Ruang Foto

, June 8th, 2008

Ruang Foto adalah sebuah usaha saya menyeriusi fotografi. Memang belum ada foto yang terlalu istimewa di sana, mengingat saya memegang kamera yang agak ‘bener’ saja baru seminggu ini. Mengikuti jejak Andri, saya pun menyediakan ruang khusus untuk menyimpan foto-foto yang menurut saya bagus dibanding yang lainnya. Cuma bedanya kamera saya masih kamera amatiran :D .

Dari 5 foto yang pertama kali diangkat, saya yakin banyak ditemukan kesalahan-kesalahan minor atau mayor. Saya sendiri merasakannya. Gaya memotret saya yang kurang menyukai penggunaan flash seringkali menyebabkan gambar-gambar menjadi kabur. Terutama di dalam ruangan. Bukti lain kalau saya belum ahli.

Namun, apa pun yang terjadi, the show must go on.  Tadinya sih mau saya pasangi label donnyreza.net atau ruangfoto.donnyreza.net pada foto-foto tersebut.  Namun, setelah dipikir-pikir lagi, lebih baik dibiarkan saja. Barangkali foto-foto saya ada yang mau menggunakannya dan bisa berguna buat orang lain.  Bahkan kalau ada yang minta ukuran aslinya pun, akan saya beri.  Hanya saja yang perlu ditegaskan adalah setiap penggunaan karya cipta siapa pun, perlu menyertakan nama yang membuatnya. :-)

Lebih Baik Menolak

, June 6th, 2008

Bukan tanpa alasan ketika saya menolak permintaan Ochi untuk menulis atau berbicara lebih banyak tentang kasus Monas yang melibatkan FPI dan AKKBB. Meskipun, sebetulnya saya juga ingin sekali menulis soal kejadian tersebut.

Setidaknya ada dua alasan. Pertama, saya tidak berada di sana ketika kejadian. Kedua, saya tidak percaya 100% media massa. Dengan dua alasan tersebut, saya tidak berani memberikan penilaian tentang siapa yang benar dan siapa yang salah dalam kasus tersebut. Bahkan mereka yang hadir di sana pun bisa saja salah. Akan tetapi, sikap saya jelas. Saya sangat menyesalkan terjadinya kasus tersebut.

Kekhawatiran saya hanya satu. Prasangka. Su’udzhan. Tentunya kepada dua pihak yang terlibat. Jangan sampai ketika saya menggebu-gebu membela salah satu pihak, saya malah membela yang seharusnya dihujat.

Ketika terjadi pertikaian, dipastikan akan selalu terbentuk minimal dua kubu dengan versi ceritanya masing-masing. Ada kalanya cerita yang kita dengarkan lebih bombastis daripada kejadian yang sesungguhnya. Bahkan seringkali ditemukan ‘fakta’ baru dalam cerita tersebut, entah benar adanya atau diada-adakan.

Sama halnya dengan sejarah. Satu hal yang pasti dari sejarah adalah -biasanya- tempat, waktu dan peristiwanya. Soal jalan cerita bagaimana peristiwa itu bisa terjadi, tergantung pada siapa anda percaya atau -mungkin- tergantung selera anda juga.  Bagi saya, kejadian Monas sudah jadi bagian dari sejarah.

Belum lagi munculnya teori-teori konspirasi dari mereka yang membela salah satu kubu. Semakin ruwet. Dengan minimnya data dan fakta yang saya miliki, mana berani saya menentukan siapa benar dan siapa salah. Jadi, silahkan saja yang berwajib yang mengurusi persoalan ini.

Lalu, ketidakpercayaan saya pada media massa lebih dikarenakan keyakinan saya bahwa tidak ada satu pun media yang benar-benar netral. Setiap media punya ideologi atau ’sikap politik’. Keduanya ditentukan oleh’ pemegang duit’ di perusahaan media massa tersebut. Yah, memang senaif itu lah pikiran saya.

Lagipula, televisi atau koran hanya menampilkan frame-frame yang menurut mereka ‘menjual’. Padahal, suatu cerita selalu memiliki awal, tengah dan akhir cerita. Tidak selalu yang kita lihat sebagai pihak yang tertindas di televisi atau koran adalah mereka yang benar-benar tertindas. Bisa juga yang terjadi adalah sebaliknya, sebuah perlawanan terhadap suatu penindasan. Lantas, apa mungkin kita bisa menyimpulkan suatu kejadian hanya melihat satu bagian saja?

CTM61. 060608. 05.00.

Para Tetangga

, June 6th, 2008

Keinginan saya untuk menampilkan semua link alamat bloger yang pernah memberikan komentar di sini terwujud juga. Terima kasih pada SQL yang mempermudah kerja saya sehingga tidak perlu repot-repot membuat seluruh tautan sendiri atau melakukan add link satu persatu di blogroll.

Tercatat ada 280 tautan dari seluruh bloger yang pernah memberikan komentarnya di blog ini. Termasuk yang redundan, trackback, tautan kosong dan punya saya sendiri. Tautan-tautan yang berisi spam sudah saya bantai sebelumnya, jadi tidak ikut terseleksi. Seluruh tautan dari bloger yang pernah memberikan komentar di blog ini, saya simpan di sini.

Nama yang tercantum berdasarkan nama yang dimasukan di dalam form komentar. Kecuali beberapa nama yang saya edit, selebihnya saya biarkan apa adanya.

Saya belum pernah mencobanya di blog yang ikut hosting di Wordpress. Karena sewa hosting sendiri, saya tinggal membuka phpmyadmin yang disediakan oleh penyedia hosting. Kemudian ketikan perintah SQL berikut pada form yang tersedia:

SELECT CONCAT( ‘<a href=”‘, `comment_author_url` , ‘” target=”_blank”>’, `comment_author` , ‘</a>’ ) Link FROM `wp_comments` GROUP BY `comment_author_url`

Contoh hasil seleksi akan menjadi kode HTML seperti ini:

Linklist

Setelah melakukan sedikit seleksi lagi, buka write page pada Dashboard Wordpress. Copy seluruh tautan di atas dan paste pada text editor wordpress. Oopps, hampir lupa. Pada text editor ada dua bagian, visual dan code. Copy seluruh tautan di atas pada bagian code. Publish, jadi deh.

code

Saya tidak tahu apakah ada plugins untuk ini, belum pernah mencari tahu.

Selain itu, ada juga kabar yang cukup menggembirakan bagi saya. Beberapa teman dekat saya sudah mulai sering menulis blog. Mudah-mudahan bisa seterusnya rajin menulis.

Ada Herdyan Fajar, sobat masa SMA yang diam-diam sudah mulai rajin posting dan sebentar menyempurnakan setengah dien-nya. Ada Dela, sobat di kampus saya. Deden, yang saya beri motivasi untuk berani menampilkan diri dan jangan terlalu memedulikan apa yang orang lain pikirkan tentang karya kita. Juga Wahyu, sobat SMA dan teman berbagi cerita mengenai fotografi. Selain itu, Ochi yang akhirnya memilih untuk menggunakan Wordpress juga, setelah sebelumnya menggunakan blog Friendster dan Blogspot. So, ayo kunjungi mereka … hehe.

Raja

May 30th, 2008

Nyumbang

Foto atau gambar bisa berbicara banyak hal.  Terkadang sebuah foto bisa ‘menampar’ lebih keras daripada tangan untuk menyadarkan kita.  Kejadian dalam foto di atas tidak selalu kita saksikan setiap hari.  Namun, itu adalah sebuah kejadian nyata.

Saya bersyukur dikaruniai fisik yang masih sempurna, begitu pun anda, mungkin.  Akan tetapi, tidak semua orang -termasuk saya- yang bisa berbesar hati menerima karunia tersebut.

Hati adalah raja, begitu Rasulullah SAW mengajarkan.  Jika sang ‘raja’ lemah, lemah pula rakyatnya, begitu pun sebaliknya.  Beruntunglah jika anda memiliki raja yang kuat, berani, sehat dan baik.

Foto di atas hanya salah satu dari sekian banyak kejadian yang pernah kita lalui.  Akan tetapi, dari foto di atas, saya - dan mungkin juga anda- mendapatkan (lagi) sebuah pelajaran berharga betapa luar biasanya kekuatan sang raja.

Foto di atas saya ambil dari blog-nya caplang.  Konon, caplang juga dapat dari milis, entah milis apa.  Saya hanya membayangkan, jika foto tersebut dipajang di tempat pengambilan BLT, apa yang akan masyarakat pikirkan ya?

Citamiang61.  300608. 16.30.

Buku Terjemahan dan Program Beasiswa Luar Negeri Sebagai Salah Satu Faktor Kemajuan Sebuah Bangsa

, May 20th, 2008

Belajar dari sejarah, ada dua hal yang menurut saya cukup penting dan terlupakan oleh bangsa kita, atau setidaknya oleh pemerintah kita. Kalau pun sudah dilakukan, namun sepertinya kurang optimal. Pertama, soal penerjemahan buku, dan yang kedua adalah soal pengiriman orang-orang terbaik kita untuk mengenyam pendidikan di luar negeri dan mengaplikasikan serta mengamalkannya di dalam negeri.

Buku Terjemahan

Setidaknya ada dua fase yang menjadi rujukan saya untuk membuktikan betapa pentingnya buku terjemahan sebagai salah satu faktor kemajuan sebuah bangsa. Pertama, ketika Islam berhasil menguasai peradaban dan yang kedua ketika Eropa mulai menunjukkan kemajuan dalam bidang teknologi.

Ketika Islam mulai menguasai sebagian belahan bumi ini, salah satu hal yang dilakukan oleh pemerintahnya adalah mendorong kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Salah satu hal yang dilakukan adalah dengan menerjemahkan buku-buku atau manuskrip-manuskrip yang berhubungan dengan iptek, yang berasal dari berbagai sumber. Diantaranya adalah buku-buku filsafat Yunani, kedokteran, matematika dan lain-lain.

Hal yang sama juga dilakukan oleh bangsa Eropa di masa-masa awal berakhirnya Perang Salib. Ribuan buku berbahasa arab diterjemahkan. Beberapa buku yang diterjemahkan diantaranya, “Muqaddimah” karya Ibnu Khaldun, buku-buku kedokteran Ibnu Syifa (Avicenna) dan buku-buku Ibnu Rusyd (Averos).

Penerjemahan buku bertujuan untuk mempermudah akses bagi para calon ilmuwan terhadap sumber-sumber utama ilmu pengetahuan dan teknologi. Bagaimanapun, tidak semua orang Indonesia mengerti bahasa Inggris atau Jepang. Juga akan menyita cukup banyak waktu jika setiap orang harus belajar atau harus bisa bahasa asing terlebih dahulu agar bisa memahami isi buku dari luar negeri.

Pengiriman Mahasiswa ke Luar Negeri

Jepang pernah melakukan ini, Malaysia bahkan sampai mengirim orang-orangnya untuk belajar dari Indonesia, itu juga yang pernah dilakukan oleh India. Begitu pula ketika Eropa mengirim orang-orang terbaiknya untuk belajar dari pemimpin peradaban saat itu. Dan hasilnya bisa kita lihat sekarang.

Jepang menjadi pemimpin dalam bidang teknologi. Malaysia sudah jauh meninggalkan Indonesia. Bahkan India, yang selama ini kita olok-olok karena filmnya, adalah penyumbang terbanyak orang-orang yang memimpin dunia ICT.

Memang banyak orang Indonesia yang menuntut ilmu di Luar Negeri atau di ‘kantung-kantung’ ilmu pengetahuan. Akan tetapi, banyak pula yang menyatakan tidak ingin kembali ke Indonesia. Ada berbagai macam alasan, diantaranya adalah karena apresiasi pemerintah Indonesia dirasa sangat kurang terhadap mereka. Selain itu, mereka pergi atas biaya sendiri atau beasiswa dari lembaga-lembaga yang berasal dari luar negeri, sehingga merasa tidak memiliki tanggung jawab apa pun terhadap negara.

Akan berbeda halnya jika mahasiswa-mahasiswa yang kuliah ke luar negeri dibiayai sepenuhnya oleh negara. Lalu setelah masa pendidikan selesai mereka diberi ruang untuk mengembangkan seluruh ilmu yang dimilikinya. Lebih dari itu, diberikan apresiasi, entah berupa uang, penghargaan atau pun proyek-proyek penelitian. Ini yang kurang diberikan oleh pemerintah Indonesia.

Tanggung Jawab Pemerintah

Meskipun ada ratusan penerbit buku di Indonesia, akan tetapi penerbit-penerbit buku tersebut hanya akan menerbitkan buku-buku yang diyakini menjanjikan dalam hal penjualan. Oleh sebab itu, mudah dimengerti jika buku terjemahan yang tersedia di Indonesia lebih banyak didominasi oleh buku-buku nonfiksi semacam novel. Sementara buku-buku sains terjemahan masih jauh lebih sedikit.

Akan berbeda halnya jika dalam hal terjemahan tersebut, pemerintah mengambil peran. Katakanlah dengan mendirikan Lembaga Penerjemahan, yang terdiri dari orang-orang yang kompeten dan memiliki penguasaan bahasa asing yang mumpuni. Jika 100 orang dibebani tugas untuk menerjemahkan masing-masing 1 judul buku dalam 3 bulan, maka dalam 1 tahun pemerintah Indonesia sudah memiliki 300 judul buku terjemahan.

Agar penerbit juga diuntungkan, buku-buku tersebut diorderkan ke-300 penerbit. Bisa juga dengan sistem kerjasama atau sponsorship, agar beban pemerintah juga tidak terlalu berat. Katakanlah sekali terbit, pemerintah membayar atau bekerja sama dengan para penerbit itu untuk mencetak 1000 eksemplar. Kemudian buku-buku tersebut disebarkan ke perpustakaan-perpustakaan umum, sekolah dan universitas. Tanpa biaya.

Agar lebih memudahkan lagi, tidak ada larangan bagi setiap orang untuk memperbanyak buku tersebut. Oleh sebab itu, permasalahan lisensi buku menjadi tanggung jawab pemerintah untuk membicarakannya dengan pengarang dan penerbit aslinya. Dengan cara seperti itu, setiap orang akan lebih mudah mengakses ‘isi’ buku tersebut. Entah itu difotokopi, atau membeli bajakannya sekalipun tidak akan menjadi masalah.

Apalagi dengan adanya internet, semakin lebih mudah lagi. Pemerintah tinggal menyediakan situs khusus yang berisi seluruh ebook terjemahan tersebut. Setiap orang bebas mengunduh file-file yang tersedia dan diperbolehkan untuk membuat versi cetaknya, bahkan menjualnya, meskipun sebatas pengganti ongkos cetak.

Selain itu, ada cara lain lagi. Adanya kontrak kerja dengan mahasiswa yang dikirim ke luar negeri dengan biaya sepenuhnya ditanggung oleh pemerintah. Misalnya, setiap mahasiswa yang mendapatkan beasiswa diwajibkan untuk menerjemahkan minimal sebuah buku yang terkait bidang pendidikan mahasiswa tersebut.

Selain menerjemahkan buku, mahasiswa tersebut juga diwajibkan menulis minimal satu judul buku. Buku tersebut harus berhubungan dengan bidang yang diambilnya. Kemudian buku tersebut diserahkan kepada pemerintah. Namun, mahasiswa tersebut tetap mendapatkan hak dari terbitnya buku tersebut. Seperti, namanya tercantum sebagai penulis buku dan mendapatkan uang lelah. Meskipun, dengan sepenuhnya dibiayai beasiswa itu saja sudah cukup.

Kontrak kerja lainnya adalah dengan mewajibkan para penerima beasiswa tersebut untuk kembali ke Indonesia dan mengajar di universitas-universitas atau sekolah-sekolah yang ditunjuk oleh pemerintah. Katakanlah untuk jangka waktu 5 tahun. Atau ditempatkan di lembaga-lembaga pemerintah yang terkait dengan bidang pendidikan penerima beasiswa, dan dituntut untuk menyumbangkan dan mengembangkan berbagai inovasi di bidang tersebut. Untuk kemudian menuliskan dan mempublikasikan hasil-hasil penelitiannya.

Penerima beasiswa yang tidak kembali ke Indonesia akan mendapatkan hukuman. Misalnya, dicap “pengkhianat” dan dalam KTP keluarganya akan diberikan cap “keluarga pengkhianat”, sehingga anggota keluarga lainnya tidak memiliki kesempatan untuk mendapatkan beasiswa serupa. Persis seperti yang dilakukan pemerintah kita terhadap keluarga PKI. Itu hanya salah satu contoh saja. Tentunya ada berbagai macam hukuman yang bisa diberikan.

Penutup

Saran-saran dalam tulisan ini hanyalah sumbangan pemikiran dan opini pribadi. Terlepas dari apakah saran tersebut kongkrit atau tidak, realistis atau tidak dengan kondisi bangsa Indonesia saat ini. Mudah-mudahan, jika ada pemerintah yang baca, tulisan ini bisa memberikan sumbangan yang berarti. Meskipun hanya dalam tataran wacana.

Bandung. 19 Mei 2008. 21.00.

NB: Bhehehe, judulnya panjang pisan ya? Bingung atuh da, judul yang pas kira-kira apa ya? :D Tulisan ini terinspirasi ketika mengingat betapa kesulitannya saya mendapatkan referensi buku-buku berbahasa Indonesia terkait tema skripsi yang saya ambil.

blank