mind.donnyreza.net

Benar-Salah

Melakukan hal yang benar, diomongin …
yang salah, diomongin juga…
mending yang benar aja sekalian!

DomaiNesia

Agar Bangsa Indonesia Tahu Balas Budi

Heran, sudah 2 kali tulisan ini diposting, selalu ada kendala koneksi. Menyebalkan juga. Entah apa yang salah. Seharusnya tulisan ini tampil sehari sebelumnya. Akan tetapi, karena terkendala koneksi, isi tulisan ini tidak tersimpan di database.

Saya paling malas ‘mencaplok’ atau melakukan copy-paste dari tulisan orang lain. Akan tetapi, menurut saya, tulisan di bawah ini memuat data-data penting terkait sejarah berdirinya bangsa Indonesia. Saya dapatkan tulisan ini dari forum hidayatullah.com. Sengaja saya tulis apa adanya, agar tidak ada lagi pernyataan …”untuk apa bantu negara lain, negara sendiri saja sedang repot…” atau apa pun penyataan yang mempertanyakan atau bahkan mencela terkait wacana bantuan terhadap Gaza (Palestina). Toh, Indonesia pun sebetulnya sangat akrab dibantu oleh negara lain. Contoh nyata adalah ketika Bencana Tsunami Aceh dan Gempa Jogja.

Dalam tulisan di bawah ini termuat sebuah judul buku. Saya ingin mendapatkan dan membaca buku tersebut. Saya tidak memiliki waktu untuk melacak validitas data-data yang termuat dalam tulisan tersebut. Untuk sementara, saya anggap data tersebut valid. Jika suatu saat, terbukti bahwa data-data dalam tulisan di bawah ini tidak benar atau bahkan tidak pernah ada, maka saya akan segera menghapus tulisan ini.

Sekedar sharing mengenai info sejarah kemerdekaan RI yang tidak pernah dipublikasikan atau diajarkan di sekolah , yaitu mengenai dukungan kemerdekaan RI oleh Palestina. Jadi sebenarnya kita berhutang dukungan kepada Palestina. Sukarno-Hatta boleh saja memproklamasikan kemerdekaan RI de facto pada 17 Agustus 1945, tetapi perlu diingat bahwa untuk berdiri (de jure) sebagai negara yang berdaulat, Indonesia membutuhkan pengakuan dari bangsa-bangsa lain. Pada poin ini kita tertolong dengan adanya pengakuan dari tokoh tokoh Timur Tengah, sehingga Negara Indonesia bisa berdaulat.

Gong dukungan untuk kemerdekaan Indonesia ini dimulai dari Palestina dan Mesir, seperti dikutip dari buku “Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri” yang ditulis oleh Ketua Panitia Pusat Perkumpulan Kemerdekaan Indonesia , M. Zein Hassan Lc. Buku ini diberi kata sambutan oleh Moh. Hatta (Proklamator & Wakil Presiden pertama RI), M. Natsir (mantan Perdana Menteri RI), Adam Malik (Menteri Luar Negeri RI ketika buku ini diterbitkan) , dan Jenderal (Besar) A.H. Nasution.

M. Zein Hassan Lc. Lt. sebagai pelaku sejarah, menyatakan dalam bukunya pada hal. 40, menjelaskan tentang peranserta, opini dan dukungan nyata Palestina terhadap kemerdekaan Indonesia, di saat negara-negara lain belum berani untuk memutuskan sikap.
Dukungan Palestina ini diwakili oleh Syekh Muhammad Amin Al-Husaini-mufti besar Palestina- secara terbuka mengenai kemerdekaan Indonesia:
.., pada 6 September 1944, Radio Berlin berbahasa Arab menyiarkan’ucapan selamat’ mufti Besar Palestina Amin Al-Husaini (beliau melarikan diri ke Jerman pada permulaan perang dunia ke dua) kepada Alam Islami, bertepatan ‘pengakuan Jepang’ atas kemerdekaan Indonesia. Berita yang disiarkan radio tersebut dua hari berturut-turut, kami sebar-luaskan, bahkan harian “Al-Ahram” yang terkenal telitinya juga menyiarkan.” Syekh Muhammad Amin Al-Husaini dalam kapasitasnya sebagai mufti Palestina juga berkenan menyambut kedatangan delegasi “Panitia Pusat Kemerdekaan Indonesia” dan memberi dukungan penuh. Peristiwa bersejarah tersebut tidak banyak diketahui generasi sekarang, mungkin juga para pejabat dinegeri ini .

Bahkan dukungan ini telah dimulai setahun sebelum Sukarno-Hatta benar-benar memproklamirkan kemerdekaan RI. Tersebutlah seorang Palestina yang sangat bersimpati terhadap perjuangan Indonesia, Muhammad Ali Taher. Beliau adalah seorang saudagar kaya Palestina yang spontan menyerahkan seluruh uangnya di Bank Arabia tanpa meminta tanda bukti dan berkata: “Terimalah semua kekayaan saya ini untuk memenangkan perjuangan Indonesia ..

Setelah itu, sokongan dunia Arab terhadap kemerdekaan Indonesia menjadi sangat kuat. Para pembesar Mesir, Arab dan Islam membentuk ‘Panitia Pembela Indonesia ‘. Para pemimpin negara dan perwakilannya di lembaga internasional PBB dan Liga Arab sangat gigih mendorong diangkatnya isu Indonesia dalam pembahasan di dalam sidang lembaga tersebut.

Di jalan-jalan terjadi demonstrasi- demonstrasi dukungan kepada Indonesia oleh masyarakat Timur Tengah. Ketika terjadi serangan Inggris atas Surabaya 10 November 1945 yang menewaskan ribuan penduduk Surabaya, demonstrasi anti Belanda-Inggris merebak di Timur-Tengah khususnya Mesir. Sholat ghaib dilakukan oleh masyarakat di lapangan -dan masjid-masjid di Timur Tengah untuk para syuhada yang gugur dlm pertempuran yang sangat dahsyat itu.

Yang mencolok dari gerakan massa internasional adalah ketika momentum Pasca Agresi Militer Belanda ke-1, 21 juli 1947, pada 9 Agustus. Saat kapal “Volendam” milik Belanda pengangkut serdadu dan senjata telah sampai di Port Said.Ribuan penduduk dan buruh pelabuhan Mesir berkumpul di pelabuhan itu.Mereka menggunakan puluhan motor-boat dengan bendera merah-putih -tanda solidaritas- berkeliaran di permukaan air guna mengejar dan menghalau blokade terhadap motor-motor- boat perusahaan asing yang ingin menyuplai air & makanan untuk kapal “Volendam” milik Belanda yang berupaya melewati Terusan Suez, hingga kembali ke pelabuhan. Kemudian motor boat besar pengangkut logistik untuk “Volendam” bergerak dengan dijaga oleh 20 orang polisi bersenjata beserta Mr. Blackfield, Konsul Honorer Belanda asal Inggris, dan Direktur perusahaan pengurus kapal Belanda di pelabuhan. Namun hal itu tidak menyurutkan perlawanan para buruh Mesir.

Wartawan ‘Al-Balagh’ pada 10/8/47 melaporkan:
Motor-motor boat yang penuh buruh Mesir itu mengejar motor-boat besar itu dan sebagian mereka dapat naik ke atas deknya. mereka menyerangkamar stirman, menarik keluar petugas-petugasnya, dan membelokkan motor-boat besar itu kejuruan lain.

Melihat fenomena itu, majalah TIME (25/1/46) dengan nada minornya menakut-nakuti Barat dengan kebangkitan Nasionalisme-Islam di Asia dan Dunia Arab. “Kebangkitan Islam di negeri Muslim terbesar di dunia seperti di Indonesia akan menginspirasikan negeri-negeri Islam lainnya untuk membebaskan diri dari Eropa.

Statement Tokoh dalam buku ini:
A.H. Nasution
Karena itu tertjatatlah, bahwa negara-2 Arab jang paling dahulu mengakui RI dan paling dahulu mengirim misi diplomatiknja ke Jogja dan jang paling dahulu memberi bantuan biaja bagi diplomat-2 Indonesia di luar negeri. Mesir, Siria, Irak, Saudi-Arabia, Jemen, memelopori pengakuan de jure RI bersama Afghanistan dan IranTurki mendukung RI. Fakta-2 ini merupakan hasil perdjuangan diplomat-2 revolusi kita. Dan simpati terhadap RI jang tetap luas di negara-2 Timur Tengah merupakan modal perdjuangan kita seterusnja, jang harus terus dibina untuk perdjuangan jang ditentukan oleh UUD ’45 : “ikut melaksanakan ketertiban dunia jang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial”.

Web Hosting

Perumpamaan kaum muslimin yang saling kasih mengasihi dan cintamencintai antara satu sama lain ibarat satu tubuh. Jika salah satuanggota berasa sakit maka seluruh tubuh akan turut berasa sakit dantidak dapat tidur.” (HR Bukhari)

I Support Palestine!

Tidak banyak yang bisa saya lakukan untuk membantu saudara-saudara saya di Palestina sana. Akan tetapi, mudah-mudahan, bisa cukup memberi arti. Ini bukan propaganda untuk melakukan kebencian, tapi sebuah perlawanan. Meski hanya sebuah tulisan, meski hanya sebuah banner terpasang. Akan tetapi, setidaknya sudah mewakili sikap saya.

Bagi saya tragedi penyerangan Israel di Gaza membuktikan satu hal. Bahwa demokrasi hanya sebuah omong kosong yang diagung-agungkan. Bahwa HAM tidak lebih hanya sebuah dongengan semata. HAM hanya berlaku jika warga Israel, Amerika dan penjilat-penjilatnya menjadi ‘korban’, tapi tidak berlaku bagi yang menentangnya. Meski para penentang tersebut berada di pihak yang benar. Perhatikan saja, tidak akan ada satu pun tindakan yang akan dilakukan oleh PBB atau Amerika untuk menghentikan serangan tersebut. Paling hanya kecaman keras, seperti yang saya lakukan sekarang. Kalau begitu, untuk apa ada PBB? bubarkan saja!!

Bom di Bali yang dilakukan oleh Imam Samudera cs, meskipun saya tidak pernah menyetujuinya, belum ada seujung kukunya dibandingkan penderitaan puluhan tahun rakyat Palestina. Akan tetapi, tidak satupun pemimpin yang bertanggung jawab untuk itu yang mati dieksekusi dalam penjara. Tidak satupun.

Israel dan Amerika boleh saja berbusa-busa mengatakan bahwa yang diserang adalah pusat persenjataan HAMAS. Akan tetapi, adalah sebuah kenyataan bahwa korban terbesar adalah rakyat sipil. Anak-anak dan wanita diantaranya. Bancinya, penyerangan juga dilakukan di malam hari, dengan persenjataan tercanggih pula. Saya tidak yakin pasukan Israel cukup berani untuk bertempur saling berhadap-hadapan, seperti perang-perang zaman dulu. Perang yang lebih adil. Terhadap anak-anak bersenjata batu dan ketapel pun mereka tunggang langgang.

Saya tidak pernah merasa yakin dengan perundingan damai atau gencatan senjata akan menyelesaikan masalah di Palestina. Satu-satunya cara adalah hilangkan Israel dari muka bumi!! Sudah puluhan kali gencatan senjata dan perundingan damai dilakukan, tapi nihil hasilnya. Selalu nihil. Bagi Israel, tidak boleh satupun warga Palestina yang tinggal di tanah itu. Itu adalah tujuan utamanya. Selanjutnya, tinggal pintar-pintar mereka saja mencari alasan penyerangan dan melakukan genosida.

Kalau pemerintah Indonesia mau, sebetulnya tinggal kirim pasukan saja. Daripada TNI di Indonesia juga menganggur dan seringnya malah ribut sama saudara sendiri. Setidaknya, dengan dikirm ke Palestina, latihan perang yang dilakukan selama ini akan ada manfaatnya. Siapa tahu bisa jadi orang-orang yang mati syahid!! Apakah saya terlihat kejam kalau mengusulkan ini? Ya, ya… saya tahu, tidak bisa mengharapkan pemerintah Indonesia dalam hal ini. Saya pun, toh, tidak bisa berbuat banyak. Cuma bisa cuap-cuap tanpa aksi. Setidaknya saya sudah berusaha untuk mengatakan hal yang menurut saya benar. Wallahu’alam…

NB:

Banner diambil dari blognya Dhika. Kalau mau berbuat lebih banyak, baca juga posting Dhika yang ini dan posting Bambang yang ini.

The Art of Decision Making

Ada saat dimana mengambil sebuah keputusan bukan hal yang mudah.  Bahkan menjadi teramat sulit.  Kesulitannya bukan pada bagaimana keputusan itu diambil atau keputusan apa yang akan diambil.  Akan tetapi, lebih kepada apa dampak yang mungkin timbul ketika suatu keputusan diambil.  Apalagi jika hal tersebut berhubungan dengan masa depan kita, atau bahkan nasib seseorang atau orang lain.  Persoalannya, pikiran-pikiran buruk tentang dampak yang akan timbul setelah keputusan diambil lebih sering terbayang-bayang daripada hal-hal baik yang mungkin terjadi.

Keputusan untuk berhenti kerja atau menikah, misalnya, adakalanya menjadi sangat rumit.  Muncul macam-macam pertimbangan yang sebetulnya hanya ketakutan-ketakutan saja.  Takut susah dapat pekerjaan lain, takut susah memberi makan anak dan istri, dan lain-lain.  Sementara pada saat yang bersamaan, hati dan pikiran sudah tidak ada di tempat kerja sekarang.  Resah, mengawang kemana-mana.  Sudah tidak nyaman, sudah tidak fokus lagi.  Sehingga, akhirnya, kinerja semakin menurun tapi takut untuk keluar dari pekerjaan yang sudah tidak bisa dinikmati lagi.

Situasi seperti sekarang, dimana banyak perusahaan kolaps akibat krisis ekonomi dan terjadi PHK dimana-mana, membuat keputusan untuk keluar dari tempat kerja menjadi semakin sulit.  Jangan-jangan, tidak ada lowongan di tempat lain yang akan menerima kita.  Sementara untuk membuka usaha sendiri belum mampu, skill juga pas-pasan dan pengalaman kerja juga belum banyak.

Anda mungkin pernah ada dalam situasi dimana anda tidak pernah benar-benar bisa menikmati apa yang sedang anda kerjakan.  Akan tetapi, tuntutan kebutuhan untuk bertahan hidup membuat anda tetap bertahan melakukan pekerjaan tersebut.  Bagaimanapun memuakan, stressfull dan membosankannya pekerjaan tersebut, anda tetap bertahan. Bahkan untuk mencari pekerjaan lain pun anda tidak sempat, karena waktu anda habis tercurah untuk pekerjaan sekarang.   Meskipun ketika anda bekerja, anda tidak merasakan apa yang disebut dengan antusiasme, passion, with pleasure, apalagi cinta.  Padahal itu merupakan faktor paling penting anda bisa bekerja dengan baik dan bersungguh-sungguh.  Akhirnya, anda mengeluh terus setiap bekerja.  Ketika mengeluh sudah menjadi bagian pekerjaan anda setiap saat, bisa dipastikan anda sudah tidak nyaman dengan pekerjaan anda.

Berhenti saja!“, Itu yang sering saya katakan kepada orang lain jika ada yang curhat tentang hal semacam itu.  Tentunya kepada diri sendiri juga.  Beberapa kali juga saya mengatakan kalau memang sudah tidak bisa merasa bahagia dengan apa yang dikerjakan sekarang, untuk apalagi dipertahankan?  Soal besok kerja apa? kerja dimana? makan apa? Itu urusan besok, bukan sekarang.  Anda kan tidak tahu apa besok masih hidup atau tidak?  Anda juga tidak pernah benar-benar tahu tempat bekerja anda sekarang akan  bertahan atau tidak esok pagi?  Daripada menyiksa diri terus-menerus, ya sudah, berhenti saja.  Jika dengan berhenti dari tempat kerja sekarang membuat bahagia, lakukan saja! Besok-besok, jika masih hidup, berusaha lagi saja mencari tempat kerja lain, yang bisa anda nikmati, yang bisa anda cintai.

Ekstrim? mungkin. Akan tetapi, dengan argumen semacam itu, setidaknya sudah dua orang yang terpengaruh dan memutuskan untuk berhenti bekerja dari tempat kerjanya dengan alasan sudah tidak nyaman lagi.  Toh, kenyataannya mereka masih hidup sampai sekarang.  Terlepas dari apakah mereka bahagia dengan kehidupannya yang sekarang atau tidak.  Setidaknya, satu beban pikiran sudah lepas, daripada sepanjang hidup dibebani oleh hal semacam itu terus menerus.

Tidak perlu menunggu “waktu yang tepat”, sebab barangkali apa yang disebut dengan waktu yang tepat itu tidak pernah ada.  Anda lah yang menciptakan waktu yang tepat itu untuk anda sendiri.  Bukan orang lain, bukan situasi tempat kerja anda, bukan juga manajemen perusahaan.  Seburuk apa pun situasinya, atau bahkan sepenting apa pun posisi anda di perusahaan, waktu yang tepat itu anda yang tentukan.  Sebab, jika tidak begitu, anda akan terus terseret dan semakin larut bahkan dibebani pekerjaan yang tidak anda sukai setiap saat.  Orang lain atau manajeman bahkan akan merasa tidak perlu dan tidak ingin tahu kalau anda suka atau tidak dengan pekerjaan itu.  Buat mereka, profesionalisme anda yang dituntut, sebab anda digaji untuk itu.  Masa bodoh anda suka atau tidak dengan tugas yang dibebankan kepada anda.

Tidak perlu juga merasa kasihan kepada orang-orang yang akan anda tinggalkan di tempat kerja.  Percayalah, mereka juga tidak akan merasa kasihan kepada anda jika menyangkut urusan pekerjaan.  Tega sajalah! Jika tidak begitu, anda yang ditegai, sebab -sekali lagi- profesionalisme anda yang dituntut.  Anda juga tidak bisa mengharapkan orang memahami perasaan anda, karena orang lain juga barangkali memiliki masalah yang sama atau bahkan lebih berat daripada anda.

Sungguh sangat merugi jika sepanjang hidup anda dihabiskan dengan hal-hal yang membuat anda tidak bisa merasakan hidup itu sendiri.  Jika selama ini anda sudah berusaha untuk berdamai dengan apa yang anda lakukan, dan masih sulit atau bahkan tidak bisa juga merasakan kebahagiaan, sudah saatnya anda berhenti melakukannya.  Cari hal lain yang bisa anda lakukan, dan anda senang melakukannya.  Jika masih belum dapat juga, teruskan melakukan pencarian.  Itu lebih baik daripada anda terjebak dalam sesuatu yang anda benci dan menghabiskan banyak waktu untuk memikirkan bahkan mengeluhkannya.

Saya sih percaya satu hal.  Pemberi rezeki itu bukan manusia, ada Allah SWT  yang Maha Pemberi Rezeki.  Dia yang lebih kaya daripada manusia.  Kekayaan manusia itu tidak ada ‘seujungkukunya’ kekayaan Allah SWT.  Saya juga sangat yakin bahwa pintu rezeki yang Allah miliki tidak hanya satu, tapi ribuan atau bahkan jutaan pintu rezeki.  Maka, ketika kita meninggalkan satu pintu rezeki, yang sesungguhnya kita lakukan adalah membuka peluang pada diri sendiri untuk bisa membuka pintu yang lain, bahkan tidak hanya satu pintu, tapi juga berpintu-pintu.  Hanya saja, ada pintu yang perlu usaha keras untuk membukanya, ada juga yang sangat mudah membukanya.  Ada pintu yang memberi rezeki banyak, ada juga yang tidak.  Jika anda sudah sangat yakin bahwa Allah SWT akan tetap memberikan rezekinya sepanjang hidup anda, apa lagi yang perlu anda takuti?

NB: Kamu memintaku untuk menuliskan sesuatu, inilah yang bisa kutuliskan.  Tidak banyak … tapi barangkali bisa memberikan arti 🙂

Terasing

Pengen Pulang …. :((

Page 5 of 23

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén