Prosedur Memanusiakan Manusia
Artikel, Refleksi January 2nd, 2010
Kehidupan masa kini, rasa-rasanya, semakin dibikin rumit dari waktu ke waktu. Karena dibikin rumit, manusia seperti kehilangan selera humor. Barangkali lebih parah, nuraninya mati. Gara-gara kentut, orang bisa dipenjara. Gara-gara memungut kakao yang jatuh, sebuah perusahaan menuntut seorang nenek ke pengadilan. Segalanya dibuat harus prosedural.
Lucunya, semakin prosedural suatu sistem, seringkali jadi bikin rumit. Acara open house presiden misalnya. Orang miskin mustahil bisa masuk apalagi bertemu sang presiden, karena untuk menghadiri acara semacam itu, seseorang harus berpenampilan sesuai prosedur. Harus memakai kemeja, harus memakai sepatu, dan lain-lain. Ironinya, presiden tersebut dipilih juga oleh mereka yang kesehariannya bersendal jepit dan berkaos oblong. Bayangkan, hal tersebut terjadi di sebuah negara yang memiliki falsafah ‘Bhinneka Tunggal Ika‘ dan sangat gemar meneriakkan demokrasi, toleransi, pluralisme, dan anti-diskriminasi. Lucu, bukan?!
Seorang yang menjadi korban kecelakaan, misalnya tertabrak mobil, tidak bisa langsung mendapatkan perawatan dari rumah sakit, meskipun sekarat, jika tidak ada orang lain yang bertanggung jawab dan menanggung biaya perawatan. Padahal, bisa jadi orang tersebut hidup seorang diri, atau keluarganya jauh. Mungkin perawat dan dokter ingin menolong, tapi prosedur melarang. Di sisi lain mereka pun belum tentu sanggup menanggung biaya sang korban. Prosedural, tapi amoral.
Lalu, bukankah cerita korupsi di negeri ini juga bermula karena segala sesuatunya harus prosedural?! Bukannya anti-prosedur, tapi sebuah prosedur semestinya tidak menghalangi seseorang untuk bersikap sebagai manusia. Atau barangkali lebih baik jika suatu prosedur dibuat untuk memanusiakan manusia. Misalnya, jika Anda sebagai seorang Lurah, Anda tidak layak menyalahkan seseorang yang tidak mau membuat KTP karena penghasilan orang tersebut setiap bulannya belum tentu mencukupi untuk kebutuhan makan sehari-hari, sementara proses pembuatan KTP di kelurahan yang Anda pimpin bisa mencapai harga setengah dari penghasilan orang tersebut. Justru tugas Anda lah -sebagai lurah- untuk membuatkan KTP bagi orang tersebut. Meskipun menyalahi prosedur.
Sebuah prosedur dibuat pada dasarnya untuk memudahkan, bukan menyulitkan. Agar suatu proses dilakukan secara bertahap, teratur serta ‘adil’. Akan tetapi, manusia sebagai unsur terpenting dari suatu proses yang dilakukan secara prosedural, seringkali dilupakan. Kondisi manusia yang berbeda-beda sering menjadi unsur penyebab suatu prosedur tidak berjalan sempurna. Sayangnya, penyusun prosedur, yang juga manusia, selalu melupakan hal ini.
Contoh sebuah prosedur yang baik, yang dapat kita temukan adalah prosedur shalat. Normalnya, shalat wajib dilakukan dengan berdiri. Akan tetapi, prosedur normal itu boleh dan malah dianjurkan untuk dilanggar jika seseorang dalam kondisi sakit, atau tidak mampu untuk melakukan shalat. Misalnya sambil duduk. Jika tidak mampu duduk, boleh berbaring. Anda juga boleh bertayammum dalam keadaan sakit atau dalam situasi tidak ada air sama sekali. Justru ketika seseorang tidak mampu, tapi memaksakan diri, maka orang tersebut wajib untuk diberi peringatan.
Prosedur semacam itu, terus terang saja, sulit ditemukan. Entah dengan sekarang, tapi bertahun-tahun lalu kita sering menemukan seorang anak yang berhenti sekolah gara-gara belum membayar uang bulanan sekolah. Itu terjadi di sekolah, lembaga yang bidang utamanya mengajar dan mendidik manusia. Maka, tidak mengherankan jika dari sekolah tersebut menghasilkan manusia-manusia yang ‘kejam’, tapi dibenarkan oleh prosedur.
Komputer dan robot adalah contoh benda-benda yang bisa melakukan segalanya sesuai prosedur, dan harus sesuai prosedur, karena keduanya diciptakan untuk itu. Maka, jika manusia dituntut harus selalu melakukan segalanya sesuai prosedur dan tidak boleh sedikitpun keluar dari prosedur tersebut, bukankah itu sebuah cara untuk menjadikan manusia sebagai benda?! Yakin, siapa pun tidak ingin hal tersebut terjadi.
The Art of Decision Making
Artikel, Refleksi December 25th, 2008
Ada saat dimana mengambil sebuah keputusan bukan hal yang mudah. Bahkan menjadi teramat sulit. Kesulitannya bukan pada bagaimana keputusan itu diambil atau keputusan apa yang akan diambil. Akan tetapi, lebih kepada apa dampak yang mungkin timbul ketika suatu keputusan diambil. Apalagi jika hal tersebut berhubungan dengan masa depan kita, atau bahkan nasib seseorang atau orang lain. Persoalannya, pikiran-pikiran buruk tentang dampak yang akan timbul setelah keputusan diambil lebih sering terbayang-bayang daripada hal-hal baik yang mungkin terjadi.
Keputusan untuk berhenti kerja atau menikah, misalnya, adakalanya menjadi sangat rumit. Muncul macam-macam pertimbangan yang sebetulnya hanya ketakutan-ketakutan saja. Takut susah dapat pekerjaan lain, takut susah memberi makan anak dan istri, dan lain-lain. Sementara pada saat yang bersamaan, hati dan pikiran sudah tidak ada di tempat kerja sekarang. Resah, mengawang kemana-mana. Sudah tidak nyaman, sudah tidak fokus lagi. Sehingga, akhirnya, kinerja semakin menurun tapi takut untuk keluar dari pekerjaan yang sudah tidak bisa dinikmati lagi.
Situasi seperti sekarang, dimana banyak perusahaan kolaps akibat krisis ekonomi dan terjadi PHK dimana-mana, membuat keputusan untuk keluar dari tempat kerja menjadi semakin sulit. Jangan-jangan, tidak ada lowongan di tempat lain yang akan menerima kita. Sementara untuk membuka usaha sendiri belum mampu, skill juga pas-pasan dan pengalaman kerja juga belum banyak.
Anda mungkin pernah ada dalam situasi dimana anda tidak pernah benar-benar bisa menikmati apa yang sedang anda kerjakan. Akan tetapi, tuntutan kebutuhan untuk bertahan hidup membuat anda tetap bertahan melakukan pekerjaan tersebut. Bagaimanapun memuakan, stressfull dan membosankannya pekerjaan tersebut, anda tetap bertahan. Bahkan untuk mencari pekerjaan lain pun anda tidak sempat, karena waktu anda habis tercurah untuk pekerjaan sekarang. Meskipun ketika anda bekerja, anda tidak merasakan apa yang disebut dengan antusiasme, passion, with pleasure, apalagi cinta. Padahal itu merupakan faktor paling penting anda bisa bekerja dengan baik dan bersungguh-sungguh. Akhirnya, anda mengeluh terus setiap bekerja. Ketika mengeluh sudah menjadi bagian pekerjaan anda setiap saat, bisa dipastikan anda sudah tidak nyaman dengan pekerjaan anda.
“Berhenti saja!“, Itu yang sering saya katakan kepada orang lain jika ada yang curhat tentang hal semacam itu. Tentunya kepada diri sendiri juga. Beberapa kali juga saya mengatakan kalau memang sudah tidak bisa merasa bahagia dengan apa yang dikerjakan sekarang, untuk apalagi dipertahankan? Soal besok kerja apa? kerja dimana? makan apa? Itu urusan besok, bukan sekarang. Anda kan tidak tahu apa besok masih hidup atau tidak? Anda juga tidak pernah benar-benar tahu tempat bekerja anda sekarang akan bertahan atau tidak esok pagi? Daripada menyiksa diri terus-menerus, ya sudah, berhenti saja. Jika dengan berhenti dari tempat kerja sekarang membuat bahagia, lakukan saja! Besok-besok, jika masih hidup, berusaha lagi saja mencari tempat kerja lain, yang bisa anda nikmati, yang bisa anda cintai.
Ekstrim? mungkin. Akan tetapi, dengan argumen semacam itu, setidaknya sudah dua orang yang terpengaruh dan memutuskan untuk berhenti bekerja dari tempat kerjanya dengan alasan sudah tidak nyaman lagi. Toh, kenyataannya mereka masih hidup sampai sekarang. Terlepas dari apakah mereka bahagia dengan kehidupannya yang sekarang atau tidak. Setidaknya, satu beban pikiran sudah lepas, daripada sepanjang hidup dibebani oleh hal semacam itu terus menerus.
Tidak perlu menunggu “waktu yang tepat”, sebab barangkali apa yang disebut dengan waktu yang tepat itu tidak pernah ada. Anda lah yang menciptakan waktu yang tepat itu untuk anda sendiri. Bukan orang lain, bukan situasi tempat kerja anda, bukan juga manajemen perusahaan. Seburuk apa pun situasinya, atau bahkan sepenting apa pun posisi anda di perusahaan, waktu yang tepat itu anda yang tentukan. Sebab, jika tidak begitu, anda akan terus terseret dan semakin larut bahkan dibebani pekerjaan yang tidak anda sukai setiap saat. Orang lain atau manajeman bahkan akan merasa tidak perlu dan tidak ingin tahu kalau anda suka atau tidak dengan pekerjaan itu. Buat mereka, profesionalisme anda yang dituntut, sebab anda digaji untuk itu. Masa bodoh anda suka atau tidak dengan tugas yang dibebankan kepada anda.
Tidak perlu juga merasa kasihan kepada orang-orang yang akan anda tinggalkan di tempat kerja. Percayalah, mereka juga tidak akan merasa kasihan kepada anda jika menyangkut urusan pekerjaan. Tega sajalah! Jika tidak begitu, anda yang ditegai, sebab -sekali lagi- profesionalisme anda yang dituntut. Anda juga tidak bisa mengharapkan orang memahami perasaan anda, karena orang lain juga barangkali memiliki masalah yang sama atau bahkan lebih berat daripada anda.
Sungguh sangat merugi jika sepanjang hidup anda dihabiskan dengan hal-hal yang membuat anda tidak bisa merasakan hidup itu sendiri. Jika selama ini anda sudah berusaha untuk berdamai dengan apa yang anda lakukan, dan masih sulit atau bahkan tidak bisa juga merasakan kebahagiaan, sudah saatnya anda berhenti melakukannya. Cari hal lain yang bisa anda lakukan, dan anda senang melakukannya. Jika masih belum dapat juga, teruskan melakukan pencarian. Itu lebih baik daripada anda terjebak dalam sesuatu yang anda benci dan menghabiskan banyak waktu untuk memikirkan bahkan mengeluhkannya.
Saya sih percaya satu hal. Pemberi rezeki itu bukan manusia, ada Allah SWT yang Maha Pemberi Rezeki. Dia yang lebih kaya daripada manusia. Kekayaan manusia itu tidak ada ’seujungkukunya’ kekayaan Allah SWT. Saya juga sangat yakin bahwa pintu rezeki yang Allah miliki tidak hanya satu, tapi ribuan atau bahkan jutaan pintu rezeki. Maka, ketika kita meninggalkan satu pintu rezeki, yang sesungguhnya kita lakukan adalah membuka peluang pada diri sendiri untuk bisa membuka pintu yang lain, bahkan tidak hanya satu pintu, tapi juga berpintu-pintu. Hanya saja, ada pintu yang perlu usaha keras untuk membukanya, ada juga yang sangat mudah membukanya. Ada pintu yang memberi rezeki banyak, ada juga yang tidak. Jika anda sudah sangat yakin bahwa Allah SWT akan tetap memberikan rezekinya sepanjang hidup anda, apa lagi yang perlu anda takuti?
NB: Kamu memintaku untuk menuliskan sesuatu, inilah yang bisa kutuliskan. Tidak banyak … tapi barangkali bisa memberikan arti
Parade Kemiskinan
Artikel, Esai, Refleksi October 16th, 2008
Sepanjang sejarah manusia, tidak ada satu hal yang lebih ditakuti, dihindari dan dibenci melebihi kemiskinan. Tidak ada orang yang ingin disebut orang miskin atau ingin menjadi orang miskin. Status dan harga diri suatu bangsa pun dinilai dari jumlah orang miskinnya. Semakin banyak angka kemiskinan, semakin rendah harga diri bangsa tersebut dihadapan bangsa lainnya.
Persoalan kemiskinan bukan masalah kontemporer saja, tapi sudah terjadi sepanjang zaman. Hal tersebut juga menjadi tantangan yang selalu dihadapi oleh para pemimpin dunia. Adalah suatu aib bagi seorang pemimpin, jika dibawah kepemimpinannya, jumlah orang miskin tidak berkurang, apalagi malah semakin bertambah. Angka kemiskinan juga menjadi obyek politik yang cukup ampuh untuk menjatuhkan seorang pemimpin. Tidak heran jika setiap kelompok mengumpulkan angka kemiskinan untuk mempromosikan dirinya sekaligus menjatuhkan kelompok lain.
Kemiskinan -meskipun tidak selalu- identik dengan kriminalitas, kebodohan, penindasan, kelemahan dan -jika dipandang dari sudut agama Islam- bisa mendekati kekufuran. Bahkan, barangkali sering terjadi, secara tidak sadar kita memandang orang lain yang secara materi termasuk dalam kategori miskin, dengan sebelah mata, merendahkan atau menghinakan. Meskipun dengan kemiskinannya, orang tersebut tidak memberikan masalah sedikit pun bagi kita.
Kemiskinan bisa dipandang sebagai dua hal. Sebagai sebab dan sebagai akibat. Sebagai sebab, kemiskinan adalah akar dari sebagian besar tindak kriminalitas. Barangkali sudah cukup bosan kita mendengar atau membaca berita tentang pencurian, perampokan atau pembunuhan yang disebabkan kondisi kemiskinan pelakunya. Tidak sedikit pula berita tentang kasus-kasus bunuh diri atau kelaparan yang disebabkan kemiskinan. Dari sisi ini, kita dapat memandang bahwa kemiskinan sangat jahat.
Sebagai sebuah akibat, kemiskinan merupakan suatu produk. Produk dari ketidakadilan. Ketidakadilan pemimpin, hukum atau sistem, bahkan ketiganya. Pemimpin yang tidak adil akan menempatkan orang miskin sebagai ’sampah’ yang tidak perlu dipikirkan. Sehingga, pemimpin seperti ini hanya akan mementingkan kepentingan dirinya dan orang-orang disekitarnya, tidak peduli jutaan orang merintih dalam kemiskinannya. Ketidakadilan hukum akan menempatkan orang miskin dalam posisi lemah, apalagi jika hukum bisa dijualbelikan, semakin menderitalah orang miskin. Padahal, hukum harus seimbang dan adil. Ketidakadilan sistem akan membuka peluang orang miskin tertindas, karena dalam sistem yang tidak adil, terjadi hukum rimba; yang kuat dan ber-uang lah yang berkuasa. Suara orang miskin tidak akan didengarkan.
Untuk mengatasi permasalahan kemiskinan, akan lebih mudah jika memandang kemiskinan sebagai akibat atau produk dari ketidakadilan. Artinya, dengan cara tersebut, pertanyaan apa yang menyebabkan terjadinya kemiskinan akan lebih mudah terjawab. Meskipun bukan hal yang mudah menanggulangi kemiskinan, dengan mengetahui sumber penyebab kemiskinan, setidaknya solusi yang bisa diberikan sudah bisa terbayangkan.
Tentu saja, kita merindukan rasa tenang, nyaman, aman dan damai. Akan tetapi, percayalah, hal itu semua tidak akan tercapai jika persoalan kemiskinan masih menjadi masalah terbesar di sekitar kita. Bahkan, barangkali yang sebenarnya terjadi, persoalan kemiskinan merupakan akibat dari ketidakpedulian kita terhadap hal-hal yang menjadi sumber kemiskinan. Atau, jangan-jangan, kita lah penyebab terjadinya kemisikinan itu!!
Salut dan respek terhadap mereka yang turun langsung dan mengorbankan seluruh waktu, tenaga, materi dan pikirannya untuk mengentaskan kemiskinan. Sekecil apa pun usaha mereka. Dan kita? Masa hanya sekedar mau jadi penonton?!
PS: Ini tulisan yang dibuat karena terpaksa, hasilnya juga rada maksa, salah sendiri maksa-in ikut-ikutan blogactionday2008 dengan tema poverty.
Another PS: Kamu tahu … ada yang lebih menakutkanku daripada miskin materi, adalah miskin cinta-Nya dan miskin mencintai-Nya.
Bukan Hanya Salah Fir’aun
Esai, Islam, Refleksi October 8th, 2008
Sebuah kesalahan, betapa pun kecilnya, akan menjadi besar tingkat mudharat nya apabila dibiarkan oleh orang-orang yang mengetahui kebenaran, tapi mendiamkannya, menolerir atau bahkan menyetujuinya. Pada akhirnya, kesalahan tersebut akan membudaya dan sulit untuk diperbaiki. Bahkan ketika sesuatu yang benar disampaikan, hal tersebut akan dianggap aneh, asing dan dianggap melawan arus.
Masjid di dekat tempat tinggal saya adalah sebuah contoh. Sudah menjadi hal yang lumrah apabila setiap Masjid memiliki satu atau beberapa imam yang tetap. Persoalannya, di Masjid tersebut, imam-imam yang eksis selama ini memiliki beberapa masalah. Pertama, usia nya yang rata-rata sudah tua. Kedua, tentang bacaan surat yang ‘berantakan’ ketika melakukan shalat shubuh, maghrib dan isya yang dalam dua raka’at awal dikeraskan bacaannya. Umur tua tidak menjadi masalah, jika persoalan kedua, bacaan surat, juga tidak bermasalah. Persoalannya justru di situ. Rata-rata bacaannya bermasalah. Ada yang tersengal-sengal. Ada yang terdengar seperti dalang wayang golek. Ada yang seperti berkumur-kumur, meskipun kaidah-kaidah bacaannya baik. Pernah suatu ketika ada orang baru yang menjadi makmum sampai berkali-kali membetulkan bacaan surat sang imam. Pada akhirnya, yang bersangkutan bosan juga membetulkan, dan akhirnya membiarkan.
Di sisi lain, ada orang lain yang seusia dengan imam-imam tersebut atau bahkan yang lebih muda, memiliki kemampuan yang jauh lebih baik. Mereka ini biasanya mengalah jika salah seorang diantara imam tersebut ada. Mereka menjadi imam, hanya jika imam-imam tersebut tidak hadir atau terlambat menghadiri shalat berjama’ah. Meskipun, saya yakin dalam hati mereka juga keberatan di-imam-i oleh imam-imam tersebut. Saya termasuk salah satu yang sering merasa berat hati ketika shalat berjama’ah di-imam-i mereka. Akan tetapi, saya pun tidak bisa menyuarakan perihal itu karena saya juga pendatang di tempat tersebut. Ada kalanya, saya memilih untuk terlambat datang atau bahkan menunggu sampai shalat berjama’ah selesai. Akan tetapi, belakangan saya menyadari bahwa hal tersebut juga tidak bisa dibenarkan. Bagaimanapun, shalat berjama’ah di awal waktu lebih utama. Juga ada tuntunan yang menyatakan seorang makmum (yang dipimpin) harus bersabar terhadap kesalahan imam (pemimpin). Meskipun, tidak boleh juga mendiamkan begitu saja.
Saya menilai, rasa sungkan dan alasan kesopanan menjadi penyebab mandegnya fungsi koreksi di Masjid tersebut. Tidak sekedar di Masjid tersebut, di hampir segala aspek kehidupan kita, bisa ditemukan dengan mudah hal-hal seperti itu. Saya juga barangkali termasuk pelaku yang paling kronis dalam hal mendiamkan suatu kesalahan. Padahal, menghormati orang tua atau yang dituakan, tidak berarti tanpa koreksi atau kritik. Begitupun, orang tua dalam menyikapi koreksi, bukan berarti koreksi tersebut untuk melecehkan mereka. Koreksi, kritik justru bisa menjadi sebuah indikator cinta atau tanda hormat. Hanya barangkali yang menjadi persoalan adalah bagaimana cara yang paling tepat untuk menyampaikan koreksi atau kritik tersebut? Maka, teknik komunikasi yang baik menjadi sangat bermanfaat di sini.
‘Amar ma’ruf nahyi munkar itu bersifat universal dan menjadi kewajiban semua orang. Tidak memandang status sosial seseorang di masyarakat. Seseorang yang memahami fungsi ‘amar ma’ruf nahyi munkar tidak akan anti atau alergi terhadap kritik, koreksi dan saran-saran yang bersifat membangun. Dia juga tidak akan memandang remeh orang yang memberikan kritik atau koreksi kepadanya, meskipun seorang gelandangan, jika koreksi yang diberikan memiliki nilai kebenaran.
Dalam sebuah artikel berjudul “Bukan Hanya Salah Fir’aun“1, dalam buku dengan judul yang sama, terdapat beberapa paragraf yang menarik:
Mengapa Fir’aun sampai menganggap dirinya serba cukup, paling hebat dan paling kuat? Bagaimana ia berani bertindak melampaui batas-batas nurani dan kemanusiaan? Di satu sisi menjadi binatang, di sisi lain menjadi “tuhan”? Bukankah dulu pernah ada Raja Sulaiman, yang walaupun kekuasaannya amat besar tapi tak membuatnya arogan. Begitu juga dengan Ratu Balqis. Kerajaannya yang besar tak membuatnya merasa jadi tuhan. Mengapa?
Al-Qur’an telah memberikan jawaban atas pertanyaan itu. Ternyata orang-orang disekitarnyalah yang membuat Fir’aun merasa serba cukup, paling hebat sekaligus penguasa nan tak tertandingi. Memang Fir’aun bukanlah orang shalih. Tapi segala kejahatan Fir’aun mungkin takkan jadi besar jika ada orang yang berani mengatakan “tidak”. “Maka ia merendahkan kaumnya lalu mereka patuh kepadanya,” (QS az-Zukhruf: 54)
Kekejian Fir’aun adalah berperilaku diktator dan berobsesi menjadi satu-satunya pihak yang harus dipatuhi. Sedangkan kedegilan para pendukungnya adalah tidak berani menolak segala titah Fir’aun betapa pun busuknya. Kejahatan Fir’aun adalah serakah dan kejahatan orang-orang di sekitarnya adalah meluluskan segala kehendak Fir’aun. Kecongkakan Fir’aun adalah memperbudak rakyat jelata. Namun kebodohan rakyat adalah membiarkan dirinya dalam keadaan layak dijajah dan diperbudak. (hal 43-44)
Rumusan yang sama juga terjadi terhadap Hitler, Mussolini, George W. Bush dan yang lainnya. Terlebih lagi jika disekitar pemimpin tersebut berdiri para penjilat yang mementingkan dirinya sendiri, yang penting posisinya aman dan bisa menikmati kekuasaan atau kekayaan, meskipun bukan menjadi orang yang paling berkuasa.
Bandingkan dengan sikap ‘Umar bin Khattab r.a seketika diangkat menjadi Khalifah,
Umar berkata kepada kaum muslimin, “Barang siapa yang melihat ada kebengkokan pada diriku maka luruskanlah” lantas seorang menyambutnya dengan mengatakan, “Andaikan kami melihat suatu kebengkokan pada dirimu maka akan meluruskannya dengan pedang kami (maksudnya akan dikoreksi)”. Umar saat itu hanya mengatakan, “Segala pujibagi Allah yang menjadikan dalam umat Muhammad orang yang mau meluruskan sesuatu yang bengkok pada diri Umar dengan mata pedangnya“
Berbagai macam permasalahan yang menjerat dan sudah membudaya di Indonesia pun berawal dari kesalahan yang sebetulnya sangat sepele. Akan tetapi, dampaknya ternyata menjadi luar biasa. Membuang sampah misalnya. Satu orang membuang ke sungai, dibiarkan saja. Orang lain kemudian mengikuti, bahkan semakin banyak. Jadilah sungai sebuah tempat sampah terpanjang yang bisa ditemui. Sekali kita coba mengingatkan, cibiran yang kita terima. Persoalan korupsi, rokok, pelanggaran lalu lintas … awalnya dari sebuah kesalahan yang dibiarkan, maka menjadi sebuah budaya pada akhirnya. Dengan memahami dan mengamalkan spirit ‘amar ma’ruf nahyi munkar, sudah seharusnya sebuah kesalahan tidak dibiarkan berlarut-larut apalagi sampai membudaya. Jika perlu, segala kesenangan dan jiwa kita korbankan. Sanggupkah kita??
Referensi:
1Tim Sabili. Bukan Hanya Salah Fir’aun. Cetakan I, QalamMas, Jakarta, 2004.
PS: Cintaku … kritik terkadang menyakitkan, tapi adakalanya itulah bentuk cinta yang sesungguhnya kita butuhkan untuk bisa tetap berlari di jalan-Nya.
Dicolek Malaikat Maut
Curhat, Refleksi July 24th, 2008
Gila. Saya baru 2 bulan mengendarai motor di jalanan, tapi sudah berkali-kali ‘dicolek’ sama kematian. Untungnya, malaikat maut baru ‘nyolek’, belum sampai benar-benar mencabut nyawa. Jalanan memang mengerikan, kematian mengintai di mana-mana jika saja tidak berhati-hati dan kondisi kendaraan kita tidak baik.
Nyaris ditabrak angkot yang belok tanpa lampu sein. Nyaris menabrak motor yang berjalan zig-zag. Nyaris ditabrak truk gara-gara saya mengira truk tersebut akan lurus karena tanpa sein, tapi ternyata belok ke kiri. Dan hampir-hampir ‘bergesekan’ dengan sesama motor yang ketika akan saya susul, motor tersebut malah berbelok ke kanan dan, lagi-lagi, tanpa sein. Duh!! Betapa pentingnya lampu sein bukan?!
Dan kalau saja saya jahat, ingin sekali rasanya menendang pengendara motor yang berkendaraan sambil menelpon. Bikin kagok karena dengan tidak sadar mengendarai motor secara zig-zag.
Berdasarkan’pengamatan’ langsung, secara garis besar pembuat kekacauan di jalanan adalah; pertama, angkutan umum. Segala jenis angkutan umum. Kedua, motor, yang berarti saya juga termasuk di dalamnya. Perilaku sopir angkutan umum di Indonesia memang sangat mengesalkan. Ngetem seenaknya, berhenti mendadak. Kalau perlu ketika melihat calon penumpang, berhenti saat itu juga. Dan saya selalu waspada tiap kali di depan saya adalah angkutan umum.
Pengendara motor, kadang lebih gila lagi. Karena ukurannya yang kecil dan bisa masuk ke celah-celah kemacetan, seringkali jadi bikin jalanan tambah ruwet. Dan banyak sekali saya temukan, di tengah kemacetan semacam itu, dijadikan ajang pamer kebolehan karena bisa kebut-kebutan di tengah kemacetan. Belum lagi jika motor tersebut menggunakan knalpot yang membuat cekak telinga. Lengkap sudah kekacauan tersebut.
Rupanya banyak saya temukan pengendara yang tidak mau standar-standar saja. Artinya, pengendara tersebut ingin kelihatan berbeda dengan yang lain. Maka, knalpot dibuat berisik, lampu dibuat terang sekali, kalau perlu lampu kabut dipasang, sampai-sampai menyilaukan pengendara dari arah berlawanan. Masa bodoh dengan keamanan dan keselamatan diri dan orang lain. Saya bingung, eksistensi diri semacam apa yang ingin dicari di jalanan? Kawan saya mengatakan orang-orang tersebut egois, dan saya sepakat.
Saya merasa lebih nyaman justru ketika melakukan perjalanan ke luar kota karena kendaraan cenderung tidak lebih padat dibandingkan di dalam kota. Di Bandung, saya paling grogi ketika memasuki daerah Cimahi sampai Padalarang. Juga di jalan Soekarno-Hatta. Stress sekali rasanya karena banyaknya motor di jalan-jalan tersebut.
Barangkali memang benar kata ayah saya, setiap orang bisa ngebut, tapi tidak setiap orang bisa membawa kendaraannya pelan-pelan. Sebab membawa kendaraan pelan-pelan lebih banyak menuntut kesabaran. Itulah sebabnya di kursus-kursus mengemudi, orang diajari pelan-pelan dulu, tidak langsung ngebut. Kalau ngebut, orang tidak perlu diajari, cuma perlu keberanian untuk mengambil resiko saja. Sementara, tidak banyak orang yang mau memberi kesempatan kendaraan lain berbelok atau orang lain menyeberang.
Berikut, daftar pelanggaran yang sering saya temukan di jalanan:
- Belok tanpa sein
- Melanggar Lampu Merah, saya belum pernah menemukan pelanggaran terhadap lampu hijau soalnya
- Menyusul dari kanan ketika akan berbelok ke kiri, ini akan mengagetkan pengendara yang disusul
- Melawan arah untuk mengambil jalan pintas
- Menelpon saat mengendarai motor
- Dll, anda sebutkan saja
CTM61.240708.12.00.

