Takdir: Rezeki, Jodoh dan Kematian

Epilogue
Sebelum membaca keseluruhan tulisan ini, saya ingatkan bahwa tulisan ini mungkin agak panjang, dan mungkin akan bikin mikir-mikir juga…mungkin loh…hehehe…soalnya, saya juga bikinnya mikir habis-habisan. Harap dipahami bahwa tulisan berikut ini bukan untuk menyesatkan orang lain…(serem amat, pake menyesatkan segala…)…tapi, tulisan ini hanya gambaran dari pemahaman saya terhadap Tema yang saya angkat. Pemahaman berdasarkan perenungan dan pemikiran yang selama ini saya lakukan, jadi selama hayat masih dikandung badan, tentunya akan selalu berubah jika memang ada koreksi atau informasi yang lebih kuat dan lebih benar. Selamat membaca…(mode PD : on)…:D
————————————————————————————–

Tentang Takdir

Konsep takdir, selalu menjadi perdebatan dan pertanyaan banyak orang. Belakangan ini, saya cukup banyak menemukan pertanyaan atau pun diskusi-diskusi tentang takdir. Bagi Umat Islam, Takdir merupakan bagian daripada Aqidah, karena merupakan bagian daripada Iman terhadap Qadla dan Qadar, dimana kata Takdir ini merupakan kata yang berasal dari Qadar. Karenanya, pemahaman tentang takdir ini sangat penting bagi seorang muslim. Sebab, pemahaman akan takdir ini akan menentukan arah dan sikap seorang muslim terhadap berbagai hal yang terjadi selama hidupnya. Karenanya, banyak juga ulama-ulama yang membahas konsep takdir ini dalam buku yang mereka buat.

Mengenai takdir ini, terdapat 3 golongan yang memahaminya secara berbeda. Golongan pertama, yang berpendapat bahwa manusia itu tidak bebas sama sekali, apa yang kita lakukan, sudah ditentukan oleh ALLAH. Golongan yang kedua, berpendapat bahwa kita sangat bebas, apa pun yang kita lakukan, tidak ada campur tangan Tuhan sama sekali. Dan golongan terakhir yang berpendapat bahwa apa pun yang kita lakukan semuanya ada dalam aturan-aturan Allah, ada campur tangan Allah, tapi kita pun memiliki pilihan untuk melakukan sesuatu.

Saya sendiri, jauh sebelum mengenal konsep takdir, memiliki pemahaman tersendiri berdasarkan hasil berfikir dan merenung. Dalam buku Pengajaran Agama Islam karya HAMKA, disebutkan bahwa arti Qadla itu adalah aturan, sedangkan Qadar adalah ukuran. Jauh sebelum membaca buku tersebut, saya berfikir bahwa segala hal yang ada di muka bumi ini, tunduk pada hukum sebab-akibat. Buat saya, pemahaman terhadap Qadla dan Qadar itu sederhana saja. Apapun yang terjadi di bumi ini, pasti ada sebabnya, bahkan kematian, rezeki dan jodoh pun tunduk pada hukum ini. Dalam buku tersebut juga dikatakan bahwa hukum sebab-akibat ini lah yang kemudian disebut dengan Sunatullah. Dalam ajaran Islam, segala yang ada di muka bumi ini mengikuti Sunnatullah, aturan Allah. Itulah Qadla. Sedangkan Qadar adalah ukuran dari aturan-aturan tersebut. Besar-kecil (ukuran) usaha atau ikhtiar dalam mengikuti aturan tersebut akan menentukan hasil, karenanya hasil dari usaha inilah yang disebut dengan takdir.

Saya tidak pernah berfikir bahwa Allah mengatur kehidupan manusia ini seperti kita memainkan catur. Tidak seperti itu. Karenanya, saya tidak setuju dengan golongan yang pertama. Buat saya, campur tangan Allah itu ada pada aturan-aturan yang Dia buat. Dan kita, sebagai manusia, ada dalam aturan-aturan tersebut, sehingga kita pun tidak bebas sama sekali dari campur tangan Allah. Karenanya, saya pun tidak sepakat dengan golongan yang kedua. Lalu, aturan yang seperti apa kah yang sudah Allah tentukan ? Segala macam aturan. Tidak hanya tentang aturan bagaimana hidup yang benar, tapi juga aturan-aturan terhadap alam semesta. Umur, mati, sehat, sakit, tua, rusak, itulah aturan-aturan Allah.

Contoh sederhananya begini, kita tahu, semakin tua umur suatu tali, akan semakin lapuk dan kemampuan untuk mengangkat dan menahan bebannya pun akan semakin berkurang, inilah Qadla. Katakanlah, jika dulu tali tersebut sanggup menahan berat 200 Kg selama berjam-jam, maka sekarang tali tersebut hanya mampu menahan beban seberat 50 Kg, itupun kurang dari 2 jam, inilah Qadar. Masalahnya adalah, kita tidak pernah tahu berapa beban yang sanggup tali tersebut tahan dan berapa lama, yang kita tahu, bahwa tali tersebut sudah tua dan lapuk. Karenanya, jika ingin selamat dari kecelakaan, ketika mengangkat benda dengan tali, atau ketika kita bergelantungan dengan tali, adalah dengan menghindari penggunaan tali yang tua tersebut. Kita tidak bisa menantang aturan Allah dengan nekat menggunakan tali tersebut dengan beban melebihi kemampuan tali. Karenanya, ketika kita nekat menggunakan tali tersebut, kemudian kita celaka, tidak bisa kita mengatakan,”Ini adalah ujian dari Allah…”, tidak seperti itu. Karena, Allah sudah memberikan kepada manusia akal untuk digunakan memahami aturan-aturan Allah tersebut, jika kemudian kita menentang akal kita sendiri, dan kemudian terjadi kecelakaan, itu akibat kelakuan kita sendiri. Bukan karena Allah yang melakukan. Karenanya, kita harus intorspeksi, tidak bisa kita menyalahkan Allah. Takdir kita celaka, karena perbuatan kita sendiri. Allah sudah tentukan Qadar pada tiap aturan tersebut. Karenanya, kita harus menggunakan akal kita untuk memahami aturan tersebut dan memilih ketika melakukan sesuatu.

Kematian pun mengikuti aturan ini. Contoh pada kasus bunuh diri. Bisa jadi, orang yang melakukan bunuh diri belum saat nya mati. Bisa jadi, Allah sudah menentukan hari kematiannya di waktu yang lain. Tapi, akan menjadi berantakan segala aturan yang ada jika kemudian, misalnya, ada orang yang mencoba bunuh diri dengan minum baygon sampai ber-galon-galon, atau mencoba memegang setrum tegangan tinggi selama berjam-jam, masih hidup juga, alasannya, karena Allah belum menentukan hari kematiannya saat itu. Tidak seperti itu. Allah tidak akan sekonyol itu. Allah memang sudah menentukan saat kematian seseorang, tapi Allah pun tidak akan membiarkan aturan yang Dia buat menjadi berantakan. Karenanya, orang tersebut “harus” mati, agar aturan Allah tersebut tetap berjalan sebagaimana mestinya. Meskipun, sebetulnya, bukan saatnya dia mati. Karena itu lah, Allah melaknat orang-orang yang bunuh diri. Bayangkan, jika orang tersebut masih hidup, tentunya akan menyebabkan berbagai aturan kacau balau, ilmu pengetahuan menjadi berantakan, dan mungkin, akan ada ribuan orang yang mencoba minum baygon sebagai sarapan pagi….heu heu heu.

Kasus kecelakaan mobil atau motor karena ban pecah, tabrakan, rem blong, semuanya mengikuti aturan yang ada. Ban pecah, bisa terjadi karena tertusuk paku, atau tekanan udaranya kurang, atau umur bannya sudah tua, jadi bukan Allah yang memecahkannya, aturan Allah lah yang membuat hal itu terjadi. Kasus kecelakaan lainnya, seperti tabrakan kereta api, pesawat jatuh, kapal tenggelam, semuanya pasti ada sebab nya, dan biasanya karena adanya sunnatullah yang dilanggar. Tapi dari situ, kita seolah-olah ditegur oleh Allah agar melakukan segala sesuatu sesuai dengan aturan dan ukuran yang telah ditetapkan.

Khusus untuk urusan Rezeki dan Jodoh, saya agak kesulitan juga menjelaskannya, karena memang untuk kasus-kasus ini sering terjadi hal-hal yang agak “aneh”. Bukan tidak masuk akal, hanya saja pada beberapa kasus cenderung keluar dari aturan-aturan yang ada. Selain itu juga karena adanya persinggungan dengan “takdir” orang lain. Tapi, sebagian besar tetap terikat Sunnatullah yang sudah ada.

Dalam urusan Rezeki, Islam memerintahkan untuk bekerja keras. Ingin kaya, ya bekerja keras. Ingin urusan Rezeki lancar, carilah jalan masuknya rezeki yang baik. Karenanya, biasanya, urusan Rezeki ini berbanding lurus dengan besarnya Usaha, apa yang dikerjakan, dan pada siapa kita bekerja. Jadi, tidak bisa kita mengeluh, “Sudah kerja banting tulang, tapi masih kayak gini-gini aja (miskin)…”. Pertanyaannya adalah, apa yang dikerjakan ? Di mana bekerjanya? dan kerja pada siapa ? Kalau kerja keras siang malam, tapi hanya sebagai penarik becak, wajar saja kalau tidak kaya, karena memang pintu nya kecil. Kalau sebagai karyawan, wajar saja gajinya pas-pasan, karena besarnya gaji kita juga ditentukan oleh perusahaan. Tapi, kalau jadi seorang pembicara seminar, wajar saja bayarannya besar. Karenanya, urusan Rezeki sangat berhubungan dengan orang lain juga. Tapi, dunia ini membuktikan bahwa orang-orang yang sukses secara finansial adalah orang-orang yang tahu bagaimana dia harus bekerja, tahu apa yang harus dikerjakan, dan tahu pada siapa dia harus bekerja. Tidak asal, “pokoknya gua kerja”. Dan untuk mencapai ke level itu, yang paling dominan adalah kerja keras dan pengetahuan tentang strategi mencari rezeki. Karenanya, agar rezeki menjadi lancar, kita pun harus mengkondisikan diri kita pada situasi yang memang memungkinkan kelancaran rezeki tersebut. Tidak bisa hanya tidur dan diam, lalu berkata, “kalau udah rezeki mah pasti datang sendiri…”. Karena itu, keadaan finansial kita sekarang merupakan hasil dari kerja kita diwaktu yang lalu. Kalau misalkan kita kerja selama ini tidak kaya-kaya juga, carilah tempat yang lain, atau pekerjaan yang lain. Tidak mungkin hanya diam saja di tempat tersebut. Kalau misalkan sampai saatnya mati belum kaya juga, setidaknya kita sudah berusaha untuk mencari kualitas hidup yang lebih baik.

Meksipun ada juga kasus-kasus datangnya Rezeki dari arah yang “tidak bisa diduga”, tapi biasanya, hal tersebut juga terjadi dari usaha yang kita lakukan sebelumnya. Misalnya, kita sering menolong orang lain, atau berbuat baik kepada orang lain. Sebagai rasa terima kasih, maka orang yang ditolong tersebut memberikan uang atau rezeki lainnya kepada kita. Itu pun, pada dasarnya, akibat usaha kita juga. Jarang sekali ada orang yang kaya akibat nemu duit 1 milyar di jalan. Kalau warisan, itu lain lagi, biasanya warisan tersebut merupakan hasil dari kerja keras orang yang mewariskannya. Penerima waris hanya menerima hasilnya saja.

Nah, untuk urusan jodoh, memang “sepenuhnya” karena keputusan Allah. Biasanya, untuk kasus jodoh ini, campur tangan Allah dirasakan sangat besar. Karena, kadang, sebesar apa pun usaha yang kita lakukan, kalau memang orang yang kita incar tidak suka, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Karena, urusan hati ini, hanya Allah saja yang bisa membolak-balikkannya, tentu saja dengan caraNya yang terkadang tidak bisa kita mengerti. Tapi, tetap saja, orang-orang yang berikhtiar lebih keras, cenderung lebih cepat mendapatkan jodohnya daripada orang-orang yang menunggu datangnya jodoh. Karenanya, kita pun harus introspeksi diri, seberapa besar usaha kita untuk mendapatkan jodoh tersebut…

Lalu, apa fungsinya Do’a ? Nah, Do’a adalah harapan terhadap kondisi ideal yang kita inginkan dan kita minta kepada Allah. Salah satu alasan mengapa Do’a tidak langsung dikabulkan adalah karena Allah lebih mengetahui kondisi kita yang sebenarnya daripada kita sendiri. Karenanya, agar Do’a kita terkabul, sering kali Allah menyiapkan kondisi kita terlebih dahulu. Caranya, mungkin melalui kemantapan hati ketika mengambil suatu keputusan, atau rasa gelisah ketika akan melakukan sesuatu yang salah, yang jelas, bentuk pengabulan do’a ini sangat jarang sekali yang langsung. Misalkan, kita ingin menjadi orang yang sholeh, kemudian kita berusaha untuk mencari lingkungan yang baik agar kita bisa menjadi sholeh. Nah, dalam pencarian itulah, biasanya Allah menolong kita, misalnya dengan memberikan rasa tenang ketika kita bertemu orang-orang yang sholeh, atau ketika berada di lingkungan tersebut, sehingga kita merasa betah berada disana, dan pada akhirnya, karena sering bergaul, pelan-pelan kita pun menjadi orang yang sholeh. Tidak ujug-ujug jadi sholeh, bisa hancur dunia persilatan. Allah hanya memberikan tuntunan, melalui sinyal-sinyal yang dia berikan, keputusan tetap ada pada kita. Jadi, Allah tidak memperlakukan kita seperti bidak catur…”Kamu, ke sini aja ya…? biar ntar ke neraka….” , “Nah, kamu kesana aja…supaya masuk surga..”…Saya kira tidak begitu. Hal tersebut tentu saja tidak adil, percuma saja kita hidup kalau misalkan Allah sudah menentukan “Kamu masuk Surga…”, “Kamu masuk Neraka…”. Dan untuk apa ada penghisaban di akhirat kalau jelas-jelas kita masuk neraka atau surga.

Dalam buku HAMKA tersebut, dijelaskan bahwa salah satu kemunduran umat Islam, dan menurut saya bangsa Indonesia juga, adalah menghindari Takdir, bukan menghadapinya. Kalau ingin kaya, aturannya bekerja keras, bukan diam atau malas-malasan, sementara kita lebih banyak bermalas-malasan, wajar kalau tidak kaya. Orang yang menghadapi takdir adalah mereka yang bekerja keras, sedangkan yang menghindari adalah mereka yang bermalas-malasan. Jadi,memang benar kalau segala yang baik itu datangnya dari Allah, karena Dia sudah menentukan segala sesuatunya dengan baik, kalau kita mengikuti dan memahami aturan-aturan yang ada, kita akan menemukan takdir yang baik. Sementara segala macam bencana, kecelakaan pada dasarnya memang hasil perbuatan dan kelalaian manusia juga. Contoh, banjir bandang, logikanya, banjir tersebut tidak perlu terjadi,jika hutan-hutan yang ada mampu menahan dan menyerap air tersebut. Tapi, karena hutan tersebut gundul, mengalirlah air tersebut tanpa hambatan, terjadilah banjir bandang. Siapakah yang menggundulinya ? Manusia juga. Jadi, bentuk “teguran” yang terjadi, biasanya sesuai atau akibat dari apa yang dilakukan oleh manusia.

Fenomena-fenomena alam yang terjadi juga, pada dasarnya adalah sunnatullah agar alam semesta ini tetap stabil. Gempa Bumi, letusan gunung merapi, dan lain-lain. Hanya saja, mungkin, pada saat itu Allah benar-benar “turun tangan” agar manusia tidak sombong dan lalai. Contoh pada kasus Tsunami di Aceh, mungkin yang terjadi pada saat itu bukan hanya semata-mata fenomena alam biasa, tapi mungkin memang Allah memberikan teguran secara langsung. Meskipun, secara ilmiah, masih bisa dijelaskan.

Intinya, campur tangan Allah di dunia ini, “diwakili” oleh ketentuan yang sudah Dia gariskan. Tidak turun tangan langsung seperti mengatur bidak-bidak catur. Dalam kehidupan kita, kita tidak bisa lepas dari aturan-aturan (ketentuan) tersebut. Bagaimanapun jalan kita, kita terikat oleh ketentuan tersebut. Namun, kita pun dibekali akal untuk memahami aturan-aturan tersebut, sehingga ketika kita memutuskan untuk melakukan sesuatu, kita tidak bertindak bodoh dan celaka karena melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan ketentuan. Namun, terkadang, dalam beberapa hal, Allah benar-benar mengambil alih dan “menyentil” kehidupan kita dengan caranya yang tidak bisa kita pahami.

Jadi, selamat menentukan arah takdir …

Wallahualam,

(*…Komentator : Hihihi…Lha, elu, kenapa juga belum dapet jodoh, pasti karena kurang usaha kan..?…*)
(*…Komentator : MAKANYA, USAHA DONG!!! IKHTIARRRRRRRRR..!!!!…JANGAN DIEM AJA!!!!*)
(*…Penulis : DIAAAAAMMMMMM!!…*)
(*…Komentator : Dasar!! Penulis yang anehhh…:p…*)


Hanya sedang ingin berbicara tentang misteri hidup….
S3K3L04A. 020706.20:06.

loading...

35 Comments

  1. Mauzan

    Saya mau bertanya sebenarnya takaran seseorang itu berjodoh dengan orang lain itu seperti apa?
    1. Apakah sampai di pelaminan (menikah)?
    2. Apakah sampai salah satu dari pasangan meninggal lalu tidak menikah lagi sampai ajal menjemput (setia sampai mati)?

    Bagaimana jika:
    1. Seorang menikah, lalu bercerai, lalu menikah lagi?
    2. Seorang memiliki istri lebih dari satu?
    3. Seorang yang ditinggal mati oleh pasangannya yang ia cintai, kemudian ia menikah lagi dgn orang lain?

    Yang manakah yang dimaksud jodoh jodoh itu?
    Maaf jika pertanyaannya terlihat aneh..

    • Paimo

      Menurut saya, makna jodoh secara lebih luas adalah “bertemu”. Jika kita dipertemukan dengan orang lain maka kita berjodoh dengan orang itu.

    • jawaban yang pertama seorang menikah,bercerai,menikah lagi yaitu orang berjodoh ketika menikah kemudian tidak berjodoh lagi ketika bercerai kemudian berjodoh lagi ketika menikah lagi
      jawaban kedua orang memiliki isteri lebih dari satu yaitu orang itu berjodoh dengan semua isterinya itu
      jawaban yang ketiga sebelum meninggal maka berjodoh ketika meninggal maka tidak berjodoh lagi dan ketika menikah lagi berjodoh kembali dengan yang dinikahi itu

  2. anandar

    Artikelnya keren, boleh nih di share di fb.
    Heeee

  3. Hangudi

    Renungan yg cukup logis & jenaka. Meskipun ada komen2 sok rohani, tp mungkin ditulis sambil mabuk shg layak untuk tidak diteruskan ngebacanya. Scr keseluruhan siip

  4. ogiw

    Mnurut aku.. takdir mati bukan berarti kmatian seseorang sdh dtntukan waktunya. Tp mati adalah proses dan smua kmatian slalu ada sbab baik sakit, kcelakaan, dbunuh, bunuh diri . Smua yg ada di alam ini mmiliki batas kekuatan. Skalipun itu batu Tidak ada yg abadi, kcuali Allah. Contoh yg sderhana ‘ponsel’ jika dgunakan dan diperlakukan dengan baik maka dia akan tahan lama. Tdk dpakai pun pasti rusak dan mati. Apalagi kalau di perlakukan buruk. Jatuh dsb. Sama halnya dengan manusia. Kmatian itu pasti dan ketika mnuju kematian slalu ada pilihan. Contoh. Naik motor maka pilihannya jika tdk hati2 bisa dtabrak dan mati.tapi Kalau hati2 bisa terhindar dari kmatian itu. Sama halnya dengan takdir jodoh dan rezeki. Smuanya adalah pilihan. Allah menciptakan manusia berpasang pasang2an. Laki2 dan perempuan. Laki2 harus mencari “jodoh” perempuan. Itu takdirnya. Jadi tinggal pilih wanita atau laki2 mana yg mau dijadikan jodoh qt. Pilihlah jodoh yg dianjurkan oleh Allah. Soleh, solehah dsb. Untuk rezeki.. Allah telah menciptakan smua yg ada dimuka bumi ini sebagai rezeki yang bisa dmanfaatkan oleh smua mahkluknya. Tinggal pilih mau memanfaatkan atau mengolah rezeki yg mana. Bukankah qt sudah dbekali akal..Dari air, batu, tanah, tumbuhan segalanya. Tdk ada orang yg malas menjadi orang kaya. Allah tidak mentakdirkan itu. Orang gila djalanan pun mencari rezeki. Tidak diam. Dari semua takdir itu Allah tetap “Maha berkehendak” selalu ada pengecualian. ketika doa qt dkabulkan. Ktika ada keajaiban smua smata2 untuk menunjukkan KebesaranNYA..Mungkin itu pemahaman saya.. Mohon maaf kalau ada yg slah. Trima kasih

    • kematian adalah takdir Allah jika mati adalah pilihan .maka manusia pada pengin mati tua karena itu takdir adalah kekuasaan Allah buktinya banyak anak anak yang mati kalo kematian itu pilihan kenapa anak yang mati itu tidak memilih mati ketika tua.demikian juga jodoh juga takdir Allah.karena semua sudah tertulis.kalaupun mereka memilih pasangan ataupun jalan hidupnya sendiri maka pilihan orang itupun juga sudah ditulis oleh Allah sebelum Allah menciptakan langit dan bumi

  5. RN

    mas, sayang sekali ya gak ada dalilnya sama sekali… 🙂 Hati2 aja mas dalam soal aqidah gak boleh berasumsi loh…

    Saya ingin menguji kebenaran konsep yg anda yakini. Bagaimana anda mengetahui bahwa yg Allah tentukan sejak awal hanyalah umur, mati, tua, sehat, dan rusak, dan “bukan” yang lainnya juga? ^^ Lalu, jika anda tidak meyakini bhw Allah telah menakdirkan perbuatan/amalan manusia, berarti anda menganggap bhw Allah “tidak” mengetahui apa yg akan manusia lakukan? 😀 berarti Allah gak tau tuh masa depan kondisinya akan kayak gimana…

  6. Dedi H

    Setuju banget brayyyy, terutama tentang Jodoh kenapa kita belum dapet jodoh
    Karena memang hati kita belum siap dengan jodoh kita, makanya Tuhan belum mempertemukan dengan jodoh kita

  7. usman

    Anak saya brapa usia sya sampai brapa karir saya gimana

  8. okii

    cari tau aja.

    • Wildan

      Sebelumnya saya boleh bertanya ????
      Analoginya yang anda beri bahwa motor ban picah ataupun apa itu ,,, sebenarnya itu nasib seseorang yang belum mujur apa takdir ???
      Tolong kamu bedakan apa perbedaan antara nasib dan takdir ???

  9. hary

    wah.. ini nih yg saya cari-cari.. buat TS boleh tidak klo saya ganggu waktu nya buat tanya2 tentang takdir.. kayaknya bakalan seru ya bertukar pikiran dgn anda

  10. eka

    jazaakillah katsiran sya suka ……..

  11. marzuki

    Hal seperti ini tidak dapat kita fahami hanya dengan berasumsi secara akal saja. Kita harus berpedoman pada Al-qur’an dan Hadist, yang seharusnya didampingi oleh ustadz yang ahlinya dibidang tasawuf

  12. Syaim

    Setau gue sesuatu yg sudah terjadi dan tidak bisa di ubah lagi itu namanya takdir.
    contoh anda dilahirkan sebagai anak lelaki maka itu takdir gak bs di ubah.

    And sesuatu yg belum terjadi dan masih bisa di ubah itu namanya qadla.
    contoh anda bodoh msh bisa di ubah anda belajar,masa depan byk lg deh.setau gue getho…

  13. jodoh itu termasuk takdir allah bukanlah pilihan dari manusia berdasarkan hadist tuhan berfirman kepada pena Tulislah!maka pena menjawab apa yang kutulis wahai Tuhanku Allah berfirman Tulislah segala sesuatu sampai hari kiamat.maka pena pun menulis segala sesuatu baik yang besar maupun terperinci.berdasarkan hadist bahwasanya Allah menulis takdir makhluk 50 000 tahun sebelum menciptakan langit dan bumi.berdasarkan hadist.ketika janin berusia 40 hari maka ketika ruh akan ditiupkan maka malaikat bertanya tentang jenis kelamin rezki ajal dan sengsara dan bahagianya.berdasarkan hadist dari ibnu umar bahwa tidaklah sempurna iman seseorang apabila tidak percaya terhadap takdir.berdasarkan hadist ibnu abbas sebelum Allah menciptakan makhluknya Dia menciptakan pena Dia berada di atas Arsy kemudian Dia melihat pena dengan penglihatan kebesaran sehingga pena itu terbelah dan menetekan tinta dan pena itu menulis apa yang bakal terjadi sampai hari kiamat.tentang ketentuan baik jelek bahagia celaka itulah firman Allah Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata yaitu dalam Lauhul Mahfudz.jika ada yang bertanya jika ada orang yang memilih antara 2 orang a dan b untuk dijadikan pasangan berarti orang itu bisa memilih.maka bisa dijawab bahwa benar bahwa orang itu memilih akan tetapi pilihan dari orang itu adalah merupakan takdir allah yang telah ditulis sejak dahulu.maka dapat dikatakan telah keringlah pena yang menulis ketentuan makhluk sampai hari kiamat.

  14. hary

    pasti udah tau kan klo jodoh udah tertulis di lauhul mahfudz.. nah sya sendiri percaya, klo sya berusaha pasti bisa dapat, nah, manusia kan diberi anugrah kebebasan buat memilih nih.. klo mulai detik ini saya gak akan keluar rumah, lalu jikalau takdir jodoh sya udah tertulis duluan sblum sya lahir, apa sya bakalan dpt jodoh ?
    atau mungkin d kitab takdir sya sudah tertulis duluan kalo sya ngga akan dpt jodoh selama hidup d dunia..
    lalu “pilihan” yg sya buat untuk diam terus di rumah itu takdir yg sya buat sndiri atau memang dari Allah ?

    sedangkan setahu saya klo 3 perkara di lauhul mahfudz itu udah mutlak hasilnya.. dan dengan “pilihan sya untuk tidak berjodoh” apa itu jg udah tertulis dluan? kan sya memulai pilihan itu baru skrg..

  15. Ummu Khaerah Irsyam

    Assalamualaikum wr.wb
    Kak saya mau bertanya, kalau boleh minta emailnya.. Makasih sebelumnya..

  16. Jamain

    Soal Taqdir diatas sungguh hebat, tapi itu perkiraan Dony Reza saja. Kenapa tdk ada argumen syar’i yang menununjang, lagi pula tdk diperlihatkan hubungannya dengan waktu.

  17. Dzinnu roini

    Assalamu’alaikum
    Saya bersyukur karena dimasa ini tidak sedikit org islam yg berakal dan benar” cerdas dlm memahami ajaran alqur’an yg kontekstual, dlm konsep takdir pemahaman kita hampir sama
    Saya hanya ingin menambahi, sedikit tentang pendasaran dari dalil di Alqur’an, sblm itu kita harus mengetahui sifat” allah terlebih dahulu, bahwa Allah maha mengetahui, Allah maha adil, bijaksana, pengasih, dan penyayang, jadi tidak mungkin allah menentukan setiap prilaku atau bahkan titik akhir seseorang, contoh adalah allah tdk mungkin menakdirkan manusia untuk sesat (attawbah: 115) atau masuk neraka, karena maha adil allah jg menciptakan surga neraka untk memberikan balasan bagi umat manusia, tidak mungkin allah mengadakan sebuah hukum untk makhluknya yg hukum itu keinginan dari allah sendiri, kita jg harus tau tujuan allah menciptakan manusia di muka bumi ini yaitu untuk menjadi seorg khalifah (albaqoroh ayt 30), dan itu adalah kehendak allah bukan ketentuan allah, manusia diciptakan untuk menjadi khalifah bukan menjadi bidak catur atau boneka yg bisa digerakkan, namun jika kita berdoa allah akan menjawab doa kita melalui sunnatullohnya, dan cukup banyak ayat-ayat lainnya, yg apabila saya bahas akan menjadi panjang

  18. DEDY

    80% Setuju sekali atas ulasannya. Secara garis besar memang itu yg dimaksud/yg di inginkan AlQuran. Kawan2 sekalian pahamilah “Allah” sebagai “Aturan” QS.4(Annisa) : 59. Bukan berarti Mengabaikan “Allah” Sebagai “Zat” yang Menciptakan. Karena AlQuran diBuat/diturunkan sebagai Aturan Hidup dan Kehidupan ‘manusia’. QS: 2 : 185.
    Jangan berpikir susah dalam memahaminya (aturanNya), jangan berpikir harus mempunyai ilmu khusus dan tinggi untuk memahamiNya(AlQuran). Karena AlQuran telah menjelaskan dalam AlQuran itu sendiri. QS:75 : 19. Karena Allah menurunkan AlQuran tidak untuk menyusahkan umatnya dalam memahami QS: 20:2.
    Mungkin hanya sedikit yg bisa saya sharing. Maaf kalau kurang berkenan.

  19. oebetz

    Qm ditakdirkan utk menulis artikel ini,dan aku ditakdirkan membaca artikel ini!!! Knp bs begitu krn ada syarat,syariat dan hakikat!!! Berpeganglah dgn al’quran dan hadist… Pasti selamat

  20. rahmat

    Semue pade kudu belajar payah payah….

  21. sri

    Menurut yang saya ketahui takdir itu ada 2 pertama takdir yang tidak dapat diubah dan yang kedua takdir yang dapat diubah. Nah menurut pemikiran saya takdir yang tidak dapat diubah adalah HASILNYA apapun yang kita lakukan kita tidak bisa mengubah hasil itu dan takdir yang dapat diubah adalah PROSESNYA atau usaha kita menuju hasil itu. Bagaimana menurut anda pemikiran saya?

  22. Jafar

    Assalamualaikum wr wb ..
    Saya seorang awam,
    Sya interest dgn artikel saudara, namun selama ini sebelum sya mampir di blog anda saya selalu ingin menjawab pertanyaan yang masih terhambat dalam benak saya, namun blm terjawab sampai detik ini, pun stelah mmbaca artikel saudara, namun jujur sya appreciate dgn artikel saudara.
    Oke kita open case “ex. Dewasa ini kita di hebohkan oleh Kasus pemerkosaan yuyun oleh beberapa orang tidak bermoral, yuyun sendiri disini tidak tahu dia akan di perkosa atau tidak,, bayangkan oleh saudara apakah ini settingan tuhan?sedangkan dalam islam kita harus percaya takdir (sekali lagi saya seorang awam dan patut di koreksi) dan itu telah di atur di lauh mahfudz, allahu alam bi ash-shawab.
    bila ini benar memang takdir (taqdir mua’allaq/taqdir mubram)? Bijaksanakah kita manusia meretas hidup sebatas taklid ? Dia meninggal dalam keadaan yang tidak dia inginkan dan sungguh miris..
    Adakah tuhan “mencampuri” perkara ini?
    Sekali lagi saya seorang awam .
    Wass. Wr. Wb ..
    jazakumullahu khairan .,

  23. hendrik

    Kl mau dalil coba perhatikan diantara nya sdh 22:5 tentang penciptaan manusia Dan taqdir USIA juga am muminun sdh 23:12-15..cari juga tafsirnya ttg itu.

  24. Geulis

    Setiap jam, menit, dan detik kita tdk luput dari yg namanya takdir. Setiap masalah hanyalah sebab kenapa takdir terjadi. Manusia tidak memiliki ruh tidak bisa berbuat apa2, jadi segala sesuatunya Dia yang menggerakkan baik jiwa maupun raga, baik keinginan maupun kehendak. Hanya ingat tetap berusaha untuk menjadi baik hanya demi Allah.

  25. rara tuti

    Di katakan takdir itu setelah terjadi, klu belum terjadi ya belum takdir alias kita di beri kesempatan untuk tawakal dlm berusaha apapun,sesuai aturan allah swt.

  26. corocoZ

    Mantaaaffff.. akan lebih baik jika disertakan ayat alquran dan hadits spy yg baca jadi bisa lebih menerima dan memahami takdirnyA.

  27. Adit

    Memang semua ada sebab dan akibat. Tapi jika manusia tidak merusak alam bisakah kiamat terjadi? Jadi bagaimana yg nama nya takdir?

  28. Rina

    Ulasan yang bagus dan mudah di pahami, perbuatan baik akan mengantarkan kita pada takdir baik demikian sebaliknya.
    kaya main game… kita harus tahu di mana pundi pundi bonus atau pahala berada untuk naik pada level selanjutnya.

    Orang orang yang soleh akan meningkatkan keimannya dengan tawakal dan istiqomah di jalan Allah lengah sedikit saja langkah kaki tergeser di jurang nafsu dan kesombongan diri yang akhirnya bertemu dengan takdir buruk karena perbuatan kita sendiri.

    Surga dunia dan surga akherat kita yang menentukan sendiri dan semua itu dengan membaca atau ilmu………….

    Salam,

  29. rizky palala

    kak bleh mnta fb ny ngak,,,,trmakch sblmny’,,

  30. salapu.soleh

    KEHIDUPAN SUDAH DIRANCANG ALLAH”SEBELUMNYA”
    TINGGAL MANUSIA ITU SENDIRI MAU JALAN YG IA PILIH”
    Seseorang jika ingin menjalan kebaikan,. nanti akan begini dan begini”.
    seseorang menjalankan kejahatan akibatnya akan begini dan begini”.
    Dua jalan ada dua pilihan. jika jalan yg dipilih neraka, pedahal ia belum menyadari, jalan yg menganggap dia masuk neraka, karena manusia diciptakan lalai” ia tidak menggunakan akal dan pikirannya,.dia menggunakan naluri kesenangan hidup” [Hawa napsu]=keinginan senang tidak memakai akal dan pikiran”. dalam al-qauran disebutkan banyak orang dineraka itu orang yg malas,dan lalai.
    “”REZKI MENGIKUTI UMURNYA”
    Taukah kamu,takaran “REZKI” setiap Manusia,MENGIKUTI UMURNYA”
    Jika Takdir takaran Rezkinya sedikit,Hendak diambil semua” Maka Umurnya pendek”.,
    Jika Rezkinya Di-Banyakan,maka ia tidak bekerjapun,Rezki datang dengan tunduk dan patuh berdiri didepannya.

    Ingin umur panjang?…Biarlah rezeki mengalir,dengan sendirinya”. sedapetnya. pergilah keluar dari rumahmu,Nanti Allah akan menunjuki”
    jalan dan menuntunnya.kemana Allah menghendaki,.
    COBA RENUNGKAN:
    bAYI YG BELUM LAHIR SUDAH DIBERI REZKI DENGAN MEMAKAN PAKAI TALI PUSAr”
    Bayi yg baru lahirpun sudah disiapkan rezkinya dengan meminum air susu ibu, tampa kerjakeras hanya menyedot, dari puting ibu”. sudah dua tahun, oto matis susu ibu habis:
    Ilustrasi ini bisa dipakai bahwa,
    ketaatan lah pada allah maka duniapun mengikutinya” seperti kita menanam padi, pastilah rumput akan hidup”,..sekarang kita balik” carilah duniamu, maka rumput yg tumbuh, padi tidak mengikutimu”.

Leave a Reply

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén