Parade Kemiskinan

Sepanjang sejarah manusia, tidak ada satu hal yang lebih ditakuti, dihindari dan dibenci melebihi kemiskinan. Tidak ada orang yang ingin disebut orang miskin atau ingin menjadi orang miskin. Status dan harga diri suatu bangsa pun dinilai dari jumlah orang miskinnya. Semakin banyak angka kemiskinan, semakin rendah harga diri bangsa tersebut dihadapan bangsa lainnya.

Persoalan kemiskinan bukan masalah kontemporer saja, tapi sudah terjadi sepanjang zaman. Hal tersebut juga menjadi tantangan yang selalu dihadapi oleh para pemimpin dunia. Adalah suatu aib bagi seorang pemimpin, jika dibawah kepemimpinannya, jumlah orang miskin tidak berkurang, apalagi malah semakin bertambah. Angka kemiskinan juga menjadi obyek politik yang cukup ampuh untuk menjatuhkan seorang pemimpin. Tidak heran jika setiap kelompok mengumpulkan angka kemiskinan untuk mempromosikan dirinya sekaligus menjatuhkan kelompok lain.

Kemiskinan -meskipun tidak selalu- identik dengan kriminalitas, kebodohan, penindasan, kelemahan dan -jika dipandang dari sudut agama Islam- bisa mendekati kekufuran. Bahkan, barangkali sering terjadi, secara tidak sadar kita memandang orang lain yang secara materi termasuk dalam kategori miskin, dengan sebelah mata, merendahkan atau menghinakan. Meskipun dengan kemiskinannya, orang tersebut tidak memberikan masalah sedikit pun bagi kita.

Kemiskinan bisa dipandang sebagai dua hal. Sebagai sebab dan sebagai akibat. Sebagai sebab, kemiskinan adalah akar dari sebagian besar tindak kriminalitas. Barangkali sudah cukup bosan kita mendengar atau membaca berita tentang pencurian, perampokan atau pembunuhan yang disebabkan kondisi kemiskinan pelakunya. Tidak sedikit pula berita tentang kasus-kasus bunuh diri atau kelaparan yang disebabkan kemiskinan. Dari sisi ini, kita dapat memandang bahwa kemiskinan sangat jahat.

Sebagai sebuah akibat, kemiskinan merupakan suatu produk. Produk dari ketidakadilan. Ketidakadilan pemimpin, hukum atau sistem, bahkan ketiganya. Pemimpin yang tidak adil akan menempatkan orang miskin sebagai ‘sampah’ yang tidak perlu dipikirkan. Sehingga, pemimpin seperti ini hanya akan mementingkan kepentingan dirinya dan orang-orang disekitarnya, tidak peduli jutaan orang merintih dalam kemiskinannya. Ketidakadilan hukum akan menempatkan orang miskin dalam posisi lemah, apalagi jika hukum bisa dijualbelikan, semakin menderitalah orang miskin. Padahal, hukum harus seimbang dan adil. Ketidakadilan sistem akan membuka peluang orang miskin tertindas, karena dalam sistem yang tidak adil, terjadi hukum rimba; yang kuat dan ber-uang lah yang berkuasa. Suara orang miskin tidak akan didengarkan.

Untuk mengatasi permasalahan kemiskinan, akan lebih mudah jika memandang kemiskinan sebagai akibat atau produk dari ketidakadilan. Artinya, dengan cara tersebut, pertanyaan apa yang menyebabkan terjadinya kemiskinan akan lebih mudah terjawab. Meskipun bukan hal yang mudah menanggulangi kemiskinan, dengan mengetahui sumber penyebab kemiskinan, setidaknya solusi yang bisa diberikan sudah bisa terbayangkan.

Tentu saja, kita merindukan rasa tenang, nyaman, aman dan damai. Akan tetapi, percayalah, hal itu semua tidak akan tercapai jika persoalan kemiskinan masih menjadi masalah terbesar di sekitar kita. Bahkan, barangkali yang sebenarnya terjadi, persoalan kemiskinan merupakan akibat dari ketidakpedulian kita terhadap hal-hal yang menjadi sumber kemiskinan.  Atau, jangan-jangan, kita lah penyebab terjadinya kemisikinan itu!!

Salut dan respek terhadap mereka yang turun langsung dan mengorbankan seluruh waktu, tenaga, materi dan pikirannya untuk mengentaskan kemiskinan.  Sekecil apa pun usaha mereka.  Dan kita? Masa hanya sekedar mau jadi penonton?! :angelpusing:

PS: Ini tulisan yang dibuat karena terpaksa, hasilnya juga rada maksa, salah sendiri maksa-in ikut-ikutan  blogactionday2008 dengan tema poverty. :setan1:

Another PS: Kamu tahu … ada yang lebih menakutkanku daripada miskin materi, adalah miskin cinta-Nya dan miskin mencintai-Nya.

Previous

Bukan Hanya Salah Fir’aun

Next

Lagi, Tentang Kuliner

8 Comments

  1. kemiskinan itu juga jalan hidup tokh..
    seperti hitam dan putih, ini miskin dan kaya..
    dan pada hakikatnya hanya jenis jalan hidup
    tidak lebih baik dan tidak lebih buruk. tetapi tergantung cara yg menjalaninya..

    (naha lala ngelantur….. ah bae..)

    btw, dibikin dua versi atuh.. pake bahasainggris bukan make kunciinggris..

    lalas last blog post..i know you as nope^sapi^Ve

  2. boleh aja berjuang demi mengentaskan kemiskinan,
    tetapi jangan dijadikan ALAT untuk mencapai kekuasaan
    dan harta.
    membentuk LSM utk kemiskinan, ternyata cuman
    utk cari dana doang, atau utk cari beasiswa doang.

    ada lagi kumpulan/atau apalah namannya terserah,
    pas musim kampanye, getol ngasih bantuan ke mereka
    yang miskin, atau mengaku golongan dari mereka.
    tetapi setelah mencapai kekuasaan… lupa deh…

    emang susah jadi orang miskin…
    makanya jadi aja deh orang kaya…dengan UPAYA.

    kemangi-manias last blog post..

  3. kipram

    Parade kemiskinan, topic bagus dan baik. salam kenal. kalo di baca bu mentri bisa dikasih duit ni

  4. Hidup dalam kemiskinan materi, tetapi kaya cinta pada-Nya memang akan mendatangkan kebahagiaan sejati. Di situasi seperti itulah keimanan kita diasah, bersabar dan bersyukur menjadi sebuah rutinitas yang teramat berharga, demi meraih cinta-Nya dan jannah-Nya. 🙂

    putri hujans last blog post..Do’aku Hari Ini, Esok, dan Nanti

  5. Nggak mau ah jadi penonton. Semua mesti berbuat walau kontribusinya sangat kecil. Kemiskinan ini tanggung jawab kita bersama. Btw, salam kenal. Artikel yang bagus.

  6. Kemiskinan sering menjadi kekayaan bagi pihak tertentu. Kemiskinan fungsional bagi pelaku komodifikasi kemiskinan. Memberantasnya? Salam kenal yah, artikelnya bagus dan provokatif.

    Hejiss last blog post..Kuliah CULTURAL STUDIES (1)

  7. [materialis mode on]
    banyak orang yang ga mau jadi orang miskin.
    banyak yang malah bersusah payah biar bebas jadi orang miskin.
    padahal belom tau aja betapa susahnya jadi orang kaya.
    mungkin juga belom tau kalo kekayaan bisa menjauhkan diri dari kenikmatan ibadah kepadaNYA.

    kalo kaya >< kekayaan
    so… masih mikir mau jadi orang kaya nih?

    dajal007s last blog post..kembali lagi plus hadiah untuk yang baca ^^

  8. Donny Reza

    @lala,
    Untuk orang tertentu memang jalan hidup, seperti Rasulullah SAW yang rela melepas seluruh hartanya untuk berdakwah. Kalau menggunakan ‘jalan hidup’, artinya orang miskin tersebut memang memilih miskin. Akan tetapi, realitanya, orang miskin kebanyakan karena faktor nasib yang ada hubungannya juga dengan faktor di luar dirinya. Artinya, orang miskin tersebut menjadi miskin karena terpaksa.

    @kemangi-mania,
    Nasib orang miskin memang mengkhawatirkan, sering dijadikan jualan orang-orang yang haus kekuasaan. Setelah berkuasa, yang miskin-miskin itu malah dilupakan. Boro-boro inget.

    @kipram,
    hah, duit dari bu menteri..? mau… :p salam kenal juga

    @putri hujan,
    Jadi … yuk, kita perkaya iman kita!

    @Rafki RS,
    Selamat berjuang bang Rafki, semoga bisa membantu mereka yang miskin, sekecil apa pun peranannya

    @Hejis,
    Haha, pihak tertentu?! Jadi aset ya? Buat dijual-jualin di kampanye-kampanye? 🙂 Salam kenal juga

    @dajal007,
    Haha, mending cobain dulu jadi orang kaya, siapa tahu malah semakin bersyukur dan jadi lebih rajin ibadah :p cuma emang kalau jadi orang kaya dadakan biasanya kaget, dan lupa bersyukur. Maka dari itu, usaha atau ikhtiar jadi orang kaya itu menjadi penting, supaya kalau jadi orang kaya, dia bisa menghargai usahanya.

Leave a Reply

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén