<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>mind.donnyreza.net &#187; Curhat</title>
	<atom:link href="http://mind.donnyreza.net/category/curhat/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://mind.donnyreza.net</link>
	<description>Catatan, celoteh, curhat, caper</description>
	<lastBuildDate>Thu, 22 Jul 2010 17:55:33 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=abc</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Anomali Konsumen</title>
		<link>http://mind.donnyreza.net/07092008/anomali-konsumen/</link>
		<comments>http://mind.donnyreza.net/07092008/anomali-konsumen/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Sep 2008 19:12:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Donny Reza</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Curhat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mind.donnyreza.net/?p=127</guid>
		<description><![CDATA[Judul yang aneh&#8230;
Dulu saya beranggapan bahwa perilaku konsumen itu mayoritas akan seperti saya semua.  Cuek dan tidak ambil pusing dengan berbagai macam promosi atau iklan di majalah, televisi, dll.  Akan tetapi, saya belakangan baru menyadari bahwa, jangan-jangan, saya merupakan sebuah anomali diantara konsumen.  *Halah, dramatisir&#8230;!!*
Saya pernah bertanya pada sahabat saya, seorang pengusaha [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Judul yang aneh&#8230;</p>
<p>Dulu saya beranggapan bahwa perilaku konsumen itu mayoritas akan seperti saya semua.  Cuek dan tidak ambil pusing dengan berbagai macam promosi atau iklan di majalah, televisi, dll.  Akan tetapi, saya belakangan baru menyadari bahwa, jangan-jangan, saya merupakan sebuah anomali diantara konsumen.  *Halah, dramatisir&#8230;!!*</p>
<p>Saya pernah bertanya pada sahabat saya, seorang pengusaha madu, perihal pengaruh iklan di beberapa majalah Islami di negeri ini.  Besar pengaruhnya dalam hal penjualan, katanya.  Sementara pada saat yang bersamaan -ketika itu- saya masih berfikir bahwa iklan-iklan di majalah atau tv itu hanya sekedar <span style="text-decoration: line-through;">pengganggu</span> pemanis saja. <em>My fault</em>, karena saya memang tidak pernah merasa peduli dengan iklan-iklan tersebut, lantas saya mengasumsikan bahwa orang lain akan sama dengan saya.  Padahal, sudah jelas-jelas iklan itu berpengaruh besar, ya?  Kalau tidak ada pengaruhnya, mana mungkin produk-produk itu mau memasang  iklan dengan modal besar? <em>Kamana wae atuh, Don</em>?</p>
<p>Hehe. Bukan tidak tahu, hanya selama ini saya terlalu menggeneralisir orang lain dengan variabel yang melekat pada saya.  Jadilah saya berpendapat bahwa sebetulnya mayoritas konsumen berpandangan seperti saya.  Ternyata sekarang pikiran saya terbalik, jangan-jangan konsumen seperti saya adalah minoritas.</p>
<p>Saya tidak akan terlalu tergoda dengan kata-kata narsis dari iklan suatu produk.  Dan saya juga malas melayani cuap-cuap orang marketing, salesman atau SPG perihal suatu produk.  Saya merasa kurang nyaman saja dengan sesuatu yang dilebih-lebihkan.  Pegangan saya hanya satu, <em>there is no such thing as perfect product</em>.  Bahwa ada produk yang terbaik, benar.  Akan tetapi, tidak ada produk yang sempurna.  Masalahnya, yang menilai suatu produk itu terbaik adalah pengguna produk tersebut, bukan &#8216;orang dalam&#8217; produk tersebut.  Itu juga sebabnya saya tidak terlalu tertarik dengan MLM.</p>
<p>Akibatnya, saya tidak akan cerewet mengenai kekurangan-kekurangan suatu produk atau layanan yang diberikan dari pembelian produk tersebut.  Misalnya, ketika suatu rumah makan terasa lama melayani dan hidangan belum muncul juga.  Saya akan menunggu sampai makanan itu tiba, meski sesekali menanyakan perihal lamanya pelayanan tersebut.  Agak sedikit kesal pastinya.  Setelah makanan tiba, ya dimakan &#8230; sampai tuntas.  Hanya barangkali, besok-besok saya tidak akan datang ke tempat makan itu lagi.</p>
<p>Kapok kah saya?  Belum tentu.  Saya agak pemaaf.  Barangkali ada faktor lain yang menyebabkan lambatnya pelayanan, misalnya banyaknya pengunjung, kompor meleduk, kehabisan minyak tanah, dll.  Saya &#8216;kan tidak tahu apa yang terjadi di balik dapur.  Mungkin suatu saat saya akan datang ke tempat itu lagi, memesan makanan&#8230; <em>then, wait and see</em>.  Jika pelayanan masih sama seperti dulu ketika saya pertama kali datang, maka itu berarti rumah makan tersebut tidak pernah melakukan evaluasi.  Baru lah saya akan sangat malas untuk datang ke tempat itu lagi.  Meskipun, bukan berarti saya tidak akan pernah datang lagi.  Pintu maaf itu selalu terbuka.  *Halah!!*</p>
<p>Kenapa tidak memberikan kritik?  Saya kan sudah bilang, saya ini bukan tipikal konsumen cerewet.  Apalagi sampai menyebarkan suatu kejadian di surat pembaca media massa.  Selama &#8216;kerugian&#8217; yang saya alami masih bisa ditolerir, untuk apa juga dipermasalahkan?</p>
<p>Ekspektasi saya terhadap suatu produk juga tidak pernah berlebihan.  Wajar-wajar saja.  Dalam penggunaan nomor handphone misalnya, selama menggunakan operator yang saya gunakan bertahun-tahun, bukan berarti tidak ada gangguan.  Pasti ada.  Hanya saja, selama ini gangguan yang terjadi sifatnya sesekali.  Tidak melulu ada gangguan.  Toh, selama ini komunikasi saya dengan orang lain masih lancar-lancar saja.  Memang ada sesekali <em>spam</em>, memang ada sesekali tulalit, memang ada saat sesekali sulit mengirim sms, akan tetapi selama hal tersebut tidak berkepanjangan, untuk apa juga dipermasalahkan?</p>
<p>Handphone? Apalagi&#8230; Anda akan kasihan melihat saya memegang dua buah handphone lama yang <em>casing</em>-nya sudah pecah-pecah, sudah <em>low-bat</em> dan sesekali perlu dibanting untuk menyalakannya. Ya, benar&#8230;dibanting!! Tapi, dibantingnya ke kasur <img src='http://mind.donnyreza.net/wp-includes/images/smilies/tongue.png' alt=':p' class='wp-smiley' /> Orangtua saya pernah mau membelikan yang baru, tapi saya <span style="text-decoration: line-through;">berakting</span> menolaknya, dengan alasan agar digunakan untuk keperluan yang lain saja.  Saya juga bukan tidak pernah dikritik oleh teman-teman saya perihal handphone tersebut.  Akan tetapi, selama ini kebutuhan saya akan komunikasi telepon dan sms masih tercukupi, <em>kok</em>.  Jadi, buat apa juga beli yang baru? Meskipun kalau melihat handphone-handphone terbaru, ngiler juga melihatnya :))</p>
<p>Dalam membeli suatu produk, saya adalah tipikal konsumen yang lebih menyukai kebebasan untuk memilih.  Paling malas jika sudah didekati, ditanya-tanya apalagi sampai diikuti oleh penjaga toko.  Percayalah, saya akan langsung pergi jika dibegitukan.  Apalagi jika secara tiba-tiba saya didekati dan ditawari suatu produk tertentu, seringnya saya cuekin atau saya tinggalkan.  Ini berbeda sekali dengan salah seorang sahabat saya.  Dia justru paling suka dengan cara seperti itu.  Merasa lebih dilayani, katanya.  Sementara buat saya, rese namanya.  Biarkan saja saya berkeliaran di toko, saya tidak akan pernah mencuri.  Kalau cocok pasti saya beli, kalau tidak cocok pergi lagi.</p>
<p>Barangkali itu lah sebabnya toko buku seperti Gramedia dan BBC di Bandung membuat saya nyaman.  Saya merasakan kebebasan untuk memilih dan saya juga bisa datang dan pergi sesuka hati saya.  <em>Feels like home</em>.  Tentu saja rumah saya ukurannya, karena di rumah saya tidak ada yang suka tiba-tiba mendekati, bertanya-tanya dan promosi produk seperti di mall-mall. <img src='http://mind.donnyreza.net/wp-includes/images/smilies/tongue.png' alt=':p' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Oleh sebab itu, sebelum membeli suatu produk -biasanya elektronik- saya akan mengumpulkan informasi dulu sebanyak-banyaknya.  Termasuk juga testimoni dari mereka yang pernah menggunakan produk tersebut.  Kemudian, cari tahu di mana saya bisa mendapatkannya.  Lantas lakukan perbandingan harga diantara beberapa toko.  Syukur-syukur jika harga produk tersebut sudah bisa ditemukan di depan toko, jadi saya tidak perlu menanyakan lagi ke penjaga toko.  Atau jika tidak ada, lihat di brosur-brosur yang disediakan toko tersebut.  Setelah itu &#8230; pulang.  Ya, pulang &#8230; saya tidak akan membeli pada saat itu juga.</p>
<p>Besoknya atau lusa atau bahkan beberapa hari kemudian, saya datang lagi ke toko yang sudah saya tentukan untuk kemudian melakukan transaksi.  Oleh sebab itu, pada hari ketika saya akan membeli produk tersebut, saya tidak pernah berlama-lama di tempat tersebut.  Paling lama 15 menit.  Barangkali kalau diilustrasikan, dialog yang sering saya lakukan setiap membeli produk adalah seperti ini:</p>
<blockquote><p>Donny: &#8220;<em>*nama produk* masih ada?</em>&#8221;</p>
<p>Penjaga Toko (PT): &#8220;<em>Oh, ada &#8230;</em>&#8221;</p>
<p>Donny: &#8220;<em>coba lihat, berapaan?</em>&#8221;</p>
<p>PT: &#8220;<em>bla &#8230; bla &#8230;ribu rupiah.</em>&#8221;</p>
<p>Donny: &#8220;<em>nggak bisa kurang?</em>&#8221;</p>
<p>PT: &#8220;<em>aduh, nggak bisa euy!</em>&#8221;</p>
<p>Donny: &#8220;<em>ya udah, saya beli satu.</em>&#8221;</p>
<p>Transaksi dilakukan.</p>
<p>Donny: &#8220;<em>Oke, nuhun&#8230;</em>&#8221;</p>
<p>PT: &#8220;<em>Sama-sama</em>&#8220;</p></blockquote>
<p>Begitulah.  Sederhana dan mudah saja bertransaksi dengan saya. <img src='http://mind.donnyreza.net/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> Jika ada yang akan saya beli, maka saya akan fokus ke benda tersebut.  Tidak ke yang lain-lain.  Buat saya, sebelum membeli suatu produk, saya harus tahu dengan pasti berapa harganya dan tempat mana yang harus saya tuju untuk mendapatkan produk tersebut.  Informasi yang saya butuhkan biasanya saya ambil dari brosur resmi atau website resmi produk tersebut.</p>
<p>Memang, pada akhirnya informasi yang saya dapat dari iklan juga, tapi jika iklan tersebut memuat spesifikasi fitur dari produk tersebut.  Ditambah review dari orang-orang yang pernah menggunakan, dengan begitu saya juga akan tahu apa yang menjadi kekurangan dari produk tersebut.  Jika ingin produknya saya beli, tidak cukup dengan hanya &#8216;menceritakan&#8217; kelebihan produk tersebut, tapi juga harus mau menceritakan kekurangannya.  Akan tetapi, marketing mana yang mau melakukan itu ya? :))</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mind.donnyreza.net/07092008/anomali-konsumen/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>24</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dicolek Malaikat Maut</title>
		<link>http://mind.donnyreza.net/24072008/dicolek-malaikat-maut/</link>
		<comments>http://mind.donnyreza.net/24072008/dicolek-malaikat-maut/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Jul 2008 05:00:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Donny Reza</dc:creator>
				<category><![CDATA[Curhat]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mind.donnyreza.net/24072008/dicolek-malaikat-maut/</guid>
		<description><![CDATA[Gila.  Saya baru 2 bulan mengendarai motor di jalanan, tapi sudah berkali-kali &#8216;dicolek&#8217; sama kematian.  Untungnya, malaikat maut baru &#8216;nyolek&#8217;, belum sampai benar-benar mencabut nyawa.  Jalanan memang mengerikan, kematian mengintai di mana-mana jika saja tidak berhati-hati dan kondisi kendaraan kita tidak baik.
Nyaris ditabrak angkot yang belok tanpa lampu sein.  Nyaris menabrak motor yang berjalan zig-zag.  [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Gila.  Saya baru 2 bulan mengendarai motor di jalanan, tapi sudah berkali-kali &#8216;dicolek&#8217; sama kematian.  Untungnya, malaikat maut baru &#8216;nyolek&#8217;, belum sampai benar-benar mencabut nyawa.  Jalanan memang mengerikan, kematian mengintai di mana-mana jika saja tidak berhati-hati dan kondisi kendaraan kita tidak baik.</p>
<p>Nyaris ditabrak angkot yang belok tanpa lampu sein.  Nyaris menabrak motor yang berjalan zig-zag.  Nyaris ditabrak truk gara-gara saya mengira truk tersebut akan lurus karena tanpa sein, tapi ternyata belok ke kiri.  Dan hampir-hampir &#8216;bergesekan&#8217; dengan sesama motor yang ketika akan saya susul, motor tersebut malah berbelok ke kanan dan, lagi-lagi, tanpa sein.  Duh!!  Betapa pentingnya lampu sein bukan?!</p>
<p>Dan kalau saja saya jahat, ingin sekali rasanya menendang pengendara motor yang berkendaraan sambil menelpon.  Bikin kagok karena dengan tidak sadar mengendarai motor secara zig-zag.</p>
<p>Berdasarkan&#8217;pengamatan&#8217; langsung, secara garis besar pembuat kekacauan di jalanan adalah; pertama, angkutan umum.  Segala jenis angkutan umum.  Kedua, motor, yang berarti saya juga termasuk di dalamnya.  Perilaku sopir angkutan umum di Indonesia memang sangat mengesalkan.  Ngetem seenaknya, berhenti mendadak.  Kalau perlu ketika melihat calon penumpang, berhenti saat itu juga.  Dan saya selalu waspada tiap kali di depan saya adalah angkutan umum.</p>
<p>Pengendara motor, kadang lebih gila lagi.  Karena ukurannya yang kecil dan bisa masuk ke celah-celah kemacetan, seringkali jadi bikin jalanan tambah ruwet.  Dan banyak sekali saya temukan, di tengah kemacetan semacam itu, dijadikan ajang pamer kebolehan karena bisa kebut-kebutan di tengah kemacetan.  Belum lagi jika motor tersebut menggunakan knalpot yang membuat cekak telinga.  Lengkap sudah kekacauan tersebut.</p>
<p>Rupanya banyak saya temukan pengendara yang tidak mau standar-standar saja.  Artinya, pengendara tersebut ingin kelihatan berbeda dengan yang lain.  Maka, knalpot dibuat berisik, lampu dibuat terang sekali, kalau perlu lampu kabut dipasang, sampai-sampai menyilaukan pengendara dari arah berlawanan.  Masa bodoh dengan keamanan dan keselamatan diri dan orang lain.  Saya bingung, eksistensi diri semacam apa yang ingin dicari di jalanan? Kawan saya mengatakan orang-orang tersebut egois, dan saya sepakat.</p>
<p>Saya merasa lebih nyaman justru ketika melakukan perjalanan ke luar kota karena kendaraan cenderung tidak lebih padat dibandingkan di dalam kota.  Di Bandung, saya paling grogi ketika memasuki daerah Cimahi sampai Padalarang.  Juga di jalan Soekarno-Hatta.  Stress sekali rasanya karena banyaknya motor di jalan-jalan tersebut.</p>
<p>Barangkali memang benar kata ayah saya, setiap orang bisa ngebut, tapi tidak setiap orang bisa membawa kendaraannya pelan-pelan.  Sebab membawa kendaraan pelan-pelan lebih banyak menuntut kesabaran.  Itulah sebabnya di kursus-kursus mengemudi, orang diajari pelan-pelan dulu, tidak langsung ngebut.  Kalau ngebut, orang tidak perlu diajari, cuma perlu keberanian untuk mengambil resiko saja.  Sementara, tidak banyak orang yang mau memberi kesempatan kendaraan lain berbelok atau orang lain menyeberang.</p>
<p>Berikut, daftar pelanggaran yang sering saya temukan di jalanan:</p>
<ul>
<li>Belok tanpa sein</li>
<li>Melanggar Lampu Merah, saya belum pernah menemukan pelanggaran terhadap lampu hijau soalnya <img src='http://mind.donnyreza.net/wp-includes/images/smilies/tongue.png' alt=':p' class='wp-smiley' /> </li>
<li>Menyusul dari kanan ketika akan berbelok ke kiri, ini akan mengagetkan pengendara yang disusul</li>
<li>Melawan arah untuk mengambil jalan pintas</li>
<li>Menelpon saat mengendarai motor</li>
<li>Dll, anda sebutkan saja <img src='http://mind.donnyreza.net/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </li>
</ul>
<p>CTM61.240708.12.00.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mind.donnyreza.net/24072008/dicolek-malaikat-maut/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>29</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Guitar Player</title>
		<link>http://mind.donnyreza.net/22062008/guitar-player/</link>
		<comments>http://mind.donnyreza.net/22062008/guitar-player/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Jun 2008 18:32:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Donny Reza</dc:creator>
				<category><![CDATA[Curhat]]></category>
		<category><![CDATA[SerbaSerbi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mind.donnyreza.net/22062008/guitar-player/</guid>
		<description><![CDATA[ 
Saya sedang merindukan bermain gitar.  Terutama di waktu-waktu sedang sering menyendiri seperti sekarang.  Setidaknya sudah hampir 4 tahun saya tidak benar-benar bermain gitar lagi.  Pernah beberapa kali memegang gitar lagi, tapi tidak lama.  Nyaris lupa dengan lagu-lagu yang pernah saya mainkan sejak SMP sampai awal-awal kuliah.
Saya pernah bermimpi menjadi seorang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"> <img src="http://mind.donnyreza.net/wp-content/uploads/2008/06/1264079732_b7a4c35b5d.jpg" alt="Forgotten Guitar Player" height="400" width="471" /></p>
<p>Saya sedang merindukan bermain gitar.  Terutama di waktu-waktu sedang sering menyendiri seperti sekarang.  Setidaknya sudah hampir 4 tahun saya tidak benar-benar bermain gitar lagi.  Pernah beberapa kali memegang gitar lagi, tapi tidak lama.  Nyaris lupa dengan lagu-lagu yang pernah saya mainkan sejak SMP sampai awal-awal kuliah.</p>
<p>Saya pernah bermimpi menjadi seorang musisi.  Tidak banyak yang tahu bahwa alasan saya memilih kuliah di Bandung sesungguhnya adalah untuk menjadi seorang musisi.  Namun, justru setelah di Bandung, keinginan saya itu mulai terkikis.  Saya merasa, dunia glamor, dunia panggung atau dunia hiburan, bukan dunia saya.  Ada perasaan ketidaknyamanan dalam hati yang membuat saya memilih untuk tidak melanjutkan cita-cita tersebut.</p>
<p><img src="http://mind.donnyreza.net/wp-content/uploads/2008/06/2263740332_2f287773e8.jpg" alt="Old Guitar" style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left" height="155" width="228" /> Saya mulai bermain gitar sejak kelas 1 SMP.  Alasan saya ingin belajar gitar karena rasanya <em>cool</em> dan macho kalau melihat para pemain gitar.  Dan &#8230; sepertinya menyenangkan dikelilingi perempuan ketika bermain gitar.  Saya tahu rasanya dan &#8230; memang menyenangkan.   <img src='http://mind.donnyreza.net/wp-includes/images/smilies/devil_laugh.gif' alt=':setan1:' class='wp-smiley' /> Itu, duluuuu. Namun, sesungguhnya saya merasa nyaman saja ketika dalam suasana hati seperti apa pun bisa melampiaskannya melalui gitar.  Ada yang bilang, saya terlihat lebih tampan dan tampak melankolis kalau sedang bermain gitar. (<em>Huehehe, anda boleh muntah &#8230;!!</em>)</p>
<p>Adalah sahabat-sahabat saya di SMP yang mengajari saya bermain gitar.  Lagu pertama yang saya mainkan dengan lancar adalah &#8220;<strong>Kuberkhayal</strong>&#8221; dari Five Minutes yang waktu itu kemana-mana memakai sarung.  Menyusul kemudian lagu &#8220;<strong>Kemesraan</strong>&#8221; dari Iwan Fals.  Dari pergaulan dengan sahabat-sahabat saya, kemudian menyusul berbagai macam lagu lainnya yang bisa saya mainkan.  Jadi, saya belajar secara otodidak.</p>
<p>Ketika SMA saya mulai membentuk Band dengan teman-teman sekelas.  Namun, selama 3 tahun, hanya tiga kali naik panggung.  Kelas 1 sekali, kelas 2 sekali dan kelas 3 sekali &#8230; alias setahun sekali.  Pernah bergabung dengan beberapa band, dari yang paling hancur sampai yang sedikit lebih baik dari pada yang paling hancur <img src='http://mind.donnyreza.net/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> .  Dari yang pop-melankolis sampai yang <em>nge-rock abis</em>.  <a href="http://thez82alfajr.wordpress.com" target="_blank">Herdyan</a> pernah latihan juga dengan saya.  Ketika perpisahan kelas 3, saya jadi gitaris untuk membawakan 3 buah lagu dari <a href="http://www.helloween.org">Helloween</a>, band rock asal Jerman.  Saat itu saya sepanggung dengan Funky Kopral formasi awal, dimana Bondan Prakoso dan Onci &#8220;Ungu&#8221; masih tergabung didalamnya.</p>
<p>Saking tergila-gilanya ingin menjadi musisi, saya kemudian berlangganan tabloid musik.  Saat itu ada Mumu (Muda Musika), tabloid musik yang terbit seminggu sekali.  Saya pelajari tips-tips yang ada di tabloid tersebut.  Jadilah saya orang yang agak melek soal musik saat itu.</p>
<p>Saat SMA Kelas 3, biasanya tiap kelas memiliki nama.  Saya masuk ke kelas 3 IPA 3, yang diberi nama <strong>Xtreme</strong> (eXacta Three Milenium).  Kebetulan saya bisa memainkan lagu &#8220;<strong>More Than Words</strong>&#8221; dari Extreme.  Jadilah lagu tersebut sebagai lagu &#8220;kebangsaan&#8221; kelas tersebut dan termasuk lagu yang paling sering dinyanyikan bersama-sama.  Sekarang, saya sudah lupa sama sekali dengan <em>chord</em> lagu tersebut.</p>
<p>Gitaris favorit saya adalah Dewa Budjana dan Pay, sementara gitaris luar negeri saya tergila-gila dengan permainan gitar John Petrucci.  Sempat juga terpengaruh oleh Paul Gilbert dan Nuno Bettencourt.  Saya sangat menyukai lagu instrumental bertajuk &#8220;<strong>Wanita</strong>&#8221; dan &#8220;<strong>Selamat Tidur &#8230; Sayang!</strong>&#8221; dari Budjana, serta &#8220;<strong>Lost Without You</strong>&#8221; dari John Petrucci.  Beberapa bagian solo gitar John Petrucci di beberapa lagu Dream Theater dan Liquid Tension Experiment sampai membuat saya terkagum-kagum.  Namun, sesungguhnya saya sangat ingin sekali bermain gitar seperti <a href="http://www.youtube.com/user/NAUDOPRD" target="_blank">Naudo</a>.  Gitaris Spanyol kelahiran Brazil yang sudah bermain gitar sejak berumur 5 tahun.</p>
<p><img src="http://mind.donnyreza.net/wp-content/uploads/2008/06/20060109135047galpart.jpg" alt="Budjana" height="137" width="209" />  <img src="http://mind.donnyreza.net/wp-content/uploads/2008/06/petrucci02.jpg" alt="petrucci02.jpg" height="137" width="205" /></p>
<p>Ketika mendengarkan musik, sesungguhnya bukan hanya gitar saja yang menjadi perhatian saya.  Bass dan ketukan Drum serta permainan Keyboard atau Piano -jika ada- juga sering saya perhatikan.  Saya sangat menyukai gaya permainan drum Ronald ketika masih tergabung di GIGI, terutama di album 3/4.</p>
<p>Pada dasarnya, saya menyukai segala jenis musik.  Dari musik sunda sampai rock cadas.  Akan tetapi, lagu-lagu yang saya suka adalah yang melodius dan tidak membosankan.  Apa pun jenis musiknya.  Terutama jika lagu tersebut agak menonjolkan kemampuan musisinya.  Terlebih jika unsur gitarnya menonjol, terutama gitar akustik.  Beberapa contoh lagu adalah &#8220;<em><strong>Have You Ever Really Loved a Woman</strong></em>&#8221; dari Bryan Adams, &#8220;<strong>Merepih Alam</strong>&#8221; versi Audy, &#8220;<strong>Khayalku</strong>&#8221; versi Chrisye dan Nicky Astria serta &#8220;<strong><em>The Spirit Carries On</em></strong>&#8221; dari Dream Theater.  Entah mengapa, rasanya sulit sekali mendapati lagu-lagu Indonesia sekarang yang seperti itu.</p>
<p>Arrrggghhhh, sepertinya saya harus beli gitar lagi&#8230;</p>
<p>Bandung, 22 Juni 2008. 01.00</p>
<p>Daftar Gambar:</p>
<ul>
<li><a href="http://www.flickr.com/photos/toddwshaffer/1264079732/" target="_blank">Forgotten Guitar Player</a></li>
<li><a href="http://www.flickr.com/photos/patrickraymondphotography/2263740332/" target="_blank">Dusty Old Guitar</a></li>
<li><a href="http://www.dewabudjana.com/v2/g.php?more=&amp;open=31#how" target="_blank">Dewa Budjana</a></li>
<li><a href="http://www.ardarve.se/music/concerts/concert05.html" target="_blank">John Petrucci </a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mind.donnyreza.net/22062008/guitar-player/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>49</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rafling With Anak Jalanan</title>
		<link>http://mind.donnyreza.net/06042008/rafling-with-anak-jalanan/</link>
		<comments>http://mind.donnyreza.net/06042008/rafling-with-anak-jalanan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Apr 2008 11:12:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Donny Reza</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[Curhat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mind.donnyreza.net/06042008/rafling-with-anak-jalanan/</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillah, salah satu program untuk membahagiakan anak-anak jalanan yang kami (SSG Daarut Tauhiid Wilayah Cibeunying) bina, berjalan dengan baik.
Hari Sabtu malam (5 April 2008) -ketika saya berada di warnet- Takwir (Ketua Wilayah) mengirim sms yang berisi pesan meminta bantuan untuk mengondisikan anak-anak jalanan bersiap-siap diberangkatkan ke Daarut Tauhiid hari Minggu Pagi (6 April 2008).  [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Alhamdulillah, salah satu program untuk membahagiakan anak-anak jalanan yang kami (SSG Daarut Tauhiid Wilayah Cibeunying) bina, berjalan dengan baik.</p>
<p>Hari Sabtu malam (5 April 2008) -ketika saya berada di warnet- Takwir (Ketua Wilayah) mengirim sms yang berisi pesan meminta bantuan untuk mengondisikan anak-anak jalanan bersiap-siap diberangkatkan ke Daarut Tauhiid hari Minggu Pagi (6 April 2008).  Sayangnya saya tidak bisa ikut membantu pagi hari itu, karena sudah ada rencana di pagi hari.  Lagipula, saya juga baru tahu ketika sms tersebut sampai ke HP saya.</p>
<p>Akan tetapi, saya tetap datang jam setengah 11 pagi, sudah sangat terlambat sebetulnya.  Hari ini jadwal saya memang tidak terlalu padat, jadinya bisa datang.  Ketika sampai di DT, saya langsung menuju area sentral 5, karena fasilitas rafling ada di sana.  Area yang serba guna.  Selain sebagai tempat parkir, bisa juga digunakan untuk futsal, syuting TV, kegiatan konser bahkan shalat.</p>
<p>Dari kejauhan saya melihat wajah-wajah yang sangat kenal.  Sahabat-sahabat saya di SSG dan juga anak-anak jalanan tersebut, mereka semua berkumpul di bekat dinding rafling.  Moment tersebut juga menjadi salah satu obat rindu bagi saya karena sudah hampir 1 bulan saya tidak pernah bertemu lagi dengan mereka.</p>
<p>Baru datang, saya langsung disuruh mendokumentasikan kegiatan tersebut.  Untungnya, saya membawa kamera, meskipun ada juga kamera lain yang dibawa oleh teman saya.   Beberapa hasilnya, bisa dilihat di bawah.</p>
<p><a href="http://mind.donnyreza.net/wp-content/uploads/2008/04/img_1288.jpg" title="Raf_1"></a></p>
<p style="text-align: center"><a href="http://mind.donnyreza.net/wp-content/uploads/2008/04/img_1288.jpg" title="Raf_1"><img src="http://mind.donnyreza.net/wp-content/uploads/2008/04/img_1288.jpg" alt="Raf_1" height="225" width="295" /></a></p>
<p align="center">Salah satu Jargon DT yang dipasang di dinding rafling</p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><a href="http://mind.donnyreza.net/wp-content/uploads/2008/04/img_1308.jpg" title="Raf_2"><img src="http://mind.donnyreza.net/wp-content/uploads/2008/04/img_1308.jpg" alt="Raf_2" height="359" width="271" /></a></p>
<p align="center"> Foto Agak Siluet  <img src='http://mind.donnyreza.net/wp-includes/images/smilies/shade.png' alt=':gaya:' class='wp-smiley' /> </p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><a href="http://mind.donnyreza.net/wp-content/uploads/2008/04/img_1317.jpg" title="Raf_3"><img src="http://mind.donnyreza.net/wp-content/uploads/2008/04/img_1317.jpg" alt="Raf_3" height="208" width="271" /></a></p>
<p align="center">Yeah, Jump!!</p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><a href="http://mind.donnyreza.net/wp-content/uploads/2008/04/img_1325.jpg" title="Raf_4"><img src="http://mind.donnyreza.net/wp-content/uploads/2008/04/img_1325.jpg" alt="Raf_4" height="205" width="267" /></a></p>
<p align="center">Situasi belajar-mengajar setelah rafling.</p>
<p align="center">Biasanya di Ciroyom, khusus hari ini dipindahkan di DT.</p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><a href="http://mind.donnyreza.net/wp-content/uploads/2008/04/img_1326.jpg" title="Raf_5"><img src="http://mind.donnyreza.net/wp-content/uploads/2008/04/img_1326.jpg" alt="Raf_5" height="208" width="272" /></a></p>
<p align="center">Pribadi Tangguh Pantang Mengeluh&#8230;cenah!!</p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"> <a href="http://mind.donnyreza.net/wp-content/uploads/2008/04/p4061321.jpg" title="Raf_6"><img src="http://mind.donnyreza.net/wp-content/uploads/2008/04/p4061321.jpg" alt="Raf_6" height="193" width="256" /></a><br />
Langitnya cerah ya?!</p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><a href="http://mind.donnyreza.net/wp-content/uploads/2008/04/p4061368.jpg" title="Raf_7"><img src="http://mind.donnyreza.net/wp-content/uploads/2008/04/p4061368.jpg" alt="Raf_7" height="205" width="266" /></a><br />
Shalat Dzuhur berjama&#8217;ah</p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"> <a href="http://mind.donnyreza.net/wp-content/uploads/2008/04/p4061378.jpg" title="Raf_7"><img src="http://mind.donnyreza.net/wp-content/uploads/2008/04/p4061378.jpg" alt="Raf_7" height="203" width="270" /></a><br />
Foto Bareng sebelum bubar.</p>
<p align="left">&nbsp;</p>
<p align="left">Yah, begitulah.  Setelah shalat dzuhur dan makan siang bersama, kami membubarkan diri.  Anak-anak jalanan diantar ke Ciroyom kembali oleh Pak Ketua, Takwir yang rela mobil kijangnya sampai nyaris ceper gara-gara <em>overload</em>  <img src='http://mind.donnyreza.net/wp-includes/images/smilies/omg.png' alt=':-o' class='wp-smiley' /> .</p>
<p align="left">Keinginan kami selanjutnya adalah mengajak anak-anak jalanan untuk bisa menikmati pengalaman ke Taman Safari atau Dufan.   Hanya saja kami sedang berusaha untuk mengumpulkan dana atau mencari donatur yang bersedia.  Mudah-mudahan ada yang bersedia.  Selain itu, keinginan terbesar kami adalah mengembalikan mereka ke orangtuanya.  Bagaimanapun, anak-anak tersebut masih memiliki hak pengasuhan yang lebih layak dari orang tua mereka.  Semoga saja.</p>
<p align="left">Saya tidak langsung pulang.  Sempat melihat-lihat buku di SMM (Super Mini Market)  DT, kemudian saya mengejar shalat ashar berjama&#8217;ah di Salman.  Disanalah saya bertemu dengannya (<em>siapa Don? oiyyy&#8230;siapa?!</em>)  <img src='http://mind.donnyreza.net/wp-includes/images/smilies/tweety_5.gif' alt=':tweety1:' class='wp-smiley' /> , setelah hampir 2 tahun.  Sebetulnya bukan bertemu, hanya melihat.  Dia sedang bersama sahabat-sahabatnya.  Sebetulnya ingin menyapanya  <img src='http://mind.donnyreza.net/wp-includes/images/smilies/girl_wave.gif' alt=':daah:' class='wp-smiley' />  , tapi&#8230;ah, sudahlah!  Lebih baik saya pulang saja.  Lagipula, melihatnya baik-baik saja sudah cukup membuat saya bahagia. <img src='http://mind.donnyreza.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p align="left">Monumen.  060408. Maghrib.</p>
<p align="left">NB:</p>
<ul>
<li>6 April&#8230;Happy Birthday Dad!! I Do Love You!</li>
<li>Nggak usah penasaran dengan orang di paragraf terakhir, nggak penting.  Lagian pake ditulis segala sih ya? bikin berantakan cerita aja&#8230; <img src='http://mind.donnyreza.net/wp-includes/images/smilies/baby2_big_smile.gif' alt=':bayinyengir:' class='wp-smiley' /> </li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mind.donnyreza.net/06042008/rafling-with-anak-jalanan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>27</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Senangkanlah Hatimu!</title>
		<link>http://mind.donnyreza.net/18032008/senang-hati/</link>
		<comments>http://mind.donnyreza.net/18032008/senang-hati/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Mar 2008 11:17:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Donny Reza</dc:creator>
				<category><![CDATA[5]]></category>
		<category><![CDATA[Curhat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mind.donnyreza.net/18032008/senang-hati/</guid>
		<description><![CDATA[Assalamu &#8216;alaikum&#8230;
Apa kabar dunia blogger?  
Belakangan sedang kerja rodi, kerja romusa atau yang sejenisnya deh  .  Sekarang ini waktu saya memang lebih banyak terpakai untuk pekerjaan, even in holiday.  Sesuatu yang tidak terlalu saya sukai, tapi itulah tuntutan profesionalisme.  Tidak boleh terganggu oleh like or dislike.  Dulu saya sempat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 11pt; font-family: Georgia">Assalamu &#8216;alaikum&#8230;</span></p>
<p>Apa kabar dunia blogger? <img src='http://mind.donnyreza.net/wp-includes/images/smilies/teeth.png' alt=':-D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Belakangan sedang kerja rodi, kerja romusa atau yang sejenisnya deh <img src='http://mind.donnyreza.net/wp-includes/images/smilies/wink.png' alt=';-)' class='wp-smiley' /> .  Sekarang ini waktu saya memang lebih banyak terpakai untuk pekerjaan, <em>even in holiday</em>.  Sesuatu yang tidak terlalu saya sukai, tapi itulah tuntutan profesionalisme.  Tidak boleh terganggu oleh <em>like or dislike</em>.  Dulu saya sempat &#8216;nyindir&#8217; orang lain, &#8220;<em>masa sih nggak ada waktu buat menulis gara-gara kerja?</em>&#8220;.  Kenyataannya, saya merasakannya sekarang.  Betapa nasib selalu dipergulirkan ya?  Inginnya sih seperti <a href="http://budiputra.com" target="_blank">om Budi Putra</a> yang memilih untuk jadi seorang <a href="http://www.thegadgetnet.com/2007/03/05/jadi-blogger-profesional-sebuah-pilihan/" target="_blank">blogger profesional</a>.  Hanya saja, saya belum percaya diri untuk itu. <img src='http://mind.donnyreza.net/wp-includes/images/smilies/teeth.png' alt=':-D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Saya kerepotan juga jadi satu-satunya orang IT yang harus memberikan pencerahan dan melakukan perubahan di perusahaan tempat kerja saya sekarang.  Sebetulnya sebuah tantangan juga, tantangan besar malah.  Salah satunya yang ingin saya lakukan adalah meng-edukasi rekan-rekan kerja saya untuk mulai menggunakan produk-produk <em>open source</em> dan mulai melirik Linux daripada menggunakan &#8220;Windows Pirated Edition&#8221; seperti sekarang.  Apalagi untuk level perusahaan, resikonya cukup besar juga.  Masalahnya, saya pun belum sepenuhnya menggunakan produk-produk <em>open source</em>.  Jadi, sebetulnya saya ingin &#8216;mengajak&#8217; rekan-rekan untuk  bersama-sama belajar menggunakan OSS (<em>Open Source Software</em>).  Masalah lainnya, mayorits rekan saya adalah perempuan.  Perlu diakui, Linux dan kawan-kawannya masih &#8216;milik&#8217; kaum adam.  Padahal sebetulnya tidak seperti itu juga.  Sekarang sudah bukan zamannya lagi menggunakan Linux dengan <em>command-line</em> murni seperti awal-awal kemunculannya dulu.</p>
<p class="MsoNormal">Di tengah-tengah rasa suntuk akibat mengejar <em>deadline</em> pekerjaan, saya sempatkan diri untuk memberikan pencerahan kepada diri sendiri.  Saya buka situs <a href="http://www.hidayatullah.com" target="_blank">Hidayatullah</a>, buka <a href="http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&amp;task=blogcategory&amp;id=3&amp;Itemid=55" target="_blank">Catatan Akhir Pekan-nya Adian Husaini</a>.  Ada artikel dengan judul &#8220;<a href="http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=6538&amp;Itemid=55" target="_blank">Ilmu dan Kebahagiaan</a>&#8220;, di dalamnya saya dapat kutipan dari bukunya HAMKA, &#8220;Tasauf Modern&#8221;.<br />
<span style="font-size: 11pt; font-family: Georgia; color: #333300"><br />
</span></p>
<blockquote>
<p style="margin-left: 0.25in" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Georgia; color: #333300">”<em>Kalau engkau kaya, senangkanlah hatimu! Karena di hadapanmu terbentang kesempatan untuk mengerjakan yang sulit-sulit&#8230;.</em>”</span></p>
<p style="margin-left: 0.25in" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Georgia; color: #333300">”<em>Dan jika engkau fakir miskin, senangkan pulalah hatimu! Karena engkau telah terlepas dari suatu penyakit jiwa, penyakit kesombongan yang selalu menimpa orang kaya. Senangkanlah hatimu karena tak ada orang yang akan hasad dan dengki kepada engkau lagi, lantaran kemiskinanmu&#8230;</em>”</span></p>
<p style="margin-left: 0.25in" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Georgia; color: #333300">”<em>Kalau engkau dilupakan orang, kurang masyhur, senangkan pulalah hatimu!</em></span></p>
<p style="margin-left: 0.25in" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Georgia; color: #333300"><em>Karena lidah tidak banyak yang mencelamu, mulut tak banyak mencacatmu..</em>.”</span></p>
<p style="margin-left: 0.25in" class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Georgia; color: #333300">”<em>Kalau tanah airmu dijajah atau dirimu diperbudak, senangkanlah hatimu! Sebab penjajahan dan perbudakan membuka jalan bagi bangsa yang terjajah atau diri yang diperbudak kepada perjuangan melepaskan diri dari belenggu.</em>”</span></p>
</blockquote>
<p>Hehe.  Saya punya bukunya, tapi belum masuk ke bagian kutipan tersebut.  Pantas saja saya kurang <em>ngeh</em>.</p>
<p>Apalagi ya? Sudah dulu ah.  Masih harus ngebut kejar deadline dan shalat maghrib dulu.</p>
<p>C 1 T 4 m 1 4 17 6. 61.  180308. 18.15.</p>
<blockquote></blockquote>
<p>NB: Buat Agah, sabar ya?! Insya Allah, saya akan tulis reviewnya <img src='http://mind.donnyreza.net/wp-includes/images/smilies/wink.png' alt=';-)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mind.donnyreza.net/18032008/senang-hati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Belajar Bijak</title>
		<link>http://mind.donnyreza.net/08032008/belajar-bijak/</link>
		<comments>http://mind.donnyreza.net/08032008/belajar-bijak/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 Mar 2008 00:46:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Donny Reza</dc:creator>
				<category><![CDATA[Curhat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mind.donnyreza.net/08032008/coba-bijak/</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah &#8216;benturan&#8217; paradigma antara saya dan orang tua pada akhirnya memaksa saya untuk mengambil jalan tengah antara idealisme dan ekspektasi mereka.  Ya, saya tidak terlalu bisa meyakinkan kedua orang tua saya perihal &#8216;jalan pedang&#8217; yang ingin saya tempuh.  Saya tidak terlalu menyalahkan mereka, bagaimana pun saya tetaplah &#8216;anak kecil&#8217; di mata mereka.  [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebuah &#8216;benturan&#8217; paradigma antara saya dan orang tua pada akhirnya memaksa saya untuk mengambil jalan tengah antara idealisme dan ekspektasi mereka.  Ya, saya tidak terlalu bisa meyakinkan kedua orang tua saya perihal &#8216;jalan pedang&#8217; yang ingin saya tempuh.  Saya tidak terlalu menyalahkan mereka, bagaimana pun saya tetaplah &#8216;anak kecil&#8217; di mata mereka.  Mereka ingin yang terbaik bagi saya.  Itu saja sudah cukup menjadi pembuktian cinta mereka yang tanpa akhir kepada saya.  Pada akhirnya, saya &#8216;mengalah&#8217;.  Mudah-mudahan itu pun menjadi bukti cinta saya pada mereka.</p>
<p>Dan, sungguh&#8230;hati saya sering luluh dan lidah kerap kali menjadi sangat kelu setiap kali beradu argumen dengan mereka perihal masalah tersebut.  Terlebih dengan ayah saya yang tutur katanya halus, namun seringkali menghujam ke dalam hati dan berkali-kali membuat saya terdiam.  Saya kenal sekali karakter ayah saya, karena saya mewarisi sebagian besar sifat-sifatnya.  Hanya ketampanannya saja yang tidak saya warisi.  Anehnya, adik bungsu saya yang mewarisi ketampanannya, tidak mewarisi sifat-sifatnya. Selama ini saya tidak pernah mendapati kata-kata kasar darinya.  Dan kata-kata yang menghujam itu, saya tahu pasti berasal dari kelembutan hatinya. Lebih lembut daripada wanita-wanita yang saya kenal, termasuk ibu saya.  Oleh sebab itu, beliau sangat dihormati oleh keluarganya, saudaranya, tetangganya dan atasan serta bawahan di tempatnya bekerja.  Maka, saya tidak terlalu heran jika kemudian beliau bisa menjadi &#8216;jalan hidayah&#8217; bagi beberapa orang yang dikenalnya, meskipun pengetahuan ayah saya terhadap agama sangat kurang.  Bahkan sampai saat ini, beliau masih terbata-bata membaca Al-Quran.</p>
<p>Akan tetapi, justru ayah saya juga yang menjadi salah satu alasan kenapa saya tidak ingin menjalani hidup seperti yang dijalaninya.  Bukan karena saya benci ayah saya, tapi justru karena saya sangat mencintainya.  Ayah saya tipikal orang Indonesia pada umumnya.  Kurang berani mengambil resiko dan lebih suka untuk berada di dalam <em>comfort zone</em>.  Sifat yang menurun pada saya juga sebetulnya.  Oleh sebab itu, sepanjang karirnya, beliau memilih untuk menjadi karyawan.  Tidak terlalu tertarik untuk berbisnis, karena kapok setiap memulai bisnis selalu ditipu oleh rekan bisnisnya.  Saya pun pernah senewen ketika mendengar cerita dari ibu bahwa ayah saya menolak tawaran untuk menjadi CEO di perusahaan tempatnya mengabdi, dan ditempatkan di China.  Ketika saya konfirmasi kepada ayah saya, jawabnya &#8220;<em>malas, terlalu jauh dan harus belajar bahasa China dulu, lagian sebentar lagi juga pensiun, sementara tanggung jawabnya juga besar</em>&#8220;.  Ketika saya sindir, &#8220;<em>wah, pantas aja kita susah jadi orang kaya</em>&#8220;.  Beliau hanya tertawa saja.</p>
<p>Soal etos kerja dan loyalitas, saya tidak pernah meragukan beliau.  Tentu bukan karena penilaian yang asal-asalan jika ayah saya pernah mendapat penghargaan sebagai &#8220;Manager Teladan&#8221; di sebuah perusahaan furniture terbesar di Indonesia, tempatnya bekerja selama hampir 20 tahun terakhir.  Ketika saya tanya apa alasan perusahaan memberikan penghargaan itu, beliau hanya menjawab, &#8220;<em>nggak tahu</em>&#8220;. Ternyata, belakangan saya baru tahu kalau penghargaan itu diberikan karena pencapaiannya dalam memenuhi bahkan melebihi target produksi selama 1 tahun.  Selain itu, saya juga menyaksikan dengan mata kepala sendiri betapa beliau sangat dekat dengan bawahan-bawahannya dan pembelaannya terhadap nasib bawahannya jika dirasa ada peraturan atau kebijakan perusahaan yang &#8216;merugikan&#8217; karyawan.</p>
<p>Akan tetapi, entah kenapa &#8216;prestasi-prestasi&#8217; yang telah dicapai ayah saya tersebut tidak pernah membuat saya ingin mengikuti jejaknya.  Saya lebih tertarik untuk berbisnis meskipun saya tahu bahwa karakter yang saya warisi dari ayah terbukti menjadi &#8216;penghambat&#8217; untuk terjun ke dunia bisnis.  Saya terlalu perasa dan terlalu memikirkan perasaan orang lain, lemah dalam bernegosiasi, introvert dan cenderung menghindari konflik.  Dan seperti ayah saya juga, perlu diakui bahwa saya juga kurang berani mengambil resiko.  Itulah sebabnya, saya sedang belajar mengikis sifat-sifat yang menjadi hambatan tersebut.</p>
<p>Malapetaka itu datang beberapa minggu yang lalu, ketika paman saya menghubungi ayah saya dan menginformasikan bahwa institusi tempatnya bekerja membutuhkan banyak sarjana komputer.  Jika diterima, maka saya akan berstatus menjadi PNS dan ditempatkan di Jakarta.  Saya sebut malapetaka karena betapa pun menggiurkannya, menjadi PNS tidak pernah ada dalam daftar pekerjaan yang saya minati.  Apalagi sampai ditempatkan di Jakarta, kota yang pernah membuat saya &#8217;sakit&#8217;.  Saya bisa gila jika kemudian mengikuti saran dari orang tua untuk melamar ke institusi tersebut dan sampai diterima.</p>
<p>Sementara itu, apa yang saya cita-citakan pun belum memberikan bukti apa-apa kepada orang tua.   Saya malah &#8216;tersesat&#8217; menjadi operator warnet, pedagang kaki lima atau menjadi tenaga <em>outsourcing</em> yang paling lama hanya 1 bulan.  Hidup luntang-lantung, tidak jelas arah dan tujuan serta penghasilan yang pas-pasan.  Meskipun, sejujurnya saya cukup menikmati hidup yang kurang mapan seperti itu.  Lebih banyak kejutan dan lebih dinamis.  Wajar jika kemudian orang tua resah dan sangat berharap pada saya untuk mencoba mengirim lamaran ke tempat paman saya tersebut.  Oleh sebab itu, berkali-kali ayah saya menelpon dan meminta saya untuk mengirim lamaran ke tempat tersebut. Begitu pun sudah berkali-kali juga saya mengatakan bahwa saya sedang ada pekerjaan, meskipun bukan pekerjaan tetap.  Akan tetapi, ayah saya tetap &#8216;memaksa&#8217; untuk mengirim lamaran tersebut, karena apabila bekerja di sana, saya bisa lebih mapan.  Bingung lah saya.</p>
<p>Saya benar-benar tidak tahu apa lagi yang harus dilakukan.  Satu-satunya cara yang terpikir adalah saya harus dapat pekerjaan dalam waktu 1 minggu.  Dengan begitu, orang tua saya tidak akan terlalu resah.  Tapi, kerja di mana?  Sementara sudah setahun lebih saya tidak pernah mengirim surat lamaran lagi karena sudah malas.  Sampai akhirnya, saya nyaris saja &#8216;menyerah&#8217; sebelum di &#8216;menit akhir&#8217; pertolongan itu datang.  Tepat di hari terakhir <em>deadline</em> yang saya tentukan.  Telepon dari sebuah perusahaan meminta saya datang untuk wawancara.  Padahal, lamaran ke perusahaan itu adalah lamaran terakhir yang saya kirim, satu tahun yang lalu.  Esoknya saya datang dan diwawancara, langsung diterima hari itu juga dan besoknya dikirim tugas ke luar kota.</p>
<p>Ada beberapa pertimbangan kenapa akhirnya saya memutuskan untuk <em>back to office</em>.  Pertama, saya sangat menghormati ayah saya dan juga berusaha untuk menjaga kehormatannya.  Saya berusaha memahami keresahan ayah saya.  Sebagai seorang manager, sudah puluhan orang yang melalui bantuannya bisa masuk ke perusahaan tersebut.  Tentunya akan menjadi beban pikirannya jika anaknya sendiri malah &#8216;menganggur&#8217;.  Sebuah ironi.  Saya sendiri tidak pernah meminta untuk dipekerjakan di sana, meskipun ada jatah untuk anaknya, sebuah fasilitas dari perusahaan.  Saya hanya tidak suka mengekor kepada ayah saya, karena itu berarti saya harus menanggung beban nama baik ayah saya.  Dan saya juga tidak ingin jika suatu saat dibanding-bandingkan dengan beliau.  Terus terang saja, saya seringkali merasa bersalah setiap kali ada acara yang melibatkan banyak orang dan saya selalu kebingungan menjawab pertanyaan &#8220;<em>kerja di mana?</em>&#8220;.  Dan setiap kali itu juga, ayah berusaha &#8220;membela&#8221; saya, meskipun saya tahu, hatinya terusik.</p>
<p>Kedua, perusahaan tempat saya bekerja sekarang berlokasi di Bandung.  Dengan begitu, saya masih bisa tetap membantu teman-teman di SSG Cibeunying, saya masih bisa mengajar anak-anak jalanan, saya masih bisa lari pagi di SABUGA, masih bisa shalat Jum&#8217;at di Salman, masih bisa ke Daarut Tauhiid, dll.  Meskipun, alokasi waktu untuk hal-hal tersebut akan berkurang.  Semua itu cukup mengganggu pikiran saya dalam menimbang-nimbang pengambilan keputusan.  Selain itu, rencana lainnya mudah-mudahan akan tetap berjalan sesuai keinginan.</p>
<p>Ketiga, Direktur perusahaan tempat saya bekerja sekarang ketika mewawancarai saya pernah mengatakan bahwa mereka akan mendorong karyawannya untuk berbisnis atau entrepreneur.  Ini yang kemudian membuat saya cukup tertarik dan bersedia untuk bekerja di sana.  Selain itu, di sana saya juga mendapatkan apa yang selama ini saya cari.  Juga peluang lain yang mungkin akan berguna di masa yang akan datang.  Termasuk peluang untuk &#8216;mengunjungi&#8217; kota-kota yang belum pernah saya kunjungi, karena biasanya <em>project</em> yang digarap berada di luar kota.  Oh, ya&#8230;satu lagi, suasana kekeluargaan di tempat kerja. <img src='http://mind.donnyreza.net/wp-includes/images/smilies/wink.png' alt=';-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Keempat, saya tetap berpeluang untuk memulai bisnis tanpa mengganggu pekerjaan di kantor.  Salah satu yang sedang coba saya garap bersama seorang teman SMA adalah sebuah toko online.  Kendalanya adalah saya dan Agus, teman tersebut, terpisah kota.  Saya di Bandung, Agus di Bogor.  <em>Domain name</em> sudah aktif, untuk <em>hosting</em> sementara menumpang di tempat blog ini.  Jika toko online ini berhasil, baru kemudian menyewa <em>hosting</em> sendiri.  Saat ini baru <em>trial and error</em>, mudah-mudahan bisa berhasil.  Akan tetapi web site belum bisa di launching karena saya dan Agus masih harus mendiskusikan soal produk.  Selain itu ada juga tawaran sebuah <em>project</em> dari mantan dosen saya.  Namun, hal ini masih dalam pertimbangan karena khawatir tidak bisa tergarap dan mengganggu pekerjaan sekarang.</p>
<p>Saya hanya berharap bahwa keputusan yang sudah diambil merupakan sebuah <em>win-win solution</em>.  Orang tua bisa tenang, saya masih bisa melakukan aktivitas-aktivitas yang saya suka, anak-anak jalanan masih bisa saya ajar, masih terlibat di SSG dan masih bisa nge-blog pastinya. :-p  Disamping itu, saya juga banyak belajar tentang bagaimana &#8217;sebaiknya&#8217; saya mengarahkan anak-anak saya nanti.  Utamanya dalam hal pilih-memilih jalan hidup.  Kecuali, tentu saja, saya tidak akan memberi peluang anak-anak saya untuk memilih agama selain Islam.  Otoriter memang, tapi saya akan merasa menjadi orang tua yang gagal jika suatu saat anak saya murtad.</p>
<p>Memang ada yang saya korbankan, tapi saya tahu, orang tua saya pun sudah berkorban cukup banyak.   Idealisme itu masih ada.  Tertanam kuat di hati, mewujud tekad dan sudah tidak sabar untuk merealisasikannya dalam tindakan nyata.</p>
<p>Link Terkait dari Blogger lain:</p>
<ul>
<li><a href="http://awandiga.blogspot.com/2008/03/beberapa-hal-memang-tidak-bisa.html" target="_blank">Beberapa Hal Memang Tidak Bisa Dipaksakan (Awandiga)</a></li>
<li><a href="http://thebloggah.blogspot.com/2008/01/ayahku-teladanku.html" target="_blank">Papahku Teladanku  (Agah Gagah Suragah nya Gah?!)</a></li>
</ul>
<p>C 1 H 3 U L 4 17 6.  080308. 07.30.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mind.donnyreza.net/08032008/belajar-bijak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>26</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dia yang Kurindu</title>
		<link>http://mind.donnyreza.net/03032008/dia-yang-kurindu/</link>
		<comments>http://mind.donnyreza.net/03032008/dia-yang-kurindu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Mar 2008 15:30:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Donny Reza</dc:creator>
				<category><![CDATA[Curhat]]></category>
		<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mind.donnyreza.net/03032008/dia-yang-kurindu/</guid>
		<description><![CDATA[Dia yang kurindu
yang bibirnya selalu menyebut asma-Nya
yang hatinya terpaut pada-Nya
yang hidupnya diabdikan untuk-Nya
Dia yang kurindu
yang cintanya adalah cinta-Nya
yang ridhanya adalah ridha-Nya
yang senyumnya adalah senyum-Nya
Dia yang kurindu
Muhammad sang terpercaya
shalawat dan salam untuknya
selalu&#8230;
Hmm, sudah berapa lama ya saya nggak nulis puisi? Lumayan lama rasanya.  Inspirasi awalnya  sebetulnya gara-gara kangen sama seorang manusia yang sudah lama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Dia yang kurindu<br />
yang bibirnya selalu menyebut asma-Nya<br />
yang hatinya terpaut pada-Nya<br />
yang hidupnya diabdikan untuk-Nya</p>
<p>Dia yang kurindu<br />
yang cintanya adalah cinta-Nya<br />
yang ridhanya adalah ridha-Nya<br />
yang senyumnya adalah senyum-Nya</p>
<p>Dia yang kurindu<br />
Muhammad sang terpercaya<br />
shalawat dan salam untuknya<br />
selalu&#8230;</p></blockquote>
<p>Hmm, sudah berapa lama ya saya nggak nulis puisi? Lumayan lama rasanya.  Inspirasi awalnya  sebetulnya gara-gara kangen sama seorang manusia yang sudah lama tidak pernah bertemu, hampir 2 tahun atau bahkan lebih.  Laki-laki atau perempuan? Ah, <em>nggak</em> penting&#8230;!! Bait pertama itu bercerita tentang manusia tersebut.  Namun, di tengah-tengah penulisan&#8230;saya jadi kepikiran Rasulullah SAW.  Ya, sudah&#8230;saya dedikasikan saja puisi itu untuk beliau.  Tadinya mau saya kasih judul &#8220;<strong>Ode Buat Rasulullah</strong>&#8220;, tapi merasa kurang cocok.  Ciri khas saya sekali.  <em>Too much repetition</em>.  Maklum lah, saya agak kesulitan berpuitis-puitis ria. Waktu puisi ini masih dalam proses, <a href="http://blogmoyo.wordpress.com" target="_blank">Catur</a> sempat melihatnya, karena ketika saya &#8216;tinggalkan&#8217; untuk istirahat, Catur main ke-kostan saya, tapi tidak ada komentar sama sekali.</p>
<p>Agak aneh juga sebetulnya, mengingat belakangan ini saya lebih sering mendengarkan musik rock.  Lho, apa hubungannya? Ya, jelas ada.  Biasanya musik berpengaruh terhadap kondisi jiwa.  Saya juga menulis puisi tersebut ditemani lagu-lagu dari <a href="http://dreamtheater.net" target="_blank">Dream Theater</a>, <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Liquid_Tension_Experiment" target="_blank">Liquid Tension Experiment (LTE)</a>, <a href="http://www.hoobastank.com/">Hoobastank</a> serta <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Linkin_Park">Linkin Park</a>.  Meskipun di tengah-tengah geberan musik mereka yang cadas dan eksploratif itu, saya juga menyelipkan lagu-lagu yang kontemplatif dari Opick, Chrisye dan Iwan Fals, lagu sunda Doel Sumbang, atau musik instrumental dari Budjana, Jubing Kristianto, String Quartet, Yanni dan instrumentalis lain yang tidak saya kenal.  Tidak ketinggalan juga Al-Matsurat, beberapa surat di Juz 30 dan ceramah-ceramah dari Athian Ali, Hussein Umar atau Adian Husaini.  Winamp disetel dengan mode <em>shuttle</em>, jadilah sebuah kombinasi bunyi-bunyian yang &#8216;aneh&#8217; dan <em>unpredictable</em>, penuh kejutan.</p>
<p>Menarik sebetulnya, sebuah cara untuk &#8216;mempermainkan&#8217; mood dan mengatasi kebosanan.  Coba saja rasakan sensasinya ketika setelah berbising-bising dengan musik rock instrumental berdurasi 16 menit semacam &#8220;<em>When The Water Break</em>&#8221; dari LTE, lalu mood anda diajak &#8216;melayang&#8217; oleh komposisinya Budjana, dan tiba-tiba anda diajak bertafakur oleh lirik-lirik semacam &#8220;Bila Waktu telah Berakhir&#8221; dari Opick, sebelum akhirnya telinga anda diajak &#8216;berlari&#8217; lagi mendengarkan lagu &#8220;<em>Home</em>&#8221; atau &#8220;<em>Forsaken</em>&#8221; dari Dream Theater.  Cara seperti ini, mungkin bisa juga digunakan sebagai latihan agar <a href="http://mind.donnyreza.net/23022008/jangan-terlalu-terkejut/">tidak mudah terkejut</a>. <img src='http://mind.donnyreza.net/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Puisi &#8220;Dia yang Kurindu&#8221; di atas dihasilkan di tengah-tengah suasana semacam itu.  Kalau bagi saya sih aneh, karena setahu saya, sebuah karya puisi biasanya tercipta di tengah-tengah suasana yang hening dan tenang.  Apalagi jika dalam puisi itu memuat unsur ke-ilahi-an, spiritualitas atau ajakan untuk berkontemplasi.  Jangan-jangan, hal semacam itu sudah biasa dan memang bukan hal yang aneh?  Kalau seperti itu, saya yang aneh&#8230;WEIRD!! :-p</p>
<p>S 3 K 3 L 0 4. 030308.  22.30</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mind.donnyreza.net/03032008/dia-yang-kurindu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>23</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ceritanya&#8230;</title>
		<link>http://mind.donnyreza.net/16022008/ceritanya/</link>
		<comments>http://mind.donnyreza.net/16022008/ceritanya/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Feb 2008 00:45:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Donny Reza</dc:creator>
				<category><![CDATA[Curhat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mind.donnyreza.net/16022008/ceritanya/</guid>
		<description><![CDATA[Sedang (sok) sibuk.  Belum bisa mengunjungi blog temen-temen yang biasa saya kunjungi.  Maafkan saya belum bisa kasih komentar :-)  Masih berusaha menyesuaikan diri dengan ritme aktivitas saya yang susah ditebak.  Masih dikejar-kejar deadline.  Sedang menyelesaikan wordpress theme pertama yang saya beri judul BlueSyndrom.   Sedang mengharu biru soalnya.  Sedang merasa bersalah gara-gara telat kirim tulisan.  Tapi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sedang (sok) sibuk.  Belum bisa mengunjungi blog temen-temen yang biasa saya kunjungi.  Maafkan saya belum bisa kasih komentar :-)  Masih berusaha menyesuaikan diri dengan ritme aktivitas saya yang susah ditebak.  Masih dikejar-kejar deadline.  Sedang menyelesaikan <em>wordpress theme</em> pertama yang saya beri judul BlueSyndrom.   Sedang mengharu biru soalnya.  Sedang merasa bersalah gara-gara telat kirim tulisan.  Tapi merasa senang juga bisa ikutan bantu-bantu penelitian.  Sedang bikin rancangan dan <em>mapping</em> untuk website tempat saya jadi kuli.  Sempat <em>shock</em> gara-gara <a href="http://blogmoyo.wordpress.com/" target="_blank">Catoer</a> <a href="http://blogmoyo.wordpress.com/2008/02/14/dari-sekeloa-sampai-cilaki-lewat-dago/" target="_blank">ngajak saya kencan malam minggu yang lalu</a>.  :-p Tiba-tiba kangen kota Jakarta dan berdesak-desakan di Kereta Ekonomi Jabotabek.  Duh, gawat ini mah namanya.  Sedang bingung juga, karena&#8230;karena&#8230;apa ya? hehe.  Lagi pengen nanya, &#8220;<strong>Mau?</strong>&#8221; <img src='http://mind.donnyreza.net/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> Berusaha meninggalkan jejak di hati &#8220;mereka&#8221;.  (Ouch, mereka?) Dan satu pertanyaan yang mengganjal di dalam pikiran saya, kenapa <em>sih</em> tokoh-tokoh komik bajunya cuma satu? Ada yang mau jawab? Bener-bener tulisan <em>nggak</em> penting ya?  Ini tandanya pikiran saya sedang tidak fokus, maklumi saja lah.  Dan, sebagai penutup&#8230;nikmati saja satu lirik dari salah satu lagu kesukaan saya berikut ini.</p>
<blockquote><p><em>Sungguh, aku minta&#8230;</em></p>
<p><em>Teruskanlah kau <strike>bernyanyi</strike> menulis,</em></p>
<p><em>kan <strike>kudengar</strike> kubaca itu pasti,</em></p>
<p><em>Teruskanlah kau <strike>bernyanyi</strike> menulis,</em></p>
<p><em>dan jangan <strike>lagu-mu</strike> tanganmu terhenti</em>.</p>
<p>(<strike>Nyanyianmu</strike> Tulisanmu &#8211; Iwan Fals &amp; Donny Reza) <img src='http://mind.donnyreza.net/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>NB: yang dicoret itu versi aslinya&#8230;haha.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mind.donnyreza.net/16022008/ceritanya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kejar Setoran</title>
		<link>http://mind.donnyreza.net/07022008/kejar-setoran/</link>
		<comments>http://mind.donnyreza.net/07022008/kejar-setoran/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Feb 2008 00:16:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Donny Reza</dc:creator>
				<category><![CDATA[Curhat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mind.donnyreza.net/07022008/kejar-setoran/</guid>
		<description><![CDATA[Ini hanya tulisan yang dibuat untuk mengisi agar blog ini tidak terkesan kosong.  Saya masih melakukan aktivitas blogging, tapi tidak terlalu intens dan kondisinya sedang kurang &#8216;nyaman&#8217; untuk menulis di blog.  Meskipun sebetulnya ada saja yang bisa saya tulis.  Ada project membuat buku lagi, kerjasama dengan Agus Hery dan Jalal.  Sebetulnya deadline-nya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ini hanya tulisan yang dibuat untuk mengisi agar blog ini tidak terkesan kosong.  Saya masih melakukan aktivitas <em>blogging</em>, tapi tidak terlalu intens dan kondisinya sedang kurang &#8216;nyaman&#8217; untuk menulis di blog.  Meskipun sebetulnya ada saja yang bisa saya tulis.  Ada <em>project</em> membuat buku lagi, kerjasama dengan <a href="http://edittag.blogspot.com" target="_blank">Agus Hery</a> dan <a href="http://d4j4l.blogspot.com" target="_blank">Jalal</a>.  Sebetulnya <em>deadline</em>-nya satu bulan, tapi karena saya keasyikan mengerjakan hal lain, jadinya sekarang kerepotan dan sedang &#8216;tancap gas&#8217; untuk menyelesaikan seluruh tulisan pada tanggal 15 Februari 2008 nanti.  Idealnya sih sebelum tanggal 15 harus sudah selesai, karena masih harus masuk tahap <em>editing</em>.  Saya harus menyelesaikan 10 artikel, masing-masing 5 halaman.  Ini merupakan <em>project</em> kedua yang saya kerjakan dengan sesama <em>blogger</em>, meskipun kalau dengan Jalal sebetulnya sudah kenal sebelum kami ke-edan-an ngeblog. <img src='http://mind.donnyreza.net/wp-includes/images/smilies/teeth.png' alt=':-D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Itu pula sebabnya, saya belum bisa memberikan 3 judul yang &#8216;diminta&#8217; untuk <em>project</em> buku lain yang ditawarkan oleh <a href="http://muhshodiq.wordpress.com" target="_blank">Kang Shodiq</a> kepada saya.  Maafkan saya ya, kang?!  Masih berminat kerjasama dengan saya kan? <img src='http://mind.donnyreza.net/wp-includes/images/smilies/teeth.png' alt=':-D' class='wp-smiley' /> Tidak bermaksud untuk mengabaikan niat baik tersebut, saya hanya belum terbiasa mengerjakan sesuatu secara bersamaan.  Insya Allah, setelah ini, saya akan &#8216;ngebut&#8217; lagi dengan rencana tersebut dan menyodorkan 3 judul tersebut.</p>
<p>Kabar baiknya, buku &#8220;<a href="http://www.qultummedia.com/index.php?option=content&amp;task=view&amp;id=224" target="_blank"><em>Istikharah Cinta: Cara Cerdas Mendapatkan Jodoh Ideal</em></a>&#8221; dimana saya terlibat didalamnya, sudah terbit.  Saya sampai terharu dan mata saya sempat berkaca-kaca ketika mendapati buku tersebut di toko buku Gramedia.  Apalagi setelah membuka buku tersebut dan menemukan nama saya di dalamnya.  Saya hanya menyumbang satu artikel di bab III, &#8220;<em>Matematika Jodoh dan Istikharah</em>&#8220;, sebuah tulisan kolaborasi antara saya dan Kang Shodiq.  Naskah awal dari saya, lalu Kang Shodiq yang memberikan koreksi, melengkapi dan tambahan di sana-sini.<br />
<center><img src="http://www.qultummedia.com/images/stories/IstikharahCinta_B.gif" alt="Istikharah Cinta" height="240" width="165" /></center>Selain saya, ada <a href="http://rumahkami.khabib.net/" target="_blank">Soraya Fadillah</a> dan <a href="http://lita.inirumahku.com" target="_blank">Lita Mariana</a> yang turut berkontribusi di buku ini.  Uniknya buku ini, karena keempat penulisnya tinggal di 4 kota yang berbeda.  Saya di Bandung, Kang Shodiq di Solo, Soraya di Vienna, dan Bu Lita di Jakarta.  Dengan kang Shodiq dan Soraya, saya tidak pernah bertemu fisik sama sekali.  Dengan Bu Lita, sebetulnya pernah sama-sama bergabung dan tercatat di kepengurusan <a href="http://ssg-online.uni.cc/blog/" target="_blank">SSG Wilayah Cibeunying</a>, hanya saja kami tidak pernah berkomunikasi sama sekali.  Hanya karena kang Adam pernah cerita soal Bu Lita saja, saya jadi &#8216;ngeh&#8217; kalau kami pernah seperjuangan.</p>
<p>Baiklah.  Memang hanya saya yang belum menikah diantara semua kontributor tersebut.  Ada beban berat di pundak saya ketika buku ini terbit.  Satu hal yang pasti, saya selalu berusaha untuk melakukan apa yang ditulis di buku tersebut.  &#8220;<em>Lihat apa yang dibicarakan, bukan siapa yang berbicara&#8230;</em>&#8220;, begitu kata Ali r.a.  Ketika menulis, sebetulnya saya sedang menasehati diri sendiri lewat tulisan tersebut.</p>
<p>Murah.  Hanya Rp.17500.  Masih lebih mahal pulsa yang &#8216;kita&#8217; habiskan tiap bulan.   Jadi, pada beli ya? ya? maksa niiiihhh&#8230;hehe.  Insya Allah, akan sangat bermanfaat sekali untuk orang-orang yang sedang mencari jodoh seperti saya.  Haha <img src='http://mind.donnyreza.net/wp-includes/images/smilies/teeth.png' alt=':-D' class='wp-smiley' /> </p>
<p><em>NB: </em></p>
<ul>
<li><em>Credit</em> untuk <a href="http://i-lovetherain.blogspot.com" target="_blank">Oci</a>, calon sarjana sastra Unpad, yang sudah bersedia membantu kami untuk mendapatkan <em>endorsment </em>dari M. Irfan Hidayatullah, ketua FLP Pusat, yang notabene adalah dosennya Oci di Fakultas Sastra Unpad.</li>
</ul>
<p>C 1 H 3 U L 4 17 6.  070208.  07.12.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mind.donnyreza.net/07022008/kejar-setoran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>40</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kangen&#8230;</title>
		<link>http://mind.donnyreza.net/26012008/kangen/</link>
		<comments>http://mind.donnyreza.net/26012008/kangen/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Jan 2008 19:25:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Donny Reza</dc:creator>
				<category><![CDATA[Curhat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mind.donnyreza.net/26012008/kangen/</guid>
		<description><![CDATA[Ingin pulang ke rumah.  Kangen wajah teduh Ayah saya dan obrolan &#8216;antara lelaki&#8217; dengannya.  Atau hanya sekedar duduk berdampingan, dalam hening.  Kangen udang goreng buatan Ibu saya.  Kangen tidur-tiduran di atas genting rumah di malam hari dan&#8230;memandang langit.  Saya tidak pernah bosan melakukannya, kadang sampai tertidur di atas genting.  Ingin bertemu sohib-sohib SMA, tidak lama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ingin pulang ke rumah.  Kangen wajah teduh Ayah saya dan obrolan &#8216;antara lelaki&#8217; dengannya.  Atau hanya sekedar duduk berdampingan, dalam hening.  Kangen udang goreng buatan Ibu saya.  Kangen tidur-tiduran di atas genting rumah di malam hari dan&#8230;memandang langit.  Saya tidak pernah bosan melakukannya, kadang sampai tertidur di atas genting.  Ingin bertemu sohib-sohib SMA, tidak lama lagi beberapa orang diantaranya akan menikah.  Biasanya, kalau sudah menikah, agak susah diajak kumpul-kumpul lagi.  Sekarang saja sudah agak sulit.</p>
<p>Ah, sejauh apa pun kita pergi, pada akhirnya hati kita akan kembali ke rumah juga.  Apalagi dengan ritme aktivitas saya yang sudah mulai tidak terarah dan tidak teratur seperti sekarang.  Bukan ingin berhenti, hanya ingin &#8216;menarik nafas&#8217; sejenak, sebelum berlari dan &#8216;bertarung&#8217; lagi dengan segala permasalahan hidup.  <em>Next week, i&#8217;m going to go to home</em>.</p>
<p>C 1 H 3 U L 4 17 6.  260801.  02.30.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mind.donnyreza.net/26012008/kangen/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
