• Share/Bookmark

Epilogue
Sebelum membaca keseluruhan tulisan ini, saya ingatkan bahwa tulisan ini mungkin agak panjang, dan mungkin akan bikin mikir-mikir juga…mungkin loh…hehehe…soalnya, saya juga bikinnya mikir habis-habisan. Harap dipahami bahwa tulisan berikut ini bukan untuk menyesatkan orang lain…(serem amat, pake menyesatkan segala…)…tapi, tulisan ini hanya gambaran dari pemahaman saya terhadap Tema yang saya angkat. Pemahaman berdasarkan perenungan dan pemikiran yang selama ini saya lakukan, jadi selama hayat masih dikandung badan, tentunya akan selalu berubah jika memang ada koreksi atau informasi yang lebih kuat dan lebih benar. Selamat membaca…(mode PD : on)…:D
————————————————————————————–

Tentang Takdir

Konsep takdir, selalu menjadi perdebatan dan pertanyaan banyak orang. Belakangan ini, saya cukup banyak menemukan pertanyaan atau pun diskusi-diskusi tentang takdir. Bagi Umat Islam, Takdir merupakan bagian daripada Aqidah, karena merupakan bagian daripada Iman terhadap Qadla dan Qadar, dimana kata Takdir ini merupakan kata yang berasal dari Qadar. Karenanya, pemahaman tentang takdir ini sangat penting bagi seorang muslim. Sebab, pemahaman akan takdir ini akan menentukan arah dan sikap seorang muslim terhadap berbagai hal yang terjadi selama hidupnya. Karenanya, banyak juga ulama-ulama yang membahas konsep takdir ini dalam buku yang mereka buat.

Mengenai takdir ini, terdapat 3 golongan yang memahaminya secara berbeda. Golongan pertama, yang berpendapat bahwa manusia itu tidak bebas sama sekali, apa yang kita lakukan, sudah ditentukan oleh ALLAH. Golongan yang kedua, berpendapat bahwa kita sangat bebas, apa pun yang kita lakukan, tidak ada campur tangan Tuhan sama sekali. Dan golongan terakhir yang berpendapat bahwa apa pun yang kita lakukan semuanya ada dalam aturan-aturan Allah, ada campur tangan Allah, tapi kita pun memiliki pilihan untuk melakukan sesuatu.

Saya sendiri, jauh sebelum mengenal konsep takdir, memiliki pemahaman tersendiri berdasarkan hasil berfikir dan merenung. Dalam buku Pengajaran Agama Islam karya HAMKA, disebutkan bahwa arti Qadla itu adalah aturan, sedangkan Qadar adalah ukuran. Jauh sebelum membaca buku tersebut, saya berfikir bahwa segala hal yang ada di muka bumi ini, tunduk pada hukum sebab-akibat. Buat saya, pemahaman terhadap Qadla dan Qadar itu sederhana saja. Apapun yang terjadi di bumi ini, pasti ada sebabnya, bahkan kematian, rezeki dan jodoh pun tunduk pada hukum ini. Dalam buku tersebut juga dikatakan bahwa hukum sebab-akibat ini lah yang kemudian disebut dengan Sunatullah. Dalam ajaran Islam, segala yang ada di muka bumi ini mengikuti Sunnatullah, aturan Allah. Itulah Qadla. Sedangkan Qadar adalah ukuran dari aturan-aturan tersebut. Besar-kecil (ukuran) usaha atau ikhtiar dalam mengikuti aturan tersebut akan menentukan hasil, karenanya hasil dari usaha inilah yang disebut dengan takdir.

Saya tidak pernah berfikir bahwa Allah mengatur kehidupan manusia ini seperti kita memainkan catur. Tidak seperti itu. Karenanya, saya tidak setuju dengan golongan yang pertama. Buat saya, campur tangan Allah itu ada pada aturan-aturan yang Dia buat. Dan kita, sebagai manusia, ada dalam aturan-aturan tersebut, sehingga kita pun tidak bebas sama sekali dari campur tangan Allah. Karenanya, saya pun tidak sepakat dengan golongan yang kedua. Lalu, aturan yang seperti apa kah yang sudah Allah tentukan ? Segala macam aturan. Tidak hanya tentang aturan bagaimana hidup yang benar, tapi juga aturan-aturan terhadap alam semesta. Umur, mati, sehat, sakit, tua, rusak, itulah aturan-aturan Allah.

Contoh sederhananya begini, kita tahu, semakin tua umur suatu tali, akan semakin lapuk dan kemampuan untuk mengangkat dan menahan bebannya pun akan semakin berkurang, inilah Qadla. Katakanlah, jika dulu tali tersebut sanggup menahan berat 200 Kg selama berjam-jam, maka sekarang tali tersebut hanya mampu menahan beban seberat 50 Kg, itupun kurang dari 2 jam, inilah Qadar. Masalahnya adalah, kita tidak pernah tahu berapa beban yang sanggup tali tersebut tahan dan berapa lama, yang kita tahu, bahwa tali tersebut sudah tua dan lapuk. Karenanya, jika ingin selamat dari kecelakaan, ketika mengangkat benda dengan tali, atau ketika kita bergelantungan dengan tali, adalah dengan menghindari penggunaan tali yang tua tersebut. Kita tidak bisa menantang aturan Allah dengan nekat menggunakan tali tersebut dengan beban melebihi kemampuan tali. Karenanya, ketika kita nekat menggunakan tali tersebut, kemudian kita celaka, tidak bisa kita mengatakan,”Ini adalah ujian dari Allah…”, tidak seperti itu. Karena, Allah sudah memberikan kepada manusia akal untuk digunakan memahami aturan-aturan Allah tersebut, jika kemudian kita menentang akal kita sendiri, dan kemudian terjadi kecelakaan, itu akibat kelakuan kita sendiri. Bukan karena Allah yang melakukan. Karenanya, kita harus intorspeksi, tidak bisa kita menyalahkan Allah. Takdir kita celaka, karena perbuatan kita sendiri. Allah sudah tentukan Qadar pada tiap aturan tersebut. Karenanya, kita harus menggunakan akal kita untuk memahami aturan tersebut dan memilih ketika melakukan sesuatu.

Kematian pun mengikuti aturan ini. Contoh pada kasus bunuh diri. Bisa jadi, orang yang melakukan bunuh diri belum saat nya mati. Bisa jadi, Allah sudah menentukan hari kematiannya di waktu yang lain. Tapi, akan menjadi berantakan segala aturan yang ada jika kemudian, misalnya, ada orang yang mencoba bunuh diri dengan minum baygon sampai ber-galon-galon, atau mencoba memegang setrum tegangan tinggi selama berjam-jam, masih hidup juga, alasannya, karena Allah belum menentukan hari kematiannya saat itu. Tidak seperti itu. Allah tidak akan sekonyol itu. Allah memang sudah menentukan saat kematian seseorang, tapi Allah pun tidak akan membiarkan aturan yang Dia buat menjadi berantakan. Karenanya, orang tersebut “harus” mati, agar aturan Allah tersebut tetap berjalan sebagaimana mestinya. Meskipun, sebetulnya, bukan saatnya dia mati. Karena itu lah, Allah melaknat orang-orang yang bunuh diri. Bayangkan, jika orang tersebut masih hidup, tentunya akan menyebabkan berbagai aturan kacau balau, ilmu pengetahuan menjadi berantakan, dan mungkin, akan ada ribuan orang yang mencoba minum baygon sebagai sarapan pagi….heu heu heu.

Kasus kecelakaan mobil atau motor karena ban pecah, tabrakan, rem blong, semuanya mengikuti aturan yang ada. Ban pecah, bisa terjadi karena tertusuk paku, atau tekanan udaranya kurang, atau umur bannya sudah tua, jadi bukan Allah yang memecahkannya, aturan Allah lah yang membuat hal itu terjadi. Kasus kecelakaan lainnya, seperti tabrakan kereta api, pesawat jatuh, kapal tenggelam, semuanya pasti ada sebab nya, dan biasanya karena adanya sunnatullah yang dilanggar. Tapi dari situ, kita seolah-olah ditegur oleh Allah agar melakukan segala sesuatu sesuai dengan aturan dan ukuran yang telah ditetapkan.

Khusus untuk urusan Rezeki dan Jodoh, saya agak kesulitan juga menjelaskannya, karena memang untuk kasus-kasus ini sering terjadi hal-hal yang agak “aneh”. Bukan tidak masuk akal, hanya saja pada beberapa kasus cenderung keluar dari aturan-aturan yang ada. Selain itu juga karena adanya persinggungan dengan “takdir” orang lain. Tapi, sebagian besar tetap terikat Sunnatullah yang sudah ada.

Dalam urusan Rezeki, Islam memerintahkan untuk bekerja keras. Ingin kaya, ya bekerja keras. Ingin urusan Rezeki lancar, carilah jalan masuknya rezeki yang baik. Karenanya, biasanya, urusan Rezeki ini berbanding lurus dengan besarnya Usaha, apa yang dikerjakan, dan pada siapa kita bekerja. Jadi, tidak bisa kita mengeluh, “Sudah kerja banting tulang, tapi masih kayak gini-gini aja (miskin)…”. Pertanyaannya adalah, apa yang dikerjakan ? Di mana bekerjanya? dan kerja pada siapa ? Kalau kerja keras siang malam, tapi hanya sebagai penarik becak, wajar saja kalau tidak kaya, karena memang pintu nya kecil. Kalau sebagai karyawan, wajar saja gajinya pas-pasan, karena besarnya gaji kita juga ditentukan oleh perusahaan. Tapi, kalau jadi seorang pembicara seminar, wajar saja bayarannya besar. Karenanya, urusan Rezeki sangat berhubungan dengan orang lain juga. Tapi, dunia ini membuktikan bahwa orang-orang yang sukses secara finansial adalah orang-orang yang tahu bagaimana dia harus bekerja, tahu apa yang harus dikerjakan, dan tahu pada siapa dia harus bekerja. Tidak asal, “pokoknya gua kerja”. Dan untuk mencapai ke level itu, yang paling dominan adalah kerja keras dan pengetahuan tentang strategi mencari rezeki. Karenanya, agar rezeki menjadi lancar, kita pun harus mengkondisikan diri kita pada situasi yang memang memungkinkan kelancaran rezeki tersebut. Tidak bisa hanya tidur dan diam, lalu berkata, “kalau udah rezeki mah pasti datang sendiri…”. Karena itu, keadaan finansial kita sekarang merupakan hasil dari kerja kita diwaktu yang lalu. Kalau misalkan kita kerja selama ini tidak kaya-kaya juga, carilah tempat yang lain, atau pekerjaan yang lain. Tidak mungkin hanya diam saja di tempat tersebut. Kalau misalkan sampai saatnya mati belum kaya juga, setidaknya kita sudah berusaha untuk mencari kualitas hidup yang lebih baik.

Meksipun ada juga kasus-kasus datangnya Rezeki dari arah yang “tidak bisa diduga”, tapi biasanya, hal tersebut juga terjadi dari usaha yang kita lakukan sebelumnya. Misalnya, kita sering menolong orang lain, atau berbuat baik kepada orang lain. Sebagai rasa terima kasih, maka orang yang ditolong tersebut memberikan uang atau rezeki lainnya kepada kita. Itu pun, pada dasarnya, akibat usaha kita juga. Jarang sekali ada orang yang kaya akibat nemu duit 1 milyar di jalan. Kalau warisan, itu lain lagi, biasanya warisan tersebut merupakan hasil dari kerja keras orang yang mewariskannya. Penerima waris hanya menerima hasilnya saja.

Nah, untuk urusan jodoh, memang “sepenuhnya” karena keputusan Allah. Biasanya, untuk kasus jodoh ini, campur tangan Allah dirasakan sangat besar. Karena, kadang, sebesar apa pun usaha yang kita lakukan, kalau memang orang yang kita incar tidak suka, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Karena, urusan hati ini, hanya Allah saja yang bisa membolak-balikkannya, tentu saja dengan caraNya yang terkadang tidak bisa kita mengerti. Tapi, tetap saja, orang-orang yang berikhtiar lebih keras, cenderung lebih cepat mendapatkan jodohnya daripada orang-orang yang menunggu datangnya jodoh. Karenanya, kita pun harus introspeksi diri, seberapa besar usaha kita untuk mendapatkan jodoh tersebut…

Lalu, apa fungsinya Do’a ? Nah, Do’a adalah harapan terhadap kondisi ideal yang kita inginkan dan kita minta kepada Allah. Salah satu alasan mengapa Do’a tidak langsung dikabulkan adalah karena Allah lebih mengetahui kondisi kita yang sebenarnya daripada kita sendiri. Karenanya, agar Do’a kita terkabul, sering kali Allah menyiapkan kondisi kita terlebih dahulu. Caranya, mungkin melalui kemantapan hati ketika mengambil suatu keputusan, atau rasa gelisah ketika akan melakukan sesuatu yang salah, yang jelas, bentuk pengabulan do’a ini sangat jarang sekali yang langsung. Misalkan, kita ingin menjadi orang yang sholeh, kemudian kita berusaha untuk mencari lingkungan yang baik agar kita bisa menjadi sholeh. Nah, dalam pencarian itulah, biasanya Allah menolong kita, misalnya dengan memberikan rasa tenang ketika kita bertemu orang-orang yang sholeh, atau ketika berada di lingkungan tersebut, sehingga kita merasa betah berada disana, dan pada akhirnya, karena sering bergaul, pelan-pelan kita pun menjadi orang yang sholeh. Tidak ujug-ujug jadi sholeh, bisa hancur dunia persilatan. Allah hanya memberikan tuntunan, melalui sinyal-sinyal yang dia berikan, keputusan tetap ada pada kita. Jadi, Allah tidak memperlakukan kita seperti bidak catur…”Kamu, ke sini aja ya…? biar ntar ke neraka….” , “Nah, kamu kesana aja…supaya masuk surga..”…Saya kira tidak begitu. Hal tersebut tentu saja tidak adil, percuma saja kita hidup kalau misalkan Allah sudah menentukan “Kamu masuk Surga…”, “Kamu masuk Neraka…”. Dan untuk apa ada penghisaban di akhirat kalau jelas-jelas kita masuk neraka atau surga.

Dalam buku HAMKA tersebut, dijelaskan bahwa salah satu kemunduran umat Islam, dan menurut saya bangsa Indonesia juga, adalah menghindari Takdir, bukan menghadapinya. Kalau ingin kaya, aturannya bekerja keras, bukan diam atau malas-malasan, sementara kita lebih banyak bermalas-malasan, wajar kalau tidak kaya. Orang yang menghadapi takdir adalah mereka yang bekerja keras, sedangkan yang menghindari adalah mereka yang bermalas-malasan. Jadi,memang benar kalau segala yang baik itu datangnya dari Allah, karena Dia sudah menentukan segala sesuatunya dengan baik, kalau kita mengikuti dan memahami aturan-aturan yang ada, kita akan menemukan takdir yang baik. Sementara segala macam bencana, kecelakaan pada dasarnya memang hasil perbuatan dan kelalaian manusia juga. Contoh, banjir bandang, logikanya, banjir tersebut tidak perlu terjadi,jika hutan-hutan yang ada mampu menahan dan menyerap air tersebut. Tapi, karena hutan tersebut gundul, mengalirlah air tersebut tanpa hambatan, terjadilah banjir bandang. Siapakah yang menggundulinya ? Manusia juga. Jadi, bentuk “teguran” yang terjadi, biasanya sesuai atau akibat dari apa yang dilakukan oleh manusia.

Fenomena-fenomena alam yang terjadi juga, pada dasarnya adalah sunnatullah agar alam semesta ini tetap stabil. Gempa Bumi, letusan gunung merapi, dan lain-lain. Hanya saja, mungkin, pada saat itu Allah benar-benar “turun tangan” agar manusia tidak sombong dan lalai. Contoh pada kasus Tsunami di Aceh, mungkin yang terjadi pada saat itu bukan hanya semata-mata fenomena alam biasa, tapi mungkin memang Allah memberikan teguran secara langsung. Meskipun, secara ilmiah, masih bisa dijelaskan.

Intinya, campur tangan Allah di dunia ini, “diwakili” oleh ketentuan yang sudah Dia gariskan. Tidak turun tangan langsung seperti mengatur bidak-bidak catur. Dalam kehidupan kita, kita tidak bisa lepas dari aturan-aturan (ketentuan) tersebut. Bagaimanapun jalan kita, kita terikat oleh ketentuan tersebut. Namun, kita pun dibekali akal untuk memahami aturan-aturan tersebut, sehingga ketika kita memutuskan untuk melakukan sesuatu, kita tidak bertindak bodoh dan celaka karena melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan ketentuan. Namun, terkadang, dalam beberapa hal, Allah benar-benar mengambil alih dan “menyentil” kehidupan kita dengan caranya yang tidak bisa kita pahami.

Jadi, selamat menentukan arah takdir …

Wallahualam,

(*…Komentator : Hihihi…Lha, elu, kenapa juga belum dapet jodoh, pasti karena kurang usaha kan..?…*)
(*…Komentator : MAKANYA, USAHA DONG!!! IKHTIARRRRRRRRR..!!!!…JANGAN DIEM AJA!!!!*)
(*…Penulis : DIAAAAAMMMMMM!!…*)
(*…Komentator : Dasar!! Penulis yang anehhh…:p…*)


Hanya sedang ingin berbicara tentang misteri hidup….
S3K3L04A. 020706.20:06.

Comments

  1. 1
    didah
    January 27th, 2008 at 12:26 pm

    tidak ada seseuatu yang terjadi selain karena atas izin Allah.
    ihtiar atau tidak itu juga kehendak-Nya
    tidak ada keuatan sedikitpun yang mahluk miliki kecuali Dia yang memberi.
    manusia termasuk mahkluk Nya.
    ada satu keistimewaan yang di beri Nya yaitu bisa memilih
    bila ingin sukses tinggal ambil, bila ingin gagal berdiamlah.
    semua diberi, sehingga ada perubahan dan pengolah yang menjadi indah

  2. 2
    SURYO
    March 19th, 2008 at 12:27 pm

    Taqdir bisa dirobah dengan Doa. Kalau tidak berdoa takdir tidak berubah. Itulah hukum sebab akibat, kaitan dengan Takdir

  3. 3
    haniifa
    April 14th, 2008 at 7:56 pm

    Tapi nulis postingan juga usaha kan !!!
    Saya do’akan mudah-mudahan ada jang kepincut sama mas Donny yang imut-imut, klo… saya seeh udah amit-amit he.he.he… :D
    haniifa’s last blog post..Tahajud Perkuat Sistem Imun Tubuh

  4. 4
    joditiruyo
    April 25th, 2008 at 3:40 pm

    pas bahas jodoh kok dimulai dg Nah… dan “sepenuhnya”… Kan Allah baik -dan selalu baik- dg memberi penglihatan buat kita buat milih yg berjilbab atau bukan, yg mancung atau pesek, dan sejuta pilihan fisik lain yg bs kita inderai. Allh “membagi” rasa suka pada kita untuk kemudian kita cenderung pada yg seperti apa : hitam putih mancung tinggi cantik mata hitam biru dsb. Salam

  5. 5
    nedi
    April 28th, 2008 at 9:27 am
  6. 6
    bono
    May 17th, 2008 at 9:10 pm

    ada yang bilang bahwa rejeki orang udah di takar… katanya loe mau kerja kayak apapun ya segitu deh jatah loe…
    bener nggak kang? bingung aku…

  7. 7
    miftah
    August 5th, 2008 at 2:37 pm

    wah…q masih bingung konsep antara taqdir dengan usaha atau iktiar. palagi yang paling sederhana menurut imam Al Ghazali

    miftah’s last blog post..isra’ mi’raj

  8. 8
    ELSI SOVIA
    August 5th, 2008 at 7:21 pm

    :tweety1: :tweety1:

  9. 9
    ughie,,,
    September 6th, 2008 at 7:01 pm

    Manusia hanya bisa berencana…
    tapi Allah lah yang menentukan.

  10. 10
    banian
    October 12th, 2008 at 2:32 am

    menurut gw takdir itu bukan pada hasil akhir seperti yg dipahami kebanyakan orang secara umum..tp menurut gw takdir itu adalah ATURAN MAIN yg sudah ditetapkan oleh Tuhan yang Maha Segalanya..
    http://banian.wordpress.com

  11. 11
    meelala
    November 21st, 2008 at 2:10 pm

    kalau tentang kematian bagaimana ? masalah kematian saya masih berfikir terus sampai saat ini, apakah benar umur manusia sudah ditentukan Allah ? dan umur itu hak allah mutlak ,manusia tidak dapat mengubahnya ,kadang saya berfikir manusia harus menjaga kesehatan agar umurnya panjang, tidak merokok dll, dan waktu terkena penyakit mendapatkan penanganan yang profesional dari yang ahli.tapi kadang saya juga bingung sama2 perokok tapi yang satu meningggal yang lain berumur panjang. saya berfikir bila waktu terjadi serangan jantung pada seseorng dan mendapatkan penangan yang semestinya mungkin orang tersebut masih hidup. tapi karena SDM kita masih jauh dari sempurna sehingga banyak yang mengalami serangan jantung tidak tertolong. padahal saya pernah baca seorang profesor undip mengalami serangan jantung di amerika dan alhamdulillah sampai sekarang masih hidup. karena SDM orang amerika bagus dan penangannyapun terampil sehingga orang tersebut tertolong, mungkin kalau kejadiannya di indonesia akan lain ceritanya.karena waktu itu langsung dilakukan operasi pada bagian yang terjadi sumbatan. itulah penangan yang tepat dan segera.Kadang saya juga berfikir seandainya dia tidak merokok dan waktu terjadi serangan jantung mendapatkan penanganan , yang benar mungkin sampai hari ini dia masih hidup. salahkah pemikiran saya ini . karena kadang saya menyesal dengan apa yang terjadi pada dia dan sering menyalahkan dan mengapa tidak begini , kadang saya juga berfikir bagi allah segala mudah mengapa pada waktu terjadi serangan jantung tidak ditiup saya bagian pembuluh darah yang tersumbat, jadi kan dia masih hidup.waallahhuaklam. mohon tanggapan

  12. 12
    irma
    December 3rd, 2008 at 3:54 pm

    ya mungkin itulah takdir meelala. Allah yg mengatur se2orang itu rezekinya sebanyak apa, bisa keluar negeri atau nggak, mungkin Allah pulalah yang menentukan kecenderungan seorang manusia itu untuk kelak jadi perokok atau tidak. maaf bila tanggapan saya ada salah2 pemikiran dll.

  13. 13
    slamet
    December 8th, 2008 at 11:16 pm

    ketika di syam(syiria, palestina dan sekitarnya) terjadi wabah, Umar bin khattab yang ketika itu bermaksud berkunjung kesana membatalkan rencana beliau, dan ketika ittu tampil seorang bertanya :
    “Apakah anda lari/menghindar dari takdir Tuhan?”
    umar menjawab :
    “Saya lari/menghindar dari takdir Tuhan kepada takdir-Nya yang lain.”

    jadi takdir mausia adalah untuk memilih takdir-takdir yang sudah ditentukan oleh Tuhan.

    andaikata manusia bisa membuat robot/wayang yang takdirnya terbatas,
    maka Tuhan membuat manusia dengan takdir yang kita tidak mungkin tahu batasnya, dan pasti lebih baik daripada robot buatan manusia.

    ingat jangan menyamakan(berfikir ada yang sama) Tuhan dengan manusia

    seandainya kita berpikir bahwa takdir manusia seperti robot/wayang maka itu sama juga menyamakan Tuhan dengan manusia, karena kita menyamakan manusia yang ciptaan tuhan dengan robot/wayang ciptaan manusia

  14. 14
    resep masakan
    April 28th, 2009 at 11:54 am

    Wah dalem banget, bravo donny,ulasannya menyegarkan hati

  15. 15
    Zubaidi Kailani
    April 29th, 2009 at 12:41 pm

    Menurut : team Dakwatuna takdir ada 4 macam :
    Takdir Azali: yang tertulis di “Lauhmahfud” (lihat QS Al Hadid: 22)
    Takdir Umuri: yang diberlakukan pada awal penciptaan manusi,…… Kemudian Allah mengutus seorang malaikat yang diperintahkan untuk meniupkan ruhNya, mencatat empat perkara :rizki,ajal, sengsara, bahagia.. (HR Bukhari)
    Takdir samawi : dicatat pada malam lailatul Qodar, (baca QS Ad Dukhan: 4-5)
    Takdir Yaumi:untuk semua peristiwa yang akan terjadi dalam 1 hari. (QS Ar Rahman: 29).
    Subhanallah, saya sadar memeng ilmu kita ini sangat terbatas.

  16. 16
    renita
    May 5th, 2009 at 5:50 pm

    Assalamu’alaikum
    As i for one, takdir memang sudah dituliskan dalam kehidupan awal kita, tapi kita tidak boleh menyerah menghadapi takdir. APakah kalau kita ditakdirkan miskin, lalu kita tidak bekerja? tentu tidak kan?
    saya percaya semua sudah ditulis, tp saya akan tetap berusaha mendapatkan apa yang saya inginkan, setinggi dan sebaik mungkin.
    kita harus “merebut” impian kita dari tangan Allah, bukankah Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai kaum tsb benar2 ingin mengubahnya. Aku sih simple2 aja, yg penting jalani hidup, menafsirkannya secara sederhana karena memang otaknya pas2an :).
    Wassalam

  17. 17
    sky
    November 6th, 2009 at 8:45 am

    APakah kalau kita ditakdirkan miskin, lalu kita tidak bekerja? tentu tidak kan?

  18. 18
    teddy
    January 5th, 2010 at 7:23 pm

    ulasan nya bagus banget…sipp

  19. 19
    secureid3
    March 5th, 2010 at 4:20 pm

    ngomong2 soal om jaf, saya pernah baca buku karya blogfam yang tadinya adalah cerita berantai yang berjudul The Messenger, bahasanya santai tapi kocak

  20. 20
    desi
    March 14th, 2010 at 9:17 pm

    I love Donny..
    Let’s Keep thinking about life and do the best!!

  21. 21
    wijaya
    March 22nd, 2010 at 9:40 pm

    menurut saya yang namanya takdir itu adaah batasan atau aturan misalnya seperti manusia tidak bisa terbang, itu lah menurut saya takdir,,dan takdir itu bisa dirubah dimana dijelaskan bahwa kita merubahnya dengan doa dan usaha.. kita sebagai manusia telah dikaruniai akal yang kuat sebagai usaha kita merubah takdir yaitu dengan menggunakan akal misalnya tadi kita tidak bisa terbang dengan adanya akal kita bisa membuat kapal terbang dan ahirnya manusia pun bisa terbang.. hingga ahirnya takdir berubah bahwa manusia bisa terbang..

  22. 22
    budi
    May 31st, 2010 at 1:14 pm

    Ijin copas untuk di share kepada teman-teman saya yang lainnya yah.. :D

Trackbacks

  1. Sebaiknya Mengubah ataukah Memilih Takdir? « Manajemen Amal
  2. Karena sudah ditakdirkan, perlukah mencari jodoh? « Manajemen Amal

Leave a Comment

blank