Category: Esai (Page 2 of 2)

Lebih Baik Menolak

Bukan tanpa alasan ketika saya menolak permintaan Ochi untuk menulis atau berbicara lebih banyak tentang kasus Monas yang melibatkan FPI dan AKKBB. Meskipun, sebetulnya saya juga ingin sekali menulis soal kejadian tersebut.

Setidaknya ada dua alasan. Pertama, saya tidak berada di sana ketika kejadian. Kedua, saya tidak percaya 100% media massa. Dengan dua alasan tersebut, saya tidak berani memberikan penilaian tentang siapa yang benar dan siapa yang salah dalam kasus tersebut. Bahkan mereka yang hadir di sana pun bisa saja salah. Akan tetapi, sikap saya jelas. Saya sangat menyesalkan terjadinya kasus tersebut.

Kekhawatiran saya hanya satu. Prasangka. Su’udzhan. Tentunya kepada dua pihak yang terlibat. Jangan sampai ketika saya menggebu-gebu membela salah satu pihak, saya malah membela yang seharusnya dihujat.

Ketika terjadi pertikaian, dipastikan akan selalu terbentuk minimal dua kubu dengan versi ceritanya masing-masing. Ada kalanya cerita yang kita dengarkan lebih bombastis daripada kejadian yang sesungguhnya. Bahkan seringkali ditemukan ‘fakta’ baru dalam cerita tersebut, entah benar adanya atau diada-adakan.

Sama halnya dengan sejarah. Satu hal yang pasti dari sejarah adalah -biasanya- tempat, waktu dan peristiwanya. Soal jalan cerita bagaimana peristiwa itu bisa terjadi, tergantung pada siapa anda percaya atau -mungkin- tergantung selera anda juga.  Bagi saya, kejadian Monas sudah jadi bagian dari sejarah.

Belum lagi munculnya teori-teori konspirasi dari mereka yang membela salah satu kubu. Semakin ruwet. Dengan minimnya data dan fakta yang saya miliki, mana berani saya menentukan siapa benar dan siapa salah. Jadi, silahkan saja yang berwajib yang mengurusi persoalan ini.

Lalu, ketidakpercayaan saya pada media massa lebih dikarenakan keyakinan saya bahwa tidak ada satu pun media yang benar-benar netral. Setiap media punya ideologi atau ‘sikap politik’. Keduanya ditentukan oleh’ pemegang duit’ di perusahaan media massa tersebut. Yah, memang senaif itu lah pikiran saya.

Lagipula, televisi atau koran hanya menampilkan frame-frame yang menurut mereka ‘menjual’. Padahal, suatu cerita selalu memiliki awal, tengah dan akhir cerita. Tidak selalu yang kita lihat sebagai pihak yang tertindas di televisi atau koran adalah mereka yang benar-benar tertindas. Bisa juga yang terjadi adalah sebaliknya, sebuah perlawanan terhadap suatu penindasan. Lantas, apa mungkin kita bisa menyimpulkan suatu kejadian hanya melihat satu bagian saja?

CTM61. 060608. 05.00.

loading...

Blogger Ulul Albab

Jika ditanyakan kepada saya, blog seperti apakah yang membuat saya iri? Jawabannya bukan blog yang banyak komentarnya, bukan blog yang membuat orang jadi terkenal atau pun blog yang besar traffic-nya.  Meskipun kadang merasa iri juga, tapi sejak awal blogging saya tidak terlalu tertarik untuk menjadikan hal semacam itu sebagai tujuan utama saya.   Kalau menurut saya, sayang sekali jika tujuan blogging hanya untuk itu.

Saya sangat iri kepada blogger yang bisa men-sinergi-kan antara sains dan agama dalam tulisan-tulisannya.  Dalam kasus saya, Islam adalah agama yang dimaksud.  Ilmiah sekaligus memiliki dan memberikan pengalaman spiritual kepada pembacanya.  Membuat cerdas sekaligus menjadikan seseorang mendekatkan dirinya kepada sang pencipta.  Memberi pencerahan otak sekaligus kepada hati.

Terus terang saja, tidak banyak saya temukan blog semacam itu.  Blog ini pun belum bisa dikategorikan seperti itu, meskipun pada mulanya tujuan saya blogging adalah untuk itu.  Apa daya, kemampuan saya belum sampai ke tahap itu.  (kok jadi ber-rima begini ?)  :angelpusing:

Sejak masa sekolah, saya termasuk orang yang tidak menyetujui dikotomi antara agama dan sains, atau antara dunia dan akhirat.  Oleh sebab itu, saya tidak bisa menerima sekularisasi dalam bidang apa pun.  Bagi saya agama dan sains mestilah saling mendukung, saling melengkapi atau saling menyempurnakan.  Bahkan, perintah pertama yang diturunkan kepada Rasulullah Muhammad SAW adalah “Iqra!“, bacalah! Sebab membaca adalah kunci dari sains, kunci dari ilmu pengetahuan.

Indonesia saat ini kekurangan orang-orang semacam itu.  Ada yang shalih, tapi kurang cerdas di bidang lainnya.  Orang-orang semacam ini cenderung menerima “apa adanya” dan mudah dibodoh-bodohi.  Ada yang cerdas, tapi kurang shalih.  Orang semacam ini cenderung untuk sombong dan membodoh-bodohi orang lain.  Benarlah pernyataan Einstein,” (ber)-ilmu tanpa (ber-)agama adalah pincang, (ber-)agama tanpa ilmu adalah buta.”

Saya kemudian jadi teringat ucapan seorang Ulama yang tidak terlalu banyak dikenal ketika melihat barang-barang elektronik yang menurutnya sangat canggih.  Katanya, “ini adalah mutiara umat Islam yang hilang“.  Beliau berkata seperti itu karena meyakini bahwa seharusnya umat Islam menguasai teknologi.  Sementara teknologi akan terkuasai jika kita menguasai ilmu pengetahuan sebagai pondasinya.  Selama kita tidak pernah menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, selama itu juga kita hanya akan menjadi ‘penonton’ peradaban.

Pada acara bedah buku “Orientalisme dan Diabolisme Pemikiran” karya Dr. Syamsudin Arif di Masjid Salman ITB beberapa saat lalu, Adian Husaini mengatakan bahwa di Indonesia belum ditemukan seorang pun doktor di bidang Islam-Saintis.  Sementara Malaysia sudah memiliki beberapa orang yang bergelar doktor di bidang Islam-Saintis.  Saya saja baru tahu kalau ada orang yang mendalami tentang Islam-Saintis.  Andaikan diberi kesempatan, ingin juga rasanya untuk mendalami tentang Islam-Saintis yang dimaksud oleh Adian Husaini tersebut.

Dalam Islam, orang-orang yang bisa men-sinergi-kan dan mengharmonisasikan agama dan sains inilah yang kemudian disebut ulul albab.  Tidak hanya sekedar beragama, tapi juga berilmu.  Tidak hanya sekedar berilmu, tapi juga beragama.  Dalam diri seorang ulul albab, keduanya memiliki porsi yang seimbang.  Ilmuwan sekaligus ulama.  Meskipun tergolong ‘radikal’ dalam beragama, tapi lebih mengedepankan jalur diskusi atau melalui tulisan dan tidak menyukai jalur kekerasan, sesuai kapasitas ke-ilmuwan-an dan ke-ulama-an mereka.

C 1 H 3 U L 4 17 6. 050508. 00.00

Ruang Kosong

Salah satu favorit saya dalam buku Filosofi Kopi karya Dee (Dewi Lestari) adalah tulisan yang berjudul Spasi.

Seindah apa pun huruf terukir, dapatkah ia bermakna apabila tak ada jeda? Dapatkah ia dimengerti jika tak ada spasi?

Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak? Dan saling menyayang bila ada ruang? Kasih sayang akan membawa dua orang semakin berdekatan, tapi ia tak ingin mencekik, jadi ulurlah tali itu.

Napas akan melega dengan sepasang paru-paru yang tak dibagi. Darah mengalir deras dengan jantung yang tak dipakai 2 kali. Jiwa tidaklah dibelah, tapi bersua dengan jiwa lain yang searah. Jadi jangan lumpuhkan aku dengan mengatasnamakan kasih sayang.

Mari berkelana dengan rapat tapi tak dibebat. Janganlah saling membendung apabila tak ingin tersandung.

Pegang tanganku, tapi jangan terlalu erat, karena aku ingin seiring dan bukan digiring.

Dewi Lestari – Spasi

Spasi atau ruang kosong atau jarak. Sudah sejak lama sebetulnya saya ingin menulis tentang ini. Bahkan, sebelum membaca tulisan Dee tersebut. Sebetulnya sudah banyak juga yang membahasnya.

Akan tetapi, beberapa minggu yang lalu untuk kedua kalinya saya menonton Kick Andy episode AA Gym. Kali ini versi lengkapnya. Ternyata, banyak juga quote dan rahasia menarik dari cerita AA Gym yang tidak ditampilkan pada episode sebelumnya. Hanya saja, fokus saya kali ini bukan pada hal itu.

Sehubungan dengan spasi, ada yang menarik dari cerita pengalaman AA Gym di acara tersebut. Berdasarkan pengakuan AA Gym, tidak banyak yang tahu bahwa ternyata kesibukan dakwahnya selama ini malah menjerumuskan dirinya ke dalam rutinitas yang tidak sehat dan menjauhkannya dari keluarga. Tidak ada waktu untuk dirinya dan keluarga. Bahkan dalam dunia dakwah sekali pun, ternyata jika dilakukan terlalu berlebihan berdampak tidak sehat juga. Beliau menganalogikan dirinya dengan gergaji yang digunakan terus-menerus selama 5 tahun tanpa henti. Pada akhirnya gergaji tersebut akan tumpul, rusak dan tidak efektif lagi untuk memotong kayu.

Sudah sangat lumrah jika setiap orang memerlukan waktu untuk bisa menyendiri, merenung dan beristirahat. Itulah spasi, jarak, ruang kosong. Hanya saja, tidak sedikit juga yang menyadari fungsi aktivitas tersebut untuk kesehatan jiwanya. Memang setiap malam kita tidur, tapi itu hanya memenuhi kebutuhan fisik saja. Dan itu pun tidak selalu efektif. Sebab tidak jarang juga kita tidur dengan otak yang sibuk memikirkan pekerjaan dan rutinitas lainnya. Sementara kebutuhan jiwa seringkali tidak terpenuhi.

Oleh sebab itu, saya sangat memahami ketika beberapa orang sahabat saya belakangan ini melakukan kontemplasi. Bagaimanapun, kontemplasi adalah kebutuhan jiwa. Saya termasuk orang yang sering melakukan kontemplasi. Untungnya saya bisa berkontemplasi di mana pun. Bahkan dikeramaian. Paling sering di jalanan. Makanya, saya lebih suka duduk di dekat kaca bus atau kereta. Selain bisa menikmati pemandangan, pikiran saya bisa mengawang-awang. Merenung, muhasabah, berencana…apa saja yang terpikirkan. Itu sebabnya, saya memilih sendiri dan kurang berminat untuk mengobrol dengan orang lain jika melakukan perjalanan. Saya lebih suka membiarkan pikiran saya ‘melayang’ kemana-mana. Ada kalanya, ide muncul ketika itu. Ide apa pun.

Jiwa manusia itu memang unik. Ketika sudah ‘penuh’ yang terjadi adalah kejenuhan, saat itulah perlu ‘dikosongkan’. Ketika sudah kosong, tidak bisa dibiarkan terlalu lama. Harus diisi kembali. Dengan ilmu, dengan nasihat, dengan membaca. Barangkali, itulah sebabnya ada yang mengatakan bahwa para penulis adalah orang-orang yang sehat jiwanya. Sebab dalam diri penulis terjadi siklus ‘mengisi-mengosongkan’ yang kontinyu. Jiwanya selalu ‘baru’.

Ada saat mengisi jiwanya dengan bacaan-bacaan, dengan pengalaman dan informasi. Lalu, ketika seluruh ‘bahan’ tersebut terkumpul, bisa dipastikan, setiap penulis akan merasakan kegelisahan ketika ide-idenya belum tertuangkan ke dalam sebuah tulisan. Sangat mudah saja jika ingin ‘menyiksa’ penulis atau para blogger. Hindarkan dia dari kertas, dari buku, dari alat tulis, dari komputer, dari mesin tik…seorang penulis sejati akan gila diperlakukan seperti itu. Sebetulnya hal tersebut tidak hanya berlaku bagi para penulis, tapi juga untuk segala profesi yang berbasis karya. Musisi, penyair, pelukis, programer, desainer atau bahkan fotografer.

Dalam mitologi Yunani, diceritakan ada seorang tokoh yang dihukum oleh Dewa. Sisifus namanya. Hukumannya sederhana saja. Dia harus mengangkat sebuah batu yang besar, hingga ke puncak gunung, setelah tiba di atas gunung, batu itu harus digelindingkan lagi. Didorong lagi ke atas, untuk kemudian digelindingkan lagi. Seperti itu, terus menerus.

Bagi saya itu sebuah hukuman yang menyakitkan. Memang hukuman yang sederhana, tapi bayangkan yang terjadi pada jiwa kita. Kehampaan, kejenuhan, kebosanan. Kita melakukan hal tersebut terus menerus, sepanjang hidup, tanpa jeda. Tidak ada kesempatan untuk sekedar berencana. Ditambah lagi apa yang kita lakukan benar-benar tidak ada artinya. Bagi saya mengerikan. Tidak ada harapan, tidak ada impian sama sekali. Padahal impian dan harapan yang menjadikan hidup menjadi ‘sedikit’ lebih indah bukan?

Saya kemudian jadi terbayang, Islam menggambarkan berbagai macam hukuman dalam neraka bentuknya seperti itu. Bahkan, jika misalkan saya masuk neraka dan dihukum persis seperti Sisifus, itu saja sudah bisa membuat saya sangat tersiksa dan menderita. Apalagi pakai api segala…dibakar, hancur lebur, utuh lagi, dibakar lagi, hancur lebur, utuh lagi…neverending. Naudzubillahi.

C 1 H 3 U L 4 17 6. 230308.10.30

NB: ini sebetulnya draft tulisan yang tertunda sejak 2 bulan yang lalu. Rasanya kok nggak fokus ya? melenceng kemana-mana?

Dia yang Kurindu

Dia yang kurindu
yang bibirnya selalu menyebut asma-Nya
yang hatinya terpaut pada-Nya
yang hidupnya diabdikan untuk-Nya

Dia yang kurindu
yang cintanya adalah cinta-Nya
yang ridhanya adalah ridha-Nya
yang senyumnya adalah senyum-Nya

Dia yang kurindu
Muhammad sang terpercaya
shalawat dan salam untuknya
selalu…

Hmm, sudah berapa lama ya saya nggak nulis puisi? Lumayan lama rasanya. Inspirasi awalnya sebetulnya gara-gara kangen sama seorang manusia yang sudah lama tidak pernah bertemu, hampir 2 tahun atau bahkan lebih. Laki-laki atau perempuan? Ah, nggak penting…!! Bait pertama itu bercerita tentang manusia tersebut. Namun, di tengah-tengah penulisan…saya jadi kepikiran Rasulullah SAW. Ya, sudah…saya dedikasikan saja puisi itu untuk beliau. Tadinya mau saya kasih judul “Ode Buat Rasulullah“, tapi merasa kurang cocok. Ciri khas saya sekali. Too much repetition. Maklum lah, saya agak kesulitan berpuitis-puitis ria. Waktu puisi ini masih dalam proses, Catur sempat melihatnya, karena ketika saya ‘tinggalkan’ untuk istirahat, Catur main ke-kostan saya, tapi tidak ada komentar sama sekali.

Agak aneh juga sebetulnya, mengingat belakangan ini saya lebih sering mendengarkan musik rock. Lho, apa hubungannya? Ya, jelas ada. Biasanya musik berpengaruh terhadap kondisi jiwa. Saya juga menulis puisi tersebut ditemani lagu-lagu dari Dream Theater, Liquid Tension Experiment (LTE), Hoobastank serta Linkin Park. Meskipun di tengah-tengah geberan musik mereka yang cadas dan eksploratif itu, saya juga menyelipkan lagu-lagu yang kontemplatif dari Opick, Chrisye dan Iwan Fals, lagu sunda Doel Sumbang, atau musik instrumental dari Budjana, Jubing Kristianto, String Quartet, Yanni dan instrumentalis lain yang tidak saya kenal. Tidak ketinggalan juga Al-Matsurat, beberapa surat di Juz 30 dan ceramah-ceramah dari Athian Ali, Hussein Umar atau Adian Husaini. Winamp disetel dengan mode shuttle, jadilah sebuah kombinasi bunyi-bunyian yang ‘aneh’ dan unpredictable, penuh kejutan.

Menarik sebetulnya, sebuah cara untuk ‘mempermainkan’ mood dan mengatasi kebosanan. Coba saja rasakan sensasinya ketika setelah berbising-bising dengan musik rock instrumental berdurasi 16 menit semacam “When The Water Break” dari LTE, lalu mood anda diajak ‘melayang’ oleh komposisinya Budjana, dan tiba-tiba anda diajak bertafakur oleh lirik-lirik semacam “Bila Waktu telah Berakhir” dari Opick, sebelum akhirnya telinga anda diajak ‘berlari’ lagi mendengarkan lagu “Home” atau “Forsaken” dari Dream Theater. Cara seperti ini, mungkin bisa juga digunakan sebagai latihan agar tidak mudah terkejut. 😀

Puisi “Dia yang Kurindu” di atas dihasilkan di tengah-tengah suasana semacam itu. Kalau bagi saya sih aneh, karena setahu saya, sebuah karya puisi biasanya tercipta di tengah-tengah suasana yang hening dan tenang. Apalagi jika dalam puisi itu memuat unsur ke-ilahi-an, spiritualitas atau ajakan untuk berkontemplasi. Jangan-jangan, hal semacam itu sudah biasa dan memang bukan hal yang aneh? Kalau seperti itu, saya yang aneh…WEIRD!! :-p

S 3 K 3 L 0 4. 030308. 22.30

Page 2 of 2

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén