Category: Refleksi (Page 2 of 6)

Dicolek Malaikat Maut

Gila.  Saya baru 2 bulan mengendarai motor di jalanan, tapi sudah berkali-kali ‘dicolek’ sama kematian.  Untungnya, malaikat maut baru ‘nyolek’, belum sampai benar-benar mencabut nyawa.  Jalanan memang mengerikan, kematian mengintai di mana-mana jika saja tidak berhati-hati dan kondisi kendaraan kita tidak baik.

Nyaris ditabrak angkot yang belok tanpa lampu sein.  Nyaris menabrak motor yang berjalan zig-zag.  Nyaris ditabrak truk gara-gara saya mengira truk tersebut akan lurus karena tanpa sein, tapi ternyata belok ke kiri.  Dan hampir-hampir ‘bergesekan’ dengan sesama motor yang ketika akan saya susul, motor tersebut malah berbelok ke kanan dan, lagi-lagi, tanpa sein.  Duh!!  Betapa pentingnya lampu sein bukan?!

Dan kalau saja saya jahat, ingin sekali rasanya menendang pengendara motor yang berkendaraan sambil menelpon.  Bikin kagok karena dengan tidak sadar mengendarai motor secara zig-zag.

Berdasarkan’pengamatan’ langsung, secara garis besar pembuat kekacauan di jalanan adalah; pertama, angkutan umum.  Segala jenis angkutan umum.  Kedua, motor, yang berarti saya juga termasuk di dalamnya.  Perilaku sopir angkutan umum di Indonesia memang sangat mengesalkan.  Ngetem seenaknya, berhenti mendadak.  Kalau perlu ketika melihat calon penumpang, berhenti saat itu juga.  Dan saya selalu waspada tiap kali di depan saya adalah angkutan umum.

Pengendara motor, kadang lebih gila lagi.  Karena ukurannya yang kecil dan bisa masuk ke celah-celah kemacetan, seringkali jadi bikin jalanan tambah ruwet.  Dan banyak sekali saya temukan, di tengah kemacetan semacam itu, dijadikan ajang pamer kebolehan karena bisa kebut-kebutan di tengah kemacetan.  Belum lagi jika motor tersebut menggunakan knalpot yang membuat cekak telinga.  Lengkap sudah kekacauan tersebut.

Rupanya banyak saya temukan pengendara yang tidak mau standar-standar saja.  Artinya, pengendara tersebut ingin kelihatan berbeda dengan yang lain.  Maka, knalpot dibuat berisik, lampu dibuat terang sekali, kalau perlu lampu kabut dipasang, sampai-sampai menyilaukan pengendara dari arah berlawanan.  Masa bodoh dengan keamanan dan keselamatan diri dan orang lain.  Saya bingung, eksistensi diri semacam apa yang ingin dicari di jalanan? Kawan saya mengatakan orang-orang tersebut egois, dan saya sepakat.

Saya merasa lebih nyaman justru ketika melakukan perjalanan ke luar kota karena kendaraan cenderung tidak lebih padat dibandingkan di dalam kota.  Di Bandung, saya paling grogi ketika memasuki daerah Cimahi sampai Padalarang.  Juga di jalan Soekarno-Hatta.  Stress sekali rasanya karena banyaknya motor di jalan-jalan tersebut.

Barangkali memang benar kata ayah saya, setiap orang bisa ngebut, tapi tidak setiap orang bisa membawa kendaraannya pelan-pelan.  Sebab membawa kendaraan pelan-pelan lebih banyak menuntut kesabaran.  Itulah sebabnya di kursus-kursus mengemudi, orang diajari pelan-pelan dulu, tidak langsung ngebut.  Kalau ngebut, orang tidak perlu diajari, cuma perlu keberanian untuk mengambil resiko saja.  Sementara, tidak banyak orang yang mau memberi kesempatan kendaraan lain berbelok atau orang lain menyeberang.

Berikut, daftar pelanggaran yang sering saya temukan di jalanan:

  • Belok tanpa sein
  • Melanggar Lampu Merah, saya belum pernah menemukan pelanggaran terhadap lampu hijau soalnya :p
  • Menyusul dari kanan ketika akan berbelok ke kiri, ini akan mengagetkan pengendara yang disusul
  • Melawan arah untuk mengambil jalan pintas
  • Menelpon saat mengendarai motor
  • Dll, anda sebutkan saja 😀

CTM61.240708.12.00.

loading...

Lebih Baik Menolak

Bukan tanpa alasan ketika saya menolak permintaan Ochi untuk menulis atau berbicara lebih banyak tentang kasus Monas yang melibatkan FPI dan AKKBB. Meskipun, sebetulnya saya juga ingin sekali menulis soal kejadian tersebut.

Setidaknya ada dua alasan. Pertama, saya tidak berada di sana ketika kejadian. Kedua, saya tidak percaya 100% media massa. Dengan dua alasan tersebut, saya tidak berani memberikan penilaian tentang siapa yang benar dan siapa yang salah dalam kasus tersebut. Bahkan mereka yang hadir di sana pun bisa saja salah. Akan tetapi, sikap saya jelas. Saya sangat menyesalkan terjadinya kasus tersebut.

Kekhawatiran saya hanya satu. Prasangka. Su’udzhan. Tentunya kepada dua pihak yang terlibat. Jangan sampai ketika saya menggebu-gebu membela salah satu pihak, saya malah membela yang seharusnya dihujat.

Ketika terjadi pertikaian, dipastikan akan selalu terbentuk minimal dua kubu dengan versi ceritanya masing-masing. Ada kalanya cerita yang kita dengarkan lebih bombastis daripada kejadian yang sesungguhnya. Bahkan seringkali ditemukan ‘fakta’ baru dalam cerita tersebut, entah benar adanya atau diada-adakan.

Sama halnya dengan sejarah. Satu hal yang pasti dari sejarah adalah -biasanya- tempat, waktu dan peristiwanya. Soal jalan cerita bagaimana peristiwa itu bisa terjadi, tergantung pada siapa anda percaya atau -mungkin- tergantung selera anda juga.  Bagi saya, kejadian Monas sudah jadi bagian dari sejarah.

Belum lagi munculnya teori-teori konspirasi dari mereka yang membela salah satu kubu. Semakin ruwet. Dengan minimnya data dan fakta yang saya miliki, mana berani saya menentukan siapa benar dan siapa salah. Jadi, silahkan saja yang berwajib yang mengurusi persoalan ini.

Lalu, ketidakpercayaan saya pada media massa lebih dikarenakan keyakinan saya bahwa tidak ada satu pun media yang benar-benar netral. Setiap media punya ideologi atau ‘sikap politik’. Keduanya ditentukan oleh’ pemegang duit’ di perusahaan media massa tersebut. Yah, memang senaif itu lah pikiran saya.

Lagipula, televisi atau koran hanya menampilkan frame-frame yang menurut mereka ‘menjual’. Padahal, suatu cerita selalu memiliki awal, tengah dan akhir cerita. Tidak selalu yang kita lihat sebagai pihak yang tertindas di televisi atau koran adalah mereka yang benar-benar tertindas. Bisa juga yang terjadi adalah sebaliknya, sebuah perlawanan terhadap suatu penindasan. Lantas, apa mungkin kita bisa menyimpulkan suatu kejadian hanya melihat satu bagian saja?

CTM61. 060608. 05.00.

Raja

Nyumbang

Foto atau gambar bisa berbicara banyak hal.  Terkadang sebuah foto bisa ‘menampar’ lebih keras daripada tangan untuk menyadarkan kita.  Kejadian dalam foto di atas tidak selalu kita saksikan setiap hari.  Namun, itu adalah sebuah kejadian nyata.

Saya bersyukur dikaruniai fisik yang masih sempurna, begitu pun anda, mungkin.  Akan tetapi, tidak semua orang -termasuk saya- yang bisa berbesar hati menerima karunia tersebut.

Hati adalah raja, begitu Rasulullah SAW mengajarkan.  Jika sang ‘raja’ lemah, lemah pula rakyatnya, begitu pun sebaliknya.  Beruntunglah jika anda memiliki raja yang kuat, berani, sehat dan baik.

Foto di atas hanya salah satu dari sekian banyak kejadian yang pernah kita lalui.  Akan tetapi, dari foto di atas, saya – dan mungkin juga anda- mendapatkan (lagi) sebuah pelajaran berharga betapa luar biasanya kekuatan sang raja.

Foto di atas saya ambil dari blog-nya caplang.  Konon, caplang juga dapat dari milis, entah milis apa.  Saya hanya membayangkan, jika foto tersebut dipajang di tempat pengambilan BLT, apa yang akan masyarakat pikirkan ya?

Citamiang61.  300608. 16.30.

BBM, Buku dan Kurang Gizi

Satu kekhawatiran saya dengan naiknya BBM.  Harga kertas naik, otomatis harga bahan bacaan (buku, majalah, etc) jadi naik juga.  Selama ini, saya sering merelakan uang makan untuk sebuah buku.  Pada akhirnya, hanya ada 2 pilihan jadi orang seperti saya dan mungkin juga orang Indonesia pada umumnya.  Menjadi cerdas tapi kurang gizi, atau cukup makan tapi bodoh.  Mau pilih mana?

Citamiang 61. 140508. 0830.

NB: Berharap ‘harga’ koneksi internet tidak ikut-ikutan naik 🙁

Ruang Kosong

Salah satu favorit saya dalam buku Filosofi Kopi karya Dee (Dewi Lestari) adalah tulisan yang berjudul Spasi.

Seindah apa pun huruf terukir, dapatkah ia bermakna apabila tak ada jeda? Dapatkah ia dimengerti jika tak ada spasi?

Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak? Dan saling menyayang bila ada ruang? Kasih sayang akan membawa dua orang semakin berdekatan, tapi ia tak ingin mencekik, jadi ulurlah tali itu.

Napas akan melega dengan sepasang paru-paru yang tak dibagi. Darah mengalir deras dengan jantung yang tak dipakai 2 kali. Jiwa tidaklah dibelah, tapi bersua dengan jiwa lain yang searah. Jadi jangan lumpuhkan aku dengan mengatasnamakan kasih sayang.

Mari berkelana dengan rapat tapi tak dibebat. Janganlah saling membendung apabila tak ingin tersandung.

Pegang tanganku, tapi jangan terlalu erat, karena aku ingin seiring dan bukan digiring.

Dewi Lestari – Spasi

Spasi atau ruang kosong atau jarak. Sudah sejak lama sebetulnya saya ingin menulis tentang ini. Bahkan, sebelum membaca tulisan Dee tersebut. Sebetulnya sudah banyak juga yang membahasnya.

Akan tetapi, beberapa minggu yang lalu untuk kedua kalinya saya menonton Kick Andy episode AA Gym. Kali ini versi lengkapnya. Ternyata, banyak juga quote dan rahasia menarik dari cerita AA Gym yang tidak ditampilkan pada episode sebelumnya. Hanya saja, fokus saya kali ini bukan pada hal itu.

Sehubungan dengan spasi, ada yang menarik dari cerita pengalaman AA Gym di acara tersebut. Berdasarkan pengakuan AA Gym, tidak banyak yang tahu bahwa ternyata kesibukan dakwahnya selama ini malah menjerumuskan dirinya ke dalam rutinitas yang tidak sehat dan menjauhkannya dari keluarga. Tidak ada waktu untuk dirinya dan keluarga. Bahkan dalam dunia dakwah sekali pun, ternyata jika dilakukan terlalu berlebihan berdampak tidak sehat juga. Beliau menganalogikan dirinya dengan gergaji yang digunakan terus-menerus selama 5 tahun tanpa henti. Pada akhirnya gergaji tersebut akan tumpul, rusak dan tidak efektif lagi untuk memotong kayu.

Sudah sangat lumrah jika setiap orang memerlukan waktu untuk bisa menyendiri, merenung dan beristirahat. Itulah spasi, jarak, ruang kosong. Hanya saja, tidak sedikit juga yang menyadari fungsi aktivitas tersebut untuk kesehatan jiwanya. Memang setiap malam kita tidur, tapi itu hanya memenuhi kebutuhan fisik saja. Dan itu pun tidak selalu efektif. Sebab tidak jarang juga kita tidur dengan otak yang sibuk memikirkan pekerjaan dan rutinitas lainnya. Sementara kebutuhan jiwa seringkali tidak terpenuhi.

Oleh sebab itu, saya sangat memahami ketika beberapa orang sahabat saya belakangan ini melakukan kontemplasi. Bagaimanapun, kontemplasi adalah kebutuhan jiwa. Saya termasuk orang yang sering melakukan kontemplasi. Untungnya saya bisa berkontemplasi di mana pun. Bahkan dikeramaian. Paling sering di jalanan. Makanya, saya lebih suka duduk di dekat kaca bus atau kereta. Selain bisa menikmati pemandangan, pikiran saya bisa mengawang-awang. Merenung, muhasabah, berencana…apa saja yang terpikirkan. Itu sebabnya, saya memilih sendiri dan kurang berminat untuk mengobrol dengan orang lain jika melakukan perjalanan. Saya lebih suka membiarkan pikiran saya ‘melayang’ kemana-mana. Ada kalanya, ide muncul ketika itu. Ide apa pun.

Jiwa manusia itu memang unik. Ketika sudah ‘penuh’ yang terjadi adalah kejenuhan, saat itulah perlu ‘dikosongkan’. Ketika sudah kosong, tidak bisa dibiarkan terlalu lama. Harus diisi kembali. Dengan ilmu, dengan nasihat, dengan membaca. Barangkali, itulah sebabnya ada yang mengatakan bahwa para penulis adalah orang-orang yang sehat jiwanya. Sebab dalam diri penulis terjadi siklus ‘mengisi-mengosongkan’ yang kontinyu. Jiwanya selalu ‘baru’.

Ada saat mengisi jiwanya dengan bacaan-bacaan, dengan pengalaman dan informasi. Lalu, ketika seluruh ‘bahan’ tersebut terkumpul, bisa dipastikan, setiap penulis akan merasakan kegelisahan ketika ide-idenya belum tertuangkan ke dalam sebuah tulisan. Sangat mudah saja jika ingin ‘menyiksa’ penulis atau para blogger. Hindarkan dia dari kertas, dari buku, dari alat tulis, dari komputer, dari mesin tik…seorang penulis sejati akan gila diperlakukan seperti itu. Sebetulnya hal tersebut tidak hanya berlaku bagi para penulis, tapi juga untuk segala profesi yang berbasis karya. Musisi, penyair, pelukis, programer, desainer atau bahkan fotografer.

Dalam mitologi Yunani, diceritakan ada seorang tokoh yang dihukum oleh Dewa. Sisifus namanya. Hukumannya sederhana saja. Dia harus mengangkat sebuah batu yang besar, hingga ke puncak gunung, setelah tiba di atas gunung, batu itu harus digelindingkan lagi. Didorong lagi ke atas, untuk kemudian digelindingkan lagi. Seperti itu, terus menerus.

Bagi saya itu sebuah hukuman yang menyakitkan. Memang hukuman yang sederhana, tapi bayangkan yang terjadi pada jiwa kita. Kehampaan, kejenuhan, kebosanan. Kita melakukan hal tersebut terus menerus, sepanjang hidup, tanpa jeda. Tidak ada kesempatan untuk sekedar berencana. Ditambah lagi apa yang kita lakukan benar-benar tidak ada artinya. Bagi saya mengerikan. Tidak ada harapan, tidak ada impian sama sekali. Padahal impian dan harapan yang menjadikan hidup menjadi ‘sedikit’ lebih indah bukan?

Saya kemudian jadi terbayang, Islam menggambarkan berbagai macam hukuman dalam neraka bentuknya seperti itu. Bahkan, jika misalkan saya masuk neraka dan dihukum persis seperti Sisifus, itu saja sudah bisa membuat saya sangat tersiksa dan menderita. Apalagi pakai api segala…dibakar, hancur lebur, utuh lagi, dibakar lagi, hancur lebur, utuh lagi…neverending. Naudzubillahi.

C 1 H 3 U L 4 17 6. 230308.10.30

NB: ini sebetulnya draft tulisan yang tertunda sejak 2 bulan yang lalu. Rasanya kok nggak fokus ya? melenceng kemana-mana?

Page 2 of 6

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén