Buku Terjemahan dan Program Beasiswa Luar Negeri Sebagai Salah Satu Faktor Kemajuan Sebuah Bangsa

Science, Artikel May 20th, 2008

Belajar dari sejarah, ada dua hal yang menurut saya cukup penting dan terlupakan oleh bangsa kita, atau setidaknya oleh pemerintah kita. Kalau pun sudah dilakukan, namun sepertinya kurang optimal. Pertama, soal penerjemahan buku, dan yang kedua adalah soal pengiriman orang-orang terbaik kita untuk mengenyam pendidikan di luar negeri dan mengaplikasikan serta mengamalkannya di dalam negeri.

Buku Terjemahan

Setidaknya ada dua fase yang menjadi rujukan saya untuk membuktikan betapa pentingnya buku terjemahan sebagai salah satu faktor kemajuan sebuah bangsa. Pertama, ketika Islam berhasil menguasai peradaban dan yang kedua ketika Eropa mulai menunjukkan kemajuan dalam bidang teknologi.

Ketika Islam mulai menguasai sebagian belahan bumi ini, salah satu hal yang dilakukan oleh pemerintahnya adalah mendorong kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Salah satu hal yang dilakukan adalah dengan menerjemahkan buku-buku atau manuskrip-manuskrip yang berhubungan dengan iptek, yang berasal dari berbagai sumber. Diantaranya adalah buku-buku filsafat Yunani, kedokteran, matematika dan lain-lain.

Hal yang sama juga dilakukan oleh bangsa Eropa di masa-masa awal berakhirnya Perang Salib. Ribuan buku berbahasa arab diterjemahkan. Beberapa buku yang diterjemahkan diantaranya, “Muqaddimah” karya Ibnu Khaldun, buku-buku kedokteran Ibnu Syifa (Avicenna) dan buku-buku Ibnu Rusyd (Averos).

Penerjemahan buku bertujuan untuk mempermudah akses bagi para calon ilmuwan terhadap sumber-sumber utama ilmu pengetahuan dan teknologi. Bagaimanapun, tidak semua orang Indonesia mengerti bahasa Inggris atau Jepang. Juga akan menyita cukup banyak waktu jika setiap orang harus belajar atau harus bisa bahasa asing terlebih dahulu agar bisa memahami isi buku dari luar negeri.

Pengiriman Mahasiswa ke Luar Negeri

Jepang pernah melakukan ini, Malaysia bahkan sampai mengirim orang-orangnya untuk belajar dari Indonesia, itu juga yang pernah dilakukan oleh India. Begitu pula ketika Eropa mengirim orang-orang terbaiknya untuk belajar dari pemimpin peradaban saat itu. Dan hasilnya bisa kita lihat sekarang.

Jepang menjadi pemimpin dalam bidang teknologi. Malaysia sudah jauh meninggalkan Indonesia. Bahkan India, yang selama ini kita olok-olok karena filmnya, adalah penyumbang terbanyak orang-orang yang memimpin dunia ICT.

Memang banyak orang Indonesia yang menuntut ilmu di Luar Negeri atau di ‘kantung-kantung’ ilmu pengetahuan. Akan tetapi, banyak pula yang menyatakan tidak ingin kembali ke Indonesia. Ada berbagai macam alasan, diantaranya adalah karena apresiasi pemerintah Indonesia dirasa sangat kurang terhadap mereka. Selain itu, mereka pergi atas biaya sendiri atau beasiswa dari lembaga-lembaga yang berasal dari luar negeri, sehingga merasa tidak memiliki tanggung jawab apa pun terhadap negara.

Akan berbeda halnya jika mahasiswa-mahasiswa yang kuliah ke luar negeri dibiayai sepenuhnya oleh negara. Lalu setelah masa pendidikan selesai mereka diberi ruang untuk mengembangkan seluruh ilmu yang dimilikinya. Lebih dari itu, diberikan apresiasi, entah berupa uang, penghargaan atau pun proyek-proyek penelitian. Ini yang kurang diberikan oleh pemerintah Indonesia.

Tanggung Jawab Pemerintah

Meskipun ada ratusan penerbit buku di Indonesia, akan tetapi penerbit-penerbit buku tersebut hanya akan menerbitkan buku-buku yang diyakini menjanjikan dalam hal penjualan. Oleh sebab itu, mudah dimengerti jika buku terjemahan yang tersedia di Indonesia lebih banyak didominasi oleh buku-buku nonfiksi semacam novel. Sementara buku-buku sains terjemahan masih jauh lebih sedikit.

Akan berbeda halnya jika dalam hal terjemahan tersebut, pemerintah mengambil peran. Katakanlah dengan mendirikan Lembaga Penerjemahan, yang terdiri dari orang-orang yang kompeten dan memiliki penguasaan bahasa asing yang mumpuni. Jika 100 orang dibebani tugas untuk menerjemahkan masing-masing 1 judul buku dalam 3 bulan, maka dalam 1 tahun pemerintah Indonesia sudah memiliki 300 judul buku terjemahan.

Agar penerbit juga diuntungkan, buku-buku tersebut diorderkan ke-300 penerbit. Bisa juga dengan sistem kerjasama atau sponsorship, agar beban pemerintah juga tidak terlalu berat. Katakanlah sekali terbit, pemerintah membayar atau bekerja sama dengan para penerbit itu untuk mencetak 1000 eksemplar. Kemudian buku-buku tersebut disebarkan ke perpustakaan-perpustakaan umum, sekolah dan universitas. Tanpa biaya.

Agar lebih memudahkan lagi, tidak ada larangan bagi setiap orang untuk memperbanyak buku tersebut. Oleh sebab itu, permasalahan lisensi buku menjadi tanggung jawab pemerintah untuk membicarakannya dengan pengarang dan penerbit aslinya. Dengan cara seperti itu, setiap orang akan lebih mudah mengakses ‘isi’ buku tersebut. Entah itu difotokopi, atau membeli bajakannya sekalipun tidak akan menjadi masalah.

Apalagi dengan adanya internet, semakin lebih mudah lagi. Pemerintah tinggal menyediakan situs khusus yang berisi seluruh ebook terjemahan tersebut. Setiap orang bebas mengunduh file-file yang tersedia dan diperbolehkan untuk membuat versi cetaknya, bahkan menjualnya, meskipun sebatas pengganti ongkos cetak.

Selain itu, ada cara lain lagi. Adanya kontrak kerja dengan mahasiswa yang dikirim ke luar negeri dengan biaya sepenuhnya ditanggung oleh pemerintah. Misalnya, setiap mahasiswa yang mendapatkan beasiswa diwajibkan untuk menerjemahkan minimal sebuah buku yang terkait bidang pendidikan mahasiswa tersebut.

Selain menerjemahkan buku, mahasiswa tersebut juga diwajibkan menulis minimal satu judul buku. Buku tersebut harus berhubungan dengan bidang yang diambilnya. Kemudian buku tersebut diserahkan kepada pemerintah. Namun, mahasiswa tersebut tetap mendapatkan hak dari terbitnya buku tersebut. Seperti, namanya tercantum sebagai penulis buku dan mendapatkan uang lelah. Meskipun, dengan sepenuhnya dibiayai beasiswa itu saja sudah cukup.

Kontrak kerja lainnya adalah dengan mewajibkan para penerima beasiswa tersebut untuk kembali ke Indonesia dan mengajar di universitas-universitas atau sekolah-sekolah yang ditunjuk oleh pemerintah. Katakanlah untuk jangka waktu 5 tahun. Atau ditempatkan di lembaga-lembaga pemerintah yang terkait dengan bidang pendidikan penerima beasiswa, dan dituntut untuk menyumbangkan dan mengembangkan berbagai inovasi di bidang tersebut. Untuk kemudian menuliskan dan mempublikasikan hasil-hasil penelitiannya.

Penerima beasiswa yang tidak kembali ke Indonesia akan mendapatkan hukuman. Misalnya, dicap “pengkhianat” dan dalam KTP keluarganya akan diberikan cap “keluarga pengkhianat”, sehingga anggota keluarga lainnya tidak memiliki kesempatan untuk mendapatkan beasiswa serupa. Persis seperti yang dilakukan pemerintah kita terhadap keluarga PKI. Itu hanya salah satu contoh saja. Tentunya ada berbagai macam hukuman yang bisa diberikan.

Penutup

Saran-saran dalam tulisan ini hanyalah sumbangan pemikiran dan opini pribadi. Terlepas dari apakah saran tersebut kongkrit atau tidak, realistis atau tidak dengan kondisi bangsa Indonesia saat ini. Mudah-mudahan, jika ada pemerintah yang baca, tulisan ini bisa memberikan sumbangan yang berarti. Meskipun hanya dalam tataran wacana.

Bandung. 19 Mei 2008. 21.00.

NB: Bhehehe, judulnya panjang pisan ya? Bingung atuh da, judul yang pas kira-kira apa ya? :D Tulisan ini terinspirasi ketika mengingat betapa kesulitannya saya mendapatkan referensi buku-buku berbahasa Indonesia terkait tema skripsi yang saya ambil.

Popularity: 36% [?]

Link Terkait

Tambah Katalog
BBM, Buku dan Kurang Gizi
Resensi Baru
Minus
Islam Versi Bajakan: Ahmadiyah Ditinjau Sebagai Sebuah Sistem Operasi Komputer
Kejar Setoran
Kabar Baru, Tantangan Baru
Menanti Terwujudnya Sebuah Impian
Istiqamah KuadratTM
Ikut-ikutan Bikin Kaleidoskop-BlogTM

Blogger Ulul Albab

Esai, Science, Artikel, Islamologi May 5th, 2008

Jika ditanyakan kepada saya, blog seperti apakah yang membuat saya iri? Jawabannya bukan blog yang banyak komentarnya, bukan blog yang membuat orang jadi terkenal atau pun blog yang besar traffic-nya.  Meskipun kadang merasa iri juga, tapi sejak awal blogging saya tidak terlalu tertarik untuk menjadikan hal semacam itu sebagai tujuan utama saya.   Kalau menurut saya, sayang sekali jika tujuan blogging hanya untuk itu.

Saya sangat iri kepada blogger yang bisa men-sinergi-kan antara sains dan agama dalam tulisan-tulisannya.  Dalam kasus saya, Islam adalah agama yang dimaksud.  Ilmiah sekaligus memiliki dan memberikan pengalaman spiritual kepada pembacanya.  Membuat cerdas sekaligus menjadikan seseorang mendekatkan dirinya kepada sang pencipta.  Memberi pencerahan otak sekaligus kepada hati.

Terus terang saja, tidak banyak saya temukan blog semacam itu.  Blog ini pun belum bisa dikategorikan seperti itu, meskipun pada mulanya tujuan saya blogging adalah untuk itu.  Apa daya, kemampuan saya belum sampai ke tahap itu.  (kok jadi ber-rima begini ?)  :angelpusing:

Sejak masa sekolah, saya termasuk orang yang tidak menyetujui dikotomi antara agama dan sains, atau antara dunia dan akhirat.  Oleh sebab itu, saya tidak bisa menerima sekularisasi dalam bidang apa pun.  Bagi saya agama dan sains mestilah saling mendukung, saling melengkapi atau saling menyempurnakan.  Bahkan, perintah pertama yang diturunkan kepada Rasulullah Muhammad SAW adalah “Iqra!“, bacalah! Sebab membaca adalah kunci dari sains, kunci dari ilmu pengetahuan.

Indonesia saat ini kekurangan orang-orang semacam itu.  Ada yang shalih, tapi kurang cerdas di bidang lainnya.  Orang-orang semacam ini cenderung menerima “apa adanya” dan mudah dibodoh-bodohi.  Ada yang cerdas, tapi kurang shalih.  Orang semacam ini cenderung untuk sombong dan membodoh-bodohi orang lain.  Benarlah pernyataan Einstein,” (ber)-ilmu tanpa (ber-)agama adalah pincang, (ber-)agama tanpa ilmu adalah buta.”

Saya kemudian jadi teringat ucapan seorang Ulama yang tidak terlalu banyak dikenal ketika melihat barang-barang elektronik yang menurutnya sangat canggih.  Katanya, “ini adalah mutiara umat Islam yang hilang“.  Beliau berkata seperti itu karena meyakini bahwa seharusnya umat Islam menguasai teknologi.  Sementara teknologi akan terkuasai jika kita menguasai ilmu pengetahuan sebagai pondasinya.  Selama kita tidak pernah menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, selama itu juga kita hanya akan menjadi ‘penonton’ peradaban.

Pada acara bedah buku “Orientalisme dan Diabolisme Pemikiran” karya Dr. Syamsudin Arif di Masjid Salman ITB beberapa saat lalu, Adian Husaini mengatakan bahwa di Indonesia belum ditemukan seorang pun doktor di bidang Islam-Saintis.  Sementara Malaysia sudah memiliki beberapa orang yang bergelar doktor di bidang Islam-Saintis.  Saya saja baru tahu kalau ada orang yang mendalami tentang Islam-Saintis.  Andaikan diberi kesempatan, ingin juga rasanya untuk mendalami tentang Islam-Saintis yang dimaksud oleh Adian Husaini tersebut.

Dalam Islam, orang-orang yang bisa men-sinergi-kan dan mengharmonisasikan agama dan sains inilah yang kemudian disebut ulul albab.  Tidak hanya sekedar beragama, tapi juga berilmu.  Tidak hanya sekedar berilmu, tapi juga beragama.  Dalam diri seorang ulul albab, keduanya memiliki porsi yang seimbang.  Ilmuwan sekaligus ulama.  Meskipun tergolong ‘radikal’ dalam beragama, tapi lebih mengedepankan jalur diskusi atau melalui tulisan dan tidak menyukai jalur kekerasan, sesuai kapasitas ke-ilmuwan-an dan ke-ulama-an mereka.

C 1 H 3 U L 4 17 6. 050508. 00.00

Popularity: 43% [?]

Link Terkait

Pesta Blogger, Pesta Orang-orang Besar
Facts About Donny Reza, I Think
Senangkanlah Hatimu!
Ngelemesin Jari
Kejar Setoran
Tetangga
Ruang Kosong
Ikut-ikutan Bikin Kaleidoskop-BlogTM
Seri Takdir
Belajar Bijak

Seret Rezeki

Science, Curhat, Refleksi January 20th, 2008

Haha.  Rupanya Allah sedang bercanda. *positive thinking mode: always on* :D  Dalam 3 minggu terakhir ini,  ada beberapa kejadian yang malah bikin saya tertawa-tawa daripada menangisi kejadian tersebut.  Entahlah.  Barangkali saraf saya ada yang putus :p.

Pertama, kejadian ketika monitor saya terbakar.  Akibatnya, project membuat sebuah program kasir dengan senang hati terpaksa saya batalkan.  Untungnya, Weni, sahabat saya ketika kuliah dulu yang sekarang tinggal di Jogja bersama suami dan anaknya memahami alasan saya tersebut.

Kedua, ada masalah dengan motherboard PC saya.  Salah satu konektor IDE untuk harddisk dan CD-ROM saya rusak.  Akibatnya, saya tidak bisa menggunakan CD/DVD-ROM, karena dengan satu kabel data, saya hanya bisa memasang 2 harddisk yang saya miliki.  Sebetulnya tidak akan menjadi masalah kalau saja Linux IGOS tidak saya install di harddisk yang ke-2.  Jika salah satu harddisk tidak terpasang, saya tidak bisa menggunakan komputer sama sekali.  Padahal, tadinya saya sudah cukup senang setelah monitor selesai diservice, karena niatnya akan melakukan migrasi menggunakan Linux Ubuntu.  Selain itu, CD-RW saya juga memang sedang rusak :D

Ketiga,  project 2,5 juta batal.  Ceritanya, teman sekostan menawari saya untuk membuat website alumni.  Teman sekostan saya itu juga sebetulnya sedang mencarikan web programmer untuk temannya.  Merasa memiliki waktu yang terlalu cukup luang, saya meng-iya-kan tawaran tersebut.  Hanya saja, karena merasa akan kerepotan juga kalau mengerjakan sendiri dan saya juga sedang berbaik hati ingin bagi-bagi duit berencana untuk merintis hidup di jalan pedang dunia freelance, saya mengajak Catur.  Tujuan saya sederhana saja.  Dengan dikerjakan berdua, saya merasa pekerjaan akan lebih cepat dan duit cepat turun ada teman untuk diskusi dan sharing.  Hanya saja, malam di mana temannya teman sekostan saya itu ingin membicarakannya, saya sedang mengikuti ta’lim rutin, sehingga saya tidak bisa bertemu dengan yang bersangkutan.

Malam esoknya, ketika saya sedang tidur, teman sekostan saya tersebut meminta maaf karena project tersebut sudah diserahkan kepada orang lain.  Setelah mendengar hal itu, saya bilang “oh, nggak apa-apa atuh, tenang aja“.  Dan saya tidur lagi.  Bangun beberapa saat untuk mengabari Catur perihal itu.  Setelah itu, tidur lagi :D  Menyesal? Tidak juga, malah saya tertawa-tawa ketika mengabari Catur lewat SMS.  Sampai sini, saya semakin curiga…jangan-jangan saraf saya memang ada yang putus ya? :p

Keempat, flashdisk saya hilang.  Gara-garanya ketika mengirim booklist yang saya miliki ke teman SMA saya, Ucup.  Barangkali karena saat itu saya mengantuk akibat begadang semalaman, saya tidak ingat dengan flashdisk yang masih tertancap di komputer client warnet.  Saya juga pulang terburu-buru karena sudah sangat mengantuk.  Setelah terbangun dari tidur, barulah saya sadar kalau di kamar saya tidak ada flashdisk.  Setelah diingat-ingat kronologi hari itu, saya menduga flashdisk masih tertancap ketika pulang.  Setelah saya cari ke warnet, flashdisk tersebut sudah raib.  Dan, lagi-lagi, saya hanya bisa tersenyum.  Dalam pikiran saya berkata, “oh, ada yang ambil rupanya, itu artinya saya bisa dapat flashdisk baru” Hihi :D.

Kelima, kemungkinan besar saya batal lagi mengajar di almamater tercinta semester ini. Dampaknya, saya tidak jadi dapat pemasukan dari sini.

Praktis, gara-gara itu, pengeluaran saya akan bertambah.  Sementara pemasukan sedang seret sekarang.  Sebagian besar pengeluaran itu justru di luar prediksi saya.  Dampaknya, beli Laptop atau DSLR batal.  Namun, sejujurnya, saya tidak merasa tersiksa dengan keadaan ini.  Saya malah sedang merasa senang.  Saya mencoba untuk menyadarkan diri setiap saat bahwa suatu waktu kita akan dihadapkan dengan episode-episode hidup semacam ini.  Maka, saya selalu berusaha agar hati ini tidak terlalu terpikat dengan materi atau apa pun yang sejatinya -cepat atau lambat- akan lepas dari tangan kita.  Saya sih tidak ingin hati saya diperbudak oleh hal-hal semacam itu.  Saya ingin hati ini merasa merdeka.  Merdeka ketika memberi, merdeka ketika bersedekah, merdeka ketika membayar zakat…ah, sepertinya menyenangkan ya? :)

C 1 H 3 U L 4 17 6. 200108. 07.00

Popularity: 49% [?]

Link Terkait

Re-Post
Takdir: Rezeki, Jodoh dan Kematian
Minus
8 September 2007
Seri Takdir
6 Pernikahan

Kiamat Itu Ilmiah

Science, Islamologi January 11th, 2008

Persoalan kiamat selama ini memang masih dan selalu dihubungkan dengan keimanan, terutama dalam Islam. Bahkan, urusan mempercayai kiamat atau hari akhir menjadi salah satu syarat seseorang dikatakan beriman atau tidak. Oleh karena itu, orang-orang yang atheis cenderung tidak mempercayai kiamat. Entah dengan penganut Agama lain, yang jelas hampir seluruh umat Islam meyakini bahwa kiamat akan terjadi. Hanya soal waktunya saja yang tidak seorang pun bisa memastikan. Kapan akan terjadinya, tidak seorang pun yang mengetahui. Memang terkesan dogmatis, tapi cukup efektif untuk menanamkan doktrin tersebut dalam benak setiap muslim.

Read the rest of this entry »

Popularity: 61% [?]

Link Terkait

Cerita Dari BHTV Gathering
Blogger Ulul Albab
Menanti Terwujudnya Sebuah Impian
Ikut-ikutan Bikin Kaleidoskop-BlogTM
Lebaran Yang Lucu
Takdir: Rezeki, Jodoh dan Kematian