Category: Islam (Page 1 of 3)

Halal, Label Halal dan Jaminan Halal

Masalah kehalalan harta dan makanan merupakan persoalan yang sangat penting bagi Umat Islam, tapi sering terlupakan atau sengaja diabaikan. Saking pentingnya, do’a seorang muslim yang sedikit saja terdapat makanan haram atau makanan yang dibeli dari harta haram dalam tubuhnya, terancam tidak akan dikabulkan oleh Allah SWT. Bahkan kehalalan suatu makanan, bagi seorang muslim, merupakan sesuatu yang wajib diperjuangkan karena menyangkut tetesan darah yang mengalir dalam dirinya, anak-istrinya, juga persoalan pertanggungjawaban kepada Allah SWT.

Terminologi ‘halal’ dan ‘haram’ memang lekat dengan Islam. Namun, pada dasarnya setiap agama memiliki kriteria halal dan haram-nya masing-masing. Dalam agama Yahudi dikenal kata ‘kosher’, mirip dengan halal, namun kriterianya berbeda. Seperti juga Umat Islam, orang-orang Yahudi juga cukup berhati-hati terkait makanan yang masuk ke perutnya. Konon, mereka lebih cerewet dibandingkan muslim dalam hal pelabelan ‘kosher’ pada kemasan makanan yang diperjualbelikan.

Indonesia mayoritas penduduknya muslim, namun selama ini hampir tidak ada jaminan dari pemerintah bahwa pasar-pasar yang memasok makanan untuk mayoritas tersebut menyediakan makanan yang halal. Bisa dikatakan, makanan yang beredar di pasaran, mayoritas sebetulnya masuk dalam kategori syubhat, terutama daging-dagingan. Mengapa syubhat? karena memang meragukan, tidak ada jaminan bahwa makanan tersebut halal. Halal bahannya, halal cara penyembelihannya, halal cara mendapatkannya (bukan barang curian).

Lalu, apa yang menyebabkan kita masih membeli makanan-makanan tersebut? Kepercayaan. Kita percaya bahwa makanan tersebut tidak mengandung unsur haram, kita percaya bahwa makanan tersebut diproses dengan cara yang halal, kita percaya bahwa makanan tersebut didapatkan dengan cara yang halal. Oleh sebab itu, setiap pedagang atau pengusaha mestinya merasa malu apabila dalam dagangannya terdapat unsur-unsur yang haram dijual, apalagi dengan sengaja melakukannya hanya untuk mendapatkan keuntungan.

Saya tidak sependapat dengan mereka yang mengatakan bahwa masalah halal-haram tidak perlu diurus dengan undang-undang. Mereka berpendapat, biarkan pasar yang menentukan, toh kalau seorang muslim peduli, mereka tidak akan membeli makanan yang haram. Pertanyaannya? siapa yang menjamin makanan yang dibeli memang halal? penjualnya? jangan-jangan dia pun tidak tahu kehalalan makanan yang dijualnya. Sebab, seringkali seorang penjual pun hanya menjadi ‘agen’ saja atau ujung tombak, sehingga makanan yang dijual sampai dari produsen pada konsumen.

Seorang konsumen akan perlu waktu dan biaya yang tidak sedikit untuk mencari tahu apakah makanan tersebut diproses secara halal atau bahannya memang halal. Seorang muslim bukan tidak peduli dengan makanan yang dibelinya, akan tetapi, seperti yang sudah disebutkan, tingkat kepercayaan pada pasar memang tinggi, apalagi mayoritas penjual pun orang Islam. Sehingga, seorang konsumen merasa tidak perlu untuk melakukan cek dan ricek. Saya berani bertaruh soal ini. Untuk membuktikannya, beri makan 100 orang Islam, lalu setelah mereka makan, beri tahu bahwa makanan yang sudah dimakannya mengandung daging babi. Saya jamin, 90% lebih akan marah pada anda.

Seperti halnya ketika kita membeli -katakanlah- handphone. Kita percaya saja bahwa handphone yang kita beli bermerk Nokia atau Siemens. Akan tetapi, berapa banyak dari kita yang mau bersusah payah membuktikan bahwa handphone yang kita beli dirakit oleh Nokia? atau untuk membuktikan bahwa komponen pada handphone kita asli dari Nokia? Sedikit. Sangat Sedikit. Seperti itu juga halnya ketika seorang muslim ingin membuktikan bahwa makanan yang dibelinya terdapat unsur haram atau tidak.

Pasar tidak bisa dipercaya 100%, karena tabiatnya mencari keuntungan. Kalau bisa, dengan modal yang 100 ribu, untungnya 1 milyar. Meskipun harus berbohong dan menipu. Ada banyak contoh penipuan di pasar. Berapa banyak kasus yang ditemukan di Indonesia soal bakso yang dicampur daging babi atau daging tikus? berapa banyak kasus daging sapi glonggongan atau ayam tiren?

Beruntung, beberapa bulan terakhir, DPR mulai menggodok RUU Jaminan Halal. Namun, seperti biasa, ini juga bukan persoalan mudah, karena ada saja yang menolaknya, meskipun mayoritas anggota dewan sebetulnya mendukungnya. Penolakan memang berasal dari sebagian non-muslim. Akan tetapi, non-muslim sebetulnya tidak perlu khawatir dengan hal tersebut. Bahkan, sebetulnya tidak ada satu pun non-muslim yang terganggu dengan adanya UU tersebut -jika jadi disyahkan.

RUU ini bukan bertujuan mengubah status makanan dari halal menjadi haram, atau sebaliknya. RUU tersebut juga bukan bertujuan melarang penjualan makanan yang oleh agama lain halal, tapi haram bagi Umat Islam. Babi, meskipun dilabeli haram oleh Umat Islam, tetap tidak dilarang bagi orang Hindu Bali. Begitu pun, daging sapi yang halal bagi orang Islam, akan tetap haram bagi orang Hindu Bali. Sama sekali tidak ada yang berubah. Jaminan halal diperlukan hanya untuk memastikan bahwa makanan yang dijual di pasaran, memang layak, dalam hal ini bagi Umat Islam. Sehingga, dengan adanya hal tersebut, dapat mengurangi kekisruhan yang terjadi di masyarakat gara-gara ditemukannya makanan haram yang dijual di pasaran.

Saya malah mengharapkan bahwa jaminan halal itu bukan hanya untuk Umat Islam saja. Umat Kristen, Hindu, Buddha atau bahkan Yahudi sekalipun mau ikut berperan serta dengan -misalnya- bersedia mengusahakan agar dalam tiap makanan yang dijual pun tercantum label halal versi mereka. Sehingga, label halal bisa bersanding dengan label halal versi Kristen, yang berarti makanan tersebut halal untuk Umat Islam dan Umat Kristen. Dari segi bisnis, hal tersebut jelas akan menguntungkan. Tingkat kepercayaan masyarakat, yang menjadi target utama penjualan, akan menjadi lebih tinggi.

Tidak hanya makanan, akan lebih baik jika restoran, rumah makan, tempat pemotongan hewan, setiap kios di pasar-pasar pun diwajibkan mendapatkan sertifikasi halal, meskipun di wilayah dengan mayoritas muslim. Sebab, bagi setiap muslim yang baik, mengetahui makanan yang dimakannya halal, akan membuat jiwa dan hatinya tenang ketika menyantapnya. Akan tetapi, jika tidak tahu atau ragu-ragu, akan selalu dihantui rasa khawatir. Makanan juga berpengaruh terhadap tabiat seseorang, itulah sebabnya kehalalan makanan perlu mendapatkan perhatian serius. Barangkali, makanan-makanan yang sudah jelas kehalalannya akan dapat mengubah tabiat masyarakat Indonesia, yang katanya mayoritas muslim, untuk menjadi lebih baik. Sehingga, tidak berlarut-larut dalam hal-hal syubhat, sebagaimana yang dapat kita temui di setiap sendi kehidupan di negeri ini.

loading...

Agar Bangsa Indonesia Tahu Balas Budi

Heran, sudah 2 kali tulisan ini diposting, selalu ada kendala koneksi. Menyebalkan juga. Entah apa yang salah. Seharusnya tulisan ini tampil sehari sebelumnya. Akan tetapi, karena terkendala koneksi, isi tulisan ini tidak tersimpan di database.

Saya paling malas ‘mencaplok’ atau melakukan copy-paste dari tulisan orang lain. Akan tetapi, menurut saya, tulisan di bawah ini memuat data-data penting terkait sejarah berdirinya bangsa Indonesia. Saya dapatkan tulisan ini dari forum hidayatullah.com. Sengaja saya tulis apa adanya, agar tidak ada lagi pernyataan …”untuk apa bantu negara lain, negara sendiri saja sedang repot…” atau apa pun penyataan yang mempertanyakan atau bahkan mencela terkait wacana bantuan terhadap Gaza (Palestina). Toh, Indonesia pun sebetulnya sangat akrab dibantu oleh negara lain. Contoh nyata adalah ketika Bencana Tsunami Aceh dan Gempa Jogja.

Dalam tulisan di bawah ini termuat sebuah judul buku. Saya ingin mendapatkan dan membaca buku tersebut. Saya tidak memiliki waktu untuk melacak validitas data-data yang termuat dalam tulisan tersebut. Untuk sementara, saya anggap data tersebut valid. Jika suatu saat, terbukti bahwa data-data dalam tulisan di bawah ini tidak benar atau bahkan tidak pernah ada, maka saya akan segera menghapus tulisan ini.

Sekedar sharing mengenai info sejarah kemerdekaan RI yang tidak pernah dipublikasikan atau diajarkan di sekolah , yaitu mengenai dukungan kemerdekaan RI oleh Palestina. Jadi sebenarnya kita berhutang dukungan kepada Palestina. Sukarno-Hatta boleh saja memproklamasikan kemerdekaan RI de facto pada 17 Agustus 1945, tetapi perlu diingat bahwa untuk berdiri (de jure) sebagai negara yang berdaulat, Indonesia membutuhkan pengakuan dari bangsa-bangsa lain. Pada poin ini kita tertolong dengan adanya pengakuan dari tokoh tokoh Timur Tengah, sehingga Negara Indonesia bisa berdaulat.

Gong dukungan untuk kemerdekaan Indonesia ini dimulai dari Palestina dan Mesir, seperti dikutip dari buku “Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri” yang ditulis oleh Ketua Panitia Pusat Perkumpulan Kemerdekaan Indonesia , M. Zein Hassan Lc. Buku ini diberi kata sambutan oleh Moh. Hatta (Proklamator & Wakil Presiden pertama RI), M. Natsir (mantan Perdana Menteri RI), Adam Malik (Menteri Luar Negeri RI ketika buku ini diterbitkan) , dan Jenderal (Besar) A.H. Nasution.

M. Zein Hassan Lc. Lt. sebagai pelaku sejarah, menyatakan dalam bukunya pada hal. 40, menjelaskan tentang peranserta, opini dan dukungan nyata Palestina terhadap kemerdekaan Indonesia, di saat negara-negara lain belum berani untuk memutuskan sikap.
Dukungan Palestina ini diwakili oleh Syekh Muhammad Amin Al-Husaini-mufti besar Palestina- secara terbuka mengenai kemerdekaan Indonesia:
.., pada 6 September 1944, Radio Berlin berbahasa Arab menyiarkan’ucapan selamat’ mufti Besar Palestina Amin Al-Husaini (beliau melarikan diri ke Jerman pada permulaan perang dunia ke dua) kepada Alam Islami, bertepatan ‘pengakuan Jepang’ atas kemerdekaan Indonesia. Berita yang disiarkan radio tersebut dua hari berturut-turut, kami sebar-luaskan, bahkan harian “Al-Ahram” yang terkenal telitinya juga menyiarkan.” Syekh Muhammad Amin Al-Husaini dalam kapasitasnya sebagai mufti Palestina juga berkenan menyambut kedatangan delegasi “Panitia Pusat Kemerdekaan Indonesia” dan memberi dukungan penuh. Peristiwa bersejarah tersebut tidak banyak diketahui generasi sekarang, mungkin juga para pejabat dinegeri ini .

Bahkan dukungan ini telah dimulai setahun sebelum Sukarno-Hatta benar-benar memproklamirkan kemerdekaan RI. Tersebutlah seorang Palestina yang sangat bersimpati terhadap perjuangan Indonesia, Muhammad Ali Taher. Beliau adalah seorang saudagar kaya Palestina yang spontan menyerahkan seluruh uangnya di Bank Arabia tanpa meminta tanda bukti dan berkata: “Terimalah semua kekayaan saya ini untuk memenangkan perjuangan Indonesia ..

Setelah itu, sokongan dunia Arab terhadap kemerdekaan Indonesia menjadi sangat kuat. Para pembesar Mesir, Arab dan Islam membentuk ‘Panitia Pembela Indonesia ‘. Para pemimpin negara dan perwakilannya di lembaga internasional PBB dan Liga Arab sangat gigih mendorong diangkatnya isu Indonesia dalam pembahasan di dalam sidang lembaga tersebut.

Di jalan-jalan terjadi demonstrasi- demonstrasi dukungan kepada Indonesia oleh masyarakat Timur Tengah. Ketika terjadi serangan Inggris atas Surabaya 10 November 1945 yang menewaskan ribuan penduduk Surabaya, demonstrasi anti Belanda-Inggris merebak di Timur-Tengah khususnya Mesir. Sholat ghaib dilakukan oleh masyarakat di lapangan -dan masjid-masjid di Timur Tengah untuk para syuhada yang gugur dlm pertempuran yang sangat dahsyat itu.

Yang mencolok dari gerakan massa internasional adalah ketika momentum Pasca Agresi Militer Belanda ke-1, 21 juli 1947, pada 9 Agustus. Saat kapal “Volendam” milik Belanda pengangkut serdadu dan senjata telah sampai di Port Said.Ribuan penduduk dan buruh pelabuhan Mesir berkumpul di pelabuhan itu.Mereka menggunakan puluhan motor-boat dengan bendera merah-putih -tanda solidaritas- berkeliaran di permukaan air guna mengejar dan menghalau blokade terhadap motor-motor- boat perusahaan asing yang ingin menyuplai air & makanan untuk kapal “Volendam” milik Belanda yang berupaya melewati Terusan Suez, hingga kembali ke pelabuhan. Kemudian motor boat besar pengangkut logistik untuk “Volendam” bergerak dengan dijaga oleh 20 orang polisi bersenjata beserta Mr. Blackfield, Konsul Honorer Belanda asal Inggris, dan Direktur perusahaan pengurus kapal Belanda di pelabuhan. Namun hal itu tidak menyurutkan perlawanan para buruh Mesir.

Wartawan ‘Al-Balagh’ pada 10/8/47 melaporkan:
Motor-motor boat yang penuh buruh Mesir itu mengejar motor-boat besar itu dan sebagian mereka dapat naik ke atas deknya. mereka menyerangkamar stirman, menarik keluar petugas-petugasnya, dan membelokkan motor-boat besar itu kejuruan lain.

Melihat fenomena itu, majalah TIME (25/1/46) dengan nada minornya menakut-nakuti Barat dengan kebangkitan Nasionalisme-Islam di Asia dan Dunia Arab. “Kebangkitan Islam di negeri Muslim terbesar di dunia seperti di Indonesia akan menginspirasikan negeri-negeri Islam lainnya untuk membebaskan diri dari Eropa.

Statement Tokoh dalam buku ini:
A.H. Nasution
Karena itu tertjatatlah, bahwa negara-2 Arab jang paling dahulu mengakui RI dan paling dahulu mengirim misi diplomatiknja ke Jogja dan jang paling dahulu memberi bantuan biaja bagi diplomat-2 Indonesia di luar negeri. Mesir, Siria, Irak, Saudi-Arabia, Jemen, memelopori pengakuan de jure RI bersama Afghanistan dan IranTurki mendukung RI. Fakta-2 ini merupakan hasil perdjuangan diplomat-2 revolusi kita. Dan simpati terhadap RI jang tetap luas di negara-2 Timur Tengah merupakan modal perdjuangan kita seterusnja, jang harus terus dibina untuk perdjuangan jang ditentukan oleh UUD ’45 : “ikut melaksanakan ketertiban dunia jang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial”.

Perumpamaan kaum muslimin yang saling kasih mengasihi dan cintamencintai antara satu sama lain ibarat satu tubuh. Jika salah satuanggota berasa sakit maka seluruh tubuh akan turut berasa sakit dantidak dapat tidur.” (HR Bukhari)

I Support Palestine!

Tidak banyak yang bisa saya lakukan untuk membantu saudara-saudara saya di Palestina sana. Akan tetapi, mudah-mudahan, bisa cukup memberi arti. Ini bukan propaganda untuk melakukan kebencian, tapi sebuah perlawanan. Meski hanya sebuah tulisan, meski hanya sebuah banner terpasang. Akan tetapi, setidaknya sudah mewakili sikap saya.

Bagi saya tragedi penyerangan Israel di Gaza membuktikan satu hal. Bahwa demokrasi hanya sebuah omong kosong yang diagung-agungkan. Bahwa HAM tidak lebih hanya sebuah dongengan semata. HAM hanya berlaku jika warga Israel, Amerika dan penjilat-penjilatnya menjadi ‘korban’, tapi tidak berlaku bagi yang menentangnya. Meski para penentang tersebut berada di pihak yang benar. Perhatikan saja, tidak akan ada satu pun tindakan yang akan dilakukan oleh PBB atau Amerika untuk menghentikan serangan tersebut. Paling hanya kecaman keras, seperti yang saya lakukan sekarang. Kalau begitu, untuk apa ada PBB? bubarkan saja!!

Bom di Bali yang dilakukan oleh Imam Samudera cs, meskipun saya tidak pernah menyetujuinya, belum ada seujung kukunya dibandingkan penderitaan puluhan tahun rakyat Palestina. Akan tetapi, tidak satupun pemimpin yang bertanggung jawab untuk itu yang mati dieksekusi dalam penjara. Tidak satupun.

Israel dan Amerika boleh saja berbusa-busa mengatakan bahwa yang diserang adalah pusat persenjataan HAMAS. Akan tetapi, adalah sebuah kenyataan bahwa korban terbesar adalah rakyat sipil. Anak-anak dan wanita diantaranya. Bancinya, penyerangan juga dilakukan di malam hari, dengan persenjataan tercanggih pula. Saya tidak yakin pasukan Israel cukup berani untuk bertempur saling berhadap-hadapan, seperti perang-perang zaman dulu. Perang yang lebih adil. Terhadap anak-anak bersenjata batu dan ketapel pun mereka tunggang langgang.

Saya tidak pernah merasa yakin dengan perundingan damai atau gencatan senjata akan menyelesaikan masalah di Palestina. Satu-satunya cara adalah hilangkan Israel dari muka bumi!! Sudah puluhan kali gencatan senjata dan perundingan damai dilakukan, tapi nihil hasilnya. Selalu nihil. Bagi Israel, tidak boleh satupun warga Palestina yang tinggal di tanah itu. Itu adalah tujuan utamanya. Selanjutnya, tinggal pintar-pintar mereka saja mencari alasan penyerangan dan melakukan genosida.

Kalau pemerintah Indonesia mau, sebetulnya tinggal kirim pasukan saja. Daripada TNI di Indonesia juga menganggur dan seringnya malah ribut sama saudara sendiri. Setidaknya, dengan dikirm ke Palestina, latihan perang yang dilakukan selama ini akan ada manfaatnya. Siapa tahu bisa jadi orang-orang yang mati syahid!! Apakah saya terlihat kejam kalau mengusulkan ini? Ya, ya… saya tahu, tidak bisa mengharapkan pemerintah Indonesia dalam hal ini. Saya pun, toh, tidak bisa berbuat banyak. Cuma bisa cuap-cuap tanpa aksi. Setidaknya saya sudah berusaha untuk mengatakan hal yang menurut saya benar. Wallahu’alam…

NB:

Banner diambil dari blognya Dhika. Kalau mau berbuat lebih banyak, baca juga posting Dhika yang ini dan posting Bambang yang ini.

Bukan Hanya Salah Fir’aun

Sebuah kesalahan, betapa pun kecilnya, akan menjadi besar tingkat mudharat nya apabila dibiarkan oleh orang-orang yang mengetahui kebenaran, tapi mendiamkannya, menolerir atau bahkan menyetujuinya. Pada akhirnya, kesalahan tersebut akan membudaya dan sulit untuk diperbaiki. Bahkan ketika sesuatu yang benar disampaikan, hal tersebut akan dianggap aneh, asing dan dianggap melawan arus.

Masjid di dekat tempat tinggal saya adalah sebuah contoh. Sudah menjadi hal yang lumrah apabila setiap Masjid memiliki satu atau beberapa imam yang tetap. Persoalannya, di Masjid tersebut, imam-imam yang eksis selama ini memiliki beberapa masalah. Pertama, usia nya yang rata-rata sudah tua. Kedua, tentang bacaan surat yang ‘berantakan’ ketika melakukan shalat shubuh, maghrib dan isya yang dalam dua raka’at awal dikeraskan bacaannya. Umur tua tidak menjadi masalah, jika persoalan kedua, bacaan surat, juga tidak bermasalah. Persoalannya justru di situ. Rata-rata bacaannya bermasalah. Ada yang tersengal-sengal. Ada yang terdengar seperti dalang wayang golek. Ada yang seperti berkumur-kumur, meskipun kaidah-kaidah bacaannya baik. Pernah suatu ketika ada orang baru yang menjadi makmum sampai berkali-kali membetulkan bacaan surat sang imam. Pada akhirnya, yang bersangkutan bosan juga membetulkan, dan akhirnya membiarkan.

Di sisi lain, ada orang lain yang seusia dengan imam-imam tersebut atau bahkan yang lebih muda, memiliki kemampuan yang jauh lebih baik. Mereka ini biasanya mengalah jika salah seorang diantara imam tersebut ada. Mereka menjadi imam, hanya jika imam-imam tersebut tidak hadir atau terlambat menghadiri shalat berjama’ah. Meskipun, saya yakin dalam hati mereka juga keberatan di-imam-i oleh imam-imam tersebut. Saya termasuk salah satu yang sering merasa berat hati ketika shalat berjama’ah di-imam-i mereka. Akan tetapi, saya pun tidak bisa menyuarakan perihal itu karena saya juga pendatang di tempat tersebut. Ada kalanya, saya memilih untuk terlambat datang atau bahkan menunggu sampai shalat berjama’ah selesai. Akan tetapi, belakangan saya menyadari bahwa hal tersebut juga tidak bisa dibenarkan. Bagaimanapun, shalat berjama’ah di awal waktu lebih utama. Juga ada tuntunan yang menyatakan seorang makmum (yang dipimpin) harus bersabar terhadap kesalahan imam (pemimpin). Meskipun, tidak boleh juga mendiamkan begitu saja.

Saya menilai, rasa sungkan dan alasan kesopanan menjadi penyebab mandegnya fungsi koreksi di Masjid tersebut. Tidak sekedar di Masjid tersebut, di hampir segala aspek kehidupan kita, bisa ditemukan dengan mudah hal-hal seperti itu. Saya juga barangkali termasuk pelaku yang paling kronis dalam hal mendiamkan suatu kesalahan. Padahal, menghormati orang tua atau yang dituakan, tidak berarti tanpa koreksi atau kritik. Begitupun, orang tua dalam menyikapi koreksi, bukan berarti koreksi tersebut untuk melecehkan mereka. Koreksi, kritik justru bisa menjadi sebuah indikator cinta atau tanda hormat. Hanya barangkali yang menjadi persoalan adalah bagaimana cara yang paling tepat untuk menyampaikan koreksi atau kritik tersebut? Maka, teknik komunikasi yang baik menjadi sangat bermanfaat di sini.

‘Amar ma’ruf nahyi munkar itu bersifat universal dan menjadi kewajiban semua orang. Tidak memandang status sosial seseorang di masyarakat. Seseorang yang memahami fungsi ‘amar ma’ruf nahyi munkar tidak akan anti atau alergi terhadap kritik, koreksi dan saran-saran yang bersifat membangun. Dia juga tidak akan memandang remeh orang yang memberikan kritik atau koreksi kepadanya, meskipun seorang gelandangan, jika koreksi yang diberikan memiliki nilai kebenaran.

Dalam sebuah artikel berjudul “Bukan Hanya Salah Fir’aun1, dalam buku dengan judul yang sama, terdapat beberapa paragraf yang menarik:

Mengapa Fir’aun sampai menganggap dirinya serba cukup, paling hebat dan paling kuat? Bagaimana ia berani bertindak melampaui batas-batas nurani dan kemanusiaan? Di satu sisi menjadi binatang, di sisi lain menjadi “tuhan”? Bukankah dulu pernah ada Raja Sulaiman, yang walaupun kekuasaannya amat besar tapi tak membuatnya arogan. Begitu juga dengan Ratu Balqis. Kerajaannya yang besar tak membuatnya merasa jadi tuhan. Mengapa?

Al-Qur’an telah memberikan jawaban atas pertanyaan itu. Ternyata orang-orang disekitarnyalah yang membuat Fir’aun merasa serba cukup, paling hebat sekaligus penguasa nan tak tertandingi. Memang Fir’aun bukanlah orang shalih. Tapi segala kejahatan Fir’aun mungkin takkan jadi besar jika ada orang yang berani mengatakan “tidak”. “Maka ia merendahkan kaumnya lalu mereka patuh kepadanya,” (QS az-Zukhruf: 54)

Kekejian Fir’aun adalah berperilaku diktator dan berobsesi menjadi satu-satunya pihak yang harus dipatuhi. Sedangkan kedegilan para pendukungnya adalah tidak berani menolak segala titah Fir’aun betapa pun busuknya. Kejahatan Fir’aun adalah serakah dan kejahatan orang-orang di sekitarnya adalah meluluskan segala kehendak Fir’aun. Kecongkakan Fir’aun adalah memperbudak rakyat jelata. Namun kebodohan rakyat adalah membiarkan dirinya dalam keadaan layak dijajah dan diperbudak. (hal 43-44)

Rumusan yang sama juga terjadi terhadap Hitler, Mussolini, George W. Bush dan yang lainnya. Terlebih lagi jika disekitar pemimpin tersebut berdiri para penjilat yang mementingkan dirinya sendiri, yang penting posisinya aman dan bisa menikmati kekuasaan atau kekayaan, meskipun bukan menjadi orang yang paling berkuasa.

Bandingkan dengan sikap ‘Umar bin Khattab r.a seketika diangkat menjadi Khalifah,

Umar berkata kepada kaum muslimin, “Barang siapa yang melihat ada kebengkokan pada diriku maka luruskanlah” lantas seorang menyambutnya dengan mengatakan, “Andaikan kami melihat suatu kebengkokan pada dirimu maka akan meluruskannya dengan pedang kami (maksudnya akan dikoreksi)”. Umar saat itu hanya mengatakan, “Segala pujibagi Allah yang menjadikan dalam umat Muhammad orang yang mau meluruskan sesuatu yang bengkok pada diri Umar dengan mata pedangnya

Berbagai macam permasalahan yang menjerat dan sudah membudaya di Indonesia pun berawal dari kesalahan yang sebetulnya sangat sepele. Akan tetapi, dampaknya ternyata menjadi luar biasa. Membuang sampah misalnya. Satu orang membuang ke sungai, dibiarkan saja. Orang lain kemudian mengikuti, bahkan semakin banyak. Jadilah sungai sebuah tempat sampah terpanjang yang bisa ditemui. Sekali kita coba mengingatkan, cibiran yang kita terima. Persoalan korupsi, rokok, pelanggaran lalu lintas … awalnya dari sebuah kesalahan yang dibiarkan, maka menjadi sebuah budaya pada akhirnya. Dengan memahami dan mengamalkan spirit ‘amar ma’ruf nahyi munkar, sudah seharusnya sebuah kesalahan tidak dibiarkan berlarut-larut apalagi sampai membudaya. Jika perlu, segala kesenangan dan jiwa kita korbankan. Sanggupkah kita??

Referensi:

1Tim Sabili. Bukan Hanya Salah Fir’aun. Cetakan I, QalamMas, Jakarta, 2004.

PS: Cintaku … kritik terkadang menyakitkan, tapi adakalanya itulah bentuk cinta yang sesungguhnya kita butuhkan untuk bisa tetap berlari di jalan-Nya.

Blogger Ulul Albab

Jika ditanyakan kepada saya, blog seperti apakah yang membuat saya iri? Jawabannya bukan blog yang banyak komentarnya, bukan blog yang membuat orang jadi terkenal atau pun blog yang besar traffic-nya.  Meskipun kadang merasa iri juga, tapi sejak awal blogging saya tidak terlalu tertarik untuk menjadikan hal semacam itu sebagai tujuan utama saya.   Kalau menurut saya, sayang sekali jika tujuan blogging hanya untuk itu.

Saya sangat iri kepada blogger yang bisa men-sinergi-kan antara sains dan agama dalam tulisan-tulisannya.  Dalam kasus saya, Islam adalah agama yang dimaksud.  Ilmiah sekaligus memiliki dan memberikan pengalaman spiritual kepada pembacanya.  Membuat cerdas sekaligus menjadikan seseorang mendekatkan dirinya kepada sang pencipta.  Memberi pencerahan otak sekaligus kepada hati.

Terus terang saja, tidak banyak saya temukan blog semacam itu.  Blog ini pun belum bisa dikategorikan seperti itu, meskipun pada mulanya tujuan saya blogging adalah untuk itu.  Apa daya, kemampuan saya belum sampai ke tahap itu.  (kok jadi ber-rima begini ?)  :angelpusing:

Sejak masa sekolah, saya termasuk orang yang tidak menyetujui dikotomi antara agama dan sains, atau antara dunia dan akhirat.  Oleh sebab itu, saya tidak bisa menerima sekularisasi dalam bidang apa pun.  Bagi saya agama dan sains mestilah saling mendukung, saling melengkapi atau saling menyempurnakan.  Bahkan, perintah pertama yang diturunkan kepada Rasulullah Muhammad SAW adalah “Iqra!“, bacalah! Sebab membaca adalah kunci dari sains, kunci dari ilmu pengetahuan.

Indonesia saat ini kekurangan orang-orang semacam itu.  Ada yang shalih, tapi kurang cerdas di bidang lainnya.  Orang-orang semacam ini cenderung menerima “apa adanya” dan mudah dibodoh-bodohi.  Ada yang cerdas, tapi kurang shalih.  Orang semacam ini cenderung untuk sombong dan membodoh-bodohi orang lain.  Benarlah pernyataan Einstein,” (ber)-ilmu tanpa (ber-)agama adalah pincang, (ber-)agama tanpa ilmu adalah buta.”

Saya kemudian jadi teringat ucapan seorang Ulama yang tidak terlalu banyak dikenal ketika melihat barang-barang elektronik yang menurutnya sangat canggih.  Katanya, “ini adalah mutiara umat Islam yang hilang“.  Beliau berkata seperti itu karena meyakini bahwa seharusnya umat Islam menguasai teknologi.  Sementara teknologi akan terkuasai jika kita menguasai ilmu pengetahuan sebagai pondasinya.  Selama kita tidak pernah menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, selama itu juga kita hanya akan menjadi ‘penonton’ peradaban.

Pada acara bedah buku “Orientalisme dan Diabolisme Pemikiran” karya Dr. Syamsudin Arif di Masjid Salman ITB beberapa saat lalu, Adian Husaini mengatakan bahwa di Indonesia belum ditemukan seorang pun doktor di bidang Islam-Saintis.  Sementara Malaysia sudah memiliki beberapa orang yang bergelar doktor di bidang Islam-Saintis.  Saya saja baru tahu kalau ada orang yang mendalami tentang Islam-Saintis.  Andaikan diberi kesempatan, ingin juga rasanya untuk mendalami tentang Islam-Saintis yang dimaksud oleh Adian Husaini tersebut.

Dalam Islam, orang-orang yang bisa men-sinergi-kan dan mengharmonisasikan agama dan sains inilah yang kemudian disebut ulul albab.  Tidak hanya sekedar beragama, tapi juga berilmu.  Tidak hanya sekedar berilmu, tapi juga beragama.  Dalam diri seorang ulul albab, keduanya memiliki porsi yang seimbang.  Ilmuwan sekaligus ulama.  Meskipun tergolong ‘radikal’ dalam beragama, tapi lebih mengedepankan jalur diskusi atau melalui tulisan dan tidak menyukai jalur kekerasan, sesuai kapasitas ke-ilmuwan-an dan ke-ulama-an mereka.

C 1 H 3 U L 4 17 6. 050508. 00.00

Page 1 of 3

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén