Siapa Lu?! 2

Belum juga hilang rasa kesal ketika membuat tulisan Siapa Lu?! Eh, malah ada lagi yang bikin gregetan …

Rabiah seharusnya berterima kasih kepada Soetrisno Bachir karena dipublikasikan gratis di televisi. Perempuan yang dikenal sebagai Suster Apung itu, katanya, akan menjadi lebih terkenal nantinya setelah membintangi iklan Soetrisno.

Suster Apung seharusnya sadar, dirinya sedang berhadapan dengan ketua umum partai besar,” ungkap Ramli.

(http://www.detiknews.com/read/2008/08/15/172056/989424/10/dpw-pan-sulsel-akan-selidiki-orang-di-balik-protes-suster-apung)

Duh, yang mesti berterima kasih itu siapa, Pak?  Semestinya bapak, dong.  Bu Rabiah barangkali tidak membutuhkan ketenaran itu.  Bu Rabiah juga mungkin tidak peduli dengan kebesaran partai Bapak.  Buktinya, beliau keberatan diasosiasikan dengan partai bapak dan merasa terganggu.

Rabiah mengeluh pekerjaannya jadi terganggu dengan stigma masyarakat akibat dari iklan politik itu. Perempuan berjilbab ini ingin menjalankan tugasnya dengan tenang. Bagi Rabiah, pekerjaannya mengarungi laut lepas demi menolong warga adalah tanggung jawab sipil, tanpa embel-embel politik.

Tuh, lihat sendiri kan, Pak?

Kenapa mesti bapak yang berterima kasih? Ya, iya dong, masa ya iya lah… buah aja kedondong, bukan kedonlah.  Tuh, jadi aja…halah!!  Dibandingkan Soetrisno Bachir, Ibu Rabiah lebih dulu tenar, Pak.  Buktinya, bapak yang ngikut-ngikut bu Rabiah, bapak yang mendekati bu Rabiah.  Dibandingkan bapak, Bu Rabiah lebih menghayati jargon yang bapak gembar-gemborkan itu.

Kalau mau disebut orang yang peduli, nggak perlu bikin iklan, Pak.  Mending duitnya dipakai buat biayain Bu Rabiah.  Berapa milyar, tuh? Tenar mah datang sendiri, pak … kalau sudah ada hasil karyanya.  Atau kalau ngikutin jargon bapak, sudah ada perbuatannya.  Buktinya, Bu Rabiah jadi terkenal -mudah2an- karena keihklasannya.  Karena berbuat, pak.  Seperti yang bapak gembar-gemborkan itu …

Oh, ya.  Asal tahu saja, saya terganggu juga tuh dengan iklan-iklan bapak.  Sangat terganggu.  Terutama kalau yang sedang kepikiran adalah, berapa milyar duit yang terbuang karena iklan nggak penting semacam itu ya?  Lha, iya pak … pentingnya dimana coba?  Penting buat bapak, mungkin … tapi nggak penting buat saya.  Swear deh, pak … samber gledek deh bapak.

Hak bapak sih.  Duit, duit Bapak … mungkin.  Cuma, saya bingung, pak … sebenernya bapak ngiklan gitu pengen jadi presiden, ya, pak?  Ooppsss …