Category: Intermezzo

Temuan Baru! Inilah Persamaan FPI dan GMBI!




loading...

Curriculum Vitae Mukidi

Nama: Mukidi

Alamat: Berubah-ubah, tergantung operator yang sedang digunakan.

Usia: lihat bagian [Pengalaman Kerja]

Profesi Asli: Bisa apapun, bisa jadi siapapun.

Profesi di Media Sosial: pengacara, atau jaksa, tergantung situasi. Jika diperlukan jadi hakim sekaligus.

Deskripsi Kerja:

  • Mencari dan membagikan berita serta bukti-bukti agar tokoh atau kelompok yang dikaguminya tidak pernah berbuat kesalahan, serta membela mati-matian dengan berbagai argumen.
  • Mencari dan membagikan berita serta bukti supaya tokoh atau kelompok yang dibencinya terlihat selalu salah, serta menyerang membabi-buta dengan berbagai argumen.
  • Apabila seorang tokoh atau kelompok tersebut tidak dikagumi dan dibenci, berusaha mengadudomba kubu pencinta dan pembenci tokoh atau kelompok tersebut.

Sifat Pekerjaan: pro bono, gratis, sukarela, gak perlu bayar. Sudah kaya dari adsense, clickbait dan sejenisnya.

Pengalaman Kerja: sejak media sosial hadir di internet, ya telat-telat dikit lah.

Serba-serbi Pilpres 2014: Sebuah Sikap

Dalam 3 kata, apa kesimpulan kang Donny tentang pilpres 2014?
Beautiful. Unethical. Dangerous.

Sebentar… kayaknya pernah denger…
Hahaha. Lucius Fox, The Dark Knight.

Jadi, yang sebenernya gimana?
Gak tahu juga :-))

Pandangan terhadap 4 orang capres-cawapres tersebut?
Kenyataan bahwa mereka menjadi capres-cawapres adalah sebuah bukti bahwa mereka termasuk orang-orang yang memiliki kelebihan dibandingkan orang kebanyakan di Indonesia. Namun, paling aman, dan menurut saya lebih mendekati adil adalah dengan melihat mereka sebagai manusia, yang punya kelebihan dan kekurangan. Tidak mengangkat ke level malaikat, atau menarik ke level setan. Secara pribadi, pada siapa pun, dengan jabatan apa pun, saya berusaha untuk selalu memandang setiap orang seperti melihat pada diri sendiri. Punya kelebihan, tapi sudah pasti ada kekurangan dan aib yang masih tersembunyi. Cara seperti ini yang saya yakini dapat lebih mendekatkan untuk bersikap adil.

Sejujurnya, komposisi capres+pendukungnya buat saya “enggak banget”, lebih mudah kalau misalnya Prabowo diusung partai pendukung Jokowi sekarang +ARB, dan Jokowi diusung pendukung Prabowo -ARB :v atau mungkin ada calon ke-3 😀

Jelasnya, setelah melihat kenyataan komposisi calon+pendukungnya, saya sudah menyiapkan mental untuk di-presiden-i oleh siapapun. Halah, kesannya kayak apa aja. Heuheu.

Read More

Males

Kalau diperhatikan, kesemrawutan di jalan itu akar masalahnya cuma satu: males.

Males muter, jadi mending lawan arus.
Males berhenti di belakang garis putih, enakan di zebra cross dong, kan asyik bikin kesel penyeberang jalan.
Males ngerem, jadi kalau ada yang nyebrang tarik gas aja.
Males nunggu, serobot aja lampu merah.
Males macet, jadi sikat aja jalur trotoar, kalau selokan bisa dilewati, mungkin disikat juga.
Males pake lampu sein, paling yang kaget cuma pengendara di belakang *kemudian tabrakan beruntun*
Males pake helm, gak masalah juga kalau kepala pecah… kalau helm kan mahal, tapi kepala dapat gratisan, murah.

Semrawut – Sumber: antarafoto.com (digunakan tanpa izin, males)

Bikin SIM lewat jalur resmi mah lama, males.
Pak Polisi juga males sih nguji, cepetan lewat jalur gak resmi aja. Kalau ada yang melanggar, males ah ngurusin surat tilang, mending beresin di jalan aja. Bantuin pak hakim supaya gak terlalu pusing urusin sidang.

Males banget deh nganterin anak sekolah, bellin motor aja… mumpung uang muka kredit murah, yang penting hutang makin banyak. Kalau ugal-ugalan, namanya juga anak muda, sekali-kali nabrak orang sih biasa. Kan nyawa orang juga pemberian Allah, gratisan.

NB: seharusnya “malas”, tapi males benerin ah.

Pada Suatu Pernikahan

Sudah terlambat 5 menit dari jadwal akad yang tersebar melalui undangan.  Penghulu sekaligus petugas KUA sudah menunggu, tetangga, kerabat, sahabat dan keluarga sudah hadir di dalam sebuah masjid.  Demi menyaksikan proses akad yang sakral tersebut.  Pengantin wanita didampingi ibunya sudah menunggu, resah.  Pengantin pria dan keluarganya belum juga tiba.   Tidak kalah kesalnya beberapa orang yang ditugaskan sebagai tim penyambut pengantin pria dan keluarganya.

Masuk menit ke-10 dari jadwal yang direncanakan berlangsungnya akad.  Batang hidung pengantin pria belum juga kelihatan.  Sementara orang-orang di dalam masjid sudah mulai gelisah.  Sesekali melihat keluar pintu, berharap mendapati pengantin pria di sana.  Namun, harapan tinggal harapan.  Dalam situasi seperti itu, sangat mudah timbul bermacam-macam rumor.  “Jangan-jangan pengantin prianya kabur“, “Jangan-jangan pengantin pria ketahuan istri pertamanya” dan berbagai macam “jangan-jangan” yang lainnya.

Bukan hanya sekali dua kali pihak panitia menghubungi pihak pengantin pria, sudah berkali-kali.  Akan tetapi, tidak ada jawaban.  Memang terdengar nada sambung, tapi tidak ada yang menerima diseberang telpon sana.  Sementara penghulu sudah mulai mengeluarkan ancamannya.  Dia akan meninggalkan acara jika dalam 15 menit ke depan pengantin pria masih belum tiba juga.  Maklum, hari itu sang penghulu menerima orderan menikahkan pasangan lebih banyak daripada biasanya.

Mendengar berbagai macam rumor tersebut, ditambah ancaman dari sang penghulu, membuat hati pengantin wanita menjadi sangat sedih.  Jika saja sendiri, ia akan menangis.  Sementara ibunda tercinta berkali-kali memanjatkan do’a dan ber-istighfar, sambil sesekali memeluk anak tercintanya, berupaya menyunggingkan sebuah senyum.  Berhasil.  Pengantin wanita ikut tersenyum, meski gelisah tak tertanggungkan.  Sementara sang ayah berusaha untuk tetap tenang dan mencoba menguasai situasi yang menegangkan tersebut.

Sementara itu, sekitar 500 meter dari lokasi akad nikah…

Pak, belok pak, kita muter lagi … “, pinta seorang laki-laki dengan pakaian pengantin kepada pria lebih tua yang mengendalikan mobil yang ditumpanginya.  Cukup tua untuk menjadi seorang kakek.

Duh, kamu …!! Ini sudah yang kelima kali kita muter-muter di sini.  Kasihan kan, orang-orang sudah menunggu.  Sebenarnya, kamu niat nikah nggak sih? Lagipula, malu kita dilihatin sama orang-orang sekitar sini.  Muter-muter nggak jelas, rombongan pula!!  Apa kata dunia?!” hardik sang ‘kakek’.

Iya, Pak.  Maaf.  Habis saya grogi banget sih, sekali lagi aja ya muternya?“, pinta  sang laki-laki lagi dengan wajah memelas.

Dan …

Hari itu berakhir bahagia bagi pengantin pria dan wanita.

:daah:

NB: Itu salah satu pikiran yang muncul di kepala saya kalau menghadiri akad nikah yang pengantin prianya terlambat nikah.  Heuheuheu.  :setan1:

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén