Category: Feature

icon-set-1175046_1280

Kebijakan Personal di Media Sosial

Setiap orang memiliki preferensi yang berbeda dalam memandang media sosial, yang berakibat pada berbeda-bedanya tujuan setiap orang dalam menggunakannya. Salah satu perbedaan pandangan yang tidak akan pernah berujung mengenai media sosial berhubungan dengan status materi yang diunggah, apakah masuk ranah sosial, atau ranah pribadi? Materi di media sosial dapat berupa teks, gambar, audio, atau video.

Saya termasuk yang berpandangan bahwa aktivitas di media sosial merupakan aktivitas di ranah publik. Ini pula yang mendasari qaul qadim saya dalam tulisan mengenai Berdo’a di Media Sosial, dengan penekanan pada do’a yang bersifat pribadi. Qaul jadid saya sih masih belum berubah banyak, heu heu…

Di facebook, misalnya, ketika kita berteman dengan orang lain, secara tidak langsung sudah terjadi kesepakatan, bahwa kita dapat melihat apa pun aktivitas teman kita, dan sebaliknya. Kita dapat mengunggah materi apa pun, entah itu baik atau buruk, entah teman-teman kita suka atau tidak dengan materi tersebut.

Ketika materi tersebut sudah diunggah, maka kita sudah tidak memiliki kendali terhadap dampak yang akan ditimbulkan setelahnya. Kita tidak memiliki kendali untuk mengatur bagaimana orang lain bereaksi. Kita tidak akan sanggup menghentikan orang lain menampakkan ketidaksetujuan atau kebencian terhadap materi tersebut. Setiap orang dapat meng-capture, menyalin materi, mengunduh gambar atau video dari akun media sosial kita. Persoalannya bukan apakah orang lain boleh melakukan itu semua atau tidak. Kita bisa berdebat berbusa-busa mengenai hal tersebut. Namun, yang perlu ditekankan adalah mereka bisa melakukan itu di media sosial.

Kendali yang kita miliki dalam media sosial sesungguhnya sangat kecil dan sedikit sekali. Paling hanya bagaimana reaksi kita terhadap materi orang lain, dan materi apa yang dapat kita unggah ke dalam media sosial. Tidak jarang pula, kita kehilangan kendali terhadap reaksi spontan yang ditimbulkan oleh materi orang lain. Bahkan, bisa jadi kemudian berpengaruh terhadap mood kita selanjutnya selama seharian.

Kita dapat saja mengatur siapa saja yang dapat melihat dan berinteraksi di media sosial. Di facebook kita bisa mengatur apakah materi yang kita unggah dapat dilihat oleh publik, hanya kawan saja, atau hanya orang tertentu saja. Di instagram dan twitter, kita dapat mengatur agar materi kita dapat dilihat oleh pengikut saja. Namun, selama isi media sosial kita masih bisa dilihat orang lain, entah itu sahabat, keluarga, tetangga, atau baru dikenal di internet, maka tidak sedikitpun kita dapat mengatur reaksi mereka. Sedekat-dekatnya seorang sahabat, tidak akan selalu menyukai, atau menyetujui apa pun yang kita katakan, lakukan, ungkapkan. Apalagi orang yang baru dikenal di internet. Maka, potensi menimbulkan konflik akan selalu ada.

Kalau memang ingin materi-materi di media sosial tidak masuk ke ranah publik, atur agar materi-materi tersebut hanya bisa dilihat sendiri. Tidak perlu punya follower di twitter atau instagram. Atur agar akun-akun tersebut jadi private. Cukup sendiri saja. Hanya saja, kalau begitu buat apa juga punya akun media sosial? Lebih baik menulis diary saja. Lalu sembunyikan. Dijaga oleh anjing galak. Tiga ekor sekaligus, jika perlu.

Berdasarkan hal tersebut, dalam melakukan aktivitas di media sosial, saya cenderung tidak serius, sedikit berhati-hati, cenderung menghindari perdebatan, walau kadang tak tertahankan untuk bersikap nyinyir dan sok tahu. Demi menjaga agar aktivitas media sosial saya tetap pada “jalan yang lurus”, ada beberapa policy (kebijakan) yang saya tekankan pada diri saya sendiri dalam melakukan aktivitas di media sosial.

Berikut ini merupakan beberapa kebijakan yang saya pegang dalam beraktivitas di media sosial;

Tidak menuliskan aib atau permasalahan rumah tangga dan keluarga. Keluarga di sini selain anggota inti, yaitu; anak & pasangan, juga termasuk orang tua, mertua, adik, sepupu, ipar, dan lain-lain. Pokoknya siapa pun yang dianggap sebagai anggota keluarga, jika terjadi permasalahan, sebisa mungkin saya hindari untuk membahasnya di media sosial. Ini perkara menjaga kehormatan keluarga. Membahas di media sosial malah akan merusak hubungan baik di dalam keluarga. Masalah belum tentu selesai, dibenci keluarga sudah pasti.

Tidak mengangkat atau mengeluhkan permasalahan di tempat kerja, terutama yang berhubungan dengan rekan kerja. Tempat bekerja semestinya dapat kita kondisikan agar menyenangkan, atau kalau pun ada masalah, tidak terlalu mengganggu pekerjaan. Permasalahan yang muncul di tempat kerja sebetulnya hal yang lumrah, baik itu dengan rekan kerja, dengan atasan atau dengan bawahan.

Pekerjaan rutin kita saja bisa jadi sumber masalah setiap harinya. Mengangkat atau lebih tepatnya mengeluhkan persoalan pekerjaan, apalagi orang-orang di tempat kerja, hanya akan menambah sumber masalah, dan menimbulkan suasana tempat kerja yang kurang nyaman.

Di luar rekan kerja, orang-orang yang membaca materi kita di media sosial akan khawatir dengan apa yang kita lakukan. “Jangan-jangan, kalau nanti saya satu tempat kerja sama dia, saya akan dibegitukan juga“, atau “Ngeluh aja sama kerjaannya, kenapa gak resign aja, sih?

Jelasnya, hal-hal semacam itu bukan materi yang akan disukai oleh tim HRD suatu perusahaan. Lain kali akan menulis mengenai persoalan di tempat kerja, bayangkan ada HRD dari perusahaan lain sedang memantau media sosial anda. Heu heu.

Terbukti kemudian, hubungan saya dengan mantan rekan kerja tidak pernah ada masalah. Tidak bekerja bersama lagi, bukan berarti kemudian saling melupakan. Di media sosial kami masih saling menghargai, meski tidak selalu berinteraksi.

Tidak menulis status yang marah pada…tembok. Pernah melihat curhatan semacam, “awas aja, nanti kalau gue gak ada lu baru tahu rasa“, “sudah dikerjakan serius, eh gak dihargai“, “udah gue bantuin, ngomongnya malah gak enak gitu“, dan lain-lain yang senada dengan itu? Di media sosial, itu adalah materi-materi yang tidak pernah saya respon atau saya cuekin kalau muncul di timeline saya. Materi seperti itu berpotensi memancing kerusuhan, karena bisa jadi ada orang yang merasa, meskipun orang tersebut bukan orang yang dimaksud dalam curhatan itu.

Mengurangi bahasan tentang anak. Saya belakangan langka sekali membahas tentang anak. Tentu saja, di awal memiliki anak sering melakukan itu, terutama mengunggah foto. Tidak membahas tentang anak di media sosial, bukan berarti tidak sayang pada mereka. Sudah pasti, saya sangat menyayangi mereka. Namun, justru itu masalahnya. Orang lain pun sangat menyayangi anak-anaknya. Sehingga, ketika saya membahas anak, kemungkinannya; orang lain tidak peduli, atau malah membandingkan dengan anak mereka. You know lah, ya… mentalitas “anak saya paling hebat sedunia“. Akhirnya, isi komentar di media sosial jadi saling membanggakan anak. Lah, kan saya lagi bahas anak saya…? Heu heu. Kebijakan ini berlaku juga di luar internet, sih. Saya langka bahas anak dengan orang lain dalam keseharian, karena biasanya ending-nya sama. Wkwkwkwk.

Terkait membahas anak juga termasuk tidak mengeluhkan mereka. Alasannya; merasa malu kepada orang tua dulu, yang meskipun bisa jadi beban mereka lebih berat daripada saya, tapi mampu melewatinya. Beruntunglah belum ada media sosial di zaman mereka. Hahaha. Selain itu, saya khawatir saat anak-anak sudah besar, lalu menemukan dan membaca keluhan saya di media sosial, keluhan-keluhan itu akan menyedihkan mereka.

Tidak Berjualan. Tidak di akun personal, tentu saja. Saya hanya merasa lebih nyaman kalau untuk akun personal tidak digunakan untuk berjualan. Untuk keperluan berjualan, di facebook saya buat page, di twitter buat akun baru lagi khusus dengan nama brand yang akan dijual. Jadinya lebih berat, sih… karena orang lain tidak mengenal brand yang sedang coba kita jual tersebut. Ini bukan soal benar dan salah, soal kenyamanan hati saja. Hey, i’m an introvert. Selling is not our strength. Ya, saya tahu… ini hanya alasan. :-))

Itu adalah beberapa poin kebijakan saya di media sosial. Pegangan saja. Meski terkadang berkhianat juga. Ada kalanya, sebuah kebijakan diputuskan setelah melihat materi orang lain. Jika terasa salah bagi saya, maka sebisa mungkin saya hindari. Tentu saja, ini belum tentu berlaku untuk orang lain. Namun, nyatanya, dalam bertahun-tahun “hidup” di media sosial, langka sekali saya bermasalah dengan orang lain. Prinsipnya, berteman lebih baik daripada bermusuhan. Melakukan perbaikan lebih baik daripada berbuat kerusakan. Atau, diam…

loading...

Hentikan Pemakaian Lampu Putih pada Kendaraan!!

Saya termasuk salah seorang biker yang sering melakukan perjalanan malam, entah di dalam kota atau ke luar kota. Paling sering di dalam kota, tentu saja. Meskipun saya juga kadang-kadang banyak gaya, kalau kata orang sunda “loba gaya”, atau mungkin sok keren, tapi saya paling benci sama pengendara yang banyak gaya. Soalnya saya nggak suka kalau orang lain lebih keren daripada saya. Halah!! Maaf, sedang narsis.

Oke. Point-nya adalah begini … Belakangan saya merasa semakin banyak pengendara -entah mobil atau motor- yang menggunakan lampu putih di jalanan. Saya tidak tahu nama lampu tersebut, yang jelas membuat jalanan menjadi ‘terang benderang’. Saya tidak akan terlalu mempermasalahkan jika hal tersebut tidak terlalu mengganggu. Sialnya, penggunaan lampu putih tersebut sangat mengganggu bagi saya.

Anda yang menggunakan lampu putih pada kendaraannya, boleh saja tidak setuju dengan saya. Akan tetapi, begitulah kenyataannya. Lampu tersebut sangat menyilaukan bagi pengendara dari arah berlawanan, terutama pengendara motor seperti saya. Apalagi jika lampu tersebut digunakan untuk pemakaian lampu jauh, yang sialnya banyak juga digunakan oleh para pengendara. Lampu-lampu tersebut sering kali ‘telak’ mengenai mata saya dan membuat pandangan menjadi terganggu. Alhasil, sering kali saya harus menggunakan rem mendadak gara-gara orang yang menyeberang atau objek di depan saya menjadi ‘tidak terlihat’.

Jika anda sering bepergian ke pegunungan atau hutan belantara yang memang belum ada jaringan listrik, boleh lah anda gunakan lampu tersebut. Akan tetapi, ini di kota!! Lampu di mana-mana, bahkan anda masih bisa melihat objek di depan anda yang berjarak 100 meter. Jika alasan anda agar bisa melihat objek dengan jelas, lampu yang standar pun sudah cukup memberikan penerangan di jalanan. Jika alasan anda agar menarik perhatian, anda salah tempat! Jika alasan anda agar disebut keren, anda bodoh! Sebab yang menarik perhatian dan disebut keren, kendaraan anda, bukan anda! Bisa jadi, orang lain berharap bukan anda yang mengendarai kendaraan tersebut, karena anda tidak cocok dengan kendaraan tersebut.

Tentu saja, bukan tanpa alasan jika produsen kendaraan memasang lampu yang ‘standar’, karena mereka pun sudah memperkirakan dampak dari penggunaan lampu di jalanan ketika malam hari. Faktor intensitas cahaya pun sudah pasti menjadi perhitungan. Begitu juga dengan klakson, knalpot dan berbagai aksesoris lainnya. Semuanya dirancang, selain untuk keamanan dan kenyamanan pemakai, juga untuk keamanan dan kenyamanan orang lain.

Saya mendukung 100% dengan peraturan tentang kewajiban penggunaan helm standar. Saya pun salah satu ‘maniak’ helm full face. Rasanya tidak nyaman jika menggunakan helm yang half-face, apalagi yang catok, meskipun motor saya ‘cuma motor angsa’. Jika anda pernah melihat dengan mata sendiri bagaimana dua pengendara motor tabrakan, kemudian wajah mereka nyungsep ke aspal dengan kecepatan 70-80 km/jam, dan mereka masih bisa tertawa gara-gara wajah mereka ‘diselamatkan’ helm, mungkin anda akan mengikuti apa yang saya lakukan juga. Jadi, bukan hanya sekedar gaya, tapi saya juga memikirkan keselamatan diri sendiri.

Begitu pun saya sangat mendukung jika dalam hal aksesoris kendaraan, semua dibuat aturannya. Tidak boleh seseorang seenaknya pasang knalpot dengan frekuensi yang memekakan telinga. Atau pasang lampu dengan intensitas cahaya yang menyilaukan mata melebihi kemampuannya menangkap cahaya. Selain mengganggu, juga mengancam keselamatan di jalanan.

Saya tidak bermaksud melarang untuk melakukan modifikasi atau membuat tampilan kendaraan anda menjadi lebih keren. Akan tetapi, please, sebelum anda memasang aksesoris-aksesoris tersebut, pertimbangkan juga keselamatan dan kenyamanan orang lain. Setidaknya orang lain tidak tergangggu, apalagi sampai merasa ‘terancam’ keselamatan dirinya. Terlebih lagi jangan sampai anda dikutuk orang lain dengan bermacam-macam kutukan, “mampus lu!“, “setaann!“, “mudah-mudahan dia tabrakan, biar tahu rasa!“. Jika sampai terjadi orang-orang mengutuk anda, tinggal tunggu waktu saja kutukan-kutukan tersebut menjadi kenyataan. Sebab, bagaimanapun mereka tidak akan sampai mengutuk jika tidak merasa teraniaya. Dan anda tentu sering mendengar, do’a orang teraniaya itu cepat dikabulkan.

Darussalam: Masjid yang Patut Dicontoh

DSCF0670

Masjid Darussalam berlokasi di Karang Tengah, Cianjur. Sekitar 1 KM dari Terminal Baru Cianjur (Rancabango) atau sekitar 2 KM dari Terminal Lama Cianjur. Terletak di tepi jalan raya Cianjur – Bandung. Berada dari sisi kiri jika dari arah Cianjur, atau sisi kanan dari arah Bandung. Masjid tersebut adalah salah satu tempat peristirahatan favorit saya jika melakukan perjalanan menuju Bogor atau Bandung.

DSCF0669
Reklame Masjid Darussalam yang bisa terlihat jelas
di pinggir jalan raya Bandung – Cianjur

Masjid tersebut merupakan salah satu masjid percontohan kelurahan setempat. Saya lupa lagi nama kelurahannya, Karang Tengah kalau tidak salah. Berada di bawah pengurusan Nahdlatul Ulama (NU) cabang kelurahan tersebut.

Apa yang patut dicontoh dari Masjid tersebut? Masjid tersebut memberikan pelayanan yang sangat baik kepada para pengunjung atau para musafir yang sekedar beristirahat di sana. Karena letaknya yang dipinggir jalan, maka sebagian besar pengunjung adalah para musafir atau mereka yang sedang melakukan perjalanan jauh. Sepengetahuan saya, Masjid tersebut tidak pernah sepi.

Tidak terlalu istimewa sebetulnya apa yang pengurus Masjid tersebut lakukan. Hanya menyediakan minuman seperti kopi, teh manis hangat atau wedang jahe. Pengunjung tidak perlu merasa sungkan untuk membuat sendiri minuman tersebut atau minta dibuatkan oleh para pengurus Masjid tersebut. Mereka akan langsung membuatkan minuman yang dipesan. Dan -inilah luar biasanya- tidak dipungut biaya sepeser pun.

DSCF0663
Pengurus Masjid yang sedang melayani membuatkan minum

 

DSCF0665
Pengunjung yang membuat minum sendiri

Memang ada kotak amal di sana. Namun tidak ada keharusan untuk memberi infaq kepada Masjid tersebut. Saya sudah beberapa kali berisitirahat di sana. Pernah memberi infaq, lebih sering tidaknya 😀 . Biaya parkir pun digratiskan. Hanya satu yang menurut saya kurang… tukang pijat :)) . Padahal, jika saja ada dan dikenakan biaya jasa pijat pun, rasanya akan banyak yang minta dipijat.

Jika memasuki waktu shalat, para pengurus Masjid tersebut akan segera menyiapkan minuman tersebut. Sehingga, ketika para pengunjung selesai melakukan shalat berjama’ah, mereka tinggal mengambil minuman yang diinginkan. Meskipun hanya minuman saja yang disediakan, akan tetapi menyenangkan sekali bisa mendapati Masjid seperti itu. Para pengunjung pun bisa beristirahat dan bersantai sepuasnya di sana. Apalagi ditambah dengan adanya pepohonan yang meneduhkan disekitarnya.

Menurut saya, seperti itulah seharusnya sebuah Masjid. Persoalannya bukan adanya sesuatu yang digratiskan di sana. Akan tetapi, sebagai sebuah usaha pelayanan kepada masyarakat dan mendekatkan masyarakat kepada Masjid. Di sisi lain, jika setiap musafir bisa selalu menemukan Masjid seperti itu dalam perjalanannya, rasanya travelling akan semakin mudah dan menyenangkan. Jika saja setiap Masjid di pinggir jalan seperti itu semua dan buka 24 jam, saya pasti akan berkeliling Indonesia :)) .

DSCF0666
Suasana santai di Masjid Darussalam

 

DSCF0673
Masjid Darussalam, agak tertutup pepohonan

Seluruh gambar bisa dilihat di SINI.
C 1 h 3 u l 4 17 6. 150608. 23.00.

6 Pernikahan

Bulan lalu, sebagian waktu saya, terutama weekend, habis untuk menghadiri pernikahan 6 orang teman. Sebagian besar, 5 dari 6 acara tersebut, berlangsung di luar kota Bandung. Dan saya menghadiri 5 acara tersebut sendirian. Perjalanan yang melelahkan sebetulnya, karena dalam beberapa hari itu, saya melakukan perjalanan beberapa rute. Rute pertama, Bandung – Ciracas (JakTim) – Cengkareng (JakBar) – Tangerang (Batal) – Bandung. Rute kedua, Bandung – Sukabumi – Bandung. Dan rute terakhir, Bandung – Garut – Sumadra (masih sekitar 2 jam dari Garut).

Berawal dari undangan-undangan yang pernah saya tuliskan di postingan tulisan sebelumnya. Saya kemudian menjadwalkan untuk menghadiri seluruh acara tersebut. Satu hal saja yang paling saya sesalkan, ketika menghadiri acara-acara tersebut tidak ada dokumentasi sama sekali yang saya pegang.

4 Agustus 2007 : Menginjakkan Kaki Lagi di Jakarta
Hari bahagia untuk 3 orang teman saya. Awan, sahabat saya saat kuliah, menikah di Ciracas. Tidak jauh dari terminal bus antar kota Kampung Rambutan. Mumtahah Annisa, menikah di Cengkareng. Terakhir, Fitri (Fievie), menikah di Tangerang. Rencananya, saya berangkat dari Bandung pukul 7 pagi, akan tetapi karena ada gangguan, saya baru berangkat dari kost-an saya pukul 9 pagi. Saya tidak naik bus di terminal Leuwi Panjang, tapi naik dari Cileunyi, lebih murah beberapa ribu rupiah. Dan kalau dihitung-hitung lagi, lama perjalanan Dipati Ukur – Leuwi Panjang + ngetem di Leuwi Panjang, tidak terlalu berbeda dengan perjalanan Leuwi Panjang – Cileunyi menggunakan DAMRI. Selain itu bus jurusan Garut – Lebak Bulus yang saya gunakan juga tidak ngetem.

Tujuan pertama saya adalah Ciracas. Baru berangkat dari Cileunyi pukul 10, dan perjalanan berjalan lancar. Gerbang Tol Pondok Gede yang biasanya macet, hari itu terasa lengang. Begitu juga dari Pondok Gede ke Pasar Rebo, hampir-hampir tidak ada hambatan, kecuali di beberapa titik seperti UKI yang memang jalurnya sempit. Menginjakkan kaki di Pasar Rebo jam setengah dua belas. Seperti biasa, saya selalu paranoid setiap berada di Jakarta. Itulah salah satu alasan saya tidak betah di Jakarta. Selalu saja terasa menegangkan, tidak santai, apalagi di wilayah-wilayah terminal di Jakarta.

Dari Pasar Rebo, menggunakan angkot ke arah Bogor. Saya salah naik angkot, beruntung orang-orang di angkot tersebut ramah dan akhirnya memberi tahu saya angkot yang saya gunakan. Pas adzan dzuhur saya tiba di tempat resepsi pernikahan Awan. Hmm, sempat bingung karena tidak satu pun yang saya kenal, sebelum tiba-tiba adik perempuan Awan menegur saya.
Donny ya?
Eh, iya…
Sendirian aja?
Iya, tapi nanti ada Deden mau ke sini, yang lain pada sibuk soalnya
Tanya-tanya kabar, dan mengobrol sebentar, sebelum akhirnya saya menuju meja prasmanan. Lapar soalnya. Sekaligus mengistirahatkan badan. Heran juga, dalam 2 kali pertemuan saya dengan adik perempuan Awan, tidak sekalipun pernah mengobrol, tapi hari itu begitu akrab. Sambil makan, lihat-lihat situasi dan kondisi (background : lagu jawa). Hmm, tidak satu pun tamu yang saya kenal. Sementara Deden mengabarkan baru tiba di Karawang, menjemput pacarnya. Doh!

Setelah istirahat sekitar 20 menit, saya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Pamitan kepada kedua mempelai, tapi saya tidak melihat adiknya Awan untuk pamitan. Kemudian, saya menuju masjid terdekat, melakukan shalat Jama-Qashar (Dzuhur – Ashar).

Tujuan selanjutnya, Cengkareng. Whew! Ciracas – Cengkareng itu dari ujung ke ujung, alias bersebrangan. Dari Kp. Rambutan, naik bus jurusan Kalideres. Bukan perjalanan yang menyenangkan, mengingat perjalanan Cileunyi – Pasar Rebo masih jauh lebih cepat dari pada Kp. Rambutan – Cengkareng. Sempat nostalgia sebentar, mengingat-ingat kejadian ketika bekerja di Tebet, sebelum akhirnya tertidur selama beberapa puluh menit. Terbangun di Jalan Daan Mogot. Baru saat itu saya tahu jalan tersebut. Jalan yang teramat panjang, terasa neverending. Tiba di Ramayana Cengkareng pukul 15. Masih harus naik satu kali lagi. Sialnya, saya kebagian angkot yang ngetem cukup lama juga. Ditambah kemacetan sepanjang jalan, sempurna sekali bagi siapapun yang ingin tahu rasanya stress di Kota Jakarta.

Tiba di tempat pernikahan Mumtahah tepat ashar. Datang disambut oleh Chusnia, dan langsung menemui kedua mempelai untuk langsung meminta ijin pulang. Namun, saya ditahan agar tidak cepat-cepat. Setelah dipikir-pikir, benar juga, saya perlu istirahat sebentar. Sambil menikmati jeruk dan segelas air, saya duduk sebentar sambil melihat-lihat situasi dan kondisi. Tidak ada yang saya kenal juga. Akan tetapi, di sana saya dikenalkan dengan orang-orang dari komunitas Kota Santri, sebagian besar datang dari Bandung. Sempat diajak untuk pulang bareng, tapi saya menolak. Melakukan perjalanan, apalagi menumpang, dengan orang-orang yang baru dikenal, tidak membuat saya merasa nyaman. Lebih baik pulang sendirian saja.

Sempat terjadi dilema antara memilih ke Tangerang dulu atau tidak. Saat itu sudah cukup sore, pukul 16. Sementara itu, saya harus berada di Bandung lagi Isya, untuk melakukan Briefing panitia pernikahan teman saya yang lain keesokan harinya. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya saya memutuskan untuk tidak menghadiri acara pernikahan Fitri. Lagipula, sore hari biasanya acara sudah selesai. Baru 2 hari kemudian saya menelpon Fitri dan mengucapkan selamat sekaligus meminta maaf karena tidak jadi datang.

Setelah mantap, saya memutuskan pulang ke Bandung. Dari Cengkareng naik bus jurusan Kp. Rambutan, berhenti di UKI untuk menunggu bus jurusan Bandung. Dapat bus AC – Ekonomi yang bertarif 30 ribu. Tidak terlalu nyaman, mengingat asap rokok bertebaran di mana-mana. Sempat tertidur sebentar, tapi terbangun ketika memasuki Tol Cipularang. Jalan Tol Cipularang yang bergelombang tidak pernah membuat saya nyaman untuk tidur. Turun di perempatan Pasir Koja – Soekarno Hatta, untuk selanjutnya menuju Sukaluyu menggunakan angkot Caringin – Dago. Saya tiba di gedung Ad-Da’wah pukul 21, terlambat memang, untungnya teman-teman saya masih berada di sana, bahkan ternyata acara baru saja akan dimulai.

Setelah melakukan briefing sekitar 1 jam, saya pulang dengan badan yang terasa lemah, meskipun secara keseluruhan perjalanan tersebut juga menyenangkan buat saya. Belum tentu besok-besok lagi saya bisa menghadiri pernikahan lintas wilayah semacam itu. Meskipun ternyata setelah sampai kostan tidak bisa langsung tidur, tapi hari itu, saya tidur tanpa bermimpi sama sekali.

5 Agustus 2007 : Pernikahan 2 Ketua
Hari bahagia untuk 2 orang teman saya di SSG. Taryadi dan Wulan Yulianti. Jika biasanya dalam sebuah organisasi ‘affair’ yang terjadi melibatkan Ketua dan Sekretaris, pada pernikahan kali ini melibatkan 2 orang ketua. Taryadi selaku Ketua SSG Wilayah Cibeunying dan Wulan selaku ketua keputrian. Seperti halnya pernikahan para aktivis dakwah lainnya, mereka menikah tanpa melalui proses pacaran. Pernikahan Taryadi juga menegaskan sebuah tradisi di organisasi tersebut, siapapun yang jadi ketua, tidak lama kemudian akan menikah. Apa iya saya harus jadi ketua Wilayah dulu baru bisa nikah ya? Haha.

Dalam kepanitiaan, sebetulnya saya ditugasi untuk memisah tamu pria dan wanita. Bukan tugas yang mudah, mengingat tradisi yang sudah melekat di masyarakat tidak mengenal hal-hal semacam itu. Agak mengherankan untuk bangsa yang mengklaim dirinya memiliki Umat Islam terbesar di seluruh dunia. Namun, jika kita pelajari dari sejarah masuknya Islam ke Indonesia, kita bisa memahami mengapa itu bisa terjadi. Beruntung saya mendapat bantuan dari panitia yang berasal dari pihak keluarga. Untungnya, sebagian besar tamu yang hadir juga nampaknya sudah mulai ‘terbiasa’ dengan pernikahan semacam ini yang belakangan sudah tidak terlalu asing.

Sebetulnya saya paling malas jika disuruh menggunakan pakaian adat, kesannya ribet. Ditambah lagi saya paling tidak suka dengan situasi yang formal. Akan tetapi, hari itu, saya mengalah dan merelakan diri untuk memakai pakaian adat sunda. Untungnya tidak ada acara make up segala.

Acara berakhir tepat pukul 14, tapi bagi saya aktivitas hari itu tidak berakhir pada jam tersebut, karena saya harus melakukan kewajiban saya. Bekerja. Agak malas-malas sebetulnya, tapi akhirnya memaksakan diri juga, mengingat hari sebelumnya saya sudah ijin tidak bekerja. Dan hari itu, saya baru sampai kostan lagi pukul 12 malam.

12 Agustus 2007 : Dunia memang sempit
Awalnya, dalam jadwal saya, ada 2 orang teman yang akan menikah pada hari ini. Dini di Sukabumi, dan Ai di Garut. Hal tersebut menimbulkan dilema pada diri saya untuk memilih salah satu, karena tidak mungkin untuk menghadiri kedua pernikahan tersebut. Beruntung, beberapa hari sebelumnya, Ai mengirim kabar bahwa pernikahannya diundur menjadi tanggal 27 Agustus 2007, karena alasan tertentu. Betapa leganya hati saya, karena itu berarti saya bisa menghadiri pernikahan keduanya.

Menjadwalkan untuk berangkat ke Sukabumi pukul 7 pagi, namun saya malah baru berangkat dari Bandung pukul 10 pagi. Mengetahui bahwa saya akan ke menghadiri pernikahan Dini, Adi menitip hadiah. Saya kira hadiah yang harus saya bawa itu akan masuk tas yang saya bawa, ternyata…ya ampun, saya harus menenteng hadiah itu di kantong plastik, karena begitu besar. Padahal, saya paling benci jika melakukan perjalanan, tangan saya menenteng sesuatu, payung, kantong plastik, apa pun itu. Namun, karena saya sudah menyanggupi, dan konon hadiah tersebut merupakan hadiah perpisahan, akhirnya saya bawa juga.

Dalam jadwal undangan, acara tersebut akan berakhir pukul 14 siang, karena menyewa gedung. Semantara, pada jam itu, saya masih berada di Cianjur. “Wah, telat!” pikir saya. Dan saya baru menyadari betapa lambatnya bus yang saya gunakan. Dalam obrolan di SMS, saya tahu bahwa Dini juga sempat menunggu kehadiran saya, namun pada akhirnya, saya disarankan untuk datang ke rumahnya saja.

Tepat pukul 15 saya tiba di Terminal Sukabumi. Seperti biasa, mencari masjid terdekat untuk melakukan shalat Jama-Qashar, sebelum akhirnya meluncur ke rumahnya Dini. Tiba di rumah Dini tepat adzan ashar. Baru kali itu saya melihat suaminya Dini. Tampak jauh lebih tua, karena memang usia yang terpaut cukup jauh, 18 tahun. Sementara Dini sendiri baru lulus SMA. Cukup lama mengobrol dengan mereka berdua, sambil makan tentunya, dan menikmati suguhan makanan ringan khas Jawa Barat yang tidak asing lagi bagi saya. Obrolan berlangsung santai, tapi sayangnya kakak perempuan Dini, sedang tidur. Sempat juga mengobrol dengan orangtua Dini, meski sebentar sekali. Akan tetapi, itu lah hikmah dari keterlambatan tersebut. Situasi yang tidak formal membuat suasana lebih cair.

Tepat pukul 16, saya memutuskan untuk pulang, malahan saya dibekali berbagai jenis makanan ringan. Rezeki. Bentuk hikmah lainnya dari keterlambatan. Hehe. Setelah pamitan dan berterima kasih serta meminta maaf atas keterlambatan yang terjadi, saya meluncur ke terminal Sukabumi untuk melanjutkan perjalanan kembali ke Bandung. Padahal sebetulnya saya ingin sekali pulang ke Bogor, sayangnya saya masih ada kewajiban lainnya.

Di Bus, saya bertemu dengan seorang teman yang kebetulan sedang bekerja di Sukabumi. Setelah melihat saya, dia pindah dan duduk sebangku dengan saya. Mengobrol banyak hal. Salut atas niatnya datang ke Bandung hanya untuk menghadiri Liqa mingguan yang biasa dia ikuti. Membuat saya cukup malu sebetulnya. Setelah menceritakan tujuan saya ke Sukabumi, ternyata…
Tadi siapa nama perempuan yang menikah itu?
Dini
Yang baru lulus SMA itu bukan?
Iya. Kok tahu…?
Haha. Tadi saya tuh yang ngisi panggungnya bersama tim nasyid saya
Oh ya? Sayangnya saya terlambat, jadi nggak lihat…
Dunia memang sempit ya?

Setelah itu, selama perjalanan kami banyak berdiskusi dan mengobrol. Soal proses khitbah dia, soal pekerjaan dia, soal fenomena pernikahan sekarang…meskipun yang lebih banyak bicara memang dia, karena saya sendiri sudah cukup lelah sebetulnya. Dan hari itu masih cukup panjang buat saya, karena tengah malam, giliran saya untuk jaga warnet. Pyuuhh.

27 Agustus 2007 : Special Date, But Wasn’t For Me
Sempat terjadi kebingungan beberapa hari menjelang tanggal tersebut. Tidak ada kabar yang pasti dari Ai soal pernikahan tersebut, sehingga tidak ada persiapan khusus untuk menghadiri acara tersebut. Bahkan saya sempat memikirkan untuk tidak menghadirinya. SMS yang saya kirim tidak masuk dan tidak dibalas. Untungnya, pagi itu, Aulia mengirim SMS untuk mengabari bahwa acara tersebut jadi.

Terkesan mendadak bagi saya, meskipun akhirnya saya berangkat juga, meskipun dengan keadaan kantong yang pas-pasan. Kebetulan hari itu, pekerjaan di Dinas Kependudukan Bandung belum resmi di mulai karena data-data yang dibutuhkan belum sampai. Inginnya saya berangkat bareng-bareng dengan anak-anak Birama, tapi ternyata ada yang sudah berangkat duluan, sementara Aulia dan Milah juga kemungkinannya telat. Akhirnya, lagi-lagi, saya melakukan perjalanan sendirian.

Berangkat dari kostan pukul 10 pagi, naik bus Dipati Ukur – Jatinangor, dan turun di Cileunyi untuk selanjutnya naik bus Primajasa jurusan Lebak Bulus – Garut. Salah satu alasan saya naik bus AC sebetulnya karena ingin nyaman saja dan terhindar dari gangguan asap rokok. Tidak tahu pasti arah yang harus saya tuju, sepanjang jalan SMS-an dengan Riyantini yang sudah lebih dulu sampai. Berdasarkan ceritanya, dari terminal Garut masih sekitar 3 jam lagi. Itu pun karena kendaraan Elf yang digunakan ngetem selama 1 jam. Walah!!

Sempat terjadi keributan antara saya dengan seorang pedagang di bus tersebut. Berawal ketika bus tersebut berhenti untuk melakukan pengecekan penumpang, naik beberapa pedagang menawarkan barang dagangannya.
Seribu…seribu…Tahu, Gehu“. Kebetulan perut saya juga belum kemasukan makanan apa pun sejak pagi. Sempat ragu untuk membeli makanan tersebut, namun setelah beberapa menit, akhirnya saya memutuskan untuk membeli.
Kang, Satu…“, sambil menyodorkan uang seribu rupiah
Nih, kurang seribu lagi…“, sambil menyodorkan makanan yang saya minta
Lho, katanya seribu?” protes saya
Dua ribu jang, tanya aja semua yang dagang di sini!
Terus tadi yang disebut seribuan itu apa…?” tanya saya
Kalo yang seribu mah bacang, jang…
Ya udah, saya ambil bacang aja…
Eh, ini juga dua ribu…
Terus apa atuh yang seribuan teh..?
Nggak ada, jang…
Kumaha sih? Teu jadi ah…!!” sambil merebut uang yang sudah ditangannya
Selanjutnya, yang saya dengar adalah gerutuan dan usaha mempermalukan saya. Perlakuan biasa dari pedagang yang putus asa, tidak terlalu mengganggu saya, saya malah menertawakan dia sebetulnya. Saya tidak bermaksud untuk dzalim kepada siapa pun, tidak untuk merugikan siapa pun…akan tetapi, saya juga seorang pedagang, dan sebagai seorang pedagang, bagi saya perbuatan tersebut bukanlah perbuatan yang terpuji. Bahkan, lebih sadis lagi, bagi saya hal semacam itu adalah sebuah pengkhianatan terhadap profesi pedagang. Tidak akan menjadi masalah buat saya, dan saya akan tetap membelinya, kalau sejak awal pedagang tersebut menyebut harga dua ribu rupiah. Akan tetapi, yang terjadi adalah dia meneriakan angka seribu rupiah, sementara tidak satupun barang dagangan yang berharga seribu rupiah. Ini penipuan namanya, dimana barakahnya dengan dagang seperti itu? Bisa saja saya memberi lagi seribu rupiah, tapi bukankah dengan begitu saya membantu dia untuk menikmati harta haram?

Tiba di terminal Garut tidak lama setelah adzan dzuhur berakhir. Seperti biasa, cari masjid untuk shalat Jama-Qashar, agar perjalanan lebih tenang. Kebiasaan saya, setiap tiba di daerah yang tidak atau kurang dikenal adalah mencari masjid atau membeli minuman di warung terdekat. Tujuannya untuk memetakan dan mempelajari situasi dan lingkungan dimana saya berada, dan menghindari kesan sebagai pendatang di tempat itu. Untuk menghindari orang-orang yang memiliki tujuan jahat tentunya, tapi hal tersebut hanya berlaku di daerah Jawa Barat, karena saya bisa lebih leluasa menggunakan bahasa Sunda.

Belajar dari cerita Riyantini, saya mempelajari lalu lintas kendaraan di sekitar Terminal Guntur, Garut. Tujuannya adalah mencari jalur dimana kendaraan yang harus saya naiki, dengan begitu, saya tidak harus berlama-lama ikutan ngetem, karena saya bisa menunggu di tempat lain. Meskipun berjalan cukup jauh, sekitar 500 meter, tapi lebih saya sukai ketibang ngetem berpuluh-puluh menit di terminal. Dugaan saya ternyata benar, meskipun di beberapa kilometer pertama kendaraan yang saya gunakan berjalan sangat lambat karena mencari penumpang, tapi setidaknya kendaraan tersebut tidak diam. Setelah itu, semuanya berjalan lancar, meskipun saya masih belum tahu pasti kemana saya menuju.

Meskipun dalam situasi yang serba membingungkan dan waspada karena takut tempat tujuan saya terlewat, saya benar-benar menikmati perjalanan tersebut. Lansekap dan pemandangan daerah yang saya lalui benar-benar luar biasa, selain itu jalan yang saya lalui juga tidak terlalu berkelok-kelok. Segalanya terasa lebih luas. Jenis daerah yang beragam menjadikan perjalanan tersebut tidak membosankan bagi saya. Awalnya persawahan, lalu masuk perkebunan, dan berakhir di tengah-tengah perkebunan teh. Yup, karena rumah Ai tepat di tengah-tengah kebun teh. Jika kita terbiasa di kota yang terasa serba sempit, berada di tempat itu akan terasa serba lapang. Itulah yang sangat saya sukai. Sayangnya, tidak satupun dokumentasi yang bisa dijadikan bukti. Akan tetapi, dari perjalanan tersebut, saya bisa menyimpulkan bahwa sepertinya daerah Jawa Barat bagian selatan akan menjadi tujuan yang menarik untuk melakukan perjalanan.

Seperti juga pada pernikahan Dini, saya datang terlambat, tepat adzan ashar. Tuan rumah sedang membereskan seluruh peralatan yang digunakan. Meskipun masih ada beberapa tamu dan keluarga dari pihak suami Ai, namun saya lah satu-satunya ‘orang lain’ di tempat itu. Sempat merasa kikuk, begitu juga tuan rumah yang berkali-kali meminta maaf karena merasa ‘nyuekin’ saya. Saya tidak pernah merasa dicuekin sebetulnya. Bagi saya, yang penting bisa sampai tujuan dan tiba dengan selamat. Perkara bagaimana sambutan pihak keluarga terhadap saya, benar-benar tidak saya pedulikan. Namun, dari keterlambatan kali ini pun, saya mendapatkan hikmah lainnya.

Dengan Ai sendiri saya malah tidak sempat mengobrol, tapi saya banyak mengobrol dengan beberapa orang dari pihak keluarga Ai. Bahkan sambil makan, santai sekali. Lagipula, kendaraan yang menuju ke Garut juga sangat jarang sekali. Sebetulnya saya masih ingin menikmati pemandangan di sekitar tempat tersebut, namun waktu saya tidak banyak. Ditambah lagi, kendaraan yang datang tidak lama setelah selesai makan, dicurigai sebagai kendaraan terakhir menuju Garut. Waduh!

Terus terang saja, perjalanan terakhir ini merupakan perjalanan yang paling menarik buat saya. Bahkan, tempat tersebut selalu terbayang-bayang sampai sekarang.

Sandal Jepit
Apa hubungannya 6 pernikahan tersebut dengan sendal jepit? Terus terang saja, semakin hari, kaki saya semakin tidak betah jika menggunakan sepatu. Dengan tujuan agar leluasa dan agar kaki tidak terlalu lelah, maka dalam seluruh perjalanan menghadiri pernikahan di luar Bandung, saya menggunakan sandal jepit. Sepatu tetap saya bawa, tetapi saya gunakan hanya saat tiba di acara pernikahan tersebut. Biasanya saya mencari masjid untuk mengganti sandal jepit dengan sepatu. Setelah selesai, saya pakai sandal jepit lagi. Andai saja tidak ada yang keberatan, saya akan tetap menggunakan sandal jepit itu. Akan tetapi, demi kesopanan, entah kesopanan siapa, saya ‘terpaksa’ memakai sepatu.

Dengan cara itu juga saya tidak terlalu khawatir orang-orang yang berfikiran jahat akan ‘memperhatikan’ saya selama perjalanan, orang cuma pake sandal jepit kok. Hahaha.

C1H3UL4176. 100907. 5.20

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén