Seri Takdir

Seri Takdir I : Jaring-jaring Takdir

Sebelum membahas masalah yang menjadi inti tulisan ini, yaitu takdir, saya ingin meminta maaf buat Obenk, Opie dan Ila karena belum bisa memenuhi request tulisannya. Saat menulis ini, yang paling ‘mendesak’ untuk segera dituliskan adalah tentang takdir ini. Gara-garanya sewaktu chatting sama Agus Uban yang lagi kebingungan setelah membaca tentang masalah-masalah yang selalu menjadi ‘serangan’ orang-orang yang sinis terhadap Islam. Dan memang pertanyaan-pertanyan yang Agus tanyakan kepada saya adalah perkara yang penting dan bisa menyesatkan. Namun, dengan menuliskan ini, tidak berarti saya adalah orang yang paham sekali tentang Islam. Saya juga seringkali ‘mati kutu’ ketika membaca pertanyaan-pertanyaan yang memojokkan Islam dan ajarannya.

Mudah-mudahan tulisan ini bisa menjawab apa yang selalu ‘dibingungkan’ oleh sebagian diantara kita, tentang Takdir. Satu hal yang harus menjadi perhatian, tulisan ini bukanlah bentuk final dari pemikiran saya, suatu saat bisa berubah jika mendapatkan kritikan atau tambahan yang saya yakini kebenarannya. Sedikit sekali tulisan tentang takdir yang saya baca, karena itu hasil pemikiran ini bisa dikatakan berasal dari perenungan-perenungan saja. Tidak menutup kemungkinan juga, ada juga tulisan yang serupa dengan tulisan saya ini. Beberapa saat lalu, saya juga pernah menuliskan tentang takdir di blog ini. Namun, pendekatan kali ini sedikit berbeda.

Saya membagi tulisan ini menjadi beberapa sesi. Setidaknya, melalui tulisan Seri Takdir ini, saya bisa berbagi pemahaman. Pendekatan yang saya gunakan dalam tulisan ini sebetulnya cukup umum, namun seringkali tidak kita sadari. Satu hal yang saya yakini adalah…”inilah yang sebenarnya”. Coba saja pertemukan pemahaman saya dalam tulisan ini dengan ayat-ayat Al-Quran atau Hadits, insya allah tidak ditemukan pertentangan. Namun, saya selalu terbuka untuk perbaikan-perbaikan, karena pikiran manusia tidak sempurna, apalagi dengan informasi yang terbatas. Saya juga tidak tahu apakah tulisan-tulisan ini mudah dipahami atau tidak, yang jelas saya sudah berusaha untuk menuliskannya dengan bahasa yang mudah dipahami.

Sederhananya, inti dari pertanyaan Agus adalah “Jika segala sesuatu sudah ditetapkan oleh Allah dalam catatanNya, bahkan daun yang jatuh sekalipun, lantas untuk apa kita berusaha? untuk apa kita berdo’a? Apakah itu berarti, misalnya, suami-istri yang bercerai juga sudah ditetapkan oleh Allah harus bercerai?”

Satu hal yang menjadi sorotan saya adalah pemahaman mengenai ‘catatanNya’. Apakah catatan/ketetapan itu menentukan bagaimana ‘pastinya’ kehidupan seseorang dari sejak lahir sampai meninggal? Misal, si A sudah dipastikan untuk menjadi pengacara, si B sudah dipastikan jadi pelacur, atau si D sudah dipastikan mati karena dibunuh. Jika seperti itu kenyataannya, Anda berhak untuk mengatakan bahwa Allah tidak adil. Akan tetapi, logika sederhana saya tidak ‘mengatakan’ seperti itu.

Menurut saya, isi catatanNya berbentuk persis seperti jaring laba-laba (web), atau jaringan jalan atau dalam Ilmu komputer dikenal dengan konsep tree. Setiap titik dan detik kehidupan yang kita lalui berisi berbagai macam pilihan. Misal, kita bertemu dengan seseorang yang menarik hati kita di angkot, ada berbagai kemungkinan yang bisa kita lakukan. Kita bisa mencoba berkenalan, bisa juga cuma sekedar ‘ngelihatin’ aja, kita cuekin, kita beri senyuman, atau misalnya kita tampar. Itu semua adalah berbagai macam kemungkinan yang bisa kita lakukan. Pilihan manapun yang kita ambil, akan memberikan ‘efek’ yang berbeda dalam hidup kita. Jika kita berkenalan, bisa jadi kita dapat nomor telepon rumahnya. Namun, jika kita tampar dia, tentu hasilnya belum tentu sama. Nah, berbagai kemungkinan inilah yang sebenarnya menjadi catatanNya tersebut.

Lebih mudah jika kita memisalkan sedang berada di sebuah persimpangan jalan. Kita hanya boleh memilih satu jalan, kita tidak pernah tahu apa yang ada di sepanjang jalan-jalan tersebut. Sekali kita memilih salah satu jalan yang ingin, kita tidak bisa kembali. Setiap jalan berakhir pada ujung yang berbeda. Adakalanya, di jalan yang kita pilih, kita dihadapkan lagi dengan persimpangan lain. Terus seperti itu. Suka atau tidak suka dengan ‘pemandangan’ dan ‘fasilitas’ yang ada di jalan yang kita pilih, itulah pilihan kita. Itulah takdir kita. Perkaranya adalah kita dituntut untuk memilih jalan yang benar, jika pilihan kita salah, maka dipastikan kita akan menyesal selamanya. Nah, untuk memilih jalan yang benar tersebut, Allah sudah menempatkan petunjukNya. Seringkali kita sudah tahu dengan petunjuk tersebut, tapi kita sering mengabaikan petunjuk tersebut. Inilah yang menjadikan seseorang tersesat di suatu jalan.

Jadi, sebetulnya untuk satu orang saja, ada berbagai macam kemungkinan yang dicatat olehNya. Ada berjuta kemungkinan yang bisa terjadi dalam diri kita, segalanya tergantung pilihan-pilihan kita. Satu pilihan kita ambil, itulah yang menjadi takdir kita. Allah hanya menetapkan berjuta-juta pilihan dan hasil dari pilihan tersebut dalam catatanNya, kita lah decision maker nya. Maka, disinilah luar biasanya Allah. Untuk satu orang saja ada jutaan kemungkinan, apalagi mengatur kemungkinan-kemungkinan berjalannya alam semesta ini. Itu berarti ada jutaan kemungkinan juga bagaimana kehidupan manusia ini bisa berjalan.

Maka, dengan konsep ini, saya meyakini ada ribuan kemungkinan kita menikah dengan orang yang berbeda, ada jutaan kemungkinan cara kita mati, ada jutaan kemungkinan juga kita mendapatkan rezeki. Semuanya tergantung kepada apa yang menjadi pilihan kita. Pilihan manapun yang kita ambil, Allah sudah tahu bagaimana nasib kita selanjutnya, karena Allah sudah mencatat kemungkinan-kemungkinan itu. Dengan kata lain, mungkin, Allah hanya sedang ‘menonton’ saja saat ini, karena segala kemungkinan sudah tercatat. Sementara 2 malaikat yang setia mengikuti kita hanya membantu ‘menandai’ pilihan kita, persis seperti kita mengerjakan pilihan berganda, hanya saja pilihannya luar biasa banyaknya.

Satu hal yang paling menarik dari konsep ini adalah bahwa kematian selalu terselip di setiap kemungkinan itu. Di setiap ‘persimpangan jalan’, kita selalu dihadapkan dengan pilihan atau kemungkinan untuk mati. Sungguh benar apa yang Rasulullah ajarkan bahwa kematian sangat dekat dengan kita. Dengan kata lain, dalam setiap detik yang kita lalui, kita selalu dihadapkan dengan kemungkinan untuk mati. Itu artinya, bagaimana kita mati ditentukan juga oleh pilihan-pilihan hidup kita. Dengan kata lain, mati juga bisa menjadi pilihan kita. Maka, kemudian kita kenal mati khusnul khotimah dan su’ul khotimah dalam Islam. Kedua jenis kematian tersebut tergantung dengan apa yang kita lakukan selama hidup kita. Oleh karena itu, kematian khusnul khotimah bisa diusahakan. Bahkan, ‘kemungkinan’ anda bunuh diri setelah membaca tulisan ini pun sudah tercatat. 😀 Hal ini juga berarti bahwa panjang umur juga bisa diusahakan.

Sebagai contoh, seseorang yang mati karena gangguan jantung yang diakibatkan oleh tidak pernah berolahraga. Jika saja orang tersebut sering melakukan olahraga, maka belum tentu orang tersebut mati karena gangguan jantung. Atau orang yang mati karena tertabrak kereta, dia akan tetap hidup jika tidak berjalan di rel kereta tersebut. Namun, di titik manapun kita berada saat ini, toh kita tetap tidak pernah tahu bagaimana dan kapan kita mati, tapi Allah bahkan sudah menetapkan seluruh kemungkinan kondisi kematian kita.

Kemungkinan kita berdo’a juga sudah tercatat dalam catatanNya. Oleh karena itu, menurut saya, bentuk pengabulan do’a tersebut pun sudah tercatat. Bagaimanapun, berdo’a juga adalah sebuah pilihan. Benarlah sabda Rasulullah yang menyatakan bahwa do’a setiap hamba itu dipastikan terkabul, kecuali orang-orang yang ‘memakan’ harta haram. Jadi, terkabul atau tidaknya do’a yang kita ucapkan kepada Allah juga tergantung dari bagaimana kondisi kita ketika berdo’a.

Seri Takdir II: Allah Programmer Terhebat

Saya sempat tersentak ketika menyadari bahwa ternyata, jika apa yang saya pikirkan benar, Allah ‘menulis’ catatanNya persis seperti seorang programmer membuat program. Dan konsep yang digunakan adalah tree atau menggunakan if-bersarang (nested-if). Dalam dunia pemrograman komputer, konsep if merupakan salah satu ‘nyawa’ dari suatu pemrograman komputer. Bisa dipastikan, seluruh program (software) yang kita pakai menggunakan kondisional if dalam proses pengolahan datanya. If digunakan untuk melakukan pemilihan terhadap suatu kondisi. Sederhananya, kondisional if digunakan sebagai pengambil keputusan. Berikut ini saya gunakan sintak script PHP untuk memberikan gambaran, bagi yang tidak ‘tertarik’ membaca sintak di bawah ini, mohon maaf yang sebesar-besarnya, namun bagi para programmer, saya yakin sintak di bawah ini sudah tidak asing lagi.

<?php

$value = 10; // variabel value diberi nilai 10
if ( $value <= 5 ) { /*cek value, apakah nilai pada variabel
value kurang atau = 5?*/
echo “Anda tidak lulus kuliah”; /* jika ya, ditampilkan
tulisan ‘Anda tidak lulus kuliah’ */
} else {
echo “Anda lulus kuliah”; /* jika tidak, maka akan ditampilkan
tulisan ‘Anda lulus kuliah’ */
}
// karena $value bernilai 10, maka pesan yang
akan ditampilkan adalah ‘Anda lulus kuliah’
?>

Adapun if-bersarang (nested-if) merupakan if yang berada di dalam if. Contoh:

<?php
// … bla bla bla ….if ( $sex == ‘pria’ ) { // awal dari if pria (level I)
if ( $kulit == ‘merah’ ){ // level II
echo “Anda seorang pria keturunan indian ya?”;
}else if ( $kulit == ‘kuning’ ){ // level II
echo “Anda seorang pria keturunan china ya?”;
}else if ( $kulit == ‘hitam’ ){ // level II
echo “Arang kali ya?”;
}
} // akhir dari if pria

if ( $sex == ‘wanita’ ) { /* awal dari if wanita (level I),
satu level dengan if pria */
if ( $kulit == ‘hitam’ ){ // level II
echo “Sering-sering pake pemutih dong, non!!”;
}else if ( $kulit == ‘coklat’ ){ // level II
echo “Masih mendingan lah…”;
}
} // akhir dari if wanita
?>

Dari sintak program di atas, alur ceritanya begini… Program akan memeriksa, apa jenis kelamin anda? Ada 2 pilihan di sana, pria dan wanita. Jika kita menjawab pria, kita diberi pilihan lagi, ada 3 pilihan warna: merah, kuning dan hitam. Pesan yang dimunculkan, tegantung dari 2 jawaban kita sebelumnya. Dari 2 ‘pertanyaan’ itu saja, kita memiliki 1 dari 5 kemungkinan jawaban. Namun, yang jelas, kita hanya akan mendapatkan 1 jawaban. Dalam hidup, 1 jawaban itulah yang kemudian dinamakan takdir kita. Bedanya dengan program komputer adalah kita tidak bisa kembali lagi untuk mendapatkan jawaban yang berbeda. Sekali kita mendapatkan jawaban itu, sudah, pilihan lain hilang. Sementara pada program komputer, kita bisa memberikan input dan menghasilkan output yang berbeda setiap saat.


Saya benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana rumitnya ‘program’ yang Allah buat. Bahkan jika jutaan komputer digabungkan untuk bekerja ‘menjalankan program’ Allah tesebut, saya jamin tidak akan pernah bisa. Berbeda dengan program buatan manusia, program buatan Allah dipastikan tidak memiliki ‘bug’ sama sekali. Semuanya berjalan sesuai dengan rencanaNya. Dengan cara seperti ini, saya juga bisa lebih mudah memahami apa yang dimaksud dengan ‘kehendak Allah’, persis sama dengan bagaimana seorang programmer merancang program yang dibuatnya. Bagaimana program itu dirancang, bagaimana pengolahan data pada program tersebut, semuanya terserah pada programmer tersebut. Dengan kata lain, apapun yang dikehendaki oleh programmer, semuanya ‘dituliskan’ dan ‘dicurahkan’ dalam program tersebut. Suka-suka programmer, itulah ‘kehendak programmer’, programmer rules!! Dengan begitu, programmer tersebut sudah tahu bagaimana program yang dibuatnya akan bekerja. Sedangkan user harus membaca manual book terlebih dahulu untuk bisa menjalankan program tersebut dengan benar. Dalam kehidupan kita, Allah adalah programmernya, manusia adalah usernya, kehidupan ini adalah programnya dan manual booknya adalah Al-Quran. Bagaimana user menggunakan programnya, itu semuanya menjadi tanggung jawab user. Bagaimana seseorang menggunakan ‘kehidupannya’, semuanya tanggung jawab manusia itu sendiri. Programmer tidak bertanggung jawab atau tidak bisa disalahkan dalam penyalahgunaan program oleh user.

Seorang programmer akan memberikan warning (peringatan) dalam programmnya apabila seorang user melakukan kesalahan dalam pengolahan data. Misalnya, salah input tipe data atau mencoba memasuki area yang terlarang. Dengan cara seperti ini, user bisa memahami, memperbaiki dan tidak mengulangi lagi kesalahannya tersebut. Begitu juga dengan apa yang Allah lakukan terhadap manusia. Adakalanya peringatan dari Allah sangat lembut, namun adakalanya terasa sangat keras. Semuanya tergantung dari besar kecilnya kesalahan yang kita lakukan.

Seri Takdir III: Bencana Kolektif

Selalu muncul pertanyaan dalam benak setiap orang, apakah bencana alam dan kecelakaan-kecelakaan dalam dunia transportasi kita sudah direncanakan oleh Allah? Apakah bencana alam itu suatu ujian, rahmat ataukah suatu azab?

Mengenai bencana alam seperti tsunami, gunung meletus atau gempa bumi, bisa dikatakan saya memiliki pendapat yang ‘mendua’. Menurut saya, bencana-bencana alam tersebut bisa jadi memang ujian yang sudah Allah rencanakan, atau juga sebagai azab terhadap manusia. Ada 2 pendapat yang bisa saya kemukakan mengenai bencana ini. Pertama, bencana alam sudah Allah tentukan kapan waktu terjadinya pada catatanNya, tidak peduli apakah pada saat itu manusia yang tertimpa bencana tersebut dalam keadaan ‘baik-baik saja’ dalam artian tidak bermaksiat kepada Allah atau memang sedang bermaksiat. Bencana yang seperti inilah yang menjadi ujian bagi manusia. Bagi orang-orang yang bersabar, ujian tersebut bisa berubah menjadi rahmat, sementara bagi yang tidak bersabar bisa jadi sebuah siksaan. Di sisi lain, kita bisa menggunakan frasa ‘fenomena alam biasa’ untuk kasus ini.

Pendapat kedua, bencana tersebut muncul sebagai teguran atau azab bagi manusia, artinya bencana tersebut muncul akibat manusia yang sudah terlalu bermaksiat, musyrik misalnya. Sederhananya begini, katakanlah dalam suatu desa, memiliki jumlah warga sebanyak 20 orang. Dari 20 orang tersebut, 15 orang sudah menjadi musyrik. Dalam catatanNya, misalnya, jika ada 16 orang yang musyrik, maka akan terjadi gempa yang memporakporandakan desa tersebut. Selama orang yang musyrik itu tidak bertambah menjadi 16, apalagi berkurang, maka gempa itu tidak akan pernah terjadi. Ini sesuai dengan salah satu hadits Rasulullah yang menyatakan bahwa suatu kaum terhindar dari azab karena ada salah seorang ‘warga’nya yang mengagungkan nama Allah. Al-Quran juga memberikan beberapa contoh kaum yang memang Allah azab karena kesalahan mereka, itu artinya jika kaum-kaum itu tidak melakukan kesalahan tersebut, azab tersebut tidak akan pernah ada. Inilah yang saya sebut Takdir Kolektif.

Lalu bagaimana dengan kecelakaan semacam Adam Air dan Senopati? Seperti yang pernah saya tulis, segala sesuatu di dunia ini terikat dalam hukum sebab-akibat yang semuanya sudah diatur oleh Allah. Kehendak Allah bisa juga diartikan sebagai aturan Allah. Api padam oleh air atau kulit menjadi keriput ketika tua, itu adalah sebuah aturan, Allah sudah menentukan segalanya sesuai dengan ukuran. Karena itu, kasus-kasus kecelakaan pesawat, tenggelamnya kapal-kapal atau tergelincirnya kereta dari relnya, semuanya tunduk pada aturan ini. Disitulah peran Allah yang sesungguhnya, menentukan aturan tersebut. Allah tidak menenggelamkan kapal ataupun menggelincirkan kereta. Meskipun Allah bisa melakukan hal tersebut, tapi Allah tidak akan pernah melakukan hal tersebut. Kapal tenggelam pasti ada sebabnya, kereta tergelincir pasti ada sebabnya, dari sebab-sebab itulah manusia belajar untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan.

Oleh karena itu, saya berani mengatakan bahwa kecelakaan-kecelakaan yang terjadi sesungguhnya disebabkan oleh kesalahan-kesalahan manusia yang tidak memperhatikan aturan-aturan Allah. Kita tahu, kapasitas suatu kapal terbatas, tapi kita tetap memaksakan dengan memasukan beban yang melebihi kapasitas tersebut, maka wajar jika kapal tersebut tenggelam. Itu adalah aturan. Allah tidak menenggelamkannya, tapi aturan Allah lah yang menjadikan kapal tersebut tenggelam, kehendak Allah. Disinilah fungsi akal kita, untuk mengenal dan memahami bagaimana aturan Allah itu bekerja. Orang Jepang bisa membangun gedung yang tahan gempa karena menggunakan akal mereka, perahu bisa berlayar karena manusia menggunakan akalnya. Semua itu mengikuti aturan Allah, ketika aturan itu kita langgar, bisa dipastikan akan terjadi suatu masalah, entah itu kecelakaan atau hal-hal lain yang tidak kita harapkan.

Kasus banjir-banjir yang terjadi di Indonesia adalah contoh dari bencana yang diakibatkan oleh kesalahan manusia. Banjir bisa diantisipasi bahkan dihindari, tergantung usaha kita. Sebab-sebab suatu banjir kan bisa kita ‘baca’. Saluran air yang mampat, kurang lebar atau kurang dalam. Banjir juga bisa kita hindari dengan membuat drainase yang baik misalnya, dengan tidak membuang sampah di aliran sungai sehingga tidak mampat. Jika usaha-usaha tersebut sudah optimal, saya kira banjir bisa kita hindari. Kecuali, jika terjadi hal-hal yang memang di luar kekuasaan manusia, seperti hujan selama seminggu tanpa henti sehingga menyebabkan debit air ‘overload’, sementara seluruh usaha untuk menghindari banjir sudah optimal, barulah kita bisa ‘menyalahkan’ alam. Berbeda dengan gempa bumi yang hanya bisa kita prediksi kedatangannya, meskipun usaha untuk meminimalisir kerugian dan kerusakan akibat gempa bumi tetap harus kita lakukan. Dalam urusan ‘menaklukan’ gempa, kita bisa belajar dari Jepang. Ingat, yang bisa kita lakukan adalah meminimalisir efek dari suatu bencana, bukan meniadakan efek tersebut, karena berbicara tentang fenomena alam, kita berbicara tentang kekuatan yang sulit untuk diprediksi dan berada di luar kekuasaan manusia. Hanya sebatas itulah yang bisa kita lakukan, namun apapun itu wajib dan layak untuk diusahakan.

Satu hal yang bisa saya simpulkan dari tulisan Seri Takdir ini adalah bahwa Allah mengajarkan manusia untuk selalu berusaha mendapatkan yang terbaik untuk dirinya. Kalau menggunakan istilah Andrea Hirata dalam Sang Pemimpi, kita tidak pernah bisa mendahului takdir. Kita berjalan bersamanya. Apa pun kondisi kita saat ini, kita masih bisa memperbaikinya. Kita masih bisa mengusahakannya. Tidak ada yang final sebelum mati. Ada berbagai macam pilihan, namun kita dituntut untuk selalu memilih yang terbaik.

Saya lebih suka mengatakan bahwa Allah sedang mendidik kita, Bangsa Indonesia, daripada menggunakan kata-kata ujian, azab atau siksaan. Sebagaimana halnya dalam sebuah pendidikan, ujian, hukuman atau peringatan adalah sesuatu yang lumrah. Sesuatau yang biasa. Namun, untuk bisa melewati sebuah jenjang pendidikan, kita harus melalui proses belajar yang panjang. Inilah yang harus kita lakukan, selalu belajar. Tidak hanya belajar dari kesalahan, tapi juga belajar dari keberhasilan orang lain (bangsa lain). Dalam setiap proses belajar satu hal yang menjadi pondasinya adalah membaca. Iqro! Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan!

S 3 K 3 L 0 4. 17 – 27 0307.

loading...

18 Comments

  1. Hmmm saya juga suka memposting soal takdir juga… Memang menarik lho uraian Mas. Kalau boleh memberikan catatan pertanyaan :
    Kapan kita tahu bahwa kita sedang mengubah takdir?.
    Apakah kita punya jutaan kemungkinan?. Ataukah sebenarnya hanya sedikitnya dua pilihan kejadian saja. Jutaan atau milyaran kemungkinan adalah kombinas parmutasinya. Artinya, setiap langkah adalah sederhana (seperti program komputer itu) setiap kemungkinan hanya melahirkan kemungkinan berikutnya….
    😀

  2. Salam,
    Menarik sekali postingan mas Donny, yaitu pembahsan dengan cara pendekatan logika program. Namun saya ingin mengingatkan dalam kontek surat Al Faatihah, Ali Imran 102 dengan surah Al An’aam 162 dan 163, (yang biasa digunakan sebagai do’a Istiftah)
    ————
    “Tunjukilah kami jalan yang lurus” (QS 1:6)
    “(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” ( QS 1:7)
    “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan Muslim” (QS 3:102)
    Katakanlah: “Sesungguhnya shalat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, ” (QS 6:162)
    ” tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. (QS 6:163)
    ———–

    TAKDIR ANDA ??

    Repeat selama hidup (QS 6:163)
    …Muslim = Pilihan takdir anda (QS 1:6-7)
    …if kamu==muslim
    …then
    ……if kamu==shalat (QS 6:162)
    ……then pahala = pahala + 1
    ……else pahala = 0 sebab anda tidak muslim
    …else
    ……Pahala = 0 sebab anda tidak muslim
    endif
    Until Wafat
    If Pahala > 0
    then Takdir yang anda pilih masuk “Syurga”
    Else Takdir yang anda pilih masuk “Neraka”
    ————–
    Nah…disini kalau saya tidak keliru sudah tampak jelas, bahwa pemilihan takdir bukan hanya sekedar konditional (nested-if) tetapi ada proses looping (pengulanngan)
    Wassalam.

    Terima kasih mas Haniifa, seperti yang sudah saya tulis…pemikiran saya ini memang selalu terbuka untuk dikritisi. Tentunya agar saya tidak sampai ‘tersesat’

  3. Pada hakekatnya juga sama…Komentar saya sangat terbuka untuk di”kritisi”, jujur saja jika tidak ada cek & balans dari teman-teman (sekaliber mas donny misalnya) tentu saya mudah tergelincir ke jalan yang sesat. Na’udzubillah
    :balancing:
    Ohh yach…blognya bagus mas, truskan berkreasi 😀

    haniifa’s last blog post..Albert Einstein

  4. gokil nih artikel..
    gokil abis pemikirannya mas..

    gw jg prnah mikir ttg kerumitan logika manajemen takdir ALLAH SWT & pgn nulis d blog gw,,
    tp krn rumit bgt jd gw bingung sndiri gimana menulisknny dgn kata2 d blog, maklum br mulai ngeblog..

    keep on spirit, dream & realize it!

  5. wafda

    mas saya ingin tahu macam-macam takdir ???

  6. kurnia

    Dalam hadist qudsi saya pernah membaca bhw dalam takdir Allah ada sangkaan manusia.Oleh karena itu bukan hanya usaha tapi juga pikiran kita juga menjadi kunci takdir yg kita jalani.Pernikahan dan perceraian bukan dgn dmk ada peran manusia untuk menjadi kenyataan.Jadi klo ada perceraian jngn katakan jodoh sdh berakhir,sdh takdir.Bgmn,bnr gak?

  7. kurnia

    ayo tanggapi pendapat saya karena saya sdg berusaha mempertahankan pernikahan saya yg dinodai oleh org ke-3 padahal anak2 kami dah dewasa dan remaja.saya tdk ato blm mau menganggap ini takdir karena masih bisa diperjuangkan.tlng..beri pendapat

  8. Donny Reza

    Kurnia,
    Sederhananya, sesuatu dikatakan takdir kalau sudah terjadi, kalau belum terjadi berarti belum menjadi takdir. Oleh karena itu, kita dituntut untuk selalu berusaha melakukan yang terbaik, sehingga diharapkan akan mendapatkan hasil yang terbaik pula. Jika kemudian kita sudah berusaha melakukan yg terbaik, tapi ternyata hasilnya tidak sesuai harapan, yakinlah bahwa Allah hanya akan menilai usaha tersebut, bukan hasilnya.

    Turut bersedih dengan apa yang terjadi dengan Pak/Kang/Bu/Mbak Kurnia. Saya mendukung usaha tersebut, saya do’kan dari sini, mudah-mudahan usahanya bisa memberikan hasil yang terbaik dan membawa kebahagiaan untuk keluarga.

  9. saya suka sekali berdiskusi
    saya setuju takdir kita itu penuh dgn pilihan
    tapi saya kurang setuju dgn kata menyesal dgn pilihan yg sudah kita pilih
    toh semua pilihan ada resiko masing2
    terbaik atau terburuk itu kan relatif
    tapi semua pilihan itu kan tak bisa diulang mengapa perlu menyesal

    tolong tanggapan nya yah
    terimakasih
    kalau bisa kirim ke alamat e-mail saya
    dianmulia.queen24@gmail.com
    karena saya tidak selalu membuka blog anda
    maaf kalau ada kata yg salah
    adakah anda mempunyai facebook??

  10. Takdir emang misterius yah

  11. Keren bro, tapi kalo saya harusnya kata2nya di ganti jadi seperti ini :
    Programmer yang meniru Allah dalam membuat bahasa pemrograman pada fungsi if tersebut, karena Allah adalah sumber dari segala ilmu

  12. Cuma sedikit masalah redaktorial. Tapi secara keseluruhan ok banget

  13. ridwan said

    ada 2 orang yang berbeda,
    si A lahir dikeluarga yg harmonis, kaya, taat

    beragama, karena ganteng si A selalu jadi idola

    para gadis, kemana-mana selalu dihormati orang

    karena dia santun dan berasal dari keluarga

    terpandang. sehingga si A hidup dari lahir sudah

    bahagia.
    si B lahir dari keluarga berantakan, miskin dan

    cacat, mukanya buruk dan kemana-mana selalu diusir

    orang. si B juga taat beragama.

    kalau si A dari lahir hidup bahagia dan mati pasti

    sorga, sebab dari bayi dibimbing dg ajaran agama.
    kalau si B dari lahir hidup melarat dan mati masuk

    neraka,
    sebab si B sering mencuri untuk bisa makan.

    mengapa si A dan si B hidupnya sangat berbeda ????

    mungkin takdir itu bisa dibilang ADIL jika si A

    bisa dibilang hidup diatas roda, si B dibawah roda

    setelah pertengahan umur si A dibawah dan si B

    diatas.

    ADILKAH TAKDIR ITU ????

    ada orang mati-matian berusaha tapi tetap gagal,

    sedangkan ada juga orang usaha sedikit tapi

    berhasil.

    dalam mencari Tuhan, sebaiknya kita membaca semua

    konsep agama.

  14. kalau ada jaring laba-laba, berarti bisa jadi kita tidak pernah terlahirkan donk? kalau ada pilihan berarti nabi adam tidak akan pernah turun ke bumi donk, karena tidak makan buah khuldi????
    semuanya adalah ketentuan tuhan….. kalau ada orang yang mengatakan percuma berdoa dan beribadah karena itu adalah urusan tuhan, berarti takdir untuk dia adalah neraka……..
    namun pada saat orang tersebut merasa takut untuk masuk neraka dan beribadah sebanyak-banyaknya, berarti dia mungkin saja ditakdirkan menjadi penghuni sorga.
    tidak ada istilah “if” bagi tuhan, tapi berlaku bagi manusia, dan ketentuan tuhan adalah mutlak. bahkan jumlah penghuni surga dan neraka pun telah ditentukan tuhan sebelum akhir jaman….
    intinya, ikhlaslah menjalani hidup ini, bahkan ikhlas menerima takdir sepahit apapun…

  15. Aliminalam

    Jadi ingn bertanya !!!!

    1.Dimanakah letaknya takdir pada manusia ???
    2.Apakah Fungsinya takdir manusia ???

  16. hendar

    cocok banget tu sama sama mengenai takdir. tidak ada perceraian karena takdir mlainkan karena esalahan manusia itu sendiri. the best pokoknya.

    • junarno

      Subkhanalloh, Alkhamdulillah…. saya sangat setuju tulisan ini. Untuk mengingatkan kepada orang yang salah dalam memahami takdir. Contoh : Raja Fir’oun mungkin takdirnya tidak masuk neraka seandainya ATAU ” IF” ( JIKA ) dia mengikuti petunjuk Alloh SWT melalui Nabi Musa AS & Nabi Harun AS. QS.ASYAMSY, sudah cukup sebagai nasehat konsep TAKDIR. Silahkan direnungi….. Wassalam…

  17. Yuni

    Terima kasih mas donny, sangat berguna untuk lebih memahami tentang khusnul khatimah.
    Saya izin kutip beberapa kalimat ya mas, saya juga sedang bahas tentang khusnul khatimah di blog saya. Semoga berguna buat pengunjung blog saya, saya juga akan tulis salah satu sumbernya dari blog mas.
    Terima kasih

Leave a Reply

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén