Malam setengah purnama, di dalam sebuah mobil yang beranjak dari Jakarta menuju Bandung, Kabayan dan Iteung zaman kiwari1 berkomunikasi via SMS:

Kabayan: Hmm, Rindu…

Iteung: Hmm, Rindu…?

Kabayan: Iya, Rindu…

Iteung: Si Rindu bilang apa cenah2?

Kabayan: Nggak bilang apa-apa, tiba-tiba saja dia menyelinap dan mengganggu perasaan.

Iteung: Di sini juga ada si Rindu lagi menari, dia membuatku senyum-senyum 🙂

Kabayan: Perlukah si Rindu kubunuh saja? atau biarkan saja dia terus mengganggu? atau kamu punya cara agar si Rindu tidak lagi mengganggu?

Iteung: Tak perlu, biarkan saja selama si Rindu tak menggoda logika untuk takluk pada perasaan. Jika dia membuatmu begitu terganggu, tersenyumlah dalam kesabaran menanti. Niscaya dia kan beranjak.

Kabayan: Aku sudah sangat akrab dengan penantian. Tetap saja … RINDU!!

Iteung: Hmm, kalau begitu nikmati saja lah saat-saat merindu dalam penantian itu.

Kabayan: Yah, sekarang pun memang sedang aku nikmati …

Di Radio mobil yang dikendarai Kabayan, lamat-lamat terdengar sebuah lagu. Reflek, dari bibir Kabayan mengalir beberapa baris lirik, mengikuti alunan nada lagu tersebut.

ku berharap engkau lah
jawaban sgala risau hatiku
dan biarkan diriku
mencintaimu hingga ujung usiaku

jika nanti ku sanding dirimu
miliki aku dengan segala kelemahanku
dan bila nanti engkau di sampingku
jangan pernah letih tuk mencintaiku

(NAFF – Akhirnya Ku Menemkunmu)

Selesai mengirim SMS, Kabayan menyandarkan badannya ke kursi. Memejamkan mata, berharap bisa tidur. Hari itu memang terasa sangat melelahkan. Udara dan suasana kota Jakarta memang dirasa tidak pernah bersahabat dengan Kabayan. Akan tetapi, jalan Tol Cipularang yang bergelombang cukup mengganggu usaha tidur Kabayan. Ditambah, si Rindu benar-benar sangat mengganggu. Hingga akhirnya tiba di Bandung, mata Kabayan belum mampu terpejam sedetik pun. Sepanjang jalan itu, sosok Iteung tak henti-hentinya beranjak dari pikiran Kabayan. Namun, mengetahui Iteung baik-baik saja, Kabayan merasa tidak perlu merasa khawatir.

Tiba di rumah menjelang tengah malam, Kabayan tidak langsung tidur. Komputer tua dinyalakan. Icon si Rubah Api diklik. Membaca email, mencari bahan tulisan, membaca blog, membalas komentar di blog. Walaupun bahan yang dicari tidak ditemukan, Kabayan tidur cukup larut, dua jam menjelang Shubuh. Padahal, sebelum terbit Matahari, Kabayan harus beranjak meninggalkan lagi kota Bandung. Di sisa malam setengah purnama itu, Kabayan tidur membawa serta kelelahan dan kerinduan pada Iteung. Watir pisan, nya?3

Ket:

1bahasa sunda: sekarang, masa kini

2bahasa sunda: katanya

3bahasa sunda: kasihan sekali, ya?

loading...