Cinta, Keimanan dan Kemerdekaan

Katakanlah: “jika bapa-bapa , anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNYA dan dari berjihad di jalan NYA, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan NYA“. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (Q.S. At-Taubah:24)

Sengaja saya memuat kutipan dari Al-Quran, Surat At-Taubah Ayat 24 di awal tulisan ini karena saya akan menulis tentang hubungan antara Cinta, Keimanan dan Kemerdekaan. Saya tidak sedang mencoba untuk menafsirkan ayat tersebut, karena belum memiliki kapasitas untuk itu. Saya hanya menjadikan ayat tersebut sebagai suatu pedoman dan juga sebagai pengingat bagi siapapun yang membaca tulisan ini. Dan maaf-maaf saja jika dalam tulisan ini mungkin terkesan absurd, saya hanya ingin menyampaikan apa yang ada dalam pikiran saya beberapa minggu terakhir.

Selama ini kata cinta seolah menjadi sebuah ‘misteri’, tidak pernah ada definisi yang pasti tentang cinta. “Cinta tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, cinta hanya bisa dirasakan.” begitu katanya. Ada juga yang berkata, “Cinta itu buta!” dimana kalimat ini seringkali diungkapkan saat merujuk kepada kejadian-kejadian ‘ganjil’, contoh : Anak SMU yang jatuh cinta kepada gurunya, cinta lintas Agama atau cinta lintas etnis. Pada beberapa kasus misalnya merujuk kepada kejadian dimana seorang laki-laki yang ‘superior’ bisa jatuh cinta kepada wanita yang ‘di bawah standar’ cantik dan dalam banyak hal di bawah standar juga, atau sebaliknya. Memang cinta tidak sesempit itu, hanya cinta lawan jenis, kita juga bisa mencintai barang, harta atau apa pun. Ada juga yang mencintai hujan, pada matahari, mencintai laut meskipun cinta seperti ini biasanya hanya ‘pelengkap hidup’ saja.

Namun, Islam mengajarkan untuk lebih mencintai Allah dan RasulNya melebihi apa pun yang ada di muka bumi ini. Inilah yang saya maksud dengan “terkesan absurd” pada awal-awal tulisan. Adalah sesuatu yang sulit kita pahami, jika seumur hidup kita tidak pernah melihat Allah atau RasulNya, lantas kita dituntut untuk bisa dan diharuskan untuk mencintai Allah dan RasulNya melebihi apa pun yang terlihat oleh mata kita. Kita hanya tahu tentang Allah, tentang RasulNya dari kitab-kitab “klasik”, atau cerita turun-temurun dari orang tua, guru dan orang-orang di sekitar kita. Mungkin, pada titik itu, kita belum bisa meyakini bahwa Allah dan RasulNya memang ada atau pernah ada. Kita mungkin berpikir, bisa saja itu hanyalah dongeng-dongeng dari zaman nenek moyang. Namanya dongeng, belum tentu ada dan nyata, bisa jadi itu hanya karangan seorang penulis saja yang kemudian menjadi fenomenal dan digandrungi, lantas dicetak berulang kali agar karya itu tetap abadi.

Hampir seluruh bagian tubuh kita hanya menginderai sesuatu yang “ada”, maka berbicara tentang Allah, surga dan neraka, alam gaib, jin, malaikat dan Rasul-rasul yang “tidak ada”, untuk sebagian di antara kita adalah suatu omong kosong. Mempercayai apalagi meyakini sesuatu yang “tidak ada” hanya buang-buang waktu saja. Mempercayai kitab seperti Al-Quran yang “ada”, tapi berasal dari sesuatu yang “tidak ada” adalah hal yang sulit dimengerti. Namun, justru disitulah inti permasalahannya. Sesuatu yang “tidak ada” itu adalah kunci dari seluruh doktrin agama-agama. Bahwa sesuatu yang “tidak ada” itu sebetulnya ada, dan jalan masuk satu-satunya adalah kematian, maka ketika kita hidup untuk yang kedua kalinya, kita bisa melihat sesuatu yang saat ini “tidak ada”, bahkan tidak hanya melihat, tapi juga merasakan dan menyentuhnya. Dalam hal ini, setahu saya, Islam adalah agama yang paling ketat dan tegas karena menyangkut pondasi “keberadaan” Islam. Tidak bisa dikatakan muslim mereka yang tidak mempercayai Allah, RasulNya, KitabNya, Malaikat dan Alam Gaib. Mempercayai terlebih meyakini yang “tidak ada” itulah yang kemudian disebut dengan KEIMANAN. Bagi mereka yang memiliki keimanan, pikiran-pikiran yang menggugat “keberadaan” Allah, misalnya, tidak bisa ditolerir, bahkan harus dibuang dan dikubur dari pikiran kita. Bagi orang-orang beriman, Allah itu ada, Malaikat itu ada dan Al-Quran memang berasal dari Allah.

Dalam Islam, keimanan membawa tuntutan dan konsekuensi lain. Seorang beriman harus beribadah, harus melaksanakan perintah Allah betapapun beratnya atau bahkan kita membencinya, harus meninggalkan sesuatu yang Allah haramkan betapapun kita menyukainya. Hanya satu kata yang harus dilakukan seorang beriman : TAAT! Tidak peduli betapa sakitnya perasaan kita, tidak peduli badan kita terluka parah atau bahkan mati sekalipun, tidak peduli pikiran kita tidak bisa memahaminya sedikitpun, kita hanya boleh taat, tanpa tanya dan tanpa bantahan sama sekali. Keimanan tidak pernah memberikan peluang kepada perasaan dan pikiran kita untuk berperan besar dalam sebuah pengambilan keputusan. Tidak sedikitpun diperbolehkan. Maka, ketika Allah mengharamkan Babi bagi umat Islam, kita wajib menaatinya tanpa tanya. Haram, Ya Haram! Titik. Suka-suka Allah mengatur umatNya. Entah itu ada cacing pita atau tidak, kotor atau tidak, berbahaya atau tidak daging babi tersebut, selamanya haram. Jika kemudian diketahui dampak-dampak negatif dari mengkonsumsi daging babi, itu hanyalah tabir rahasia yang Allah buka kepada umat manusia. Suatu saat dampak-dampak negatif itu bisa saja direduksi bahkan tidak ada dampak negatif sekalipun, tapi daging babi itu tidak berubah menjadi halal, tetap saja haram.

Saya bahkan seringkali cukup ekstrim menjelaskan tentang keimanan. Katakanlah dalam Al-Quran ada perintah untuk loncat ke jurang bagi mereka yang berusia 40 tahun agar bisa masuk surga, sementara neraka bagi mereka yang tidak loncat, mana yang akan kita pilih, loncat atau tidak? Sementara pada saat itu, misalnya, anak sedang lucu-lucunya, bisnis sedang sukses atau kesenangan lain di dunia sedang mulai kita rasakan. Pada saat itu, keputusan yang kita ambil menunjukkan kadar keimanan kita. Setiap orang beriman, akan taat pada perintah tersebut, meskipun dengan berat hati. Namun, itulah konsekuensi keimanan, tanpa kompromi sama sekali. Kita hanya diberikan pilihan untuk taat atau tidak.

Jika kita belajar dari Al-Quran tentang ketaatan umat-umat terdahulu kepada Allah, kita pasti akan mengerutkan kening karena tidak percaya ada hal-hal semacam itu. Lihatlah Nabi Ibrahim yang tanpa takut menjalankan hukuman dibakar oleh Raja Namrud, atau ketika Ibrahim meninggalkan Istri dan anaknya di padang pasir tandus dan tanpa penghuni, atau ketika Ibrahim menyembelih Ismail. Kita juga bisa belajar dari kaum Nabi Musa yang Allah perintahkan untuk bunuh diri jika ingin tobatnya diterima Allah. Perhatikan juga ketika Nabi Nuh diolok-olok kaumnya sebagai orang gila pada saat membuat perahu, bahkan menyaksikan anaknya tenggelam. Nabi Luth yang meninggalkan istrinya seorang diri bersama kaumnya untuk kemudian istri dan kaum Luth merasakan sebuah hukuman. Semuanya dilakukan demi untuk mengikuti perintah Allah. Adakah perasaan berperan ketika mereka melakukan hal tersebut? Sama sekali tidak. Mereka hanya taat dan melakukan hal-hal tersebut tanpa bertanya atau membantah, padahal kita tahu hal-hal tersebut sangat berat. Perasaan boleh saja sedih, sakit hati, berat hati atau bahkan kecewa dengan perintah Allah tersebut, tapi mereka tidak mengikuti perasaan mereka, sehingga pada akhirnya mereka bisa melakukan hal tersebut. Itu semua dilakukan dengan landasan keimanan, dan pada akhirnya, keimanan yang sesungguhnya menghadirkan cinta kepada Allah. Dan perintah-perintah Allah kepada umat terdahulu, sebetulnya bermuara kepada satu hal, ujian kecintaan mereka kepada Allah. Dan mereka berhasil melalui ujian tersebut.

Sesungguhnya pula apa yang terjadi dalam hidup kita, menurut ajaran Islam, adalah ujian kecintaan kita kepada Allah. Nampak absurd bukan? Namun, itulah kenyataan sesungguhnya. Kesedihan, kebahagiaan, kelapangan, kesempitan, kekayaan, kemiskinan dan kesehatan, istri/suami, anak-anak dan harta benda, itu adalah ujian kecintaan kepada Allah. Namun, jika dibandingkan dengan kaum terdahulu, ujian pada umat Islam sekarang sebenarnya lebih ‘ringan’. Tidak ada perintah untuk menyembelih anak atau meninggalkan anak istri. Namun, apapun bentuk ujiannya, bagi mereka yang kecintaan kepada Allah dan RasulNya melebihi apa pun yang ada di jagad raya, ujian seberat apa pun tidak akan dirasakan ‘berat’, namun justru mereka akan bersabar atau bersyukur dengan ujian tersebut, bahkan menambah rasa cintanya kepada Allah. Perintah-perintah dan laranganNya akan selalu ditaati. Maka, sejatinya, keimanan yang sesungguhnya menciptakan manusia-manusia yang merdeka. Orang-orang beriman tidak akan khawatir miskin dengan berzakat, infaq atau shadaqah. Tidak pula mereka takut untuk mengatakan kebenaran. Ongkos haji tidak akan terasa berat, bahkan kegiatan berhaji pun menjadi menyenangkan. Pergi ke medan jihad bukanlah hal yang berat. Berjilbab dilakukan dengan senang hati tanpa perlu berpikir lagi. Tidak perlu takut menikah. Bahkan, ‘berbagi suami’ pun sebetulnya bukanlah hal yang teramat berat, jika kecintaan kepada Allah dan RasulNya lebih daripada kecintaan kepada suaminya. Itulah sebabnya, saya tetap berpendapat bahwa sebetulnya poligami adalah ujian keimanan dan kecintaan kepada Allah.

Atas dasar keimanan pula, saya berani mengatakan bahwa sebenarnya “Cinta itu tidak buta!“. Ada kaidah-kaidah untuk mencintai, dan dalam kaidah tersebut, perasaan ditaruh di daftar terakhir. Sebab ketika perasaan diberikan kesempatan untuk lebih dulu menguasai, maka yang terjadi adalah apa yang selama ini kita katakan “Cinta itu buta!“. Lebih dari itu adalah perasaan menderita karena cinta. Bagaimana tidak menderita jika dengan cinta semacam itu malah mengganggu kehidupan kita sehari-hari. Dan satu hal lagi, perasaan seringkali salah, pada banyak kasus perasaan tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Kita merasa benar, padahal salah, dan juga sebaliknya. Dan kaidah-kaidah tersebut berasal dari Allah dan RasulNya.

Maka, agar cinta itu tidak lagi buta, kita harus mencintai dengan ilmu. Maksudnya? Kenali apa yang boleh kita cintai, apa yang tidak. Siapa yang berhak kita cinta, siapa yang tidak. Kapan kita boleh mencintai, dan kapan kita tidak boleh. Islam mengajarkan untuk mencintai karena Allah dan membenci karena Allah. Kalimat ini menyatkan bahwa, apa-apa yang Allah cintai, maka kita berhak bahkan wajib untuk mencintainya. Apa-apa yang Allah benci, kita wajib untuk membencinya. Oleh karena itu, kasus-kasus yang menimpa mereka yang kebingungan karena memiliki ‘calon’ yang berbeda agama, tidak perlu terjadi jika memegang kaidah ini. Bagaimana mungkin orang-orang yang mencintai Allah pada saat yang sama juga mencintai sesuatu yang Allah benci? Jika kita sudah tahu siapa dan kapan kita boleh mencintai, maka pada saat itulah perasaan dilibatkan. Itulah sebabnya, pada banyak kasus pernikahan kader-kader dakwah yang saya temui, dimana mereka menikah dengan pasangannya tanpa pernah kenal sebelumnya, bisa berjalan harmonis dan romantis.

Memang benar, jika merujuk kepada perasaan kita, keimanan adakalanya terasa kejam karena seringkali melewati batas-batas kemanusiaan kita. Karena itulah, hasil dari tempaan keimanan adalah orang-orang yang merdeka dan kuat, meskipun kualitasnya tidak sampai derajat para Nabi. Merdeka dari perasaan takut kehilangan, karena dengan keimanan seseorang ditempa untuk memahami bahwa sesungguhnya apa yang ada di dunia ini tidak pernah menjadi milik kita, hanya sekedar titipan. Oleh sebab itu, sesungguhnya kita tidak pernah memiliki hak untuk menangis dan bersedih ketika Sang Pemilik mengambil titipan atau bahkan membagi titipan itu dengan orang lain. Selain itu juga merdeka dari perasaan untuk mencintai sesuatu secara berlebih, karena toh pada akhirnya semua itu akan hilang. Dan terakhir, Kuat, karena hasil tempaan dari keimanan adalah orang-orang yang sanggup mengendalikan perasaannya ketika saatnya ujian kecintaan itu tiba, sehingga dia sanggup untuk tetap berfikir jernih, jujur dan objektif. Sehingga, tidak ada ceritanya seorang yang beriman mencaci-maki atau menghina dan mengatakan bahwa Allah tidak adil ketika ujian itu datang, malah mereka seringkali bersyukur dan semakin bertambah keimanan dan kecintaannya kepada Allah. Lantas, apa kabar dengan keimanan kita?

Sebagai penutup, saya tuliskan kutipan dari Kuntowijoyo, dalam bukunya yang berjudul Maklumat Sastra Profetik :

Memang, Tuhan dalam konsep kaffah itu Maha Kuasa, tapi Kemahakuasaan Tuhan itu adalah hak-Nya sebagai Al-Khaliq (Pencipta). Juga perlu diingat bahwa kekuasaan Tuhan itu tidak seperti kekuasaan manusia. Kekuasaan Tuhan membebaskan, kekuasaan manusia mengikat. Kekuasaan yang memerdekakan, ikatan yang membebaskan. Sebuah kebenaran paradoksal!

S3K3L04. Di penghujung Januari, 2007. 18:43.

loading...

8 Comments

  1. Bicara soal rahasia cinta, saya baru saja menulis sebuah e-book terbaru yang akan merevolusi paradigma tentang dinamika sosial pria-wanita Indonesia dalam dunia romansa dan percintaan, berjudul The Secret Law of Attraction (bukan sampah new age seperti yang beredar selama ini), sekaligus kunci otomatis untuk menarik popularitas dan trafik blog Anda.

    Download rahasia besar tersebut dalam e-book yang terdapat di http://www.hitmansystem.com/blog/the-secret-law-of-attraction-113.htm

  2. linda do@nk

    Subhanallah…syukron katsiron atas pencerahannya…semoga hati ini makin mantap menuju cintaNya..aamiin

  3. Cinta buta itu nafsu yang tak terkendali

  4. Ngeri kalo mikir kesitu ya mas

  5. melissa ismail

    bagus tulisanya.

  6. Toni spb

    sangat setuju dengan tulisan bapak karena hidup di dunia ini penuh tipu daya setan

  7. ziedhane

    sadeysss 🙂

Leave a Reply

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén