Rokok tidak haram, karena saya sendiri juga merokok, dan tidak ada akibat apapun yang terjadi. Intinya, rokok dalam islam dihukumkan tidak haram, asalkan tidak berbahaya bagi penggunanya,” kata Mbah Idris saat ditemui detiksurabaya.com di kediamannya, Jalam KH Abdul Karim, Kelurahan Lirboyo, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, Kamis (14/8/2008).

(http://surabaya.detik.com/read/2008/08/14/144501/988596/475/pimpinan-ponpes-lirboyo-rokok-tidak-haram)

Lho, memangnya SIAPA ANDA? Apakah kalau si Mbah berzina kemudian zina jadi halal? Kalau si Mbah korupsi, korupsi jadi halal?!  Subhanallah.  Si Mbah yakin tidak terjadi apa-apa? Hebat, mbah… Hebat!!  Cuma, barangkali, si Mbah belum periksa ke dokter, ya Mbah?

Tapi jumlah ulama yang mengharamkan dan menghalalkan, jauh lebih banyak yang menghalalkan. Di Arab Saudi, perokok justru disertai dengan candu dan itu sama sekali tidak membahayakan bagi mereka,” jelas Mbah Idris.

Seberapa banyak Mbah? Sudah dilakukan penelitian dan survey? Data statistiknya mana?  Memangnya kalau orang Arab mabok kita juga boleh mabok mbah?

Yang jelas saya nyatakan rokok tidak haram, karena saya memiliki pedoman sendiri. Jika umat islam di Indonesia tak ingin menuruti fatwa MUI ya itu hak mereka, asalkan mereka juga memiliki pedoman yang kuat,” tegas Mbah Idris.

Sekali lagi, memangnya SIAPA ANDA?!! Pedomannya apa, mbah?  Jangan-jangan pedomannya hawa nafsu, mbah? Ingat lho, Mbah… MUI saja masih berdiskusi soal ini, belum berani mengeluarkan fatwa.  Oh, mungkin si Mbah lebih hebat daripada orang-orang di MUI ya, Mbah?!  Pantas kalau begitu …

Secara keseluruhan, antara mudharat dan manfaat rokok lebih banyak mana, mbah?  Saya kok lebih melihat banyak mudharatnya, mbah.  Tanyakan saja pada yang merokok, Mbah!!  Apalagi sama yang tidak merokok, Mbah.  Si Mbah mungkin jantungnya masih kuat, paru-parunya masih sehat, tapi jutaan orang yang tidak merokok tersiksa, Mbah.

Memang benar ada ribuan orang jadi pegawai di perusahaan rokok, Mbah.  Puluhan juta rupiah juga masuk ke kas negara dari pajak rokok, Mbah.  Tapi, barangkali karena itulah, negara kita belum bisa jadi negara yang barokah, Mbah.  Sebab pendapatan negaranya didapat dari ‘menyiksa’ dan meracuni jutaan orang… Barangkali loh,  Mbah.  Saya kan cuma menduga-duga, si Mbah mestinya lebih paham daripada saya, iya kan, Mbah?

Lupakan soal Fatwa MUI, Mbah.  Lupakan soal haram-halal, karena akan selalu jadi perdebatan, Mbah.  Hanya saja, sebagai seorang Ulama, si Mbah mestinya lebih peka daripada kami yang lebih banyak kesalnya terhadap para perokok seperti si Mbah.  Terhadap kondisi lingkungan sekitar, terhadap kelangsungan hidup masyarakat, terhadap kenyamanan bersosialisasi.  Apalagi si Mbah banyak didengarkan orang, banyak dituruti orang, banyak dipuja orang…

Salam, Mbah… Bah!!

loading...