<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>mind.donnyreza.net &#187; Islam</title>
	<atom:link href="http://mind.donnyreza.net/category/islam/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://mind.donnyreza.net</link>
	<description>Catatan, celoteh, curhat, caper</description>
	<lastBuildDate>Thu, 22 Jul 2010 17:55:33 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=abc</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Halal, Label Halal dan Jaminan Halal</title>
		<link>http://mind.donnyreza.net/14092009/halal/</link>
		<comments>http://mind.donnyreza.net/14092009/halal/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Sep 2009 14:46:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Donny Reza</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Propaganda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mind.donnyreza.net/?p=255</guid>
		<description><![CDATA[Masalah kehalalan harta dan makanan merupakan persoalan yang sangat penting bagi Umat Islam, tapi sering terlupakan atau sengaja diabaikan. Saking pentingnya, do&#8217;a seorang muslim yang sedikit saja terdapat makanan haram atau makanan yang dibeli dari harta haram dalam tubuhnya, terancam tidak akan dikabulkan oleh Allah SWT. Bahkan kehalalan suatu makanan, bagi seorang muslim, merupakan sesuatu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Masalah kehalalan harta dan makanan merupakan persoalan yang sangat penting bagi Umat Islam, tapi sering terlupakan atau sengaja diabaikan. Saking pentingnya, do&#8217;a seorang muslim yang sedikit saja terdapat makanan haram atau makanan yang dibeli dari harta haram dalam tubuhnya, terancam tidak akan dikabulkan oleh Allah SWT. Bahkan kehalalan suatu makanan, bagi seorang muslim, merupakan sesuatu yang wajib diperjuangkan karena menyangkut tetesan darah yang mengalir dalam dirinya, anak-istrinya, juga persoalan pertanggungjawaban kepada Allah SWT.</p>
<p>Terminologi &#8216;halal&#8217; dan &#8216;haram&#8217; memang lekat dengan Islam. Namun, pada dasarnya setiap agama memiliki kriteria halal dan haram-nya masing-masing. Dalam agama Yahudi dikenal kata &#8216;kosher&#8217;, mirip dengan halal, namun kriterianya berbeda. Seperti juga Umat Islam, orang-orang Yahudi juga cukup berhati-hati terkait makanan yang masuk ke perutnya. Konon, mereka lebih cerewet dibandingkan muslim dalam hal pelabelan &#8216;kosher&#8217; pada kemasan makanan yang diperjualbelikan.</p>
<p>Indonesia mayoritas penduduknya muslim, namun selama ini hampir tidak ada jaminan dari pemerintah bahwa pasar-pasar yang memasok makanan untuk mayoritas tersebut menyediakan makanan yang halal. Bisa dikatakan, makanan yang beredar di pasaran, mayoritas sebetulnya masuk dalam kategori syubhat, terutama daging-dagingan. Mengapa syubhat? karena memang meragukan, tidak ada jaminan bahwa makanan tersebut halal. Halal bahannya, halal cara penyembelihannya, halal cara mendapatkannya (bukan barang curian).</p>
<p>Lalu, apa yang menyebabkan kita masih membeli makanan-makanan tersebut? Kepercayaan. Kita percaya bahwa makanan tersebut tidak mengandung unsur haram, kita percaya bahwa makanan tersebut diproses dengan cara yang halal, kita percaya bahwa makanan tersebut didapatkan dengan cara yang halal. Oleh sebab itu, setiap pedagang atau pengusaha mestinya merasa malu apabila dalam dagangannya terdapat unsur-unsur yang haram dijual, apalagi dengan sengaja melakukannya hanya untuk mendapatkan keuntungan.</p>
<p>Saya tidak sependapat dengan mereka yang mengatakan bahwa masalah halal-haram tidak perlu diurus dengan undang-undang. Mereka berpendapat, biarkan pasar yang menentukan, toh kalau seorang muslim peduli, mereka tidak akan membeli makanan yang haram. Pertanyaannya? siapa yang menjamin makanan yang dibeli memang halal? penjualnya? jangan-jangan dia pun tidak tahu kehalalan makanan yang dijualnya. Sebab, seringkali seorang penjual pun hanya menjadi &#8216;agen&#8217; saja atau ujung tombak, sehingga makanan yang dijual sampai dari produsen pada konsumen.</p>
<p>Seorang konsumen akan perlu waktu dan biaya yang tidak sedikit untuk mencari tahu apakah makanan tersebut diproses secara halal atau bahannya memang halal. Seorang muslim bukan tidak peduli dengan makanan yang dibelinya, akan tetapi, seperti yang sudah disebutkan, tingkat kepercayaan pada pasar memang tinggi, apalagi mayoritas penjual pun orang Islam. Sehingga, seorang konsumen merasa tidak perlu untuk melakukan cek dan ricek. Saya berani bertaruh soal ini. Untuk membuktikannya, beri makan 100 orang Islam, lalu setelah mereka makan, beri tahu bahwa makanan yang sudah dimakannya mengandung daging babi. Saya jamin, 90% lebih akan marah pada anda.</p>
<p>Seperti halnya ketika kita membeli -katakanlah- handphone. Kita percaya saja bahwa handphone yang kita beli bermerk Nokia atau Siemens. Akan tetapi, berapa banyak dari kita yang mau bersusah payah membuktikan bahwa handphone yang kita beli dirakit oleh Nokia? atau untuk membuktikan bahwa komponen pada handphone kita asli dari Nokia? Sedikit. Sangat Sedikit. Seperti itu juga halnya ketika seorang muslim ingin membuktikan bahwa makanan yang dibelinya terdapat unsur haram atau tidak.</p>
<p>Pasar tidak bisa dipercaya 100%, karena tabiatnya mencari keuntungan. Kalau bisa, dengan modal yang 100 ribu, untungnya 1 milyar. Meskipun harus berbohong dan menipu. Ada banyak contoh penipuan di pasar. Berapa banyak kasus yang ditemukan di Indonesia soal bakso yang dicampur daging babi atau daging tikus? berapa banyak kasus daging sapi <em>glonggongan</em> atau ayam tiren?</p>
<p>Beruntung, beberapa bulan terakhir, DPR mulai menggodok RUU Jaminan Halal. Namun, seperti biasa, ini juga bukan persoalan mudah, karena ada saja yang menolaknya, meskipun mayoritas anggota dewan sebetulnya mendukungnya. Penolakan memang berasal dari sebagian non-muslim. Akan tetapi, non-muslim sebetulnya tidak perlu khawatir dengan hal tersebut. Bahkan, sebetulnya tidak ada satu pun non-muslim yang terganggu dengan adanya UU tersebut -jika jadi disyahkan.</p>
<p>RUU ini bukan bertujuan mengubah status makanan dari halal menjadi haram, atau sebaliknya. RUU tersebut juga bukan bertujuan melarang penjualan makanan yang oleh agama lain halal, tapi haram bagi Umat Islam. Babi, meskipun dilabeli haram oleh Umat Islam, tetap tidak dilarang bagi orang Hindu Bali. Begitu pun, daging sapi yang halal bagi orang Islam, akan tetap haram bagi orang Hindu Bali. Sama sekali tidak ada yang berubah. Jaminan halal diperlukan hanya untuk memastikan bahwa makanan yang dijual di pasaran, memang layak, dalam hal ini bagi Umat Islam. Sehingga, dengan adanya hal tersebut, dapat mengurangi kekisruhan yang terjadi di masyarakat gara-gara ditemukannya makanan haram yang dijual di pasaran.</p>
<p>Saya malah mengharapkan bahwa jaminan halal itu bukan hanya untuk Umat Islam saja. Umat Kristen, Hindu, Buddha atau bahkan Yahudi sekalipun mau ikut berperan serta dengan -misalnya- bersedia mengusahakan agar dalam tiap makanan yang dijual pun tercantum label halal versi mereka. Sehingga, label halal bisa bersanding dengan label halal versi Kristen, yang berarti makanan tersebut halal untuk Umat Islam dan Umat Kristen. Dari segi bisnis, hal tersebut jelas akan menguntungkan. Tingkat kepercayaan masyarakat, yang menjadi target utama penjualan, akan menjadi lebih tinggi.</p>
<p>Tidak hanya makanan, akan lebih baik jika restoran, rumah makan, tempat pemotongan hewan, setiap kios di pasar-pasar pun diwajibkan mendapatkan sertifikasi halal, meskipun di wilayah dengan mayoritas muslim. Sebab, bagi setiap muslim yang baik, mengetahui makanan yang dimakannya halal, akan membuat jiwa dan hatinya tenang ketika menyantapnya. Akan tetapi, jika tidak tahu atau ragu-ragu, akan selalu dihantui rasa khawatir. Makanan juga berpengaruh terhadap tabiat seseorang, itulah sebabnya kehalalan makanan perlu mendapatkan perhatian serius. Barangkali, makanan-makanan yang sudah jelas kehalalannya akan dapat mengubah tabiat masyarakat Indonesia, yang katanya mayoritas muslim, untuk menjadi lebih baik. Sehingga, tidak berlarut-larut dalam hal-hal syubhat, sebagaimana yang dapat kita temui di setiap sendi kehidupan di negeri ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mind.donnyreza.net/14092009/halal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Agar Bangsa Indonesia Tahu Balas Budi</title>
		<link>http://mind.donnyreza.net/09012009/agar-bangsa-indonesia-tahu-balas-budi/</link>
		<comments>http://mind.donnyreza.net/09012009/agar-bangsa-indonesia-tahu-balas-budi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Jan 2009 20:30:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Donny Reza</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Propaganda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mind.donnyreza.net/08012009/agar-bangsa-indonesia-tahu-balas-budi/</guid>
		<description><![CDATA[Heran, sudah 2 kali tulisan ini diposting, selalu ada kendala koneksi.  Menyebalkan juga.  Entah apa yang salah.  Seharusnya tulisan ini tampil sehari sebelumnya.  Akan tetapi, karena terkendala koneksi, isi tulisan ini tidak tersimpan di database.
Saya paling malas &#8216;mencaplok&#8217; atau melakukan copy-paste dari tulisan orang lain.  Akan tetapi, menurut saya, tulisan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Heran, sudah 2 kali tulisan ini diposting, selalu ada kendala koneksi.  Menyebalkan juga.  Entah apa yang salah.  Seharusnya tulisan ini tampil sehari sebelumnya.  Akan tetapi, karena terkendala koneksi, isi tulisan ini tidak tersimpan di database.</p>
<p>Saya paling malas &#8216;mencaplok&#8217; atau melakukan <em>copy-paste</em> dari tulisan orang lain.  Akan tetapi, menurut saya, tulisan di bawah ini memuat data-data penting terkait sejarah berdirinya bangsa Indonesia.  Saya dapatkan tulisan ini dari <a href="http://www.hidayatullah.com/phpBB3/viewtopic.php?f=6&amp;t=484&amp;sid=548872d1e00cbc031baf1a5cbc7742a1" target="_blank">forum hidayatullah.com</a>.  Sengaja saya tulis apa adanya, agar tidak ada lagi pernyataan &#8230;&#8221;<em>untuk apa bantu negara lain, negara sendiri saja sedang repot&#8230;</em>&#8221; atau apa pun penyataan yang mempertanyakan atau bahkan mencela terkait wacana bantuan terhadap Gaza (Palestina).  Toh, Indonesia pun sebetulnya sangat akrab dibantu oleh negara lain.  Contoh nyata adalah ketika Bencana Tsunami Aceh dan Gempa Jogja.</p>
<p>Dalam tulisan di bawah ini termuat sebuah judul buku.  Saya ingin mendapatkan dan membaca buku tersebut.  Saya tidak memiliki waktu untuk melacak validitas data-data yang termuat dalam tulisan tersebut.  Untuk sementara, saya anggap data tersebut valid.  Jika suatu saat, terbukti bahwa data-data dalam tulisan di bawah ini tidak benar atau bahkan tidak pernah ada, maka saya akan segera menghapus tulisan ini.</p>
<blockquote><p>Sekedar sharing mengenai info sejarah kemerdekaan RI yang tidak pernah dipublikasikan atau diajarkan di sekolah , yaitu mengenai dukungan kemerdekaan RI oleh Palestina.  Jadi sebenarnya kita berhutang dukungan kepada Palestina. Sukarno-Hatta boleh saja memproklamasikan kemerdekaan RI <em>de facto</em> pada 17 Agustus 1945, tetapi perlu diingat bahwa untuk berdiri (<em>de jure</em>) sebagai negara yang berdaulat, Indonesia membutuhkan pengakuan dari bangsa-bangsa lain. Pada poin ini kita tertolong dengan adanya pengakuan dari tokoh tokoh Timur Tengah, sehingga Negara Indonesia bisa berdaulat.</p>
<p>Gong dukungan untuk kemerdekaan Indonesia ini dimulai dari Palestina dan Mesir, seperti dikutip dari buku &#8220;Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri&#8221; yang ditulis oleh Ketua Panitia Pusat Perkumpulan Kemerdekaan Indonesia , M. Zein Hassan Lc. Buku ini diberi kata sambutan oleh Moh. Hatta (Proklamator &amp; Wakil Presiden pertama RI), M. Natsir (mantan Perdana Menteri RI), Adam Malik (Menteri Luar Negeri RI ketika buku ini diterbitkan) , dan Jenderal (Besar) A.H. Nasution.</p>
<p>M. Zein Hassan Lc. Lt. sebagai pelaku sejarah, menyatakan dalam bukunya pada hal. 40, menjelaskan tentang peranserta, opini dan dukungan nyata Palestina terhadap kemerdekaan Indonesia, di saat negara-negara lain belum berani untuk memutuskan sikap.<br />
Dukungan Palestina ini diwakili oleh Syekh Muhammad Amin Al-Husaini-mufti besar Palestina- secara terbuka mengenai kemerdekaan Indonesia:<br />
&#8220;<em>.., pada 6 September 1944, Radio Berlin berbahasa Arab menyiarkan&#8217;ucapan selamat&#8217; mufti Besar Palestina Amin Al-Husaini (beliau melarikan diri ke Jerman pada permulaan perang dunia ke dua) kepada Alam Islami, bertepatan &#8216;pengakuan Jepang&#8217; atas kemerdekaan Indonesia. Berita yang disiarkan radio tersebut dua hari berturut-turut, kami sebar-luaskan, bahkan harian &#8220;Al-Ahram&#8221; yang terkenal telitinya juga menyiarkan.&#8221; Syekh Muhammad Amin Al-Husaini dalam kapasitasnya sebagai mufti Palestina juga berkenan menyambut kedatangan delegasi &#8220;Panitia Pusat Kemerdekaan Indonesia&#8221; dan memberi dukungan penuh. Peristiwa bersejarah tersebut tidak banyak diketahui generasi sekarang, mungkin juga para pejabat dinegeri ini .<br />
</em></p>
<p>Bahkan dukungan ini telah dimulai setahun sebelum Sukarno-Hatta benar-benar memproklamirkan kemerdekaan RI. Tersebutlah seorang Palestina yang sangat bersimpati terhadap perjuangan Indonesia, Muhammad Ali Taher. Beliau adalah seorang saudagar kaya Palestina yang spontan menyerahkan seluruh uangnya di Bank Arabia tanpa meminta tanda bukti dan berkata: &#8220;<em>Terimalah semua kekayaan saya ini untuk memenangkan perjuangan Indonesia ..</em>&#8221;</p>
<p>Setelah itu, sokongan dunia Arab terhadap kemerdekaan Indonesia menjadi sangat kuat. Para pembesar Mesir, Arab dan Islam membentuk &#8216;Panitia Pembela Indonesia &#8216;. Para pemimpin negara dan perwakilannya di lembaga internasional PBB dan Liga Arab sangat gigih mendorong diangkatnya isu Indonesia dalam pembahasan di dalam sidang lembaga tersebut.</p>
<p>Di jalan-jalan terjadi demonstrasi- demonstrasi dukungan kepada Indonesia oleh masyarakat Timur Tengah. Ketika terjadi serangan Inggris atas Surabaya 10 November 1945 yang menewaskan ribuan penduduk Surabaya, demonstrasi anti Belanda-Inggris merebak di Timur-Tengah khususnya Mesir. Sholat ghaib dilakukan oleh masyarakat di lapangan -dan masjid-masjid di Timur Tengah untuk para syuhada yang gugur dlm pertempuran yang sangat dahsyat itu.</p>
<p>Yang mencolok dari gerakan massa internasional adalah ketika momentum Pasca Agresi Militer Belanda ke-1, 21 juli 1947, pada 9 Agustus. Saat kapal &#8220;Volendam&#8221; milik Belanda pengangkut serdadu dan senjata telah sampai di Port Said.Ribuan penduduk dan buruh pelabuhan Mesir berkumpul di pelabuhan itu.Mereka menggunakan puluhan motor-boat dengan bendera merah-putih -tanda solidaritas- berkeliaran di permukaan air guna mengejar dan menghalau blokade terhadap motor-motor- boat perusahaan asing yang ingin menyuplai air &amp; makanan untuk kapal &#8220;Volendam&#8221; milik Belanda yang berupaya melewati Terusan Suez, hingga kembali ke pelabuhan. Kemudian motor boat besar pengangkut logistik untuk &#8220;Volendam&#8221; bergerak dengan dijaga oleh 20 orang polisi bersenjata beserta Mr. Blackfield, Konsul Honorer Belanda asal Inggris, dan Direktur perusahaan pengurus kapal Belanda di pelabuhan. Namun hal itu tidak menyurutkan perlawanan para buruh Mesir.</p>
<p>Wartawan &#8216;Al-Balagh&#8217; pada 10/8/47 melaporkan:<br />
&#8220;<em>Motor-motor boat yang penuh buruh Mesir itu mengejar motor-boat besar itu dan sebagian mereka dapat naik ke atas deknya. mereka menyerangkamar stirman, menarik keluar petugas-petugasnya, dan membelokkan motor-boat besar itu kejuruan lain.</em>&#8221;</p>
<p>Melihat fenomena itu, majalah TIME (25/1/46) dengan nada minornya menakut-nakuti Barat dengan kebangkitan Nasionalisme-Islam di Asia dan Dunia Arab. &#8220;<em>Kebangkitan Islam di negeri Muslim terbesar di dunia seperti di Indonesia akan menginspirasikan negeri-negeri Islam lainnya untuk membebaskan diri dari Eropa.</em>&#8221;</p>
<p>Statement Tokoh dalam buku ini:<br />
A.H. Nasution<br />
&#8220;<em>Karena itu tertjatatlah, bahwa negara-2 Arab jang paling dahulu mengakui RI dan paling dahulu mengirim misi diplomatiknja ke Jogja dan jang paling dahulu memberi bantuan biaja bagi diplomat-2 Indonesia di luar negeri. Mesir, Siria, Irak, Saudi-Arabia, Jemen, memelopori pengakuan de jure RI bersama Afghanistan dan IranTurki mendukung RI. Fakta-2 ini merupakan hasil perdjuangan diplomat-2 revolusi kita. Dan simpati terhadap RI jang tetap luas di negara-2 Timur Tengah merupakan modal perdjuangan kita seterusnja, jang harus terus dibina untuk perdjuangan jang ditentukan oleh UUD &#8216;45 : &#8220;ikut melaksanakan ketertiban dunia jang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial&#8221;</em>.</p>
<p>&#8220;<em>Perumpamaan kaum muslimin yang saling kasih mengasihi dan cintamencintai antara satu sama lain ibarat satu tubuh. Jika salah satuanggota berasa sakit maka seluruh tubuh akan turut berasa sakit dantidak dapat tidur.</em>&#8221; (HR Bukhari)</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mind.donnyreza.net/09012009/agar-bangsa-indonesia-tahu-balas-budi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>I Support Palestine!</title>
		<link>http://mind.donnyreza.net/02012009/isupportpalestine/</link>
		<comments>http://mind.donnyreza.net/02012009/isupportpalestine/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Jan 2009 14:22:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Donny Reza</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Propaganda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mind.donnyreza.net/?p=187</guid>
		<description><![CDATA[
Tidak banyak yang bisa saya lakukan untuk membantu saudara-saudara saya di Palestina sana.  Akan tetapi, mudah-mudahan, bisa cukup memberi arti. Ini bukan propaganda untuk melakukan kebencian, tapi sebuah perlawanan.  Meski hanya sebuah tulisan, meski hanya sebuah banner terpasang.  Akan tetapi, setidaknya sudah mewakili sikap saya.
Bagi saya tragedi penyerangan Israel di Gaza membuktikan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a title="Indonesian Bloggers Condemn Israel (call for action)" href="http://dirgaa.com/ibci/"><img class="aligncenter" src="http://dirgaa.com/img/ibci5.gif" alt="" /></a></p>
<p style="text-align: left;">Tidak banyak yang bisa saya lakukan untuk membantu saudara-saudara saya di Palestina sana.  Akan tetapi, mudah-mudahan, bisa cukup memberi arti. Ini bukan propaganda untuk melakukan kebencian, tapi sebuah perlawanan.  Meski hanya sebuah tulisan, meski hanya sebuah banner terpasang.  Akan tetapi, setidaknya sudah mewakili sikap saya.</p>
<p style="text-align: left;">Bagi saya tragedi penyerangan Israel di Gaza membuktikan satu hal.  Bahwa demokrasi hanya sebuah omong kosong yang diagung-agungkan.  Bahwa HAM tidak lebih hanya sebuah dongengan semata.  HAM hanya berlaku jika warga Israel, Amerika dan penjilat-penjilatnya menjadi &#8216;korban&#8217;, tapi tidak berlaku bagi yang menentangnya.  Meski para penentang tersebut berada di pihak yang benar.  Perhatikan saja, tidak akan ada satu pun tindakan yang akan dilakukan oleh PBB atau Amerika untuk menghentikan serangan tersebut.  Paling hanya kecaman keras, seperti yang saya lakukan sekarang.  Kalau begitu, untuk apa ada PBB? bubarkan saja!!</p>
<p style="text-align: left;">Bom di Bali yang dilakukan oleh Imam Samudera cs, meskipun saya tidak pernah menyetujuinya, belum ada seujung kukunya dibandingkan penderitaan puluhan tahun rakyat Palestina.  Akan tetapi, tidak satupun pemimpin yang bertanggung jawab untuk itu yang mati dieksekusi dalam penjara.  Tidak satupun.</p>
<p style="text-align: left;">Israel dan Amerika boleh saja berbusa-busa mengatakan bahwa yang diserang adalah pusat persenjataan HAMAS.  Akan tetapi, adalah sebuah kenyataan bahwa korban terbesar adalah rakyat sipil.  Anak-anak dan wanita diantaranya.  Bancinya, penyerangan juga dilakukan di malam hari, dengan persenjataan tercanggih pula.  Saya tidak yakin pasukan Israel cukup berani untuk bertempur saling berhadap-hadapan, seperti perang-perang zaman dulu.   Perang yang lebih adil.  Terhadap anak-anak bersenjata batu dan ketapel pun mereka tunggang langgang.</p>
<p style="text-align: left;">Saya tidak pernah merasa yakin dengan perundingan damai atau gencatan senjata akan menyelesaikan masalah di Palestina.  Satu-satunya cara adalah <strong>hilangkan Israel dari muka bumi!!</strong> Sudah puluhan kali gencatan senjata dan perundingan damai dilakukan, tapi nihil hasilnya.  Selalu nihil.  Bagi Israel, tidak boleh satupun warga Palestina yang tinggal di tanah itu.  Itu adalah tujuan utamanya.  Selanjutnya, tinggal pintar-pintar mereka saja mencari alasan penyerangan dan melakukan genosida.</p>
<p style="text-align: left;">Kalau pemerintah Indonesia mau, sebetulnya tinggal kirim pasukan saja.  Daripada TNI di Indonesia juga menganggur dan seringnya malah ribut sama saudara sendiri.  Setidaknya, dengan dikirm ke Palestina, latihan perang yang dilakukan selama ini akan ada manfaatnya.  Siapa tahu bisa jadi orang-orang yang mati syahid!!  Apakah saya terlihat kejam kalau mengusulkan ini?  Ya, ya&#8230; saya tahu, tidak bisa mengharapkan pemerintah Indonesia dalam hal ini.  Saya pun, toh, tidak bisa berbuat banyak.  Cuma bisa cuap-cuap tanpa aksi.  Setidaknya saya sudah berusaha untuk mengatakan hal yang menurut saya benar. Wallahu&#8217;alam&#8230;</p>
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;">NB:</p>
<p style="text-align: left;">Banner diambil dari blognya <a href="http://dirgaa.com/ibci/" target="_blank">Dhika</a>.  Kalau mau berbuat lebih banyak, baca juga <a href="http://dirgaa.com/archives/kanal-amal-untuk-palestina.html" target="_blank">posting Dhika yang ini</a> dan <a href="http://www.mrbambang.web.id/hadiah-tahun-baru.blog/" target="_blank">posting Bambang yang ini</a>.</p>
<p style="text-align: left;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mind.donnyreza.net/02012009/isupportpalestine/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>32</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bukan Hanya Salah Fir&#8217;aun</title>
		<link>http://mind.donnyreza.net/08102008/bukan-hanya-salah-firaun/</link>
		<comments>http://mind.donnyreza.net/08102008/bukan-hanya-salah-firaun/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Oct 2008 18:01:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Donny Reza</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mind.donnyreza.net/?p=142</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah kesalahan, betapa pun kecilnya, akan menjadi besar tingkat mudharat nya apabila dibiarkan oleh orang-orang yang mengetahui kebenaran, tapi mendiamkannya, menolerir atau bahkan menyetujuinya.  Pada akhirnya, kesalahan tersebut akan membudaya dan sulit untuk diperbaiki.  Bahkan ketika sesuatu yang benar disampaikan, hal tersebut akan dianggap aneh, asing dan dianggap melawan arus.
Masjid di dekat tempat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebuah kesalahan, betapa pun kecilnya, akan menjadi besar tingkat mudharat nya apabila dibiarkan oleh orang-orang yang mengetahui kebenaran, tapi mendiamkannya, menolerir atau bahkan menyetujuinya.  Pada akhirnya, kesalahan tersebut akan membudaya dan sulit untuk diperbaiki.  Bahkan ketika sesuatu yang benar disampaikan, hal tersebut akan dianggap aneh, asing dan dianggap melawan arus.</p>
<p>Masjid di dekat tempat tinggal saya adalah sebuah contoh.  Sudah menjadi hal yang lumrah apabila setiap Masjid memiliki satu atau beberapa imam yang tetap.  Persoalannya, di Masjid tersebut, imam-imam yang eksis selama ini memiliki beberapa masalah.  Pertama, usia nya yang rata-rata sudah tua.  Kedua, tentang bacaan surat yang &#8216;berantakan&#8217; ketika melakukan shalat shubuh, maghrib dan isya yang dalam dua raka&#8217;at awal dikeraskan bacaannya.  Umur tua tidak menjadi masalah, jika persoalan kedua, bacaan surat, juga tidak bermasalah.  Persoalannya justru di situ.  Rata-rata bacaannya bermasalah.  Ada yang tersengal-sengal.  Ada yang terdengar seperti dalang wayang golek.  Ada yang seperti berkumur-kumur, meskipun kaidah-kaidah bacaannya baik.  Pernah suatu ketika ada orang baru yang menjadi makmum sampai berkali-kali membetulkan bacaan surat sang imam.  Pada akhirnya, yang bersangkutan bosan juga membetulkan, dan akhirnya membiarkan.</p>
<p>Di sisi lain, ada orang lain yang seusia dengan imam-imam tersebut atau bahkan yang lebih muda, memiliki kemampuan yang jauh lebih baik.  Mereka ini biasanya mengalah jika salah seorang diantara imam tersebut ada.  Mereka menjadi imam, hanya jika imam-imam tersebut tidak hadir atau terlambat menghadiri shalat berjama&#8217;ah.  Meskipun, saya yakin dalam hati mereka juga keberatan di-imam-i oleh imam-imam tersebut.  Saya termasuk salah satu yang sering merasa berat hati ketika shalat berjama&#8217;ah di-imam-i mereka.  Akan tetapi, saya pun tidak bisa menyuarakan perihal itu karena saya juga pendatang di tempat tersebut.  Ada kalanya, saya memilih untuk terlambat datang atau bahkan menunggu sampai shalat berjama&#8217;ah selesai.  Akan tetapi, belakangan saya menyadari bahwa hal tersebut juga tidak bisa dibenarkan.  Bagaimanapun, shalat berjama&#8217;ah di awal waktu lebih utama.  Juga ada tuntunan yang menyatakan seorang makmum (yang dipimpin) harus bersabar terhadap kesalahan imam (pemimpin).  Meskipun, tidak boleh juga mendiamkan begitu saja.</p>
<p>Saya menilai, rasa sungkan dan alasan kesopanan menjadi penyebab mandegnya fungsi koreksi di Masjid tersebut.  Tidak sekedar di Masjid tersebut, di hampir segala aspek kehidupan kita, bisa ditemukan dengan mudah hal-hal seperti itu.  Saya juga barangkali termasuk pelaku yang paling kronis dalam hal mendiamkan suatu kesalahan.  Padahal, menghormati orang tua atau yang dituakan, tidak berarti tanpa koreksi atau kritik.  Begitupun, orang tua dalam menyikapi koreksi, bukan berarti koreksi tersebut untuk melecehkan mereka.  Koreksi, kritik justru bisa menjadi sebuah indikator cinta atau tanda hormat.  Hanya barangkali yang menjadi persoalan adalah bagaimana cara yang paling tepat untuk menyampaikan koreksi atau kritik tersebut? Maka, teknik komunikasi yang baik menjadi sangat bermanfaat di sini.</p>
<p><em>&#8216;Amar ma&#8217;ruf nahyi munkar</em> itu bersifat universal dan menjadi kewajiban semua orang.  Tidak memandang status sosial seseorang di masyarakat.  Seseorang yang memahami fungsi <em>&#8216;amar ma&#8217;ruf nahyi munkar</em> tidak akan anti atau alergi terhadap kritik, koreksi dan saran-saran yang bersifat membangun.  Dia juga tidak akan memandang remeh orang yang memberikan kritik atau koreksi kepadanya, meskipun seorang gelandangan, jika koreksi yang diberikan memiliki nilai kebenaran.</p>
<p>Dalam sebuah artikel berjudul &#8220;<strong>Bukan Hanya Salah Fir&#8217;aun</strong>&#8220;<sup>1</sup>, dalam buku dengan judul yang sama, terdapat beberapa paragraf yang menarik:</p>
<blockquote><p>Mengapa Fir&#8217;aun sampai menganggap dirinya serba cukup, paling hebat dan paling kuat? Bagaimana ia berani bertindak melampaui batas-batas nurani dan kemanusiaan? Di satu sisi menjadi binatang, di sisi lain menjadi &#8220;tuhan&#8221;? Bukankah dulu pernah ada Raja Sulaiman, yang walaupun kekuasaannya amat besar tapi tak membuatnya arogan.  Begitu juga dengan Ratu Balqis.  Kerajaannya yang besar tak membuatnya merasa jadi tuhan.  Mengapa?</p>
<p>Al-Qur&#8217;an telah memberikan jawaban atas pertanyaan itu.  Ternyata orang-orang disekitarnyalah yang membuat Fir&#8217;aun merasa serba cukup, paling hebat sekaligus penguasa nan tak tertandingi.  Memang Fir&#8217;aun bukanlah orang shalih.  Tapi segala kejahatan Fir&#8217;aun mungkin takkan jadi besar jika ada orang yang berani mengatakan &#8220;tidak&#8221;.  &#8220;<em>Maka ia merendahkan kaumnya lalu mereka patuh kepadanya,</em>&#8221; (QS az-Zukhruf: 54)</p>
<p>Kekejian Fir&#8217;aun adalah berperilaku diktator dan berobsesi menjadi satu-satunya pihak yang harus dipatuhi.  Sedangkan kedegilan para pendukungnya adalah tidak berani menolak segala titah Fir&#8217;aun betapa pun busuknya.  Kejahatan Fir&#8217;aun adalah serakah dan kejahatan orang-orang di sekitarnya adalah meluluskan segala kehendak Fir&#8217;aun.  Kecongkakan Fir&#8217;aun adalah memperbudak rakyat jelata.  Namun kebodohan rakyat adalah membiarkan dirinya dalam keadaan layak dijajah dan diperbudak. (hal 43-44)</p></blockquote>
<p>Rumusan yang sama juga terjadi terhadap Hitler, Mussolini, George W. Bush dan yang lainnya.  Terlebih lagi jika disekitar pemimpin tersebut berdiri para penjilat yang mementingkan dirinya sendiri, yang penting posisinya aman dan bisa menikmati kekuasaan atau kekayaan, meskipun bukan menjadi orang yang paling berkuasa.</p>
<p>Bandingkan dengan sikap &#8216;Umar bin Khattab r.a seketika diangkat menjadi Khalifah,</p>
<blockquote><p><span class="storycontent"> Umar berkata kepada kaum muslimin, “<em>Barang siapa yang melihat ada kebengkokan pada diriku maka luruskanlah</em>” lantas seorang menyambutnya dengan mengatakan, “<em>Andaikan kami melihat suatu kebengkokan pada dirimu maka akan meluruskannya dengan pedang kami (maksudnya akan dikoreksi)</em>”. Umar saat itu hanya mengatakan, “<em>Segala pujibagi Allah yang menjadikan dalam umat Muhammad orang yang mau meluruskan sesuatu yang bengkok pada diri Umar dengan mata pedangnya</em>&#8220;</span></p></blockquote>
<p>Berbagai macam permasalahan yang menjerat dan sudah membudaya di Indonesia pun berawal dari kesalahan yang sebetulnya sangat sepele.  Akan tetapi, dampaknya ternyata menjadi luar biasa.  Membuang sampah misalnya.  Satu orang membuang ke sungai, dibiarkan saja.  Orang lain kemudian mengikuti, bahkan semakin banyak.  Jadilah sungai sebuah tempat sampah terpanjang yang bisa ditemui.  Sekali kita coba mengingatkan, cibiran yang kita terima.  Persoalan korupsi, rokok, pelanggaran lalu lintas &#8230; awalnya dari sebuah kesalahan yang dibiarkan, maka menjadi sebuah budaya pada akhirnya.  Dengan memahami dan mengamalkan spirit <em>&#8216;amar ma&#8217;ruf nahyi munkar</em>, sudah seharusnya sebuah kesalahan tidak dibiarkan berlarut-larut apalagi sampai membudaya.  Jika perlu, segala kesenangan dan jiwa kita korbankan.  Sanggupkah kita??</p>
<p>Referensi:</p>
<p><sup>1</sup>Tim Sabili. <em>Bukan Hanya Salah Fir&#8217;aun</em>. Cetakan I, QalamMas, Jakarta, 2004.</p>
<p>PS: Cintaku &#8230; kritik terkadang menyakitkan, tapi adakalanya itulah bentuk cinta yang sesungguhnya kita butuhkan untuk bisa tetap berlari di jalan-Nya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mind.donnyreza.net/08102008/bukan-hanya-salah-firaun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Blogger Ulul Albab</title>
		<link>http://mind.donnyreza.net/05052008/blogger-ulul-albab/</link>
		<comments>http://mind.donnyreza.net/05052008/blogger-ulul-albab/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 May 2008 17:05:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Donny Reza</dc:creator>
				<category><![CDATA[26]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mind.donnyreza.net/05052008/blogger-ulul-albab/</guid>
		<description><![CDATA[Jika ditanyakan kepada saya, blog seperti apakah yang membuat saya iri? Jawabannya bukan blog yang banyak komentarnya, bukan blog yang membuat orang jadi terkenal atau pun blog yang besar traffic-nya.  Meskipun kadang merasa iri juga, tapi sejak awal blogging saya tidak terlalu tertarik untuk menjadikan hal semacam itu sebagai tujuan utama saya.   Kalau menurut saya, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jika ditanyakan kepada saya, blog seperti apakah yang membuat saya iri? Jawabannya bukan blog yang banyak komentarnya, bukan blog yang membuat orang jadi terkenal atau pun blog yang besar <em>traffic</em>-nya.  Meskipun kadang merasa iri juga, tapi sejak awal <em>blogging</em> saya tidak terlalu tertarik untuk menjadikan hal semacam itu sebagai tujuan utama saya.   Kalau menurut saya, sayang sekali jika tujuan <em>blogging</em> hanya untuk itu.</p>
<p>Saya sangat iri kepada blogger yang bisa men-sinergi-kan antara sains dan agama dalam tulisan-tulisannya.  Dalam kasus saya, Islam adalah agama yang dimaksud.  Ilmiah sekaligus memiliki dan memberikan pengalaman spiritual kepada pembacanya.  Membuat cerdas sekaligus menjadikan seseorang mendekatkan dirinya kepada sang pencipta.  Memberi pencerahan otak sekaligus kepada hati.</p>
<p>Terus terang saja, tidak banyak saya temukan blog semacam itu.  Blog ini pun belum bisa dikategorikan seperti itu, meskipun pada mulanya tujuan saya blogging adalah untuk itu.  Apa daya, kemampuan saya belum sampai ke tahap itu.  (<em>kok jadi ber-rima begini</em> ?)  <img src='http://mind.donnyreza.net/wp-includes/images/smilies/angel_dizzy.gif' alt=':angelpusing:' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Sejak masa sekolah, saya termasuk orang yang tidak menyetujui dikotomi antara agama dan sains, atau antara dunia dan akhirat.  Oleh sebab itu, saya tidak bisa menerima sekularisasi dalam bidang apa pun.  Bagi saya agama dan sains mestilah saling mendukung, saling melengkapi atau saling menyempurnakan.  Bahkan, perintah pertama yang diturunkan kepada Rasulullah Muhammad SAW adalah &#8220;<em>Iqra!</em>&#8220;, bacalah! Sebab membaca adalah kunci dari sains, kunci dari ilmu pengetahuan.</p>
<p>Indonesia saat ini kekurangan orang-orang semacam itu.  Ada yang shalih, tapi kurang cerdas di bidang lainnya.  Orang-orang semacam ini cenderung menerima &#8220;apa adanya&#8221; dan mudah dibodoh-bodohi.  Ada yang cerdas, tapi kurang shalih.  Orang semacam ini cenderung untuk sombong dan membodoh-bodohi orang lain.  Benarlah pernyataan Einstein,&#8221; <em>(ber)-ilmu tanpa (ber-)agama adalah pincang, (ber-)agama tanpa ilmu adalah buta</em>.&#8221;</p>
<p>Saya kemudian jadi teringat ucapan seorang Ulama yang tidak terlalu banyak dikenal ketika melihat barang-barang elektronik yang menurutnya sangat canggih.  Katanya, &#8220;<em>ini adalah mutiara umat Islam yang hilang</em>&#8220;.  Beliau berkata seperti itu karena meyakini bahwa seharusnya umat Islam menguasai teknologi.  Sementara teknologi akan terkuasai jika kita menguasai ilmu pengetahuan sebagai pondasinya.  Selama kita tidak pernah menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, selama itu juga kita hanya akan menjadi &#8216;penonton&#8217; peradaban.</p>
<p>Pada acara bedah buku &#8220;<em>Orientalisme dan Diabolisme Pemikiran</em>&#8221; karya Dr. Syamsudin Arif di Masjid Salman ITB beberapa saat lalu, Adian Husaini mengatakan bahwa di Indonesia belum ditemukan seorang pun doktor di bidang Islam-Saintis.  Sementara Malaysia sudah memiliki beberapa orang yang bergelar doktor di bidang Islam-Saintis.  Saya saja baru tahu kalau ada orang yang mendalami tentang Islam-Saintis.  Andaikan diberi kesempatan, ingin juga rasanya untuk mendalami tentang Islam-Saintis yang dimaksud oleh Adian Husaini tersebut.</p>
<p>Dalam Islam, orang-orang yang bisa men-sinergi-kan dan mengharmonisasikan agama dan sains inilah yang kemudian disebut <em>ulul albab</em>.  Tidak hanya sekedar beragama, tapi juga berilmu.  Tidak hanya sekedar berilmu, tapi juga beragama.  Dalam diri seorang <em>ulul albab</em>, keduanya memiliki porsi yang seimbang.  Ilmuwan sekaligus ulama.  Meskipun tergolong &#8216;radikal&#8217; dalam beragama, tapi lebih mengedepankan jalur diskusi atau melalui tulisan dan tidak menyukai jalur kekerasan, sesuai kapasitas ke-ilmuwan-an dan ke-ulama-an mereka.</p>
<p>C 1 H 3 U L 4 17 6. 050508. 00.00</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mind.donnyreza.net/05052008/blogger-ulul-albab/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>33</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Islam Versi Bajakan: Ahmadiyah Ditinjau Sebagai Sebuah Sistem Operasi Komputer</title>
		<link>http://mind.donnyreza.net/19042008/islam-bajakan/</link>
		<comments>http://mind.donnyreza.net/19042008/islam-bajakan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Apr 2008 15:41:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Donny Reza</dc:creator>
				<category><![CDATA[5]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mind.donnyreza.net/19042008/islam-bajakan/</guid>
		<description><![CDATA[Latar Belakang
Jika diibaratkan sebuah Sistem Operasi dalam komputer, Islam adalah sebuah merk dagang Sistem Operasi yang terkenal, jaminan mutu, fleksibel, berdaya saing dan berdaya jual tinggi serta most-recomended.  Kualitasnya menyebabkan produk tersebut bisa bertahan lama sejak pertama kali masuk ke pasar.  Dengan alasan kualitas itu pula, produk Islam digunakan turun temurun dan bahkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Latar Belakang</strong></p>
<p>Jika diibaratkan sebuah Sistem Operasi dalam komputer, Islam adalah sebuah merk dagang Sistem Operasi yang terkenal, jaminan mutu, fleksibel, berdaya saing dan berdaya jual tinggi serta <em>most-recomended</em>.  Kualitasnya menyebabkan produk tersebut bisa bertahan lama sejak pertama kali masuk ke pasar.  Dengan alasan kualitas itu pula, produk Islam digunakan turun temurun dan bahkan setiap orang tua mewajibkan anak-anak bahkan cucu-cucunya untuk menggunakan produk tersebut.</p>
<p>Islam menyebar menggunakan metode Dakwah dengan tim marketingnya terdiri dari orang-orang yang berkualitas tinggi dan sangat memahami seluk beluk Islam.  Hebatnya lagi, tim marketing Islam adalah orang-orang yang melakukan dakwah secara sukarela.  Barangkali persis seperti apa yang dilakukan oleh para pengguna Linux dan <em>Open Source Software</em>(OSS) di seluruh dunia.</p>
<p>Metode dakwah adalah sebuah metode marketing yang sangat fleksibel, bisa disesuaikan dengan kondisi psikologi sang juru dakwah maupun calon konsumennya.  Namun sang juru dakwah dituntut untuk lebih memahami psikologi calon konsumen.  Selain itu, seorang juru dakwah dilarang untuk memaksa calon konsumen menggunakan produk tersebut.</p>
<p>Tugas seorang juru dakwah hanya menyampaikan bahwa ada sebuah Sistem Operasi dengan merk dagang Islam yang memiliki berbagai kelebihan dibandingkan Sistem Operasi yang lain.  Setiap orang bisa terlibat menjadi seorang juru dakwah.  Bahkan, seringkali seseorang tidak menyadari bahwa dirinya sudah berperan menjadi seorang juru dakwah dan menyebabkan orang lain tertarik kepada Islam.</p>
<p>Islam kemudian tumbuh menjadi sebuah Sistem Operasi yang tidak lepas dari kehidupan sehari-hari seseorang.  Oleh karenanya, Islam begitu dicintai oleh mereka yang menamakan dirinya Umat Islam atau Kaum Muslimin.   Setiap orang yang sudah menggunakan Sistem Operasi Islam, maka dia sudah menjadi bagian dari Umat Islam.</p>
<p>Setiap pengguna Sistem Operasi Islam dianjurkan untuk membaca buku panduan Sistem Operasi tersebut agar tidak salah jalan dalam menggunakan Islam.  Buku panduan tersebut dinamakan Al-Quran.  Al-Quran diyakini berasal dari yang menciptakan Islam itu sendiri dan hanya satu-satunya buku panduan yang legal.  Setiap pemalsuan ataupun modifikasi terhadap buku panduan ini tidak pernah berhasil karena ternyata isi buku panduan tersebut banyak dihafal oleh Umat Islam.  Maka kesalahan satu huruf saja bisa langsung terdeteksi.</p>
<p>Al-Quran adalah sebuah produk <strike><em>open source</em> dan</strike> berlisensi.  Lisensi yang digunakan adalah <em><a href="http://creativecommons.org/licenses/by-nd/3.0/" target="_blank">Creative Commons Attribution-No Derivative Works 3.0 Unported License</a>.</em>  Bebas diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun.  Setiap orang bebas menyebarkan dan menjual duplikasi Al-Quran.  Namun, setiap penjualan Al-Quran terjemahan harus disertai dengan sumber aslinya.  Tujuannya sebagai fungsi koreksi jika terdapat kesalahan dalam terjemahan.  <strong>Redaksi dari sumber aslinya tidak boleh dimodifikasi sedikitpun</strong>.  Akan tetapi desain, penggunaan huruf dan penambahan ornamen pada Al-Quran -selama tidak merubah redaksi dari Al-Quran- diperbolehkan.  Bahkan sebagian Umat Islam ada yang menganjurkan untuk memperindah bentuk tulisan kode sumbernya.</p>
<p>Sang Kreator Islam, Allah, memilih dan mengutus seseorang yang bernama Muhammad sebagai guru, pengajar dan pendidik yang memberikan pencerahan tentang bagaimana  mengaplikasikan Islam yang baik dan benar.  Oleh sebab itu, Muhammad bergelar Rasulullah, Sang Utusan Allah.  Rasulullah memiliki otoritas penuh untuk menentukan mana yang boleh dilakukan, mana yang tidak boleh dilakukan dalam mengaplikasikan Islam.  Rasulullah juga diyakini paling memahami penafsiran terhadap Al-Quran  untuk kemudian diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.</p>
<p>Rasulullah kemudian mengajarkan apa yang dipahaminya dalam bentuk ucapan, perintah, larangan, sikap, tindakan, persetujuannya atau mencontohkannya.  Kesemuanya itu ternyata memiliki makna yang mendalam bagi para sahabatnya.  Oleh karena itu, tidak sedikit pula yang menuliskannya dan mengajarkannya ke anak atau murid-murid mereka, karena lebih banyak berisi teknis menjalankan Sistem Operasi Islam.  Al-Quran tidak memuat teknis mengoperasikan Islam, hanya petunjuk-petunjuk umum.  <em>Step by Step</em> atau <em>How To</em> pengoperasian tidak dibahas di dalam Al-Quran.   Petunjuk teknis inilah yang kemudian dibukukan juga dan diberi nama Al-Hadits.</p>
<p>Sayangnya, jika dibandingkan membaca Al-Quran, sangat sedikit sekali Kaum Muslimin yang tertarik untuk membaca Al-Hadits.  Barangkali karena  terlalu banyak, dirasa membebani.  Implikasinya, dalam hal melakukan praktik <em>maintenance</em> atau diistilahkan Ibadah dalam Islam, banyak yang tidak sesuai dengan petunjuk teknisnya.  Perbedaan pemahaman dalam hal teknis inilah yang kemudian memunculkan berbagai <em>Mazhab</em> di tubuh Umat Islam.</p>
<p>Umat Islam yang memiliki pemahaman sama terhadap suatu pelaksanaan teknis, biasanya mendirikan sebuah organisasi, agar terakomodir dengan baik.  Maka kemudian muncul berbagai organisasi dengan Platform Islam.  Dalam Islam, platform tersebut berarti <em>Aqidah</em>.  Berbagai macam organisasi ini dalam dunia Linux barangkali lebih dikenal sebagai <em>Distro</em>.  Platformnya sama, Islam, tetapi citarasanya berbeda.  Meskipun kerap kali terjadi &#8216;gesekan&#8217; antar-pengguna Distro, tetapi tidak satu pun yang menyatakan mereka bukan &#8216;pengguna&#8217; Islam.</p>
<p>Sebuah distro (organisasi) dikatakan memiliki Platform Islam jika: Pertama, menyatakan bahwa Allah adalah Sang Kreator Islam, tidak ada Kreator selain Allah; kedua Al-Quran merupakan satu-satunya Buku Panduan yang legal; ketiga Muhammad adalah Rasulullah dan merupakan utusan terakhir.  Ini semua adalah harga mati.  Oleh sebab itu, Muhammadiyah, NU, Persis, Hidayatullah, Hizbut Tahrir atau PKS di Indonesia masih dalam Platform Islam.  Sama halnya dengan Fedora, Redhat, Ubuntu atau Mandriva yang masih disebut Linux.</p>
<p>Dalam keyakinan Kaum Muslimin, Islam yang ada sekarang merupakan Islam <em>Final Release</em>.  Tidak akan mungkin muncul Islam versi yang baru ataupun utusan yang baru.  Islam <em>Final Release</em> juga diklaim sebagai Sistem Operasi yang paling sempurna oleh sang Kreator.  Oleh sebab itu, tidak akan pernah muncul Islam Service Pack 1 atau 2 atau berapapun yang berisi <em>patch</em> terhadap Islam <em>Final Release</em>.</p>
<p><strong>Munculnya Ahmadiyah dan Penolakan Kaum Muslimin<br />
</strong></p>
<p>Di tengah-tengah kemapanan Islam, di India muncul seseorang yang mengklaim dirinya sebagai utusan baru.  Sang Utusan bernama Mirza Ghulam Ahmad (MZA).  MZA kemudian menawarkan sebuah Sistem Operasi baru yang &#8216;dimodifikasi&#8217; dari Islam.  Sistem Operasi baru tersebut kemudian dikenal sebagai Ahmadiyah.</p>
<p>Masalah muncul ketika MZA memasarkan Sistem Operasi tersebut dengan merk dagang Islam.  Selain itu, pengguna Ahmadiyah juga diberikan buku panduan baru yang diberi nama <em>Tadzkirah</em>.  Ternyata, <em>Tadzkirah</em> sebagian besar diambil dari Al-Quran yang kemudian dimodifikasi oleh MZA.  Selain itu, posisi Muhammad tidak menjadi utusan terakhir lagi dan posisinya digantikan oleh MZA.</p>
<p>Hal tersebut tentu saja menyulut keberatan dan kemarahan sebagian besar Kaum Muslimin.  MZA diklaim telah melakukan pembajakan merk dagang Islam.  Posisi Ahmadiyah pun menjadi serba tanggung, tidak bisa dikatakan Islam juga tidak bisa dikatakan sebagai sebuah Distro baru, karena platform yang digunakan sudah berbeda.</p>
<p>Sebagian besar Kaum Muslimin tidak terlalu mempermasalahkan terjadinya perubahan platform.  Masalah terbesar adalah penggunaan merk dagang Islam sebagai Sistem Operasi baru tersebut.  Jika dilihat dari sudut pandang pengusaha atau sebuah perusahaan, hal ini tentu saja sebuah masalah besar, bahkan hidup-matinya sebuah perusahaan.  Terlebih jika merk dagang tersebut sudah mendarah daging dikalangan penggunanya.  Dari sisi hukum, penggunaan merk dagang yang sama tidak bisa dibenarkan dan merupakan sebuah pelanggaran berat.  Apalagi dilakukan secara terang-terangan.</p>
<p>Oleh sebab itu, kekhawatiran Kaum Muslimin sangat bisa dimengerti dan menjadi sebuah kewajaran jika Kaum Muslimin menuntut pembubaran Ahmadiyah atau meminta menggantinya dengan merk dagang yang baru.  Inti masalahnya bukan terletak pada ketakutan atas berkurangnya pengguna Islam, akan tetapi lebih kepada kesalahpahaman yang dimungkinkan akan terjadi terhadap Kaum Muslimin dan Islam itu sendiri.  Hanya saja, tetap tidak dibenarkan Kaum Muslimin melakukan perusakan terhadap Sistem Operasi tersebut.</p>
<p><strong>Sebuah Opini</strong></p>
<p>Shakespeare berpendapat, &#8220;<em>apalah artinya sebuah nama</em>&#8220;.  Saya berpendapat, &#8220;<em>hanya orang bodoh yang percaya pendapat Shakespeare</em>&#8220;.  Sebab ternyata pe-nama-an menjadi sangat penting dalam banyak hal.  Allah saja mengajarkan Adam nama-nama benda terlebih dahulu.  Di sisi lain, nama juga bisa menjadi fungsi koreksi jika ada pernyataan atau kutipan yang diatasnamakan terhadap seseorang.</p>
<p>Dalam kasus Ahmadiyah, penggunaan nama Islam jelas tidak bisa diterima karena &#8216;barang&#8217;-nya saja sudah berbeda.  Di dalam agama Kristen pun pernah terjadi &#8216;perubahan&#8217; platform tersebut.  Sehingga muncul Protestan sebagai nama baru sebuah agama.  Orang Katolik tidak mau disebut Protestan, begitu juga sebaliknya.</p>
<p>Penggunaan isu HAM pun menjadi tidak relevan karena persoalannya bukan terletak pada boleh-tidaknya seseorang beribadah dan meyakini sesuatu.  Bayangkan saja anda memiliki sebuah perusahaan yang sudah anda bangun bertahun-tahun, sudah memiliki nama besar dan dikenal banyak orang.  Lalu tiba-tiba, muncul sebuah perusahaan dengan nama yang sama dan diklaim sebagai perusahaan yang sama dengan perusahaan yang anda miliki.</p>
<p>Saya yakin anda pun akan menuntut pembubaran atau meminta perusahaan tersebut mengganti nama bahkan anda pun berhak untuk meminta ganti rugi atau menuntut mereka ke pengadilan.  Tidak ada hubungannya sama sekali dengan HAM,  karena itu adalah sebuah pelanggaran.   Justru anda dan perusahaan anda telah menjadi korban pembajakan.  Jika kemudian terjadi penyimpangan di lapangan oleh karyawan perusahaan tersebut, perusahaan anda pun akan menjadi terkena imbasnya.  Anda tentu tidak ingin nama baik perusahaan rusak atau memberikan ganti rugi jika terjadi kerugian dipihak pengguna.</p>
<p>Di sisi lain, anda pun tentu akan melakukan gerakan penyadaran kepada para pengguna produk perusahaan &#8217;saingan&#8217; anda tersebut bahwa produk tersebut bukan produk anda.  Atau anda akan mengatakan bahwa perusahaan anda tidak pernah mengeluarkan produk seperti itu.  Keberatan anda bukan pada para pengguna karena menggunakan produk &#8216;bajakan&#8217; tersebut, akan tetapi pada perusahaan pembajak tersebut yang sudah semena-mena menggunakan nama perusahaan anda.  Hal yang sama juga dilakukan oleh Kaum Muslimin terhadap Ahmadiyah, demi menjaga nama Islam itu sendiri.</p>
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p>Inti permasalah kasus Ahmadiyah adalah pada penggunaan nama Islam oleh Ahmadiyah.  Salah satu cara agar Ahmadiyah tetap bisa leluasa bergerak dan &#8216;menjual produknya&#8217; adalah dengan mengganti nama dan melepaskan embel-embel Islam.  Selama nama Islam masih melekat pada Ahmadiyah, selama itu pula Kaum Muslimin akan tetap mempermasalahkan.  Sayangnya, Ahmadiyah sepertinya tidak pernah berniat mengganti nama Islam.</p>
<p>Oleh sebab itu, dalil HAM tidak bisa digunakan dan tidak relevan karena kasus yang terjadi sesungguhnya bukan pada pelarangan Jemaah Ahmadiyah untuk meyakini apa yang diyakininya atau pelarangan beribadah.  Persoalan keyakinan dan ibadah adalah urusan personal yang dilindungi dan dihormati oleh Islam.  Akan tetapi, penggunaan nama Islam untuk Ahmadiyah tetap tidak bisa dibenarkan.  Sebab Ahmadiyah merupakan sebuah entitas yang berbeda dengan Islam jika ditinjau dari platform (aqidah) Islam yang dibawa oleh Muhammad SAW.</p>
<p><strong>Saran</strong></p>
<p>Bagi Ahmadiyah, Ganti nama.  Dengan resiko Ahmadiyah akan kehilangan beberapa Jemaahnya karena tidak merasa lagi sebagai orang Islam.  Saya berpendapat begitu karena saya meyakini bahwa banyaknya Jemaah Ahmadiyah di Indonesia sebagiannya karena mengusung nama Islam.  Oleh sebab itu, ketika Ahmadiyah dinyatakan bukan Islam, ada kemungkinan banyak Jemaah yang keluar dari Ahmadiyah.</p>
<p>Namun, tentunya Ahmadiyah tidak akan merasa khawatir dengan hal tersebut jika meyakini bahwa banyaknya Jemaah Ahmadiyah bukan karena mengusung nama Islam.</p>
<p>Bagi Pemerintah, segera buat kebijakan yang menjelaskan status Ahmadiyah.  Jika mencontoh kepada Pakistan, Brunei dan Malaysia serta merujuk kepada Rabithah Alam Islami, maka Ahmadiyah dinyatakan sebagai sebuah agama. [<em>Harry Sufehmi, </em><a href="http://harry.sufehmi.com/archives/2008-01-09-1576/"><em>Hidup Damai Bersama Ahmadiyah</em></a>]</p>
<p>Bagi Umat Islam, tetap sabar, hindari pengrusakan dan perbanyak dialog.  Kenali Islam dengan baik agar tidak salah pilih.</p>
<p>Bandung, 22.00, 19 April 2008.</p>
<p>Tulisan Terkait dari Blogger lain</p>
<ul>
<li><a href="http://harry.sufehmi.com/archives/2008-01-09-1576/">Hidup Damai Bersama Ahmadiyah (Harry Sufehmi)</a></li>
</ul>
<p>Update: Kata Open Source pada tulisan ini saya coret setelah merujuk ke <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Open_Source#The_Open_Source_Definition" target="_blank">sini</a>.  Ada kesalahpahaman dari saya pribadi.  Terima kasih.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mind.donnyreza.net/19042008/islam-bajakan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>42</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pekalah!</title>
		<link>http://mind.donnyreza.net/26012008/pekalah/</link>
		<comments>http://mind.donnyreza.net/26012008/pekalah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Jan 2008 00:47:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Donny Reza</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mind.donnyreza.net/26012008/pekalah/</guid>
		<description><![CDATA[Jika anda akan berwudhlu, perhatikan:

Apakah banyak orang mengantri di belakang anda?
Cukupkah air yang ada untuk anda dan orang-orang di belakang anda?

Jika anda tidak mendapati kondisi di atas, silahkan berwudhlu &#8217;sesuka&#8217; anda!  Akan tetapi, jika satu saja kondisi terpenuhi di antara 2 kondisi di atas, antara banyak yang mengantri dan air yang kurang, sebaiknya ber-wudhlu-lah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jika anda akan berwudhlu, perhatikan:</p>
<ol>
<li>Apakah banyak orang mengantri di belakang anda?</li>
<li>Cukupkah air yang ada untuk anda dan orang-orang di belakang anda?</li>
</ol>
<p>Jika anda tidak mendapati kondisi di atas, silahkan berwudhlu &#8217;sesuka&#8217; anda!  Akan tetapi, jika satu saja kondisi terpenuhi di antara 2 kondisi di atas, antara banyak yang mengantri dan air yang kurang, sebaiknya ber-wudhlu-lah dengan <a href="http://harry.sufehmi.com/archives/2008-01-21-1581/" target="_blank">cepat dan hemat</a>!</p>
<p>Kemudian, ketika memasuki masjid dan berniat untuk melakukan shalat sunat qabliah (sebelum shalat wajib), lihatlah ke sekeliling anda:</p>
<ol>
<li>Berapa banyak orang di masjid tersebut?</li>
<li>Apakah anda tiba lebih awal daripada yang lain?</li>
<li>Jika banyak, mana yang lebih banyak, yang melakukan shalat sunat atau yang menunggu iqamat?</li>
</ol>
<p>Jika anda tiba lebih awal daripada yang lain, silahkan lakukan shalat sunat.  Namun, jika anda tiba agak terlambat dibandingkan yang lain, apalagi anda melihat lebih banyak yang menunggu iqamat, lupakan niat anda untuk shalat sunat.  Sebab, ketika anda melakukan shalat sunat, anda <strong>dzalim</strong> pada banyak orang yang membuat mereka menunggu anda menyelesaikan shalat sunat.  Kalau pun anda <em>keukeuh</em> melakukan shalat sunat, pastikan shalat yang anda lakukan tidak membuat orang lain menunggu terlalu lama.</p>
<p>Sebelum anda melakukan shalat berjamaah, perhatikan diri anda:</p>
<ul>
<li>Bagaimana bau badan anda?</li>
<li>Apakah mulut anda menyebarkan bau tidak enak?</li>
<li>Sebelum melakukan shalat, apa dan di mana anda melakukan aktivitas?</li>
</ul>
<p>Jika sebelum shalat anda &#8216;bersilaturahmi&#8217; ke kandang kambing, atau bergaul dengan kambing, bersihkanlah dulu badan anda, dan pakailah wewangian.  Tidak semua orang merasa nyaman dengan bau kambing.  Sebagian orang sangat sensitif  terhadap bau-bauan.  Pastikan mulut dan badan anda tidak menyebarkan bau tidak sedap.  Sebab, bau-bauan itu akan mengganggu kekhusyuan shalat.  Bukan shalat anda, tapi shalat orang di sebelah anda.</p>
<p>Jika anda ditunjuk menjadi seorang imam, perhatikan ini:</p>
<ul>
<li>Adakah orang-orang sepuh dalam jamaah?</li>
<li>Adakah anak-anak?</li>
<li>Adakah orang yang sedang dalam perjalanan?</li>
<li>Adakah orang yang sedang terburu-buru?</li>
<li>Adakah orang yang sakit?</li>
</ul>
<p>Jika anda merasa yakin bahwa orang-orang tersebut tidak ada dalam jama&#8217;ah yang akan anda pimpin, silahkan shalat &#8217;sesuka&#8217; anda.  Akan tetapi, jika anda tidak yakin, percepatlah shalat anda.  Pilihlah surat-surat yang pendek.  Sebab, orang-orang dalam kondisi di atas cenderung &#8216;kesal&#8217; apabila imam yang mereka ikuti terasa lama.  Hatta, jika anda sudah terbiasa jadi imam shalat di suatu masjid sekali pun.  Apalagi, anak-anak yang cenderung agresif dan tidak bisa diam.  Malahan, mereka akan mengganggu ketertiban shalat jamaah.</p>
<p>Selain itu, perhatikan juga, adakah orang lain yang hafalan Qur&#8217;an-nya sama atau minimal mendekati hafalan Qur&#8217;an anda? Jika anda merasa tidak yakin, bacalah surat-surat yang dikenal oleh orang banyak.  Sebab, anda ditunjuk jadi imam bukan untuk menunjukan kehebatan anda dalam soal hafalan Qur&#8217;an!!  Anda ditunjuk jadi imam untuk membimbing jamaah anda, akan tetapi anda pun harus menyadari bahwa anda bukan seorang yang sempurna.  Suatu saat anda bisa lupa.  Disinilah perlunya orang lain yang bisa mengoreksi dan mengingatkan jika anda lupa.</p>
<p>Ketika anda akan melakukan shalat sunat ba&#8217;diah (setelah shalat wajib), perhatikanlah:</p>
<ul>
<li>Apakah tempat anda shalat menghalangi jalan keluar-masuk?</li>
<li>Adakah orang lain di luar yang mengantri untuk melakukan shalat wajib?</li>
</ul>
<p>Jika anda yakin tidak ditemukan kondisi di atas, shalatlah.  Akan tetapi, jika anda tidak yakin, tunggulah sampai masjid sedikit lebih lengang dan carilah tempat shalat yang aman dari lalu lintas orang-orang.  Jika anda mendapati ada orang lain mengantri shalat jamaah, lupakan niat anda shalat sunat, segeralah keluar dan berikan kesempatan kepada orang lain untuk melakukan shalat berjamaah.  Sebab ketika anda memaksa diri untuk melakukan shalat sunat dalam kondisi-kondisi tersebut, anda sudah <strong>dzalim </strong>pada orang lain.</p>
<p>Pertanyaannya, bagaimana mungkin ibadah yang kita lakukan bisa mendzalimi orang lain?  Kenyataannya sangat mungkin dan bisa.  Hanya saja, barangkali kita tidak menyadari ketika kita melakukan ibadah, ada hak orang lain yang terganggu.  Adalah sebuah kedzaliman ketika -misalnya- kita menghabiskan waktu berdzikir, sementara ada orang lain menunggu kita dan sedang terburu-buru.</p>
<p>Saya bukan ingin melarang siapa pun untuk melakukan ibadah, berdosa sekali saya jika melakukan itu.  Saya sangat senang jika setiap orang rajin beribadah.  Akan tetapi, sebelum beribadah, cobalah untuk memperhatikan orang-orang di sekitar kita.  Pekalah dengan situasi di sekeliling.  Saya tidak yakin ibadah kita diterima oleh Allah SWT, jika ada orang lain yang terdzalimi ketika kita melakukan ibadah.  Sejatinya, ibadah yang kita lakukan dengan baik akan menuntun kita menjadi orang-orang yang peka dengan kondisi sekitar. Sebab, semakin dekat seseorang dengan Rabb-nya, seharusnya dia akan semakin peduli dengan lingkungan sekitarnya.</p>
<p>Ada yang mau menambahkan?</p>
<p>C 1 H 3 U L 4 17 6. 260108. 07.45.</p>
<p>NB: duh, perasaan kok kayak saya yang udah bener aja ya? <img src='http://mind.donnyreza.net/wp-includes/images/smilies/teeth.png' alt=':-D' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mind.donnyreza.net/26012008/pekalah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kiamat Itu Ilmiah</title>
		<link>http://mind.donnyreza.net/11012008/kiamat-itu-ilmiah/</link>
		<comments>http://mind.donnyreza.net/11012008/kiamat-itu-ilmiah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Jan 2008 22:34:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Donny Reza</dc:creator>
				<category><![CDATA[26]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mind.donnyreza.net/11012008/kiamat-itu-ilmiah/</guid>
		<description><![CDATA[Persoalan kiamat selama ini memang masih dan selalu dihubungkan dengan keimanan, terutama dalam Islam.  Bahkan, urusan mempercayai kiamat atau hari akhir menjadi salah satu syarat seseorang dikatakan beriman atau tidak.  Oleh karena itu, orang-orang yang atheis cenderung tidak mempercayai kiamat.  Entah dengan penganut Agama lain, yang jelas hampir seluruh umat Islam meyakini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Persoalan kiamat selama ini memang masih dan selalu dihubungkan dengan keimanan, terutama dalam Islam.  Bahkan, urusan mempercayai kiamat atau hari akhir menjadi salah satu syarat seseorang dikatakan beriman atau tidak.  Oleh karena itu, orang-orang yang atheis cenderung tidak mempercayai kiamat.  Entah dengan penganut Agama lain, yang jelas hampir seluruh umat Islam meyakini bahwa kiamat akan terjadi.  Hanya soal waktunya saja yang tidak seorang pun bisa memastikan.  Kapan akan terjadinya, tidak seorang pun yang mengetahui.  Memang terkesan dogmatis, tapi cukup efektif untuk menanamkan doktrin tersebut dalam benak setiap muslim.</p>
<p><span id="more-41"></span>Akan tetapi, sikap yang berbeda ditunjukan oleh kalangan ilmuwan, apa pun agamanya.  Namanya juga ilmuwan, mereka cenderung penasaran dengan berbagai hal yang menarik perhatiannya.  Seperti juga masalah awal kehidupan yang masih menjadi perdebatan, kiamat atau hari akhir juga masih menjadi perdebatan di kalangan ilmuwan.</p>
<p>Salah satu ciri terjadinya kiamat yang diyakini oleh umat Islam adalah ketika matahari terbit di barat.  Akan tetapi, tentunya menjadi pertanyaan juga.  Jika matahari terbit di Barat, bagaimana proses terjadinya?  Apakah bumi tiba-tiba berhenti dan berputar arah langsung?  Sementara itu, secara teori, tidak mungkin suatu benda yang berputar bisa langsung berhenti tanpa melalui proses perlambatan.  Kalau memang ada proses perlambatan, jangankan sampai berputar arah dan penghuni bisa melihat matahari terbit di Barat, belum berhenti saja bumi ini sudah berantakan.  Kecuali proses perlambatan itu berlangsung secara konstan setiap hari dan ukuran perlambatannya kecil sekali, sehingga manusia dan seluruh makhluk di bumi tidak menyadarinya.  Kalau tidak ada, lebih parah lagi.  Bayangkan saja ketika kita naik kereta api dengan kecepatan tinggi dan tiba-tiba berhenti, seluruh penumpang pasti akan &#8216;terbang&#8217;.</p>
<p>Beberapa saat yang lalu, saya menonton sebuah program yang membahas <em>science</em> di Metro TV.  Salah satunya berbicara tentang galaksi.  Konon, galaksi Bima Sakti dan seluruh isinya, termasuk bumi, sedang bergerak dengan kecepatan sangat tinggi.  Dan diprediksi akan berbenturan bahkan bertabrakan dengan salah satu galaksi lainnya.  Dalam simulasi digambarkan ketika terjadi benturan itu terjadi ledakan yang sangat dahsyat.  Dari situ kemudian saya berpikir, jangan-jangan seperti itulah proses kiamat.  Namun, benturan itu baru akan terjadi dalam waktu yang masih sangat lama.</p>
<p>Hal yang lebih menarik adalah bahwa kiamat ini didukung oleh Hukum II Termodinamika, atau yang juga dikenal sebagai Hukum Entropi.  Dalam &#8216;kuliah&#8217;-nya yang bisa dibaca di <a href="http://www.hawking.org.uk/text/public/bot.html">sini</a>, Stephen Hawking, salah seorang Fisikawan kenamaan mengatakan</p>
<blockquote><p><em>&#8230;if your theory disagrees with the Second Law of Thermodynamics, it is in bad trouble. In fact, the theory that the universe has existed forever is in serious difficulty with the Second Law of Thermodynamics. The Second Law, states that disorder always increases with time.</em></p></blockquote>
<p>Dalam sebuah tulisan yang berjudul &#8220;<a href="http://www.evolutiondeceit.com/indonesian/keruntuhan11.php" target="_blank">Ilmu Termodinamika Menyanggah Evolusi</a>&#8220;, Harun Yahya menuliskan,</p>
<blockquote><p><em>Hukum II Termodinamika, yang dianggap sebagai salah satu hukum dasar                ilmu fisika, menyatakan bahwa pada kondisi normal semua sistem yang                dibiarkan tanpa gangguan cenderung menjadi tak teratur, terurai,                dan rusak sejalan dengan waktu. Seluruh benda, hidup atau mati,                akan aus, rusak, lapuk, terurai dan hancur. Akhir seperti ini mutlak                akan dihadapi semua makhluk dengan caranya masing-masing dan menurut                hukum ini, proses yang tak terelakkan ini tidak dapat dibalikkan.</em></p></blockquote>
<p>Teori ini memang terasa sangat masuk akal.  Dalam keseharian, kita mendapati bahwa tidak ada sesuatu pun yang abadi.  Semua hal, entah itu makhluk hidup atau mati, pada akhirnya akan menuju sebuah kehancuran.  Buah-buahan yang membusuk, besi yang berkarat, kayu yang lapuk.  Dan alam semesta ini, bukan sebuah pengecualian, semuanya tunduk pada sunatullah ini.  Bahkan, tanpa terjadinya benturan antar galaksi pun, Bumi ini akan hancur dengan sendirinya.  Lagi-lagi, masalahnya soal waktu saja.</p>
<p>Dipandang dari sisi sains dan agama, sebetulnya saling mendukung satu sama lain ketika berbicara kiamat atau soal hancurnya alam semesta.  Perdebatan terjadi ketika berbicara pasca-kiamat, karena lagi-lagi masalah ini berhubungan dengan keimanan.  Sementara dari sisi sains, belum didapatkan jawaban yang pasti, karena kita berbicara soal &#8216;alam lain&#8217; yang tidak teramati.  Akan tetapi, yang jelas sudah ada titik-temu soal kepastian terjadinya akhir dunia.</p>
<p>Sayangya, masih terjadi gap yang cukup lebar antara &#8216;ulama dan ilmuwan.  Bahkan, cenderung saling menafikan satu sama lain.  Kalangan &#8216;ulama cenderung tidak mau tahu tentang proses terjadinya kiamat yang bisa jadi sangat ilmiah.  Sehingga, ceramah-ceramah yang diberikan cenderung dogmatis.  Padahal, temuan-temuan ilmuwan sebetulnya bisa semakin memperkuat keyakinan dan keimanan bahwa kiamat memang akan terjadi.  Toh, proses terjadinya kiamat tidak pernah diceritakan dengan jelas.  Saya sendiri lebih menyukai ceramah-ceramah yang tidak hanya menambah keimanan, tapi juga pengetahuan.  Dan itu tidak mungkin terjadi jika &#8216;ulama tidak pernah mendekati ilmuwan atau sebaliknya.  Karena sesungguhnya, sebaik-baiknya keimanan adalah yang berdasarkan ilmu.</p>
<p>C 1 H 3 U L 4 17 6.  110108.  05.20.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mind.donnyreza.net/11012008/kiamat-itu-ilmiah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Idul Adha 1428 H: Sebuah Catatan</title>
		<link>http://mind.donnyreza.net/24122007/idul-adha-1428-h-sebuah-catatan/</link>
		<comments>http://mind.donnyreza.net/24122007/idul-adha-1428-h-sebuah-catatan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Dec 2007 21:52:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Donny Reza</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mind.donnyreza.net/24122007/idul-adha-1428-h-sebuah-catatan/</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu penyesalan yang muncul tidak lama setelah saya berhenti kerja setahun yang lalu adalah saya lupa bahwa tidak lama setelah itu adalah bulan haji.  Berqurban dengan uang sendiri dan dari hasil jerih payah sendiri adalah cita-cita saya.  Sebetulnya, tabungan saya saat itu lebih dari cukup untuk sekedar membeli satu ekor kambing.  [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Salah satu penyesalan yang muncul tidak lama setelah saya berhenti kerja setahun yang lalu adalah saya lupa bahwa tidak lama setelah itu adalah bulan haji.  Berqurban dengan uang sendiri dan dari hasil jerih payah sendiri adalah cita-cita saya.  Sebetulnya, tabungan saya saat itu lebih dari cukup untuk sekedar membeli satu ekor kambing.  Akan tetapi, saat itu ternyata belum saatnya bagi saya berqurban.  Ada kondisi-kondisi darurat yang menyebabkan tabungan saya tersebut terpakai&#8230;dan habis.</p>
<p><span id="more-34"></span><em>Alhmdulillah</em>, tahun ini saya diberi kesempatan untuk berqurban dari hasil jerih payah sendiri.  Dan saya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan tersebut.  Meskipun, bukan hal yang mudah juga &#8216;bergelut&#8217; dengan berbagai macam pikiran yang muncul setelah niat berqurban itu muncul.  Ada godaan-godaan yang memang &#8216;menggoda&#8217;.  &#8220;<em>Don, kamu kan pengen laptop, kalau qurban uangnya kurang dong&#8230;</em>&#8220;.  &#8220;<em>Don, katanya pengen beli hub, dvd rom dan monitor baru&#8230;</em>&#8220;. &#8220;<em>Don, itu kamera DSLR lagi nunggu kamu beli tuh&#8230;</em>&#8220;. Duh&#8230;!!  Tidak jarang juga muncul dorongan untuk membatalkannya.  Hanya saja, saya tidak ingin melalui Idul Adha tahun ini dengan penyesalan lagi.</p>
<p>Ketika menulis ini, muncul perasaan khawatir disebut riya kalau menceritakan amal yang telah dilakukan.  Namun, takut riya juga ternyata malah masuk kategori riya.  Akan tetapi, setelah &#8216;merenungi&#8217; lagi perjalanan Rasulullah dan para sahabatnya, mereka melakukan amalan-amalan secara terang-terangan.  &#8220;Luruskan niat!&#8221;, kata AA Gym.  Terbayang kembali ketika Umar Bin Khattab r.a menyerahkan setengah harta yang didapatkannya untuk Jihad, yang kemudian dijawab oleh Abu Bakar ash-Shiddiq r.a, &#8220;<em>Saya serahkan semua harta yang saya dapatkan hari ini, ya Rasulullah</em>!&#8221;  Barangkali, masalahnya bukan diceritakan atau tidaknya suatu amalan.  Ada saatnya harus diceritakan, ada saatnya harus disembunyikan.  Toh, keikhlasan seseorang hanya Allah yang tahu.  Kita hanya bisa &#8216;merasa&#8217; ikhlas padahal tidak, atau ketika kita tidak merasa ikhlas, namun ternyata di sisi Allah kita termasuk orang-orang yang ikhlas.</p>
<p>Kali ini, bukan tanpa tujuan dan alasan jika kemudian saya menceritakan pengalaman berqurban pada Idul Adha tahun ini.  Selama ini, saya sudah sering juga &#8216;menasihati&#8217; orang-orang terdekat saya untuk berqurban.  Barangkali, dengan melakukannya terlebih dahulu, ajakan saya itu akan lebih didengar.  Pada dasarnya, setiap orang paling enggan untuk &#8216;diperintah&#8217;.  Orang lebih melihat keteladanan daripada hanya sekedar &#8216;perintah&#8217;.  Salah satu kunci keberhasilan dakwah Rasulullah adalah keteladanan, dan saya ingin mencontoh cara-cara Rasulullah tersebut.  Sehingga, ajakan saya tidak hanya sekedar omongan saja, tapi juga disertai dengan bukti.</p>
<p>Di sisi lain, saya juga memiliki teman-teman yang memiliki &#8216;tabungan&#8217; yang saya perkirakan jumlahnya jauh lebih banyak daripada apa yang saya miliki.  Akan tetapi, mereka belum tergerak untuk berqurban.  Barangkali, dengan cara seperti ini, mereka bisa tergerak untuk berqurban juga.  <em>Fastabiqul khoirot</em>.  Jika saya yang masih &#8216;ngos-ngosan&#8217; untuk mencari penghidupan sehari-hari saja bisa untuk berqurban, seharusnya mereka yang kondisi ekonominya lebih baik, jauh lebih mampu lagi.</p>
<p>Sebetulnya tidak sulit dan tidak berat jika kita mau.  Menjadi sulit dan berat karena biasanya kita mengikuti &#8216;bisikan&#8217; yang muncul di dalam hati kita.  Kita terlalu memikirkan hal-hal yang sebetulnya tidak perlu ditakuti.  Takut ini, takut itu, bagaimana kalau begini, bagaimana kalau begitu.  Salah satu rahasia yang saya dapatkan agar ibadah atau amalan menjadi lebih mudah adalah&#8230;<em>Just Do It</em>!  Karena pada dasarnya, ibadah menjadi ringan karena kerelaan atau kepasrahan ketika melakukannya.  Semakin banyak yang kita pikirkan dan takuti, semakin berat kita melakukan ibadah.</p>
<p>Pada kasus saya, dana untuk qurban itu saya alokasikan jauh-jauh hari.  Tidak bisa diganggu gugat lagi, kecuali memang ada kondisi yang lebih darurat.  Dengan menempatkan qurban sebagai prioritas utama, menjadikan qurban ada di posisi yang sangat penting.  Dan karena sangat penting, maka menjadi sebuah keharusan atau bahkan kewajiban bagi saya untuk melakukannya.  Dengan cara seperti itu, berqurban akan menjadi sangat mudah.  Itulah yang saya lakukan.  Kita tidak akan merasa terlalu &#8217;sayang&#8217; ketika uang yang kita miliki berpindah tangan kepada amil jika kita titipkan, juga kepada penjual domba atau sapi jika kita membelinya sendiri.</p>
<p>Cara lain adalah dengan menempatkan qurban sebagai sebuah kebutuhan, terlebih lagi keinginan.  Jika kita membutuhkan sesuatu, maka kita akan berusaha sekuat tenaga untuk memenuhi kebutuhan tersebut.  Dan karena merasa butuh, kita pun biasanya akan merasa ringan untuk mengeluarkan uang berapa pun jumlahnya.  Harga seekor kambing untuk qurban berkisar antara 600 ribu &#8211; 1 juta.  Harga ponsel jauh lebih mahal, tapi kita tidak merasa keberatan untuk membelinya karena kita menginginkannya.  Jutaan orang pergi haji juga bukan semata-mata karena kewajiban sebagai seorang muslim saja, tapi juga karena keinginan haji tersebut sudah mendarah-daging, sehingga puluhan juta rupiah pun tidak berat mengeluarkannya.</p>
<p>Sebetulnya, saya merasa Idul Adha bukan hari raya buat saya.  Karena alasan yang sangat personal.  Saya tidak suka daging kambing dan daging sapi.  Terlebih bau daging kambing yang sering membuat saya menderita.  Maka, saya kadang-kadang malah merasa malas jika mendekati hari raya Idul Adha.  Belum lagi penderitaan itu masih akan terus berlangsung selama beberapa hari sesudahnya, karena bau darah daging kambing yang biasanya bertahan cukup lama.  Sementara kebanyakan umat Islam &#8216;berpesta&#8217;, saya tersiksa <img src='http://mind.donnyreza.net/wp-includes/images/smilies/sad.png' alt=':(' class='wp-smiley' /> Nafsu makan saya turun drastis ketika Idul Adha dan beberapa hari sesudahnya.  Saya juga sering uring-uringan kalau ibu memasak apa pun yang berbau kambing.  Karena alasan itu pula, saya enggan dan tidak pernah terlibat dalam kepanitiaan Idul Adha.  Akan tetapi, ketidaksukaan saya itu tentunya bukan menjadi alasan untuk tidak melakukan qurban.  Syariat tidak bisa dipatahkan hanya karena kita tidak menyukai suatu hal yang berhubungan dengan syariat itu.</p>
<p>Bagi orang-orang seperti saya yang tidak menyukai daging kambing atau sapi, barangkali &#8216;godaan&#8217;-nya terasa lebih berat.  Dalam qurban ada sepertiga hak bagi yang melakukannya.  Pada kasus orang-orang seperti saya, tentunya tidak bisa menikmati hak tersebut.  Hal ini tentunya menjadikan qurban yang kita lakukan tidak &#8216;berasa&#8217;, karena kita seolah-olah membeli sesuatu, tapi kita tidak mendapatkan apa-apa.  Akan tetapi, kalau logikanya dibalik, kita bisa lebih bersyukur karena daging qurban  kita bisa &#8216;menjangkau&#8217; dan dinikmati lebih banyak orang.  Dan barangkali, diantara banyak orang tersebut, ada yang mendoakan kebaikan untuk kita dan dikabulkan oleh Allah.  Siapa pula yang tidak ingin didoakan oleh banyak orang?</p>
<p>Saya akan merasa lebih senang jika mendapati orang-orang disekitar saya lebih tertarik dan berusaha untuk bersama-sama berlomba dalam beramal sholeh.  Salah satunya berqurban.  Iri pada orang-orang sholeh adalah iri yang diperbolehkan, bahkan dianjurkan.  Apabila semangat <em>fastabiqul khoirot</em> tertanam di dada setiap orang, maka akan tercipta kondisi di mana setiap orang bersaing untuk melakukan amal sholeh.  Jika dunia sudah dipenuhi oleh orang-orang yang berusaha untuk beramal sholeh, rasanya kita tidak perlu menyaksikan lagi kasus-kasus rebutan daging qurban di televisi-televisi kita, yang membuat kita mengelus dada dan geleng-geleng kepala.</p>
<p>C 1 H 3 U L 4 17 6. 241207. 05.03</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mind.donnyreza.net/24122007/idul-adha-1428-h-sebuah-catatan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mitos Sialan</title>
		<link>http://mind.donnyreza.net/10122007/mitos-sialan/</link>
		<comments>http://mind.donnyreza.net/10122007/mitos-sialan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 09 Dec 2007 20:18:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Donny Reza</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mind.donnyreza.net/10122007/mitos-sialan/</guid>
		<description><![CDATA[Ah, masih saja terjadi.  Di zaman internet sudah menjadi sebuah kebutuhan seperti sekarang ini, sebuah pernikahan harus ditentukan oleh &#8216;hitung-hitungan&#8217; sang kyai dukun.  Meskipun katanya seorang kyai, saya lebih suka menyebutnya dukun.
Pagi ini teman saya uring-uringan.  Hubungan yang sudah terbina cukup lama dengan sang calon, terancam gagal gara-gara setelah bertanya pada sang dukun, kedua nama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ah, masih saja terjadi.  Di zaman internet sudah menjadi sebuah kebutuhan seperti sekarang ini, sebuah pernikahan harus ditentukan oleh &#8216;hitung-hitungan&#8217; sang <strike>kyai</strike> dukun.  Meskipun katanya seorang kyai, saya lebih suka menyebutnya dukun.<span id="more-28"></span></p>
<p>Pagi ini teman saya uring-uringan.  Hubungan yang sudah terbina cukup lama dengan sang calon, terancam gagal gara-gara setelah bertanya pada sang dukun, kedua nama mereka dalam hitungan sang dukun tersebut tidak baik jika disandingkan.   Jadilah teman saya tersebut hampir putus asa.  Dia merasa, sama saja bohong usaha selama ini, kalau pada akhirnya harus ditentukan oleh hitung-hitungan tidak logis semacam itu.  Kenapa tidak sejak pertama saja? Ya, saya memahami kegelisahan dan kemarahannya.</p>
<p>Sebagai seorang teman yang dimintai saran dan pertimbangan, saya pun memberikan beberapa saran dan pandangan saya soal masalah tersebut.  Memang mengkhawatirkan dan menggelikan masalah semacam itu.   Sampai saya harus mengatakan, &#8220;<em>bilang saja sama dia, kamu dan keluarga juga sudah melakukan perhitungan, tapi hasilnya baik-baik saja, nggak ada masalah.  Jadi, yang goblok kyai-nya siapa kalau begitu?  Mesti salah satu yang bener.  Kalau nggak, berarti dua-duanya goblok!</em>&#8220;  Teman saya sampai tertawa dan malah meng-iya-kan saran saya tersebut.</p>
<p>Lebih mengkhawatirkan lagi setelah mengetahui latar belakang keluarga calon teman saya itu.  Sang calon sendiri seorang sarjana, kakaknya seorang Guru Besar di sebuah Universitas Negeri di Kota Bandung.  Keluarganya golongan berada.  Ini tentu sebuah ironi atau bahkan tragedi.  Hasil pendidikan bertahun-tahun tidak menjadikan pikirannya rasional.  Namun, realita juga membuktikan, banyak sarjana, master dan doktor yang masih saja percaya dukun dari pada percaya diri.  Sayang sekali.  Bagaimana Indonesia bisa maju ya?</p>
<p>Akan tetapi, status kyai yang disandang sang dukun membuat saya lebih merasa khawatir lagi.   Konon sang dukun juga punya pesantren.  &#8220;<em>Jangan-jangan santrinya juga tukang hitung-hitungan ya?</em>&#8220;, seru teman saya dan bikin kami berdua terbahak-bahak.  Seorang kyai yang semestinya mengajarkan kelurusan aqidah malah mengajarkan sebuah kesesatan dan menjadi panutan pula.  Dan kita bisa mendapati orang-orang semacam ini dengan sangat mudah di sekitar kita.</p>
<p>Sejak kecil, <em>Alhamdulillah</em>, saya dianugerahi pikiran yang rasional.  Sehingga sering saya merasa heran, kenapa orang-orang harus datang ke dukun?  Kenapa adik tidak boleh mendahului kakaknya kalau menikah?  Kenapa kalau salah satu keluarga saya mengadakan pesta rumahnya selalu bau kemenyan? Kenapa juga harus ada hari baik dan tidak baik? Kenapa harus ada tahlilan?  Atau bahkan soal mitos-mitos yang beredar di masyarakat.  Pada akhirnya, saya tumbuh jadi pemberontak terhadap hal-hal semacam itu.</p>
<p>Meskipun sebagian mitos tersebut membawa ajaran Islam, namun ternyata Islam yang saya pelajari tidak pernah mengajarkan hal-hal semacam itu.  Islam yang saya pelajari adalah Islam yang rasional.  Soal pernikahan saja, Islam mengajarkan untuk menyegerakan jika dirasa sudah mampu.  Tidak menjadi soal apakah ketika menikah kakaknya didahului atau tidak.  Jika pernikahan itu sebuah ibadah, masa iya sebuah ibadah harus dihalang-halangi gara-gara sesuatu hal yang konyol dan tidak terbukti kebenarannya?  Bahkan, saya sering sekali mengutip ucapan seorang ustadz, &#8220;<em>lahir sih boleh kakak duluan, tapi kalo soal jodoh juga harus kakak duluan, berarti mati juga harus kakak duluan dong&#8230;</em>&#8221;</p>
<p>Soal larangan mendahului kakak ini, saya menyaksikan betapa salah seorang teman perempuan saya sangat tersiksa gara-gara sang pacar belum juga mau melamar karena kakak perempuannya belum menikah.  Sialnya, sang kakak ini juga tidak tahu diri, dia terus saja mencari calon yang dirasa cocok dan tidak mengijinkan adiknya untuk mendahului.  Ditambah lagi dengan pola pikir keluarganya yang &#8216;kolot&#8217;, semakin lengkaplah penderitaan teman saya ini.  Akhirnya, putus juga.  Kadang-kadang saya senewen sendiri mendengar kasus-kasus semacam ini.</p>
<p>Belum lagi soal perhitungan hari baik yang ternyata hasil perhitungannya pun menggelikan.  Bagaimana tidak menggelikan juga suatu pesta pernikahan diadakan di hari kerja?  Konon jika menikah di hari yang ditentukan itu, sebuah pernikahan akan langgeng dan membawa kebahagiaan. Ini tentunya merepotkan undangan dan keluarga pengantin sendiri karena bukan waktu yang tepat.  Bagi saya, semua hari berpotensi untuk memiliki kebaikan.  Rumus hari pernikahan bagi saya dan beberapa orang teman adalah&#8230;&#8221;<strong><em>adakan pernikahan di hari sabtu/minggu, dan di awal bulan!</em></strong>&#8221; Karena awal bulan adalah saat-saat gajian, dan kalau pun harus menyumbang, tidak dirasa memberatkan.</p>
<p>Kebanyakan anak-anak muda sekarang mungkin sudah tidak lagi peduli dan memikirkan hal-hal semacam ini.  Akan tetapi, generasi orang tua masih sangat banyak yang menganggap hal semacam ini penting.  Untungnya orang tua saya tidak seperti itu.  Perlu diakui, masih agak sulit melepas mitos-mitos semacam itu.  Indonesia adalah sebuah negara yang kebudayaannya sebagian besar dibangun oleh mitos.  Maka, hampir di setiap tempat di seluruh Indonesia, kita mendapati mitos daerahnya sendiri-sendiri.  Saya sendiri sering merasa khawatir jika suatu saat dipertemukan dengan calon mertua yang seperti itu.  Saya hanya merasa khawatir tidak mampu bersikap bijaksana, itu saja.</p>
<p>Hidup ini terlalu serba tidak pasti untuk diramal.  Toh, kyai, paranormal atau pun dukun-dukun itu pun belum tentu berbahagia dengan hidupnya.  Belum tentu juga dia bisa meramalkan nasibnya sendiri, apalagi nasib orang lain.  Masa iya kita harus percaya pada mereka yang tidak tahu menahu tentang nasibnya sendiri?</p>
<p>C 1 H 3 U L 4 17 6. 101207. 03.08</p>
<p>NB:  Agak kurang sreg dengan judulnya <img src='http://mind.donnyreza.net/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mind.donnyreza.net/10122007/mitos-sialan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
