Jodoh

Sebelum melanjutkan membaca tulisan ini, pertimbangkan untuk memutar lagu “Cari Jodoh” dari Wali. Heu heu. Sudah? Lanjuuuuttt…

Sudah terlalu lama saya menunda menulis tentang topik yang satu ini: jodoh. Akan tetapi, kesibukan dan kemalasan saya membuat tulisan yang saya rencanakan itu tidak pernah terwujud. Sebelum terjadi kesalahpahaman, saya tidak bermaksud menjadikan tulisan ini sebagai sebuah tips dan trik atau tutorial mencari jodoh. Saya pun sesungguhnya bodoh dalam hal tersebut. Namun, barangkali tulisan ini bisa menjadi sebuah masukan, bahan pemikiran atau diskusi bersama. *PD banget*

Sebagai informasi saja, pengunjung yang  masuk ke blog saya paling banyak karena melakukan pencarian dengan kata kunci: “jodoh” atau “takdir” pada mesin pencarian, utamanya Google. Halaman yang paling banyak dikunjungi adalah sebuah halaman yang berisi tulisan lama saya, tulisan yang saya pindahkan dari blog lama ke blog ini. Tulisan itu berjudul: “Takdir: Rezeki, Jodoh dan Kematian“. Jika Anda melakukan pencarian dengan kata “takdir” di google.co.id, link tulisan itu akan muncul di halaman pertama. Perlu diketahui, tulisan tersebut saya buat tahun 2006. Lebih dari 5 tahun yang lalu! Jadi, dalam beberapa hal yang muncul di tulisan tersebut, mungkin sudah tidak relevan lagi dengan apa yang saya pikirkan sekarang.

Tulisan tersebut, juga tulisan lain berjudul “Seri Takdir“, merupakan pemahaman saya tentang bagaimana takdir “bekerja”, yang juga menjadi spirit dari tulisan ini. Ya, tentu saja, pemahaman saya sangat terpengaruh oleh Islam, meskipun tidak sempurna. Intinya, bagi saya, takdir itu merupakan sesuatu yang telah terjadi pada diri kita. Cerita hidup kita merupakan sekumpulan takdir, yang ditentukan oleh pilihan-pilihan yang telah kita lakukan. Meskipun, ada masa di mana takdir kita ditentukan oleh pilihan orang-orang di luar diri kita. Misalnya, saat memulai sekolah dasar, sekolah tersebut dipilihkan oleh orang tua kita, atau baju yang kita gunakan saat bayi. Kita bahkan tidak dapat memilih saat dilahirkan oleh orang tua kita. Itulah sebabnya ada masa aqil baligh dalam Islam, saat seseorang sudah dianggap dapat mempertanggungjawabkan segala yang dilakukannya. Maka dari itu, persoalan jodoh sudah pasti merupakan bagian dari takdir itu sendiri.

Semangat untuk mewujudkan tulisan ini salah satunya dipicu dari aktifitas di twitter. Namun pemicu utamanya karena melihat fenomena pencarian jodoh itu sendiri. Pada suatu sore, Teh Ratna mengomentari sebuah kicauan dari akun twitter yang banyak memiliki follower. Status twit tersebut dapat dibaca pada gambar di bawah:

twitjodoh

Melihat twit tersebut, pikiran iseng dan jail saya terpicu. Entah mengapa, setiap kali membaca kata-kata mutiara, saya sering tergoda untuk mencari celah dari maksud tulisan tersebut, sehingga kata-kata mutiara tersebut jadi kehilangan maknanya. Ah, intinya sih saya suka merusak suasana dan mood orang lain :)). Segera setelah membaca twit Teh Ratna itu, saya pun iseng mengomentari:

twitjodoh2

Obrolan tersebut kemudian berlanjut, dengan melibatkan juga yang lain. Namun, seluruh obrolan itu tidak akan saya tampilkan di sini. Intinya yang ingin saya sampaikan adalah sering kali kita mengeluhkan susahnya mendapatkan jodoh, lalu mencoba mencari pembenaran seolah-olah Tuhan menunda pertemuan kita dengan jodoh terbaik yang sudah Tuhan siapkan untuk kita. Sementara, barangkali yang sesungguhnya terjadi adalah Tuhan sudah ‘mengirim’ seseorang terbaik ke hadapan kita, lalu kita menolaknya karena tidak sesuai dengan kriteria yang ada di benak kita. Mungkin saja orang tersebut sudah sangat dekat, tapi ‘makhluk sempurna’ di dalam benak kitalah yang membutakan mata dan pikiran kita. Mungkin juga, jika Anda seorang wanita, orang tersebut sudah berniat melamar Anda, tapi Anda menolaknya karena, “kurang sreg di hati“. Begitu alasan Anda. Padahal, bisa jadi Anda sendiri tidak yakin dengan alasan tersebut karena sudah terlalu dibutakan oleh angan-angan Anda. Lucunya, setelah itu, Anda masih mengeluh betapa susahnya mencari jodoh. Jodoh yang sempurna, tentu saja.

Tentu, setiap orang memiliki kriteria jodoh yang diidam-idamkannya. Itu hak azasi setiap orang. Saya pun memiliki kriteria, namun sedapat mungkin kriteria tersebut tidak membelenggu dan menyulitkan dalam mencari jodoh. Sayangnya, yang terjadi pada sebagian orang, kriteria tersebut betul-betul menjadi belenggu, karena kriteria yang ditentukan terlalu sempurna dan jodoh yang diinginkan harus memenuhi kriteria tersebut. Jika Anda merupakan salah satu dari orang tersebut, yakinlah proses pencarian jodoh Anda akan sangat sulit. Salah seorang kawan saya pernah mengatakan, “pasangan sempurna bagi kita itu ada 2 orang, satu orang meninggal saat kita dilahirkan, dan satu orang lagi  dilahirkan saat kita meninggal“. Saya tidak tahu dia mendapatkan quote tersebut dari siapa, tapi sangat jelas kebenaran kata-katanya.

Selain kriteria, masalah lain yang mengganggu saya adalah dari usaha dan proses yang dilakukan. Dalam generasi saat ini, tertanam sebuah pemikiran bahwa proses perjodohan -di mana sebuah pasangan dijodohkan oleh orang tua mereka- itu sudah sangat ketinggalan zaman. Kuno. Primitif. Melanggar HAM. Siti Nurbaya adalah simbol negatifnya proses perjodohan tersebut. Padahal, jika pun ada, Siti Nurbaya hanya setitik di antara seluruh proses perjodohan yang hasilnya merupakan orang-orang generasi sekarang. Anda mungkin perlu sesekali bertanya pada orang tua atau kakek-nenek Anda, bagaimana proses mereka bertemu dan menikah? Dijodohkan? Mencari sendiri?

Orang-orang masa kini merasa harga dirinya jatuh, jika untuk masalah jodoh saja masih dicarikan atau dijodohkan. Mereka merasa sangat yakin dengan kemampuannya untuk mencari jodoh sendiri. Percaya diri boleh saja, tapi terlalu percaya diri bisa mengantarkan pada kesombongan. Dengan kesombongan itu, mereka kemudian mulai menganggap bahwa dijodohkan adalah tabu. Dicarikan jodoh adalah hina. Lalu ‘pintu-pintu’ tersebut mereka tutup sama sekali, padahal bisa jadi, calon jodoh terdekat atau terbaik berasal dari pintu itu. Hari-hari, minggu-minggu, bulan-bulan serta tahun-tahun selanjutnya, mereka masih mengeluh susahnya mendapatkan jodoh. Dijodohkan tak mau, mencari sendiri tak menghasilkan. Selamat!

Saya pun pernah berada dalam kondisi tersebut. Merasa mampu mendapatkan jodoh sendiri, namun tak menghasilkan sama sekali, sampai merasa putus asa dan kehilangan kepercayaan diri. Proses perenungan yang akhirnya membuat saya memutuskan untuk … kompromi. Saya tidak memiliki masalah dengan kriteria, karena pada dasarnya kriteria yang saya tentukan fleksibel, meskipun ada poin-poin yang wajib dipenuhi, tapi tidak menyulitkan karena sifatnya umum saja dan fungsinya untuk memudahkan pada saat penyeleksian yang pada akhirnya terjadi secara alami. Dalam kasus saya, wanita berjilbab adalah salah satu poin yang harus dipenuhi, sehingga sadar atau tidak sadar, saya benar-benar tidak pernah tertarik untuk ‘mengejar’ wanita yang tidak berjilbab.

Kriteria tidak bermasalah, maka yang menjadi perhatian saya adalah usaha dan proses. Akhirnya, saya mulai membuka diri terhadap usaha orang tua mencarikan jodoh buat saya. Saya memberanikan diri untuk minta dicarikan jodoh pada teman-teman saya. Saya juga ingat dengan nasihat-nasihat lain dari kawan atau dari ceramah-ceramah, silaturahim alias gaul!

Seorang kawan pernah menasihati saya. Kenali banyak lawan jenis tapi jangan terlalu cepat apalagi  langsung menaruh hati pada mereka, karena saat hati mulai terlibat, segalanya akan menjadi mulai sulit. Kenali, tapi tidak terlalu dekat, tidak juga terlalu berjarak. Dalam proses tersebut, usahakan tidak terlalu dibebani oleh masalah-masalah jodoh tersebut. Bersenang-senanglah! Itu menurut kawan saya. Mohon tidak disalahpahami, bersenang-senang di sini bukan dalam arti negatif seperti playboy, tapi lebih ke diri sendiri dalam menikmati proses tersebut yang dilakukan dengan kesabaran, tidak terburu-buru. Meskipun sebetulnya hal ini lebih ‘mudah’ dilakukan oleh laki-laki daripada oleh perempuan.

Itulah yang saya lakukan kemudian. Membuka pintu-pintu datangnya jodoh tersebut. Mencoba untuk lebih rendah hati dengan menyadari kelemahan-kelemahan yang saya miliki. Apa yang terjadi kemudian cukup menarik. Orang tua saya, misalnya, diam-diam berusaha menjodohkan saya dengan beberapa perempuan yang merupakan anak dari teman atau tetangga. Beberapa teman saya menawari juga beberapa orang yang mereka pilihkan. Lucunya, saya menjatuhkan pilihan pada istri saya sekarang, yang merupakan proses pencarian sendiri.

Masalah lain barangkali definisi jodoh itu sendiri. Bagi saya, jodoh adalah istri, bukan pacar. Hal tersebut juga berpengaruh terhadap proses pencarian jodoh tersebut. Sehingga, yang saya cari adalah seseorang untuk dijadikan istri, dan yang saya siapkan sesungguhnya adalah mental untuk menjadi suami. Oleh sebab itu, proses pernikahan saya termasuk cepat dan terkesan mendadak, bahkan bagi orang tua saya. Akan tetapi, proses pembentukan mental menjadi suami itulah yang sudah lama saya bangun, bahkan sejak masih SMA.

Dalam pengambilan keputusan menikah, tentu bukan tanpa keraguan. Akan tetapi, yang saya lakukan adalah mengupayakan agar keyakinan saya tidak sampai diambil alih oleh keraguan saya. Saya mempercayai bahwa pernikahan adalah ibadah, maka saya yakin Allah akan membimbing. Saya tahu bahwa -saat itu- calon istri saya adalah seseorang yang baik, dilihat dari sikapnya, harapan-harapannya, orang-orang di sekitarnya, maka saya yakin bahwa kami bisa membangun sebuah keluarga yang baik. Saya tahu calon istri saya pasti memiliki kekurangan yang setelah menikah baru akan terungkap, tapi siapa yang tidak memilikinya? Oleh sebab itu, saya merasa mantap untuk melangkah dan mengikis keraguan-keraguan itu sampai sekecil mungkin. Dan di titik takdir ini lah saya sekarang, sebagai seorang suami, seorang ayah, masih dalam proses membangun keluarga yang barokah. Bagaimana dengan Anda?

(itu kalimat terakhir ngeledek banget sih, mudah-mudahan gak ada yang doa’in keburukan buat saya. heu heu.)