Tag: social media

icon-set-1175046_1280

Kebijakan Personal di Media Sosial

Setiap orang memiliki preferensi yang berbeda dalam memandang media sosial, yang berakibat pada berbeda-bedanya tujuan setiap orang dalam menggunakannya. Salah satu perbedaan pandangan yang tidak akan pernah berujung mengenai media sosial berhubungan dengan status materi yang diunggah, apakah masuk ranah sosial, atau ranah pribadi? Materi di media sosial dapat berupa teks, gambar, audio, atau video.

Saya termasuk yang berpandangan bahwa aktivitas di media sosial merupakan aktivitas di ranah publik. Ini pula yang mendasari qaul qadim saya dalam tulisan mengenai Berdo’a di Media Sosial, dengan penekanan pada do’a yang bersifat pribadi. Qaul jadid saya sih masih belum berubah banyak, heu heu…

Di facebook, misalnya, ketika kita berteman dengan orang lain, secara tidak langsung sudah terjadi kesepakatan, bahwa kita dapat melihat apa pun aktivitas teman kita, dan sebaliknya. Kita dapat mengunggah materi apa pun, entah itu baik atau buruk, entah teman-teman kita suka atau tidak dengan materi tersebut.

Ketika materi tersebut sudah diunggah, maka kita sudah tidak memiliki kendali terhadap dampak yang akan ditimbulkan setelahnya. Kita tidak memiliki kendali untuk mengatur bagaimana orang lain bereaksi. Kita tidak akan sanggup menghentikan orang lain menampakkan ketidaksetujuan atau kebencian terhadap materi tersebut. Setiap orang dapat meng-capture, menyalin materi, mengunduh gambar atau video dari akun media sosial kita. Persoalannya bukan apakah orang lain boleh melakukan itu semua atau tidak. Kita bisa berdebat berbusa-busa mengenai hal tersebut. Namun, yang perlu ditekankan adalah mereka bisa melakukan itu di media sosial.

Kendali yang kita miliki dalam media sosial sesungguhnya sangat kecil dan sedikit sekali. Paling hanya bagaimana reaksi kita terhadap materi orang lain, dan materi apa yang dapat kita unggah ke dalam media sosial. Tidak jarang pula, kita kehilangan kendali terhadap reaksi spontan yang ditimbulkan oleh materi orang lain. Bahkan, bisa jadi kemudian berpengaruh terhadap mood kita selanjutnya selama seharian.

Kita dapat saja mengatur siapa saja yang dapat melihat dan berinteraksi di media sosial. Di facebook kita bisa mengatur apakah materi yang kita unggah dapat dilihat oleh publik, hanya kawan saja, atau hanya orang tertentu saja. Di instagram dan twitter, kita dapat mengatur agar materi kita dapat dilihat oleh pengikut saja. Namun, selama isi media sosial kita masih bisa dilihat orang lain, entah itu sahabat, keluarga, tetangga, atau baru dikenal di internet, maka tidak sedikitpun kita dapat mengatur reaksi mereka. Sedekat-dekatnya seorang sahabat, tidak akan selalu menyukai, atau menyetujui apa pun yang kita katakan, lakukan, ungkapkan. Apalagi orang yang baru dikenal di internet. Maka, potensi menimbulkan konflik akan selalu ada.

Kalau memang ingin materi-materi di media sosial tidak masuk ke ranah publik, atur agar materi-materi tersebut hanya bisa dilihat sendiri. Tidak perlu punya follower di twitter atau instagram. Atur agar akun-akun tersebut jadi private. Cukup sendiri saja. Hanya saja, kalau begitu buat apa juga punya akun media sosial? Lebih baik menulis diary saja. Lalu sembunyikan. Dijaga oleh anjing galak. Tiga ekor sekaligus, jika perlu.

Berdasarkan hal tersebut, dalam melakukan aktivitas di media sosial, saya cenderung tidak serius, sedikit berhati-hati, cenderung menghindari perdebatan, walau kadang tak tertahankan untuk bersikap nyinyir dan sok tahu. Demi menjaga agar aktivitas media sosial saya tetap pada “jalan yang lurus”, ada beberapa policy (kebijakan) yang saya tekankan pada diri saya sendiri dalam melakukan aktivitas di media sosial.

Berikut ini merupakan beberapa kebijakan yang saya pegang dalam beraktivitas di media sosial;

Tidak menuliskan aib atau permasalahan rumah tangga dan keluarga. Keluarga di sini selain anggota inti, yaitu; anak & pasangan, juga termasuk orang tua, mertua, adik, sepupu, ipar, dan lain-lain. Pokoknya siapa pun yang dianggap sebagai anggota keluarga, jika terjadi permasalahan, sebisa mungkin saya hindari untuk membahasnya di media sosial. Ini perkara menjaga kehormatan keluarga. Membahas di media sosial malah akan merusak hubungan baik di dalam keluarga. Masalah belum tentu selesai, dibenci keluarga sudah pasti.

Tidak mengangkat atau mengeluhkan permasalahan di tempat kerja, terutama yang berhubungan dengan rekan kerja. Tempat bekerja semestinya dapat kita kondisikan agar menyenangkan, atau kalau pun ada masalah, tidak terlalu mengganggu pekerjaan. Permasalahan yang muncul di tempat kerja sebetulnya hal yang lumrah, baik itu dengan rekan kerja, dengan atasan atau dengan bawahan.

Pekerjaan rutin kita saja bisa jadi sumber masalah setiap harinya. Mengangkat atau lebih tepatnya mengeluhkan persoalan pekerjaan, apalagi orang-orang di tempat kerja, hanya akan menambah sumber masalah, dan menimbulkan suasana tempat kerja yang kurang nyaman.

Di luar rekan kerja, orang-orang yang membaca materi kita di media sosial akan khawatir dengan apa yang kita lakukan. “Jangan-jangan, kalau nanti saya satu tempat kerja sama dia, saya akan dibegitukan juga“, atau “Ngeluh aja sama kerjaannya, kenapa gak resign aja, sih?

Jelasnya, hal-hal semacam itu bukan materi yang akan disukai oleh tim HRD suatu perusahaan. Lain kali akan menulis mengenai persoalan di tempat kerja, bayangkan ada HRD dari perusahaan lain sedang memantau media sosial anda. Heu heu.

Terbukti kemudian, hubungan saya dengan mantan rekan kerja tidak pernah ada masalah. Tidak bekerja bersama lagi, bukan berarti kemudian saling melupakan. Di media sosial kami masih saling menghargai, meski tidak selalu berinteraksi.

Tidak menulis status yang marah pada…tembok. Pernah melihat curhatan semacam, “awas aja, nanti kalau gue gak ada lu baru tahu rasa“, “sudah dikerjakan serius, eh gak dihargai“, “udah gue bantuin, ngomongnya malah gak enak gitu“, dan lain-lain yang senada dengan itu? Di media sosial, itu adalah materi-materi yang tidak pernah saya respon atau saya cuekin kalau muncul di timeline saya. Materi seperti itu berpotensi memancing kerusuhan, karena bisa jadi ada orang yang merasa, meskipun orang tersebut bukan orang yang dimaksud dalam curhatan itu.

Mengurangi bahasan tentang anak. Saya belakangan langka sekali membahas tentang anak. Tentu saja, di awal memiliki anak sering melakukan itu, terutama mengunggah foto. Tidak membahas tentang anak di media sosial, bukan berarti tidak sayang pada mereka. Sudah pasti, saya sangat menyayangi mereka. Namun, justru itu masalahnya. Orang lain pun sangat menyayangi anak-anaknya. Sehingga, ketika saya membahas anak, kemungkinannya; orang lain tidak peduli, atau malah membandingkan dengan anak mereka. You know lah, ya… mentalitas “anak saya paling hebat sedunia“. Akhirnya, isi komentar di media sosial jadi saling membanggakan anak. Lah, kan saya lagi bahas anak saya…? Heu heu. Kebijakan ini berlaku juga di luar internet, sih. Saya langka bahas anak dengan orang lain dalam keseharian, karena biasanya ending-nya sama. Wkwkwkwk.

Terkait membahas anak juga termasuk tidak mengeluhkan mereka. Alasannya; merasa malu kepada orang tua dulu, yang meskipun bisa jadi beban mereka lebih berat daripada saya, tapi mampu melewatinya. Beruntunglah belum ada media sosial di zaman mereka. Hahaha. Selain itu, saya khawatir saat anak-anak sudah besar, lalu menemukan dan membaca keluhan saya di media sosial, keluhan-keluhan itu akan menyedihkan mereka.

Tidak Berjualan. Tidak di akun personal, tentu saja. Saya hanya merasa lebih nyaman kalau untuk akun personal tidak digunakan untuk berjualan. Untuk keperluan berjualan, di facebook saya buat page, di twitter buat akun baru lagi khusus dengan nama brand yang akan dijual. Jadinya lebih berat, sih… karena orang lain tidak mengenal brand yang sedang coba kita jual tersebut. Ini bukan soal benar dan salah, soal kenyamanan hati saja. Hey, i’m an introvert. Selling is not our strength. Ya, saya tahu… ini hanya alasan. :-))

Itu adalah beberapa poin kebijakan saya di media sosial. Pegangan saja. Meski terkadang berkhianat juga. Ada kalanya, sebuah kebijakan diputuskan setelah melihat materi orang lain. Jika terasa salah bagi saya, maka sebisa mungkin saya hindari. Tentu saja, ini belum tentu berlaku untuk orang lain. Namun, nyatanya, dalam bertahun-tahun “hidup” di media sosial, langka sekali saya bermasalah dengan orang lain. Prinsipnya, berteman lebih baik daripada bermusuhan. Melakukan perbaikan lebih baik daripada berbuat kerusakan. Atau, diam…

loading...

Berdo’a, di Media Sosial?

Media-media sosial semacam Facebook dan Twitter memang telah mengubah perilaku penggunanya, dari apa yang biasanya dilakukan di dunia nyata (offline). Kadang -atau sering(?)- terjadi, di dunia maya sudah tidak jelas lagi batasan apakah sesuatu itu lazim bagi publik atau tidak. Bertengkar dan disaksikan ratusan orang, di dunia nyata, mungkin hanya terjadi pada kegiatan debat terbuka. Akan tetapi, di media sosial, semua orang bisa menjadi pelaku … sekaligus ‘penonton’ dan komentator. Memang tidak semua orang juga melakukannya, penekanan saya ada pada kata “bisa”. Sebab, tidak semua orang benar-benar bisa berdebat di dunia nyata. Saya, misalnya, cenderung tidak nyaman berdebat langsung berhadap-hadapan dengan lawan debat dan lebih suka menghindari perdebatan, tapi di dunia maya, saya bisa melakukannya, meskipun belakangan mulai saya kurangi.

Saya sendiri, ketika membaca sebuah ‘kicauan’ di Twitter, sering membayangkan apa yang dituliskan tersebut, diucapkan di dunia nyata. Sebab, saya memposisikan Twitter dan Facebook seperti sebuah forum terbuka atau bahkan … warung kopi :p. Skenarionya sederhana saja. Saat seseorang menulis sebuah kicauan: “duh, lapar, pengen ayam bakar“. Jika kalimat tersebut diucapkan di tengah sebuah kumpulan manusia di warung kopi atau bahkan di tempat nongkrong, masih terdengar lazim, orang lain mungkin akan menimpali, “sama, gue juga“, yang lain mungkin akan ikut juga menimpali, “cari makan, yuk?“.

Bahkan, ketika seseorang melakukan kultwit sekalipun, masih dapat diterima dan lazim terjadi. Anggap saja sebuah kelompok diskusi, di mana salah seorang menjadi pembicaranya. Apa itu kultwit? Kultwit -atau Kuliah Twit(ter)- biasanya merujuk pada kicauan di twitter yang membahas suatu masalah dan sengaja dibuat berseri atau dipecah oleh penulisnya, karena keterbatasan karakter di twitter yang hanya bisa 140 karakter sekali kicau. Bayangkan tulisan ini dipecah per kalimat untuk dijadikan kicauan di twitter … itulah kultwit.

Sekarang bayangkan jika seseorang menulis seperti ini: “sedang pipis, lega sekali rasanya“. Pernahkah terjadi seseorang mengatakan itu di tengah sebuah kelompok? saat sedang pipis? tidak pernah terjadi, kan? Saya sih belum pernah menemukan tulisan seperti itu di Facebook atau Twitter. Beda kasusnya kalau misalkan seseorang menulis, “baru beres pipis” atau “duh, kebelet, kepengen pipis“. Sangat lazim terjadi di dunia nyata.

Kasus lain lagi, misalnya saat sedang berkumpul dengan teman-teman, risih gak sih kita kalau ada pasangan suami-istri bertengkar di tengah-tengah kita? Sama halnya di media sosial. Meskipun rasanya seperti hanya bertengkar berdua saja, tapi kenyataannya banyak orang yang menyaksikan. Sebagianorang akan bertepuk tangan sambil tertawa, sebagian mengelus dada, sebagian lagi tidak ambil pusing atau masa bodoh. Kenyataannya, saya sering menjadi orang yang disebut pertama itu: tepuk tangan dan menertawakan. Jarang-jarang kan ada hiburan suami-istri bertengkar di media sosial? 😀 Lagipula, yang namanya sedang emosi, baik itu di facebook, di twitter atau pun di dunia nyata, hasilnya hampir sama saja: caci maki, ungkapan kekesalan, galau, amarah … ya, yang begitu-begitu itu lah. Ya, saya juga pernah terjebak menjadi pelaku dalam situasi semacam itu, meskipun sejak awal tidak suka melihat orang yang mengumbar masalah rumah tangganya di media sosial, saya juga pernah melakukannya, dan ternyata memang tidak menyelesaikan masalah. Menambah masalah sih iya, malah akhirnya diolok-olok teman dan dipermalukan. Paling minimal, disindir… seperti saya menyindir mereka yang pernah melakukannya.

Bagaimana dengan status atau kicauan yang berisi do’a? Misal, “semoga Timnas Indonesia juara kali ini“? Iya, ini do’a, hanya redaksinya umum saja, diungkapkan di depan rekan-rekan sekantor yang sedang makan siang bersama pun akan dianggap biasa saja. Bahkan kemudian akan menjadi bahan diskusi seru. Begitu pula dengan do’a seperti ini, “hey, kamu ulang tahun? semoga Allah mempertemukan kamu dengan jodoh terbaik …”. Ini juga lazim terjadi di tengah-tengah kumpulan manusia, bahkan yang tadinya tidak tahu akan menjadi tahu dan akhirnya mendo’akan juga. Begitu pula dengan do’a seperti ini: “hari ini teman saya si Fulan menikah, semoga keluarganya diberkahi …“. Ini juga -rasanya- masih lazim, bagi sebagian orang akan dianggap sebuah informasi.

Lantas, bagaimana dengan do’a seperti ini: “Ya, Allah … mengapa masalah ini terasa begitu sulit? berilah Hamba jalan keluar dari masalah ini…”. Atau, “Ya Allah, berilah hamba jodoh terbaik yang Engkau pilihkan untukku“. Serius, pernahkah Anda menemukan orang yang berdo’a seperti itu di tengah-tengah sebuah kerumunan manusia? Saya belum pernah. Kalau pun ada yang melakukannya, paling di dalam hati. Oleh sebab itu, hal semacam ini tidak lazim terjadi. Jika di dunia nyata saja langka terjadi, mestinya di media sosial pun berlaku hal yang sama. Apalagi, do’a semacam itu bersifat sangat personal. Do’a yang bersifat personal seperti itu, mestinya tidak keluar dari wilayah personal juga, apalagi dalam redaksi do’anya, memanggil (mention, dalam twitter) nama Allah. Ini yang saya sebut dengan salah tempat. Meskipun Allah Maha Mengetahui isi hati seluruh manusia, Twitter dan Facebook, bukan media yang tepat. Media sosial pada dasarnya hanya diciptakan untuk berkomunikasi dengan manusia.  Bukankah ada adab berdo’a? Saya sendiri sering tidak yakin, do’a seperti itu, yang dilakukan di media sosial, sungguh-sungguh sebuah do’a atau hanya sebuah pamer masalah dan penderitaan? Sedang bersungguh-sungguh, atau dilakukan sambil lalu? Sedang tengkurep atau sambil jalan kaki? Hanya si penulis saja yang tahu. Memang, segalanya tergantung pada niat. Justru, kalau tergantung niat, bukankah sebaiknya do’a tersebut cukup diketahui diri sendiri dan Allah saja? Haruskah orang lain tahu dengan do’a kita yang sangat personal tersebut? Mengapa tidak sekalian dilakukan sungguh-sungguh, dengan adab yang benar, daripada dituliskan sebagai sebuah kicauan di twitter atau status di facebook? Saya khawatir, jangan-jangan do’a tersebut hanya berhenti sampai ke server saja karena dilakukan secara sambil lalu. Sederhana saja, orang yang berdo’a secara sungguh-sungguh, secara khusyu, dengan adab yang benar, mungkin tidak akan pernah terpikir -apalagi sempat- untuk menuliskan do’a-do’a tersebut ke dalam Twitter atau Facebook.

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén