Harmoni
Musik, SerbaSerbi July 23rd, 2010
Terus terang saja, saya termasuk terlambat mengetahui sebuah program musik di SCTV yang menurut saya luar biasa. Harmoni, nama program tersebut, tayang setiap tanggal 20, satu bulan sekali. Sebelumnya, saya sempat menonton acara itu, tapi hanya sekilas saja. Belakangan saya tahu nama program tersebut, setelah timeline di twitter saya selalu ramai membicarakan Harmoni setiap tanggal 20.
Saya pertama kali menontonnya saat Audy dan beberapa artis lainnya membawakan lagu-lagu ciptaan Dewiq. Saya pikir, saat itu, acara tersebut merupakan sebuah tribute untuk Dewiq, khusus untuk Dewiq saja, karena memang lagu-lagu ciptaan Dewiq termasuk lagu-lagu dengan kualitas bagus, meskipun tidak semua lagu ciptaannya saya suka. Subyektif, soal selera. Maka, wajar jika ada acara khusus digelar untuk menghargai Dewiq. Belakangan, saya tahu acara tersebut berjudul Harmoni, dan tidak hanya membawakan lagu-lagu ciptaan Dewiq. Malahan sangat beragam: rock, pop, r&B,rapp, dll.
Harmoni ‘diasuh’ oleh Andi Rianto, dengan dukungan Magenta Orchestra. Andi Rianto bukan nama sembarangan. Dia merupakan lulusan Berklee College of Music, Boston jurusan Film Scoring, lulus dengan predikat cum laude, dan mengantarkannya mengenyam pengalaman sebagai asisten profesor di tempat studinya tersebut. Di Indonesia, Andi Rianto dipercaya untuk menggarap score film-film layar lebar, sesuai dengan bidang studinya tersebut. Salah satu album yang pernah digarap adalah OST Badai Pasti Berlalu (2007), yang merupakan cover album dari album dengan judul yang sama, setelah sebelumnya Erwin Gutawa melakukan remake pada tahun 1999. Keduanya merupakan karya-karya yang patut diacungi jempol.
Musisi yang terlibat dalam program Harmoni juga bukan nama-nama sembarangan. Dua nama yang paling saya kenal adalah Edi Kemput dan Ronald. Edi Kemput adalah gitaris Grass Rock, group yang pernah berkibar di awal tahun 90-an, sekaligus seorang session player untuk mendukung album beberapa orang artis, antara lain: Chrisye dan Iwan Fals, dan tentunya di berbagai konser. Sementara Ronald merupakan mantan drumer GIGI dan DR.PM, juga pernah terlibat mendukung album Nicky Astria dan Chrisye. Gebukan drum Ronald juga pernah mewarnai beberapa lagu Dewa 19. Keduanya, Edi Kemput dan Ronald, juga terlibat dalam penggarapan album Badai Pasti Berlalu versi Erwin Gutawa.
Konsep musik orchestra yang digunakan menjanjikan beberapa hal: indah, elegan, megah. Lebih dari itu, Harmoni seringkali menampilkan berbagai kejutan yang dapat membuat penonton -pada akhirnya- terkagum-kagum. Misalnya: saat Tantri ‘Kotak’, seorang rocker wanita, yang ‘dipaksa’ tampil sangat feminim, atau saat mengaransemen ulang lagu ‘Lupa-Lupa Ingat’ dari Kuburan Band menjadi sebuah lagu yang luar biasa. Di saat lain, musik orchestra dan pop dikolaborasikan dengan pantomim. Vina Panduwinata sampai ‘dikerjai’ dengan menyanyikan lagu yang saat ini sedang populer, C-I-N-T-A dari D’Bagindas. Juga ada unsur humor, seperti ketika menampilkan Wawan, vokalis band parodi Teamlo, yang berhasil menghibur dan membuat tertawa penonton dengan menyanyikan lagu-lagu dari Chrisye dan Iwan Fals, dengan gaya seperti mereka.
Saya kemudian mulai membayangkan lagu-lagu yang ingin saya dengar dan diaransemen ulang oleh Andi Rianto dalam acara Harmoni. Ternyata, ada banyak lagu, meskipun sebagian besar lagu yang saya ingat merupakan lagu-lagu yang cukup lawas.
Beberapa lagu yang -sepertinya- akan menjadi luar biasa di antaranya: Gerangan Cinta (Java Jive), Damainya Cinta, Terbang dan Nirwana (GIGI), Buku Ini Aku Pinjam (Iwan Fals), Satu Kata (Adegan). Bahkan saya membayangkan lagu ‘Sekedar Bertanya’ (Dina Mariana), juga lagu-lagu Benyamin S. Tentu saya tidak lupa dengan lagu ‘Tentang Kita’ dan ‘Semoga’ dari Kla Project. Masih banyak lagi yang saya bayangkan. Hey, saya tidak tua kok, hanya soal selera musik saja yang ‘ketinggalan’. He he.
Kehadiran Harmoni ini membuktikan satu hal: pada dasarnya setiap lagu itu berpotensi menjadi lagu bagus jika digarap dengan benar, dan kita merindukan musik berkualitas yang sekarang mulai redup digilas kepentingan industri. Kualitas yang saya maksud adalah: aransemen yang baik, ditunjang dengan skill musisi yang baik, lirik lagu yang bagus dan berpotensi ‘abadi’. Enak didengar saja tidak cukup, sebab lagu enak seringkali jadi sangat membosankan. Dalam bidang apa pun memang akan selalu terjadi benturan antara idealisme dan pragmatisme. Banyak musisi yang bagus, tapi tidak disukai industri musik karena tidak menjanjikan keuntungan. Pada saat yang sama, muncul musisi yang biasa saja, tapi berpihak pada kepentingan bisnis perusahaan rekaman, yang artinya: menguntungkan.
Kenyataannya, program Harmoni juga tidak lepas dari benturan tersebut. Kita bisa melihat dari jam tayang acara tersebut, yang ditempatkan menjelang tengah malam, setelah ‘mengalah’ pada sinetron. Selain itu, durasi iklan yang nyaris sama bahkan lebih lama dari waktu tayang acara tersebut. Tentu saja, hal tersebut bukan tanpa alasan. Sinetron -pastinya- dinilai lebih menguntungkan bagi stasiun televisi tersebut jika dibandingkan dengan Harmoni, dan deretan iklan yang saya rasa terlalu panjang tersebut, sudah jelas ‘menyumbang’ pundi rupiah yang tidak sedikit. Bandingkan juga dengan acara musik lainnya seperti ‘Dahsyat’ dan ‘Inbox’ yang cenderung menampilkan lagu secara minus one. Meskipun, kalau bagi saya, jam-jam menjelang tengah malam justru waktu terbaik untuk menontonnya, karena seisi rumah sudah tidur, tinggal saya sendiri menguasai televisi. Haha.
Namun, kita masih harus bersyukur karena masih ada itikad baik untuk membuat acara yang berkelas. Semoga saja kehadiran Harmoni dapat ‘membuka mata’ penyedia ‘layanan tontonan’ untuk dapat menyajikan musik-musik yang lebih berkualitas dan beragam.
Catatan:
Gambar Andi Rianto diambil tanpa ijin dari http://andirianto.com
Gambar Ronald diambil tanpa ijin dari sini
Hentikan Pemakaian Lampu Putih pada Kendaraan!!
Feature, Propaganda, SerbaSerbi January 20th, 2009
Saya termasuk salah seorang biker yang sering melakukan perjalanan malam, entah di dalam kota atau ke luar kota. Paling sering di dalam kota, tentu saja. Meskipun saya juga kadang-kadang banyak gaya, kalau kata orang sunda “loba gaya”, atau mungkin sok keren, tapi saya paling benci sama pengendara yang banyak gaya. Soalnya saya nggak suka kalau orang lain lebih keren daripada saya. Halah!! Maaf, sedang narsis.
Oke. Point-nya adalah begini … Belakangan saya merasa semakin banyak pengendara -entah mobil atau motor- yang menggunakan lampu putih di jalanan. Saya tidak tahu nama lampu tersebut, yang jelas membuat jalanan menjadi ‘terang benderang’. Saya tidak akan terlalu mempermasalahkan jika hal tersebut tidak terlalu mengganggu. Sialnya, penggunaan lampu putih tersebut sangat mengganggu bagi saya.
Anda yang menggunakan lampu putih pada kendaraannya, boleh saja tidak setuju dengan saya. Akan tetapi, begitulah kenyataannya. Lampu tersebut sangat menyilaukan bagi pengendara dari arah berlawanan, terutama pengendara motor seperti saya. Apalagi jika lampu tersebut digunakan untuk pemakaian lampu jauh, yang sialnya banyak juga digunakan oleh para pengendara. Lampu-lampu tersebut sering kali ‘telak’ mengenai mata saya dan membuat pandangan menjadi terganggu. Alhasil, sering kali saya harus menggunakan rem mendadak gara-gara orang yang menyeberang atau objek di depan saya menjadi ‘tidak terlihat’.
Jika anda sering bepergian ke pegunungan atau hutan belantara yang memang belum ada jaringan listrik, boleh lah anda gunakan lampu tersebut. Akan tetapi, ini di kota!! Lampu di mana-mana, bahkan anda masih bisa melihat objek di depan anda yang berjarak 100 meter. Jika alasan anda agar bisa melihat objek dengan jelas, lampu yang standar pun sudah cukup memberikan penerangan di jalanan. Jika alasan anda agar menarik perhatian, anda salah tempat! Jika alasan anda agar disebut keren, anda bodoh! Sebab yang menarik perhatian dan disebut keren, kendaraan anda, bukan anda! Bisa jadi, orang lain berharap bukan anda yang mengendarai kendaraan tersebut, karena anda tidak cocok dengan kendaraan tersebut.
Tentu saja, bukan tanpa alasan jika produsen kendaraan memasang lampu yang ’standar’, karena mereka pun sudah memperkirakan dampak dari penggunaan lampu di jalanan ketika malam hari. Faktor intensitas cahaya pun sudah pasti menjadi perhitungan. Begitu juga dengan klakson, knalpot dan berbagai aksesoris lainnya. Semuanya dirancang, selain untuk keamanan dan kenyamanan pemakai, juga untuk keamanan dan kenyamanan orang lain.
Saya mendukung 100% dengan peraturan tentang kewajiban penggunaan helm standar. Saya pun salah satu ‘maniak’ helm full face. Rasanya tidak nyaman jika menggunakan helm yang half-face, apalagi yang catok, meskipun motor saya ‘cuma motor angsa’. Jika anda pernah melihat dengan mata sendiri bagaimana dua pengendara motor tabrakan, kemudian wajah mereka nyungsep ke aspal dengan kecepatan 70-80 km/jam, dan mereka masih bisa tertawa gara-gara wajah mereka ‘diselamatkan’ helm, mungkin anda akan mengikuti apa yang saya lakukan juga. Jadi, bukan hanya sekedar gaya, tapi saya juga memikirkan keselamatan diri sendiri.
Begitu pun saya sangat mendukung jika dalam hal aksesoris kendaraan, semua dibuat aturannya. Tidak boleh seseorang seenaknya pasang knalpot dengan frekuensi yang memekakan telinga. Atau pasang lampu dengan intensitas cahaya yang menyilaukan mata melebihi kemampuannya menangkap cahaya. Selain mengganggu, juga mengancam keselamatan di jalanan.
Saya tidak bermaksud melarang untuk melakukan modifikasi atau membuat tampilan kendaraan anda menjadi lebih keren. Akan tetapi, please, sebelum anda memasang aksesoris-aksesoris tersebut, pertimbangkan juga keselamatan dan kenyamanan orang lain. Setidaknya orang lain tidak tergangggu, apalagi sampai merasa ‘terancam’ keselamatan dirinya. Terlebih lagi jangan sampai anda dikutuk orang lain dengan bermacam-macam kutukan, “mampus lu!“, “setaann!“, “mudah-mudahan dia tabrakan, biar tahu rasa!“. Jika sampai terjadi orang-orang mengutuk anda, tinggal tunggu waktu saja kutukan-kutukan tersebut menjadi kenyataan. Sebab, bagaimanapun mereka tidak akan sampai mengutuk jika tidak merasa teraniaya. Dan anda tentu sering mendengar, do’a orang teraniaya itu cepat dikabulkan.
Terasing
SerbaSerbi November 18th, 2008
Rindu di Malam Setengah Purnama
SerbaSerbi October 23rd, 2008
Malam setengah purnama, di dalam sebuah mobil yang beranjak dari Jakarta menuju Bandung, Kabayan dan Iteung zaman kiwari1 berkomunikasi via SMS:
Kabayan: Hmm, Rindu…
Iteung: Hmm, Rindu…?
Kabayan: Iya, Rindu…
Iteung: Si Rindu bilang apa cenah2?
Kabayan: Nggak bilang apa-apa, tiba-tiba saja dia menyelinap dan mengganggu perasaan.
Iteung: Di sini juga ada si Rindu lagi menari, dia membuatku senyum-senyum
![]()
Kabayan: Perlukah si Rindu kubunuh saja? atau biarkan saja dia terus mengganggu? atau kamu punya cara agar si Rindu tidak lagi mengganggu?
Iteung: Tak perlu, biarkan saja selama si Rindu tak menggoda logika untuk takluk pada perasaan. Jika dia membuatmu begitu terganggu, tersenyumlah dalam kesabaran menanti. Niscaya dia kan beranjak.
Kabayan: Aku sudah sangat akrab dengan penantian. Tetap saja … RINDU!!
Iteung: Hmm, kalau begitu nikmati saja lah saat-saat merindu dalam penantian itu.
Kabayan: Yah, sekarang pun memang sedang aku nikmati …
Di Radio mobil yang dikendarai Kabayan, lamat-lamat terdengar sebuah lagu. Reflek, dari bibir Kabayan mengalir beberapa baris lirik, mengikuti alunan nada lagu tersebut.
ku berharap engkau lah
jawaban sgala risau hatiku
dan biarkan diriku
mencintaimu hingga ujung usiakujika nanti ku sanding dirimu
miliki aku dengan segala kelemahanku
dan bila nanti engkau di sampingku
jangan pernah letih tuk mencintaiku(NAFF – Akhirnya Ku Menemkunmu)
Selesai mengirim SMS, Kabayan menyandarkan badannya ke kursi. Memejamkan mata, berharap bisa tidur. Hari itu memang terasa sangat melelahkan. Udara dan suasana kota Jakarta memang dirasa tidak pernah bersahabat dengan Kabayan. Akan tetapi, jalan Tol Cipularang yang bergelombang cukup mengganggu usaha tidur Kabayan. Ditambah, si Rindu benar-benar sangat mengganggu. Hingga akhirnya tiba di Bandung, mata Kabayan belum mampu terpejam sedetik pun. Sepanjang jalan itu, sosok Iteung tak henti-hentinya beranjak dari pikiran Kabayan. Namun, mengetahui Iteung baik-baik saja, Kabayan merasa tidak perlu merasa khawatir.
Tiba di rumah menjelang tengah malam, Kabayan tidak langsung tidur. Komputer tua dinyalakan. Icon si Rubah Api diklik. Membaca email, mencari bahan tulisan, membaca blog, membalas komentar di blog. Walaupun bahan yang dicari tidak ditemukan, Kabayan tidur cukup larut, dua jam menjelang Shubuh. Padahal, sebelum terbit Matahari, Kabayan harus beranjak meninggalkan lagi kota Bandung. Di sisa malam setengah purnama itu, Kabayan tidur membawa serta kelelahan dan kerinduan pada Iteung. Watir pisan, nya?3
Ket:
1bahasa sunda: sekarang, masa kini
2bahasa sunda: katanya
3bahasa sunda: kasihan sekali, ya?
Lagi, Tentang Kuliner
Artikel, SerbaSerbi October 20th, 2008
Saya dapat sebuah pesan di friendster yang berisi tentang tips kesehatan a la Rasulullah SAW. Sebetulnya isi pesan tersebut cukup panjang, tapi akan saya copy-paste beberapa baris terkait makanan.
Ini adalah diet Rasullulah SAW. Ustaz Abdullah Mahmood mengungkapkan, Rasullulah tak pernah sakit perut sepanjang hayatnya karena pandai menjaga makanannya sehari-hari. Insya Allah kalau anda ikut diet Rasullullah ini, anda takkan menderita sakit perut ataupun keracunan makanan.
- Jangan makan SUSU bersama DAGING
- Jangan makan DAGING bersama IKAN
- Jangan makan IKAN bersama SUSU
- Jangan makan AYAM bersama SUSU
- Jangan makan IKAN bersama TELUR
- Jangan makan IKAN bersama DAUN SALAD
- Jangan makan SUSU bersama CUKA
- Jangan makan BUAH bersama SUSU, CTH : KOKTEL
Oke. Saya kira memang dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk hal tersebut. Artinya, data-data penelitian mutlak ada untuk mendukung pernyataan-pernyataan tersebut. Sayangnya saya tidak tahu harus mencari tahu kemana data-data tersebut. Saya tidak tahu siapa itu Ustadz Abdullah Mahmood, akan tetapi jika ternyata pernyataan-pernyataan tersebut benar adanya, maka tentu saja hal tersebut harus menjadi perhatian kita.
Berikut komentar saya soal pernyataan-pernyataan tersebut:
Point 1, praktis saya akan terselamatkan dari efek campuran dua jenis makanan tersebut karena SUSU dan DAGING bukan makanan favorit saya, alias tidak suka sama sekali. Akan tetapi, saya juga kekurangan gizi dari kedua jenis makanan tersebut
Point 2, ini juga aman. Saya penyuka IKAN, tapi tidak dengan DAGING.
Point 2, aman. Suka IKAN, anti SUSU.
Point 3, masih aman. AYAM adalah makanan favorit saya yang lain, tapi akan selalu anti dengan SUSU.
Point 4, agak terancam. IKAN dan TELUR, dua makanan yang tak tegantikan. Agak sering juga menyantap kedua jenis makanan tersebut dalam sekali makan.
Point 6, cukup aman. Apa itu DAUN SALAD? Haha. Jarang makan sayur-sayuran.
Point 7, aman. CUKA yang masuk ke dalam tubuh saya hanya lewat Bakso saja. Itu pun sangat jarang.
Point 8, absolutely safe. Coba ya, yang sering ngeledekin saya karena tidak pernah makan es buah atau jus campur SUSU. Perhatikan tuh, jangan cuma bisa meledek saja!
*yes, serasa di atas angin*
Meskipun, tentu saja, Rasulullah SAW menyukai Susu dan Daging. Hanya beliau tidak mencampur keduanya dengan makanan yang jika tercampur, akan memberikan dampak penyakit. Setahu saya, orang China juga punya aturan untuk tidak mencampur daging merah dan daging putih. Artinya, Ayam dan Daging Sapi misalnya, tidak pernah ada dalam satu piring ketika makan. Rasulullah SAW pun ternyata melakukan hal yang sama.
Faktanya, saya juga sangat langka mengalami sakit perut. Pernah mules, tapi biasanya akibat makanan yang pedas. Perut saya memang tidak terbiasa dengan makanan yang pedas-pedas.
Namun, sekali lagi, diperlukan data-data yang akurat untuk mendukung pernyataan-pernyataan tersebut. Jika sains mendukung, maka bisa menjadi satu lagi bukti bahwa Rasulullah SAW memang manusia yang luar biasa. Shalawat dan Salam untukmu, ya Rasul…
PS: Kamu tahu … bahkan soal makanan pun, Rasulullah SAW mengajari kita banyak hal. Beruntunglah manusia-manusia yang pernah bertemu dan bergaul dengannya. Akan tetapi, kita pun masih punya kesempatan untuk meneladaninya, agar kelak, beliau mengenali kita sebagai umatnya.


