Category: SerbaSerbi (Page 2 of 9)

Hentikan Pemakaian Lampu Putih pada Kendaraan!!

Saya termasuk salah seorang biker yang sering melakukan perjalanan malam, entah di dalam kota atau ke luar kota. Paling sering di dalam kota, tentu saja. Meskipun saya juga kadang-kadang banyak gaya, kalau kata orang sunda “loba gaya”, atau mungkin sok keren, tapi saya paling benci sama pengendara yang banyak gaya. Soalnya saya nggak suka kalau orang lain lebih keren daripada saya. Halah!! Maaf, sedang narsis.

Oke. Point-nya adalah begini … Belakangan saya merasa semakin banyak pengendara -entah mobil atau motor- yang menggunakan lampu putih di jalanan. Saya tidak tahu nama lampu tersebut, yang jelas membuat jalanan menjadi ‘terang benderang’. Saya tidak akan terlalu mempermasalahkan jika hal tersebut tidak terlalu mengganggu. Sialnya, penggunaan lampu putih tersebut sangat mengganggu bagi saya.

Anda yang menggunakan lampu putih pada kendaraannya, boleh saja tidak setuju dengan saya. Akan tetapi, begitulah kenyataannya. Lampu tersebut sangat menyilaukan bagi pengendara dari arah berlawanan, terutama pengendara motor seperti saya. Apalagi jika lampu tersebut digunakan untuk pemakaian lampu jauh, yang sialnya banyak juga digunakan oleh para pengendara. Lampu-lampu tersebut sering kali ‘telak’ mengenai mata saya dan membuat pandangan menjadi terganggu. Alhasil, sering kali saya harus menggunakan rem mendadak gara-gara orang yang menyeberang atau objek di depan saya menjadi ‘tidak terlihat’.

Jika anda sering bepergian ke pegunungan atau hutan belantara yang memang belum ada jaringan listrik, boleh lah anda gunakan lampu tersebut. Akan tetapi, ini di kota!! Lampu di mana-mana, bahkan anda masih bisa melihat objek di depan anda yang berjarak 100 meter. Jika alasan anda agar bisa melihat objek dengan jelas, lampu yang standar pun sudah cukup memberikan penerangan di jalanan. Jika alasan anda agar menarik perhatian, anda salah tempat! Jika alasan anda agar disebut keren, anda bodoh! Sebab yang menarik perhatian dan disebut keren, kendaraan anda, bukan anda! Bisa jadi, orang lain berharap bukan anda yang mengendarai kendaraan tersebut, karena anda tidak cocok dengan kendaraan tersebut.

Tentu saja, bukan tanpa alasan jika produsen kendaraan memasang lampu yang ‘standar’, karena mereka pun sudah memperkirakan dampak dari penggunaan lampu di jalanan ketika malam hari. Faktor intensitas cahaya pun sudah pasti menjadi perhitungan. Begitu juga dengan klakson, knalpot dan berbagai aksesoris lainnya. Semuanya dirancang, selain untuk keamanan dan kenyamanan pemakai, juga untuk keamanan dan kenyamanan orang lain.

Saya mendukung 100% dengan peraturan tentang kewajiban penggunaan helm standar. Saya pun salah satu ‘maniak’ helm full face. Rasanya tidak nyaman jika menggunakan helm yang half-face, apalagi yang catok, meskipun motor saya ‘cuma motor angsa’. Jika anda pernah melihat dengan mata sendiri bagaimana dua pengendara motor tabrakan, kemudian wajah mereka nyungsep ke aspal dengan kecepatan 70-80 km/jam, dan mereka masih bisa tertawa gara-gara wajah mereka ‘diselamatkan’ helm, mungkin anda akan mengikuti apa yang saya lakukan juga. Jadi, bukan hanya sekedar gaya, tapi saya juga memikirkan keselamatan diri sendiri.

Begitu pun saya sangat mendukung jika dalam hal aksesoris kendaraan, semua dibuat aturannya. Tidak boleh seseorang seenaknya pasang knalpot dengan frekuensi yang memekakan telinga. Atau pasang lampu dengan intensitas cahaya yang menyilaukan mata melebihi kemampuannya menangkap cahaya. Selain mengganggu, juga mengancam keselamatan di jalanan.

Saya tidak bermaksud melarang untuk melakukan modifikasi atau membuat tampilan kendaraan anda menjadi lebih keren. Akan tetapi, please, sebelum anda memasang aksesoris-aksesoris tersebut, pertimbangkan juga keselamatan dan kenyamanan orang lain. Setidaknya orang lain tidak tergangggu, apalagi sampai merasa ‘terancam’ keselamatan dirinya. Terlebih lagi jangan sampai anda dikutuk orang lain dengan bermacam-macam kutukan, “mampus lu!“, “setaann!“, “mudah-mudahan dia tabrakan, biar tahu rasa!“. Jika sampai terjadi orang-orang mengutuk anda, tinggal tunggu waktu saja kutukan-kutukan tersebut menjadi kenyataan. Sebab, bagaimanapun mereka tidak akan sampai mengutuk jika tidak merasa teraniaya. Dan anda tentu sering mendengar, do’a orang teraniaya itu cepat dikabulkan.

loading...

Terasing

Pengen Pulang …. :((

Rindu di Malam Setengah Purnama

Malam setengah purnama, di dalam sebuah mobil yang beranjak dari Jakarta menuju Bandung, Kabayan dan Iteung zaman kiwari1 berkomunikasi via SMS:

Kabayan: Hmm, Rindu…

Iteung: Hmm, Rindu…?

Kabayan: Iya, Rindu…

Iteung: Si Rindu bilang apa cenah2?

Kabayan: Nggak bilang apa-apa, tiba-tiba saja dia menyelinap dan mengganggu perasaan.

Iteung: Di sini juga ada si Rindu lagi menari, dia membuatku senyum-senyum 🙂

Kabayan: Perlukah si Rindu kubunuh saja? atau biarkan saja dia terus mengganggu? atau kamu punya cara agar si Rindu tidak lagi mengganggu?

Iteung: Tak perlu, biarkan saja selama si Rindu tak menggoda logika untuk takluk pada perasaan. Jika dia membuatmu begitu terganggu, tersenyumlah dalam kesabaran menanti. Niscaya dia kan beranjak.

Kabayan: Aku sudah sangat akrab dengan penantian. Tetap saja … RINDU!!

Iteung: Hmm, kalau begitu nikmati saja lah saat-saat merindu dalam penantian itu.

Kabayan: Yah, sekarang pun memang sedang aku nikmati …

Di Radio mobil yang dikendarai Kabayan, lamat-lamat terdengar sebuah lagu. Reflek, dari bibir Kabayan mengalir beberapa baris lirik, mengikuti alunan nada lagu tersebut.

ku berharap engkau lah
jawaban sgala risau hatiku
dan biarkan diriku
mencintaimu hingga ujung usiaku

jika nanti ku sanding dirimu
miliki aku dengan segala kelemahanku
dan bila nanti engkau di sampingku
jangan pernah letih tuk mencintaiku

(NAFF – Akhirnya Ku Menemkunmu)

Selesai mengirim SMS, Kabayan menyandarkan badannya ke kursi. Memejamkan mata, berharap bisa tidur. Hari itu memang terasa sangat melelahkan. Udara dan suasana kota Jakarta memang dirasa tidak pernah bersahabat dengan Kabayan. Akan tetapi, jalan Tol Cipularang yang bergelombang cukup mengganggu usaha tidur Kabayan. Ditambah, si Rindu benar-benar sangat mengganggu. Hingga akhirnya tiba di Bandung, mata Kabayan belum mampu terpejam sedetik pun. Sepanjang jalan itu, sosok Iteung tak henti-hentinya beranjak dari pikiran Kabayan. Namun, mengetahui Iteung baik-baik saja, Kabayan merasa tidak perlu merasa khawatir.

Tiba di rumah menjelang tengah malam, Kabayan tidak langsung tidur. Komputer tua dinyalakan. Icon si Rubah Api diklik. Membaca email, mencari bahan tulisan, membaca blog, membalas komentar di blog. Walaupun bahan yang dicari tidak ditemukan, Kabayan tidur cukup larut, dua jam menjelang Shubuh. Padahal, sebelum terbit Matahari, Kabayan harus beranjak meninggalkan lagi kota Bandung. Di sisa malam setengah purnama itu, Kabayan tidur membawa serta kelelahan dan kerinduan pada Iteung. Watir pisan, nya?3

Ket:

1bahasa sunda: sekarang, masa kini

2bahasa sunda: katanya

3bahasa sunda: kasihan sekali, ya?

Lagi, Tentang Kuliner

Saya dapat sebuah pesan di friendster yang berisi tentang tips kesehatan a la Rasulullah SAW. Sebetulnya isi pesan tersebut cukup panjang, tapi akan saya copy-paste beberapa baris terkait makanan.

Ini adalah diet Rasullulah SAW. Ustaz Abdullah Mahmood mengungkapkan, Rasullulah tak pernah sakit perut sepanjang hayatnya karena pandai menjaga makanannya sehari-hari. Insya Allah kalau anda ikut diet Rasullullah ini, anda takkan menderita sakit perut ataupun keracunan makanan.

  1. Jangan makan SUSU bersama DAGING
  2. Jangan makan DAGING bersama IKAN
  3. Jangan makan IKAN bersama SUSU
  4. Jangan makan AYAM bersama SUSU
  5. Jangan makan IKAN bersama TELUR
  6. Jangan makan IKAN bersama DAUN SALAD
  7. Jangan makan SUSU bersama CUKA
  8. Jangan makan BUAH bersama SUSU, CTH : KOKTEL

Oke. Saya kira memang dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk hal tersebut. Artinya, data-data penelitian mutlak ada untuk mendukung pernyataan-pernyataan tersebut. Sayangnya saya tidak tahu harus mencari tahu kemana data-data tersebut. Saya tidak tahu siapa itu Ustadz Abdullah Mahmood, akan tetapi jika ternyata pernyataan-pernyataan tersebut benar adanya, maka tentu saja hal tersebut harus menjadi perhatian kita.

Berikut komentar saya soal pernyataan-pernyataan tersebut:

Point 1, praktis saya akan terselamatkan dari efek campuran dua jenis makanan tersebut karena SUSU dan DAGING bukan makanan favorit saya, alias tidak suka sama sekali. Akan tetapi, saya juga kekurangan gizi dari kedua jenis makanan tersebut 🙁

Point 2, ini juga aman. Saya penyuka IKAN, tapi tidak dengan DAGING.

Point 2, aman. Suka IKAN, anti SUSU.

Point 3, masih aman. AYAM adalah makanan favorit saya yang lain, tapi akan selalu anti dengan SUSU.

Point 4, agak terancam. IKAN dan TELUR, dua makanan yang tak tegantikan. Agak sering juga menyantap kedua jenis makanan tersebut dalam sekali makan.

Point 6, cukup aman. Apa itu DAUN SALAD? Haha. Jarang makan sayur-sayuran.

Point 7, aman. CUKA yang masuk ke dalam tubuh saya hanya lewat Bakso saja. Itu pun sangat jarang.

Point 8, absolutely safe. Coba ya, yang sering ngeledekin saya karena tidak pernah makan es buah atau jus campur SUSU. Perhatikan tuh, jangan cuma bisa meledek saja! :p *yes, serasa di atas angin*

Meskipun, tentu saja, Rasulullah SAW menyukai Susu dan Daging. Hanya beliau tidak mencampur keduanya dengan makanan yang jika tercampur, akan memberikan dampak penyakit. Setahu saya, orang China juga punya aturan untuk tidak mencampur daging merah dan daging putih. Artinya, Ayam dan Daging Sapi misalnya, tidak pernah ada dalam satu piring ketika makan. Rasulullah SAW pun ternyata melakukan hal yang sama.

Faktanya, saya juga sangat langka mengalami sakit perut. Pernah mules, tapi biasanya akibat makanan yang pedas. Perut saya memang tidak terbiasa dengan makanan yang pedas-pedas.

Namun, sekali lagi, diperlukan data-data yang akurat untuk mendukung pernyataan-pernyataan tersebut. Jika sains mendukung, maka bisa menjadi satu lagi bukti bahwa Rasulullah SAW memang manusia yang luar biasa. Shalawat dan Salam untukmu, ya Rasul… 🙂

PS: Kamu tahu … bahkan soal makanan pun, Rasulullah SAW mengajari kita banyak hal. Beruntunglah manusia-manusia yang pernah bertemu dan bergaul dengannya. Akan tetapi, kita pun masih punya kesempatan untuk meneladaninya, agar kelak, beliau mengenali kita sebagai umatnya.

Updated: Road Show of Love

Seperti yang telah saya ceritakan dalam tulisan terdahulu, saya terlibat dalam penulisan buku sebagai kontributor. Saya tidak menduga bahwa ternyata penjualan buku tersebut mencapai angka 10000 dalam enam bulan pertama. Subhanallah.

Yup, buku Istikharah Cinta ternyata berdampak luar biasa terhadap pembacanya. Beberapa fakta yang cukup mengejutkan bagi saya antara lain: buku tersebut tercatat sebagai Buku Laris Juni 2008 yang tercatat di 29 Toko Buku Gramedia di Pulau Jawa, Bali, Sulawesi, Kalimantan, Irian Jaya, Timor, dan Sumatera, dalam kategori panduan. Juga adanya rencana untuk dialihbahasakan ke dalam bahasa Melayu dan diterbitkan di Malaysia.

cara cerdas mendapatkan jodoh ideal

Saya sendiri belum pernah melihat cover terbaru, akan tetapi Oci mengatakan bahwa dia memiliki buku tersebut yang sudah berlabel “Best Seller“. Barangkali karena itulah, Kang Shodiq sebagai penulis utama buku tersebut saat ini sedang sibuk berkeliling di beberapa kota untuk melakukan Road Show terkait buku tersebut.

Berdasarkan informasi via email, dalam beberapa hari ke depan, Tasikmalaya dan Bandung akan dikunjungi oleh beliau. Untuk Tasikmalaya sedianya acara Road Show akan dilangsungkan di Gramedia Tasik, Sabtu, Tanggal 20 September 2008, Jam 15.30. Sementara di Kota Bandung, kegiatan Road Show akan diadakan di Radio Ardan jam 9 pagi, serta di Gramedia Merdeka jam 15.30, hari Ahad, tanggal 21 September 2008. Hmm, dekat dengan RepublikKuliner milik juragan Agah. Tapi, sang juragan bisa datang nggak ya? *ngelirik agah, nodong pake sendal jepit*

Saya sendiri sudah berencana untuk datang pada acara yang dilaksanakan di Gramedia Merdeka. Insya Allah. Jadi penonton saja. Mudah-mudahan anda juga bisa datang. 😉 Akan tetapi, setelah acara tersebut selesai, saya harus ‘kabur’ lagi menghadiri kegiatan buka puasa bersama, dimana saya menjadi penanggungjawab kegiatan tersebut. Tidak sabar rasanya bertemu Kang Shoddiq untuk bersilaturahim. Kesempatan yang langka. Ingin rasanya menjamu beliau layaknya tamu agung dan meminta juragan Agah untuk mentraktir beliau di RepublikKuliner. Hehe. Apa daya, waktu saya di hari tersebut tidak terlalu luang. Maafkan saya, kang Shodiq.

Page 2 of 9

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén