<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>mind.donnyreza.net &#187; Esai</title>
	<atom:link href="http://mind.donnyreza.net/category/esai/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://mind.donnyreza.net</link>
	<description>Catatan, celoteh, curhat, caper</description>
	<lastBuildDate>Thu, 22 Jul 2010 17:55:33 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=abc</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Virus</title>
		<link>http://mind.donnyreza.net/07022009/virus/</link>
		<comments>http://mind.donnyreza.net/07022009/virus/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Feb 2009 11:19:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Donny Reza</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Informatika]]></category>
		<category><![CDATA[virus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mind.donnyreza.net/?p=241</guid>
		<description><![CDATA[Tingkah laku para pembuat virus komputer, saya anggap, terwakili oleh virus yang dibuatnya.  Di dunia komputer, ia menjadi virus, di dunia nyata sang pembuat virus tidak akan berbeda jauh, ia adalah virus itu sendiri.  Perusuh, pembuat onar, pengacau, egois.  Karenanya dia menjadi &#8216;makhluk&#8217; paling dibenci oleh setiap orang.
Mungkin saya terlalu &#8216;pukul rata&#8217;.  Bisa jadi sang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tingkah laku para pembuat virus komputer, saya anggap, terwakili oleh virus yang dibuatnya.  Di dunia komputer, ia menjadi virus, di dunia nyata sang pembuat virus tidak akan berbeda jauh, ia adalah virus itu sendiri.  Perusuh, pembuat onar, pengacau, egois.  Karenanya dia menjadi &#8216;makhluk&#8217; paling dibenci oleh setiap orang.</p>
<p>Mungkin saya terlalu &#8216;pukul rata&#8217;.  Bisa jadi sang pembuat virus sesungguhnya adalah seorang yang jenius, tapi jelas dia tidak memiliki kehidupan sosial yang baik.  Dan biasanya, dia adalah seorang psikopat. Meskipun, bagi saya, seorang jenius beda tipis dengan seorang idiot ketika kejeniusannya tidak digunakan dengan baik.  Dia tidak mendapatkan apa pun dari kejeniusannya, selain caci maki, sumpah serapah dan berbagai macam kutukan lainnya.  Ya, paling hanya semacam kepuasan ketika virus yang dibuatnya kemudian menyebar dan berhasil membuat pusing ribuan atau bahkan jutaan orang.  Akan tetapi, hanya sebatas itu saja, tidak membuktikan bahwa sang pembuat virus memang orang pintar.  Dia tetaplah dikenal -kalau kemudian terkenal- sebagai perusuh.  Tidak lebih.</p>
<p>Di Indonesia, saya mendapati para pembuat virus hanya sekumpulan orang-orang frustasi dan kekanak-kanakan, dan memang sebagiannya adalah para ABG pencari jati diri.  Biasanya karena patah hati, entah ditolak, entah diputuskan, atau bahkan cinta tak berbalas.  Kita bisa mendapati itu semua dari pesan-pesan yang mereka sampaikan. Dan entah kenapa mereka merasa sebagai orang-orang yang paling menderita.  Sebuah pertanda bahwa mereka tidak memiliki kehidupan sosial yang cukup baik, atau tidak memiliki kepekaan sosial sama sekali &#8230; dan jelas, sangat kekanak-kanakan, plus egois.</p>
<p>Beberapa pesan dalam virus terkadang hanya mencantumkan <em>nickname</em> sang pembuat virus.  Identitasnya tidak ingin diketahui.  Ciri khas penjahat &#8230;atau banci.  Ah, tapi seorang banci sekalipun masih bisa kita ketahui nama aslinya.  Bandingkan saja dengan &#8216;jagoan&#8217; di dunia maya, entah itu di dunia <em>programming</em>, <em>networking </em>atau <em>designing</em>.  Mereka bangga dengan namanya.  Sebab namanya sendiri sudah mewakili citra dari orang tersebut.  Hal ini disebabkan karena mereka merasa sudah melakukan hal yang baik dan bermanfaat untuk orang banyak.</p>
<p>Seorang <em>hacker</em> sejati, misalnya, justru adalah seorang yang sangat rendah hati.  Ilmu dan pengetahuannya tentang jaringan komputer sangat tinggi, tapi tidak sedikitpun dia merasa perlu untuk melakukan <em>show off</em> seperti orang-orang yang mengaku <em>hacker</em> atau ingin disebut <em>hacker</em>.  Ketika seorang yang mengaku <em>hacker</em> berbicara tentang bagaimana menjebol keamanan jaringan komputer, seorang <em>hacker</em> sejati berbicara tentang bagaimana mencegah agar keamanan jaringan tidak jebol.  Apa yang dibahas sama saja sebetulnya, tapi &#8216;judul&#8217;-nya berbeda.  Yang satu berbicara tentang &#8220;merusak&#8221;, satunya lagi berbicara tentang &#8220;menjaga&#8221;.</p>
<p>Sungguh sangat disayangkan ketika kemampuan untuk berkarya digunakan untuk merusak.  Padahal, dengan kemampuan yang sama, saya yakin seorang pembuat virus bisa membuat program yang lebih bermanfaat.  Sehingga, khazanah dunia telematika di Indonesia bisa semakin kaya.  Bukan oleh hal-hal yang merusak, tapi bermanfaat.  Sampai saat ini, kita masih menanti kemunculan &#8216;pengganti&#8217; Microsoft Windows, SAP, Oracle, atau UNIX yang berasal dari Indonesia.  Mungkinkah? <img src='http://mind.donnyreza.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mind.donnyreza.net/07022009/virus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>27</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Parade Kemiskinan</title>
		<link>http://mind.donnyreza.net/16102008/parade-kemiskinan/</link>
		<comments>http://mind.donnyreza.net/16102008/parade-kemiskinan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Oct 2008 17:00:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Donny Reza</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mind.donnyreza.net/?p=147</guid>
		<description><![CDATA[
Sepanjang sejarah manusia, tidak ada satu hal yang lebih ditakuti, dihindari dan dibenci melebihi kemiskinan.  Tidak ada orang yang ingin disebut orang miskin atau ingin menjadi orang miskin.  Status dan harga diri suatu bangsa pun dinilai dari jumlah orang miskinnya.  Semakin banyak angka kemiskinan, semakin rendah harga diri bangsa tersebut dihadapan bangsa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://blogactionday.org"><img class="aligncenter" src="http://blogactionday.s3.amazonaws.com/banners/180x150.jpg" alt="" /></a></p>
<p>Sepanjang sejarah manusia, tidak ada satu hal yang lebih ditakuti, dihindari dan dibenci melebihi kemiskinan.  Tidak ada orang yang ingin disebut orang miskin atau ingin menjadi orang miskin.  Status dan harga diri suatu bangsa pun dinilai dari jumlah orang miskinnya.  Semakin banyak angka kemiskinan, semakin rendah harga diri bangsa tersebut dihadapan bangsa lainnya.</p>
<p>Persoalan kemiskinan bukan masalah kontemporer saja, tapi sudah terjadi sepanjang zaman.  Hal tersebut juga menjadi tantangan yang selalu dihadapi oleh para pemimpin dunia.  Adalah suatu aib bagi seorang pemimpin, jika dibawah kepemimpinannya, jumlah orang miskin tidak berkurang, apalagi malah semakin bertambah.  Angka kemiskinan juga menjadi obyek politik yang cukup ampuh untuk menjatuhkan seorang pemimpin.  Tidak heran jika setiap kelompok mengumpulkan angka kemiskinan untuk mempromosikan dirinya sekaligus menjatuhkan kelompok lain.</p>
<p>Kemiskinan -meskipun tidak selalu- identik dengan kriminalitas, kebodohan, penindasan, kelemahan dan -jika dipandang dari sudut agama Islam- bisa mendekati kekufuran.  Bahkan, barangkali sering terjadi, secara tidak sadar kita memandang orang lain yang secara materi termasuk dalam kategori miskin, dengan sebelah mata, merendahkan atau menghinakan.  Meskipun dengan kemiskinannya, orang tersebut tidak memberikan masalah sedikit pun bagi kita.</p>
<p>Kemiskinan bisa dipandang sebagai dua hal.  Sebagai sebab dan sebagai akibat.  Sebagai sebab, kemiskinan adalah akar dari sebagian besar tindak kriminalitas.  Barangkali sudah cukup bosan kita mendengar atau membaca berita tentang pencurian, perampokan atau pembunuhan yang disebabkan kondisi kemiskinan pelakunya.  Tidak sedikit pula berita tentang kasus-kasus bunuh diri atau kelaparan yang disebabkan kemiskinan.  Dari sisi ini, kita dapat memandang bahwa kemiskinan sangat jahat.</p>
<p>Sebagai sebuah akibat, kemiskinan merupakan suatu produk.  Produk dari ketidakadilan.  Ketidakadilan pemimpin, hukum atau sistem, bahkan ketiganya.  Pemimpin yang tidak adil akan menempatkan orang miskin sebagai &#8217;sampah&#8217; yang tidak perlu dipikirkan.  Sehingga, pemimpin seperti ini hanya akan mementingkan kepentingan dirinya dan orang-orang disekitarnya, tidak peduli jutaan orang merintih dalam kemiskinannya.  Ketidakadilan hukum akan menempatkan orang miskin dalam posisi lemah, apalagi jika hukum bisa dijualbelikan, semakin menderitalah orang miskin.  Padahal, hukum harus seimbang dan adil.  Ketidakadilan sistem akan membuka peluang orang miskin tertindas, karena dalam sistem yang tidak adil, terjadi hukum rimba; yang kuat dan ber-uang lah yang berkuasa.  Suara orang miskin tidak akan didengarkan.</p>
<p>Untuk mengatasi permasalahan kemiskinan, akan lebih mudah jika memandang kemiskinan sebagai akibat atau produk dari ketidakadilan.  Artinya, dengan cara tersebut, pertanyaan apa yang menyebabkan terjadinya kemiskinan akan lebih mudah terjawab.  Meskipun bukan hal yang mudah menanggulangi kemiskinan, dengan mengetahui sumber penyebab kemiskinan, setidaknya solusi yang bisa diberikan sudah bisa terbayangkan.</p>
<p>Tentu saja, kita merindukan rasa tenang, nyaman, aman dan damai.  Akan tetapi, percayalah, hal itu semua tidak akan tercapai jika persoalan kemiskinan masih menjadi masalah terbesar di sekitar kita.  Bahkan, barangkali yang sebenarnya terjadi, persoalan kemiskinan merupakan akibat dari ketidakpedulian kita terhadap hal-hal yang menjadi sumber kemiskinan.  Atau, jangan-jangan, kita lah penyebab terjadinya kemisikinan itu!!</p>
<p>Salut dan respek terhadap mereka yang turun langsung dan mengorbankan seluruh waktu, tenaga, materi dan pikirannya untuk mengentaskan kemiskinan.  Sekecil apa pun usaha mereka.  Dan kita? Masa hanya sekedar mau jadi penonton?! <img src='http://mind.donnyreza.net/wp-includes/images/smilies/angel_dizzy.gif' alt=':angelpusing:' class='wp-smiley' /> </p>
<p>PS: Ini tulisan yang dibuat karena terpaksa, hasilnya juga rada maksa, salah sendiri maksa-in ikut-ikutan  <a href="http://site.blogactionday.org/" target="_blank"><strong>blogactionday2008</strong></a> dengan tema <em>poverty</em>.  <img src='http://mind.donnyreza.net/wp-includes/images/smilies/devil_laugh.gif' alt=':setan1:' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Another PS:  Kamu tahu &#8230; ada yang lebih menakutkanku daripada miskin materi, adalah miskin cinta-Nya dan miskin mencintai-Nya.</p>
<p><script src="http://blogactionday.org/js/8b842f0b7ca0e4fa4c2db38e712bc3950f58ac9b"></script></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mind.donnyreza.net/16102008/parade-kemiskinan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bukan Hanya Salah Fir&#8217;aun</title>
		<link>http://mind.donnyreza.net/08102008/bukan-hanya-salah-firaun/</link>
		<comments>http://mind.donnyreza.net/08102008/bukan-hanya-salah-firaun/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Oct 2008 18:01:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Donny Reza</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mind.donnyreza.net/?p=142</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah kesalahan, betapa pun kecilnya, akan menjadi besar tingkat mudharat nya apabila dibiarkan oleh orang-orang yang mengetahui kebenaran, tapi mendiamkannya, menolerir atau bahkan menyetujuinya.  Pada akhirnya, kesalahan tersebut akan membudaya dan sulit untuk diperbaiki.  Bahkan ketika sesuatu yang benar disampaikan, hal tersebut akan dianggap aneh, asing dan dianggap melawan arus.
Masjid di dekat tempat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebuah kesalahan, betapa pun kecilnya, akan menjadi besar tingkat mudharat nya apabila dibiarkan oleh orang-orang yang mengetahui kebenaran, tapi mendiamkannya, menolerir atau bahkan menyetujuinya.  Pada akhirnya, kesalahan tersebut akan membudaya dan sulit untuk diperbaiki.  Bahkan ketika sesuatu yang benar disampaikan, hal tersebut akan dianggap aneh, asing dan dianggap melawan arus.</p>
<p>Masjid di dekat tempat tinggal saya adalah sebuah contoh.  Sudah menjadi hal yang lumrah apabila setiap Masjid memiliki satu atau beberapa imam yang tetap.  Persoalannya, di Masjid tersebut, imam-imam yang eksis selama ini memiliki beberapa masalah.  Pertama, usia nya yang rata-rata sudah tua.  Kedua, tentang bacaan surat yang &#8216;berantakan&#8217; ketika melakukan shalat shubuh, maghrib dan isya yang dalam dua raka&#8217;at awal dikeraskan bacaannya.  Umur tua tidak menjadi masalah, jika persoalan kedua, bacaan surat, juga tidak bermasalah.  Persoalannya justru di situ.  Rata-rata bacaannya bermasalah.  Ada yang tersengal-sengal.  Ada yang terdengar seperti dalang wayang golek.  Ada yang seperti berkumur-kumur, meskipun kaidah-kaidah bacaannya baik.  Pernah suatu ketika ada orang baru yang menjadi makmum sampai berkali-kali membetulkan bacaan surat sang imam.  Pada akhirnya, yang bersangkutan bosan juga membetulkan, dan akhirnya membiarkan.</p>
<p>Di sisi lain, ada orang lain yang seusia dengan imam-imam tersebut atau bahkan yang lebih muda, memiliki kemampuan yang jauh lebih baik.  Mereka ini biasanya mengalah jika salah seorang diantara imam tersebut ada.  Mereka menjadi imam, hanya jika imam-imam tersebut tidak hadir atau terlambat menghadiri shalat berjama&#8217;ah.  Meskipun, saya yakin dalam hati mereka juga keberatan di-imam-i oleh imam-imam tersebut.  Saya termasuk salah satu yang sering merasa berat hati ketika shalat berjama&#8217;ah di-imam-i mereka.  Akan tetapi, saya pun tidak bisa menyuarakan perihal itu karena saya juga pendatang di tempat tersebut.  Ada kalanya, saya memilih untuk terlambat datang atau bahkan menunggu sampai shalat berjama&#8217;ah selesai.  Akan tetapi, belakangan saya menyadari bahwa hal tersebut juga tidak bisa dibenarkan.  Bagaimanapun, shalat berjama&#8217;ah di awal waktu lebih utama.  Juga ada tuntunan yang menyatakan seorang makmum (yang dipimpin) harus bersabar terhadap kesalahan imam (pemimpin).  Meskipun, tidak boleh juga mendiamkan begitu saja.</p>
<p>Saya menilai, rasa sungkan dan alasan kesopanan menjadi penyebab mandegnya fungsi koreksi di Masjid tersebut.  Tidak sekedar di Masjid tersebut, di hampir segala aspek kehidupan kita, bisa ditemukan dengan mudah hal-hal seperti itu.  Saya juga barangkali termasuk pelaku yang paling kronis dalam hal mendiamkan suatu kesalahan.  Padahal, menghormati orang tua atau yang dituakan, tidak berarti tanpa koreksi atau kritik.  Begitupun, orang tua dalam menyikapi koreksi, bukan berarti koreksi tersebut untuk melecehkan mereka.  Koreksi, kritik justru bisa menjadi sebuah indikator cinta atau tanda hormat.  Hanya barangkali yang menjadi persoalan adalah bagaimana cara yang paling tepat untuk menyampaikan koreksi atau kritik tersebut? Maka, teknik komunikasi yang baik menjadi sangat bermanfaat di sini.</p>
<p><em>&#8216;Amar ma&#8217;ruf nahyi munkar</em> itu bersifat universal dan menjadi kewajiban semua orang.  Tidak memandang status sosial seseorang di masyarakat.  Seseorang yang memahami fungsi <em>&#8216;amar ma&#8217;ruf nahyi munkar</em> tidak akan anti atau alergi terhadap kritik, koreksi dan saran-saran yang bersifat membangun.  Dia juga tidak akan memandang remeh orang yang memberikan kritik atau koreksi kepadanya, meskipun seorang gelandangan, jika koreksi yang diberikan memiliki nilai kebenaran.</p>
<p>Dalam sebuah artikel berjudul &#8220;<strong>Bukan Hanya Salah Fir&#8217;aun</strong>&#8220;<sup>1</sup>, dalam buku dengan judul yang sama, terdapat beberapa paragraf yang menarik:</p>
<blockquote><p>Mengapa Fir&#8217;aun sampai menganggap dirinya serba cukup, paling hebat dan paling kuat? Bagaimana ia berani bertindak melampaui batas-batas nurani dan kemanusiaan? Di satu sisi menjadi binatang, di sisi lain menjadi &#8220;tuhan&#8221;? Bukankah dulu pernah ada Raja Sulaiman, yang walaupun kekuasaannya amat besar tapi tak membuatnya arogan.  Begitu juga dengan Ratu Balqis.  Kerajaannya yang besar tak membuatnya merasa jadi tuhan.  Mengapa?</p>
<p>Al-Qur&#8217;an telah memberikan jawaban atas pertanyaan itu.  Ternyata orang-orang disekitarnyalah yang membuat Fir&#8217;aun merasa serba cukup, paling hebat sekaligus penguasa nan tak tertandingi.  Memang Fir&#8217;aun bukanlah orang shalih.  Tapi segala kejahatan Fir&#8217;aun mungkin takkan jadi besar jika ada orang yang berani mengatakan &#8220;tidak&#8221;.  &#8220;<em>Maka ia merendahkan kaumnya lalu mereka patuh kepadanya,</em>&#8221; (QS az-Zukhruf: 54)</p>
<p>Kekejian Fir&#8217;aun adalah berperilaku diktator dan berobsesi menjadi satu-satunya pihak yang harus dipatuhi.  Sedangkan kedegilan para pendukungnya adalah tidak berani menolak segala titah Fir&#8217;aun betapa pun busuknya.  Kejahatan Fir&#8217;aun adalah serakah dan kejahatan orang-orang di sekitarnya adalah meluluskan segala kehendak Fir&#8217;aun.  Kecongkakan Fir&#8217;aun adalah memperbudak rakyat jelata.  Namun kebodohan rakyat adalah membiarkan dirinya dalam keadaan layak dijajah dan diperbudak. (hal 43-44)</p></blockquote>
<p>Rumusan yang sama juga terjadi terhadap Hitler, Mussolini, George W. Bush dan yang lainnya.  Terlebih lagi jika disekitar pemimpin tersebut berdiri para penjilat yang mementingkan dirinya sendiri, yang penting posisinya aman dan bisa menikmati kekuasaan atau kekayaan, meskipun bukan menjadi orang yang paling berkuasa.</p>
<p>Bandingkan dengan sikap &#8216;Umar bin Khattab r.a seketika diangkat menjadi Khalifah,</p>
<blockquote><p><span class="storycontent"> Umar berkata kepada kaum muslimin, “<em>Barang siapa yang melihat ada kebengkokan pada diriku maka luruskanlah</em>” lantas seorang menyambutnya dengan mengatakan, “<em>Andaikan kami melihat suatu kebengkokan pada dirimu maka akan meluruskannya dengan pedang kami (maksudnya akan dikoreksi)</em>”. Umar saat itu hanya mengatakan, “<em>Segala pujibagi Allah yang menjadikan dalam umat Muhammad orang yang mau meluruskan sesuatu yang bengkok pada diri Umar dengan mata pedangnya</em>&#8220;</span></p></blockquote>
<p>Berbagai macam permasalahan yang menjerat dan sudah membudaya di Indonesia pun berawal dari kesalahan yang sebetulnya sangat sepele.  Akan tetapi, dampaknya ternyata menjadi luar biasa.  Membuang sampah misalnya.  Satu orang membuang ke sungai, dibiarkan saja.  Orang lain kemudian mengikuti, bahkan semakin banyak.  Jadilah sungai sebuah tempat sampah terpanjang yang bisa ditemui.  Sekali kita coba mengingatkan, cibiran yang kita terima.  Persoalan korupsi, rokok, pelanggaran lalu lintas &#8230; awalnya dari sebuah kesalahan yang dibiarkan, maka menjadi sebuah budaya pada akhirnya.  Dengan memahami dan mengamalkan spirit <em>&#8216;amar ma&#8217;ruf nahyi munkar</em>, sudah seharusnya sebuah kesalahan tidak dibiarkan berlarut-larut apalagi sampai membudaya.  Jika perlu, segala kesenangan dan jiwa kita korbankan.  Sanggupkah kita??</p>
<p>Referensi:</p>
<p><sup>1</sup>Tim Sabili. <em>Bukan Hanya Salah Fir&#8217;aun</em>. Cetakan I, QalamMas, Jakarta, 2004.</p>
<p>PS: Cintaku &#8230; kritik terkadang menyakitkan, tapi adakalanya itulah bentuk cinta yang sesungguhnya kita butuhkan untuk bisa tetap berlari di jalan-Nya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mind.donnyreza.net/08102008/bukan-hanya-salah-firaun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rakyat dan Tuhan</title>
		<link>http://mind.donnyreza.net/04082008/rakyat-dan-tuhan/</link>
		<comments>http://mind.donnyreza.net/04082008/rakyat-dan-tuhan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Aug 2008 20:27:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Donny Reza</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Esai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mind.donnyreza.net/04082008/rakyat-dan-tuhan/</guid>
		<description><![CDATA[Pada awalnya adalah sebuah pepatah, vox populi vox dei (suara rakyat adalah suara Tuhan).  Selanjutnya menjadi sebuah jargon demokrasi, seolah-olah menjadi sebuah pembenaran, bahwa kehendak rakyat adalah kehendak Tuhan juga, bahwa keinginan rakyat adalah keinginan Tuhan, atau bahwa pilihan rakyat adalah pilihan Tuhan.
Menurut Dictionary of the History of Ideas, pepatah tersebut pertama kali ditemukan dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada awalnya adalah sebuah pepatah, <em>vox populi vox dei</em> (suara rakyat adalah suara Tuhan).  Selanjutnya menjadi sebuah jargon demokrasi, seolah-olah menjadi sebuah pembenaran, bahwa kehendak rakyat adalah kehendak Tuhan juga, bahwa keinginan rakyat adalah keinginan Tuhan, atau bahwa pilihan rakyat adalah pilihan Tuhan.</p>
<p>Menurut <a href="http://etext.virginia.edu/cgi-local/DHI/dhi.cgi?id=dv4-67" target="_blank"><em>Dictionary of the History of Ideas</em></a>, pepatah tersebut pertama kali ditemukan dalam surat <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Alcuin" target="_blank">Alcuin</a> kepada <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Charlemagne" target="_blank">Charlemagne</a> di awal abad pertengahan (abad ke-8) .</p>
<blockquote><p><em>In fact it was during the early Middle Ages (eighth<br />
century) that the proverb, </em><em>Vox populi vox Dei was first<br />
recorded. It occurs in a letter of Alcuin to Charle-<br />
magne. In this letter Alcuin says that the proverb is<br />
a customary saying and that the Emperor ought to pay<br />
no attention to it, since the <span class="italics">populus</span> ought to be led,<br />
not followed.</em></p></blockquote>
<p>Alcuin sendiri yang menjelaskan bahwa pepatah tersebut hanya sesuatu yang biasa saja dan bukan hal yang perlu diseriusi.  Sebab rakyat seharusnya dipimpin, bukan diikuti.  <a href="http://www.bartleby.com/81/17200.html" target="_blank">E. Cobham Brewer</a> menegaskan,  	&#8220;<em>This does not mean that the voice of the many is wise and good, but only that it is irresistible.</em>&#8221; Suara terbanyak belum tentu yang terbaik.  Rakyat Indonesia tahu dan merasakan betul soal ini.  Maka, tentu menjadi tidak pada tempatnya jika Tuhan yang dipersalahkan dalam keruwetan bangsa Indonesia.</p>
<p>Pada dasarnya, suara rakyat memang banyak.  Adakalanya saling kontradiksi.  Lantas suara rakyat yang manakah yang merupakan suara Tuhan?  Dalam kacamata Islam, mustahil terjadi kontradiksi dalam &#8220;diri&#8221; Tuhan.  Tuhan Yang Ahad, tidak mungkin menyatakan &#8220;benar&#8221; dan &#8220;salah&#8221; pada saat yang bersamaan untuk sebuah perkara.  Kecuali anda meyakini juga bahwa Tuhan Maha Bingung.</p>
<p>Lain halnya jika dipandang dari kacamata yang berpendapat bahwa ada beberapa Tuhan yang sama kuat dan pengaruhnya terhadap manusia.  <em>Vox populi vox dei</em> bisa jadi sangat relevan.  Maka, &#8216;peperangan rakyat&#8217; yang terjadi bisa menjadi sebuah indikator bahwa sesama Tuhan sedang &#8216;berperang&#8217;.  Tentu ini semakin membingungkan, karena jika begitu adanya, para Tuhan rasanya terlalu sering bertengkar.  Meskipun memang sering terjadi peperangan antara penganut agama, tidak berarti bahwa ada banyak Tuhan, apalagi bertengkar.</p>
<p>Dalam sejarah Islam, jumlah nabi yang diutus sudah mencapai ribuan orang.  Ini artinya, ribuan kali pula Tuhan mengingatkan bahwa ada yang salah dengan rakyat (kaum).  Kisah Nabi Luth dan kaum Soddom-Gomorrah adalah sebuah contoh terjadinya &#8216;pertentangan&#8217; antara kehendak rakyat dan Tuhan.  Pun kisah Nabi-Nabi lainnya yang secara eksplisit menjelaskan bahwa suara rakyat belum tentu suara Tuhan.</p>
<p>Kebenaran Tuhan bersifat mutlak, sementara kebenaran manusia bersifat relatif.  Jika tidak dikawal oleh aturan Tuhan, nilai kebenaran itu sendiri akan selalu berubah-ubah.  Judi bisa menjadi benar, begitu pun pencurian, perzinaan dan mabuk-mabukan.  Sebab kecenderungan manusia adalah memenuhi segala keinginannya dengan segala macam cara.  Tanpa aturan Tuhan, hukum rimba yang berlaku.  Sementara dalam hukum rimba, tidak ada benar-salah, segalanya bisa menjadi benar.</p>
<p><em>Vox populi vox dei</em> bisa menjadi benar, jika rakyat memang berpegang pada aturan-aturan Tuhan.  Maka, bagaimana mungkin bisa dikatakan bahwa suara rakyat adalah suara Tuhan, jika rakyatnya sendiri tidak mengenal  dan &#8220;berhubungan&#8221; dengan Tuhannya?  Tidak cukup mengenal, tapi juga harus sampai -setidaknya- memahami apa yang sesungguhnya dimaksud oleh Tuhan.  Barulah kemudian disuarakan.</p>
<p>Jika dihubungkan dengan negara, tidak mungkin ada negara sekuler, seandainya benar yang disuarakan rakyat adalah suara Tuhan.  Maka, menjadi menarik ketika ternyata konsep <em>vox populi vox dei</em> lebih dekat dengan sebagian umat Islam yang mencita-citakan berdirinya kembali pemerintahan Islam yang diyakini sebagai sebuah perintah dari Tuhan.</p>
<p>Tentunya mustahil jika -misalnya- rakyat membenarkan perjudian, perzinaan dan hal-hal maksiat lainnya, lantas hal tersebut adalah suara Tuhan juga.  Sebab Tuhan tidak mungkin sedungu itu.  Oleh karena pada dasarnya Tuhan memiliki sifat-sifat yang sangat mulia dan tidak dimiliki oleh rakyat yang notabene adalah manusia-manusia yang serba memiliki kekurangan.</p>
<p>S3K3L04. 040808. 03.30.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mind.donnyreza.net/04082008/rakyat-dan-tuhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lebih Baik Menolak</title>
		<link>http://mind.donnyreza.net/06062008/lebih-baik-menolak/</link>
		<comments>http://mind.donnyreza.net/06062008/lebih-baik-menolak/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Jun 2008 22:12:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Donny Reza</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mind.donnyreza.net/06062008/lebih-baik-menolak/</guid>
		<description><![CDATA[Bukan tanpa alasan ketika saya menolak permintaan Ochi untuk menulis atau berbicara lebih banyak tentang kasus Monas yang melibatkan FPI dan AKKBB.  Meskipun, sebetulnya saya juga ingin sekali menulis soal kejadian tersebut.
Setidaknya ada dua alasan.  Pertama, saya tidak berada di sana ketika kejadian.  Kedua, saya tidak percaya 100% media massa.  Dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bukan tanpa alasan ketika saya menolak permintaan <a href="http://menantirintikhujan.wordpress.com">Ochi</a> untuk menulis atau berbicara lebih banyak tentang kasus Monas yang melibatkan <abbr title="Front Pembela Islam">FPI</abbr> dan <abbr title="Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan">AKKBB</abbr>.  Meskipun, sebetulnya saya juga ingin sekali menulis soal kejadian tersebut.</p>
<p>Setidaknya ada dua alasan.  Pertama, saya tidak berada di sana ketika kejadian.  Kedua, saya tidak percaya 100% media massa.  Dengan dua alasan tersebut, saya tidak berani memberikan penilaian tentang siapa yang benar dan siapa yang salah dalam kasus tersebut.  Bahkan mereka yang hadir di sana pun bisa saja salah.  Akan tetapi, sikap saya jelas.  Saya sangat menyesalkan terjadinya kasus tersebut.</p>
<p>Kekhawatiran saya hanya satu.  Prasangka.  <em>Su&#8217;udzhan</em>.  Tentunya kepada dua pihak yang terlibat.  Jangan sampai ketika saya menggebu-gebu membela salah satu pihak, saya malah membela yang seharusnya dihujat.</p>
<p>Ketika terjadi pertikaian, dipastikan akan selalu terbentuk minimal dua kubu dengan versi ceritanya masing-masing.  Ada kalanya cerita yang kita dengarkan lebih bombastis daripada kejadian yang sesungguhnya.  Bahkan seringkali ditemukan &#8216;fakta&#8217; baru dalam cerita tersebut, entah benar adanya atau diada-adakan.</p>
<p>Sama halnya dengan sejarah.  Satu hal yang pasti dari sejarah adalah -biasanya- tempat, waktu dan peristiwanya.  Soal jalan cerita bagaimana peristiwa itu bisa terjadi, tergantung pada siapa anda percaya atau -mungkin- tergantung selera anda juga.  Bagi saya, kejadian Monas sudah jadi bagian dari sejarah.</p>
<p>Belum lagi munculnya teori-teori konspirasi dari mereka yang membela salah satu kubu.  Semakin ruwet.  Dengan minimnya data dan fakta yang saya miliki, mana berani saya menentukan siapa benar dan siapa salah.  Jadi, silahkan saja yang berwajib yang mengurusi persoalan ini.</p>
<p>Lalu, ketidakpercayaan saya pada media massa lebih dikarenakan keyakinan saya bahwa tidak ada satu pun media yang benar-benar netral.  Setiap media punya ideologi atau &#8217;sikap politik&#8217;.   Keduanya ditentukan oleh&#8217; pemegang duit&#8217; di perusahaan media massa tersebut.  Yah, memang senaif itu lah pikiran saya.</p>
<p>Lagipula, televisi atau koran hanya menampilkan <em>frame-frame</em> yang menurut mereka &#8216;menjual&#8217;.  Padahal, suatu cerita selalu memiliki awal, tengah dan akhir cerita.  Tidak selalu yang kita lihat sebagai pihak yang tertindas di televisi atau koran adalah mereka yang benar-benar tertindas.  Bisa juga yang terjadi adalah sebaliknya, sebuah perlawanan terhadap suatu penindasan.  Lantas, apa mungkin kita bisa menyimpulkan suatu kejadian hanya melihat satu bagian saja?</p>
<p>CTM61.  060608. 05.00.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mind.donnyreza.net/06062008/lebih-baik-menolak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Blogger Ulul Albab</title>
		<link>http://mind.donnyreza.net/05052008/blogger-ulul-albab/</link>
		<comments>http://mind.donnyreza.net/05052008/blogger-ulul-albab/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 May 2008 17:05:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Donny Reza</dc:creator>
				<category><![CDATA[26]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mind.donnyreza.net/05052008/blogger-ulul-albab/</guid>
		<description><![CDATA[Jika ditanyakan kepada saya, blog seperti apakah yang membuat saya iri? Jawabannya bukan blog yang banyak komentarnya, bukan blog yang membuat orang jadi terkenal atau pun blog yang besar traffic-nya.  Meskipun kadang merasa iri juga, tapi sejak awal blogging saya tidak terlalu tertarik untuk menjadikan hal semacam itu sebagai tujuan utama saya.   Kalau menurut saya, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jika ditanyakan kepada saya, blog seperti apakah yang membuat saya iri? Jawabannya bukan blog yang banyak komentarnya, bukan blog yang membuat orang jadi terkenal atau pun blog yang besar <em>traffic</em>-nya.  Meskipun kadang merasa iri juga, tapi sejak awal <em>blogging</em> saya tidak terlalu tertarik untuk menjadikan hal semacam itu sebagai tujuan utama saya.   Kalau menurut saya, sayang sekali jika tujuan <em>blogging</em> hanya untuk itu.</p>
<p>Saya sangat iri kepada blogger yang bisa men-sinergi-kan antara sains dan agama dalam tulisan-tulisannya.  Dalam kasus saya, Islam adalah agama yang dimaksud.  Ilmiah sekaligus memiliki dan memberikan pengalaman spiritual kepada pembacanya.  Membuat cerdas sekaligus menjadikan seseorang mendekatkan dirinya kepada sang pencipta.  Memberi pencerahan otak sekaligus kepada hati.</p>
<p>Terus terang saja, tidak banyak saya temukan blog semacam itu.  Blog ini pun belum bisa dikategorikan seperti itu, meskipun pada mulanya tujuan saya blogging adalah untuk itu.  Apa daya, kemampuan saya belum sampai ke tahap itu.  (<em>kok jadi ber-rima begini</em> ?)  <img src='http://mind.donnyreza.net/wp-includes/images/smilies/angel_dizzy.gif' alt=':angelpusing:' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Sejak masa sekolah, saya termasuk orang yang tidak menyetujui dikotomi antara agama dan sains, atau antara dunia dan akhirat.  Oleh sebab itu, saya tidak bisa menerima sekularisasi dalam bidang apa pun.  Bagi saya agama dan sains mestilah saling mendukung, saling melengkapi atau saling menyempurnakan.  Bahkan, perintah pertama yang diturunkan kepada Rasulullah Muhammad SAW adalah &#8220;<em>Iqra!</em>&#8220;, bacalah! Sebab membaca adalah kunci dari sains, kunci dari ilmu pengetahuan.</p>
<p>Indonesia saat ini kekurangan orang-orang semacam itu.  Ada yang shalih, tapi kurang cerdas di bidang lainnya.  Orang-orang semacam ini cenderung menerima &#8220;apa adanya&#8221; dan mudah dibodoh-bodohi.  Ada yang cerdas, tapi kurang shalih.  Orang semacam ini cenderung untuk sombong dan membodoh-bodohi orang lain.  Benarlah pernyataan Einstein,&#8221; <em>(ber)-ilmu tanpa (ber-)agama adalah pincang, (ber-)agama tanpa ilmu adalah buta</em>.&#8221;</p>
<p>Saya kemudian jadi teringat ucapan seorang Ulama yang tidak terlalu banyak dikenal ketika melihat barang-barang elektronik yang menurutnya sangat canggih.  Katanya, &#8220;<em>ini adalah mutiara umat Islam yang hilang</em>&#8220;.  Beliau berkata seperti itu karena meyakini bahwa seharusnya umat Islam menguasai teknologi.  Sementara teknologi akan terkuasai jika kita menguasai ilmu pengetahuan sebagai pondasinya.  Selama kita tidak pernah menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, selama itu juga kita hanya akan menjadi &#8216;penonton&#8217; peradaban.</p>
<p>Pada acara bedah buku &#8220;<em>Orientalisme dan Diabolisme Pemikiran</em>&#8221; karya Dr. Syamsudin Arif di Masjid Salman ITB beberapa saat lalu, Adian Husaini mengatakan bahwa di Indonesia belum ditemukan seorang pun doktor di bidang Islam-Saintis.  Sementara Malaysia sudah memiliki beberapa orang yang bergelar doktor di bidang Islam-Saintis.  Saya saja baru tahu kalau ada orang yang mendalami tentang Islam-Saintis.  Andaikan diberi kesempatan, ingin juga rasanya untuk mendalami tentang Islam-Saintis yang dimaksud oleh Adian Husaini tersebut.</p>
<p>Dalam Islam, orang-orang yang bisa men-sinergi-kan dan mengharmonisasikan agama dan sains inilah yang kemudian disebut <em>ulul albab</em>.  Tidak hanya sekedar beragama, tapi juga berilmu.  Tidak hanya sekedar berilmu, tapi juga beragama.  Dalam diri seorang <em>ulul albab</em>, keduanya memiliki porsi yang seimbang.  Ilmuwan sekaligus ulama.  Meskipun tergolong &#8216;radikal&#8217; dalam beragama, tapi lebih mengedepankan jalur diskusi atau melalui tulisan dan tidak menyukai jalur kekerasan, sesuai kapasitas ke-ilmuwan-an dan ke-ulama-an mereka.</p>
<p>C 1 H 3 U L 4 17 6. 050508. 00.00</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mind.donnyreza.net/05052008/blogger-ulul-albab/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>33</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ruang Kosong</title>
		<link>http://mind.donnyreza.net/23032008/ruang-kosong/</link>
		<comments>http://mind.donnyreza.net/23032008/ruang-kosong/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Mar 2008 03:28:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Donny Reza</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mind.donnyreza.net/23032008/ruang-kosong/</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu favorit saya dalam buku Filosofi Kopi karya Dee (Dewi Lestari) adalah tulisan yang berjudul Spasi.
Seindah apa pun huruf terukir, dapatkah ia bermakna apabila tak ada jeda? Dapatkah ia dimengerti jika tak ada spasi?
Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak? Dan saling menyayang bila ada ruang? Kasih sayang akan membawa dua orang semakin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Salah satu favorit saya dalam buku <strong>Filosofi Kopi</strong> karya Dee (Dewi Lestari) adalah tulisan yang berjudul <strong>Spasi</strong>.</p>
<blockquote><p><em>Seindah apa pun huruf terukir, dapatkah ia bermakna apabila tak ada jeda? Dapatkah ia dimengerti jika tak ada spasi?</em></p>
<p><em>Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak? Dan saling menyayang bila ada ruang? Kasih sayang akan membawa dua orang semakin berdekatan, tapi ia tak ingin mencekik, jadi ulurlah tali itu.</em></p>
<p><em>Napas akan melega dengan sepasang paru-paru yang tak dibagi. Darah mengalir deras dengan jantung yang tak dipakai 2 kali. Jiwa tidaklah dibelah, tapi bersua dengan jiwa lain yang searah. Jadi jangan lumpuhkan aku dengan mengatasnamakan kasih sayang.</em></p>
<p><em>Mari berkelana dengan rapat tapi tak dibebat. Janganlah saling membendung apabila tak ingin tersandung.</em></p></blockquote>
<blockquote><p><em>Pegang tanganku, tapi jangan terlalu erat, karena aku ingin seiring dan bukan digiring.</em></p></blockquote>
<blockquote><p>Dewi Lestari &#8211; Spasi</p></blockquote>
<p>Spasi atau ruang kosong atau jarak.  Sudah sejak lama sebetulnya saya ingin menulis tentang ini.  Bahkan, sebelum membaca tulisan Dee tersebut.  Sebetulnya sudah banyak juga yang membahasnya.</p>
<p>Akan tetapi, beberapa minggu yang lalu untuk kedua kalinya saya menonton <a href="http://www.kickandy.com" target="_blank">Kick Andy</a> episode AA Gym.  Kali ini versi lengkapnya.  Ternyata, banyak juga <em>quote</em> dan rahasia menarik dari cerita AA Gym yang tidak ditampilkan pada episode sebelumnya.  Hanya saja, fokus saya kali ini bukan pada hal itu.</p>
<p>Sehubungan dengan spasi, ada yang menarik dari cerita pengalaman AA Gym di acara tersebut.  Berdasarkan pengakuan AA Gym, tidak banyak yang tahu bahwa ternyata kesibukan dakwahnya selama ini malah menjerumuskan dirinya ke dalam rutinitas yang tidak sehat dan menjauhkannya dari keluarga.  Tidak ada waktu untuk dirinya dan keluarga.  Bahkan dalam dunia dakwah sekali pun, ternyata jika dilakukan terlalu berlebihan berdampak tidak sehat juga.  Beliau menganalogikan dirinya dengan gergaji yang digunakan terus-menerus selama 5 tahun tanpa henti.  Pada akhirnya gergaji tersebut akan tumpul, rusak dan tidak efektif lagi untuk memotong kayu.</p>
<p>Sudah sangat lumrah jika setiap orang memerlukan waktu untuk bisa menyendiri, merenung dan beristirahat.  Itulah spasi, jarak, ruang kosong.  Hanya saja, tidak sedikit juga yang menyadari fungsi aktivitas tersebut untuk kesehatan jiwanya.  Memang setiap malam kita tidur, tapi itu hanya memenuhi kebutuhan fisik saja.  Dan itu pun tidak selalu efektif.  Sebab tidak jarang juga kita tidur dengan otak yang sibuk memikirkan pekerjaan dan rutinitas lainnya.  Sementara kebutuhan jiwa seringkali tidak terpenuhi.</p>
<p>Oleh sebab itu, saya sangat memahami ketika beberapa orang sahabat saya belakangan ini melakukan kontemplasi.  Bagaimanapun, kontemplasi adalah kebutuhan jiwa.  Saya termasuk orang yang sering melakukan kontemplasi.  Untungnya saya bisa berkontemplasi di mana pun.  Bahkan dikeramaian.  Paling sering di jalanan.  Makanya, saya lebih suka duduk di dekat kaca bus atau kereta.  Selain bisa menikmati pemandangan, pikiran saya bisa mengawang-awang.  Merenung, <em>muhasabah</em>, berencana&#8230;apa saja yang terpikirkan.  Itu sebabnya, saya memilih sendiri dan kurang berminat untuk mengobrol dengan orang lain jika melakukan perjalanan.  Saya lebih suka membiarkan pikiran saya &#8216;melayang&#8217; kemana-mana.  Ada kalanya, ide muncul ketika itu.  Ide apa pun.</p>
<p>Jiwa manusia itu memang unik.  Ketika sudah &#8216;penuh&#8217; yang terjadi adalah kejenuhan, saat itulah perlu &#8216;dikosongkan&#8217;.  Ketika sudah kosong, tidak bisa dibiarkan terlalu lama.  Harus diisi kembali.  Dengan ilmu, dengan nasihat, dengan membaca.  Barangkali, itulah sebabnya ada yang mengatakan bahwa para penulis adalah orang-orang yang sehat jiwanya.  Sebab dalam diri penulis terjadi siklus &#8216;mengisi-mengosongkan&#8217; yang kontinyu.  Jiwanya selalu &#8216;baru&#8217;.</p>
<p>Ada saat mengisi jiwanya dengan bacaan-bacaan, dengan pengalaman dan informasi.  Lalu, ketika seluruh &#8216;bahan&#8217; tersebut terkumpul, bisa dipastikan, setiap penulis akan merasakan kegelisahan ketika ide-idenya belum tertuangkan ke dalam sebuah tulisan.  Sangat mudah saja jika ingin &#8216;menyiksa&#8217; penulis atau para blogger.  Hindarkan dia dari kertas, dari buku, dari alat tulis, dari komputer, dari mesin tik&#8230;seorang penulis sejati akan gila diperlakukan seperti itu.  Sebetulnya hal tersebut tidak hanya berlaku bagi para penulis, tapi juga untuk segala profesi yang berbasis karya.  Musisi, penyair, pelukis, programer, desainer atau bahkan fotografer.</p>
<p>Dalam mitologi Yunani, diceritakan ada seorang tokoh yang dihukum oleh Dewa.  Sisifus namanya.  Hukumannya sederhana saja.  Dia harus mengangkat sebuah batu yang besar, hingga ke puncak gunung, setelah tiba di atas gunung, batu itu harus digelindingkan lagi.  Didorong lagi ke atas, untuk kemudian digelindingkan lagi.  Seperti itu, terus menerus.</p>
<p>Bagi saya itu sebuah hukuman yang menyakitkan.  Memang hukuman yang sederhana, tapi bayangkan yang terjadi pada jiwa kita.  Kehampaan, kejenuhan, kebosanan.  Kita melakukan hal tersebut terus menerus, sepanjang hidup, tanpa jeda.  Tidak ada kesempatan untuk sekedar berencana.  Ditambah lagi apa yang kita lakukan benar-benar tidak ada artinya.  Bagi saya mengerikan.  Tidak ada harapan, tidak ada impian sama sekali.  Padahal impian dan harapan yang menjadikan hidup menjadi &#8217;sedikit&#8217; lebih indah bukan?</p>
<p>Saya kemudian jadi terbayang, Islam menggambarkan berbagai macam hukuman dalam neraka bentuknya seperti itu.  Bahkan, jika misalkan saya masuk neraka dan dihukum persis seperti Sisifus, itu saja sudah bisa membuat saya sangat tersiksa dan menderita.   Apalagi pakai api segala&#8230;dibakar, hancur lebur, utuh lagi, dibakar lagi, hancur lebur, utuh lagi&#8230;<em>neverending</em>.  <em>Naudzubillahi</em>.</p>
<p>C 1 H 3 U L 4 17 6. 230308.10.30</p>
<p>NB: <em>ini sebetulnya draft tulisan yang tertunda sejak 2 bulan yang lalu.  Rasanya kok nggak fokus ya? melenceng kemana-mana? </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mind.donnyreza.net/23032008/ruang-kosong/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dia yang Kurindu</title>
		<link>http://mind.donnyreza.net/03032008/dia-yang-kurindu/</link>
		<comments>http://mind.donnyreza.net/03032008/dia-yang-kurindu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Mar 2008 15:30:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Donny Reza</dc:creator>
				<category><![CDATA[Curhat]]></category>
		<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mind.donnyreza.net/03032008/dia-yang-kurindu/</guid>
		<description><![CDATA[Dia yang kurindu
yang bibirnya selalu menyebut asma-Nya
yang hatinya terpaut pada-Nya
yang hidupnya diabdikan untuk-Nya
Dia yang kurindu
yang cintanya adalah cinta-Nya
yang ridhanya adalah ridha-Nya
yang senyumnya adalah senyum-Nya
Dia yang kurindu
Muhammad sang terpercaya
shalawat dan salam untuknya
selalu&#8230;
Hmm, sudah berapa lama ya saya nggak nulis puisi? Lumayan lama rasanya.  Inspirasi awalnya  sebetulnya gara-gara kangen sama seorang manusia yang sudah lama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Dia yang kurindu<br />
yang bibirnya selalu menyebut asma-Nya<br />
yang hatinya terpaut pada-Nya<br />
yang hidupnya diabdikan untuk-Nya</p>
<p>Dia yang kurindu<br />
yang cintanya adalah cinta-Nya<br />
yang ridhanya adalah ridha-Nya<br />
yang senyumnya adalah senyum-Nya</p>
<p>Dia yang kurindu<br />
Muhammad sang terpercaya<br />
shalawat dan salam untuknya<br />
selalu&#8230;</p></blockquote>
<p>Hmm, sudah berapa lama ya saya nggak nulis puisi? Lumayan lama rasanya.  Inspirasi awalnya  sebetulnya gara-gara kangen sama seorang manusia yang sudah lama tidak pernah bertemu, hampir 2 tahun atau bahkan lebih.  Laki-laki atau perempuan? Ah, <em>nggak</em> penting&#8230;!! Bait pertama itu bercerita tentang manusia tersebut.  Namun, di tengah-tengah penulisan&#8230;saya jadi kepikiran Rasulullah SAW.  Ya, sudah&#8230;saya dedikasikan saja puisi itu untuk beliau.  Tadinya mau saya kasih judul &#8220;<strong>Ode Buat Rasulullah</strong>&#8220;, tapi merasa kurang cocok.  Ciri khas saya sekali.  <em>Too much repetition</em>.  Maklum lah, saya agak kesulitan berpuitis-puitis ria. Waktu puisi ini masih dalam proses, <a href="http://blogmoyo.wordpress.com" target="_blank">Catur</a> sempat melihatnya, karena ketika saya &#8216;tinggalkan&#8217; untuk istirahat, Catur main ke-kostan saya, tapi tidak ada komentar sama sekali.</p>
<p>Agak aneh juga sebetulnya, mengingat belakangan ini saya lebih sering mendengarkan musik rock.  Lho, apa hubungannya? Ya, jelas ada.  Biasanya musik berpengaruh terhadap kondisi jiwa.  Saya juga menulis puisi tersebut ditemani lagu-lagu dari <a href="http://dreamtheater.net" target="_blank">Dream Theater</a>, <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Liquid_Tension_Experiment" target="_blank">Liquid Tension Experiment (LTE)</a>, <a href="http://www.hoobastank.com/">Hoobastank</a> serta <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Linkin_Park">Linkin Park</a>.  Meskipun di tengah-tengah geberan musik mereka yang cadas dan eksploratif itu, saya juga menyelipkan lagu-lagu yang kontemplatif dari Opick, Chrisye dan Iwan Fals, lagu sunda Doel Sumbang, atau musik instrumental dari Budjana, Jubing Kristianto, String Quartet, Yanni dan instrumentalis lain yang tidak saya kenal.  Tidak ketinggalan juga Al-Matsurat, beberapa surat di Juz 30 dan ceramah-ceramah dari Athian Ali, Hussein Umar atau Adian Husaini.  Winamp disetel dengan mode <em>shuttle</em>, jadilah sebuah kombinasi bunyi-bunyian yang &#8216;aneh&#8217; dan <em>unpredictable</em>, penuh kejutan.</p>
<p>Menarik sebetulnya, sebuah cara untuk &#8216;mempermainkan&#8217; mood dan mengatasi kebosanan.  Coba saja rasakan sensasinya ketika setelah berbising-bising dengan musik rock instrumental berdurasi 16 menit semacam &#8220;<em>When The Water Break</em>&#8221; dari LTE, lalu mood anda diajak &#8216;melayang&#8217; oleh komposisinya Budjana, dan tiba-tiba anda diajak bertafakur oleh lirik-lirik semacam &#8220;Bila Waktu telah Berakhir&#8221; dari Opick, sebelum akhirnya telinga anda diajak &#8216;berlari&#8217; lagi mendengarkan lagu &#8220;<em>Home</em>&#8221; atau &#8220;<em>Forsaken</em>&#8221; dari Dream Theater.  Cara seperti ini, mungkin bisa juga digunakan sebagai latihan agar <a href="http://mind.donnyreza.net/23022008/jangan-terlalu-terkejut/">tidak mudah terkejut</a>. <img src='http://mind.donnyreza.net/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Puisi &#8220;Dia yang Kurindu&#8221; di atas dihasilkan di tengah-tengah suasana semacam itu.  Kalau bagi saya sih aneh, karena setahu saya, sebuah karya puisi biasanya tercipta di tengah-tengah suasana yang hening dan tenang.  Apalagi jika dalam puisi itu memuat unsur ke-ilahi-an, spiritualitas atau ajakan untuk berkontemplasi.  Jangan-jangan, hal semacam itu sudah biasa dan memang bukan hal yang aneh?  Kalau seperti itu, saya yang aneh&#8230;WEIRD!! :-p</p>
<p>S 3 K 3 L 0 4. 030308.  22.30</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mind.donnyreza.net/03032008/dia-yang-kurindu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>23</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
