Mitos Sialan

Ah, masih saja terjadi.  Di zaman internet sudah menjadi sebuah kebutuhan seperti sekarang ini, sebuah pernikahan harus ditentukan oleh ‘hitung-hitungan’ sang kyai dukun.  Meskipun katanya seorang kyai, saya lebih suka menyebutnya dukun.

Pagi ini teman saya uring-uringan.  Hubungan yang sudah terbina cukup lama dengan sang calon, terancam gagal gara-gara setelah bertanya pada sang dukun, kedua nama mereka dalam hitungan sang dukun tersebut tidak baik jika disandingkan.   Jadilah teman saya tersebut hampir putus asa.  Dia merasa, sama saja bohong usaha selama ini, kalau pada akhirnya harus ditentukan oleh hitung-hitungan tidak logis semacam itu.  Kenapa tidak sejak pertama saja? Ya, saya memahami kegelisahan dan kemarahannya.

Sebagai seorang teman yang dimintai saran dan pertimbangan, saya pun memberikan beberapa saran dan pandangan saya soal masalah tersebut.  Memang mengkhawatirkan dan menggelikan masalah semacam itu.   Sampai saya harus mengatakan, “bilang saja sama dia, kamu dan keluarga juga sudah melakukan perhitungan, tapi hasilnya baik-baik saja, nggak ada masalah.  Jadi, yang goblok kyai-nya siapa kalau begitu?  Mesti salah satu yang bener.  Kalau nggak, berarti dua-duanya goblok!”  Teman saya sampai tertawa dan malah meng-iya-kan saran saya tersebut.

Lebih mengkhawatirkan lagi setelah mengetahui latar belakang keluarga calon teman saya itu.  Sang calon sendiri seorang sarjana, kakaknya seorang Guru Besar di sebuah Universitas Negeri di Kota Bandung.  Keluarganya golongan berada.  Ini tentu sebuah ironi atau bahkan tragedi.  Hasil pendidikan bertahun-tahun tidak menjadikan pikirannya rasional.  Namun, realita juga membuktikan, banyak sarjana, master dan doktor yang masih saja percaya dukun dari pada percaya diri.  Sayang sekali.  Bagaimana Indonesia bisa maju ya?

Akan tetapi, status kyai yang disandang sang dukun membuat saya lebih merasa khawatir lagi.   Konon sang dukun juga punya pesantren.  “Jangan-jangan santrinya juga tukang hitung-hitungan ya?“, seru teman saya dan bikin kami berdua terbahak-bahak.  Seorang kyai yang semestinya mengajarkan kelurusan aqidah malah mengajarkan sebuah kesesatan dan menjadi panutan pula.  Dan kita bisa mendapati orang-orang semacam ini dengan sangat mudah di sekitar kita.

Sejak kecil, Alhamdulillah, saya dianugerahi pikiran yang rasional.  Sehingga sering saya merasa heran, kenapa orang-orang harus datang ke dukun?  Kenapa adik tidak boleh mendahului kakaknya kalau menikah?  Kenapa kalau salah satu keluarga saya mengadakan pesta rumahnya selalu bau kemenyan? Kenapa juga harus ada hari baik dan tidak baik? Kenapa harus ada tahlilan?  Atau bahkan soal mitos-mitos yang beredar di masyarakat.  Pada akhirnya, saya tumbuh jadi pemberontak terhadap hal-hal semacam itu.

Meskipun sebagian mitos tersebut membawa ajaran Islam, namun ternyata Islam yang saya pelajari tidak pernah mengajarkan hal-hal semacam itu.  Islam yang saya pelajari adalah Islam yang rasional.  Soal pernikahan saja, Islam mengajarkan untuk menyegerakan jika dirasa sudah mampu.  Tidak menjadi soal apakah ketika menikah kakaknya didahului atau tidak.  Jika pernikahan itu sebuah ibadah, masa iya sebuah ibadah harus dihalang-halangi gara-gara sesuatu hal yang konyol dan tidak terbukti kebenarannya?  Bahkan, saya sering sekali mengutip ucapan seorang ustadz, “lahir sih boleh kakak duluan, tapi kalo soal jodoh juga harus kakak duluan, berarti mati juga harus kakak duluan dong…

Soal larangan mendahului kakak ini, saya menyaksikan betapa salah seorang teman perempuan saya sangat tersiksa gara-gara sang pacar belum juga mau melamar karena kakak perempuannya belum menikah.  Sialnya, sang kakak ini juga tidak tahu diri, dia terus saja mencari calon yang dirasa cocok dan tidak mengijinkan adiknya untuk mendahului.  Ditambah lagi dengan pola pikir keluarganya yang ‘kolot’, semakin lengkaplah penderitaan teman saya ini.  Akhirnya, putus juga.  Kadang-kadang saya senewen sendiri mendengar kasus-kasus semacam ini.

Belum lagi soal perhitungan hari baik yang ternyata hasil perhitungannya pun menggelikan.  Bagaimana tidak menggelikan juga suatu pesta pernikahan diadakan di hari kerja?  Konon jika menikah di hari yang ditentukan itu, sebuah pernikahan akan langgeng dan membawa kebahagiaan. Ini tentunya merepotkan undangan dan keluarga pengantin sendiri karena bukan waktu yang tepat.  Bagi saya, semua hari berpotensi untuk memiliki kebaikan.  Rumus hari pernikahan bagi saya dan beberapa orang teman adalah…”adakan pernikahan di hari sabtu/minggu, dan di awal bulan!” Karena awal bulan adalah saat-saat gajian, dan kalau pun harus menyumbang, tidak dirasa memberatkan.

Kebanyakan anak-anak muda sekarang mungkin sudah tidak lagi peduli dan memikirkan hal-hal semacam ini.  Akan tetapi, generasi orang tua masih sangat banyak yang menganggap hal semacam ini penting.  Untungnya orang tua saya tidak seperti itu.  Perlu diakui, masih agak sulit melepas mitos-mitos semacam itu.  Indonesia adalah sebuah negara yang kebudayaannya sebagian besar dibangun oleh mitos.  Maka, hampir di setiap tempat di seluruh Indonesia, kita mendapati mitos daerahnya sendiri-sendiri.  Saya sendiri sering merasa khawatir jika suatu saat dipertemukan dengan calon mertua yang seperti itu.  Saya hanya merasa khawatir tidak mampu bersikap bijaksana, itu saja.

Hidup ini terlalu serba tidak pasti untuk diramal.  Toh, kyai, paranormal atau pun dukun-dukun itu pun belum tentu berbahagia dengan hidupnya.  Belum tentu juga dia bisa meramalkan nasibnya sendiri, apalagi nasib orang lain.  Masa iya kita harus percaya pada mereka yang tidak tahu menahu tentang nasibnya sendiri?

C 1 H 3 U L 4 17 6. 101207. 03.08

NB:  Agak kurang sreg dengan judulnya 😀

loading...

Previous

Minus

Next

Sok Bijak

13 Comments

  1. Hehehe, begitulah kondisi Indonesia 🙁
    Ada hari baik maka ada juga hari jelek.
    Ada bulan baik, maka ada bulan jelek.
    Tapi … silakan direnungkan.
    Ada bulan suci? Apakah ada bulan yang tidak suci? 😕

  2. menurut “perhitungan” saya ….
    seharusnya Doni ini sudah harus menikah,
    karena tulisannya isinya niiiiiikaaaaaaaaaahhhh terus…

    jadi, saya yang “kiai perhitungan” ini, merasa tidak nyaman melihat doni posting ttg nikah terus, tapi masih mempertahankan status …. BUJANG !!! 😀

  3. hehehe… aku cuma bernasib sedikit lebih baik dari temanmu itu 😀

    waktu itu calon istri jg ga percaya sama hal gini, tapi keluarganya yg ngotot harus pake itung2an.

    itung nama lolos, yg masalah itung tanggal, hanya dikasih 1 pilihan tanggal yg berjarak cuma 3 bulan dari saat itu, itupun hari kamis dan dg ultimatum kalo ga hari itu berarti harus nunggu tahun depan, waksss…

  4. hahahaha …
    untung keluarga semua berpikir secara rasional, gak terlalu percaya mitos… 😀 , klo gak salah ada deh tuntunan nabi agar mempermudah pernikahan , jangan di bikin ribet.

  5. PNP.. Percaya Ngga Percaya.. 😛

  6. Ya, Mas, seringkali manusia merasa lebih berkuasa dibanding Tuhan. Kok bisa2nya memastikan jalan hidup manusia. Wasuh, hare gane mestinya pandangan seperti itu dah harus dikikis, dan itu harus dimulai pada setiap individu. OK, salam.

  7. saya setuju dengan perhitungan mas donny itu yang diawal bulan, hehehehe

  8. iorme » di akhir bulan jg ndak masalah mas, kemaren aku nikah pas tanggal 24, pulang dari resepsi dapet sms dari bank mandiri: selamat! gaji anda bulan ini sudah masuk.. hehehe…

  9. Ah masih saja memang di sebagian kalangan masyarakat kita. Tidak saja di kampoeng-kampoeng terpencil di kota-kota besar yang udah dapat julukan metropolis pun “keukeuh” dengan perhitungan semacam itu.

    Dan itu dia yang bikin kita terheran-heran, yang percaya hal semacam itu justru mereka yang punya bergelar akademis.

    Kemaren saja lihat berita di TV, pejabat negara meresmikan kapal tempur TNI dengan memecahkan “Kendi” yang terbuat dari tanah liat ke geladak kapal tempur tersebut?!?! Apa hubungannya coba?

    Tapi hal ini tidak ada hubungannya dengan kemajuan atau terbelakangnya suatu bangsa loh Don! Toh di negara-negara maju pun banyak praktek mistis, tahayul, dan mitos seperti halnya di Indo. Jadi apa dong masalahnya? Yuk kita cari tahu bersama…! 😀

    Hakim
    http://assahatea.blogspot.com
    http://reggie_ray10.blogs.friendster.com

  10. wah kalo ngikutin kaya’ gitu gituan
    yang ada ga kawin kawin … eh nikah 😉

  11. Wah sama, temen saya jg ada y bgitu… Bapa Ibunya religius… pakaian aja udah kaya mo naek haji… Tapi kok sakit bukannya ke dokter malah minta saran dukun… ck ck ck… padahal keluarganya bener2 berpendidikan.
    Tapi saya percaya hitung2an hari baik, bwt saya hari baik itu tanggal 28-29… soalnya di tanggal segitu gajian… hehehe…

  12. don, malah ada yg nyampe kawin ulang gara-gara bullshit itung2an itu, secara ga langsung byk yg udah syirik.. klo gw lgsg bilang “semua hari itu baik, dan mslh nikah adalah perkara yg hrs disegerakan, klo mo ada hajatan.. ya harinya spt yg ente bilang (deket gajian n hari libur)”

Leave a Reply

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén