Tag: twitter

icon-set-1175046_1280

Kebijakan Personal di Media Sosial

Setiap orang memiliki preferensi yang berbeda dalam memandang media sosial, yang berakibat pada berbeda-bedanya tujuan setiap orang dalam menggunakannya. Salah satu perbedaan pandangan yang tidak akan pernah berujung mengenai media sosial berhubungan dengan status materi yang diunggah, apakah masuk ranah sosial, atau ranah pribadi? Materi di media sosial dapat berupa teks, gambar, audio, atau video.

Saya termasuk yang berpandangan bahwa aktivitas di media sosial merupakan aktivitas di ranah publik. Ini pula yang mendasari qaul qadim saya dalam tulisan mengenai Berdo’a di Media Sosial, dengan penekanan pada do’a yang bersifat pribadi. Qaul jadid saya sih masih belum berubah banyak, heu heu…

Di facebook, misalnya, ketika kita berteman dengan orang lain, secara tidak langsung sudah terjadi kesepakatan, bahwa kita dapat melihat apa pun aktivitas teman kita, dan sebaliknya. Kita dapat mengunggah materi apa pun, entah itu baik atau buruk, entah teman-teman kita suka atau tidak dengan materi tersebut.

Ketika materi tersebut sudah diunggah, maka kita sudah tidak memiliki kendali terhadap dampak yang akan ditimbulkan setelahnya. Kita tidak memiliki kendali untuk mengatur bagaimana orang lain bereaksi. Kita tidak akan sanggup menghentikan orang lain menampakkan ketidaksetujuan atau kebencian terhadap materi tersebut. Setiap orang dapat meng-capture, menyalin materi, mengunduh gambar atau video dari akun media sosial kita. Persoalannya bukan apakah orang lain boleh melakukan itu semua atau tidak. Kita bisa berdebat berbusa-busa mengenai hal tersebut. Namun, yang perlu ditekankan adalah mereka bisa melakukan itu di media sosial.

Kendali yang kita miliki dalam media sosial sesungguhnya sangat kecil dan sedikit sekali. Paling hanya bagaimana reaksi kita terhadap materi orang lain, dan materi apa yang dapat kita unggah ke dalam media sosial. Tidak jarang pula, kita kehilangan kendali terhadap reaksi spontan yang ditimbulkan oleh materi orang lain. Bahkan, bisa jadi kemudian berpengaruh terhadap mood kita selanjutnya selama seharian.

Kita dapat saja mengatur siapa saja yang dapat melihat dan berinteraksi di media sosial. Di facebook kita bisa mengatur apakah materi yang kita unggah dapat dilihat oleh publik, hanya kawan saja, atau hanya orang tertentu saja. Di instagram dan twitter, kita dapat mengatur agar materi kita dapat dilihat oleh pengikut saja. Namun, selama isi media sosial kita masih bisa dilihat orang lain, entah itu sahabat, keluarga, tetangga, atau baru dikenal di internet, maka tidak sedikitpun kita dapat mengatur reaksi mereka. Sedekat-dekatnya seorang sahabat, tidak akan selalu menyukai, atau menyetujui apa pun yang kita katakan, lakukan, ungkapkan. Apalagi orang yang baru dikenal di internet. Maka, potensi menimbulkan konflik akan selalu ada.

Kalau memang ingin materi-materi di media sosial tidak masuk ke ranah publik, atur agar materi-materi tersebut hanya bisa dilihat sendiri. Tidak perlu punya follower di twitter atau instagram. Atur agar akun-akun tersebut jadi private. Cukup sendiri saja. Hanya saja, kalau begitu buat apa juga punya akun media sosial? Lebih baik menulis diary saja. Lalu sembunyikan. Dijaga oleh anjing galak. Tiga ekor sekaligus, jika perlu.

Berdasarkan hal tersebut, dalam melakukan aktivitas di media sosial, saya cenderung tidak serius, sedikit berhati-hati, cenderung menghindari perdebatan, walau kadang tak tertahankan untuk bersikap nyinyir dan sok tahu. Demi menjaga agar aktivitas media sosial saya tetap pada “jalan yang lurus”, ada beberapa policy (kebijakan) yang saya tekankan pada diri saya sendiri dalam melakukan aktivitas di media sosial.

Berikut ini merupakan beberapa kebijakan yang saya pegang dalam beraktivitas di media sosial;

Tidak menuliskan aib atau permasalahan rumah tangga dan keluarga. Keluarga di sini selain anggota inti, yaitu; anak & pasangan, juga termasuk orang tua, mertua, adik, sepupu, ipar, dan lain-lain. Pokoknya siapa pun yang dianggap sebagai anggota keluarga, jika terjadi permasalahan, sebisa mungkin saya hindari untuk membahasnya di media sosial. Ini perkara menjaga kehormatan keluarga. Membahas di media sosial malah akan merusak hubungan baik di dalam keluarga. Masalah belum tentu selesai, dibenci keluarga sudah pasti.

Tidak mengangkat atau mengeluhkan permasalahan di tempat kerja, terutama yang berhubungan dengan rekan kerja. Tempat bekerja semestinya dapat kita kondisikan agar menyenangkan, atau kalau pun ada masalah, tidak terlalu mengganggu pekerjaan. Permasalahan yang muncul di tempat kerja sebetulnya hal yang lumrah, baik itu dengan rekan kerja, dengan atasan atau dengan bawahan.

Pekerjaan rutin kita saja bisa jadi sumber masalah setiap harinya. Mengangkat atau lebih tepatnya mengeluhkan persoalan pekerjaan, apalagi orang-orang di tempat kerja, hanya akan menambah sumber masalah, dan menimbulkan suasana tempat kerja yang kurang nyaman.

Di luar rekan kerja, orang-orang yang membaca materi kita di media sosial akan khawatir dengan apa yang kita lakukan. “Jangan-jangan, kalau nanti saya satu tempat kerja sama dia, saya akan dibegitukan juga“, atau “Ngeluh aja sama kerjaannya, kenapa gak resign aja, sih?

Jelasnya, hal-hal semacam itu bukan materi yang akan disukai oleh tim HRD suatu perusahaan. Lain kali akan menulis mengenai persoalan di tempat kerja, bayangkan ada HRD dari perusahaan lain sedang memantau media sosial anda. Heu heu.

Terbukti kemudian, hubungan saya dengan mantan rekan kerja tidak pernah ada masalah. Tidak bekerja bersama lagi, bukan berarti kemudian saling melupakan. Di media sosial kami masih saling menghargai, meski tidak selalu berinteraksi.

Tidak menulis status yang marah pada…tembok. Pernah melihat curhatan semacam, “awas aja, nanti kalau gue gak ada lu baru tahu rasa“, “sudah dikerjakan serius, eh gak dihargai“, “udah gue bantuin, ngomongnya malah gak enak gitu“, dan lain-lain yang senada dengan itu? Di media sosial, itu adalah materi-materi yang tidak pernah saya respon atau saya cuekin kalau muncul di timeline saya. Materi seperti itu berpotensi memancing kerusuhan, karena bisa jadi ada orang yang merasa, meskipun orang tersebut bukan orang yang dimaksud dalam curhatan itu.

Mengurangi bahasan tentang anak. Saya belakangan langka sekali membahas tentang anak. Tentu saja, di awal memiliki anak sering melakukan itu, terutama mengunggah foto. Tidak membahas tentang anak di media sosial, bukan berarti tidak sayang pada mereka. Sudah pasti, saya sangat menyayangi mereka. Namun, justru itu masalahnya. Orang lain pun sangat menyayangi anak-anaknya. Sehingga, ketika saya membahas anak, kemungkinannya; orang lain tidak peduli, atau malah membandingkan dengan anak mereka. You know lah, ya… mentalitas “anak saya paling hebat sedunia“. Akhirnya, isi komentar di media sosial jadi saling membanggakan anak. Lah, kan saya lagi bahas anak saya…? Heu heu. Kebijakan ini berlaku juga di luar internet, sih. Saya langka bahas anak dengan orang lain dalam keseharian, karena biasanya ending-nya sama. Wkwkwkwk.

Terkait membahas anak juga termasuk tidak mengeluhkan mereka. Alasannya; merasa malu kepada orang tua dulu, yang meskipun bisa jadi beban mereka lebih berat daripada saya, tapi mampu melewatinya. Beruntunglah belum ada media sosial di zaman mereka. Hahaha. Selain itu, saya khawatir saat anak-anak sudah besar, lalu menemukan dan membaca keluhan saya di media sosial, keluhan-keluhan itu akan menyedihkan mereka.

Tidak Berjualan. Tidak di akun personal, tentu saja. Saya hanya merasa lebih nyaman kalau untuk akun personal tidak digunakan untuk berjualan. Untuk keperluan berjualan, di facebook saya buat page, di twitter buat akun baru lagi khusus dengan nama brand yang akan dijual. Jadinya lebih berat, sih… karena orang lain tidak mengenal brand yang sedang coba kita jual tersebut. Ini bukan soal benar dan salah, soal kenyamanan hati saja. Hey, i’m an introvert. Selling is not our strength. Ya, saya tahu… ini hanya alasan. :-))

Itu adalah beberapa poin kebijakan saya di media sosial. Pegangan saja. Meski terkadang berkhianat juga. Ada kalanya, sebuah kebijakan diputuskan setelah melihat materi orang lain. Jika terasa salah bagi saya, maka sebisa mungkin saya hindari. Tentu saja, ini belum tentu berlaku untuk orang lain. Namun, nyatanya, dalam bertahun-tahun “hidup” di media sosial, langka sekali saya bermasalah dengan orang lain. Prinsipnya, berteman lebih baik daripada bermusuhan. Melakukan perbaikan lebih baik daripada berbuat kerusakan. Atau, diam…

loading...

Jodoh

Sebelum melanjutkan membaca tulisan ini, pertimbangkan untuk memutar lagu “Cari Jodoh” dari Wali. Heu heu. Sudah? Lanjuuuuttt…

Sudah terlalu lama saya menunda menulis tentang topik yang satu ini: jodoh. Akan tetapi, kesibukan dan kemalasan saya membuat tulisan yang saya rencanakan itu tidak pernah terwujud. Sebelum terjadi kesalahpahaman, saya tidak bermaksud menjadikan tulisan ini sebagai sebuah tips dan trik atau tutorial mencari jodoh. Saya pun sesungguhnya bodoh dalam hal tersebut. Namun, barangkali tulisan ini bisa menjadi sebuah masukan, bahan pemikiran atau diskusi bersama. *PD banget*

Sebagai informasi saja, pengunjung yang  masuk ke blog saya paling banyak karena melakukan pencarian dengan kata kunci: “jodoh” atau “takdir” pada mesin pencarian, utamanya Google. Halaman yang paling banyak dikunjungi adalah sebuah halaman yang berisi tulisan lama saya, tulisan yang saya pindahkan dari blog lama ke blog ini. Tulisan itu berjudul: “Takdir: Rezeki, Jodoh dan Kematian“. Jika Anda melakukan pencarian dengan kata “takdir” di google.co.id, link tulisan itu akan muncul di halaman pertama. Perlu diketahui, tulisan tersebut saya buat tahun 2006. Lebih dari 5 tahun yang lalu! Jadi, dalam beberapa hal yang muncul di tulisan tersebut, mungkin sudah tidak relevan lagi dengan apa yang saya pikirkan sekarang.

Tulisan tersebut, juga tulisan lain berjudul “Seri Takdir“, merupakan pemahaman saya tentang bagaimana takdir “bekerja”, yang juga menjadi spirit dari tulisan ini. Ya, tentu saja, pemahaman saya sangat terpengaruh oleh Islam, meskipun tidak sempurna. Intinya, bagi saya, takdir itu merupakan sesuatu yang telah terjadi pada diri kita. Cerita hidup kita merupakan sekumpulan takdir, yang ditentukan oleh pilihan-pilihan yang telah kita lakukan. Meskipun, ada masa di mana takdir kita ditentukan oleh pilihan orang-orang di luar diri kita. Misalnya, saat memulai sekolah dasar, sekolah tersebut dipilihkan oleh orang tua kita, atau baju yang kita gunakan saat bayi. Kita bahkan tidak dapat memilih saat dilahirkan oleh orang tua kita. Itulah sebabnya ada masa aqil baligh dalam Islam, saat seseorang sudah dianggap dapat mempertanggungjawabkan segala yang dilakukannya. Maka dari itu, persoalan jodoh sudah pasti merupakan bagian dari takdir itu sendiri.

Semangat untuk mewujudkan tulisan ini salah satunya dipicu dari aktifitas di twitter. Namun pemicu utamanya karena melihat fenomena pencarian jodoh itu sendiri. Pada suatu sore, Teh Ratna mengomentari sebuah kicauan dari akun twitter yang banyak memiliki follower. Status twit tersebut dapat dibaca pada gambar di bawah:

twitjodoh

Melihat twit tersebut, pikiran iseng dan jail saya terpicu. Entah mengapa, setiap kali membaca kata-kata mutiara, saya sering tergoda untuk mencari celah dari maksud tulisan tersebut, sehingga kata-kata mutiara tersebut jadi kehilangan maknanya. Ah, intinya sih saya suka merusak suasana dan mood orang lain :)). Segera setelah membaca twit Teh Ratna itu, saya pun iseng mengomentari:

twitjodoh2

Obrolan tersebut kemudian berlanjut, dengan melibatkan juga yang lain. Namun, seluruh obrolan itu tidak akan saya tampilkan di sini. Intinya yang ingin saya sampaikan adalah sering kali kita mengeluhkan susahnya mendapatkan jodoh, lalu mencoba mencari pembenaran seolah-olah Tuhan menunda pertemuan kita dengan jodoh terbaik yang sudah Tuhan siapkan untuk kita. Sementara, barangkali yang sesungguhnya terjadi adalah Tuhan sudah ‘mengirim’ seseorang terbaik ke hadapan kita, lalu kita menolaknya karena tidak sesuai dengan kriteria yang ada di benak kita. Mungkin saja orang tersebut sudah sangat dekat, tapi ‘makhluk sempurna’ di dalam benak kitalah yang membutakan mata dan pikiran kita. Mungkin juga, jika Anda seorang wanita, orang tersebut sudah berniat melamar Anda, tapi Anda menolaknya karena, “kurang sreg di hati“. Begitu alasan Anda. Padahal, bisa jadi Anda sendiri tidak yakin dengan alasan tersebut karena sudah terlalu dibutakan oleh angan-angan Anda. Lucunya, setelah itu, Anda masih mengeluh betapa susahnya mencari jodoh. Jodoh yang sempurna, tentu saja.

Tentu, setiap orang memiliki kriteria jodoh yang diidam-idamkannya. Itu hak azasi setiap orang. Saya pun memiliki kriteria, namun sedapat mungkin kriteria tersebut tidak membelenggu dan menyulitkan dalam mencari jodoh. Sayangnya, yang terjadi pada sebagian orang, kriteria tersebut betul-betul menjadi belenggu, karena kriteria yang ditentukan terlalu sempurna dan jodoh yang diinginkan harus memenuhi kriteria tersebut. Jika Anda merupakan salah satu dari orang tersebut, yakinlah proses pencarian jodoh Anda akan sangat sulit. Salah seorang kawan saya pernah mengatakan, “pasangan sempurna bagi kita itu ada 2 orang, satu orang meninggal saat kita dilahirkan, dan satu orang lagi  dilahirkan saat kita meninggal“. Saya tidak tahu dia mendapatkan quote tersebut dari siapa, tapi sangat jelas kebenaran kata-katanya.

Selain kriteria, masalah lain yang mengganggu saya adalah dari usaha dan proses yang dilakukan. Dalam generasi saat ini, tertanam sebuah pemikiran bahwa proses perjodohan -di mana sebuah pasangan dijodohkan oleh orang tua mereka- itu sudah sangat ketinggalan zaman. Kuno. Primitif. Melanggar HAM. Siti Nurbaya adalah simbol negatifnya proses perjodohan tersebut. Padahal, jika pun ada, Siti Nurbaya hanya setitik di antara seluruh proses perjodohan yang hasilnya merupakan orang-orang generasi sekarang. Anda mungkin perlu sesekali bertanya pada orang tua atau kakek-nenek Anda, bagaimana proses mereka bertemu dan menikah? Dijodohkan? Mencari sendiri?

Orang-orang masa kini merasa harga dirinya jatuh, jika untuk masalah jodoh saja masih dicarikan atau dijodohkan. Mereka merasa sangat yakin dengan kemampuannya untuk mencari jodoh sendiri. Percaya diri boleh saja, tapi terlalu percaya diri bisa mengantarkan pada kesombongan. Dengan kesombongan itu, mereka kemudian mulai menganggap bahwa dijodohkan adalah tabu. Dicarikan jodoh adalah hina. Lalu ‘pintu-pintu’ tersebut mereka tutup sama sekali, padahal bisa jadi, calon jodoh terdekat atau terbaik berasal dari pintu itu. Hari-hari, minggu-minggu, bulan-bulan serta tahun-tahun selanjutnya, mereka masih mengeluh susahnya mendapatkan jodoh. Dijodohkan tak mau, mencari sendiri tak menghasilkan. Selamat!

Saya pun pernah berada dalam kondisi tersebut. Merasa mampu mendapatkan jodoh sendiri, namun tak menghasilkan sama sekali, sampai merasa putus asa dan kehilangan kepercayaan diri. Proses perenungan yang akhirnya membuat saya memutuskan untuk … kompromi. Saya tidak memiliki masalah dengan kriteria, karena pada dasarnya kriteria yang saya tentukan fleksibel, meskipun ada poin-poin yang wajib dipenuhi, tapi tidak menyulitkan karena sifatnya umum saja dan fungsinya untuk memudahkan pada saat penyeleksian yang pada akhirnya terjadi secara alami. Dalam kasus saya, wanita berjilbab adalah salah satu poin yang harus dipenuhi, sehingga sadar atau tidak sadar, saya benar-benar tidak pernah tertarik untuk ‘mengejar’ wanita yang tidak berjilbab.

Kriteria tidak bermasalah, maka yang menjadi perhatian saya adalah usaha dan proses. Akhirnya, saya mulai membuka diri terhadap usaha orang tua mencarikan jodoh buat saya. Saya memberanikan diri untuk minta dicarikan jodoh pada teman-teman saya. Saya juga ingat dengan nasihat-nasihat lain dari kawan atau dari ceramah-ceramah, silaturahim alias gaul!

Seorang kawan pernah menasihati saya. Kenali banyak lawan jenis tapi jangan terlalu cepat apalagi  langsung menaruh hati pada mereka, karena saat hati mulai terlibat, segalanya akan menjadi mulai sulit. Kenali, tapi tidak terlalu dekat, tidak juga terlalu berjarak. Dalam proses tersebut, usahakan tidak terlalu dibebani oleh masalah-masalah jodoh tersebut. Bersenang-senanglah! Itu menurut kawan saya. Mohon tidak disalahpahami, bersenang-senang di sini bukan dalam arti negatif seperti playboy, tapi lebih ke diri sendiri dalam menikmati proses tersebut yang dilakukan dengan kesabaran, tidak terburu-buru. Meskipun sebetulnya hal ini lebih ‘mudah’ dilakukan oleh laki-laki daripada oleh perempuan.

Itulah yang saya lakukan kemudian. Membuka pintu-pintu datangnya jodoh tersebut. Mencoba untuk lebih rendah hati dengan menyadari kelemahan-kelemahan yang saya miliki. Apa yang terjadi kemudian cukup menarik. Orang tua saya, misalnya, diam-diam berusaha menjodohkan saya dengan beberapa perempuan yang merupakan anak dari teman atau tetangga. Beberapa teman saya menawari juga beberapa orang yang mereka pilihkan. Lucunya, saya menjatuhkan pilihan pada istri saya sekarang, yang merupakan proses pencarian sendiri.

Masalah lain barangkali definisi jodoh itu sendiri. Bagi saya, jodoh adalah istri, bukan pacar. Hal tersebut juga berpengaruh terhadap proses pencarian jodoh tersebut. Sehingga, yang saya cari adalah seseorang untuk dijadikan istri, dan yang saya siapkan sesungguhnya adalah mental untuk menjadi suami. Oleh sebab itu, proses pernikahan saya termasuk cepat dan terkesan mendadak, bahkan bagi orang tua saya. Akan tetapi, proses pembentukan mental menjadi suami itulah yang sudah lama saya bangun, bahkan sejak masih SMA.

Dalam pengambilan keputusan menikah, tentu bukan tanpa keraguan. Akan tetapi, yang saya lakukan adalah mengupayakan agar keyakinan saya tidak sampai diambil alih oleh keraguan saya. Saya mempercayai bahwa pernikahan adalah ibadah, maka saya yakin Allah akan membimbing. Saya tahu bahwa -saat itu- calon istri saya adalah seseorang yang baik, dilihat dari sikapnya, harapan-harapannya, orang-orang di sekitarnya, maka saya yakin bahwa kami bisa membangun sebuah keluarga yang baik. Saya tahu calon istri saya pasti memiliki kekurangan yang setelah menikah baru akan terungkap, tapi siapa yang tidak memilikinya? Oleh sebab itu, saya merasa mantap untuk melangkah dan mengikis keraguan-keraguan itu sampai sekecil mungkin. Dan di titik takdir ini lah saya sekarang, sebagai seorang suami, seorang ayah, masih dalam proses membangun keluarga yang barokah. Bagaimana dengan Anda?

(itu kalimat terakhir ngeledek banget sih, mudah-mudahan gak ada yang doa’in keburukan buat saya. heu heu.)

Berdo’a, di Media Sosial?

Media-media sosial semacam Facebook dan Twitter memang telah mengubah perilaku penggunanya, dari apa yang biasanya dilakukan di dunia nyata (offline). Kadang -atau sering(?)- terjadi, di dunia maya sudah tidak jelas lagi batasan apakah sesuatu itu lazim bagi publik atau tidak. Bertengkar dan disaksikan ratusan orang, di dunia nyata, mungkin hanya terjadi pada kegiatan debat terbuka. Akan tetapi, di media sosial, semua orang bisa menjadi pelaku … sekaligus ‘penonton’ dan komentator. Memang tidak semua orang juga melakukannya, penekanan saya ada pada kata “bisa”. Sebab, tidak semua orang benar-benar bisa berdebat di dunia nyata. Saya, misalnya, cenderung tidak nyaman berdebat langsung berhadap-hadapan dengan lawan debat dan lebih suka menghindari perdebatan, tapi di dunia maya, saya bisa melakukannya, meskipun belakangan mulai saya kurangi.

Saya sendiri, ketika membaca sebuah ‘kicauan’ di Twitter, sering membayangkan apa yang dituliskan tersebut, diucapkan di dunia nyata. Sebab, saya memposisikan Twitter dan Facebook seperti sebuah forum terbuka atau bahkan … warung kopi :p. Skenarionya sederhana saja. Saat seseorang menulis sebuah kicauan: “duh, lapar, pengen ayam bakar“. Jika kalimat tersebut diucapkan di tengah sebuah kumpulan manusia di warung kopi atau bahkan di tempat nongkrong, masih terdengar lazim, orang lain mungkin akan menimpali, “sama, gue juga“, yang lain mungkin akan ikut juga menimpali, “cari makan, yuk?“.

Bahkan, ketika seseorang melakukan kultwit sekalipun, masih dapat diterima dan lazim terjadi. Anggap saja sebuah kelompok diskusi, di mana salah seorang menjadi pembicaranya. Apa itu kultwit? Kultwit -atau Kuliah Twit(ter)- biasanya merujuk pada kicauan di twitter yang membahas suatu masalah dan sengaja dibuat berseri atau dipecah oleh penulisnya, karena keterbatasan karakter di twitter yang hanya bisa 140 karakter sekali kicau. Bayangkan tulisan ini dipecah per kalimat untuk dijadikan kicauan di twitter … itulah kultwit.

Sekarang bayangkan jika seseorang menulis seperti ini: “sedang pipis, lega sekali rasanya“. Pernahkah terjadi seseorang mengatakan itu di tengah sebuah kelompok? saat sedang pipis? tidak pernah terjadi, kan? Saya sih belum pernah menemukan tulisan seperti itu di Facebook atau Twitter. Beda kasusnya kalau misalkan seseorang menulis, “baru beres pipis” atau “duh, kebelet, kepengen pipis“. Sangat lazim terjadi di dunia nyata.

Kasus lain lagi, misalnya saat sedang berkumpul dengan teman-teman, risih gak sih kita kalau ada pasangan suami-istri bertengkar di tengah-tengah kita? Sama halnya di media sosial. Meskipun rasanya seperti hanya bertengkar berdua saja, tapi kenyataannya banyak orang yang menyaksikan. Sebagianorang akan bertepuk tangan sambil tertawa, sebagian mengelus dada, sebagian lagi tidak ambil pusing atau masa bodoh. Kenyataannya, saya sering menjadi orang yang disebut pertama itu: tepuk tangan dan menertawakan. Jarang-jarang kan ada hiburan suami-istri bertengkar di media sosial? 😀 Lagipula, yang namanya sedang emosi, baik itu di facebook, di twitter atau pun di dunia nyata, hasilnya hampir sama saja: caci maki, ungkapan kekesalan, galau, amarah … ya, yang begitu-begitu itu lah. Ya, saya juga pernah terjebak menjadi pelaku dalam situasi semacam itu, meskipun sejak awal tidak suka melihat orang yang mengumbar masalah rumah tangganya di media sosial, saya juga pernah melakukannya, dan ternyata memang tidak menyelesaikan masalah. Menambah masalah sih iya, malah akhirnya diolok-olok teman dan dipermalukan. Paling minimal, disindir… seperti saya menyindir mereka yang pernah melakukannya.

Bagaimana dengan status atau kicauan yang berisi do’a? Misal, “semoga Timnas Indonesia juara kali ini“? Iya, ini do’a, hanya redaksinya umum saja, diungkapkan di depan rekan-rekan sekantor yang sedang makan siang bersama pun akan dianggap biasa saja. Bahkan kemudian akan menjadi bahan diskusi seru. Begitu pula dengan do’a seperti ini, “hey, kamu ulang tahun? semoga Allah mempertemukan kamu dengan jodoh terbaik …”. Ini juga lazim terjadi di tengah-tengah kumpulan manusia, bahkan yang tadinya tidak tahu akan menjadi tahu dan akhirnya mendo’akan juga. Begitu pula dengan do’a seperti ini: “hari ini teman saya si Fulan menikah, semoga keluarganya diberkahi …“. Ini juga -rasanya- masih lazim, bagi sebagian orang akan dianggap sebuah informasi.

Lantas, bagaimana dengan do’a seperti ini: “Ya, Allah … mengapa masalah ini terasa begitu sulit? berilah Hamba jalan keluar dari masalah ini…”. Atau, “Ya Allah, berilah hamba jodoh terbaik yang Engkau pilihkan untukku“. Serius, pernahkah Anda menemukan orang yang berdo’a seperti itu di tengah-tengah sebuah kerumunan manusia? Saya belum pernah. Kalau pun ada yang melakukannya, paling di dalam hati. Oleh sebab itu, hal semacam ini tidak lazim terjadi. Jika di dunia nyata saja langka terjadi, mestinya di media sosial pun berlaku hal yang sama. Apalagi, do’a semacam itu bersifat sangat personal. Do’a yang bersifat personal seperti itu, mestinya tidak keluar dari wilayah personal juga, apalagi dalam redaksi do’anya, memanggil (mention, dalam twitter) nama Allah. Ini yang saya sebut dengan salah tempat. Meskipun Allah Maha Mengetahui isi hati seluruh manusia, Twitter dan Facebook, bukan media yang tepat. Media sosial pada dasarnya hanya diciptakan untuk berkomunikasi dengan manusia.  Bukankah ada adab berdo’a? Saya sendiri sering tidak yakin, do’a seperti itu, yang dilakukan di media sosial, sungguh-sungguh sebuah do’a atau hanya sebuah pamer masalah dan penderitaan? Sedang bersungguh-sungguh, atau dilakukan sambil lalu? Sedang tengkurep atau sambil jalan kaki? Hanya si penulis saja yang tahu. Memang, segalanya tergantung pada niat. Justru, kalau tergantung niat, bukankah sebaiknya do’a tersebut cukup diketahui diri sendiri dan Allah saja? Haruskah orang lain tahu dengan do’a kita yang sangat personal tersebut? Mengapa tidak sekalian dilakukan sungguh-sungguh, dengan adab yang benar, daripada dituliskan sebagai sebuah kicauan di twitter atau status di facebook? Saya khawatir, jangan-jangan do’a tersebut hanya berhenti sampai ke server saja karena dilakukan secara sambil lalu. Sederhana saja, orang yang berdo’a secara sungguh-sungguh, secara khusyu, dengan adab yang benar, mungkin tidak akan pernah terpikir -apalagi sempat- untuk menuliskan do’a-do’a tersebut ke dalam Twitter atau Facebook.

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén