Epilogue
Sebelum membaca keseluruhan tulisan ini, saya ingatkan bahwa tulisan ini mungkin agak panjang, dan mungkin akan bikin mikir-mikir juga…mungkin loh…hehehe…soalnya, saya juga bikinnya mikir habis-habisan. Harap dipahami bahwa tulisan berikut ini bukan untuk menyesatkan orang lain…(serem amat, pake menyesatkan segala…)…tapi, tulisan ini hanya gambaran dari pemahaman saya terhadap Tema yang saya angkat. Pemahaman berdasarkan perenungan dan pemikiran yang selama ini saya lakukan, jadi selama hayat masih dikandung badan, tentunya akan selalu berubah jika memang ada koreksi atau informasi yang lebih kuat dan lebih benar. Selamat membaca…(mode PD : on)…:D
————————————————————————————–
Tentang Takdir
Konsep takdir, selalu menjadi perdebatan dan pertanyaan banyak orang. Belakangan ini, saya cukup banyak menemukan pertanyaan atau pun diskusi-diskusi tentang takdir. Bagi Umat Islam, Takdir merupakan bagian daripada Aqidah, karena merupakan bagian daripada Iman terhadap Qadla dan Qadar, dimana kata Takdir ini merupakan kata yang berasal dari Qadar. Karenanya, pemahaman tentang takdir ini sangat penting bagi seorang muslim. Sebab, pemahaman akan takdir ini akan menentukan arah dan sikap seorang muslim terhadap berbagai hal yang terjadi selama hidupnya. Karenanya, banyak juga ulama-ulama yang membahas konsep takdir ini dalam buku yang mereka buat.
Mengenai takdir ini, terdapat 3 golongan yang memahaminya secara berbeda. Golongan pertama, yang berpendapat bahwa manusia itu tidak bebas sama sekali, apa yang kita lakukan, sudah ditentukan oleh ALLAH. Golongan yang kedua, berpendapat bahwa kita sangat bebas, apa pun yang kita lakukan, tidak ada campur tangan Tuhan sama sekali. Dan golongan terakhir yang berpendapat bahwa apa pun yang kita lakukan semuanya ada dalam aturan-aturan Allah, ada campur tangan Allah, tapi kita pun memiliki pilihan untuk melakukan sesuatu.
Saya sendiri, jauh sebelum mengenal konsep takdir, memiliki pemahaman tersendiri berdasarkan hasil berfikir dan merenung. Dalam buku Pengajaran Agama Islam karya HAMKA, disebutkan bahwa arti Qadla itu adalah aturan, sedangkan Qadar adalah ukuran. Jauh sebelum membaca buku tersebut, saya berfikir bahwa segala hal yang ada di muka bumi ini, tunduk pada hukum sebab-akibat. Buat saya, pemahaman terhadap Qadla dan Qadar itu sederhana saja. Apapun yang terjadi di bumi ini, pasti ada sebabnya, bahkan kematian, rezeki dan jodoh pun tunduk pada hukum ini. Dalam buku tersebut juga dikatakan bahwa hukum sebab-akibat ini lah yang kemudian disebut dengan Sunatullah. Dalam ajaran Islam, segala yang ada di muka bumi ini mengikuti Sunnatullah, aturan Allah. Itulah Qadla. Sedangkan Qadar adalah ukuran dari aturan-aturan tersebut. Besar-kecil (ukuran) usaha atau ikhtiar dalam mengikuti aturan tersebut akan menentukan hasil, karenanya hasil dari usaha inilah yang disebut dengan takdir.
Saya tidak pernah berfikir bahwa Allah mengatur kehidupan manusia ini seperti kita memainkan catur. Tidak seperti itu. Karenanya, saya tidak setuju dengan golongan yang pertama. Buat saya, campur tangan Allah itu ada pada aturan-aturan yang Dia buat. Dan kita, sebagai manusia, ada dalam aturan-aturan tersebut, sehingga kita pun tidak bebas sama sekali dari campur tangan Allah. Karenanya, saya pun tidak sepakat dengan golongan yang kedua. Lalu, aturan yang seperti apa kah yang sudah Allah tentukan ? Segala macam aturan. Tidak hanya tentang aturan bagaimana hidup yang benar, tapi juga aturan-aturan terhadap alam semesta. Umur, mati, sehat, sakit, tua, rusak, itulah aturan-aturan Allah.
Contoh sederhananya begini, kita tahu, semakin tua umur suatu tali, akan semakin lapuk dan kemampuan untuk mengangkat dan menahan bebannya pun akan semakin berkurang, inilah Qadla. Katakanlah, jika dulu tali tersebut sanggup menahan berat 200 Kg selama berjam-jam, maka sekarang tali tersebut hanya mampu menahan beban seberat 50 Kg, itupun kurang dari 2 jam, inilah Qadar. Masalahnya adalah, kita tidak pernah tahu berapa beban yang sanggup tali tersebut tahan dan berapa lama, yang kita tahu, bahwa tali tersebut sudah tua dan lapuk. Karenanya, jika ingin selamat dari kecelakaan, ketika mengangkat benda dengan tali, atau ketika kita bergelantungan dengan tali, adalah dengan menghindari penggunaan tali yang tua tersebut. Kita tidak bisa menantang aturan Allah dengan nekat menggunakan tali tersebut dengan beban melebihi kemampuan tali. Karenanya, ketika kita nekat menggunakan tali tersebut, kemudian kita celaka, tidak bisa kita mengatakan,”Ini adalah ujian dari Allah…”, tidak seperti itu. Karena, Allah sudah memberikan kepada manusia akal untuk digunakan memahami aturan-aturan Allah tersebut, jika kemudian kita menentang akal kita sendiri, dan kemudian terjadi kecelakaan, itu akibat kelakuan kita sendiri. Bukan karena Allah yang melakukan. Karenanya, kita harus intorspeksi, tidak bisa kita menyalahkan Allah. Takdir kita celaka, karena perbuatan kita sendiri. Allah sudah tentukan Qadar pada tiap aturan tersebut. Karenanya, kita harus menggunakan akal kita untuk memahami aturan tersebut dan memilih ketika melakukan sesuatu.
Kematian pun mengikuti aturan ini. Contoh pada kasus bunuh diri. Bisa jadi, orang yang melakukan bunuh diri belum saat nya mati. Bisa jadi, Allah sudah menentukan hari kematiannya di waktu yang lain. Tapi, akan menjadi berantakan segala aturan yang ada jika kemudian, misalnya, ada orang yang mencoba bunuh diri dengan minum baygon sampai ber-galon-galon, atau mencoba memegang setrum tegangan tinggi selama berjam-jam, masih hidup juga, alasannya, karena Allah belum menentukan hari kematiannya saat itu. Tidak seperti itu. Allah tidak akan sekonyol itu. Allah memang sudah menentukan saat kematian seseorang, tapi Allah pun tidak akan membiarkan aturan yang Dia buat menjadi berantakan. Karenanya, orang tersebut “harus” mati, agar aturan Allah tersebut tetap berjalan sebagaimana mestinya. Meskipun, sebetulnya, bukan saatnya dia mati. Karena itu lah, Allah melaknat orang-orang yang bunuh diri. Bayangkan, jika orang tersebut masih hidup, tentunya akan menyebabkan berbagai aturan kacau balau, ilmu pengetahuan menjadi berantakan, dan mungkin, akan ada ribuan orang yang mencoba minum baygon sebagai sarapan pagi….heu heu heu.
Kasus kecelakaan mobil atau motor karena ban pecah, tabrakan, rem blong, semuanya mengikuti aturan yang ada. Ban pecah, bisa terjadi karena tertusuk paku, atau tekanan udaranya kurang, atau umur bannya sudah tua, jadi bukan Allah yang memecahkannya, aturan Allah lah yang membuat hal itu terjadi. Kasus kecelakaan lainnya, seperti tabrakan kereta api, pesawat jatuh, kapal tenggelam, semuanya pasti ada sebab nya, dan biasanya karena adanya sunnatullah yang dilanggar. Tapi dari situ, kita seolah-olah ditegur oleh Allah agar melakukan segala sesuatu sesuai dengan aturan dan ukuran yang telah ditetapkan.
Khusus untuk urusan Rezeki dan Jodoh, saya agak kesulitan juga menjelaskannya, karena memang untuk kasus-kasus ini sering terjadi hal-hal yang agak “aneh”. Bukan tidak masuk akal, hanya saja pada beberapa kasus cenderung keluar dari aturan-aturan yang ada. Selain itu juga karena adanya persinggungan dengan “takdir” orang lain. Tapi, sebagian besar tetap terikat Sunnatullah yang sudah ada.
Dalam urusan Rezeki, Islam memerintahkan untuk bekerja keras. Ingin kaya, ya bekerja keras. Ingin urusan Rezeki lancar, carilah jalan masuknya rezeki yang baik. Karenanya, biasanya, urusan Rezeki ini berbanding lurus dengan besarnya Usaha, apa yang dikerjakan, dan pada siapa kita bekerja. Jadi, tidak bisa kita mengeluh, “Sudah kerja banting tulang, tapi masih kayak gini-gini aja (miskin)…”. Pertanyaannya adalah, apa yang dikerjakan ? Di mana bekerjanya? dan kerja pada siapa ? Kalau kerja keras siang malam, tapi hanya sebagai penarik becak, wajar saja kalau tidak kaya, karena memang pintu nya kecil. Kalau sebagai karyawan, wajar saja gajinya pas-pasan, karena besarnya gaji kita juga ditentukan oleh perusahaan. Tapi, kalau jadi seorang pembicara seminar, wajar saja bayarannya besar. Karenanya, urusan Rezeki sangat berhubungan dengan orang lain juga. Tapi, dunia ini membuktikan bahwa orang-orang yang sukses secara finansial adalah orang-orang yang tahu bagaimana dia harus bekerja, tahu apa yang harus dikerjakan, dan tahu pada siapa dia harus bekerja. Tidak asal, “pokoknya gua kerja”. Dan untuk mencapai ke level itu, yang paling dominan adalah kerja keras dan pengetahuan tentang strategi mencari rezeki. Karenanya, agar rezeki menjadi lancar, kita pun harus mengkondisikan diri kita pada situasi yang memang memungkinkan kelancaran rezeki tersebut. Tidak bisa hanya tidur dan diam, lalu berkata, “kalau udah rezeki mah pasti datang sendiri…”. Karena itu, keadaan finansial kita sekarang merupakan hasil dari kerja kita diwaktu yang lalu. Kalau misalkan kita kerja selama ini tidak kaya-kaya juga, carilah tempat yang lain, atau pekerjaan yang lain. Tidak mungkin hanya diam saja di tempat tersebut. Kalau misalkan sampai saatnya mati belum kaya juga, setidaknya kita sudah berusaha untuk mencari kualitas hidup yang lebih baik.
Meksipun ada juga kasus-kasus datangnya Rezeki dari arah yang “tidak bisa diduga”, tapi biasanya, hal tersebut juga terjadi dari usaha yang kita lakukan sebelumnya. Misalnya, kita sering menolong orang lain, atau berbuat baik kepada orang lain. Sebagai rasa terima kasih, maka orang yang ditolong tersebut memberikan uang atau rezeki lainnya kepada kita. Itu pun, pada dasarnya, akibat usaha kita juga. Jarang sekali ada orang yang kaya akibat nemu duit 1 milyar di jalan. Kalau warisan, itu lain lagi, biasanya warisan tersebut merupakan hasil dari kerja keras orang yang mewariskannya. Penerima waris hanya menerima hasilnya saja.
Nah, untuk urusan jodoh, memang “sepenuhnya” karena keputusan Allah. Biasanya, untuk kasus jodoh ini, campur tangan Allah dirasakan sangat besar. Karena, kadang, sebesar apa pun usaha yang kita lakukan, kalau memang orang yang kita incar tidak suka, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Karena, urusan hati ini, hanya Allah saja yang bisa membolak-balikkannya, tentu saja dengan caraNya yang terkadang tidak bisa kita mengerti. Tapi, tetap saja, orang-orang yang berikhtiar lebih keras, cenderung lebih cepat mendapatkan jodohnya daripada orang-orang yang menunggu datangnya jodoh. Karenanya, kita pun harus introspeksi diri, seberapa besar usaha kita untuk mendapatkan jodoh tersebut…
Lalu, apa fungsinya Do’a ? Nah, Do’a adalah harapan terhadap kondisi ideal yang kita inginkan dan kita minta kepada Allah. Salah satu alasan mengapa Do’a tidak langsung dikabulkan adalah karena Allah lebih mengetahui kondisi kita yang sebenarnya daripada kita sendiri. Karenanya, agar Do’a kita terkabul, sering kali Allah menyiapkan kondisi kita terlebih dahulu. Caranya, mungkin melalui kemantapan hati ketika mengambil suatu keputusan, atau rasa gelisah ketika akan melakukan sesuatu yang salah, yang jelas, bentuk pengabulan do’a ini sangat jarang sekali yang langsung. Misalkan, kita ingin menjadi orang yang sholeh, kemudian kita berusaha untuk mencari lingkungan yang baik agar kita bisa menjadi sholeh. Nah, dalam pencarian itulah, biasanya Allah menolong kita, misalnya dengan memberikan rasa tenang ketika kita bertemu orang-orang yang sholeh, atau ketika berada di lingkungan tersebut, sehingga kita merasa betah berada disana, dan pada akhirnya, karena sering bergaul, pelan-pelan kita pun menjadi orang yang sholeh. Tidak ujug-ujug jadi sholeh, bisa hancur dunia persilatan. Allah hanya memberikan tuntunan, melalui sinyal-sinyal yang dia berikan, keputusan tetap ada pada kita. Jadi, Allah tidak memperlakukan kita seperti bidak catur…”Kamu, ke sini aja ya…? biar ntar ke neraka….” , “Nah, kamu kesana aja…supaya masuk surga..”…Saya kira tidak begitu. Hal tersebut tentu saja tidak adil, percuma saja kita hidup kalau misalkan Allah sudah menentukan “Kamu masuk Surga…”, “Kamu masuk Neraka…”. Dan untuk apa ada penghisaban di akhirat kalau jelas-jelas kita masuk neraka atau surga.
Dalam buku HAMKA tersebut, dijelaskan bahwa salah satu kemunduran umat Islam, dan menurut saya bangsa Indonesia juga, adalah menghindari Takdir, bukan menghadapinya. Kalau ingin kaya, aturannya bekerja keras, bukan diam atau malas-malasan, sementara kita lebih banyak bermalas-malasan, wajar kalau tidak kaya. Orang yang menghadapi takdir adalah mereka yang bekerja keras, sedangkan yang menghindari adalah mereka yang bermalas-malasan. Jadi,memang benar kalau segala yang baik itu datangnya dari Allah, karena Dia sudah menentukan segala sesuatunya dengan baik, kalau kita mengikuti dan memahami aturan-aturan yang ada, kita akan menemukan takdir yang baik. Sementara segala macam bencana, kecelakaan pada dasarnya memang hasil perbuatan dan kelalaian manusia juga. Contoh, banjir bandang, logikanya, banjir tersebut tidak perlu terjadi,jika hutan-hutan yang ada mampu menahan dan menyerap air tersebut. Tapi, karena hutan tersebut gundul, mengalirlah air tersebut tanpa hambatan, terjadilah banjir bandang. Siapakah yang menggundulinya ? Manusia juga. Jadi, bentuk “teguran” yang terjadi, biasanya sesuai atau akibat dari apa yang dilakukan oleh manusia.
Fenomena-fenomena alam yang terjadi juga, pada dasarnya adalah sunnatullah agar alam semesta ini tetap stabil. Gempa Bumi, letusan gunung merapi, dan lain-lain. Hanya saja, mungkin, pada saat itu Allah benar-benar “turun tangan” agar manusia tidak sombong dan lalai. Contoh pada kasus Tsunami di Aceh, mungkin yang terjadi pada saat itu bukan hanya semata-mata fenomena alam biasa, tapi mungkin memang Allah memberikan teguran secara langsung. Meskipun, secara ilmiah, masih bisa dijelaskan.
Intinya, campur tangan Allah di dunia ini, “diwakili” oleh ketentuan yang sudah Dia gariskan. Tidak turun tangan langsung seperti mengatur bidak-bidak catur. Dalam kehidupan kita, kita tidak bisa lepas dari aturan-aturan (ketentuan) tersebut. Bagaimanapun jalan kita, kita terikat oleh ketentuan tersebut. Namun, kita pun dibekali akal untuk memahami aturan-aturan tersebut, sehingga ketika kita memutuskan untuk melakukan sesuatu, kita tidak bertindak bodoh dan celaka karena melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan ketentuan. Namun, terkadang, dalam beberapa hal, Allah benar-benar mengambil alih dan “menyentil” kehidupan kita dengan caranya yang tidak bisa kita pahami.
Jadi, selamat menentukan arah takdir …
Wallahualam,
(*…Komentator : Hihihi…Lha, elu, kenapa juga belum dapet jodoh, pasti karena kurang usaha kan..?…*)
(*…Komentator : MAKANYA, USAHA DONG!!! IKHTIARRRRRRRRR..!!!!…JANGAN DIEM AJA!!!!*)
(*…Penulis : DIAAAAAMMMMMM!!…*)
(*…Komentator : Dasar!! Penulis yang anehhh…:p…*)
Hanya sedang ingin berbicara tentang misteri hidup….
S3K3L04A. 020706.20:06.



Setelah membaca panjang lebar ..
Saya yang bodoh ingin menanyakan ::;;..
1. Dimanakah letak Takdir itu pada setiap manusia.
2. Apakah fungsi Takdir itu bagi manusia ..
makasih.
dimana takdir? pndangan sy, kita pria atau wanita adalah takdir, siapa orang tua kita adalah takdir, kpn kita lahir adalah takdir, ini juga yg menentukan jodoh manusia, bhwa jika ada bayi lahir pasti ada ayah ibu’nya (kcuali nabi isa) mereka di pertmukan karena takdir anak trsebut.
bagaimna dengan ayat alqur’an ; bahwa tdak da daun selembarpun yang jatuh tp semuanya izin allah…
menurt sya yng bdoh papun bntuknya papun nmanya…mnusia hanya bsa mnduga tak da ilmu pasti dlam hidup.
izin share kwan
Takdir itu tidak ada, monggo mampir di blog saya, ini pemikiran saya soal takdir http://www.ruangsemadi.co.cc/2012/05/takdir-itu-tidak-ada.html
Alloh Maha Baik..Untuk HambaNya yang Baik..:)
Takdir or hanya “kebetulan” smua yg terjdi di dunia ini, hanya Dia yg tahu, karena Dia Maha Tahu.
manusia hanya mereka-reka sesuai dng kadar ilmunya..
jadi manusia diharuskan tetap belajar..:)
Wallahu Alam
ulasanya bagus banget ms donny,
takdir menurut saya memang sudah digariskan oleh Allah , tetapi kita bisa merubah takdir dengan usaha, yaaa walaupun hasil akhirnya tidak seperti apa yg kita harapkan tapi setidaknya kita sudah berikhtiar,
nah kalau masalah jodoh masih tanda tanya besar dalam otak saya, apakah jodoh bisa kita memilihnya atau sudah dtentukan oleh Allah dan tidak bisa kita merubahnya ?
tolong di jawab yaaaaaa ….
thx
Izin tag kang, buat di share
aku tdk trlalu mendalam tahu tentang takdir,,,,,,,,,,
tpi ketika semuanya terjadi dlm sekejap”"aku mengalami kecelakaan dg keluarga,,dan anak yg paling aku cintai aku sayangi harus patah tulang,,,,,dan sebagian orang menyalahkanku,,,dan berkata”"coba kalo kamu dirumah,,,gak bawa anak,,,kecelakaan itu pasti tdk akan terjadi,,,”"”
dalam hati aku bicara,,,aku hanya manusia yg tak tau apapun yg akan terjadi,,aku hanya ingin melakukan perjalanan itu dan insya’alloh dg niat baik”"Siapa yg ingin Kecelakaan itu terjadi???”"”,,hatiku sakit,,,gak bisa mengungkap kata apappun,,,,menangispun aku tak bisa,,,,siapa yg harus aku salahkan???
Tpi otakku berpikir keras,,,kenapa,,kenapa smua terjadi???
apa aku terlalu banyak salah?? apa aku kurang beramal?? sehingga teguran itu datang
tapi ketika aku berucap “”"mungkin ini sudah takdir”"
kata_kata takdir itu yang sdikit2 menjadikan aku ikhlas,,,,dan kini mulai tegar,tabah dg kenyataan,,,
maaf mnurut kalian bgaimana pmahaman takdir dg kejadian yg kualami???? thanks
(smoga Alloh SWT, sllu menjaga dan melindungi kita semua,,,amin)
turut berduka atas keluarga mbak..
pelajaran ttg takdir memang sangat sulit untuk dijelaskan,karena Allah tidak memberikan pemahaman yg lebih kepada manusia..hanya memberikan sedikit pengetahuan ttg Qadha dan Qadar,,
spt hal nya Allah mengajarkan Adam as berbagai macam benda sementara para malaikat tidak diajarkan olehnya,,tetapi walaupun adam telah diajarkan, apakah adam tahu semua benda2? tidak, jika ingin tahu, maka dia harus mempelajari sendiri dengan akal dan sedikit ilmu yg diberikan Allah,,
Jika itu takdir atau bukan, menurut saya, mungkin saja takdir, mungkin saja bukan,,karena yg paling tahu dan paling benar atas jawaban pertanyaan mbak yaitu Allah SWT,,manusia hanya mereka-reka jawaban..
Assalamualaikum …
Makasih atas ulasannya mas Donny … Benar-benar trenyuh dan menarik sekali untuk dibahas. Memang takdir itu sesuatu yang misterius dan kadang diluar ilmu manusia. karena ilmu Alloh SWT itu 99% dan manusia hanya 1%, jadi wajar kalau manusia kadang merasa “aneh” dengan pengaturan takdir2 Illahi.
Saya ingin menambahkan sedikit tentang Qadla dan Qadar. Memang benar menurut mas Donny, Qadla adalah sunnatullah, bahasa kerennya hukum alam, ilmu pasti, jadi tidak akan diubah (meskipun Alloh SWT sanggup menrubahnya), semisal manusia bernafas dengan O2, tidak mungkin bisa manusia bernafas dengan CO2 aaupun N2. Sementara Qadar adalah ilmu relatifitas, seperti teori Albert Einstein, jika mobil melaju kencang, maka kita akan cepat tiba ditujuan. Begitu pula Qadar, jika kita ingin takdir kita dirubah menjadi baik, maka sering2lah berdoa, beribadah, dzikir.
Kalau masalah jodoh, saya sendiri memang masih belum ‘ngeh’, karena ada yang bilang “Kalau jodoh ntar datang sendiri”, sementara yang lain, “Buat apa kamu kejar dia sementara dia tidak cinta padamu”. Pertanyaannya adalah, apa yang salah dari 2 pertanyaan diatas …?
Pertanyaan pertama, itu mungkin pesimistis bisa, pasrah juga bisa. Namun jangan disamakan dengan keduanya. Begini logikanya, andai saya mencintai gadis A, sementara dia memang ditetapkan ALloh SWT untuk menjadi istri setia saya selamanya, maka kita bisa lakukan seperti teori Einstein. Yaitu coba berdoa untuk mempercepat bertemu dengan gadis itu, insya Alloh, kita akan ketemu bagaimanapun caranya, meski kita tidak menduganya, tiba-tiba bertemu dengan dia di suatu tempat. lain lagi kalau kita diam saja, ya mungkin akan bertemu dengan gadis itu, TAPI nanti beberapa bulan atau tahun lagi.
Sementara pertenyaan kedua. Bisa jadi dia bukan jodoh kita atau dia jodoh kita, hanya ALloh menguji kesetiaan kita pada dia dengan rasa tidak suka bahkan bencinya dia pada kita.
Wassalammualaikum …
[...] 10 tahun laluPedrosa Dan Bautista Puas Hasil GP sSilverstone InggrisTakdir: Rezeki, Jodoh dan Kematian [...]
mantep
yaa memang sedang mencari pembahsan ttg takdir dan jodoh. terkhususnya ttg jodh. karena saya benarbenar merasakan byk nya keanehan ttg penentuan jodoh tia org oleh Allah. yaa kita memang tidak pernah tau siapa jodoh kita , tetapi apa salahnya kita memantaskan diri kita ini untuk menemui jodoh yg memang pantas juga untuk kita.
karena lakilaki yg baik adlah untuk wanita yg baik dan begitu pun sbaliknya
Setelah membaca semua uraian di atas, kok nggak ada satupun yang mengangkat referensi dari QS. Al Hadid ayat 22 dan Al Hadits dalam kitab Ar Ba’in karangan Imam Nawawi hadits ke empat. Menurut saya yang pertama masalah takdir, sudah sangat jelas sekali di muat dalam QS. Al Hadid 22 yang berbunyi : Tiada suatu bencana di muka bumi dan tidak pula pada dirimu sendiri melainkan telah tercatat dalam kitab Lauhul Mahfud sebelum kalian di lahirkan. Jadi sangat jelas sekali dari uraian itu. Terkecuali kita berbuat sesuatu yang menyimpang dari aturan yang berlaku. Yang kedua dari Al Hadits dalam kitab Ar Ba’in karangan Imam Nawawi pada Hadits keempat bahwa di situ juga sudah di jelaskan masalah yang berhubungan dgn proses manusia hidup di dunia ini. Secara garis besarnya bahwa manusia berasal dari setetes air mani selama 40 hari kemudian berubah menjadi segumpal darah selama 40 hari, kemudian berubah menjadi segumpal daging selama 40 hari. Kemudian Alloh memerintahkan kepada malaikat untuk meniupkan ruh dan menetapkan 4 perkara.
Kalo menurut saya takdir adalah segala sesuatu yang sudah terjadi/sudah berlalu dan tidak bisa diulang lagi baik dari segi waktu,tempat,keadaan dan kondisi yang sama, jadi selama sesuatu itu belum terjadi masih bisa di rubah baik dengan usaha maupun do,a
subhanallah,,
saya sedang bingung menghadapi permasalahan ini,,
samping kanann bilang takdir jodoh itu haqqullah,,
samping kiri bilang kamu masih percaya kan sama jodoh itu haqqullah,,
di depan bilang ikhtiyar tidak ada salahnya, ikuti apa kata hatimu, untuk hasil kita akan tahu nanti,,
di belakang bilang masa menyerah sih, ingat kan dengan firman Allah yang menyatakan bahwa Allah tidak akan merubah hamba-Nya kecuali hamba itu sendiri yang merubahnya..
huuufth,,
ingin berjuang tanpa orang tua tidak mantap
ingin berjuang dengan orang tua, orang tua sudah kepalang kesal, ingin kepastian terlebih dahulu
selain itu juga pihak orang tua dia sudah seperti kesurupan ingin menjodohkan dia
sedangkan dikarenakan saya tidak ada pergerakan, dia sudah mulai menyayangi orang yang ditujuk orang tua dia..
hati sudah tidak karuan,,
aku ingin berjodoh dengan dia, apakah Allah akan mengabulkan jika aku hanya berdo’a tanpa berbuat banyak. Aku tidak bisa berbuat banyak dikarenakan tidak ada dukungan terutama dari orang tua saya..
Intinya sekarang saya sudah berdiri sendiri tanpa teman demi mencapai satu tujuan.. akankah permohonanku ini tercapai.. Ya Allah, hamba mohon dengan sangat ya Allah.. jodohkanlah hamba dengan dia.. al-Faatihkah,,, amien..
Apapun yg akan terjadi pada mahluk ciptaan-Nya termasuk manusia (seperti rezeki,jodah,ajal,bahagia,dll) sudah bisa diketahui oleh-Nya pada masa 50.000 tahun sebelum penciptaan Nabi Adam. Tentang apa yang diketahui ini ditulislah dalam kitab Lauh Mahfuzh. kemudian pada saat manusia dalam alam rahim ,malaikat mencatat lagi mengenai kejadian2 apa yg akan terjadi pada diri manusia setelah lahir. Isi dari catatan malaikat sama dengan yg ada di kitab Lauh Mahfuzh tadi.
Hal diatas inilah yg mungkin disebut takdir. saya bilang mungkin karena saya bukan ahlinya.
Nabi Muhammad bersabda: “Tiada yang bisa mengubah takdir selain doa dan tiada yang bisa memanjangkan umur kecuali perbuatan baik”.
Berdasar hadis diatas dapat disimpulkan bahwa takdir bisa dirubah dengan doa.
Catatan : status hadis juga saya belum tahu, jadi mohon koreksinya.
Aminnn =))
apakah wanita hanya mnunggu untuk d plih oleh pria? krna wanita tdk mmlki kewenangan besar dalam mnentukn jodoh, tp pria.
apapun bentuk tulisannya sepanjang isinya benar dan baik,Allah akan mengganjarnya.
thanks very big, insya Allah bermanfaat
Setuju Mas, kadang ada orang yang mengatakan bahwa orang kafir / islam itu ditentukan Allah.
Padahal kan y ditentukan Allah diwaktu kita masih di kandungan ibu hanya 4 : rezeki, batas umur (ajal), amal (baik dan buruk), serta nasib (mulia atau celaka).
Untuk Muslim / Kafir itu Pilihan.
Ikut Setan / ikut Al Quran (Firman Allah)
jodoh, bagai ranting pohon yg bercabang, kita bebas memilih ke arah mana kita pergi, nasib seperti panjang ranting yg telah kita pilih (proses) tidak bercabang namun panjang perjalanannya/pendek, takdir, akhir dari ranting pohon atau hasil dari jalan yg kita pilih (daun, bunga, buah dll).
bayangkan, saat pertama kita masuk sekolah, kita tidak bisa memilih siapa saja siswa/siswi yg masuk dlm kelas itu,, itu adalah jodoh yg ditentukan oleh tuhan, sudah ditentukan siapa saja yg masuk dlm kelas itu, bisa juga dikatakan takdir kita untuk masuk dalam kelas itu,, tapi kita punya pilihan untuk bergaul dengan siapa saja didalam kelas tersebut, itu adalah jodoh yg telah kita tentukan sendiri..
so, tentukan jodohmu, berusaha untuk itu dan nikmati hasil akhirnya apapun itu.
bagus mas bro…
tpi mnurut saya kita tidak bs menghindar dri takdir, yg bisa berpindah dari takdir yg satu ke takdir yg lain…hah, karena kan tidak ada sesuatu yg di luar sunatullah, pasti smw ada campur tangan Allah baik langsung maupun secara tidak langsung.
Benar …
He..he..he menyimak ulasan anda di atas aku jadi tau kenapa Alloh membenci orang yang bunuh diri, ternyata karena Alloh menjadi “pusing” dikarenakan apa yang direncanakan tentang waktu kematian orang tersebut menjadi gagal. Mungkin itulah sebabnya kenapa kemudian menjadi roh gentayangan.
saya mau tanya, saya sedang bekerja menjadi karyawan dan menurut saya pekerjaan ini sudah baik untuk saya dan kedepannya. tapi hati saya berkata lain, saya ingin bekerja dekat dengan orang tua , karena saya merasa harus membahagiakan mereka. apakah jalan yang saya tempuh sudah benar? untuk mengundurkan diri dann kembali ke kampung dengan pekerjaan yang mungkin tidak sebaik disini? apakah saya melawan ketentuan Allah??
thx
terharu menyimak tulisan diatas.
saya mau nanya tentang jodoh, kita sama-sama suka dan sama sama ingin menikah, tapi disisi lain ada yang kurang setuju dengan hubungan saya berdua. saya ingin melupakan dia karena ortuku kurang setuju,tapi apalah daya rasa cintaku makin hari makin besar,dan dalam hati kecilku inilah jodohku.
pertanyaan saya singkat saja?
apakah rasa cinta itu ada campur tangan alloh..
assalamualaikum wr.wb
kalau boleh sedikit memberi tambahan tentang bahasan diatas, ulama meriwayatkan pada saat nabi ibrohim as dibkar hidup2 oleh firaun pada saat itu malaikat air menawarkan diri pada ibrohim untuk memadamkan api ,tapi nabi ibrohim menolak “aku tidak butuh bantuan mahluk aku butuh bantuan Allah swt, nabi ibrohim selama 40 hari merasakan kenikmatan didalam api tidak merasakan panas.jadi Allah swt telah memberikan sifat pada semua mahluk yang diciptakan didunia ini, sifat api panas, sipat air basah , sipat es dingin, sifat pedang atai silet melukai, sifat kaya usaha,sifat jodoh mencari, sifat obat menyebuhkan,tapi allah swt mampu merubah sifat-sifat mahluk tersebut menjadi sifat yang berlawanan dengan asalnya, seperti sifat api panas yang membakar nabi ibrohim dirubah menjadi dingin oleh Allah swt.akantetapi perubaha sifat mahluk itu itu terjadi pada saat-saat kita sudah tidak berdaya sudah berupaya mengikuti aturan atau sifat-sifat mahluk.dan kita bertawaqal pada allah maka allah akan memberikan pertolongan dengan merubah sifat-sifat mahluk tersebut dengan tanpa menggunakan mahluk lagi..contoh masalah jodoh kita sudah berupaya maksimal mencari dengan cara yang disunahkan tapi tetap tidak dapat nah disanalah kita bertawaqal.mengenai tolak ukur batas maksimal ikhtiar seorang manusia untuk mencapai batasan maksimal kita belajar pada saat usaha muhamad saw mendatangi abu jahal supaya masuk islam sampai 70 kali, ya kita sebagai manusia biasa ambil aja 40 kali itungannya dalam berkhtiar ,misalnya 40 kali ngelamar kalu masih tetap ditolak baru tawaqal disanalah pertolongan allah akan datang.kalau urusan bisnis ya 40 kali kita mendirikan usaha atau mencari kerja setelah itu bertawaqal….wassalamualaikum wr.wb
buku tak akan tau isinya klo belum dibuka itulah takdir
Sy masih bertanya tanya dalam otak sy mengenai jodoh
Rizky dan kematian mungkin bisa diatasi
Tapi jodoh … Apa sepenuh’a ??????? yang nentuin ?
Setau sy takdir sesorang itu hanya ??????? yang ???? … Knp ada manusia ?ª?g bisa meramalkan masa depan ?
Antara rizky , jodoh , dan apa ?ª?g akan terjadi dihari esok
Apakah pasangan yang kita miliki saat ini bisa jadi bukan jodoh kita?
Sedangkan dalam keyakinan bila kita berusaha jadi lebih baik
Itu akan membuat pasangan nyaman
Udah ada kemantapan bahwa kita memang berjodoh
Masih tidak paham akan aturan jodoh ini!!!!