Wanita-Wanita Tangguh

Bulan Desember selalu memiliki arti penting bagi saya. Alasannya hanya 1, karena ternyata banyak juga teman-teman wanita yang saya kenal lahir di bulan ini. Beberapa orang yang lahir di bulan ini juga memiliki posisi yang ‘istimewa’ dalam hidup saya. Istimewa sebagai sahabat, guru, atau pun…ya, tahu sendiri lah. Setidaknya sampai saat ini. Dan karena itulah, tepat di awal Desember, tulisan ini saya dedikasikan bagi wanita-wanita tersebut.

Jika tulisan-tulisan sebelumnya lebih banyak ‘nyepetin’ wanita, maka untuk kali ini, dengan segala kerendahan hati, saya berusaha untuk menuliskan sisi positifnya. (Gawat!! Mayday…Mayday!! Donny udah mulai sering kerasukan setan romantis nih…) Akan tetapi, wanita-wanita yang menjadi inspirasi tulisan ini tidak selalu lahir di bulan Desember, bahkan ada yang tidak saya ketahui tanggal kelahirannya.

Saya sering kali merasa malu dengan spirit yang dimiliki oleh teman-teman wanita yang saya kenal di beberapa organisasi yang saya ikuti. Dalam banyak hal, saya juga banyak belajar dan menyerap ilmu dari mereka. Wanita-wanita yang tidak hanya berkata-kata, tapi juga lebih berorientasi aksi. Berbeda dengan saya yang masih banyak omong, tapi kurang aksi.

Dalam kegiatan Kemah Juara 2007 Rumah Zakat beberapa bulan yang lalu. Saya terlibat sebagai panitia saat itu. Setidaknya ada 100 orang lebih panitia, karena itu merupakan sebuah perhelatan akbar, dengan skala regional Jakarta-Banten-Jawa Barat. Menariknya, sebagian besar panitianya adalah wanita dan beberapa posisi penting kepanitiaan juga dipegang oleh wanita. Pressure dari kegiatan tersebut sangat tinggi, bahkan bisa membuat stress panitia, terutama seksi konsumsi yang harus ‘mengenyangkan’ lebih dari 1500 perut peserta dan panitia. Koordinator dan seluruh anggota seksi konsumsi adalah wanita. Saya pernah diminta untuk jadi anggota seksi konsumsi, tapi saya menolak karena dari kegiatan-kegiatan yang pernah saya ikuti, konsumsi memang masalah yang paling pelik.

Ternyata, kekhawatiran saya memang terbukti, konsumsi menjadi masalah terbesar dalam acara tersebut. Susunan acara jadi berantakan gara-gara ada ratusan peserta yang kelaparan. Sebagai panitia, saya merasakan tekanan dari para peserta dan panitia yang berasal dari kota lain, apalagi seksi konsumsi yang memang bertanggung jawab untuk mengurusi makanan, tak terbayangkan oleh saya pressure-nya seperti apa. Kadang saya merasa kasihan juga melihat wajah-wajah mereka, tapi sampai acara berakhir, mereka tetap bekerja dengan baik dan berusaha untuk tenang.

Masih di acara yang sama, tapi berbeda seksi kerja. Kali ini bagian seksi keamanan. Saya sampai terkekeh-kekeh dan geleng-geleng kepala ketika mendengar dan menyaksikan sendiri bagaimana wanita-wanita yang menjadi seksi keamanan hanya tidur 1 jam, bahkan ada yang tidak tidur selama 2 hari. Militan sekali. Seksi keamanan yang laki-laki saja tidak sampai seperti itu. Bahkan, koordinatornya sampai habis-habisan dikritik oleh mereka gara-gara masalah ini. Sementara saya yang masih bisa merasakan tidur 4 jam tiap malam di acara tersebut, diam-diam menaruh hormat dan salut pada mereka.

Wanita-wanita tangguh lain saya temukan di SSG Cibeunying. Program anak-anak jalanan yang sekarang menjadi program kerja organisasi ini, para pengajarnya sebagian besar wanita. Saya yang sudah terlibat beberapa kali pun tidak terlalu banyak memiliki peran. Kegiatan yang dilakukan sore hari sudah pasti cukup menguras tenaga setelah seharian bekerja atau kuliah. Namun, mereka sepertinya selalu antusias untuk datang dan mengajari anak-anak jalanan itu. Bahkan dengan keceriaan yang seperti tiada habisnya. Tidak ada bayaran sama sekali, malah sebaliknya, mereka lebih banyak mengeluarkan uang untuk kegiatan ini. Dan jarang sekali saya mendengar mereka mengeluh. Lagi-lagi saya merasa disindir karena belum bisa memberikan kontribusi yang berarti.

Sampai tulisan ini dibuat, saya baru sekali ikut serta aksi atau demonstrasi. Saya memang bukan orang yang terlalu suka dengan kegiatan demonstrasi. Akan tetapi, bahwa kegiatan ini menghabiskan energi, sudah tidak diragukan lagi. Long march, berlari, bernyanyi, berteriak dan berdesak-desakan apalagi disertai dengan cuaca yang panas, sudah pasti menguras energi. Belum lagi jika terlibat bentrokan dengan aparat keamanan atau kubu lain. Akan tetapi, tidak sedikit juga saya mengenal wanita-wanita yang sering terlibat dalam kegiatan ini. Dan anehnya, mereka tampak senang sekali melakukannya.

Sebagian besar wanita-wanita tangguh tersebut saya kenal di organisasi-organisasi dakwah. Keterlibatan saya di organisasi-organisasi itu juga lebih memudahkan saya untuk memahami kenapa mereka bisa memiliki sikap semacam itu. Di tengah-tengah kondisi zaman yang serba materialistis ini, sikap mereka barangkali bisa dikatakan ‘menantang’ arus. Barangkali, itulah jihad bagi mereka. Ajaib, bagaimana dakwah bisa membentuk wanita-wanita seperti itu.

Menariknya, mereka adalah wanita-wanita yang tidak pernah berteriak-teriak soal emansipasi wanita, feminisme atau kesetaraan gender. Dalam soal kepemimpinan, mereka tetap beranggapan bahwa bagaimana pun, laki-laki adalah pemimpin bagi wanita. Dan bahwa dalam soal-soal tertentu, laki-laki memang lebih baik daripada wanita, begitu juga sebaliknya. Para ikhwan pun menyadari bahwa ada tempat-tempat khusus yang memang menjadi ‘keahlian’ wanita dan tak tergantikan.

Kenyataannya, organisasi-organisasi dakwah yang saya ikuti memang memberikan keleluasaan kepada mereka untuk memiliki peran di dalam masyarakat. Dengan sendirinya, mereka bisa mengisi kekosongan pada wilayah-wilayah yang membutuhkan peran mereka. Fakta semacam ini tidak pernah muncul ke media-media mainstream. Akan tetapi, mereka bisa membuktikan diri bahwa mereka bisa eksis dan memberikan kontribusi yang cukup besar, tanpa pernah menuntut, karena mereka meyakini bahwa balasan yang lebih besar akan mereka dapatkan. Bukan dari manusia, tapi dari Allah.

Barangkali masih banyak wanita-wanita tangguh yang tidak saya kenal dan bertebaran di sekitar kita. Entah mereka yang bergerak di organisasi dakwah atau bukan. Kebetulan saja wanita-wanita tangguh yang saya kenal memang kebanyakan bergerak di organisasi dakwah. Apa yang saya tulis, hanya sebagian kecil saja dari yang saya tahu dan lihat. Harapan saya, mudah-mudahan saya masih bisa dipertemukan dengan wanita-wanita tangguh lainnya, yang bisa dan selalu menginspirasi saya.

C 1 H 3 U L 4 17 6. 011207. 05.00

loading...

Previous

The Most Inspiring Love Story: Kabayan and Iteung

Next

Dunia di Pinggir Lapang

7 Comments

  1. Kalo ga salah .. wanita2 di Bali justru yang mencari nafkah. Wanita memang jago deh.

  2. saya juga sudah ganti lagu, dari lagu November Rain-nya si Axl Rose ke My December-nya Linkin Park, salam kenal bro 🙂

  3. Waaah bener kata lagu:
    “Aku memang pencinta wanita…. ”
    eh tapi ini bukan wanita sembarang kan, mereka2 yang dedikasinya tinggi pada pendidikan pada kaum yang layak bantu…

    salut deh, memang WANITA JELAS BEDA!
    makasih dah mampir ke tempatku yaa mas 🙂
    Webnya cerah, ringan dan renyah.. heheh

  4. Eh? Komen apa ya? *sebenernya cuma pengen naruh komen di Sabtu malam ini*… biasalah.. nggaya ada internet di rumah… hahaha… 😀 nge-junk doang komennya..

  5. Ngak komen dulu ah … senang baca aja, baru nemu sih. Salam.

  6. Donny

    @erander: wah, saya baru tahu kalau memang seperti itu faktanya 🙂
    @Wazeen: salam kenal juga deh, asal jangan jadi ‘Kucing Garong’ aja :p
    @Kurt: betul, mereka adalah wanita-wanita yang punya dedikasi tinggi, yang semata-mata hanya mengharapkan ridho Allah. Insya Allah.
    @andra: Halah!! Bebas aja lah…:p
    @Ersis: Nggak apa2 mas, monggo…:)

  7. denhasmubaroq

    Dakwah adalah sarana mentransformasikan rule Tuhan, bagaimanapun konteks dakwah harus dilakukan oleh yang kuat kalau bahasa anda tangguh,,,itu terbukti bahwa sumber kekuatan hidup ada di wanita.laki2 setangguh Supermen pasti menangis ketika ditinggal Ibu dan Istrinya. sayapun ingin membuktikan apakah anda termasuk perempuan tangguh..? klo ya berdakwah, klo tidak, jadilah istri solehah..

Leave a Reply

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén