Category: Musik

Review Singkat: Tulus – Monokrom

Ketika saya menuliskan review singkat ini, saya baru mendengarkan 1-2 kali untuk setiap lagu. Jadi, kalau saya dengarkan dan menuliskan review 6 bulan atau 1 tahun yang akan datang, atau setelah lebih dari 10 kali, mungkin akan berbeda hasilnya.

Intinya;

Saya paham kenapa “Ruang Sendiri” jadi single yang dirilis ke publik. Chorus-nya paling cepat nempel, sih. Selain itu, lagu ini terasa lebih ringan di telinga dibandingkan dengan lagu lainnya. Dengan durasi 4:29, menjadi lagu terpanjang di album “Monokrom“. Lagu-lagu selebihnya di bawah 4 menit.

Manusia Kuat” itu lagu yang megah, cocok sebagai pembuka album, tapi lagu seperti ini akan cenderung dilupakan publik, walau berpotensi jadi mars kaum patah hati, err… lebih tepatnya mars para pengejar cita-cita, ehe ehe. Sangat terasa nuansa lagu “Negeriku” (Chrisye). Lagu penyemangat yang mungkin akan diputar di acara-acara motivasi, 17 Agustus-an, atau ospek sekolah dan kampus. Heu heu.

Saya tidak mengerti kenapa “Pamit” disimpan di #2, padahal -sepertinya- cocok disimpan di akhir, ditukar posisinya dengan “Monokrom“. Mungkin, khawatir kalau disimpan di akhir akan jadi pertanda buruk. 😀 Selain itu, rasanya menjadi ganjil begitu selesai mendengar lagu pertama yang bersemangat dan menggelora seperti itu, diturunkan lagi mood-nya oleh lagu ini.

Ada lagu yang hanya cocok untuk didengarkan, tapi tidak cocok untuk dinyanyikan oleh orang kebanyakan, “Tukar Jiwa” menurut saya masuk pada kategori ini. Enak, sih, tapi repot menyanyikannya.

Lagu “Tergila-Gila” akan jadi favorit makhluk-makhluk yang baru jatuh cinta lagi. Mungkin akan seperti “Lagu Cinta“-nya Dewa, walau beda mood musiknya.

Cahaya” itu semacam “More Than Words” versi Tulus, namun sedikit diperkaya dengan suara instrumen lain.

Lekas” berpotensi jadi hits selanjutnya. Kalau saya jadi produsernya, maka lagu ini yang akan saya pilih untuk promosi album.

Monokrom“, dari sisi lirik itu semacam “Kisah Klasik untuk Masa Depan” (Sheila on 7)  atau “Ingatlah Hari Ini” (Project Pop). Lagu persahabatan yang akan dikenang generasi anak sekolah menengah dan kuliahan.

Dua lagu, “Mahakarya” dan “Langit Abu-Abu“, belum saya dengarkan dengan seksama, baru sesingkat-singkatnya saja :p

Secara keseluruhan, sih… album yang sangat baik. Sepertinya akan mendapatkan penghargaan-penghargaan lagi.

loading...

Harmoni

Terus terang saja, saya termasuk terlambat mengetahui sebuah program musik di SCTV yang menurut saya luar biasa. Harmoni, nama program tersebut, tayang setiap tanggal 20, satu bulan sekali. Sebelumnya, saya sempat menonton acara itu, tapi hanya sekilas saja. Belakangan saya tahu nama program tersebut, setelah timeline di twitter saya selalu ramai membicarakan Harmoni setiap tanggal 20.

Saya pertama kali menontonnya saat Audy dan beberapa artis lainnya membawakan lagu-lagu ciptaan Dewiq. Saya pikir, saat itu, acara tersebut merupakan sebuah tribute untuk Dewiq, khusus untuk Dewiq saja, karena memang lagu-lagu ciptaan Dewiq termasuk lagu-lagu dengan kualitas bagus, meskipun tidak semua lagu ciptaannya saya suka. Subyektif, soal selera. Maka, wajar jika ada acara khusus digelar untuk menghargai Dewiq. Belakangan, saya tahu acara tersebut berjudul Harmoni, dan tidak hanya membawakan lagu-lagu ciptaan Dewiq. Malahan sangat beragam: rock, pop, r&B,rapp, dll.

Harmoni ‘diasuh’ oleh Andi Rianto, dengan dukungan Magenta Orchestra. Andi Rianto bukan nama sembarangan. Dia merupakan lulusan Berklee College of Music, Boston jurusan Film Scoring, lulus dengan predikat cum laude, dan mengantarkannya mengenyam pengalaman sebagai asisten profesor di tempat studinya tersebut. Di Indonesia, Andi Rianto dipercaya untuk menggarap score film-film layar lebar, sesuai dengan bidang studinya tersebut. Salah satu album yang pernah digarap adalah OST Badai Pasti Berlalu (2007), yang merupakan cover album dari album dengan judul yang sama, setelah sebelumnya Erwin Gutawa melakukan remake pada tahun 1999. Keduanya merupakan karya-karya yang patut diacungi jempol.

Musisi yang terlibat dalam program Harmoni juga bukan nama-nama sembarangan. Dua nama yang paling saya kenal adalah Edi Kemput dan Ronald. Edi Kemput adalah gitaris Grass Rock, group yang pernah berkibar di awal tahun 90-an, sekaligus seorang session player untuk mendukung album beberapa orang artis, antara lain: Chrisye dan Iwan Fals, dan tentunya di berbagai konser. Sementara Ronald merupakan mantan drumer GIGI dan DR.PM, juga pernah terlibat mendukung album Nicky Astria dan Chrisye. Gebukan drum Ronald juga pernah mewarnai beberapa lagu Dewa 19. Keduanya, Edi Kemput dan Ronald, juga terlibat dalam penggarapan album Badai Pasti Berlalu versi Erwin Gutawa.

Konsep musik orchestra yang digunakan menjanjikan beberapa hal: indah, elegan, megah. Lebih dari itu, Harmoni seringkali menampilkan berbagai kejutan yang dapat membuat penonton -pada akhirnya- terkagum-kagum. Misalnya: saat Tantri ‘Kotak’, seorang rocker wanita, yang ‘dipaksa’ tampil sangat feminim, atau saat mengaransemen ulang lagu ‘Lupa-Lupa Ingat’ dari Kuburan Band menjadi sebuah lagu yang luar biasa. Di saat lain, musik orchestra dan pop dikolaborasikan dengan pantomim. Vina Panduwinata sampai ‘dikerjai’ dengan menyanyikan lagu yang saat ini sedang populer, C-I-N-T-A dari D’Bagindas. Juga ada unsur humor, seperti ketika menampilkan Wawan, vokalis band parodi Teamlo, yang berhasil menghibur dan membuat tertawa penonton dengan menyanyikan lagu-lagu dari Chrisye dan Iwan Fals, dengan gaya seperti mereka.

Saya kemudian mulai membayangkan lagu-lagu yang ingin saya dengar dan diaransemen ulang oleh Andi Rianto dalam acara Harmoni. Ternyata, ada banyak lagu, meskipun sebagian besar lagu yang saya ingat merupakan lagu-lagu yang cukup lawas.

Beberapa lagu yang -sepertinya- akan menjadi luar biasa di antaranya: Gerangan Cinta (Java Jive), Damainya Cinta, Terbang dan Nirwana (GIGI), Buku Ini Aku Pinjam (Iwan Fals), Satu Kata (Adegan). Bahkan saya membayangkan lagu ‘Sekedar Bertanya’ (Dina Mariana), juga lagu-lagu Benyamin S. Tentu saya tidak lupa dengan lagu ‘Tentang Kita’ dan ‘Semoga’ dari Kla Project. Masih banyak lagi yang saya bayangkan. Hey, saya tidak tua kok, hanya soal selera musik saja yang ‘ketinggalan’. He he.

Kehadiran Harmoni ini membuktikan satu hal: pada dasarnya setiap lagu itu berpotensi menjadi lagu bagus jika digarap dengan benar, dan kita merindukan musik berkualitas yang sekarang mulai redup digilas kepentingan industri. Kualitas yang saya maksud adalah: aransemen yang baik, ditunjang dengan skill musisi yang baik, lirik lagu yang bagus dan berpotensi ‘abadi’. Enak didengar saja tidak cukup, sebab lagu enak seringkali jadi sangat membosankan. Dalam bidang apa pun memang akan selalu terjadi benturan antara idealisme dan pragmatisme. Banyak musisi yang bagus, tapi tidak disukai industri musik karena tidak menjanjikan keuntungan. Pada saat yang sama, muncul musisi yang biasa saja, tapi berpihak pada kepentingan bisnis perusahaan rekaman, yang artinya: menguntungkan.

Kenyataannya, program Harmoni juga tidak lepas dari benturan tersebut. Kita bisa melihat dari jam tayang acara tersebut, yang ditempatkan menjelang tengah malam, setelah ‘mengalah’ pada sinetron. Selain itu, durasi iklan yang nyaris sama bahkan lebih lama dari waktu tayang acara tersebut. Tentu saja, hal tersebut bukan tanpa alasan. Sinetron -pastinya- dinilai lebih menguntungkan bagi stasiun televisi tersebut jika dibandingkan dengan Harmoni, dan deretan iklan yang saya rasa terlalu panjang tersebut, sudah jelas ‘menyumbang’ pundi rupiah yang tidak sedikit. Bandingkan juga dengan acara musik lainnya seperti ‘Dahsyat’ dan ‘Inbox’ yang cenderung menampilkan lagu secara minus one. Meskipun, kalau bagi saya, jam-jam menjelang tengah malam justru waktu terbaik untuk menontonnya, karena seisi rumah sudah tidur, tinggal saya sendiri menguasai televisi. Haha.

Namun, kita masih harus bersyukur karena masih ada itikad baik untuk membuat acara yang berkelas. Semoga saja kehadiran Harmoni dapat ‘membuka mata’ penyedia ‘layanan tontonan’ untuk dapat menyajikan musik-musik yang lebih berkualitas dan beragam.

Catatan:

Gambar Andi Rianto diambil tanpa ijin dari http://andirianto.com

Gambar Ronald diambil tanpa ijin dari sini

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén