Category: Refleksi (Page 1 of 6)

Jodoh

Sebelum melanjutkan membaca tulisan ini, pertimbangkan untuk memutar lagu “Cari Jodoh” dari Wali. Heu heu. Sudah? Lanjuuuuttt…

Sudah terlalu lama saya menunda menulis tentang topik yang satu ini: jodoh. Akan tetapi, kesibukan dan kemalasan saya membuat tulisan yang saya rencanakan itu tidak pernah terwujud. Sebelum terjadi kesalahpahaman, saya tidak bermaksud menjadikan tulisan ini sebagai sebuah tips dan trik atau tutorial mencari jodoh. Saya pun sesungguhnya bodoh dalam hal tersebut. Namun, barangkali tulisan ini bisa menjadi sebuah masukan, bahan pemikiran atau diskusi bersama. *PD banget*

Sebagai informasi saja, pengunjung yang  masuk ke blog saya paling banyak karena melakukan pencarian dengan kata kunci: “jodoh” atau “takdir” pada mesin pencarian, utamanya Google. Halaman yang paling banyak dikunjungi adalah sebuah halaman yang berisi tulisan lama saya, tulisan yang saya pindahkan dari blog lama ke blog ini. Tulisan itu berjudul: “Takdir: Rezeki, Jodoh dan Kematian“. Jika Anda melakukan pencarian dengan kata “takdir” di google.co.id, link tulisan itu akan muncul di halaman pertama. Perlu diketahui, tulisan tersebut saya buat tahun 2006. Lebih dari 5 tahun yang lalu! Jadi, dalam beberapa hal yang muncul di tulisan tersebut, mungkin sudah tidak relevan lagi dengan apa yang saya pikirkan sekarang.

Tulisan tersebut, juga tulisan lain berjudul “Seri Takdir“, merupakan pemahaman saya tentang bagaimana takdir “bekerja”, yang juga menjadi spirit dari tulisan ini. Ya, tentu saja, pemahaman saya sangat terpengaruh oleh Islam, meskipun tidak sempurna. Intinya, bagi saya, takdir itu merupakan sesuatu yang telah terjadi pada diri kita. Cerita hidup kita merupakan sekumpulan takdir, yang ditentukan oleh pilihan-pilihan yang telah kita lakukan. Meskipun, ada masa di mana takdir kita ditentukan oleh pilihan orang-orang di luar diri kita. Misalnya, saat memulai sekolah dasar, sekolah tersebut dipilihkan oleh orang tua kita, atau baju yang kita gunakan saat bayi. Kita bahkan tidak dapat memilih saat dilahirkan oleh orang tua kita. Itulah sebabnya ada masa aqil baligh dalam Islam, saat seseorang sudah dianggap dapat mempertanggungjawabkan segala yang dilakukannya. Maka dari itu, persoalan jodoh sudah pasti merupakan bagian dari takdir itu sendiri.

Semangat untuk mewujudkan tulisan ini salah satunya dipicu dari aktifitas di twitter. Namun pemicu utamanya karena melihat fenomena pencarian jodoh itu sendiri. Pada suatu sore, Teh Ratna mengomentari sebuah kicauan dari akun twitter yang banyak memiliki follower. Status twit tersebut dapat dibaca pada gambar di bawah:

twitjodoh

Melihat twit tersebut, pikiran iseng dan jail saya terpicu. Entah mengapa, setiap kali membaca kata-kata mutiara, saya sering tergoda untuk mencari celah dari maksud tulisan tersebut, sehingga kata-kata mutiara tersebut jadi kehilangan maknanya. Ah, intinya sih saya suka merusak suasana dan mood orang lain :)). Segera setelah membaca twit Teh Ratna itu, saya pun iseng mengomentari:

twitjodoh2

Obrolan tersebut kemudian berlanjut, dengan melibatkan juga yang lain. Namun, seluruh obrolan itu tidak akan saya tampilkan di sini. Intinya yang ingin saya sampaikan adalah sering kali kita mengeluhkan susahnya mendapatkan jodoh, lalu mencoba mencari pembenaran seolah-olah Tuhan menunda pertemuan kita dengan jodoh terbaik yang sudah Tuhan siapkan untuk kita. Sementara, barangkali yang sesungguhnya terjadi adalah Tuhan sudah ‘mengirim’ seseorang terbaik ke hadapan kita, lalu kita menolaknya karena tidak sesuai dengan kriteria yang ada di benak kita. Mungkin saja orang tersebut sudah sangat dekat, tapi ‘makhluk sempurna’ di dalam benak kitalah yang membutakan mata dan pikiran kita. Mungkin juga, jika Anda seorang wanita, orang tersebut sudah berniat melamar Anda, tapi Anda menolaknya karena, “kurang sreg di hati“. Begitu alasan Anda. Padahal, bisa jadi Anda sendiri tidak yakin dengan alasan tersebut karena sudah terlalu dibutakan oleh angan-angan Anda. Lucunya, setelah itu, Anda masih mengeluh betapa susahnya mencari jodoh. Jodoh yang sempurna, tentu saja.

Tentu, setiap orang memiliki kriteria jodoh yang diidam-idamkannya. Itu hak azasi setiap orang. Saya pun memiliki kriteria, namun sedapat mungkin kriteria tersebut tidak membelenggu dan menyulitkan dalam mencari jodoh. Sayangnya, yang terjadi pada sebagian orang, kriteria tersebut betul-betul menjadi belenggu, karena kriteria yang ditentukan terlalu sempurna dan jodoh yang diinginkan harus memenuhi kriteria tersebut. Jika Anda merupakan salah satu dari orang tersebut, yakinlah proses pencarian jodoh Anda akan sangat sulit. Salah seorang kawan saya pernah mengatakan, “pasangan sempurna bagi kita itu ada 2 orang, satu orang meninggal saat kita dilahirkan, dan satu orang lagi  dilahirkan saat kita meninggal“. Saya tidak tahu dia mendapatkan quote tersebut dari siapa, tapi sangat jelas kebenaran kata-katanya.

Selain kriteria, masalah lain yang mengganggu saya adalah dari usaha dan proses yang dilakukan. Dalam generasi saat ini, tertanam sebuah pemikiran bahwa proses perjodohan -di mana sebuah pasangan dijodohkan oleh orang tua mereka- itu sudah sangat ketinggalan zaman. Kuno. Primitif. Melanggar HAM. Siti Nurbaya adalah simbol negatifnya proses perjodohan tersebut. Padahal, jika pun ada, Siti Nurbaya hanya setitik di antara seluruh proses perjodohan yang hasilnya merupakan orang-orang generasi sekarang. Anda mungkin perlu sesekali bertanya pada orang tua atau kakek-nenek Anda, bagaimana proses mereka bertemu dan menikah? Dijodohkan? Mencari sendiri?

Orang-orang masa kini merasa harga dirinya jatuh, jika untuk masalah jodoh saja masih dicarikan atau dijodohkan. Mereka merasa sangat yakin dengan kemampuannya untuk mencari jodoh sendiri. Percaya diri boleh saja, tapi terlalu percaya diri bisa mengantarkan pada kesombongan. Dengan kesombongan itu, mereka kemudian mulai menganggap bahwa dijodohkan adalah tabu. Dicarikan jodoh adalah hina. Lalu ‘pintu-pintu’ tersebut mereka tutup sama sekali, padahal bisa jadi, calon jodoh terdekat atau terbaik berasal dari pintu itu. Hari-hari, minggu-minggu, bulan-bulan serta tahun-tahun selanjutnya, mereka masih mengeluh susahnya mendapatkan jodoh. Dijodohkan tak mau, mencari sendiri tak menghasilkan. Selamat!

Saya pun pernah berada dalam kondisi tersebut. Merasa mampu mendapatkan jodoh sendiri, namun tak menghasilkan sama sekali, sampai merasa putus asa dan kehilangan kepercayaan diri. Proses perenungan yang akhirnya membuat saya memutuskan untuk … kompromi. Saya tidak memiliki masalah dengan kriteria, karena pada dasarnya kriteria yang saya tentukan fleksibel, meskipun ada poin-poin yang wajib dipenuhi, tapi tidak menyulitkan karena sifatnya umum saja dan fungsinya untuk memudahkan pada saat penyeleksian yang pada akhirnya terjadi secara alami. Dalam kasus saya, wanita berjilbab adalah salah satu poin yang harus dipenuhi, sehingga sadar atau tidak sadar, saya benar-benar tidak pernah tertarik untuk ‘mengejar’ wanita yang tidak berjilbab.

Kriteria tidak bermasalah, maka yang menjadi perhatian saya adalah usaha dan proses. Akhirnya, saya mulai membuka diri terhadap usaha orang tua mencarikan jodoh buat saya. Saya memberanikan diri untuk minta dicarikan jodoh pada teman-teman saya. Saya juga ingat dengan nasihat-nasihat lain dari kawan atau dari ceramah-ceramah, silaturahim alias gaul!

Seorang kawan pernah menasihati saya. Kenali banyak lawan jenis tapi jangan terlalu cepat apalagi  langsung menaruh hati pada mereka, karena saat hati mulai terlibat, segalanya akan menjadi mulai sulit. Kenali, tapi tidak terlalu dekat, tidak juga terlalu berjarak. Dalam proses tersebut, usahakan tidak terlalu dibebani oleh masalah-masalah jodoh tersebut. Bersenang-senanglah! Itu menurut kawan saya. Mohon tidak disalahpahami, bersenang-senang di sini bukan dalam arti negatif seperti playboy, tapi lebih ke diri sendiri dalam menikmati proses tersebut yang dilakukan dengan kesabaran, tidak terburu-buru. Meskipun sebetulnya hal ini lebih ‘mudah’ dilakukan oleh laki-laki daripada oleh perempuan.

Itulah yang saya lakukan kemudian. Membuka pintu-pintu datangnya jodoh tersebut. Mencoba untuk lebih rendah hati dengan menyadari kelemahan-kelemahan yang saya miliki. Apa yang terjadi kemudian cukup menarik. Orang tua saya, misalnya, diam-diam berusaha menjodohkan saya dengan beberapa perempuan yang merupakan anak dari teman atau tetangga. Beberapa teman saya menawari juga beberapa orang yang mereka pilihkan. Lucunya, saya menjatuhkan pilihan pada istri saya sekarang, yang merupakan proses pencarian sendiri.

Masalah lain barangkali definisi jodoh itu sendiri. Bagi saya, jodoh adalah istri, bukan pacar. Hal tersebut juga berpengaruh terhadap proses pencarian jodoh tersebut. Sehingga, yang saya cari adalah seseorang untuk dijadikan istri, dan yang saya siapkan sesungguhnya adalah mental untuk menjadi suami. Oleh sebab itu, proses pernikahan saya termasuk cepat dan terkesan mendadak, bahkan bagi orang tua saya. Akan tetapi, proses pembentukan mental menjadi suami itulah yang sudah lama saya bangun, bahkan sejak masih SMA.

Dalam pengambilan keputusan menikah, tentu bukan tanpa keraguan. Akan tetapi, yang saya lakukan adalah mengupayakan agar keyakinan saya tidak sampai diambil alih oleh keraguan saya. Saya mempercayai bahwa pernikahan adalah ibadah, maka saya yakin Allah akan membimbing. Saya tahu bahwa -saat itu- calon istri saya adalah seseorang yang baik, dilihat dari sikapnya, harapan-harapannya, orang-orang di sekitarnya, maka saya yakin bahwa kami bisa membangun sebuah keluarga yang baik. Saya tahu calon istri saya pasti memiliki kekurangan yang setelah menikah baru akan terungkap, tapi siapa yang tidak memilikinya? Oleh sebab itu, saya merasa mantap untuk melangkah dan mengikis keraguan-keraguan itu sampai sekecil mungkin. Dan di titik takdir ini lah saya sekarang, sebagai seorang suami, seorang ayah, masih dalam proses membangun keluarga yang barokah. Bagaimana dengan Anda?

(itu kalimat terakhir ngeledek banget sih, mudah-mudahan gak ada yang doa’in keburukan buat saya. heu heu.)

loading...

Prosedur Memanusiakan Manusia

Kehidupan masa kini, rasa-rasanya, semakin dibikin rumit dari waktu ke waktu. Karena dibikin rumit, manusia seperti kehilangan selera humor. Barangkali lebih parah, nuraninya mati. Gara-gara kentut, orang bisa dipenjara. Gara-gara memungut kakao yang jatuh, sebuah perusahaan menuntut seorang nenek ke pengadilan. Segalanya dibuat harus prosedural.

Lucunya, semakin prosedural suatu sistem, seringkali jadi bikin rumit. Acara open house presiden misalnya. Orang miskin mustahil bisa masuk apalagi bertemu sang presiden, karena untuk menghadiri acara semacam itu, seseorang harus berpenampilan sesuai prosedur. Harus memakai kemeja, harus memakai sepatu, dan lain-lain. Ironinya, presiden tersebut dipilih juga oleh mereka yang kesehariannya bersendal jepit dan berkaos oblong. Bayangkan, hal tersebut terjadi di sebuah negara yang memiliki falsafah ‘Bhinneka Tunggal Ika‘ dan sangat gemar meneriakkan demokrasi, toleransi, pluralisme, dan anti-diskriminasi. Lucu, bukan?!

Seorang yang menjadi korban kecelakaan, misalnya tertabrak mobil, tidak bisa langsung mendapatkan perawatan dari rumah sakit, meskipun sekarat, jika tidak ada orang lain yang bertanggung jawab dan menanggung biaya perawatan. Padahal, bisa jadi orang tersebut hidup seorang diri, atau keluarganya jauh. Mungkin perawat dan dokter ingin menolong, tapi prosedur melarang. Di sisi lain mereka pun belum tentu sanggup menanggung biaya sang korban. Prosedural, tapi amoral.

Lalu, bukankah cerita korupsi di negeri ini juga bermula karena segala sesuatunya harus prosedural?! Bukannya anti-prosedur, tapi sebuah prosedur semestinya tidak menghalangi seseorang untuk bersikap sebagai manusia. Atau barangkali lebih baik jika suatu prosedur dibuat untuk memanusiakan manusia. Misalnya, jika Anda sebagai seorang Lurah, Anda tidak layak menyalahkan seseorang yang tidak mau membuat KTP karena penghasilan orang tersebut setiap bulannya belum tentu mencukupi untuk kebutuhan makan sehari-hari, sementara proses pembuatan KTP di kelurahan yang Anda pimpin bisa mencapai harga setengah dari penghasilan orang tersebut. Justru tugas Anda lah -sebagai lurah- untuk membuatkan KTP bagi orang tersebut. Meskipun menyalahi prosedur.

Sebuah prosedur dibuat pada dasarnya untuk memudahkan, bukan menyulitkan. Agar suatu proses dilakukan secara bertahap, teratur serta ‘adil’. Akan tetapi, manusia sebagai unsur terpenting dari suatu proses yang dilakukan secara prosedural, seringkali dilupakan. Kondisi manusia yang berbeda-beda sering menjadi unsur penyebab suatu prosedur tidak berjalan sempurna. Sayangnya, penyusun prosedur, yang juga manusia, selalu melupakan hal ini.

Contoh sebuah prosedur yang baik, yang dapat kita temukan adalah prosedur shalat. Normalnya, shalat wajib dilakukan dengan berdiri. Akan tetapi, prosedur normal itu boleh dan malah dianjurkan untuk dilanggar jika seseorang dalam kondisi sakit, atau tidak mampu untuk melakukan shalat. Misalnya sambil duduk. Jika tidak mampu duduk, boleh berbaring. Anda juga boleh bertayammum dalam keadaan sakit atau dalam situasi tidak ada air sama sekali. Justru ketika seseorang tidak mampu, tapi memaksakan diri, maka orang tersebut wajib untuk diberi peringatan.

Prosedur semacam itu, terus terang saja, sulit ditemukan. Entah dengan sekarang, tapi bertahun-tahun lalu kita sering menemukan seorang anak yang berhenti sekolah gara-gara belum membayar uang bulanan sekolah. Itu terjadi di sekolah, lembaga yang bidang utamanya mengajar dan mendidik manusia. Maka, tidak mengherankan jika dari sekolah tersebut menghasilkan manusia-manusia yang ‘kejam’, tapi dibenarkan oleh prosedur.

Komputer dan robot adalah contoh benda-benda yang bisa melakukan segalanya sesuai prosedur, dan harus sesuai prosedur, karena keduanya diciptakan untuk itu. Maka, jika manusia dituntut harus selalu melakukan segalanya sesuai prosedur dan tidak boleh sedikitpun keluar dari prosedur tersebut, bukankah itu sebuah cara untuk menjadikan manusia sebagai benda?! Yakin, siapa pun tidak ingin hal tersebut terjadi.

The Art of Decision Making

Ada saat dimana mengambil sebuah keputusan bukan hal yang mudah.  Bahkan menjadi teramat sulit.  Kesulitannya bukan pada bagaimana keputusan itu diambil atau keputusan apa yang akan diambil.  Akan tetapi, lebih kepada apa dampak yang mungkin timbul ketika suatu keputusan diambil.  Apalagi jika hal tersebut berhubungan dengan masa depan kita, atau bahkan nasib seseorang atau orang lain.  Persoalannya, pikiran-pikiran buruk tentang dampak yang akan timbul setelah keputusan diambil lebih sering terbayang-bayang daripada hal-hal baik yang mungkin terjadi.

Keputusan untuk berhenti kerja atau menikah, misalnya, adakalanya menjadi sangat rumit.  Muncul macam-macam pertimbangan yang sebetulnya hanya ketakutan-ketakutan saja.  Takut susah dapat pekerjaan lain, takut susah memberi makan anak dan istri, dan lain-lain.  Sementara pada saat yang bersamaan, hati dan pikiran sudah tidak ada di tempat kerja sekarang.  Resah, mengawang kemana-mana.  Sudah tidak nyaman, sudah tidak fokus lagi.  Sehingga, akhirnya, kinerja semakin menurun tapi takut untuk keluar dari pekerjaan yang sudah tidak bisa dinikmati lagi.

Situasi seperti sekarang, dimana banyak perusahaan kolaps akibat krisis ekonomi dan terjadi PHK dimana-mana, membuat keputusan untuk keluar dari tempat kerja menjadi semakin sulit.  Jangan-jangan, tidak ada lowongan di tempat lain yang akan menerima kita.  Sementara untuk membuka usaha sendiri belum mampu, skill juga pas-pasan dan pengalaman kerja juga belum banyak.

Anda mungkin pernah ada dalam situasi dimana anda tidak pernah benar-benar bisa menikmati apa yang sedang anda kerjakan.  Akan tetapi, tuntutan kebutuhan untuk bertahan hidup membuat anda tetap bertahan melakukan pekerjaan tersebut.  Bagaimanapun memuakan, stressfull dan membosankannya pekerjaan tersebut, anda tetap bertahan. Bahkan untuk mencari pekerjaan lain pun anda tidak sempat, karena waktu anda habis tercurah untuk pekerjaan sekarang.   Meskipun ketika anda bekerja, anda tidak merasakan apa yang disebut dengan antusiasme, passion, with pleasure, apalagi cinta.  Padahal itu merupakan faktor paling penting anda bisa bekerja dengan baik dan bersungguh-sungguh.  Akhirnya, anda mengeluh terus setiap bekerja.  Ketika mengeluh sudah menjadi bagian pekerjaan anda setiap saat, bisa dipastikan anda sudah tidak nyaman dengan pekerjaan anda.

Berhenti saja!“, Itu yang sering saya katakan kepada orang lain jika ada yang curhat tentang hal semacam itu.  Tentunya kepada diri sendiri juga.  Beberapa kali juga saya mengatakan kalau memang sudah tidak bisa merasa bahagia dengan apa yang dikerjakan sekarang, untuk apalagi dipertahankan?  Soal besok kerja apa? kerja dimana? makan apa? Itu urusan besok, bukan sekarang.  Anda kan tidak tahu apa besok masih hidup atau tidak?  Anda juga tidak pernah benar-benar tahu tempat bekerja anda sekarang akan  bertahan atau tidak esok pagi?  Daripada menyiksa diri terus-menerus, ya sudah, berhenti saja.  Jika dengan berhenti dari tempat kerja sekarang membuat bahagia, lakukan saja! Besok-besok, jika masih hidup, berusaha lagi saja mencari tempat kerja lain, yang bisa anda nikmati, yang bisa anda cintai.

Ekstrim? mungkin. Akan tetapi, dengan argumen semacam itu, setidaknya sudah dua orang yang terpengaruh dan memutuskan untuk berhenti bekerja dari tempat kerjanya dengan alasan sudah tidak nyaman lagi.  Toh, kenyataannya mereka masih hidup sampai sekarang.  Terlepas dari apakah mereka bahagia dengan kehidupannya yang sekarang atau tidak.  Setidaknya, satu beban pikiran sudah lepas, daripada sepanjang hidup dibebani oleh hal semacam itu terus menerus.

Tidak perlu menunggu “waktu yang tepat”, sebab barangkali apa yang disebut dengan waktu yang tepat itu tidak pernah ada.  Anda lah yang menciptakan waktu yang tepat itu untuk anda sendiri.  Bukan orang lain, bukan situasi tempat kerja anda, bukan juga manajemen perusahaan.  Seburuk apa pun situasinya, atau bahkan sepenting apa pun posisi anda di perusahaan, waktu yang tepat itu anda yang tentukan.  Sebab, jika tidak begitu, anda akan terus terseret dan semakin larut bahkan dibebani pekerjaan yang tidak anda sukai setiap saat.  Orang lain atau manajeman bahkan akan merasa tidak perlu dan tidak ingin tahu kalau anda suka atau tidak dengan pekerjaan itu.  Buat mereka, profesionalisme anda yang dituntut, sebab anda digaji untuk itu.  Masa bodoh anda suka atau tidak dengan tugas yang dibebankan kepada anda.

Tidak perlu juga merasa kasihan kepada orang-orang yang akan anda tinggalkan di tempat kerja.  Percayalah, mereka juga tidak akan merasa kasihan kepada anda jika menyangkut urusan pekerjaan.  Tega sajalah! Jika tidak begitu, anda yang ditegai, sebab -sekali lagi- profesionalisme anda yang dituntut.  Anda juga tidak bisa mengharapkan orang memahami perasaan anda, karena orang lain juga barangkali memiliki masalah yang sama atau bahkan lebih berat daripada anda.

Sungguh sangat merugi jika sepanjang hidup anda dihabiskan dengan hal-hal yang membuat anda tidak bisa merasakan hidup itu sendiri.  Jika selama ini anda sudah berusaha untuk berdamai dengan apa yang anda lakukan, dan masih sulit atau bahkan tidak bisa juga merasakan kebahagiaan, sudah saatnya anda berhenti melakukannya.  Cari hal lain yang bisa anda lakukan, dan anda senang melakukannya.  Jika masih belum dapat juga, teruskan melakukan pencarian.  Itu lebih baik daripada anda terjebak dalam sesuatu yang anda benci dan menghabiskan banyak waktu untuk memikirkan bahkan mengeluhkannya.

Saya sih percaya satu hal.  Pemberi rezeki itu bukan manusia, ada Allah SWT  yang Maha Pemberi Rezeki.  Dia yang lebih kaya daripada manusia.  Kekayaan manusia itu tidak ada ‘seujungkukunya’ kekayaan Allah SWT.  Saya juga sangat yakin bahwa pintu rezeki yang Allah miliki tidak hanya satu, tapi ribuan atau bahkan jutaan pintu rezeki.  Maka, ketika kita meninggalkan satu pintu rezeki, yang sesungguhnya kita lakukan adalah membuka peluang pada diri sendiri untuk bisa membuka pintu yang lain, bahkan tidak hanya satu pintu, tapi juga berpintu-pintu.  Hanya saja, ada pintu yang perlu usaha keras untuk membukanya, ada juga yang sangat mudah membukanya.  Ada pintu yang memberi rezeki banyak, ada juga yang tidak.  Jika anda sudah sangat yakin bahwa Allah SWT akan tetap memberikan rezekinya sepanjang hidup anda, apa lagi yang perlu anda takuti?

NB: Kamu memintaku untuk menuliskan sesuatu, inilah yang bisa kutuliskan.  Tidak banyak … tapi barangkali bisa memberikan arti 🙂

Parade Kemiskinan

Sepanjang sejarah manusia, tidak ada satu hal yang lebih ditakuti, dihindari dan dibenci melebihi kemiskinan. Tidak ada orang yang ingin disebut orang miskin atau ingin menjadi orang miskin. Status dan harga diri suatu bangsa pun dinilai dari jumlah orang miskinnya. Semakin banyak angka kemiskinan, semakin rendah harga diri bangsa tersebut dihadapan bangsa lainnya.

Persoalan kemiskinan bukan masalah kontemporer saja, tapi sudah terjadi sepanjang zaman. Hal tersebut juga menjadi tantangan yang selalu dihadapi oleh para pemimpin dunia. Adalah suatu aib bagi seorang pemimpin, jika dibawah kepemimpinannya, jumlah orang miskin tidak berkurang, apalagi malah semakin bertambah. Angka kemiskinan juga menjadi obyek politik yang cukup ampuh untuk menjatuhkan seorang pemimpin. Tidak heran jika setiap kelompok mengumpulkan angka kemiskinan untuk mempromosikan dirinya sekaligus menjatuhkan kelompok lain.

Kemiskinan -meskipun tidak selalu- identik dengan kriminalitas, kebodohan, penindasan, kelemahan dan -jika dipandang dari sudut agama Islam- bisa mendekati kekufuran. Bahkan, barangkali sering terjadi, secara tidak sadar kita memandang orang lain yang secara materi termasuk dalam kategori miskin, dengan sebelah mata, merendahkan atau menghinakan. Meskipun dengan kemiskinannya, orang tersebut tidak memberikan masalah sedikit pun bagi kita.

Kemiskinan bisa dipandang sebagai dua hal. Sebagai sebab dan sebagai akibat. Sebagai sebab, kemiskinan adalah akar dari sebagian besar tindak kriminalitas. Barangkali sudah cukup bosan kita mendengar atau membaca berita tentang pencurian, perampokan atau pembunuhan yang disebabkan kondisi kemiskinan pelakunya. Tidak sedikit pula berita tentang kasus-kasus bunuh diri atau kelaparan yang disebabkan kemiskinan. Dari sisi ini, kita dapat memandang bahwa kemiskinan sangat jahat.

Sebagai sebuah akibat, kemiskinan merupakan suatu produk. Produk dari ketidakadilan. Ketidakadilan pemimpin, hukum atau sistem, bahkan ketiganya. Pemimpin yang tidak adil akan menempatkan orang miskin sebagai ‘sampah’ yang tidak perlu dipikirkan. Sehingga, pemimpin seperti ini hanya akan mementingkan kepentingan dirinya dan orang-orang disekitarnya, tidak peduli jutaan orang merintih dalam kemiskinannya. Ketidakadilan hukum akan menempatkan orang miskin dalam posisi lemah, apalagi jika hukum bisa dijualbelikan, semakin menderitalah orang miskin. Padahal, hukum harus seimbang dan adil. Ketidakadilan sistem akan membuka peluang orang miskin tertindas, karena dalam sistem yang tidak adil, terjadi hukum rimba; yang kuat dan ber-uang lah yang berkuasa. Suara orang miskin tidak akan didengarkan.

Untuk mengatasi permasalahan kemiskinan, akan lebih mudah jika memandang kemiskinan sebagai akibat atau produk dari ketidakadilan. Artinya, dengan cara tersebut, pertanyaan apa yang menyebabkan terjadinya kemiskinan akan lebih mudah terjawab. Meskipun bukan hal yang mudah menanggulangi kemiskinan, dengan mengetahui sumber penyebab kemiskinan, setidaknya solusi yang bisa diberikan sudah bisa terbayangkan.

Tentu saja, kita merindukan rasa tenang, nyaman, aman dan damai. Akan tetapi, percayalah, hal itu semua tidak akan tercapai jika persoalan kemiskinan masih menjadi masalah terbesar di sekitar kita. Bahkan, barangkali yang sebenarnya terjadi, persoalan kemiskinan merupakan akibat dari ketidakpedulian kita terhadap hal-hal yang menjadi sumber kemiskinan.  Atau, jangan-jangan, kita lah penyebab terjadinya kemisikinan itu!!

Salut dan respek terhadap mereka yang turun langsung dan mengorbankan seluruh waktu, tenaga, materi dan pikirannya untuk mengentaskan kemiskinan.  Sekecil apa pun usaha mereka.  Dan kita? Masa hanya sekedar mau jadi penonton?! :angelpusing:

PS: Ini tulisan yang dibuat karena terpaksa, hasilnya juga rada maksa, salah sendiri maksa-in ikut-ikutan  blogactionday2008 dengan tema poverty. :setan1:

Another PS: Kamu tahu … ada yang lebih menakutkanku daripada miskin materi, adalah miskin cinta-Nya dan miskin mencintai-Nya.

Bukan Hanya Salah Fir’aun

Sebuah kesalahan, betapa pun kecilnya, akan menjadi besar tingkat mudharat nya apabila dibiarkan oleh orang-orang yang mengetahui kebenaran, tapi mendiamkannya, menolerir atau bahkan menyetujuinya. Pada akhirnya, kesalahan tersebut akan membudaya dan sulit untuk diperbaiki. Bahkan ketika sesuatu yang benar disampaikan, hal tersebut akan dianggap aneh, asing dan dianggap melawan arus.

Masjid di dekat tempat tinggal saya adalah sebuah contoh. Sudah menjadi hal yang lumrah apabila setiap Masjid memiliki satu atau beberapa imam yang tetap. Persoalannya, di Masjid tersebut, imam-imam yang eksis selama ini memiliki beberapa masalah. Pertama, usia nya yang rata-rata sudah tua. Kedua, tentang bacaan surat yang ‘berantakan’ ketika melakukan shalat shubuh, maghrib dan isya yang dalam dua raka’at awal dikeraskan bacaannya. Umur tua tidak menjadi masalah, jika persoalan kedua, bacaan surat, juga tidak bermasalah. Persoalannya justru di situ. Rata-rata bacaannya bermasalah. Ada yang tersengal-sengal. Ada yang terdengar seperti dalang wayang golek. Ada yang seperti berkumur-kumur, meskipun kaidah-kaidah bacaannya baik. Pernah suatu ketika ada orang baru yang menjadi makmum sampai berkali-kali membetulkan bacaan surat sang imam. Pada akhirnya, yang bersangkutan bosan juga membetulkan, dan akhirnya membiarkan.

Di sisi lain, ada orang lain yang seusia dengan imam-imam tersebut atau bahkan yang lebih muda, memiliki kemampuan yang jauh lebih baik. Mereka ini biasanya mengalah jika salah seorang diantara imam tersebut ada. Mereka menjadi imam, hanya jika imam-imam tersebut tidak hadir atau terlambat menghadiri shalat berjama’ah. Meskipun, saya yakin dalam hati mereka juga keberatan di-imam-i oleh imam-imam tersebut. Saya termasuk salah satu yang sering merasa berat hati ketika shalat berjama’ah di-imam-i mereka. Akan tetapi, saya pun tidak bisa menyuarakan perihal itu karena saya juga pendatang di tempat tersebut. Ada kalanya, saya memilih untuk terlambat datang atau bahkan menunggu sampai shalat berjama’ah selesai. Akan tetapi, belakangan saya menyadari bahwa hal tersebut juga tidak bisa dibenarkan. Bagaimanapun, shalat berjama’ah di awal waktu lebih utama. Juga ada tuntunan yang menyatakan seorang makmum (yang dipimpin) harus bersabar terhadap kesalahan imam (pemimpin). Meskipun, tidak boleh juga mendiamkan begitu saja.

Saya menilai, rasa sungkan dan alasan kesopanan menjadi penyebab mandegnya fungsi koreksi di Masjid tersebut. Tidak sekedar di Masjid tersebut, di hampir segala aspek kehidupan kita, bisa ditemukan dengan mudah hal-hal seperti itu. Saya juga barangkali termasuk pelaku yang paling kronis dalam hal mendiamkan suatu kesalahan. Padahal, menghormati orang tua atau yang dituakan, tidak berarti tanpa koreksi atau kritik. Begitupun, orang tua dalam menyikapi koreksi, bukan berarti koreksi tersebut untuk melecehkan mereka. Koreksi, kritik justru bisa menjadi sebuah indikator cinta atau tanda hormat. Hanya barangkali yang menjadi persoalan adalah bagaimana cara yang paling tepat untuk menyampaikan koreksi atau kritik tersebut? Maka, teknik komunikasi yang baik menjadi sangat bermanfaat di sini.

‘Amar ma’ruf nahyi munkar itu bersifat universal dan menjadi kewajiban semua orang. Tidak memandang status sosial seseorang di masyarakat. Seseorang yang memahami fungsi ‘amar ma’ruf nahyi munkar tidak akan anti atau alergi terhadap kritik, koreksi dan saran-saran yang bersifat membangun. Dia juga tidak akan memandang remeh orang yang memberikan kritik atau koreksi kepadanya, meskipun seorang gelandangan, jika koreksi yang diberikan memiliki nilai kebenaran.

Dalam sebuah artikel berjudul “Bukan Hanya Salah Fir’aun1, dalam buku dengan judul yang sama, terdapat beberapa paragraf yang menarik:

Mengapa Fir’aun sampai menganggap dirinya serba cukup, paling hebat dan paling kuat? Bagaimana ia berani bertindak melampaui batas-batas nurani dan kemanusiaan? Di satu sisi menjadi binatang, di sisi lain menjadi “tuhan”? Bukankah dulu pernah ada Raja Sulaiman, yang walaupun kekuasaannya amat besar tapi tak membuatnya arogan. Begitu juga dengan Ratu Balqis. Kerajaannya yang besar tak membuatnya merasa jadi tuhan. Mengapa?

Al-Qur’an telah memberikan jawaban atas pertanyaan itu. Ternyata orang-orang disekitarnyalah yang membuat Fir’aun merasa serba cukup, paling hebat sekaligus penguasa nan tak tertandingi. Memang Fir’aun bukanlah orang shalih. Tapi segala kejahatan Fir’aun mungkin takkan jadi besar jika ada orang yang berani mengatakan “tidak”. “Maka ia merendahkan kaumnya lalu mereka patuh kepadanya,” (QS az-Zukhruf: 54)

Kekejian Fir’aun adalah berperilaku diktator dan berobsesi menjadi satu-satunya pihak yang harus dipatuhi. Sedangkan kedegilan para pendukungnya adalah tidak berani menolak segala titah Fir’aun betapa pun busuknya. Kejahatan Fir’aun adalah serakah dan kejahatan orang-orang di sekitarnya adalah meluluskan segala kehendak Fir’aun. Kecongkakan Fir’aun adalah memperbudak rakyat jelata. Namun kebodohan rakyat adalah membiarkan dirinya dalam keadaan layak dijajah dan diperbudak. (hal 43-44)

Rumusan yang sama juga terjadi terhadap Hitler, Mussolini, George W. Bush dan yang lainnya. Terlebih lagi jika disekitar pemimpin tersebut berdiri para penjilat yang mementingkan dirinya sendiri, yang penting posisinya aman dan bisa menikmati kekuasaan atau kekayaan, meskipun bukan menjadi orang yang paling berkuasa.

Bandingkan dengan sikap ‘Umar bin Khattab r.a seketika diangkat menjadi Khalifah,

Umar berkata kepada kaum muslimin, “Barang siapa yang melihat ada kebengkokan pada diriku maka luruskanlah” lantas seorang menyambutnya dengan mengatakan, “Andaikan kami melihat suatu kebengkokan pada dirimu maka akan meluruskannya dengan pedang kami (maksudnya akan dikoreksi)”. Umar saat itu hanya mengatakan, “Segala pujibagi Allah yang menjadikan dalam umat Muhammad orang yang mau meluruskan sesuatu yang bengkok pada diri Umar dengan mata pedangnya

Berbagai macam permasalahan yang menjerat dan sudah membudaya di Indonesia pun berawal dari kesalahan yang sebetulnya sangat sepele. Akan tetapi, dampaknya ternyata menjadi luar biasa. Membuang sampah misalnya. Satu orang membuang ke sungai, dibiarkan saja. Orang lain kemudian mengikuti, bahkan semakin banyak. Jadilah sungai sebuah tempat sampah terpanjang yang bisa ditemui. Sekali kita coba mengingatkan, cibiran yang kita terima. Persoalan korupsi, rokok, pelanggaran lalu lintas … awalnya dari sebuah kesalahan yang dibiarkan, maka menjadi sebuah budaya pada akhirnya. Dengan memahami dan mengamalkan spirit ‘amar ma’ruf nahyi munkar, sudah seharusnya sebuah kesalahan tidak dibiarkan berlarut-larut apalagi sampai membudaya. Jika perlu, segala kesenangan dan jiwa kita korbankan. Sanggupkah kita??

Referensi:

1Tim Sabili. Bukan Hanya Salah Fir’aun. Cetakan I, QalamMas, Jakarta, 2004.

PS: Cintaku … kritik terkadang menyakitkan, tapi adakalanya itulah bentuk cinta yang sesungguhnya kita butuhkan untuk bisa tetap berlari di jalan-Nya.

Page 1 of 6

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén