.

  4. kalo lagi bus, ato apapun dalam perjalanan, saya sih memilih tidur, 🙂

    saat dituntut menulis dengan cepat, terkadang tanpa sengaja kita melakukan kesalahan.
    Melewati spasi hingga menjadikan bentuk tulisan tak indah, kurang cantik untuk dilihat, apalagi dibaca.

    Itu hanya dalam tulisan. Apalagi perjalanan hidup….

    tanpa spasi, jeda, kita akan terjebak dan terpenjara dalam rutinitas…

    salam kenal
    makasih dah mampir di blogkyu yach…
    🙂

    dewi’s last blog post..Minyak Zaitun Menghaluskan Kulit

    Saya juga sebetulnya lebih sering tidur kok… :tweety5:

  5. pantesan pas ngumpul bareng TDA kamari si akang rea ngalamun-na, panon teu fokus, jambrongan deui 🙂

    agah suragah’s last blog post..EVALUASI AMALAN HATI

    Bukan ngalaman gah…tapi mikir…mikir… :p

  6. Alam ini menjadi besar justru karena spasi 😉

    Riyogarta’s last blog post..Ada Smiley punya YM, Ada Blacy dan Ada Si Kucing

    Betul om, setuju banget…saya malah baru nyadar 😀

  7. Memang kaang perlu istirahat, merenung…..bahkan saya pernah dianjurkan oleh seorang psikolog, untuk setiap malam sebelum tidur mencoba introspeksi diri, apa yang telah saya lakukan hari ini, apakah saya banyak berbuat kebaikan? Dan jika dilakukan terus menerus, sebelum berdoa dan tidur…hal-hal kecil seperti ini bisa menenangkan jiwa kita.

    edratna’s last blog post..Liburan yang melelahkan

    Cuma kadang-kadang, kalau sudah terlalu lelah, sulit juga ya bisa konsisten melakukan seperti itu? pengennya langsung tidur aja 😀

  8. hmm… tulisan refleksi yang bagus dan sering terjadi hampir pada setiap individu, kita semua emang butuh spasi dalam keseharian,cieeehh. 🙂 fokus kok om, fokus..

    Yoenday’s last blog post..bagiku, angka 9..

    Hehe, syukurlah kalau memang fokus 😉

  9. aku suka tulisanmu don, beda emang yah tulisan orang yg biasa nulis buku.*ga usah ge-er hehhe*

    tp trnyt ga cm aku yg suka duduk deket jendela, kamu jg tho. jujur aku jg klo perjalanan lbh seneng duduk dkt jendela, menerawang, memikirkan sesuatu, mengenang kesedihan ataupun saat2 indah, bikin perjalanan lebih asyik. Makanya aku jg malah jd bete klo diajak ngobrol terus2an ama sebelahku. Untungnya klo skrng sebelahku klo perjln2 selalu suamiku yg kebetulan dia jg ga suka klo diajak ngobrol sepanjang perjlnan.klo suamiku lebih suka tiduuur selama perjlnan. Jadi klop lah.

    Omong2 mslh ruang kosong, minggu lalu aku bener2 ngrasa

    ventin’s last blog post..akhirnyaaaa…

  10. waduh blm selese kok dah ke kirim

    lanjut ah…

    omong2 ttg ruang kosong, bbrp hari yg lalu aku lg ngalami dmn aku merasa perlu ngambil ruang kosong ini beberapa saat dlm aktivitas nge-blog ku

    yah sejak jd ‘bloger mendadak’ (nyontek kata2 chatoer, mendadak bodoh), aku berasa kaya baru punya bayi aja. bentar2 kepengen nengokin si blog, gatel pengen tau sapa aja yg dah komen n pengen cepet2 mampir ke blog si komen.Gatel nyari2 bahan buat diposting

    tp ya itu, tiba2 aku merasa begitu membabi buta dg blog baruku sampe kemudian aku berada pd titik ‘kayaknya aku hrs berhenti sejenak’, untuk mengembalikan langkah yg kayaknya mulai melenceng.
    sampe akhirnya aku pamitan utk ga posting dl dan kebetulan anak2 sakit, jd aku jg punya alasan utk diriku khususnya ‘berhenti sejenak dr nge-blog’

    tp ternyata ga bisa untuk berhenti lama2…ampyuuun deh

    heheh maap komen apa curhat yahh

    ventin’s last blog post..akhirnyaaaa…

    Yup, betul…saya dapat pointnya…sejenak. Spasi itu kan ukurannya sebetulnya ‘kecil’, tapi bisa membuat lebih ‘indah’ sebuah tulisan karena ada spasi 😀

  11. sepertinya sebuah kekosongan atau spasi merupakan takdir manusia, sebuah kewajaran saat seseorang sedang berbuat sesuatu bahkan yang baik sekalipun lama kelamaan dia akan mendapati suatu kekosongan dalam jiwanya

    Bukan takdir kali ya…? fitrah? :tweety3:

  12. tapi, terkadang kekosongan diperlukan, atau memang karena kita lemah, hingga tak mampu mengikuti jalan hidup..??

    ah, kosong…
    kumerasakan kekosongan saat ini..

    tehaha’s last blog post..kenapa homesick…??

    Berarti sekarang saatnya mengisi bagi tehaha… 😉

  13. susah ya, kosong yang benar benar kosong adalah saat tubuh kita sudah kosong, itu baru kosong sejati

    Hah, mati maksudnya? :tweety2:

  14. eh bentar, ridu ketinggalan tuh kickandy edisi Aa Gym yg kedua.. ada gak yah disitusnya??

    Ada kok Du, kalau nggak salah malah ada jg di youtube. Selamat mencari… 😉

  15. iin

    tentang mitologi Yunani Sisiphus, bener-bener hukuman yg mengerikan. Ruang Kosong dan kontemplasi yg dimaksud tidak berlaku bagi pengangguran yg sedang nyari kerja yah? hihihi…

    iin’s last blog post..Bocah

    Bhehe, sebetulnya berlaku juga sih in, si gua juga soalnya pernah ngalamin nganggur yang lumayan lama. Tetep perlu kontemplasi kok… 😀

  16. Sama, favorit daku juga Spasi. Daku suka kalimat ini:

    Jiwa tidaklah dibelah, tapi bersua dengan jiwa lain yang searah.

    Merujuk kalimat Mbak Dee ini, gak ada yang namanya “belahan jiwa”, frasa yang sering muncul di puisi-puisi atau lirik lagu atau novel atau cerpen (yang katanya) romantis atau puitis itu 😀

    Sepertinya akan sangat membahagiakan jika seorang manusia dipertemukan dengan jiwa lain yang searah dengan jiwanya 😀

    putri hujan’s last blog post..Makhluk Itu Bernama Rindu

  17. Wah, i need some space as well..

    Koko’s last blog post..Small and Simple Yahoo Messenger on Your Mobile [Mobile Apps]

  18. Menarik tulisannya mas. Saya juga sudah lama ingin melakukannya. Menciptakan Ruang Jeda untuk lebih memaknai kehidupan.
    .-= yans’dalamjeda’´s last blog ..Pesta Blogger 2009 yang Menginspirasi =-.

  19. I had taken a cold case dvd a few years ago, then taught myself supernatural dvd and a few scales.

Leave a Reply

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén