Istiqamah Kuadrat™

Istiqamah, arti sederhananya komitmen, konsisten, berkesinambungan, kontinyu. Arti-arti tersebut tidak saya dapatkan dari kamus, asal saja, diartikan sakadaek (semaunya), karena memang dalam praktiknya istiqamah merujuk kepada kata-kata itu. Untuk membangun sebuah konsistensi dalam diri kita ternyata bukan hal yang mudah tapi juga tidak terlalu sulit sebetulnya. Masalahnya, untuk membangun sebuah konsistensi, diperlukan komitmen, ketekunan, kegigihan, kesabaran, keteraturan dan konsisten itu sendiri. Itulah sebabnya saya menggunakan istilah Istiqamah KuadratTM, karena untuk bisa istiqamah (konsisten), kita juga harus bisa istiqamah untuk tetap istiqamah.

Dalam sebuah hadits kan ada ungkapan “Allah menyukai seseorang yang melakukan sesuatu yang meskipun sedikit, tapi dilakukan secara terus menerus (dawam)“. Dan hadits tersebut juga tidak hanya merujuk kepada urusan ibadah-ibadah utama, tapi juga kepada urusan-urusan dunia yang, tentu saja, tidak menyalahi aturanNya. Maka, sederhananya, Allah menyukai orang-orang yang konsisten. Konsistensi juga yang membedakan orang-orang sukses dan tidak.

Sebagai contoh, saya sendiri. Saya orang sukses? Oh, sayang sekali belum. Untuk saat ini, biarlah saya merelakan diri masuk kategori orang-orang yang belum sukses. 😀 Mungkin, bagi yang kebetulan lewat blog ini, dan membaca tulisan ini, dalam benaknya ada pikiran “Siapa Elu yang merasa perlu dijadikan contoh??” ;)). Jawabannya “inikan blog gua, suka-suka gua dong mau nulis apa pun!! :p” meskipun saya juga sadar blognya masih numpang di tempat yang gratisan. Nah lho, kok jadi nulis ginian? Itu artinya saya sedang tidak konsisten. Masih nyambung kan? :))

Tanya : Kenapa belum sukses?
Jawab : Karena sampai saat ini, belum ada satu pun target-target saya yang tercapai.
Tanya : Masalahnya apa?

Nah, untuk jawaban ini, saya bisa saja mengatakan banyak sekali masalahnya. Namun, ternyata setelah saya renungkan dan saya rumuskan, ternyata masalah utamanya adalah selama ini saya tidak konsisten. Belum bisa istiqamah, kurang sabar. Lalu, setelah saya telusuri lagi, ternyata masalahnya adalah saya belum memiliki komitmen untuk itu. Belum lagi bicara tentang tidak adanya skala prioritas yang menjadikan saya tidak fokus terhadap target-target saya. Jadi, dalam kasus saya, dan mungkin juga kebanyakan diantara kita, fokus, skala prioritas, komitmen, sabar dan konsisten, semuanya berhubungan. Salah satunya terabaikan, menjadikan sebuah ancaman terhadap kegagalan pencapaian target.

Sampai saat ini ‘kata-kata’ tersebut memang belum menjadi bagian dari diri saya. Selama ini saya lebih suka untuk jadi orang yang ‘dinamis’ daripada yang ‘statis’. Bagi saya, coding seharian, misalnya, adalah sesuatu yang membosankan. Saya lebih iri melihat Riyani Djangkaru dengan acara Jejak Petualangnya, atau melihat fotografer yang dikirim bertugas ke luar negeri, daripada jadi programmer yang handal. Sampai saat ini, hal-hal yang saya ‘cintai’ adalah main sepak bola dan online di internet. Hanya saja sepak bola kan perlu tim, jadi tidak mungkin main sepak bola sendirian, karena itu sudah jarang dilakukan. Maka, jika saja di kostan saya ada koneksi internet, mungkin saya tidak akan pernah keluar dari sana.

Ada puluhan ebook tentang programming dan komputer di komputer saya. Dengan jumlah yang banyak itu, seharusnya saya sudah menjadi orang yang ‘pintar’ dalam bidang itu. Kenyataannya tidak seperti itu. Lagi-lagi, masalahnya adalah saya tidak bisa bersabar dalam melahap dan mempraktikan isi ebook tersebut. Meskipun saya menyadari kondisi tersebut sudah sejak lama, namun perbaikan ke arah itu belum pernah saya lakukan, jadinya begini, tidak terjadi perubahan yang terlalu signifikan setiap tahun.

Fokus adalah masalah saya yang lain. Selama ini pikiran saya seperti meloncat-loncat, mood-mood an. Hari ini ingin mengerjakan ini, besok ingin mengerjakan yang lain lagi. Suatu saat, Chris, teman saya pernah ‘bertanya’ kepada saya sewaktu melihat judul-judul buku yang ada di kamar saya. “Don, sebenernya lu tuh pengen ‘kemana’ sih? buku-buku lu tuh nggak berhubungan sama sekali.” Itu karena buku saya macam-macam jenisnya, meskipun yang terbanyak sebetulnya buku-buku tentang Islam. Bagi Chris, mungkin buku-buku saya dijadikan parameter tujuan hidup saya. Karena tidak fokus, saya misalnya belum menemukan yang benar-benar ‘cocok’ untuk saya, sementara orang lain dengan ‘start’ yang sama dengan saya sudah lebih expert.

Hanya sedikit buku-buku manajemen yang saya baca. Prinsip-prinsip manajemen saya rasakan pentingnya justru dari diskusi atau sekedar ngobrol dengan teman-teman yang sebetulnya memiliki masalah yang sama. Devies, teman kuliah saya yang umurnya 5 tahun lebih tua, pernah mengingatkan agar kita bisa ‘menikmati’ kebosanan dalam mengerjakan sesuatu hal. Belum lama, sewaktu diskusi dengan beberapa teman SSG, saya juga mendapati permasalahan yang sama. Bahwa waktu yang kita miliki ternyata tidaklah banyak untuk bisa ‘menguasai’ berbagai hal. Maka, dari situ kesadaran saya terhadap skala prioritas dibangkitkan lagi. Bukan tidak pernah saya mendengar atau membaca ‘kata-kata’ itu, tapi saya baru menyadari pentingnya ‘kata-kata’ itu saat ini.

Setelah melakukan analisa terhadap permasalahan-permasalahan dalam diri saya, maka saya tersadarkan untuk mencoba bersahabat dengan ‘kebosanan’ dalam mencapai tujuan-tujuan saya. Saya mulai menyusun target dengan skala prioritas, lebih difokuskan, lebih terstruktur dan mencoba untuk ‘mencintai’ apa yang saya kerjakan. Dan itu memang saya rasakan tidak mudah, godaannya banyak. Saya juga mulai menentukan standar-standar yang harus saya capai, dan itu berarti ada banyak hal dalam diri saya yang harus saya perbaiki dan ditingkatkan. Dan ternyata, semua hal itu adalah hal-hal kecil yang selama ini saya anggap sepele. Ada beberapa standar yang ingin saya capai. Misalnya, standar sebagai seorang muslim ideal, standar fisik, standar intelektual. Tentu tidak mungkin saya memperbaiki semuanya sekaligus, harus dilakukan secara bertahap. Contoh, jika selama ini jarang sekali shalat berjamaah, maka untuk satu bulan ke depan, harus bisa shalat berjamaah setiap waktu. Jika shalat berjamaah ini sudah menjadi bagian dari diri kita (karakter), maka kita bisa fokus ke masalah lain, misalnya puasa sunat.

Reward dan punishment juga diperlukan untuk menjaga agar kita tetap konsisten dengan apa yang kita lakukan. Dari contoh shalat berjamaah tadi, jika sekali saja saya tidak melakukan shalat berjamaah, maka sebagai hukumannya saya harus push up 1000x, jika dalam sebulan itu target tercapai, maka saya bisa makan di restaurant yang agak mahal. Ini hanya contoh. Masalahnya, kita juga harus tetap konsisten dalam menghukum diri ini, untuk bisa keras pada diri sendiri, kita mungkin lebih enggan untuk melakukannya. Namun, justru disinilah sekali lagi konsistensi kita diuji. Sebetulnya lebih mudah jika ada watcher (pengawas) dalam hal memberikan hukuman ini. Jadi, sebetulnya, ada benarnya juga proses mentoring dan kaderisasi yang dilakukan oleh beberapa organisasi Islam di Indonesia ini. Kalau sistemnya lebih baik, proses mentoring tidak hanya sekedar sebagai media ‘pencerahan’ atau ajang curhat, tapi juga bisa sebagai pembentuk karakter seseorang. Hmm, lagi-lagi saya tersadarkan tentang pentingnya masalah ini. Watcher bisa siapa saja: teman, kakak, adik, istri atau suami. Yang jelas seorang watcher adalah orang-orang yang bisa kita mintai ‘tolong’ dalam proses perbaikan diri. Masalahnya, kita juga seringkali tidak jujur untuk mengakui kesalahan-kesalahan kita di depan orang lain.

Belum lama ini, ketika mengikuti sebuah pengajian rutin, saya dibuat tercengang dengan apa yang pemateri lakukan dalam menghukum dirinya. Beliau bercerita, ketika targetnya tidak tercapai, maka dia akan menghukum dirinya dengan ‘menunda’ menggauli istrinya. Beliau juga bercerita tentang bentuk hukuman yang dilakukan oleh temannya yang konon sudah menjadi ustadz yang terkenal di Bandung karena hafal 30 juz Al-Quran. Selama proses menghafal Al-Quran, ustadz tersebut berjanji untuk tidak tidur di kasur selama target hafalannya belum tercapai, tapi tidur di lantai. Hal ini serupa dengan apa yang Patih Gadjah Mada lakukan dengan sumpah palapanya. Sejarah mencatat, Gadjah Mada adalah seorang patih dari Majapahit yang bercita-cita untuk menyatukan Nusantara. Selama belum tercapai cita-citanya tersebut, Gadjah Mada bersumpah untuk tidak makan apapun yang mengandung garam (CMIIW). Padahal, sebagian besar makanan di Indonesia dipastikan menggunakan garam sebagai bumbu utamanya. Itupun bentuk sebuah punishment(hukuman) terhadap diri sendiri.

Pyuuuuh. Ternyata ‘perjalanan’ saya masih sangat panjang ya? Saya harus keras pada diri sendiri. Ada berbagai macam karakter negatif yang ingin saya ganti dengan karakter positif, dan karakter positif yang ingin saya tingkatkan. Anehnya, karakter positif dalam diri seseorang cenderung lebih mudah dan cepat digantikan dengan karakter negatif. Sementara untuk menggantikan karakter negatif dengan positif dibutuhkan perjuangan ekstra keras dan membutuhkan lebih banyak waktu.

Berbicara tentang proses pengenalan diri, berbicara tentang kelebihan dan kekurangan kita dan bagaimana memperbaiki atau meningkatkannya, mungkin dibutuhkan waktu seumur hidup kita sebetulnya. Maka disinilah pentingnya skala prioritas, proses memilih dan menentukan di jalur mana kita akan berjalan. Lalu setelah itu kita mantapkan pilihan kita dengan komitmen kita terhadap pilihan tersebut. Selanjutnya, istiqamah di jalur tersebut, dan untuk itu diperlukan kesabaran tingkat tinggi, kegigihan, ketekunan, keuletan, antusiasme dan semangat pantang menyerah. Haduh, gawat, saya udah ngomong kayak motivator dan trainer hebat aja nih. :))

Siapapun mereka yang kita kenal sebagai orang-orang yang hebat atau sukses, pasti melewati proses-proses ini. Zinedine Zidane, Valentino Rossi, AA Gym, Bill Gates. Saya jadi teringat sewaktu ketika masih SMP dulu. Saya dan teman-teman PMR saya waktu itu mencatat sebuah prestasi yang cukup membanggakan. Juara I lomba P3K se-Bogor (Kodya Bogor dan Kabupaten Bogor). Namun, 2 bulan sebelum mencapai prestasi tersebut adalah sebuah proses panjang yang melelahkan, membosankan dan memalukan. Tiada hari tanpa latihan, bahkan di hari minggu sekalipun. Tidak peduli hujan atau panas, bahkan saya nyaris tenggelam ketika latihan di sungai. Ketika sedang panas terik, es kelapa menjadi begitu sangat nikmat…(plak!! kenapa jadi nulis ini ya? :D) Tidak jarang juga terjadi perselisihan dalam tim. Diantara teman saya malah ada yang kemudian bermasalah dengan orangtuanya, atau dengan pacarnya gara-gara latihan itu. Namun, hasilnya justru terasa pada saat perlombaan. Semuanya terasa ‘biasa’ saja dalam perlombaan itu, bahkan kami masih bisa melakukan perlombaan sambil tertawa dan…menertawakan tim lain. :)) Maka, gelar Juara I saya rasa sangat layak kami sandang, bukan sebagai penghargaan pada saat perlombaan tersebut, tetapi sebagai penghargaan atas ‘kerja keras’ ketika persiapan menuju perlombaan tersebut.

Sebetulnya ‘kata-kata’ itu sering kita temukan dalam buku-buku psikologi atau manajemen. Juga di pelatihan-pelatihan dan ceramah-ceramah. Namun, bagi saya sendiri selama ini, saya kira ‘kata-kata’ itu bukan hal yang penting-penting amat. Sampai akhirnya saya merasakan sendiri pentingnya ‘kata-kata’ itu dalam karakter diri saya. Musuh terbesar dari bisa tidaknya kita konsisten adalah diri kita sendiri, atau mungkin lebih spesifiknya adalah sifat malas dalam diri kita. Saya merasakan betul bagaimana kemalasan mengalahkan ‘kata-kata’ itu semua.

Untuk membangun sebuah konsistensi dalam diri kita memang harus melalui proses yang panjang dan pahit. Tidak jarang kita harus mengorbankan banyak hal juga, kesenangan, rasa nyaman, rasa aman, jam tidur. Namun, seperti yang sudah terbukti pada banyak orang, konsistensi memang menghasilkan buah yang ‘manis’. Benar kata pepatah, berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu…mati kemudian! :)) Saat ini, saya memang sedang menyiapkan standar-standar yang ingin saya capai. Setelah standar-standar itu ada, baru kemudian menentukan langkah-langkah ‘kecil’ yang akan saya ambil. Setelah mencoba-coba melakukan analisa SWOT, ternyata…karakter negatif saya lebih dominan daripada karakter positif saya. Pantas saja saya merasa ‘kacau’ sekali belakangan ini. Jadi, saya memang harus ‘bekerja’ lebih keras untuk mengejar ketertinggalan saya, selain itu juga saya harus berpacu dengan waktu yang belakangan ini terasa terlalu cepat buat saya. Whew…SEMANGAT!!

S3K3L04. 130307. 23.46.

loading...

9 Comments

  1. Irham Mashuri

    mengagumkan…
    thank’s banget… dah buat pikiran gue kebuka…

  2. judulnya lucu…istiqomah kuadrat. hehehe

  3. pink purple

    alhamdulillah dapat masukan lagiii…
    syukran… Saya juga sedang belajr untuk senantiasa istiqamah… menikmati pahitnya proses untuk mencapai manisx kebebasan..

  4. Setelah mencoba-coba melakukan analisa SWOT, ternyata…karakter negatif saya lebih dominan daripada karakter positif saya. Pantas saja saya merasa ‘kacau’ sekali belakangan ini.

  5. Wuih, panjang bener artikel ini. Judulnya itu yang menarik. 🙂

  6. medy

    so inspirating

  7. array

    persis permasalahan saya.. makasih artikelnya.. inspiratif banget om…

  8. sya kurang setuju dengan pepatahnya hiiii…. 😀

Leave a Reply

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén