Cerita Dari BHTV Gathering

Berawal dari sebuah undangan di milis KLuB yang dikirimkan oleh Zaki Akhmad soal pertemuan BHTV (Bandung High-Tech Valley) yang akan diadakan di Bimbingan Belajar IZI, Jl. Ambon 19 Bandung, kemudian memunculkan minat saya untuk mengikuti kegiatan tersebut. Meskipun sudah cukup sering mendengar membaca soal BHTV, tapi awalnya tidak terlalu membuat saya berminat, karena saya pikir komunitas tersebut bersifat tertutup. Namun, ketika undangan tersebut sampai ke email saya, apalagi melihat susunan acaranya yang bernuansa ilmiah, membuat saya tertarik untuk menghadiri acara tersebut. Sudah cukup lama saya tidak terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang ‘berbau’ ilmiah, tepatnya sejak lulus kuliah. Terus terang, saya merindukan suasana tersebut.

Maka, berangkatlah saya pada waktu yang dijadwalkan, meskipun terlambat setengah jam akibat hujan deras yang mengguyur Bandung. Saya tertahan di Masjid Salman selama 30 menit, dan tiba di lokasi jam 7 kurang. Untunglah, ketika saya tiba di sana, acara belum dimulai. Setelah bertanya kepada satpam di mana tepatnya tempat kegiatan, saya langsung menuju ke sana. Kikuk juga, karena itu pertama kali saya mengikuti kegiatan BHTV, selain itu karena memang tidak satu pun yang saya kenal atau kenal saya. Meskipun nama-nama yang hadir saat itu tidak asing bagi saya, ada pak Budi Raharjo dan pak Dimitri Mahayana.

Dalam 2 minggu terakhir, kegiatan ini merupakan yang kedua, setelah PestaBlogger, dimana saya tidak pernah bertemu sebelumnya dengan para pesertanya. Awalnya merasa minder juga, tapi setelah dipikir-pikir, kalau saya minder seperti itu, saya tidak akan pernah maju. Apalagi, dalam acara BHTV, saya merasa satu-satunya orang yang non-ITB, tapi akhirnya pikiran-pikiran semacam itu berhasil disingkirkan dan saya bisa hadir di acara tersebut, no regret.

Acara dimulai tepat jam 7, dipandu oleh pak Budi, dengan sesi pertama presentasi dari Zaki tentang Panduan Penelitian OpenSource. Dokumentasinya sendiri bisa di-download di sini. Zaki sedikit bercerita tentang tantangan dan hambatan penelitian yang berhubungan dengan OpenSource. Sementara, pak Budi sendiri menjelaskan bahwa panduan tersebut gunanya untuk memetakan atau sebagai road map jenis penelitian yang seperti apa saja yang dibiayai oleh pemerintah.

Sesi kedua diisi oleh Anto dari Pusat Mikroelektronika ITB yang mempresentasikan tentang Virtual Office. Konsepnya sederhana sebetulnya, memindahkan organisasi (perusahaan) ke dunia maya. Dengan cara seperti ini, setiap orang yang terlibat dalam organisasi/perusahaan yang menggunakan virtual office tidak perlu datang ke kantor, namanya juga virtual. Seperti ada tapi tiada, seperti tiada tapi ada. Untuk melakukan atau mengetahui task yang harus dikerjakan, cukup mengakses web virtual office tersebut.

Sesi ketiga diisi oleh Pak Sanny yang menceritakan pengalamannya pergi ke Bangalore, India. Dan ceritanya membuat peserta kegiatan tersebut terperangah sekaligus prihatin dengan kondisi Indonesia (atau hanya perasaan saya saja ya?), namun pada saat yang bersamaan menumbuhkan semangat peserta juga agar bisa seperti itu. Beliau bercerita soal kemajuan kota Bangalore, terutama bidang IT-nya yang mampu menyumpang 26% pemasukan APBN kota/negara tersebut, saya lupa lagi. Kemajuan IT India memang sudah cukup lama saya dengar, tapi setelah mendengarkan paparan Pak Sanny, saya menjadi semakin bertambah yakin, sekaligus penasaran juga. Soalnya di film-film India, soal IT, setahu saya, tidak pernah dibicarakan. Pak Sanny juga membacakan fakta-fakta soal kemajuan kota Bangalore, sayangnya tidak saya catat. Satu-satunya yang saya sesali adalah tidak sempat menanyakan tentang kondisi pendidikan di sana, maksud saya, biayanya. Konon tidak berbeda jauh dengan Indonesia.

Sesi keempat, giliran Pak Dimitri Mahayana yang berbagi cerita, tentang pengalamannya di Korea. Lagi-lagi, cerita beliau cukup membuat peserta terperangah (atau, lagi-lagi, hanya saya?) Konon, di Korea, jurusan-jurusan kuliah itu lebih terfokus, sampai-sampai ada jurusan Game Developer. Sehingga, ketika lulus, sudah jelas keahliannya. Bandingkan dengan Indonesia yang ketika lulus kuliah banyak sarjana yang tidak tahu mau apa dan kemana, contohnya, ya…saya ini :D. Dalam perjalanannya, pak Dimitri memang lebih fokus untuk study-banding soal game developer. Dan, katanya, beliau dibuat tercengang oleh kemajuan game developer di Korea.

Sesi kelima, presentasi tentang sebuah proyek Fiber Optic, tapi ada beberapa hal yang harus diolah lagi, lebih bersifat bisnis. Sesi ini yang paling ramai, karena kalau proyek ini bisa berjalan dengan baik, bisa menjadi ‘masa depan’ dunia internet di Kota Bandung. Saya sendiri belum terbayang akan bagaimana proyek ini jadinya, yang jelas memang masih akan diolah lagi oleh tim BHTV. Inginnya ikut terlibat juga, tapi saya masih baru dan belum paham harus apa di sana. Untuk saat ini sih ikut-ikut saja dulu, siapa tahu bisa ‘kecipratan’. Hehe.

Menjelang akhir kegiatan, Pak Sanny ‘menantang’ komunitas ini untuk mengadakan event besar di bulan Desember. Dan ternyata, para peserta pun cukup antusias menerima tantangan tersebut, meskipun belum tahu event semacam apa yang akan diadakan. Wah, saya harus terlibat kalau begitu, jangan sampai ketinggalan, harus!! Kegiatan tersebut ditutup menjelang pukul 9 malam, sesuai dengan rencana.

Bagi saya, kegiatan semacam ini cukup menjawab kerinduan saya terhadap sebuah komunitas yang selama ini saya cari. Bersifat ilmiah, tapi tidak terlalu formal. Namun lebih dari itu, punya cita-cita besar, ini yang paling penting. Menyenangkan rasanya bisa satu forum dengan mereka yang sudah dikatakan ahli dibidangnya masing-masing. Selain itu, penerimaan mereka yang terbuka membuat saya merasa nyaman. Saya jadi terpacu untuk lebih meningkatkan kemampuan saya. Dan rasanya, dengan bergabung di BHTV, kesarjanaan saya akan lebih berguna jika dibandingkan dengan apa yang saya kerjakan selama ini. And, yes…finally, i found the community.

C 1 H 3 U L 4 17 6. 101107. 03.40.

Previous

Tambah Katalog

Next

Purnama, Shaum dan Simbol Romantisme

4 Comments

  1. za

    Donny memang sejauh mana suka diskusi ilmiah-nya?

  2. Donny

    @za : Kenapa za? Sebetulnya sih dari kuliah udah suka, cuma lingkungan almamater saya memang belum mendukung. Kalau pun diskusi biasanya sih memang nggak terlalu aktif, tapi terus terang saya suka dengan lingkungan ilmiah semacam itu. Selain itu juga karena salah satu cita-cita saya pengen jadi peneliti sih…:)

  3. za

    Wow serius mau jadi peneliti nih? Kalau benar tertarik, kontak saya via email 😉 Tralala

  4. wah euy. lupa kalo ada acara ini. sayang bangget gak bisa dateng. apalagi sate-nya itu loh. gleks. :mrgreen:

Leave a Reply

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén