Category: Curhat (Page 2 of 4)

Senangkanlah Hatimu!

Assalamu ‘alaikum…

Apa kabar dunia blogger? 😀

Belakangan sedang kerja rodi, kerja romusa atau yang sejenisnya deh ;-). Sekarang ini waktu saya memang lebih banyak terpakai untuk pekerjaan, even in holiday. Sesuatu yang tidak terlalu saya sukai, tapi itulah tuntutan profesionalisme. Tidak boleh terganggu oleh like or dislike. Dulu saya sempat ‘nyindir’ orang lain, “masa sih nggak ada waktu buat menulis gara-gara kerja?“. Kenyataannya, saya merasakannya sekarang. Betapa nasib selalu dipergulirkan ya? Inginnya sih seperti om Budi Putra yang memilih untuk jadi seorang blogger profesional. Hanya saja, saya belum percaya diri untuk itu. 😀

Saya kerepotan juga jadi satu-satunya orang IT yang harus memberikan pencerahan dan melakukan perubahan di perusahaan tempat kerja saya sekarang. Sebetulnya sebuah tantangan juga, tantangan besar malah. Salah satunya yang ingin saya lakukan adalah meng-edukasi rekan-rekan kerja saya untuk mulai menggunakan produk-produk open source dan mulai melirik Linux daripada menggunakan “Windows Pirated Edition” seperti sekarang. Apalagi untuk level perusahaan, resikonya cukup besar juga. Masalahnya, saya pun belum sepenuhnya menggunakan produk-produk open source. Jadi, sebetulnya saya ingin ‘mengajak’ rekan-rekan untuk bersama-sama belajar menggunakan OSS (Open Source Software). Masalah lainnya, mayorits rekan saya adalah perempuan. Perlu diakui, Linux dan kawan-kawannya masih ‘milik’ kaum adam. Padahal sebetulnya tidak seperti itu juga. Sekarang sudah bukan zamannya lagi menggunakan Linux dengan command-line murni seperti awal-awal kemunculannya dulu.

Di tengah-tengah rasa suntuk akibat mengejar deadline pekerjaan, saya sempatkan diri untuk memberikan pencerahan kepada diri sendiri. Saya buka situs Hidayatullah, buka Catatan Akhir Pekan-nya Adian Husaini. Ada artikel dengan judul “Ilmu dan Kebahagiaan“, di dalamnya saya dapat kutipan dari bukunya HAMKA, “Tasauf Modern”.

Kalau engkau kaya, senangkanlah hatimu! Karena di hadapanmu terbentang kesempatan untuk mengerjakan yang sulit-sulit….

Dan jika engkau fakir miskin, senangkan pulalah hatimu! Karena engkau telah terlepas dari suatu penyakit jiwa, penyakit kesombongan yang selalu menimpa orang kaya. Senangkanlah hatimu karena tak ada orang yang akan hasad dan dengki kepada engkau lagi, lantaran kemiskinanmu…

Kalau engkau dilupakan orang, kurang masyhur, senangkan pulalah hatimu!

Karena lidah tidak banyak yang mencelamu, mulut tak banyak mencacatmu...”

Kalau tanah airmu dijajah atau dirimu diperbudak, senangkanlah hatimu! Sebab penjajahan dan perbudakan membuka jalan bagi bangsa yang terjajah atau diri yang diperbudak kepada perjuangan melepaskan diri dari belenggu.

Hehe. Saya punya bukunya, tapi belum masuk ke bagian kutipan tersebut. Pantas saja saya kurang ngeh.

Apalagi ya? Sudah dulu ah. Masih harus ngebut kejar deadline dan shalat maghrib dulu.

C 1 T 4 m 1 4 17 6. 61. 180308. 18.15.

NB: Buat Agah, sabar ya?! Insya Allah, saya akan tulis reviewnya 😉

loading...

Belajar Bijak

Sebuah ‘benturan’ paradigma antara saya dan orang tua pada akhirnya memaksa saya untuk mengambil jalan tengah antara idealisme dan ekspektasi mereka. Ya, saya tidak terlalu bisa meyakinkan kedua orang tua saya perihal ‘jalan pedang’ yang ingin saya tempuh. Saya tidak terlalu menyalahkan mereka, bagaimana pun saya tetaplah ‘anak kecil’ di mata mereka. Mereka ingin yang terbaik bagi saya. Itu saja sudah cukup menjadi pembuktian cinta mereka yang tanpa akhir kepada saya. Pada akhirnya, saya ‘mengalah’. Mudah-mudahan itu pun menjadi bukti cinta saya pada mereka.

Dan, sungguh…hati saya sering luluh dan lidah kerap kali menjadi sangat kelu setiap kali beradu argumen dengan mereka perihal masalah tersebut. Terlebih dengan ayah saya yang tutur katanya halus, namun seringkali menghujam ke dalam hati dan berkali-kali membuat saya terdiam. Saya kenal sekali karakter ayah saya, karena saya mewarisi sebagian besar sifat-sifatnya. Hanya ketampanannya saja yang tidak saya warisi. Anehnya, adik bungsu saya yang mewarisi ketampanannya, tidak mewarisi sifat-sifatnya. Selama ini saya tidak pernah mendapati kata-kata kasar darinya. Dan kata-kata yang menghujam itu, saya tahu pasti berasal dari kelembutan hatinya. Lebih lembut daripada wanita-wanita yang saya kenal, termasuk ibu saya. Oleh sebab itu, beliau sangat dihormati oleh keluarganya, saudaranya, tetangganya dan atasan serta bawahan di tempatnya bekerja. Maka, saya tidak terlalu heran jika kemudian beliau bisa menjadi ‘jalan hidayah’ bagi beberapa orang yang dikenalnya, meskipun pengetahuan ayah saya terhadap agama sangat kurang. Bahkan sampai saat ini, beliau masih terbata-bata membaca Al-Quran.

Akan tetapi, justru ayah saya juga yang menjadi salah satu alasan kenapa saya tidak ingin menjalani hidup seperti yang dijalaninya. Bukan karena saya benci ayah saya, tapi justru karena saya sangat mencintainya. Ayah saya tipikal orang Indonesia pada umumnya. Kurang berani mengambil resiko dan lebih suka untuk berada di dalam comfort zone. Sifat yang menurun pada saya juga sebetulnya. Oleh sebab itu, sepanjang karirnya, beliau memilih untuk menjadi karyawan. Tidak terlalu tertarik untuk berbisnis, karena kapok setiap memulai bisnis selalu ditipu oleh rekan bisnisnya. Saya pun pernah senewen ketika mendengar cerita dari ibu bahwa ayah saya menolak tawaran untuk menjadi CEO di perusahaan tempatnya mengabdi, dan ditempatkan di China. Ketika saya konfirmasi kepada ayah saya, jawabnya “malas, terlalu jauh dan harus belajar bahasa China dulu, lagian sebentar lagi juga pensiun, sementara tanggung jawabnya juga besar“. Ketika saya sindir, “wah, pantas aja kita susah jadi orang kaya“. Beliau hanya tertawa saja.

Soal etos kerja dan loyalitas, saya tidak pernah meragukan beliau. Tentu bukan karena penilaian yang asal-asalan jika ayah saya pernah mendapat penghargaan sebagai “Manager Teladan” di sebuah perusahaan furniture terbesar di Indonesia, tempatnya bekerja selama hampir 20 tahun terakhir. Ketika saya tanya apa alasan perusahaan memberikan penghargaan itu, beliau hanya menjawab, “nggak tahu“. Ternyata, belakangan saya baru tahu kalau penghargaan itu diberikan karena pencapaiannya dalam memenuhi bahkan melebihi target produksi selama 1 tahun. Selain itu, saya juga menyaksikan dengan mata kepala sendiri betapa beliau sangat dekat dengan bawahan-bawahannya dan pembelaannya terhadap nasib bawahannya jika dirasa ada peraturan atau kebijakan perusahaan yang ‘merugikan’ karyawan.

Akan tetapi, entah kenapa ‘prestasi-prestasi’ yang telah dicapai ayah saya tersebut tidak pernah membuat saya ingin mengikuti jejaknya. Saya lebih tertarik untuk berbisnis meskipun saya tahu bahwa karakter yang saya warisi dari ayah terbukti menjadi ‘penghambat’ untuk terjun ke dunia bisnis. Saya terlalu perasa dan terlalu memikirkan perasaan orang lain, lemah dalam bernegosiasi, introvert dan cenderung menghindari konflik. Dan seperti ayah saya juga, perlu diakui bahwa saya juga kurang berani mengambil resiko. Itulah sebabnya, saya sedang belajar mengikis sifat-sifat yang menjadi hambatan tersebut.

Malapetaka itu datang beberapa minggu yang lalu, ketika paman saya menghubungi ayah saya dan menginformasikan bahwa institusi tempatnya bekerja membutuhkan banyak sarjana komputer. Jika diterima, maka saya akan berstatus menjadi PNS dan ditempatkan di Jakarta. Saya sebut malapetaka karena betapa pun menggiurkannya, menjadi PNS tidak pernah ada dalam daftar pekerjaan yang saya minati. Apalagi sampai ditempatkan di Jakarta, kota yang pernah membuat saya ‘sakit’. Saya bisa gila jika kemudian mengikuti saran dari orang tua untuk melamar ke institusi tersebut dan sampai diterima.

Sementara itu, apa yang saya cita-citakan pun belum memberikan bukti apa-apa kepada orang tua. Saya malah ‘tersesat’ menjadi operator warnet, pedagang kaki lima atau menjadi tenaga outsourcing yang paling lama hanya 1 bulan. Hidup luntang-lantung, tidak jelas arah dan tujuan serta penghasilan yang pas-pasan. Meskipun, sejujurnya saya cukup menikmati hidup yang kurang mapan seperti itu. Lebih banyak kejutan dan lebih dinamis. Wajar jika kemudian orang tua resah dan sangat berharap pada saya untuk mencoba mengirim lamaran ke tempat paman saya tersebut. Oleh sebab itu, berkali-kali ayah saya menelpon dan meminta saya untuk mengirim lamaran ke tempat tersebut. Begitu pun sudah berkali-kali juga saya mengatakan bahwa saya sedang ada pekerjaan, meskipun bukan pekerjaan tetap. Akan tetapi, ayah saya tetap ‘memaksa’ untuk mengirim lamaran tersebut, karena apabila bekerja di sana, saya bisa lebih mapan. Bingung lah saya.

Saya benar-benar tidak tahu apa lagi yang harus dilakukan. Satu-satunya cara yang terpikir adalah saya harus dapat pekerjaan dalam waktu 1 minggu. Dengan begitu, orang tua saya tidak akan terlalu resah. Tapi, kerja di mana? Sementara sudah setahun lebih saya tidak pernah mengirim surat lamaran lagi karena sudah malas. Sampai akhirnya, saya nyaris saja ‘menyerah’ sebelum di ‘menit akhir’ pertolongan itu datang. Tepat di hari terakhir deadline yang saya tentukan. Telepon dari sebuah perusahaan meminta saya datang untuk wawancara. Padahal, lamaran ke perusahaan itu adalah lamaran terakhir yang saya kirim, satu tahun yang lalu. Esoknya saya datang dan diwawancara, langsung diterima hari itu juga dan besoknya dikirim tugas ke luar kota.

Ada beberapa pertimbangan kenapa akhirnya saya memutuskan untuk back to office. Pertama, saya sangat menghormati ayah saya dan juga berusaha untuk menjaga kehormatannya. Saya berusaha memahami keresahan ayah saya. Sebagai seorang manager, sudah puluhan orang yang melalui bantuannya bisa masuk ke perusahaan tersebut. Tentunya akan menjadi beban pikirannya jika anaknya sendiri malah ‘menganggur’. Sebuah ironi. Saya sendiri tidak pernah meminta untuk dipekerjakan di sana, meskipun ada jatah untuk anaknya, sebuah fasilitas dari perusahaan. Saya hanya tidak suka mengekor kepada ayah saya, karena itu berarti saya harus menanggung beban nama baik ayah saya. Dan saya juga tidak ingin jika suatu saat dibanding-bandingkan dengan beliau. Terus terang saja, saya seringkali merasa bersalah setiap kali ada acara yang melibatkan banyak orang dan saya selalu kebingungan menjawab pertanyaan “kerja di mana?“. Dan setiap kali itu juga, ayah berusaha “membela” saya, meskipun saya tahu, hatinya terusik.

Kedua, perusahaan tempat saya bekerja sekarang berlokasi di Bandung. Dengan begitu, saya masih bisa tetap membantu teman-teman di SSG Cibeunying, saya masih bisa mengajar anak-anak jalanan, saya masih bisa lari pagi di SABUGA, masih bisa shalat Jum’at di Salman, masih bisa ke Daarut Tauhiid, dll. Meskipun, alokasi waktu untuk hal-hal tersebut akan berkurang. Semua itu cukup mengganggu pikiran saya dalam menimbang-nimbang pengambilan keputusan. Selain itu, rencana lainnya mudah-mudahan akan tetap berjalan sesuai keinginan.

Ketiga, Direktur perusahaan tempat saya bekerja sekarang ketika mewawancarai saya pernah mengatakan bahwa mereka akan mendorong karyawannya untuk berbisnis atau entrepreneur. Ini yang kemudian membuat saya cukup tertarik dan bersedia untuk bekerja di sana. Selain itu, di sana saya juga mendapatkan apa yang selama ini saya cari. Juga peluang lain yang mungkin akan berguna di masa yang akan datang. Termasuk peluang untuk ‘mengunjungi’ kota-kota yang belum pernah saya kunjungi, karena biasanya project yang digarap berada di luar kota. Oh, ya…satu lagi, suasana kekeluargaan di tempat kerja. 😉

Keempat, saya tetap berpeluang untuk memulai bisnis tanpa mengganggu pekerjaan di kantor. Salah satu yang sedang coba saya garap bersama seorang teman SMA adalah sebuah toko online. Kendalanya adalah saya dan Agus, teman tersebut, terpisah kota. Saya di Bandung, Agus di Bogor. Domain name sudah aktif, untuk hosting sementara menumpang di tempat blog ini. Jika toko online ini berhasil, baru kemudian menyewa hosting sendiri. Saat ini baru trial and error, mudah-mudahan bisa berhasil. Akan tetapi web site belum bisa di launching karena saya dan Agus masih harus mendiskusikan soal produk.  Selain itu ada juga tawaran sebuah project dari mantan dosen saya. Namun, hal ini masih dalam pertimbangan karena khawatir tidak bisa tergarap dan mengganggu pekerjaan sekarang.

Saya hanya berharap bahwa keputusan yang sudah diambil merupakan sebuah win-win solution. Orang tua bisa tenang, saya masih bisa melakukan aktivitas-aktivitas yang saya suka, anak-anak jalanan masih bisa saya ajar, masih terlibat di SSG dan masih bisa nge-blog pastinya. :-p Disamping itu, saya juga banyak belajar tentang bagaimana ‘sebaiknya’ saya mengarahkan anak-anak saya nanti. Utamanya dalam hal pilih-memilih jalan hidup. Kecuali, tentu saja, saya tidak akan memberi peluang anak-anak saya untuk memilih agama selain Islam. Otoriter memang, tapi saya akan merasa menjadi orang tua yang gagal jika suatu saat anak saya murtad.

Memang ada yang saya korbankan, tapi saya tahu, orang tua saya pun sudah berkorban cukup banyak. Idealisme itu masih ada. Tertanam kuat di hati, mewujud tekad dan sudah tidak sabar untuk merealisasikannya dalam tindakan nyata.

Link Terkait dari Blogger lain:

C 1 H 3 U L 4 17 6. 080308. 07.30.

Dia yang Kurindu

Dia yang kurindu
yang bibirnya selalu menyebut asma-Nya
yang hatinya terpaut pada-Nya
yang hidupnya diabdikan untuk-Nya

Dia yang kurindu
yang cintanya adalah cinta-Nya
yang ridhanya adalah ridha-Nya
yang senyumnya adalah senyum-Nya

Dia yang kurindu
Muhammad sang terpercaya
shalawat dan salam untuknya
selalu…

Hmm, sudah berapa lama ya saya nggak nulis puisi? Lumayan lama rasanya. Inspirasi awalnya sebetulnya gara-gara kangen sama seorang manusia yang sudah lama tidak pernah bertemu, hampir 2 tahun atau bahkan lebih. Laki-laki atau perempuan? Ah, nggak penting…!! Bait pertama itu bercerita tentang manusia tersebut. Namun, di tengah-tengah penulisan…saya jadi kepikiran Rasulullah SAW. Ya, sudah…saya dedikasikan saja puisi itu untuk beliau. Tadinya mau saya kasih judul “Ode Buat Rasulullah“, tapi merasa kurang cocok. Ciri khas saya sekali. Too much repetition. Maklum lah, saya agak kesulitan berpuitis-puitis ria. Waktu puisi ini masih dalam proses, Catur sempat melihatnya, karena ketika saya ‘tinggalkan’ untuk istirahat, Catur main ke-kostan saya, tapi tidak ada komentar sama sekali.

Agak aneh juga sebetulnya, mengingat belakangan ini saya lebih sering mendengarkan musik rock. Lho, apa hubungannya? Ya, jelas ada. Biasanya musik berpengaruh terhadap kondisi jiwa. Saya juga menulis puisi tersebut ditemani lagu-lagu dari Dream Theater, Liquid Tension Experiment (LTE), Hoobastank serta Linkin Park. Meskipun di tengah-tengah geberan musik mereka yang cadas dan eksploratif itu, saya juga menyelipkan lagu-lagu yang kontemplatif dari Opick, Chrisye dan Iwan Fals, lagu sunda Doel Sumbang, atau musik instrumental dari Budjana, Jubing Kristianto, String Quartet, Yanni dan instrumentalis lain yang tidak saya kenal. Tidak ketinggalan juga Al-Matsurat, beberapa surat di Juz 30 dan ceramah-ceramah dari Athian Ali, Hussein Umar atau Adian Husaini. Winamp disetel dengan mode shuttle, jadilah sebuah kombinasi bunyi-bunyian yang ‘aneh’ dan unpredictable, penuh kejutan.

Menarik sebetulnya, sebuah cara untuk ‘mempermainkan’ mood dan mengatasi kebosanan. Coba saja rasakan sensasinya ketika setelah berbising-bising dengan musik rock instrumental berdurasi 16 menit semacam “When The Water Break” dari LTE, lalu mood anda diajak ‘melayang’ oleh komposisinya Budjana, dan tiba-tiba anda diajak bertafakur oleh lirik-lirik semacam “Bila Waktu telah Berakhir” dari Opick, sebelum akhirnya telinga anda diajak ‘berlari’ lagi mendengarkan lagu “Home” atau “Forsaken” dari Dream Theater. Cara seperti ini, mungkin bisa juga digunakan sebagai latihan agar tidak mudah terkejut. 😀

Puisi “Dia yang Kurindu” di atas dihasilkan di tengah-tengah suasana semacam itu. Kalau bagi saya sih aneh, karena setahu saya, sebuah karya puisi biasanya tercipta di tengah-tengah suasana yang hening dan tenang. Apalagi jika dalam puisi itu memuat unsur ke-ilahi-an, spiritualitas atau ajakan untuk berkontemplasi. Jangan-jangan, hal semacam itu sudah biasa dan memang bukan hal yang aneh? Kalau seperti itu, saya yang aneh…WEIRD!! :-p

S 3 K 3 L 0 4. 030308. 22.30

Ceritanya…

Sedang (sok) sibuk.  Belum bisa mengunjungi blog temen-temen yang biasa saya kunjungi.  Maafkan saya belum bisa kasih komentar 🙂  Masih berusaha menyesuaikan diri dengan ritme aktivitas saya yang susah ditebak.  Masih dikejar-kejar deadline.  Sedang menyelesaikan wordpress theme pertama yang saya beri judul BlueSyndrom.   Sedang mengharu biru soalnya.  Sedang merasa bersalah gara-gara telat kirim tulisan.  Tapi merasa senang juga bisa ikutan bantu-bantu penelitian.  Sedang bikin rancangan dan mapping untuk website tempat saya jadi kuli.  Sempat shock gara-gara Catoer ngajak saya kencan malam minggu yang lalu.  :-p Tiba-tiba kangen kota Jakarta dan berdesak-desakan di Kereta Ekonomi Jabotabek.  Duh, gawat ini mah namanya.  Sedang bingung juga, karena…karena…apa ya? hehe.  Lagi pengen nanya, “Mau?” 😀 Berusaha meninggalkan jejak di hati “mereka”.  (Ouch, mereka?) Dan satu pertanyaan yang mengganjal di dalam pikiran saya, kenapa sih tokoh-tokoh komik bajunya cuma satu? Ada yang mau jawab? Bener-bener tulisan nggak penting ya?  Ini tandanya pikiran saya sedang tidak fokus, maklumi saja lah.  Dan, sebagai penutup…nikmati saja satu lirik dari salah satu lagu kesukaan saya berikut ini.

Sungguh, aku minta…

Teruskanlah kau bernyanyi menulis,

kan kudengar kubaca itu pasti,

Teruskanlah kau bernyanyi menulis,

dan jangan lagu-mu tanganmu terhenti.

(Nyanyianmu Tulisanmu – Iwan Fals & Donny Reza) 😀

NB: yang dicoret itu versi aslinya…haha.

Kejar Setoran

Ini hanya tulisan yang dibuat untuk mengisi agar blog ini tidak terkesan kosong. Saya masih melakukan aktivitas blogging, tapi tidak terlalu intens dan kondisinya sedang kurang ‘nyaman’ untuk menulis di blog. Meskipun sebetulnya ada saja yang bisa saya tulis.  Ada project membuat buku lagi, kerjasama dengan Agus Hery dan Jalal. Sebetulnya deadline-nya satu bulan, tapi karena saya keasyikan mengerjakan hal lain, jadinya sekarang kerepotan dan sedang ‘tancap gas’ untuk menyelesaikan seluruh tulisan pada tanggal 15 Februari 2008 nanti. Idealnya sih sebelum tanggal 15 harus sudah selesai, karena masih harus masuk tahap editing. Saya harus menyelesaikan 10 artikel, masing-masing 5 halaman.  Ini merupakan project kedua yang saya kerjakan dengan sesama blogger, meskipun kalau dengan Jalal sebetulnya sudah kenal sebelum kami ke-edan-an ngeblog. 😀

Itu pula sebabnya, saya belum bisa memberikan 3 judul yang ‘diminta’ untuk project buku lain yang ditawarkan oleh Kang Shodiq kepada saya. Maafkan saya ya, kang?! Masih berminat kerjasama dengan saya kan? 😀 Tidak bermaksud untuk mengabaikan niat baik tersebut, saya hanya belum terbiasa mengerjakan sesuatu secara bersamaan. Insya Allah, setelah ini, saya akan ‘ngebut’ lagi dengan rencana tersebut dan menyodorkan 3 judul tersebut.

Kabar baiknya, buku “Istikharah Cinta: Cara Cerdas Mendapatkan Jodoh Ideal” dimana saya terlibat didalamnya, sudah terbit. Saya sampai terharu dan mata saya sempat berkaca-kaca ketika mendapati buku tersebut di toko buku Gramedia. Apalagi setelah membuka buku tersebut dan menemukan nama saya di dalamnya. Saya hanya menyumbang satu artikel di bab III, “Matematika Jodoh dan Istikharah“, sebuah tulisan kolaborasi antara saya dan Kang Shodiq. Naskah awal dari saya, lalu Kang Shodiq yang memberikan koreksi, melengkapi dan tambahan di sana-sini.

Istikharah Cinta
Selain saya, ada Soraya Fadillah dan Lita Mariana yang turut berkontribusi di buku ini.  Uniknya buku ini, karena keempat penulisnya tinggal di 4 kota yang berbeda.  Saya di Bandung, Kang Shodiq di Solo, Soraya di Vienna, dan Bu Lita di Jakarta.  Dengan kang Shodiq dan Soraya, saya tidak pernah bertemu fisik sama sekali.  Dengan Bu Lita, sebetulnya pernah sama-sama bergabung dan tercatat di kepengurusan SSG Wilayah Cibeunying, hanya saja kami tidak pernah berkomunikasi sama sekali.  Hanya karena kang Adam pernah cerita soal Bu Lita saja, saya jadi ‘ngeh’ kalau kami pernah seperjuangan.

Baiklah.  Memang hanya saya yang belum menikah diantara semua kontributor tersebut.  Ada beban berat di pundak saya ketika buku ini terbit.  Satu hal yang pasti, saya selalu berusaha untuk melakukan apa yang ditulis di buku tersebut.  “Lihat apa yang dibicarakan, bukan siapa yang berbicara…“, begitu kata Ali r.a.  Ketika menulis, sebetulnya saya sedang menasehati diri sendiri lewat tulisan tersebut.

Murah.  Hanya Rp.17500.  Masih lebih mahal pulsa yang ‘kita’ habiskan tiap bulan.   Jadi, pada beli ya? ya? maksa niiiihhh…hehe.  Insya Allah, akan sangat bermanfaat sekali untuk orang-orang yang sedang mencari jodoh seperti saya.  Haha 😀

NB:

  • Credit untuk Oci, calon sarjana sastra Unpad, yang sudah bersedia membantu kami untuk mendapatkan endorsment dari M. Irfan Hidayatullah, ketua FLP Pusat, yang notabene adalah dosennya Oci di Fakultas Sastra Unpad.

C 1 H 3 U L 4 17 6.  070208.  07.12.

Page 2 of 4

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén