Takdir: Rezeki, Jodoh dan Kematian

Epilogue
Sebelum membaca keseluruhan tulisan ini, saya ingatkan bahwa tulisan ini mungkin agak panjang, dan mungkin akan bikin mikir-mikir juga…mungkin loh…hehehe…soalnya, saya juga bikinnya mikir habis-habisan. Harap dipahami bahwa tulisan berikut ini bukan untuk menyesatkan orang lain…(serem amat, pake menyesatkan segala…)…tapi, tulisan ini hanya gambaran dari pemahaman saya terhadap Tema yang saya angkat. Pemahaman berdasarkan perenungan dan pemikiran yang selama ini saya lakukan, jadi selama hayat masih dikandung badan, tentunya akan selalu berubah jika memang ada koreksi atau informasi yang lebih kuat dan lebih benar. Selamat membaca…(mode PD : on)…:D
————————————————————————————–

Tentang Takdir

Konsep takdir, selalu menjadi perdebatan dan pertanyaan banyak orang. Belakangan ini, saya cukup banyak menemukan pertanyaan atau pun diskusi-diskusi tentang takdir. Bagi Umat Islam, Takdir merupakan bagian daripada Aqidah, karena merupakan bagian daripada Iman terhadap Qadla dan Qadar, dimana kata Takdir ini merupakan kata yang berasal dari Qadar. Karenanya, pemahaman tentang takdir ini sangat penting bagi seorang muslim. Sebab, pemahaman akan takdir ini akan menentukan arah dan sikap seorang muslim terhadap berbagai hal yang terjadi selama hidupnya. Karenanya, banyak juga ulama-ulama yang membahas konsep takdir ini dalam buku yang mereka buat.

Mengenai takdir ini, terdapat 3 golongan yang memahaminya secara berbeda. Golongan pertama, yang berpendapat bahwa manusia itu tidak bebas sama sekali, apa yang kita lakukan, sudah ditentukan oleh ALLAH. Golongan yang kedua, berpendapat bahwa kita sangat bebas, apa pun yang kita lakukan, tidak ada campur tangan Tuhan sama sekali. Dan golongan terakhir yang berpendapat bahwa apa pun yang kita lakukan semuanya ada dalam aturan-aturan Allah, ada campur tangan Allah, tapi kita pun memiliki pilihan untuk melakukan sesuatu.

Saya sendiri, jauh sebelum mengenal konsep takdir, memiliki pemahaman tersendiri berdasarkan hasil berfikir dan merenung. Dalam buku Pengajaran Agama Islam karya HAMKA, disebutkan bahwa arti Qadla itu adalah aturan, sedangkan Qadar adalah ukuran. Jauh sebelum membaca buku tersebut, saya berfikir bahwa segala hal yang ada di muka bumi ini, tunduk pada hukum sebab-akibat. Buat saya, pemahaman terhadap Qadla dan Qadar itu sederhana saja. Apapun yang terjadi di bumi ini, pasti ada sebabnya, bahkan kematian, rezeki dan jodoh pun tunduk pada hukum ini. Dalam buku tersebut juga dikatakan bahwa hukum sebab-akibat ini lah yang kemudian disebut dengan Sunatullah. Dalam ajaran Islam, segala yang ada di muka bumi ini mengikuti Sunnatullah, aturan Allah. Itulah Qadla. Sedangkan Qadar adalah ukuran dari aturan-aturan tersebut. Besar-kecil (ukuran) usaha atau ikhtiar dalam mengikuti aturan tersebut akan menentukan hasil, karenanya hasil dari usaha inilah yang disebut dengan takdir.

Saya tidak pernah berfikir bahwa Allah mengatur kehidupan manusia ini seperti kita memainkan catur. Tidak seperti itu. Karenanya, saya tidak setuju dengan golongan yang pertama. Buat saya, campur tangan Allah itu ada pada aturan-aturan yang Dia buat. Dan kita, sebagai manusia, ada dalam aturan-aturan tersebut, sehingga kita pun tidak bebas sama sekali dari campur tangan Allah. Karenanya, saya pun tidak sepakat dengan golongan yang kedua. Lalu, aturan yang seperti apa kah yang sudah Allah tentukan ? Segala macam aturan. Tidak hanya tentang aturan bagaimana hidup yang benar, tapi juga aturan-aturan terhadap alam semesta. Umur, mati, sehat, sakit, tua, rusak, itulah aturan-aturan Allah.

Contoh sederhananya begini, kita tahu, semakin tua umur suatu tali, akan semakin lapuk dan kemampuan untuk mengangkat dan menahan bebannya pun akan semakin berkurang, inilah Qadla. Katakanlah, jika dulu tali tersebut sanggup menahan berat 200 Kg selama berjam-jam, maka sekarang tali tersebut hanya mampu menahan beban seberat 50 Kg, itupun kurang dari 2 jam, inilah Qadar. Masalahnya adalah, kita tidak pernah tahu berapa beban yang sanggup tali tersebut tahan dan berapa lama, yang kita tahu, bahwa tali tersebut sudah tua dan lapuk. Karenanya, jika ingin selamat dari kecelakaan, ketika mengangkat benda dengan tali, atau ketika kita bergelantungan dengan tali, adalah dengan menghindari penggunaan tali yang tua tersebut. Kita tidak bisa menantang aturan Allah dengan nekat menggunakan tali tersebut dengan beban melebihi kemampuan tali. Karenanya, ketika kita nekat menggunakan tali tersebut, kemudian kita celaka, tidak bisa kita mengatakan,”Ini adalah ujian dari Allah…”, tidak seperti itu. Karena, Allah sudah memberikan kepada manusia akal untuk digunakan memahami aturan-aturan Allah tersebut, jika kemudian kita menentang akal kita sendiri, dan kemudian terjadi kecelakaan, itu akibat kelakuan kita sendiri. Bukan karena Allah yang melakukan. Karenanya, kita harus intorspeksi, tidak bisa kita menyalahkan Allah. Takdir kita celaka, karena perbuatan kita sendiri. Allah sudah tentukan Qadar pada tiap aturan tersebut. Karenanya, kita harus menggunakan akal kita untuk memahami aturan tersebut dan memilih ketika melakukan sesuatu.

Kematian pun mengikuti aturan ini. Contoh pada kasus bunuh diri. Bisa jadi, orang yang melakukan bunuh diri belum saat nya mati. Bisa jadi, Allah sudah menentukan hari kematiannya di waktu yang lain. Tapi, akan menjadi berantakan segala aturan yang ada jika kemudian, misalnya, ada orang yang mencoba bunuh diri dengan minum baygon sampai ber-galon-galon, atau mencoba memegang setrum tegangan tinggi selama berjam-jam, masih hidup juga, alasannya, karena Allah belum menentukan hari kematiannya saat itu. Tidak seperti itu. Allah tidak akan sekonyol itu. Allah memang sudah menentukan saat kematian seseorang, tapi Allah pun tidak akan membiarkan aturan yang Dia buat menjadi berantakan. Karenanya, orang tersebut “harus” mati, agar aturan Allah tersebut tetap berjalan sebagaimana mestinya. Meskipun, sebetulnya, bukan saatnya dia mati. Karena itu lah, Allah melaknat orang-orang yang bunuh diri. Bayangkan, jika orang tersebut masih hidup, tentunya akan menyebabkan berbagai aturan kacau balau, ilmu pengetahuan menjadi berantakan, dan mungkin, akan ada ribuan orang yang mencoba minum baygon sebagai sarapan pagi….heu heu heu.

Kasus kecelakaan mobil atau motor karena ban pecah, tabrakan, rem blong, semuanya mengikuti aturan yang ada. Ban pecah, bisa terjadi karena tertusuk paku, atau tekanan udaranya kurang, atau umur bannya sudah tua, jadi bukan Allah yang memecahkannya, aturan Allah lah yang membuat hal itu terjadi. Kasus kecelakaan lainnya, seperti tabrakan kereta api, pesawat jatuh, kapal tenggelam, semuanya pasti ada sebab nya, dan biasanya karena adanya sunnatullah yang dilanggar. Tapi dari situ, kita seolah-olah ditegur oleh Allah agar melakukan segala sesuatu sesuai dengan aturan dan ukuran yang telah ditetapkan.

Khusus untuk urusan Rezeki dan Jodoh, saya agak kesulitan juga menjelaskannya, karena memang untuk kasus-kasus ini sering terjadi hal-hal yang agak “aneh”. Bukan tidak masuk akal, hanya saja pada beberapa kasus cenderung keluar dari aturan-aturan yang ada. Selain itu juga karena adanya persinggungan dengan “takdir” orang lain. Tapi, sebagian besar tetap terikat Sunnatullah yang sudah ada.

Dalam urusan Rezeki, Islam memerintahkan untuk bekerja keras. Ingin kaya, ya bekerja keras. Ingin urusan Rezeki lancar, carilah jalan masuknya rezeki yang baik. Karenanya, biasanya, urusan Rezeki ini berbanding lurus dengan besarnya Usaha, apa yang dikerjakan, dan pada siapa kita bekerja. Jadi, tidak bisa kita mengeluh, “Sudah kerja banting tulang, tapi masih kayak gini-gini aja (miskin)…”. Pertanyaannya adalah, apa yang dikerjakan ? Di mana bekerjanya? dan kerja pada siapa ? Kalau kerja keras siang malam, tapi hanya sebagai penarik becak, wajar saja kalau tidak kaya, karena memang pintu nya kecil. Kalau sebagai karyawan, wajar saja gajinya pas-pasan, karena besarnya gaji kita juga ditentukan oleh perusahaan. Tapi, kalau jadi seorang pembicara seminar, wajar saja bayarannya besar. Karenanya, urusan Rezeki sangat berhubungan dengan orang lain juga. Tapi, dunia ini membuktikan bahwa orang-orang yang sukses secara finansial adalah orang-orang yang tahu bagaimana dia harus bekerja, tahu apa yang harus dikerjakan, dan tahu pada siapa dia harus bekerja. Tidak asal, “pokoknya gua kerja”. Dan untuk mencapai ke level itu, yang paling dominan adalah kerja keras dan pengetahuan tentang strategi mencari rezeki. Karenanya, agar rezeki menjadi lancar, kita pun harus mengkondisikan diri kita pada situasi yang memang memungkinkan kelancaran rezeki tersebut. Tidak bisa hanya tidur dan diam, lalu berkata, “kalau udah rezeki mah pasti datang sendiri…”. Karena itu, keadaan finansial kita sekarang merupakan hasil dari kerja kita diwaktu yang lalu. Kalau misalkan kita kerja selama ini tidak kaya-kaya juga, carilah tempat yang lain, atau pekerjaan yang lain. Tidak mungkin hanya diam saja di tempat tersebut. Kalau misalkan sampai saatnya mati belum kaya juga, setidaknya kita sudah berusaha untuk mencari kualitas hidup yang lebih baik.

Meksipun ada juga kasus-kasus datangnya Rezeki dari arah yang “tidak bisa diduga”, tapi biasanya, hal tersebut juga terjadi dari usaha yang kita lakukan sebelumnya. Misalnya, kita sering menolong orang lain, atau berbuat baik kepada orang lain. Sebagai rasa terima kasih, maka orang yang ditolong tersebut memberikan uang atau rezeki lainnya kepada kita. Itu pun, pada dasarnya, akibat usaha kita juga. Jarang sekali ada orang yang kaya akibat nemu duit 1 milyar di jalan. Kalau warisan, itu lain lagi, biasanya warisan tersebut merupakan hasil dari kerja keras orang yang mewariskannya. Penerima waris hanya menerima hasilnya saja.

Nah, untuk urusan jodoh, memang “sepenuhnya” karena keputusan Allah. Biasanya, untuk kasus jodoh ini, campur tangan Allah dirasakan sangat besar. Karena, kadang, sebesar apa pun usaha yang kita lakukan, kalau memang orang yang kita incar tidak suka, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Karena, urusan hati ini, hanya Allah saja yang bisa membolak-balikkannya, tentu saja dengan caraNya yang terkadang tidak bisa kita mengerti. Tapi, tetap saja, orang-orang yang berikhtiar lebih keras, cenderung lebih cepat mendapatkan jodohnya daripada orang-orang yang menunggu datangnya jodoh. Karenanya, kita pun harus introspeksi diri, seberapa besar usaha kita untuk mendapatkan jodoh tersebut…

Lalu, apa fungsinya Do’a ? Nah, Do’a adalah harapan terhadap kondisi ideal yang kita inginkan dan kita minta kepada Allah. Salah satu alasan mengapa Do’a tidak langsung dikabulkan adalah karena Allah lebih mengetahui kondisi kita yang sebenarnya daripada kita sendiri. Karenanya, agar Do’a kita terkabul, sering kali Allah menyiapkan kondisi kita terlebih dahulu. Caranya, mungkin melalui kemantapan hati ketika mengambil suatu keputusan, atau rasa gelisah ketika akan melakukan sesuatu yang salah, yang jelas, bentuk pengabulan do’a ini sangat jarang sekali yang langsung. Misalkan, kita ingin menjadi orang yang sholeh, kemudian kita berusaha untuk mencari lingkungan yang baik agar kita bisa menjadi sholeh. Nah, dalam pencarian itulah, biasanya Allah menolong kita, misalnya dengan memberikan rasa tenang ketika kita bertemu orang-orang yang sholeh, atau ketika berada di lingkungan tersebut, sehingga kita merasa betah berada disana, dan pada akhirnya, karena sering bergaul, pelan-pelan kita pun menjadi orang yang sholeh. Tidak ujug-ujug jadi sholeh, bisa hancur dunia persilatan. Allah hanya memberikan tuntunan, melalui sinyal-sinyal yang dia berikan, keputusan tetap ada pada kita. Jadi, Allah tidak memperlakukan kita seperti bidak catur…”Kamu, ke sini aja ya…? biar ntar ke neraka….” , “Nah, kamu kesana aja…supaya masuk surga..”…Saya kira tidak begitu. Hal tersebut tentu saja tidak adil, percuma saja kita hidup kalau misalkan Allah sudah menentukan “Kamu masuk Surga…”, “Kamu masuk Neraka…”. Dan untuk apa ada penghisaban di akhirat kalau jelas-jelas kita masuk neraka atau surga.

Dalam buku HAMKA tersebut, dijelaskan bahwa salah satu kemunduran umat Islam, dan menurut saya bangsa Indonesia juga, adalah menghindari Takdir, bukan menghadapinya. Kalau ingin kaya, aturannya bekerja keras, bukan diam atau malas-malasan, sementara kita lebih banyak bermalas-malasan, wajar kalau tidak kaya. Orang yang menghadapi takdir adalah mereka yang bekerja keras, sedangkan yang menghindari adalah mereka yang bermalas-malasan. Jadi,memang benar kalau segala yang baik itu datangnya dari Allah, karena Dia sudah menentukan segala sesuatunya dengan baik, kalau kita mengikuti dan memahami aturan-aturan yang ada, kita akan menemukan takdir yang baik. Sementara segala macam bencana, kecelakaan pada dasarnya memang hasil perbuatan dan kelalaian manusia juga. Contoh, banjir bandang, logikanya, banjir tersebut tidak perlu terjadi,jika hutan-hutan yang ada mampu menahan dan menyerap air tersebut. Tapi, karena hutan tersebut gundul, mengalirlah air tersebut tanpa hambatan, terjadilah banjir bandang. Siapakah yang menggundulinya ? Manusia juga. Jadi, bentuk “teguran” yang terjadi, biasanya sesuai atau akibat dari apa yang dilakukan oleh manusia.

Fenomena-fenomena alam yang terjadi juga, pada dasarnya adalah sunnatullah agar alam semesta ini tetap stabil. Gempa Bumi, letusan gunung merapi, dan lain-lain. Hanya saja, mungkin, pada saat itu Allah benar-benar “turun tangan” agar manusia tidak sombong dan lalai. Contoh pada kasus Tsunami di Aceh, mungkin yang terjadi pada saat itu bukan hanya semata-mata fenomena alam biasa, tapi mungkin memang Allah memberikan teguran secara langsung. Meskipun, secara ilmiah, masih bisa dijelaskan.

Intinya, campur tangan Allah di dunia ini, “diwakili” oleh ketentuan yang sudah Dia gariskan. Tidak turun tangan langsung seperti mengatur bidak-bidak catur. Dalam kehidupan kita, kita tidak bisa lepas dari aturan-aturan (ketentuan) tersebut. Bagaimanapun jalan kita, kita terikat oleh ketentuan tersebut. Namun, kita pun dibekali akal untuk memahami aturan-aturan tersebut, sehingga ketika kita memutuskan untuk melakukan sesuatu, kita tidak bertindak bodoh dan celaka karena melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan ketentuan. Namun, terkadang, dalam beberapa hal, Allah benar-benar mengambil alih dan “menyentil” kehidupan kita dengan caranya yang tidak bisa kita pahami.

Jadi, selamat menentukan arah takdir …

Wallahualam,

(*…Komentator : Hihihi…Lha, elu, kenapa juga belum dapet jodoh, pasti karena kurang usaha kan..?…*)
(*…Komentator : MAKANYA, USAHA DONG!!! IKHTIARRRRRRRRR..!!!!…JANGAN DIEM AJA!!!!*)
(*…Penulis : DIAAAAAMMMMMM!!…*)
(*…Komentator : Dasar!! Penulis yang anehhh…:p…*)


Hanya sedang ingin berbicara tentang misteri hidup….
S3K3L04A. 020706.20:06.


217 Comments

  1. A.Alam says:

    Wong yang di “Uji” oleh Allah kepada manusia itu “Takdir / Ketentuannya”… Ya mana mungkin soalnya dibuka !!
    Walaupun ada sebagian kecil saja itupun untuk manusia khusus.
    Letak takdir ada diantara Jasad dan Ruh…
    Fungsinya sebagai tiang, sebagai penyeimbang, sebagai pasak agar jasad dan ruh tetap bersatu.
    Konsep “.. 7 Lapis langit 7 lapis Bumi dan apa yang ada diantara keduanya…” semuanya serba berukuran dan sempurna Allah ciptakan.
    Mau merubah takdir ?? Doa. (.. Al-Qur’an.. Pahami Al-Hasyr 22 )

  2. rudi says:

    klo menurut sy pribadi, takdir sudah ditentukan,,,, semua yg ada didunia sudah ditentukan, masing-masing mempunyai peranan dan jalan cerita, baik itu benda, mahluk hidup atau mati semua sudah diatur, tujuannya adalah untuk menguji roh manusia… jadi apapun yg terjadi tetap beranggapan baiklah kpd sang pencipta krna itu semua hanya ujian untuk dihari pembalasan… kehidupan diduania hanya ujian,, Allah sudah mengetehui awal dan akhir jalan ceritanya. mulai tahun 1 proses pengujian roh berjalan sampai hari kiamat.

  3. sulastri says:

    takdir adalah ketetapan allah,kita sebagai manusia hanya bisa berusaha. yakinlah allah tidak akan menyia-nyiakan orang yang selalu berusaha dan berdoa. positif thinking for allah lebih baik dari pada sibuk cari tau mengapa aku begini begitu. usaha aja terus menjadi lebih baik. ingin kaya KERJA!!!!ingin pintar BELAJAR!!!! ingin masuk surga IBADAH!!! allah tidak suka melihat orang berpangku tangan dan bermalas-malasan dan selalu menyia-nyiakan waktu….JADI,aku yakin bisa lebih baik. SEMANGAT!!!!! amin

  4. haris says:

    takdir adalah aturan. sama halnya seperti yg dikatakan penulis. ibaratnya seperti kita sekolah. aturan sekolah sudah jelas dan tertulis. kita harus bayar sekolah.klo tdk bayar sama saja melanggar aturan. kalo melanggar kita dikeluarkan dari sekolah. ato ada pendapat tadir itu nasib yg uda tertulis. seperti misalnya. kita naruh motor di terminal lengkap sm kunci dan stnk di atas jok, lalu kita tinggal ke luar kota. anda mikir takdir uda tertulis kalo hilang ya hilang,klo gk ya gak hilang. anak bayi aja ud paasti nebak motornya akan hilang. gk usah pake liat takdir sgala. itu yg bisa direnungkan.

  5. saya says:

    begini saja ya, kalau boleh saya tanya, jauh sebelum manusia diciptakan, apakah Allah swt sudah mengetahui siapa-siapa saja yang akan masuk neraka, dan siapa-siapa saja yang akan ke surga? tentu saja Allah mengetahuinya karena Allah itu Maha Tahu. Nah, pengetahuan Allah inilah yang mestinya kita renungkan, bukan? Ia mengetahui semua apa yang sedang atau akan terjadi dalam hidup manusia ciptaanNya, bahkan sempat niat yang terbersit di hati. Anda tidak bisa serta-merta menganggap Tuhan terkadang tak ikut-campur dalam urusan pribadi manusia. Contohnya, anggapan bahwa Tuhan memberi kebebasan untuk memilih antara: berlaku baik atau jahat, rajin atau malas, dsb. Karena, bukankah Allah sudah mengetahui Si A akan baik atau Si B kelak akan berbuat jahat. Jadi, menurut saya, takdir itu sifatnya menyeluruh, dan manusia cenderung seperti bidak catur. Manusia hanya diberi akal pikiran untuk menyikapi ketidak-tahuan takdirnya. Tidak ada satu peristiwa yang terlepas dari kemaha-tahuan Allah, dan oleh karenanya, tak ada juga peristiwa yang menyimpang dari takdir yang telah ditentukan Allah sejak segalanya belum diciptakan.

  6. Muktiaji says:

    ” Karenanya, kita harus menggunakan akal kita untuk memahami aturan tersebut dan memilih ketika melakukan sesuatu ”

    “Sip”

  7. saya says:

    mau melanjutin komentarnya yaaa … kebetulan saya ke sini karena tadi malam saya mendengar ceramah ustad di kampung saya yang mengatakan bahwa “Kekuatan doa akan mengubah takdir kita”. saya jadi merenung, benarkah takdir bisa diubah? bukankah takdir itu adalah ketetapan Tuhan sejak jaman azali. Jika ketetapan bisa diubah, mungkin bisa terjadi chaos kehidupan dunia ini. Menurut saya yang masih belajar, yang pas bukan doa yang mengubah takdir, melainkan doa itu adalah penggenap takdir. seseorang berdoa, kemudian doa itu dikabulkan, itu bukan berarti takdirnya diubah, melainkan Tuhan memang sudah mentakdirkan orang itu akan berdoa dan dikabulkan doanya. Seperti yang sudah saya coba jelaskan di atas, takdir itu melingkupi segenap pengetahuan Allah. Apabila saya dihadapkan pada pilihan antara a dan b, apapun yang saya pilih, Allah sudah mengetahuinya jauh sebelum saya diciptakan, itulah takdir. kebebasan berkehendak (freewill) hanya ada karena saya punya akal, sementara saya gak tahu takdir saya akan bagaimana. dengan akal itulah, seolah-olah kita merasa bebas untuk berkehendak. jadi, apa bedanya manusia dengan bidak catur? dengan robot? dan jika takdir itu sifatnya global, apakah kita setuju bahwa semua peristiwa pahit semacam bencana, perang, kejahatan, pembunuhan, dsb, adalah termasuk takdir Allah (ketetapan Allah)? jawabannya, menurut saya hanya akan dimengerti kalau kita memahami betul makna asma ul-husna. wallahuaalam.

  8. arum says:

    trimakasih tulisannya. insyaAllah jadi lebih bisa memahami tentang qodo dan qodar. ditunggu tulisan2 selanjutnya dari pengalaman2 yang seru.

  9. M Iqbal Muhlisin says:

    ane setuju banget, karna menurut karna “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka” yg pada intinya semua tergantung kegigihan kita.
    mungkin sudah diatur dolonya kalo kita cuma dpt ridzki hanya segenggam beras… tapi kalo kita berusaha dengan sungguh “manjada wajadah” diikuti dengan berdoa “ud uni astajiblakum”, plus ditambah dengan keyakinan ane rasa yg tadinya segenggam beras bisa jadi sekarung beras bahkan lebih.

    ijin copas gan

  10. takdirku says:

    Allah maha besar, allah maha mengetahui, allah maha pencipta, allah maha mengatur atas segalanya dan menjadi ketetapannya, ibarat tinta akhirat seperti akan habis untuk menulis seluruh jagat raya serta semua yang terkandung didalamnya termasuk manusia, takdir tidak bisa berubah jelas karena allah sudah menuliskan menetapkan seluruh jagat raya ini sampai dengan penciptaan seluruh isinya dan kejadian kejadian didalamnya, dan takdir bisa berubah dengan kekuatan doa, kunfayakun allah akan merubahnya sesuai dengan kehendaknya, perubahan suatu takdir sudah menjadi ketetapan allah dan ketetapan adalah kepastian dan kepastian adalah milik allah dan manusia yg menjalankan ,manusia akan diberi pilihan dari takdir itu sendiri melalui langkah kaki, usaha dll, ,.,,( takdir tidak bisa berubah dan takdir bisa berubah keduanya adalah benar, karena perubahan suatu takdir sudah tertulis juga didalam takdir, itu semua dikarenakan sifat allah yang maha mengetahui maha pencipta dan maha pengatur atas segala ketetapannya

  11. Tata says:

    Baru baca artikel ini

    http://rumahdakwah.net/berita-205-tanya–pengertian-takdir-mubram-dan-takdir-mualaq-.html.
    http://fachrirezakusuma.wordpress.com/2012/03/14/lauhul-mahfuz-takdir-bukanlah-jalan-cerita/

    Berarti konsep takdir ada 2 dong ya? n salah satu masih bisa di ubah.
    Bwt penulis, plis bahas lagi soal 2 takdir itu.
    Makasih yaaa :))

  12. M.febry says:

    Haaahaaa….!!!
    Aq stju tuh,law memang ALLAH spnuhx mngendalikan takdir,knp qta hrs brusha n brdoa??
    Sdh jls” ALLAH yg ngatur…!!!
    Jd tnggl diam az,sntai” mrokok smbil mnum kopi,d tambah gorengan…haahaaa…!!!
    INTIx sunnahtullah,jamaah…!!!

  13. M.febry says:

    Aq tnggu crita slanjutx,asek kykx….
    Ooiaa,bt pnulis,bs mnta tlong kh,humorisx bs d tngkatkn kh,biar asik bcax,biar critax pnjang,biar sejrah khidupan sang pnulis dr alam ruh,smpai skrg,kami g bosen membcax!
    Haaahaaaa….!!!

  14. SUTISNA says:

    menurut saya takdir itu sudah ditulis di alam sebelum kita lahir…., kan waktu ruh ditiup ke jabang bayi segala sesuatunya tentang kita.., mati, jodoh, rezeki…., kan dalilnya begitu…, tapi karena kita ngga tahu apa yang ditulis tentang kita dalam menjalankan hidup di dunia ini…, maka kita harus berusaha…., contoh lainnya…nabi muhammad sering menggambarkan keadaan dunia dimasa depan begini dan begitu…., misalnya nanti di akhir jaman akan ada perempuan yang berpakaian tetapi tidak berpakaian…, berarti kan sudah ditulis tuh kejadian di masa mendatang….., jadi kesimpulanya takdir sudah ditentukan oleh Allah SWT…., kalo ngga ditentukan lebih dahulu….acak acakan neh dunia maunya sendiri….. begitu ceritanya….

  15. Hadi says:

    Allah itu Maha Kuasa dan kepadaNya lah dikembalikan segala urusan..

  16. sukram says:

    mantap banget pembahasannya mas :D

  17. thoriq says:

    Takdir berkaitan dengan ikhtiar dan tawakkal, manusia wajib berusaha dibarengi doa berhasil atao tidak itu kita serahkan kepada Allah. Jika berhasil betsyukur jika gagal bersabar. Banyak kisah tentang ini dizaman Rasul dan sahabat

  18. Anonymous says:

    setuju,, keberhasilan selalu berbanding lurus dengan usaha kita,,sedangkan jodoh,, mo usaha sekeras apapun memperthankan,,tetap aja jodoh itu Allah yang mengatur..

    • franz says:

      keberhasilan berbanding lurus dengan usaha ???? usaha itu cuma kewajiban karena ketidaktahuan kita akan hasil yang dapat diperoleh,, hasil mah ga usah dipikirin biar allah yang menentukan,, kewajiban kita cuma usaha,, mau hasil nya baik atau buruk ya terima aja,,, kalau baik bersyukur lah kalau buruk bersabar lah,, simpel,,,

  19. pands says:

    ingat……………..!!! asal kehidupan manusia di surga yang diperankan oleh Adam dan Hawa, Allah hanya memberitahu apa yang boleh dan apa yang dilarang, selebihnya terserah Adam Hawa sendiri mau melakukan apa saja, benar dapat hadian, salah dapat sanksi, itulah yang disebut oleh mas penulis sebagai aturanNya, sekarang kita hidup didunia ini ada juga aturannya seperti yang ditulis di Al Quran, apa yang boleh dan apa yang tidak boleh, terserah anda mau melakukan apa yang jelas kalau benar dapat hadiah surga kalau salah dapat hadian neraka. jadi kaya atau miskin, pandai atau bodoh itu kerena anda sendiri yang menjadikan takdir anda sendiri, Berdoa pada Allah maka Allah yang akan membantu Anda menjadikan takdir anda itu.

  20. kuril says:

    Mantapp bangg setujuuu…guriiiihh guriiih enyooiii.. :v

  21. so close says:

    pada dasarnya allah tidak pernah menguji kita.hanya saja kita sebagai manusia yang sering lalai dalam menafsirkan apa yang terjadi dalam kehidupan kita.dan kesalahan kita yang sering tidak kita sadari adalah seringnya menyalahkan tuhan.dengan kata-kata *(cobaan/takdir ataupun rencana tuhan)*

  22. donny says:

    Jalani yang terbaik, semampunya, dan berdoa untuk mencapai cita2mu, selanjutnya terserah Allah Swt, mungkin itu jalan terbaik bagimu, hanya allah yg maha mengetahui lagi maha bijaksana.
    Hidup ini hanyalah ujian, semua apa yg telah kita dapat dan kita jalani di dunia ini pasti nanti akan di pertanggungjawabkan. kita lahir sebagai manusia yg suci matipun kita harus suci. Kita kembalikan semuanya kepada Allah. Jangan menyalahkan takdir karena itu bagian dari cobaan. Kaya miskin sakit sehat itu semua ujian. kita wajib mensyukurinya.

  23. Nia says:

    apakah menurut anda jodoh bisa dirubah ??? kalau bisa dirubah tolong disertakan dengan dalilnya dan kalokpun tdk bisa dirubah tolong disertakan dgn dalilnya jg dan berikan sedikit cerita dlm kehidupan kita sehari2!!!

  24. neni says:

    siip,. tapi mengapa harus ada perceraian, apakah itu msih blm jodoh ?

  25. yulna says:

    sebenarnya saya masi bingung dengan takdir. kenapa takdir itu kadang sangat menyiksa manusia. kalau itu disebut dengan ujian. kenapa kadang saya merasa iri dengan orang yang memiliki takdir baik dan selalu baik. apa yang harus dilakukan manusia dengan takdir?

  26. jayeng says:

    Intinya nasib manusia bisa dirubah tetapi takdir manusia tak dapat dirubah.
    “Man saara ala darbi washala” seseorang akan mencapai apa yang dia cita-citakan apabila dia sunguh-sungguh dan berjalan dijalan-Nya.
    Seperti didalam kandungan Qs.Al bagoroh : Alloh tidak akan merubah nasib suatu kaum tanpa diaberusaha merubahnya.
    Disitu tidak dijelaskan mengenai takdir,berarti cukup jelaslah bahwa takdir manusia tak dapat dirubah.

  27. abdul says:

    bagus banget ulasan nya saya sangat setuju…
    tapi tidak smuanya bener menut saya,….
    tapi saya sangat termotifasi.
    trimakasih….

  28. bani qz says:

    good

  29. krisna says:

    assalaamu’alaikum wr wb, senang membacanya, terimakasih, mohon bertanya, bagaimana jika seseorang kawin cerai sampai lebih tiga kali, terimakasih banyak.

  30. ritz says:

    anda sy anggap pintar dlm hal menelaah masalah tkdir. apakah itu takdir baik maupun yg jelek sexpun. namun ada sesustu yang menggelitik dlm pikiran sy bahwa bukankah kematian sseorang itu tdk akan bergeser sedetikpun dari ketentuan allah.apapun ceritera dibalik sebelum orang itu meninggal.
    mudah2an kita tdk semakin menjadi bingung. terima saja apa adanya.disuatu masa dimana anda meninggal sy kira itulah takdir anda.

  31. tino says:

    Astaghfirullah hal aziim. Permainan logika manusia untuk menerka-nerka “logika” Allah ga akan bisa. Pahami saja Quran dan Hadist dan amalkan. Kitalah yang akan dipintakan pertanggungjawaban atas perbuatan kita dan Allah tidak dipintakan pertanggungjawaban atas perbuatanNya. Singkatnya saya hanya ingin katakan jangan gunakan logika kita untuk membayangkan yang Allah perbuat. Wallahua’lam

  32. ayunda says:

    makasih ya atas penjelasan nya

    thank for you

  33. ramadhani says:

    menurut saya takdir it pilihan disetiap hal yg akn kta pilih mempunyai crtanya msing2,smw hal yg trjadi didunia trjadi atas izin allah tdak akn trjd sesuatu tanpa izin allah. jika allah memberikan kta cobaan mgkin allah ingin menegur kta krna tlah salah memilih agar kta kedepannya tdak slah memilih . untuk org yg dinegara non muslim untk org yg trlahir dr klwrg non muslim menurut sya it bkan slah mereka menurut sya it memang sdah garis tngan mereka tp tdak mgkn allah hnya diam psti allah memberi jalan untuk mereka agar mengenal agama allah,agar mereka bsa berpikir mana agama yg benar tp smw it kmbali lg pada pilihan mereka. pada intinya allah it maha baik kta jgn prnah berburuk sangka padanya.

  34. Hendra says:

    Assalamualaikum…
    Rezeki dan Kematian Makasih atas penjelasannya.
    Tapi yg Menjadi tanda tanya besar buat saya itu ” JODOH ”
    ada yg menjelaskansecara detail? hehehe..

  35. Juhandi irama fals says:

    Takdir mubrom, dan ghoir mubrom. Tpi ada lagi ‘tidaklah di antara kalian melainkan sudah ditentukan tempatnya yaitu di syurga atau neraka’. Dan sahabatpun brtanya : bagaimana kalau kita diam saja. Rosulullah menjawab ‘berusahalah agar memudahkan takdirnya’. Demikian wallahu a’lam bisshawab.

  36. coca cola says:

    ya saya memang agak ceroboh, tapi saya agak heran berulang2 saya jatuh dari pohon, pingsan berulang-ulang,jatuh dari kereta, jatuh kesumur, tenggelam kesungai, terbawa arus air, kecelakaan diperjalanan sampek saya terlempar di atas mobil yang menabrak saya, tp gak ap2 gak ada lecet cuman shok sampe beberapa hari tapi alhamdulliah saya sampai sekarang masih membaik dan panjang umur

  37. Muhammad Yudha Kautsar says:

    maaf nih teman” sekalian . Menurut saya sih Artikel ini bener juga . A.Takdir ditangan Allah ? apakah benar? , Kalo gitu allah ga adil dong . Kalo Allah udah mengetahui siapa yg masuk surga & neraka , Andai anda ditakdirkan masuk neraka , apakah mau? itu yg pikiran masyarakat yg pertama . Nah yg kedua juga loh . B. Takdir di tangan Manusia ? Gimana Menurut kalian hehe ? Kalo menurut ane tentang pikiran ini pasti salah yak hihi . disini jelas Allah itu ga Kuasa . Yang ketiga udah dijelasin yak di atas hehe .

    Ya gitu aja sih menurut ane . Sekian dari ane Wassalam :D


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>