BBM, Buku dan Kurang Gizi
Refleksi May 14th, 2008
Satu kekhawatiran saya dengan naiknya BBM. Harga kertas naik, otomatis harga bahan bacaan (buku, majalah, etc) jadi naik juga. Selama ini, saya sering merelakan uang makan untuk sebuah buku. Pada akhirnya, hanya ada 2 pilihan jadi orang seperti saya dan mungkin juga orang Indonesia pada umumnya. Menjadi cerdas tapi kurang gizi, atau cukup makan tapi bodoh. Mau pilih mana?
Citamiang 61. 140508. 0830.
NB: Berharap ‘harga’ koneksi internet tidak ikut-ikutan naik 
Ruang Kosong
Artikel, Esai, Refleksi March 23rd, 2008
Salah satu favorit saya dalam buku Filosofi Kopi karya Dee (Dewi Lestari) adalah tulisan yang berjudul Spasi.
Seindah apa pun huruf terukir, dapatkah ia bermakna apabila tak ada jeda? Dapatkah ia dimengerti jika tak ada spasi?
Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak? Dan saling menyayang bila ada ruang? Kasih sayang akan membawa dua orang semakin berdekatan, tapi ia tak ingin mencekik, jadi ulurlah tali itu.
Napas akan melega dengan sepasang paru-paru yang tak dibagi. Darah mengalir deras dengan jantung yang tak dipakai 2 kali. Jiwa tidaklah dibelah, tapi bersua dengan jiwa lain yang searah. Jadi jangan lumpuhkan aku dengan mengatasnamakan kasih sayang.
Mari berkelana dengan rapat tapi tak dibebat. Janganlah saling membendung apabila tak ingin tersandung.
Pegang tanganku, tapi jangan terlalu erat, karena aku ingin seiring dan bukan digiring.
Dewi Lestari - Spasi
Spasi atau ruang kosong atau jarak. Sudah sejak lama sebetulnya saya ingin menulis tentang ini. Bahkan, sebelum membaca tulisan Dee tersebut. Sebetulnya sudah banyak juga yang membahasnya.
Akan tetapi, beberapa minggu yang lalu untuk kedua kalinya saya menonton Kick Andy episode AA Gym. Kali ini versi lengkapnya. Ternyata, banyak juga quote dan rahasia menarik dari cerita AA Gym yang tidak ditampilkan pada episode sebelumnya. Hanya saja, fokus saya kali ini bukan pada hal itu.
Sehubungan dengan spasi, ada yang menarik dari cerita pengalaman AA Gym di acara tersebut. Berdasarkan pengakuan AA Gym, tidak banyak yang tahu bahwa ternyata kesibukan dakwahnya selama ini malah menjerumuskan dirinya ke dalam rutinitas yang tidak sehat dan menjauhkannya dari keluarga. Tidak ada waktu untuk dirinya dan keluarga. Bahkan dalam dunia dakwah sekali pun, ternyata jika dilakukan terlalu berlebihan berdampak tidak sehat juga. Beliau menganalogikan dirinya dengan gergaji yang digunakan terus-menerus selama 5 tahun tanpa henti. Pada akhirnya gergaji tersebut akan tumpul, rusak dan tidak efektif lagi untuk memotong kayu.
Sudah sangat lumrah jika setiap orang memerlukan waktu untuk bisa menyendiri, merenung dan beristirahat. Itulah spasi, jarak, ruang kosong. Hanya saja, tidak sedikit juga yang menyadari fungsi aktivitas tersebut untuk kesehatan jiwanya. Memang setiap malam kita tidur, tapi itu hanya memenuhi kebutuhan fisik saja. Dan itu pun tidak selalu efektif. Sebab tidak jarang juga kita tidur dengan otak yang sibuk memikirkan pekerjaan dan rutinitas lainnya. Sementara kebutuhan jiwa seringkali tidak terpenuhi.
Oleh sebab itu, saya sangat memahami ketika beberapa orang sahabat saya belakangan ini melakukan kontemplasi. Bagaimanapun, kontemplasi adalah kebutuhan jiwa. Saya termasuk orang yang sering melakukan kontemplasi. Untungnya saya bisa berkontemplasi di mana pun. Bahkan dikeramaian. Paling sering di jalanan. Makanya, saya lebih suka duduk di dekat kaca bus atau kereta. Selain bisa menikmati pemandangan, pikiran saya bisa mengawang-awang. Merenung, muhasabah, berencana…apa saja yang terpikirkan. Itu sebabnya, saya memilih sendiri dan kurang berminat untuk mengobrol dengan orang lain jika melakukan perjalanan. Saya lebih suka membiarkan pikiran saya ‘melayang’ kemana-mana. Ada kalanya, ide muncul ketika itu. Ide apa pun.
Jiwa manusia itu memang unik. Ketika sudah ‘penuh’ yang terjadi adalah kejenuhan, saat itulah perlu ‘dikosongkan’. Ketika sudah kosong, tidak bisa dibiarkan terlalu lama. Harus diisi kembali. Dengan ilmu, dengan nasihat, dengan membaca. Barangkali, itulah sebabnya ada yang mengatakan bahwa para penulis adalah orang-orang yang sehat jiwanya. Sebab dalam diri penulis terjadi siklus ‘mengisi-mengosongkan’ yang kontinyu. Jiwanya selalu ‘baru’.
Ada saat mengisi jiwanya dengan bacaan-bacaan, dengan pengalaman dan informasi. Lalu, ketika seluruh ‘bahan’ tersebut terkumpul, bisa dipastikan, setiap penulis akan merasakan kegelisahan ketika ide-idenya belum tertuangkan ke dalam sebuah tulisan. Sangat mudah saja jika ingin ‘menyiksa’ penulis atau para blogger. Hindarkan dia dari kertas, dari buku, dari alat tulis, dari komputer, dari mesin tik…seorang penulis sejati akan gila diperlakukan seperti itu. Sebetulnya hal tersebut tidak hanya berlaku bagi para penulis, tapi juga untuk segala profesi yang berbasis karya. Musisi, penyair, pelukis, programer, desainer atau bahkan fotografer.
Dalam mitologi Yunani, diceritakan ada seorang tokoh yang dihukum oleh Dewa. Sisifus namanya. Hukumannya sederhana saja. Dia harus mengangkat sebuah batu yang besar, hingga ke puncak gunung, setelah tiba di atas gunung, batu itu harus digelindingkan lagi. Didorong lagi ke atas, untuk kemudian digelindingkan lagi. Seperti itu, terus menerus.
Bagi saya itu sebuah hukuman yang menyakitkan. Memang hukuman yang sederhana, tapi bayangkan yang terjadi pada jiwa kita. Kehampaan, kejenuhan, kebosanan. Kita melakukan hal tersebut terus menerus, sepanjang hidup, tanpa jeda. Tidak ada kesempatan untuk sekedar berencana. Ditambah lagi apa yang kita lakukan benar-benar tidak ada artinya. Bagi saya mengerikan. Tidak ada harapan, tidak ada impian sama sekali. Padahal impian dan harapan yang menjadikan hidup menjadi ’sedikit’ lebih indah bukan?
Saya kemudian jadi terbayang, Islam menggambarkan berbagai macam hukuman dalam neraka bentuknya seperti itu. Bahkan, jika misalkan saya masuk neraka dan dihukum persis seperti Sisifus, itu saja sudah bisa membuat saya sangat tersiksa dan menderita. Apalagi pakai api segala…dibakar, hancur lebur, utuh lagi, dibakar lagi, hancur lebur, utuh lagi…neverending. Naudzubillahi.
C 1 H 3 U L 4 17 6. 230308.10.30
NB: ini sebetulnya draft tulisan yang tertunda sejak 2 bulan yang lalu. Rasanya kok nggak fokus ya? melenceng kemana-mana?
Jangan (Terlalu) Terkejut
Refleksi February 23rd, 2008
Konon, menurut Departemen Per-cenah*-an, Pak Harto muda pernah mendapatkan sebuah petuah dari sang kakek, “Jangan Terkejut!“, katanya. Petuah itu coba diaplikasikan oleh Pak Harto selama hidupnya, dan itulah salah satu kunci mengapa beliau bisa ‘bertahan’ selama 32 tahun menjadi presiden di negeri ini. Itu juga salah satu kunci mengapa kita bisa menyaksikan beliau selalu tampil tersenyum setiap saat. Meskipun pada akhirnya, beliau mengalami post-power syndrome juga.
Kita terkejut jika mengalami atau mendapati sesuatu yang sebelumnya tidak pernah kita duga atau pikirkan. Tidak ada yang salah dengan menjadi terkejut karena itu adalah reaksi yang normal. Hanya saja, terkejut yang berlebihan cenderung menimbulkan kepanikan dan menghasilkan ekses negatif. Ketika seseorang menjadi panik, sikap dan tingkah lakunya cenderung tidak terkendali dan berpikiran pendek, bahkan dalam banyak kasus menyebabkan ‘mati’-nya logika.
Salah satu faktor yang menyebabkan maraknya kasus-kasus penipuan melalui email, SMS dan telepon adalah karena korban penipuan tersebut biasanya terlalu terkejut dengan apa yang ’sampai’ kepadanya. Sebetulnya, saya sering heran dengan masih banyaknya korban penipuan melalui modus operandi semacam itu. Akan tetapi, saya pun menyadari bahwa tidak semua orang adalah orang-orang yang well informed. Dan ke-terkejut-an itu pula yang menurut saya menjadi faktor dominan pada korban.
Saya pun pernah hampir percaya ketika ada SMS yang menyatakan bahwa saya mendapatkan hadiah sebesar 15 juta rupiah. ‘Hampir percaya’ dalam artian sempat tergoda. Siapa yang tidak tergoda uang sebesar itu datang sendiri? Meskipun akhirnya saya balas,”saya sedang sibuk dan tidak sempat mengurusi, duitnya buat anda saja“.
Belum lagi email yang menawarkan uang sebesar 500 milyar rupiah, bisa kaya mendadak saya.
Saya lupa persisnya kapan, yang jelas dalam beberapa tahun terakhir saya mencoba untuk menjadi orang yang tidak mudah terkejut dalam situasi apa pun. Memang terasa sekali kalau sekarang saya lebih tenang menghadapi apa pun. Setidaknya, itu yang saya rasakan, entah dengan pendapat orang lain. Apalagi, sejak lulus kuliah, saya beberapa kali mendapatkan kejutan yang memang tidak terpikirkan sebelumnya. Dengan ketenangan, hampir seluruh kejutan itu bisa dihadapi dengan baik karena pada saat kita tenanglah pikiran tetap jernih.
Beberapa bulan yang lalu, tidak lama setelah jadi operator warnet, saya mendapat tawaran untuk menjadi operator entry data di Dinas Kependudukan Bandung selama 1 bulan. Tawaran itu tidak langsung saya tolak, saya coba bicarakan dengan pihak warnet soal penjadwalan ulang, dan akhirnya keduanya bisa saya kerjakan. Selama kurang lebih 2 minggu saya bekerja selama 16 jam hampir tiap hari, dan masih harus mengikuti beberapa kegiatan organisasi juga. Kadang-kadang, saya hanya tidur 1 jam dalam sehari.
Kejutan datang ketika salah seorang kawan kuliah menelepon dan menawari saya untuk menjadi tenaga outsource selama 1 bulan di tempatnya bekerja. Dan, sungguh, tawarannya sangat menarik, tour ke beberapa kota di luar Jawa. Meskipun pada awalnya ragu karena bagaimanapun saya harus melepas 2 pekerjaan tersebut, akhirnya saya terima tawaran kawan tersebut. Saya bicarakan dengan pihak warnet dan koordinator tim entry data, alhamdulillah, saya dapat grant untuk tour tersebut. Bahkan, pihak warnet mengijinkan saya cuti selama 1 bulan. Dan…sepanjang bulan Ramadhan 1428H saya melakukan work-tour de Sumatera. Sayangnya, sampai saat ini, saya belum menuliskan pengalaman tersebut.
Adalah sebuah kejutan ketika di suatu pagi Kang Shodiq mengirim SMS dan meminta saya berkontribusi dalam buku “Istikharah Cinta“. Adalah sebuah kejutan ketika om Agus Hery menawari untuk menulis buku tentang beberapa ‘tokoh’ blog Indonesia. Dan sebuah kejutan juga ketika di tengah-tengah mengejar deadline untuk kejar setoran, saya mendapatkan panggilan interview di sebuah perusahaan konsultan di Bandung, diterima bergabung dan hari kerja pertama saya langsung dikirim tugas ke Jakarta. Padahal, seingat saya, setahun yang lalu terakhir kali saya mengirim lamaran pekerjaan. Semua itu bisa saya lalui dengan baik meskipun bukan tanpa hambatan.
Sepanjang hidup kita akan selalu dihadapkan dengan berbagai kejutan. Terkejut apalagi sampai panik, bukanlah cara yang bijak untuk menghadapi setiap kejutan tersebut. Sebab seringkali kesempatan yang baik berlalu begitu saja bukan karena kita tidak bisa mendapatkannya, tetapi karena kita tidak siap dengan kejutan tersebut. Semakin siap seseorang terhadap kejutan, semakin tenang orang tersebut. Itulah yang coba saya terapkan dalam hidup saya, tetap aware dengan apa pun yang mungkin terjadi, apa pun yang ditawarkan oleh ‘kehidupan’ kepada saya.
Setahu saya, ini juga salah satu rahasia orang-orang sukses. Mereka selalu siap dengan peluang atau kejutan yang menghampiri mereka. Bukan hanya siap mengatakan “ya”, tetapi juga siap mengatakan “tidak” terhadap setiap tawaran yang datang. Bukan hanya siap rugi, tetapi juga siap untung. Selain itu, siap terkenal, sebab tidak sedikit orang yang menjadi hancur hidupnya justru setelah menjadi tenar.
Maka, saya pun tidak terlalu terkejut dan masih bisa tertawa riang gembira tersenyum pahit ketika berabad-abad berbulan-bulan yang lalu saya mendapatkan kabar, “Kang Donny, ternyata si teteh yang-namanya-tidak-boleh-disebut itu mah udah ada yang khitbah (lamar)” dan “Wah, telat Don, dia sudah proses sama orang lain“. *Plak!! Kenapa ujungnya jadi begini ya?!*
*cenah (bhs sunda): katanya, konon
** gambar saya culik dari sini
C 1 H 3 U L 4 17 6. 230208. 04.10.
One Question
Refleksi February 3rd, 2008
Apa kabar keimananmu hari ini, saudaraku? ![]()
Pak Harto di Hatiku
Refleksi January 28th, 2008
Haduh, judulnya :-p
Kemarin siang, setelah pulang dari sebuah kegiatan yang berlangsung semalaman, saya melihat berita. “Pak Harto Kritis”, judul berita tersebut. Entah kenapa, saat itu saya merasa tidak yakin bahwa beliau akan bertahan lebih lama lagi. Prediksi saya, siang itu akan jadi hari terakhirnya. Barangkali karena saya juga sudah terlalu jenuh dengan ekspose media yang berlebihan mengenai kondisi kesehatannya. Benar saja, ketika terbangun dari tidur saya melihat televisi dengan judul yang sudah berubah, “Pak Harto Wafat”. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.
Secara personal, saya tidak punya masalah apa pun dengan Bapak Pembangunan tersebut. Pun, tidak merasa berhutang budi. Netral. Tidak terlalu bangga dengan ‘prestasi’ yang pernah dicapai selama kepemimpinannya, juga tidak terlalu membabi buta mencaci apalagi sampai menghinakan ‘kesalahan’-nya. He’s not Superman. Namun, bahwa beliau memiliki karisma dan seorang tokoh yang kontroversial, patut diakui. Dicintai, pada saat yang sama juga ditakuti sekaligus dibenci. Bukankah panggung sejarah dipenuhi oleh tokoh-tokoh semacam ini? Jadi, ndak mesti heran toh?
Pada dasarnya, barangkali sebagian besar masyarakat Indonesia sudah memaafkan atau bahkan melupakan kesalahannya, seperti juga ‘kita’ sudah memaafkan dan melupakan kesalahan Soekarno. Saya jadi ingat salah seorang tokoh favorit saya, HAMKA. Betapa pun beliau pernah merasakan penderitaan akibat perlakuan Soekarno, HAMKA masih berbesar hati untuk menjadi imam shalat jenazah Soekarno. Kali ini pun saya melihat hal yang serupa terjadi pada diri AM Fatwa, tahanan politik zaman Soeharto, yang bersedia untuk melayat jenazah Soeharto. Sungguh, sebuah sikap yang patut dipuji.
Sebagai seorang suami, ayah dan kakek, saya melihat Pak Harto sebagai sosok yang hangat dan penuh kasih sayang. Akan tetapi, sebagai seorang Presiden, tindakan atau kebijakannya yang dirasa ‘merugikan’ -mungkin- dirasa perlu saat itu, demi stabilitas negara. Benar dan salah, hanya masalah perspektif saja. Saya sendiri tidak pernah meragukan nasionalisme dan loyalitasnya terhadap bangsa Indonesia. Hanya saja kekuasaan memang kerap menjerumuskan manusia, apalagi jika disekitarnya adalah para penjilat yang mencari aman dan kesenangan dirinya sendiri. Dan, entah mengapa saya merasa yakin meskipun tanpa bukti, 32 tahun Pak Harto berkuasa sebagiannya merupakan andil para penjilat ini.
Dan, sekarang, saya hanya bisa berdo’a, semoga beliau baik-baik saja di alam sana. Hanya saja, saya penasaran, sewaktu beliau sekarat, ada yang membimbing beliau untuk mengucapkan kalimat tahlil tidak ya?! Rasanya keterlaluan jika diantara banyak manusia dan ekspose media yang bertubi-tubi itu, tidak ada satu pun orang yang mengingatkan keluarganya untuk melakukan hal itu.
C 1 H 3 U L 4 7 6. 280108.07.00
NB: saya kok malah paling suka melihat ekspresi sedih-nya pak Harto ketika prosesi pemakaman ibu Tien ya? Beda aja, jarang-jarang melihat ekspresi beliau seperti itu.