Epilogue
Sebelum membaca keseluruhan tulisan ini, saya ingatkan bahwa tulisan ini mungkin agak panjang, dan mungkin akan bikin mikir-mikir juga…mungkin loh…hehehe…soalnya, saya juga bikinnya mikir habis-habisan. Harap dipahami bahwa tulisan berikut ini bukan untuk menyesatkan orang lain…(serem amat, pake menyesatkan segala…)…tapi, tulisan ini hanya gambaran dari pemahaman saya terhadap Tema yang saya angkat. Pemahaman berdasarkan perenungan dan pemikiran yang selama ini saya lakukan, jadi selama hayat masih dikandung badan, tentunya akan selalu berubah jika memang ada koreksi atau informasi yang lebih kuat dan lebih benar. Selamat membaca…(mode PD : on)…:D
————————————————————————————–
Tentang Takdir
Konsep takdir, selalu menjadi perdebatan dan pertanyaan banyak orang. Belakangan ini, saya cukup banyak menemukan pertanyaan atau pun diskusi-diskusi tentang takdir. Bagi Umat Islam, Takdir merupakan bagian daripada Aqidah, karena merupakan bagian daripada Iman terhadap Qadla dan Qadar, dimana kata Takdir ini merupakan kata yang berasal dari Qadar. Karenanya, pemahaman tentang takdir ini sangat penting bagi seorang muslim. Sebab, pemahaman akan takdir ini akan menentukan arah dan sikap seorang muslim terhadap berbagai hal yang terjadi selama hidupnya. Karenanya, banyak juga ulama-ulama yang membahas konsep takdir ini dalam buku yang mereka buat.
Mengenai takdir ini, terdapat 3 golongan yang memahaminya secara berbeda. Golongan pertama, yang berpendapat bahwa manusia itu tidak bebas sama sekali, apa yang kita lakukan, sudah ditentukan oleh ALLAH. Golongan yang kedua, berpendapat bahwa kita sangat bebas, apa pun yang kita lakukan, tidak ada campur tangan Tuhan sama sekali. Dan golongan terakhir yang berpendapat bahwa apa pun yang kita lakukan semuanya ada dalam aturan-aturan Allah, ada campur tangan Allah, tapi kita pun memiliki pilihan untuk melakukan sesuatu.
Saya sendiri, jauh sebelum mengenal konsep takdir, memiliki pemahaman tersendiri berdasarkan hasil berfikir dan merenung. Dalam buku Pengajaran Agama Islam karya HAMKA, disebutkan bahwa arti Qadla itu adalah aturan, sedangkan Qadar adalah ukuran. Jauh sebelum membaca buku tersebut, saya berfikir bahwa segala hal yang ada di muka bumi ini, tunduk pada hukum sebab-akibat. Buat saya, pemahaman terhadap Qadla dan Qadar itu sederhana saja. Apapun yang terjadi di bumi ini, pasti ada sebabnya, bahkan kematian, rezeki dan jodoh pun tunduk pada hukum ini. Dalam buku tersebut juga dikatakan bahwa hukum sebab-akibat ini lah yang kemudian disebut dengan Sunatullah. Dalam ajaran Islam, segala yang ada di muka bumi ini mengikuti Sunnatullah, aturan Allah. Itulah Qadla. Sedangkan Qadar adalah ukuran dari aturan-aturan tersebut. Besar-kecil (ukuran) usaha atau ikhtiar dalam mengikuti aturan tersebut akan menentukan hasil, karenanya hasil dari usaha inilah yang disebut dengan takdir.
Saya tidak pernah berfikir bahwa Allah mengatur kehidupan manusia ini seperti kita memainkan catur. Tidak seperti itu. Karenanya, saya tidak setuju dengan golongan yang pertama. Buat saya, campur tangan Allah itu ada pada aturan-aturan yang Dia buat. Dan kita, sebagai manusia, ada dalam aturan-aturan tersebut, sehingga kita pun tidak bebas sama sekali dari campur tangan Allah. Karenanya, saya pun tidak sepakat dengan golongan yang kedua. Lalu, aturan yang seperti apa kah yang sudah Allah tentukan ? Segala macam aturan. Tidak hanya tentang aturan bagaimana hidup yang benar, tapi juga aturan-aturan terhadap alam semesta. Umur, mati, sehat, sakit, tua, rusak, itulah aturan-aturan Allah.
Contoh sederhananya begini, kita tahu, semakin tua umur suatu tali, akan semakin lapuk dan kemampuan untuk mengangkat dan menahan bebannya pun akan semakin berkurang, inilah Qadla. Katakanlah, jika dulu tali tersebut sanggup menahan berat 200 Kg selama berjam-jam, maka sekarang tali tersebut hanya mampu menahan beban seberat 50 Kg, itupun kurang dari 2 jam, inilah Qadar. Masalahnya adalah, kita tidak pernah tahu berapa beban yang sanggup tali tersebut tahan dan berapa lama, yang kita tahu, bahwa tali tersebut sudah tua dan lapuk. Karenanya, jika ingin selamat dari kecelakaan, ketika mengangkat benda dengan tali, atau ketika kita bergelantungan dengan tali, adalah dengan menghindari penggunaan tali yang tua tersebut. Kita tidak bisa menantang aturan Allah dengan nekat menggunakan tali tersebut dengan beban melebihi kemampuan tali. Karenanya, ketika kita nekat menggunakan tali tersebut, kemudian kita celaka, tidak bisa kita mengatakan,”Ini adalah ujian dari Allah…”, tidak seperti itu. Karena, Allah sudah memberikan kepada manusia akal untuk digunakan memahami aturan-aturan Allah tersebut, jika kemudian kita menentang akal kita sendiri, dan kemudian terjadi kecelakaan, itu akibat kelakuan kita sendiri. Bukan karena Allah yang melakukan. Karenanya, kita harus intorspeksi, tidak bisa kita menyalahkan Allah. Takdir kita celaka, karena perbuatan kita sendiri. Allah sudah tentukan Qadar pada tiap aturan tersebut. Karenanya, kita harus menggunakan akal kita untuk memahami aturan tersebut dan memilih ketika melakukan sesuatu.
Kematian pun mengikuti aturan ini. Contoh pada kasus bunuh diri. Bisa jadi, orang yang melakukan bunuh diri belum saat nya mati. Bisa jadi, Allah sudah menentukan hari kematiannya di waktu yang lain. Tapi, akan menjadi berantakan segala aturan yang ada jika kemudian, misalnya, ada orang yang mencoba bunuh diri dengan minum baygon sampai ber-galon-galon, atau mencoba memegang setrum tegangan tinggi selama berjam-jam, masih hidup juga, alasannya, karena Allah belum menentukan hari kematiannya saat itu. Tidak seperti itu. Allah tidak akan sekonyol itu. Allah memang sudah menentukan saat kematian seseorang, tapi Allah pun tidak akan membiarkan aturan yang Dia buat menjadi berantakan. Karenanya, orang tersebut “harus” mati, agar aturan Allah tersebut tetap berjalan sebagaimana mestinya. Meskipun, sebetulnya, bukan saatnya dia mati. Karena itu lah, Allah melaknat orang-orang yang bunuh diri. Bayangkan, jika orang tersebut masih hidup, tentunya akan menyebabkan berbagai aturan kacau balau, ilmu pengetahuan menjadi berantakan, dan mungkin, akan ada ribuan orang yang mencoba minum baygon sebagai sarapan pagi….heu heu heu.
Kasus kecelakaan mobil atau motor karena ban pecah, tabrakan, rem blong, semuanya mengikuti aturan yang ada. Ban pecah, bisa terjadi karena tertusuk paku, atau tekanan udaranya kurang, atau umur bannya sudah tua, jadi bukan Allah yang memecahkannya, aturan Allah lah yang membuat hal itu terjadi. Kasus kecelakaan lainnya, seperti tabrakan kereta api, pesawat jatuh, kapal tenggelam, semuanya pasti ada sebab nya, dan biasanya karena adanya sunnatullah yang dilanggar. Tapi dari situ, kita seolah-olah ditegur oleh Allah agar melakukan segala sesuatu sesuai dengan aturan dan ukuran yang telah ditetapkan.
Khusus untuk urusan Rezeki dan Jodoh, saya agak kesulitan juga menjelaskannya, karena memang untuk kasus-kasus ini sering terjadi hal-hal yang agak “aneh”. Bukan tidak masuk akal, hanya saja pada beberapa kasus cenderung keluar dari aturan-aturan yang ada. Selain itu juga karena adanya persinggungan dengan “takdir” orang lain. Tapi, sebagian besar tetap terikat Sunnatullah yang sudah ada.
Dalam urusan Rezeki, Islam memerintahkan untuk bekerja keras. Ingin kaya, ya bekerja keras. Ingin urusan Rezeki lancar, carilah jalan masuknya rezeki yang baik. Karenanya, biasanya, urusan Rezeki ini berbanding lurus dengan besarnya Usaha, apa yang dikerjakan, dan pada siapa kita bekerja. Jadi, tidak bisa kita mengeluh, “Sudah kerja banting tulang, tapi masih kayak gini-gini aja (miskin)…”. Pertanyaannya adalah, apa yang dikerjakan ? Di mana bekerjanya? dan kerja pada siapa ? Kalau kerja keras siang malam, tapi hanya sebagai penarik becak, wajar saja kalau tidak kaya, karena memang pintu nya kecil. Kalau sebagai karyawan, wajar saja gajinya pas-pasan, karena besarnya gaji kita juga ditentukan oleh perusahaan. Tapi, kalau jadi seorang pembicara seminar, wajar saja bayarannya besar. Karenanya, urusan Rezeki sangat berhubungan dengan orang lain juga. Tapi, dunia ini membuktikan bahwa orang-orang yang sukses secara finansial adalah orang-orang yang tahu bagaimana dia harus bekerja, tahu apa yang harus dikerjakan, dan tahu pada siapa dia harus bekerja. Tidak asal, “pokoknya gua kerja”. Dan untuk mencapai ke level itu, yang paling dominan adalah kerja keras dan pengetahuan tentang strategi mencari rezeki. Karenanya, agar rezeki menjadi lancar, kita pun harus mengkondisikan diri kita pada situasi yang memang memungkinkan kelancaran rezeki tersebut. Tidak bisa hanya tidur dan diam, lalu berkata, “kalau udah rezeki mah pasti datang sendiri…”. Karena itu, keadaan finansial kita sekarang merupakan hasil dari kerja kita diwaktu yang lalu. Kalau misalkan kita kerja selama ini tidak kaya-kaya juga, carilah tempat yang lain, atau pekerjaan yang lain. Tidak mungkin hanya diam saja di tempat tersebut. Kalau misalkan sampai saatnya mati belum kaya juga, setidaknya kita sudah berusaha untuk mencari kualitas hidup yang lebih baik.
Meksipun ada juga kasus-kasus datangnya Rezeki dari arah yang “tidak bisa diduga”, tapi biasanya, hal tersebut juga terjadi dari usaha yang kita lakukan sebelumnya. Misalnya, kita sering menolong orang lain, atau berbuat baik kepada orang lain. Sebagai rasa terima kasih, maka orang yang ditolong tersebut memberikan uang atau rezeki lainnya kepada kita. Itu pun, pada dasarnya, akibat usaha kita juga. Jarang sekali ada orang yang kaya akibat nemu duit 1 milyar di jalan. Kalau warisan, itu lain lagi, biasanya warisan tersebut merupakan hasil dari kerja keras orang yang mewariskannya. Penerima waris hanya menerima hasilnya saja.
Nah, untuk urusan jodoh, memang “sepenuhnya” karena keputusan Allah. Biasanya, untuk kasus jodoh ini, campur tangan Allah dirasakan sangat besar. Karena, kadang, sebesar apa pun usaha yang kita lakukan, kalau memang orang yang kita incar tidak suka, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Karena, urusan hati ini, hanya Allah saja yang bisa membolak-balikkannya, tentu saja dengan caraNya yang terkadang tidak bisa kita mengerti. Tapi, tetap saja, orang-orang yang berikhtiar lebih keras, cenderung lebih cepat mendapatkan jodohnya daripada orang-orang yang menunggu datangnya jodoh. Karenanya, kita pun harus introspeksi diri, seberapa besar usaha kita untuk mendapatkan jodoh tersebut…
Lalu, apa fungsinya Do’a ? Nah, Do’a adalah harapan terhadap kondisi ideal yang kita inginkan dan kita minta kepada Allah. Salah satu alasan mengapa Do’a tidak langsung dikabulkan adalah karena Allah lebih mengetahui kondisi kita yang sebenarnya daripada kita sendiri. Karenanya, agar Do’a kita terkabul, sering kali Allah menyiapkan kondisi kita terlebih dahulu. Caranya, mungkin melalui kemantapan hati ketika mengambil suatu keputusan, atau rasa gelisah ketika akan melakukan sesuatu yang salah, yang jelas, bentuk pengabulan do’a ini sangat jarang sekali yang langsung. Misalkan, kita ingin menjadi orang yang sholeh, kemudian kita berusaha untuk mencari lingkungan yang baik agar kita bisa menjadi sholeh. Nah, dalam pencarian itulah, biasanya Allah menolong kita, misalnya dengan memberikan rasa tenang ketika kita bertemu orang-orang yang sholeh, atau ketika berada di lingkungan tersebut, sehingga kita merasa betah berada disana, dan pada akhirnya, karena sering bergaul, pelan-pelan kita pun menjadi orang yang sholeh. Tidak ujug-ujug jadi sholeh, bisa hancur dunia persilatan. Allah hanya memberikan tuntunan, melalui sinyal-sinyal yang dia berikan, keputusan tetap ada pada kita. Jadi, Allah tidak memperlakukan kita seperti bidak catur…”Kamu, ke sini aja ya…? biar ntar ke neraka….” , “Nah, kamu kesana aja…supaya masuk surga..”…Saya kira tidak begitu. Hal tersebut tentu saja tidak adil, percuma saja kita hidup kalau misalkan Allah sudah menentukan “Kamu masuk Surga…”, “Kamu masuk Neraka…”. Dan untuk apa ada penghisaban di akhirat kalau jelas-jelas kita masuk neraka atau surga.
Dalam buku HAMKA tersebut, dijelaskan bahwa salah satu kemunduran umat Islam, dan menurut saya bangsa Indonesia juga, adalah menghindari Takdir, bukan menghadapinya. Kalau ingin kaya, aturannya bekerja keras, bukan diam atau malas-malasan, sementara kita lebih banyak bermalas-malasan, wajar kalau tidak kaya. Orang yang menghadapi takdir adalah mereka yang bekerja keras, sedangkan yang menghindari adalah mereka yang bermalas-malasan. Jadi,memang benar kalau segala yang baik itu datangnya dari Allah, karena Dia sudah menentukan segala sesuatunya dengan baik, kalau kita mengikuti dan memahami aturan-aturan yang ada, kita akan menemukan takdir yang baik. Sementara segala macam bencana, kecelakaan pada dasarnya memang hasil perbuatan dan kelalaian manusia juga. Contoh, banjir bandang, logikanya, banjir tersebut tidak perlu terjadi,jika hutan-hutan yang ada mampu menahan dan menyerap air tersebut. Tapi, karena hutan tersebut gundul, mengalirlah air tersebut tanpa hambatan, terjadilah banjir bandang. Siapakah yang menggundulinya ? Manusia juga. Jadi, bentuk “teguran” yang terjadi, biasanya sesuai atau akibat dari apa yang dilakukan oleh manusia.
Fenomena-fenomena alam yang terjadi juga, pada dasarnya adalah sunnatullah agar alam semesta ini tetap stabil. Gempa Bumi, letusan gunung merapi, dan lain-lain. Hanya saja, mungkin, pada saat itu Allah benar-benar “turun tangan” agar manusia tidak sombong dan lalai. Contoh pada kasus Tsunami di Aceh, mungkin yang terjadi pada saat itu bukan hanya semata-mata fenomena alam biasa, tapi mungkin memang Allah memberikan teguran secara langsung. Meskipun, secara ilmiah, masih bisa dijelaskan.
Intinya, campur tangan Allah di dunia ini, “diwakili” oleh ketentuan yang sudah Dia gariskan. Tidak turun tangan langsung seperti mengatur bidak-bidak catur. Dalam kehidupan kita, kita tidak bisa lepas dari aturan-aturan (ketentuan) tersebut. Bagaimanapun jalan kita, kita terikat oleh ketentuan tersebut. Namun, kita pun dibekali akal untuk memahami aturan-aturan tersebut, sehingga ketika kita memutuskan untuk melakukan sesuatu, kita tidak bertindak bodoh dan celaka karena melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan ketentuan. Namun, terkadang, dalam beberapa hal, Allah benar-benar mengambil alih dan “menyentil” kehidupan kita dengan caranya yang tidak bisa kita pahami.
Jadi, selamat menentukan arah takdir …
Wallahualam,
(*…Komentator : Hihihi…Lha, elu, kenapa juga belum dapet jodoh, pasti karena kurang usaha kan..?…*)
(*…Komentator : MAKANYA, USAHA DONG!!! IKHTIARRRRRRRRR..!!!!…JANGAN DIEM AJA!!!!*)
(*…Penulis : DIAAAAAMMMMMM!!…*)
(*…Komentator : Dasar!! Penulis yang anehhh…:p…*)
Hanya sedang ingin berbicara tentang misteri hidup….
S3K3L04A. 020706.20:06.


January 27th, 2008 at 12:26
ihtiar atau tidak itu juga kehendak-Nya
tidak ada keuatan sedikitpun yang mahluk miliki kecuali Dia yang memberi.
manusia termasuk mahkluk Nya.
ada satu keistimewaan yang di beri Nya yaitu bisa memilih
bila ingin sukses tinggal ambil, bila ingin gagal berdiamlah.
semua diberi, sehingga ada perubahan dan pengolah yang menjadi indah
March 19th, 2008 at 12:27
April 14th, 2008 at 19:56
Saya do’akan mudah-mudahan ada jang kepincut sama mas Donny yang imut-imut, klo… saya seeh udah amit-amit he.he.he…
haniifa’s last blog post..Tahajud Perkuat Sistem Imun Tubuh
April 25th, 2008 at 15:40
April 28th, 2008 at 09:27
nedi’s last blog post..10 Nasihat Ibnul Qayyim Untuk Bersabar Agar Tidak Terjerumus Dalam Lembah Maksiat
May 17th, 2008 at 21:10
bener nggak kang? bingung aku…
August 5th, 2008 at 14:37
miftah’s last blog post..isra’ mi’raj
August 5th, 2008 at 19:21
September 6th, 2008 at 19:01
tapi Allah lah yang menentukan.
October 12th, 2008 at 02:32
http://banian.wordpress.com
November 21st, 2008 at 14:10
December 3rd, 2008 at 15:54
December 8th, 2008 at 23:16
“Apakah anda lari/menghindar dari takdir Tuhan?”
umar menjawab :
“Saya lari/menghindar dari takdir Tuhan kepada takdir-Nya yang lain.”
jadi takdir mausia adalah untuk memilih takdir-takdir yang sudah ditentukan oleh Tuhan.
andaikata manusia bisa membuat robot/wayang yang takdirnya terbatas,
maka Tuhan membuat manusia dengan takdir yang kita tidak mungkin tahu batasnya, dan pasti lebih baik daripada robot buatan manusia.
ingat jangan menyamakan(berfikir ada yang sama) Tuhan dengan manusia
seandainya kita berpikir bahwa takdir manusia seperti robot/wayang maka itu sama juga menyamakan Tuhan dengan manusia, karena kita menyamakan manusia yang ciptaan tuhan dengan robot/wayang ciptaan manusia
April 28th, 2009 at 11:54
April 29th, 2009 at 12:41
Takdir Azali: yang tertulis di “Lauhmahfud” (lihat QS Al Hadid: 22)
Takdir Umuri: yang diberlakukan pada awal penciptaan manusi,…… Kemudian Allah mengutus seorang malaikat yang diperintahkan untuk meniupkan ruhNya, mencatat empat perkara :rizki,ajal, sengsara, bahagia.. (HR Bukhari)
Takdir samawi : dicatat pada malam lailatul Qodar, (baca QS Ad Dukhan: 4-5)
Takdir Yaumi:untuk semua peristiwa yang akan terjadi dalam 1 hari. (QS Ar Rahman: 29).
Subhanallah, saya sadar memeng ilmu kita ini sangat terbatas.
May 5th, 2009 at 17:50
As i for one, takdir memang sudah dituliskan dalam kehidupan awal kita, tapi kita tidak boleh menyerah menghadapi takdir. APakah kalau kita ditakdirkan miskin, lalu kita tidak bekerja? tentu tidak kan?
saya percaya semua sudah ditulis, tp saya akan tetap berusaha mendapatkan apa yang saya inginkan, setinggi dan sebaik mungkin.
kita harus “merebut” impian kita dari tangan Allah, bukankah Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai kaum tsb benar2 ingin mengubahnya. Aku sih simple2 aja, yg penting jalani hidup, menafsirkannya secara sederhana karena memang otaknya pas2an :).
Wassalam
November 6th, 2009 at 08:45
January 5th, 2010 at 19:23
March 5th, 2010 at 16:20
March 14th, 2010 at 21:17
Let’s Keep thinking about life and do the best!!
March 22nd, 2010 at 21:40
May 31st, 2010 at 13:14
September 4th, 2010 at 11:33
http://kerjayahalal.blogspot.com/2010/09/muqaddimah-masalah-taqdir-doa-usaha.html
September 6th, 2010 at 23:36
October 4th, 2010 at 10:20
si A lahir dikeluarga yg harmonis, kaya, taat
beragama, karena ganteng si A selalu jadi idola
para gadis, kemana-mana selalu dihormati orang
karena dia santun dan berasal dari keluarga
terpandang. sehingga si A hidup dari lahir sudah
bahagia.
si B lahir dari keluarga berantakan, miskin dan
cacat, mukanya buruk dan kemana-mana selalu diusir
orang. si B juga taat beragama.
kalau si A dari lahir hidup bahagia dan mati pasti
sorga, sebab dari bayi dibimbing dg ajaran agama.
kalau si B dari lahir hidup melarat dan mati masuk
neraka,
sebab si B sering mencuri untuk bisa makan.
mengapa si A dan si B hidupnya sangat berbeda ????
mungkin takdir itu bisa dibilang ADIL jika si A
bisa dibilang hidup diatas roda, si B dibawah roda
setelah pertengahan umur si A dibawah dan si B
diatas.
ADILKAH TAKDIR ITU ????
ada orang mati-matian berusaha tapi tetap gagal,
sedangkan ada juga orang usaha sedikit tapi
berhasil.
dalam mencari Tuhan, sebaiknya kita membaca semua
konsep agama.
saya dengan KARMA sudah menjadi kata dalam 137
bahasa…
October 7th, 2010 at 13:57
bener juga tuh kate si ridwan diatas
October 9th, 2010 at 21:40
October 21st, 2010 at 14:17
ada 3 takdir yang ada didunia ini, yaitu:
1. Takdir hidup sangat melarat
contoh : lahir dikeluarga miskin dan melarat, cacat dan penuh cobaan.
2. Takdir hidup sedang – sedang saja.
contoh : lahir dari keluarga bisa saja, hidup biasa saja, tampang pas-pasan.
3. Takdir Hidup bahagia
contoh : lahir dari keluarga kaya raya, harmonis, ganteng dihormati.
seperti : anaknya bill gates.
setiap orang sudah diberikan takdir masing masing dari Allah, dan membedakan cobaan masing-masing orang.
contoh cobaan anak dari nomer 1 :
- selalu berdoa agar bisa makan besok.
- akan sulit mencari wanita apalagi wanita cantik.
contoh cobaan anak dari nomer 3 :
- Lamborgini yang dipesan tidak sesuai warnanya.
- Resah setiap saat sebab dikejar-kejar oleh para model, wanita cantik dan artis, sebab selain ganteng kaya lagi.
lalu mengapa ada perbedaan, yang jelas anak nomer 1 pasti lebih besar dosanya dari pada anaknya Bill gates, sudah nikmat hidup di dunia mati masuk sorga lagi…
November 19th, 2010 at 00:37
December 8th, 2010 at 08:51
Diantara takdir manusia adalah ajalnya. Kalau menurut gua yang menhjadi aturan mainnya adalah setiap manusia pasti mati dan asbabnya bermacam-macam. Jadi tegasnya bukan Tuhan menentukan umur si A sekian, si B sekian dsb. Karena akalu demikian adanya jadi repot misal telah ditentuin si A umur 70 thn, tapi baru umur 60 thn dia bunuh diri gimana coba? Tapi kalau yang diterapkan aturan main di atas akan jadi fleksibel artinya barangsiapa bisa menjaga dengan maksimal kesehatannya (diantaranya) akan punya harapan hidup lebih panjang daripada orang yang pasif dan tidak perduli pada kesehatannya. Makanya kenapa orang2 barat yang care pada kesehatan mereka punya harapan hidup lebih lama d/p orang2 yang tidak perduli walau dia tidak percaya sama Tuhan sekalipun. Jadi orang akan tiba ajalnya jika dia memasuki sebab-sebab yang menuju ke arah tersebut. Disini letak keadilan ALlah dan diakuinya eksistensi manusia.
Wallahu ‘alam bissowab
December 16th, 2010 at 15:32
aku ambil pilihan ke dua, aku buka butik setelah beberapa Bulan Butik ku kurang jalan, karena Kurang Modal sampai aku pinjam dan sekarang aku terlilit Hutang, Mungkin klo aku ambil pilihan pertama Takdirku Lain dengan Takdir yg sekarang. jdi menurutku Takdir Itu Banyak dan Yg nentuin adalah Kita, dengan Kata lain Takdir Di siapin alloh Untuk di Pilih sama Kita. Tul Gak….tpi kita jangan pernah sesali dgn apa yg telah terjadi bagai manapun juga Takdir yg di siapin alloh adalah yg terbaik untuk kita, dan semua ada hikmah’y SIAPA TAU klo aku pilih kerja di BANK trz aku TEGODA UNTUK korupsi bisa-bisa aku masuk penjara, hehehehehe amit-amit..TUL gak?
January 27th, 2011 at 14:17
Komentar :
Ass wr.wb
tulisan di atas adalah kutipan dari tulisan sdr,maka ijinkan sy untuk menangggapinya.
1.anda mengatakan org yg mengalami kecelakaan karena tdk mengiktuti aturan, itu karena kelakuannya sendiri,bukan kehendak ALLAH..,secara pribadi sy tdk sependapat dgn sdr.. mengapa ? karena kesannya manusia itu punya KUASA untuk berbuat,dan ALLAH swt, kehilangan sifat Maha KuasaNYA.manusia seolah2 dpt menentukan nasibnya sendiri…,pdhl manusia lhir tanpa memiliki apa2.TAPI sy jg tdk ingin mengatakan bahwa org yg kecelakaan adl dibenci olh Allah ta’ala bisa saja dia mati syahid,ALLAH swt Maha Kuasa,Berkehendak dialah ALHAQ,ditanganNYAlah semua KetetapanNYA.
February 2nd, 2011 at 17:46
oya, mungkin anda teripnspirasi dari bukunya agus mustofa ya? “mengubah takdir”????
thanks…
February 2nd, 2011 at 17:50
February 16th, 2011 at 16:15
February 17th, 2011 at 12:53
February 17th, 2011 at 12:56
February 17th, 2011 at 12:58
maksudnya td itu buat tazaka
February 17th, 2011 at 23:44
idza ja’a ajaluhum falaa yasta’firuuna walaa yastaqdimuun.
yang artinya : jika datang ajal seseorang maka tidak ada seorangpun yang dapat memaju-mundurkannya, walau sedetik.
March 1st, 2011 at 00:10
saya sering lihat buku-bukunya pak Agus Mustofa, tapi saya belum pernah baca isinya. Tulisan ini juga sebetulnya dipicu oleh buku “Pengajaran Agama Islam” karya HAMKA. Ada satu bab yang membahas tentang qada dan qadar. Selebihnya, sebagian besar adalah hasil perenungan setelah membaca buku itu, dan saya tidak berani mengatakan bahwa tulisan ini merupakan pemikiran final saya. Terus terang, sampai saat ini pun saya masih banyak memikirkan soal taqdir ini
March 4th, 2011 at 12:00
kalau manusia bisa merubah takdir, kenapa tuhan harus menempatkan nabi adam pertama kali di surga, trus harus ada iblis yang membangkang, trus kenapa harus ada buah khuldi?????
padahal jelas-jelas tuhan akan menciptakan manusia menjadi khalifah di muka bumi????? apa yang terjadi jika nabi adam tidak makan buah khuldi, apakah tuhan bisa salah??????? tidak akan ada manusia di muka bumi…
itu adalah skenario dari tuhan, bahkan nabi adam pun tidak bisa merubah takdir, dia hanya menjalankan skenario tuhan.
namun tuhan juga memberikan konsep keseimbangan kepada kita, makanya ada aliran jabariah dan qodariah, tuhan gerakkan para ulama berselisih demi keseimbangan kehidupan.
coba bayangkan ketika manusia itu hanya memiliki pemikiran yang pertama, maka tidak akan menarik kehidupan di muka bumi.
dan perlu diingat, kita tidak pernah tahu skenario apa yang dibuat tuhan untuk kita, makanya kita harus berusaha, kalau kita malas, mungkin saja kita ditakdirkan untuk hidup miskin, kalau kita rajin, mungkin saja kita ditakdirkan menjadi orang pintar.
itu adalah skenario tuhan yang harus kita jalankan.
saat ini yang bisa saya sampaikan, ikhlas lah menerima takdir yang digariskan untuk kita….
salam keikhlasan.
March 7th, 2011 at 10:50
wah saya senang skali baca hasil pemikiran mas doni…^_^
kalo akhir2 ini saya berpikir tentang takdir..
kita harus percaya takdir biar kita gak pusing2 dan menyesal..bersedih..ttg apa yg terjadi pada kita.. Biar kita bisa terus berjalan menapaki kehidupan…terus berbuat baik dan beribadah…
contoh..angelina sondakh ditinggal mati adji masaid..
kalo angi tidak percaya takdir..dia pasti akan sedih..terus menerus…berpikir kenapa begini dan begitu…
jadi menurutku kematian adlh takdir biar kita tidak ndresulo..(bahasa jawa)..
Rejeki..di bilang takdir biar kita slalu bersyukur atas apa yg kita dapat..dan tidak serakah..
Jodoh..siapapun jodoh kita..yang penting kita bisa tetap beribadah kepada Allah swt..
Intinya hidup didunia kita hanya semata2 ibadah kepada Allah swt…sekecil apapun yg kita lakukan..
maaf,jika ada salah mohon koreksi..saya ini orang yg masih dangkal ilmu…
Saya juga bingung ttg jodoh saya..
saya kenal dengan orang yg berbeda agama,suku,budaya,negara,…dia orang timor leste..
Apakah dia akan menjadi jodoh saya?
sementara banyak masukan dari kelaurga dan teman2 tentang hambatan yg akan di hadapi…
dalam hati saya…aku iklas atas ketentuan Allah hidup dimana aja asalkan saya masih bisa beribadah kepadaNYA/…
March 9th, 2011 at 09:29
Mksih mas donny krn tulisannya bisa menyentuh qolbu yg gundah..
March 9th, 2011 at 09:58
Thanks donnyreza tulisannya dpt membuka akal pikiranq ttg takdir..
March 17th, 2011 at 21:31
March 24th, 2011 at 10:14
March 31st, 2011 at 19:59
April 9th, 2011 at 21:02
April 13th, 2011 at 14:23
April 19th, 2011 at 18:00
April 20th, 2011 at 21:53
jwb,>?
April 27th, 2011 at 15:54
menurut saya dalam memahami takdir hendaknya kita terlebih dahulu memahami sifat2 allah swt,allah itu maha pengasih lagi maha penyayang, dan allah swt maha bijaksana..
April 29th, 2011 at 18:20
Tapi kl kita seperti itu berarti kita ga bisa disalahin dunk, krn sgla perbuatan kita itu berasal dari Allah… sekali lagi itu RAHASIA ALLAH. Surga neraka itu rahasia Allah, begitu juga kebenaran yg hakiki itupun hanya Allah yg tau. Dulu pada saat manusia diciptakan malaikat bertanya ” Ya Allah knp kau ciptakan manusia? padahal mereka nanti yg akan menimbulkan kerusakan di dunia” dari statement itu malaikat tau apa yg akan terjadi… Allah menjawab “Kau tidak akan tau, hanya Akulah yg tau”
May 16th, 2011 at 10:20
May 21st, 2011 at 19:30
May 29th, 2011 at 18:49
May 29th, 2011 at 18:51
June 5th, 2011 at 20:58
PERCAYA SAJA
Sbagai Makhluk yg Lemah. kita harus brdoa dan berusaha
Mudah Mudahan kita smua Menjadi Org yg beruntung.
June 9th, 2011 at 09:29
June 11th, 2011 at 11:49
coz 4JJi itu maha tahu dan Pengasih.
dan ingat 4JJI tergantung prasangka hambanya. so “keep to think positif to get positif”
kalaupun saat ini kita merasa blm mendapat apa yg kita usaha kan mungkin nti untuk anak cucu kita.
krn menurut sya takdir kita berhubungan dengan takdir2 orng yg dekat dgn kita atw kita sayangi. mis. kalau kita suka menolong orang dan ikhlas kelak jikalau orang terdekat kita dalam kesulitan akan ada yg penolong dia.
afwan klo msh salah…
trims to PEnulis diatas
nulisan nya menyegarkan rohani
June 14th, 2011 at 21:54
July 11th, 2011 at 10:48
July 14th, 2011 at 06:10
July 14th, 2011 at 20:37
untuk Lebih MENGENAL ALLAH SWT,,,!!!
makasih mas penuLis,,
sungguh sangat menginspirasi kegaLauan hati..
July 16th, 2011 at 16:24
tapi manusia tidak lupa untuk selalu berusaha
July 17th, 2011 at 20:53
salam ikhlas.
July 30th, 2011 at 15:39
August 1st, 2011 at 13:21
Terjemahan Makna Surat An-Nisaa’ [4] Ayat 74
Karena itu hendaklah orang-orang yang menukar kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat berperang di jalan Allah. Barangsiapa yang berperang di jalan Allah, lalu gugur atau memperoleh kemenangan maka kelak akan Kami berikan kepadanya pahala yang besar.
Thanks..
August 1st, 2011 at 13:37
Terjemahan Makna Surat An-Nisaa’ [4] Ayat 79
Apa saja ni’mat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi.
tapi cobra bro baca ayat sebelomnya 4:78
Terjemahan Makna Surat An-Nisaa’ [4] Ayat 78
Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: “Ini adalah dari sisi Allah”, dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: “Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)”. Katakanlah: “Semuanya (datang) dari sisi Allah”. Maka mengapa orang-orang itu (orang-orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan(sedikitpun)?”
August 15th, 2011 at 22:46
August 16th, 2011 at 10:46
Sifat, bakat dan watak kita bnyk mewarisi sifat2 org tua dan para leluhur. Ada bakat seniman, pemikir, teknisi, petualang, dsb. Ini akan besar pengaruhnya thd hidup-penghidupan kita. Faktor lingkungan juga besar pengaruhnya terutama dari masa kanak-kanak, kemiskinan struktural, broken home. Celakanya ada bakat buruk yg tdk dpt ditolak seperti psikopat warisan mental disorder. Diharapkan ilmu genetika akan dpt menolong mereka di masa depan.
Rezeki dan nasib dpt dibina dg ikhtiar dan doa, yg mulanya personal intensive atau “fardlu ein”. Tetapi ikhtiar bersama atau “fardlu khifayah” akan dpt lebih efektif dan menakjubkan. Contoh negeri Jepang dg Meiji restorasi dan RRC dg sistem komunal. Ikhtiar adl menciptakan kondisi yg se-baik2-nya guna mencapai tujuan.
Tuhan tidak akan merubah nasib seseorang atau suatu kaum bila mereka tidak merubah diri sendiri.
Mati? Segala yg bernyawa akan mengenal mati dan yg terbentuk di alam akan lenyap. Manusia tidak akan mencapai umur 200 tahun, itu batas. Tetapi kapan, dimana dan bgmna tgantung kondisi, misal: penyakit, kecelakaan, perang. Bangsa yg sejahtera umumnya punya peluang hidup yg pnjg.
Tetapi memang Tuhan dpt menciptakan keajaiban atau “miracle” dan itu yg disebut “iradah” atau “the act of God” yg mungkin jarang terjadi. Misal diturunkannya nab-nabi, wahyu, firasat, ilham, dsb.
Makanya jgn buru2 memvonis dg takdir atau “nasib oh nasib.
August 25th, 2011 at 12:09
August 27th, 2011 at 02:08
August 31st, 2011 at 23:40
Sekian banyak cabang dan ranting yang telah ditakdirkan/dirancang untuk masing-masing kita…namun hanya satu jalur yang pastinya kita lalui….. hakekatnya setiap percabangan baik dari cabang pohon atau ranting adalah pilihan hidup yang menentukan seberapa besar rizki yg menyertai dan menjadi apa setiap kita, sederhananya segala sesuatunya telah Allah sediakan untuk kita namun disisakan satu yg diberikan kesetiap manusia hak prerogatifnya yakni “PILIHAN/MEMILIH”. atau bisa saya katakan 99 nama Allah itu adalah layaknya sekian banyak potensi yang di berikan kepada manusia namun satu yg disisakan dan manusia sendiri yang menentukan yakni “PILIHAN”. Al Quran dan Sunnah dapat di analogikan sebagai petunjuk, cabang mana yang baik kita lalui karena di Quran dan Sunnah ada yg memmaparkan ciri ciri jalan yang tidak boleh atau tidak baik untuk kita lalui sekaligus juga sebagai petuunjuk sepanjang melalui setiap cabang dan ranting yang kita lalui…..Rizki telah disiapkan untuk setiap ranting yang ditetapkan dalam pohon kehidupan kita…. jadi seberapa besar/banyak rizki yang kita terima merupakan konsekuensi dari pilihan jalan hidup yang kita lalui….Apakah takdir bisa diubah ?? pohon takdirnya menurut saya sudah di tetapkan namun setiap kita bisa memperbaiki setiap waktu pilihan hidup kita (seakan akan mengubah takdir tapi saya lebih cenderung mengatakannya mengubah nasib
Namun sepertinya tidak semua pohon kehidupan orang selalu seperti pohon mangga misalnya yang lebat banyak cabang dan ranting, boleh jadi seperti pohon kelapa seperti komentar saudara kita terdahulu menanggapi tulisan ini. Sehingga boleh jadi seseorang miskiiiiiiiiin sepanjang hidupnya dan baru berubah saat menjelang akhir hidupnya seperti pohon kelapa.
Jadi Esensinya bukan tentang apa yg kita dapatkan sepanjang perjalanan namun Sabar dan Syukur yang menjadi ukurannya.
Jodoh, Rizki ….. menurut saya keduanya sama sama harus diupayakan…keduanya merupakan penyerta dari pilihan hidup yang kita ambil. Keduanya mensyaratkan kecocokan wadah terhadap isi yang kita harapkan/kita mintakan dalam do’a do’a kita.
Jika wadahnya siap/jika kita cukup siap mempersiapkan diri kita maka rizki dan jodoh yang sesuai dengan wadah yang kita siapkanlah yang akan diberikan kepada kita. jadi seperti juga Doa yang boleh jadi doa/permintaan kita dibayar tunai olah Allah, hal itu karena wadah yang kita siapkan sudah cocok untuk hal yang kita permohonkan, namun boleh jadi ditunda…karena wadahnya belum siap, atau permintaan kita diganti oleh sesuatu yang lebih baik… karena memang yang itulah yang cocok dengan wadah yang kita miliki. (berlaku utk Rizki dan Jodoh karena hakekatnya menurut saya jodoh adalah bagian dari rizki)
Sekedar tambahan untuk Hal Jodoh, dikenal istilah Kufu/ Setara konsepnya relatif sama dengan pemahaman dengan konsep wadah dan isi, artinya….. yang namanya jodoh adalah ketika keadaan dua orang manusia (laki laki dan perempuan kufu atau setara) dan bukan jodohnya ketika sudah tidak setara lagi (mohon tidak dipahami dengan terlalu sempit) sederhananya seorang pelacur tidak akan ketemu kecuali dengan yg serupa dengan itu….. perceraian terjadi ketika ke kufuan sudah tidak adalah lagi, sehingga pernikahan atau jodoh pun hakekatnya adalah hal yang harus terus menerus di upayakan ketika pengetahuan/pemahaman istri terasa tertinggal maka menjadi tugas suami menariknya sehingga bisa berdampingan lagi berjalannya…. tidak tertinggal ….. ketertinggalan salah satunya cenderung kepada perceraian….hal ini mengapa perceraian merupakan hal yang dibolehkan namun dibenci Allah yaitu itu…. sebab perceraian adalah kondisi ketidak kufuan, sehingga dapat berbahaya bagi salah satu yang baiknya, sedangkan ketidak kufuan boleh jadi karena kurang kuatnya keinginan/upaya untuk mendidik salah satunya itu sebabnya dibenci :).
di Al baqoroh disebutkan “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya” artinya bahwa apapun yang ada dihadapan kita, hakekatnya bisa/sanggup kita hadapi dan selesaikan karena……….. yang tidak bisa kita hadapi yaaaaaaa tidak akan diberikan kepada kita gitu kan ?
…….. “Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang merubahnya” (maaf klu rada salah) esesnsinya…. itu seperti yang saya sudah jelaskan diatas tentang cabang dan ranting pohon dan pilihan hidup.
Berikutnya, Apakah kematian manusia sudah ditetapkan Allah? jawabanya “Ya” tapi kematian dengan cara yang mana dan kematian kita yang kapan ?
Naaaaaah….. Rasulullah bilang klu ribuan sebab kematian mengelilingi kita …. ya kan klu saya analogikan lagi dengan ujung pucuk ranting pohon itu adalah kematian bisa ada pucuk ranting yang dekat dengan pangkal batang pohon atau ada yang paling jauh dari pangkal pohon….. naaaah itu juga menjadi hasil dari pilihan hidup kita :)….
Setiap Pucuk pucuk ranting itu sudah ditentukan Allah untuk kita dan hanya satu pucuk ranting yang akan kita temui di akhir perjalanan hidup kita di dunia ini…. melalui sebab-sebabnya.
Demikian yang bisa saya share untuk melengkapi pemahaman yang sudah disampaikan saudara-saudara yang lainnya.
Maaf Kalau ternyata komentar saya sama panjangnya dengan tulisan Anda
Berikut adalah kisah senada dengan paparan saya di atas : Ketika di Syam (Syria, Palestina, dan sekitarnya) terjadi
wabah, Umar ibn Al-Khaththab yang ketika itu bermaksud
berkunjung ke sana membatalkan rencana beliau, dan ketika
itu tampil seorang bertanya:
“Apakah Anda lari/menghindar dari takdir Tuhan?”
Umar r.a. menjawab,
“Saya lari/menghindar dan takdir Tuhan kepada takdir-Nya
yang lain.”
Demikian juga ketika Imam Ali r.a. sedang duduk bersandar di
satu tembok yang ternyata rapuh, beliau pindah ke tempat
lain. Beberapa orang di sekelilingnya bertanya seperti
pertanyaan di atas. Jawaban Ali ibn Thalib, sama intinya
dengan jawaban Khalifah Umar r.a. Rubuhnya tembok,
berjangkitnya penyakit adalah berdasarkan hukum-hukum yang
telah ditetapkan-Nya, dan bila seseorang tidak menghindar ia
akan menerima akibatnya. Akibat yang menimpanya itu juga
adalah takdir, tetapi bila ia menghindar dan luput dari
marabahaya maka itu pun takdir. Bukankah Tuhan telah
menganugerahkan manusia kemampuan memilah dan memilih?
Kemampuan ini pun antara lain merupakan ketetapan atau
takdir yang dianugerahkan-Nya Jika demikian, manusia tidak
dapat luput dari takdir, yang baik maupun buruk. Tidak
bijaksana jika hanya yang merugikan saja yang disebut
takdir, karena yang positif pun takdir. Yang demikian
merupakan sikap ‘tidak menyucikan Allah, serta bertentangan
dengan petunjuk Nabi Saw.,’ “… dan kamu harus percaya
kepada takdir-Nya yang baik maupun yang buruk.” Dengan
demikian, menjadi jelaslah kiranya bahwa adanya takdir tidak
menghalangi manusia untuk berusaha menentukan masa depannya
sendiri, sambil memohon bantuan Ilahi.
September 6th, 2011 at 14:17
Kisah Takdir KeMatian.
Sedikit Berbagi,…
11 tahun yang lalu bulan february anak kedua saya lahir laki-laki, sehat dan lucu. April 2008 anak saya positif terserang tumor otak dengan gejala tidak bisa berjalan, dengan scan diketahui ukuran 4 x 4,1 x 5,3 cm dan harus segera dioperasi. 21 hari di rs anak saya sehat kembali walau 80%, dan pada bulan yang sama adik ipar saya (anak 3 berumur 2,4,7 thn) divonis leukimia stadium 4 dengan perkiraan umur hanya 4 bulan..
Bulan Mei 2009 dari kantor saya bisa umroh ketanah suci. Singkat cerita, saya berdoa didepan Ka’bah untuk kesembuhan anak dan adik ipar saya dan entah bagaimana ,perasaan saya bisa masuk ke dalam Ka’bah dan hanya diijinkan mengambil 1 buah roda yang terbuat dari emas dan harus memilih siapa yang akan diberikan. Akhirnya saya berikan ke adik ipar saya. Sedang anak saya entah mengapa dalam hati koq terasa berumur pendek, saya sholat dan berdoa supaya agar dipanjangkan umur dan rela sebagian umur saya untuk anak , hanya 3 tahun sepertinya yang bisa diberikan itu seperti mengalir begitu saja.
Pada malam 27 Ramadhan 1432 (2011), waktu sholat tarawih anak saya sakit kepalanya dan saya tanya kenapa dik, katanya kepalanya serasa dibelah sakit bukan kepalang.
Malamnya saya bermimpi. Datang Seseorang yg bentuk dan pakainnya baru kali itu saya lihat, sedang memegang kepala anak saya, lalu saya bertanya sedang apa. Dia hanya menjawab Anak Kamu ada di daftar yg harus dicabut nyawanya malam ini dan tidak jadi, ternyata masih ada sisa 3 lapis lagi. Saya marah dan minta dia untuk mengucapkan 2 kalimat syahadat dan beragumen bahwa seharusnya ruh manusia itu 7 bagian bukan 3 lapis(bagian), jika memang yang diberitakannya benar. Ternyata dia mengucapkan 2 kalimat syahadat…dan menjelaskan yg 3 lapis adalah 3 tahun… Lemas tubuh dan hati ini..
4 Hari hanya menangis melihat anak (saya tidak cerita ke istri), lalu saya sholat dan berdoa agar dilapangkan hati ini menerima takdir yang sudah menjadi suratan.. Dan wafatkan dia dalam keadaan Khusnul Khotimah.. Insya Allah …. Badan dan Ruh ini sekarang serasa lapang menerima takdir yg memang sudah digariskan, toh akhirnya kita semua akan mati.
Rabbukum a’lamu bikun iy yasya’yarhamkum au iy yasya’ yu’adzdzibkum wa maa arsalnaka ‘alaihim wakiilaa.
Dan Adik Ipar saya sampai sekarang sehat wal’afiat.
Insya Allah 3 thn kedepan akan saya kabari…. wslm.
Nb. Sehabis Sholat Saya biasanya membaca at-taubah 128
September 14th, 2011 at 23:04
Tapi sayangnya ga ada dalil/hadist yg di terangkan •°•????????????????????•°•????????????????????•°•????????????????????•°•?,
Salam…
September 14th, 2011 at 23:10
Salam
September 17th, 2011 at 19:15
berseragam ghaib yang kasat mata
melayang menghampiri setiap tubuh manusia
di kala belum bertemu kehidupan dunia
apakah takdir bisa di rubah ???
sesungguhnya allah tidak akan meruBAH SUATU KAUM BILA KaUM ITU SENDIRI TIDAK MAU MERUBAHNYA.
fatadkir anil tilka qiro’ah.
syukron
afwan ala ihtima mingkum lau fil kitabah wajadal khoto.
li ana insan makanil khotoi wannisyan.
September 17th, 2011 at 19:21
karena sesungguhnya manusia adalah makhluk sempurna ditangan manusialah segala sesuatu dapat direncanakan.
“belajar dari pengalaman dan masa lalu akan senantiasa mengurangi resiko-resiko nasib/takdir yang kurang baik dan memperbaikinya di masa yang akan datang”
September 17th, 2011 at 19:32
namun jagan beragngap dunia akan indah bila tangan kita merusaknya.
pernakah anda berfikir …???
apakah sekarang anda hidup dan berdiri di atas tanah alam ini dan mengerjakan sesuatu itu adalah takdir anda.
apakah yang anda lihat sekarang adalah sudah menjadi takdir bagi anda ???
bila itu semua sudah menjadi suratan
pernakah anda berfikir akan diam untuk menjalani kehidupan,. toh takdir akan datang sendiri dengan sendirinya.
bila anda mengandalkan tangan anda untuk mengubah dunia, apakah anda yakin takdir anda bisa merubahnya.??
BERFIKIRLAH SEBELUM TERJERUMUS KEDALAM SEBUAH PEMIKIRAN.
BERTOBATLAH SEBELUM MATAHARI TENGELAM SELAMA-LAMANYA.
SYUKRON
I CAN BICAUSE I THINK I CAN
September 17th, 2011 at 20:28
Apa yg setiap diri temui dalam hidupnya … Adalah bagian dari takdirnya,
klu pertanyaanya apakah ada kemungkinan lain selain yg kita hadapi saat ini …. ?
Jawabannya “ada”, namun karena yg kita pilih (baik sadar/tak sadar
) adalah yg kita hadapi yaaaaa kemungkinan yg lain tdk akan kita temui.
Nah …. Coba kedepannya cermati setiap kita menemukan pilihan dalam hidup kita …. Akhir hidup kita, kita sendiri yg merangkainya …. Dari banyak puzzle kehidupan yg sudah ditetapkan sebagai takdir kita olah Allah SWT
Demikian.
September 23rd, 2011 at 13:01
October 5th, 2011 at 01:45
hidup ini ibarat seorang anak pergi ke sekolah dgn tujuan belajar dan terus berevaluasi untuk ke tingkat yg lebih tinggi namun tetap pada aturan dari sekolah itu sndiri, maka sama ibunya di kasi perbekalan untuk memenuhi keperluannya selama di sekolah.
maka Allah jg mmbekali kita harta, diri dan waktu kita ini tiada lain hnya untuk beribadah kepadanya.
apa-apa yg ada di dunia ini sudah mndapat jaminan dari Allah, rizki, jodoh.
semua sudah menjadi kehendak Allah, ibarat kelahiran dan kematian, apa kita berkehandak lahirnya ke dunia ini? dan apakah kita berkehendak jika besok ajal menjemput?? ketahuliah Alam akhirat nanti belum ada jaminan, maka disinilah di ddunia ini kita memenuhi keperluan kita untuk kembali kepadaNYA.
wallahua’lam..
October 9th, 2011 at 10:23
December 21st, 2011 at 19:40
January 2nd, 2012 at 18:41
January 4th, 2012 at 11:31
January 16th, 2012 at 16:34
??? ??? ?????? ??? ??? ??????
?? ???? ?????? ?? ???? ??? ???? ?? ???????.. (??????
anwar´s last [type] ..Nasehat Untuk Suami dan Istri (bag 2)
January 29th, 2012 at 21:28
February 1st, 2012 at 14:47
dan sesuatu perkara yang tidak kita rencanakan,terkadang menjadi akhir tujuan.
Yang jelas jodoh itu,bisa jadi cuma sekali seumur hidup.
Kalau rizqi,terkadang seperti air laut,pasang-surut.
February 2nd, 2012 at 10:07
February 4th, 2012 at 22:04
.klw msalah jenis kelamin bisakah di rubah atw tidak ??
February 23rd, 2012 at 18:29
February 25th, 2012 at 16:15
Benar yg anda katakan bahwa untuk takdir jodoh, kadang cara Tuhan tdk bs kita pahami. Anda mengatakan kita harus ikhtiar, tp bagaimana untuk seorang perempuan yg kodratnya memang ”menunggu”. Ga mungkin kan kita sbgai wanita mengatakan ”aku suka kamu”, mungkin hanya bs berdo’a dan berdo’a saja. Mhn tanggapannya untuk problem ini.. Terimakasih..
Wslm..
March 31st, 2012 at 20:33
April 18th, 2012 at 04:41
April 18th, 2012 at 15:14