Category: SerbaSerbi (Page 1 of 9)

Permendikbud Nomor 75 Tahun 2016, Sekolah Tidak Gratis Lagi?

Berikut ini merupakan ringkasan dari apa yang saya baca dan pahami dalam Permendikbud Nomor 75 Tahun 2016. Jika terjadi kesalahan dalam memahami isi Permendikbud tersebut, maka itu semata-mata karena kekurangan di pihak saya.

Pada dasarnya Permendikbud Nomor 75 Tahun 2016 itu mengatur tentang revitalisasi Komite Sekolah.

Komite Sekolah berfungsi dalam peningkatan mutu pelayanan pendidikan.

Tugas Komite Sekolah adalah;

  1. memberikan pertimbangan dalam penentuan dan pelaksanaan kebijakan pendidikan,
  2. menggalang dana dan sumber daya pendidikan dari masyarakat,
  3. mengawasi pelayanan pendidikan,
  4. menindaklanjuti keluhan, saran dan kritik dari peserta didik, orang tua/wali dan masyarakat.

Anggota Komite Sekolah terdiri dari; maksimal 50% orang tua/wali yang masih aktif, maksimal 30% tokoh masyarakat, dan maksimal 30% pakar pendidikan. Dengan jumlah anggota Komite Sekolah minimal 5 orang, dan maksimal 15 orang.

Anggota Komite Sekolah tidak boleh berasal dari; pendidik, tenaga kependidikan dan penyelenggara sekolah yang bersangkutan, pemerintah desa, anggota DPRD, pejabat pemerintah yang membidangi pendidikan.

Komite Sekolah melakukan penggalangan dana dan sumber daya pendidikan lainnya. Sumber dana berbentuk bantuan dan/atau sumbangan. Sumber dana tidak boleh berbentuk pungutan.

Istilah-istilah yang perlu diperhatikan;

  • Bantuan berasal dari luar siswa atau orang tua/walinya.
  • Sumbangan berasal dari siswa atau orang tua/walinya, dan tidak mengikat.
  • Pungutan berarti penarikan dana oleh sekolah kepada murid atau orang tua/walinya. Bersifat wajib, mengikat, serta jumlah dan jangka waktunya ditentukan oleh sekolah.

Sebelum melakukan penggalangan dana, Komite Sekolah wajib membuat proposal yang diketahui penyelenggara sekolah. Sekolah dapat menggunakan dana tersebut atas sepengetahuan Komite Sekolah.

Lantas, apakah itu berarti nanti akan ada pembayaran SPP lagi? Bisa iya, bisa tidak. Tergantung Komite Sekolah di masing-masing sekolah. Dalam hal penggalangan dana yang dimaksud oleh Permendikbud ini, peran pihak sekolah justru sangat kecil sekali. Meskipun pihak sekolah bisa saja berinisiatif memberikan saran dan masukan ke Komite Sekolah. Lagipula, dana dikelola oleh Komite Sekolah, bukan oleh pihak penyelenggara sekolah.

Dalam hal ini, jika anggota Komite Sekolah aktif, kreatif, berorientasi meningkatkan mutu pendidikan di sekolah tersebut, maka penyelenggara sekolah, siswa dan orang tua bisa diuntungkan. Misalnya, dengan berinisiatif melakukan penggalangan dana ke perusahaan-perusahaan. Selama perusahaan tersebut bukan perusahaan rokok dan minuman keras.

Namun, di sisi lain, jika anggota Komite Sekolah terdiri dari orang-orang yang korup, rentan juga terjadi penyalahgunaan keuangan. Meskipun dalam Permendikbud tersebut sangat ditekankan dalam hal transparansi keuangan. Salah satu antisipasinya dengan membuat rekening bersama Komite Sekolah dan Penyelenggara Sekolah.

Kesimpulan:

  • Permendikbud Nomor 75 Tahun 2016 tidak membahas mengenai kewajiban peserta didik dan orang tua/wali untuk mengeluarkan sejumah uang sebagai biaya pendidikan. Jadi, Permendikbud ini tidak menentukan apakah sekolah akan gratis atau tidak.
  • Permendikbud Nomor 75 Tahun 2016 mendorong peran serta masyarakat melalui pembentukan Komite Sekolah dalam hal peningkatan mutu pendidikan. Salah satunya dengan melakukan penggalangan dana untuk mendukung kegiatan sekolah.
  • Penggalangan Dana yang dimaksud berbentuk bantuan (dari pihak luar sekolah), dan sumbangan (dari dalam; siswa/orang tua/wali). Tidak boleh berbentuk pungutan yang sifatnya wajib dan mengikat.

Sumber & Referensi:

loading...

Sebelas Tahun Qwords: Sebuah Testimoni

Sembilan tahun yang lalu, saat blogging menjadi salah satu aktivitas yang saya seriusi, maka kebutuhan akan alamat domain sendiri di internet menjadi suatu keniscayaan. Selain karena sebelumnya sudah lama mengidamkan domain sendiri, memiliki website pribadi dengan domain sendiri dan hosting berbayar tentulah menjadi suatu pencapaian yang dapat dibanggakan, setidaknya untuk saya saat itu. Pada mulanya memiliki domain sendiri ditujukan untuk keperluan personal branding, agar lebih mudah diingat. Namun kemudian website dan blog ini lebih banyak diabaikan oleh saya, terutama sejak berbagai media sosial memasuki kehidupan umat manusia di jagat raya.

qwords.com
 

Penyedia layanan web hosting dan domain yang saya gunakan adalah Qwords. Saya tidak ingat jelas bagaimana menemukan layanan hosting ini. Mungkin dari pencarian melalui mesin pencari, atau karena saya mengetahui langsung dari pemiliknya, Rendy Maulana, melalui aktivitas media sosial yang sama-sama kami ikuti, entah kronologger, atau facebook, atau bahkan di milis yang sama-sama kami ikuti, bisa jadi juga dari forum webhostingtalk. Tidak ingat. Blank.

Keputusan saya menggunakan Qwords saat itu semata-mata karena kantornya yang berlokasi di kota yang sama dengan saya, Bandung. Bahkan, lokasi kantornya pun relatif dekat dengan tempat tinggal saya. Qwords di Cisitu, dan saya di Sekeloa. Enteng lah, jalan kaki pun tidak terlampau jauh. Tujuannya, agar ketika terjadi masalah atau sedang memiliki kebutuhan yang terkait dengan pelayanannya, mudah bagi saya untuk mendatangi kantor tersebut. Karena saat itu adalah pertama kali saya menggunakan layanan hosting berbayar, ada saja ketakutan kalau-kalau terjadi ini-itu, baik teknis maupun non-teknis.

Sekarang, sampai tahun 2016 ini, saya belum pernah memindahkan layanan hosting saya dari Qwords. Sepanjang 9 tahun menggunakan layanan tersebut, saya nyaris tidak pernah mengalami kendala yang berarti. Salah satu yang mengikat saya untuk terus menggunakan Qwords adalah paket hosting yang saya gunakan selalu bertambah kapasitas penyimpanannya, meskipun setiap tahun saya membayar biaya sewa hampir sama dengan yang saya bayar saat pertama kali menyewa hosting di Qwords. Saya ingat persis, pada mulanya kapasitas penyimpanan yang saya sewa hanya 100 MB, kemudian bertambah  menjadi 250 MB, dan bertambah lagi menjadi 400 MB. Terakhir, kapasitas yang bisa saya gunakan saat ini adalah 1 GB. Perubahan biaya sewa hosting sempat terjadi ketika Qwords mulai membebankan pajak kepada pelanggan, itu pun karena melakukan penyesuaian dengan peraturan pemerintah.

Memiliki domain sendiri, serta menggunakan hosting berbayar tentunya sedikit meningkatkan kepercayaan diri saya. Terutama saat berbagi tautan. Apalagi saya sedang dalam fase sangat produktif dalam hal menulis blog. Pernah dalam 1 hari saya mampu menulis sampai 3 tulisan. Dengan kapasitas penyimpanan yang cukup besar untuk sebuah blog, saya tentu tidak merasa khawatir akan kehabisan ruang penyimpanan untuk tulisan-tulisan tersebut.

Salah satu permasalahan dari seorang penulis adalah kurangnya rasa percaya diri kalau tulisannya cukup baik untuk dibaca orang lain. Hal yang sama pun terjadi pada saya. Tidak pernah terpikir sebelumnya bahwa tulisan yang saya buat akan disukai atau bahkan dapat memengaruhi orang lain. Saya hanya menuliskan apa yang saya pikirkan, itu saja. Kalau orang lain suka, ya bagus. Kalau orang lain tidak suka, ya gak masalah.

Namun, dari sekian banyak tulisan, ternyata ada juga yang memiliki kesan untuk orang lain. Bahkan, dianggap layak untuk ‘diadu’ dengan tulisan orang lain. Salah satu blogger dan juga salah seorang dosen serta penulis, M Shodiq Mustika, tanpa saya ketahui sebelumnya menyertakan tulisan saya dalam perlombaan-perlombaan yang diselenggarakannya. Meskipun perlombaan tersebut diadakan di blog pribadinya, tidak ada hadiah khusus, namun bagi penulis pemula seperti saya, hal tersebut ternyata memberi dampak positif. Kepercayaan diri saya semakin meningkat. Bahkan, setelah beberapa tulisan saya diikutsertakan lomba tersebut, saya ditawarinya berkontribusi dan berkolaborasi dalam sebuah buku. Tahun 2007, sebuah buku berjudul “Istikharah Cinta” berhasil dipublikasikan melalui sebuah penerbit, dengan nama saya tercantum di dalamnya, sebagai salah seorang penulis. Keterkejutan saya belum berhenti, karena ternyata buku tersebut terjual puluhan ribu eksemplar. Tentu saja, royaltinya pun menggembirakan.

Salah satu kelebihan dari menggunakan domain sendiri adalah kita dapat membuat subdomain, yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan. Salah satu subdomain yang saya buat adalah ruangfoto.donnyreza.net, yang saya gunakan untuk keperluan photoblogging, aktivitas blogging yang khusus menampilkan foto-foto. Subdomain tersebut saat ini sudah tidak aktif. Dari aktivitas photoblogging tersebut, saya pernah menjadi juara 2 dalam lomba Photo Blog yang diadakan oleh Qwords juga.

Tanpa saya sadari, ternyata Qwords sudah memasuki usia 11 tahun. Sembilan tahun juga Qwords menjadi bagian dari “kehidupan” saya di internet. Selama itu juga, setiap tautan dengan domain donnyreza.net atau subdomainnya, yang terindeks oleh mesin pencari, akan mengarah pada website atau blog saya yang di-hosting di Qwords.

Curriculum Vitae Mukidi

Nama: Mukidi

Alamat: Berubah-ubah, tergantung operator yang sedang digunakan.

Usia: lihat bagian [Pengalaman Kerja]

Profesi Asli: Bisa apapun, bisa jadi siapapun.

Profesi di Media Sosial: pengacara, atau jaksa, tergantung situasi. Jika diperlukan jadi hakim sekaligus.

Deskripsi Kerja:

  • Mencari dan membagikan berita serta bukti-bukti agar tokoh atau kelompok yang dikaguminya tidak pernah berbuat kesalahan, serta membela mati-matian dengan berbagai argumen.
  • Mencari dan membagikan berita serta bukti supaya tokoh atau kelompok yang dibencinya terlihat selalu salah, serta menyerang membabi-buta dengan berbagai argumen.
  • Apabila seorang tokoh atau kelompok tersebut tidak dikagumi dan dibenci, berusaha mengadudomba kubu pencinta dan pembenci tokoh atau kelompok tersebut.

Sifat Pekerjaan: pro bono, gratis, sukarela, gak perlu bayar. Sudah kaya dari adsense, clickbait dan sejenisnya.

Pengalaman Kerja: sejak media sosial hadir di internet, ya telat-telat dikit lah.

Serba-serbi Pilpres 2014: Sebuah Sikap

Dalam 3 kata, apa kesimpulan kang Donny tentang pilpres 2014?
Beautiful. Unethical. Dangerous.

Sebentar… kayaknya pernah denger…
Hahaha. Lucius Fox, The Dark Knight.

Jadi, yang sebenernya gimana?
Gak tahu juga :-))

Pandangan terhadap 4 orang capres-cawapres tersebut?
Kenyataan bahwa mereka menjadi capres-cawapres adalah sebuah bukti bahwa mereka termasuk orang-orang yang memiliki kelebihan dibandingkan orang kebanyakan di Indonesia. Namun, paling aman, dan menurut saya lebih mendekati adil adalah dengan melihat mereka sebagai manusia, yang punya kelebihan dan kekurangan. Tidak mengangkat ke level malaikat, atau menarik ke level setan. Secara pribadi, pada siapa pun, dengan jabatan apa pun, saya berusaha untuk selalu memandang setiap orang seperti melihat pada diri sendiri. Punya kelebihan, tapi sudah pasti ada kekurangan dan aib yang masih tersembunyi. Cara seperti ini yang saya yakini dapat lebih mendekatkan untuk bersikap adil.

Sejujurnya, komposisi capres+pendukungnya buat saya “enggak banget”, lebih mudah kalau misalnya Prabowo diusung partai pendukung Jokowi sekarang +ARB, dan Jokowi diusung pendukung Prabowo -ARB :v atau mungkin ada calon ke-3 😀

Jelasnya, setelah melihat kenyataan komposisi calon+pendukungnya, saya sudah menyiapkan mental untuk di-presiden-i oleh siapapun. Halah, kesannya kayak apa aja. Heuheu.

Read More

Harmoni

Terus terang saja, saya termasuk terlambat mengetahui sebuah program musik di SCTV yang menurut saya luar biasa. Harmoni, nama program tersebut, tayang setiap tanggal 20, satu bulan sekali. Sebelumnya, saya sempat menonton acara itu, tapi hanya sekilas saja. Belakangan saya tahu nama program tersebut, setelah timeline di twitter saya selalu ramai membicarakan Harmoni setiap tanggal 20.

Saya pertama kali menontonnya saat Audy dan beberapa artis lainnya membawakan lagu-lagu ciptaan Dewiq. Saya pikir, saat itu, acara tersebut merupakan sebuah tribute untuk Dewiq, khusus untuk Dewiq saja, karena memang lagu-lagu ciptaan Dewiq termasuk lagu-lagu dengan kualitas bagus, meskipun tidak semua lagu ciptaannya saya suka. Subyektif, soal selera. Maka, wajar jika ada acara khusus digelar untuk menghargai Dewiq. Belakangan, saya tahu acara tersebut berjudul Harmoni, dan tidak hanya membawakan lagu-lagu ciptaan Dewiq. Malahan sangat beragam: rock, pop, r&B,rapp, dll.

Harmoni ‘diasuh’ oleh Andi Rianto, dengan dukungan Magenta Orchestra. Andi Rianto bukan nama sembarangan. Dia merupakan lulusan Berklee College of Music, Boston jurusan Film Scoring, lulus dengan predikat cum laude, dan mengantarkannya mengenyam pengalaman sebagai asisten profesor di tempat studinya tersebut. Di Indonesia, Andi Rianto dipercaya untuk menggarap score film-film layar lebar, sesuai dengan bidang studinya tersebut. Salah satu album yang pernah digarap adalah OST Badai Pasti Berlalu (2007), yang merupakan cover album dari album dengan judul yang sama, setelah sebelumnya Erwin Gutawa melakukan remake pada tahun 1999. Keduanya merupakan karya-karya yang patut diacungi jempol.

Musisi yang terlibat dalam program Harmoni juga bukan nama-nama sembarangan. Dua nama yang paling saya kenal adalah Edi Kemput dan Ronald. Edi Kemput adalah gitaris Grass Rock, group yang pernah berkibar di awal tahun 90-an, sekaligus seorang session player untuk mendukung album beberapa orang artis, antara lain: Chrisye dan Iwan Fals, dan tentunya di berbagai konser. Sementara Ronald merupakan mantan drumer GIGI dan DR.PM, juga pernah terlibat mendukung album Nicky Astria dan Chrisye. Gebukan drum Ronald juga pernah mewarnai beberapa lagu Dewa 19. Keduanya, Edi Kemput dan Ronald, juga terlibat dalam penggarapan album Badai Pasti Berlalu versi Erwin Gutawa.

Konsep musik orchestra yang digunakan menjanjikan beberapa hal: indah, elegan, megah. Lebih dari itu, Harmoni seringkali menampilkan berbagai kejutan yang dapat membuat penonton -pada akhirnya- terkagum-kagum. Misalnya: saat Tantri ‘Kotak’, seorang rocker wanita, yang ‘dipaksa’ tampil sangat feminim, atau saat mengaransemen ulang lagu ‘Lupa-Lupa Ingat’ dari Kuburan Band menjadi sebuah lagu yang luar biasa. Di saat lain, musik orchestra dan pop dikolaborasikan dengan pantomim. Vina Panduwinata sampai ‘dikerjai’ dengan menyanyikan lagu yang saat ini sedang populer, C-I-N-T-A dari D’Bagindas. Juga ada unsur humor, seperti ketika menampilkan Wawan, vokalis band parodi Teamlo, yang berhasil menghibur dan membuat tertawa penonton dengan menyanyikan lagu-lagu dari Chrisye dan Iwan Fals, dengan gaya seperti mereka.

Saya kemudian mulai membayangkan lagu-lagu yang ingin saya dengar dan diaransemen ulang oleh Andi Rianto dalam acara Harmoni. Ternyata, ada banyak lagu, meskipun sebagian besar lagu yang saya ingat merupakan lagu-lagu yang cukup lawas.

Beberapa lagu yang -sepertinya- akan menjadi luar biasa di antaranya: Gerangan Cinta (Java Jive), Damainya Cinta, Terbang dan Nirwana (GIGI), Buku Ini Aku Pinjam (Iwan Fals), Satu Kata (Adegan). Bahkan saya membayangkan lagu ‘Sekedar Bertanya’ (Dina Mariana), juga lagu-lagu Benyamin S. Tentu saya tidak lupa dengan lagu ‘Tentang Kita’ dan ‘Semoga’ dari Kla Project. Masih banyak lagi yang saya bayangkan. Hey, saya tidak tua kok, hanya soal selera musik saja yang ‘ketinggalan’. He he.

Kehadiran Harmoni ini membuktikan satu hal: pada dasarnya setiap lagu itu berpotensi menjadi lagu bagus jika digarap dengan benar, dan kita merindukan musik berkualitas yang sekarang mulai redup digilas kepentingan industri. Kualitas yang saya maksud adalah: aransemen yang baik, ditunjang dengan skill musisi yang baik, lirik lagu yang bagus dan berpotensi ‘abadi’. Enak didengar saja tidak cukup, sebab lagu enak seringkali jadi sangat membosankan. Dalam bidang apa pun memang akan selalu terjadi benturan antara idealisme dan pragmatisme. Banyak musisi yang bagus, tapi tidak disukai industri musik karena tidak menjanjikan keuntungan. Pada saat yang sama, muncul musisi yang biasa saja, tapi berpihak pada kepentingan bisnis perusahaan rekaman, yang artinya: menguntungkan.

Kenyataannya, program Harmoni juga tidak lepas dari benturan tersebut. Kita bisa melihat dari jam tayang acara tersebut, yang ditempatkan menjelang tengah malam, setelah ‘mengalah’ pada sinetron. Selain itu, durasi iklan yang nyaris sama bahkan lebih lama dari waktu tayang acara tersebut. Tentu saja, hal tersebut bukan tanpa alasan. Sinetron -pastinya- dinilai lebih menguntungkan bagi stasiun televisi tersebut jika dibandingkan dengan Harmoni, dan deretan iklan yang saya rasa terlalu panjang tersebut, sudah jelas ‘menyumbang’ pundi rupiah yang tidak sedikit. Bandingkan juga dengan acara musik lainnya seperti ‘Dahsyat’ dan ‘Inbox’ yang cenderung menampilkan lagu secara minus one. Meskipun, kalau bagi saya, jam-jam menjelang tengah malam justru waktu terbaik untuk menontonnya, karena seisi rumah sudah tidur, tinggal saya sendiri menguasai televisi. Haha.

Namun, kita masih harus bersyukur karena masih ada itikad baik untuk membuat acara yang berkelas. Semoga saja kehadiran Harmoni dapat ‘membuka mata’ penyedia ‘layanan tontonan’ untuk dapat menyajikan musik-musik yang lebih berkualitas dan beragam.

Catatan:

Gambar Andi Rianto diambil tanpa ijin dari http://andirianto.com

Gambar Ronald diambil tanpa ijin dari sini

Page 1 of 9

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén