Guitar Player

Curhat, SerbaSerbi June 22nd, 2008

Forgotten Guitar Player

Saya sedang merindukan bermain gitar. Terutama di waktu-waktu sedang sering menyendiri seperti sekarang. Setidaknya sudah hampir 4 tahun saya tidak benar-benar bermain gitar lagi. Pernah beberapa kali memegang gitar lagi, tapi tidak lama. Nyaris lupa dengan lagu-lagu yang pernah saya mainkan sejak SMP sampai awal-awal kuliah.

Saya pernah bermimpi menjadi seorang musisi. Tidak banyak yang tahu bahwa alasan saya memilih kuliah di Bandung sesungguhnya adalah untuk menjadi seorang musisi. Namun, justru setelah di Bandung, keinginan saya itu mulai terkikis. Saya merasa, dunia glamor, dunia panggung atau dunia hiburan, bukan dunia saya. Ada perasaan ketidaknyamanan dalam hati yang membuat saya memilih untuk tidak melanjutkan cita-cita tersebut.

Old Guitar Saya mulai bermain gitar sejak kelas 1 SMP. Alasan saya ingin belajar gitar karena rasanya cool dan macho kalau melihat para pemain gitar. Dan … sepertinya menyenangkan dikelilingi perempuan ketika bermain gitar. Saya tahu rasanya dan … memang menyenangkan. :setan1: Itu, duluuuu. Namun, sesungguhnya saya merasa nyaman saja ketika dalam suasana hati seperti apa pun bisa melampiaskannya melalui gitar. Ada yang bilang, saya terlihat lebih tampan dan tampak melankolis kalau sedang bermain gitar. (Huehehe, anda boleh muntah …!!)

Adalah sahabat-sahabat saya di SMP yang mengajari saya bermain gitar. Lagu pertama yang saya mainkan dengan lancar adalah “Kuberkhayal” dari Five Minutes yang waktu itu kemana-mana memakai sarung. Menyusul kemudian lagu “Kemesraan” dari Iwan Fals. Dari pergaulan dengan sahabat-sahabat saya, kemudian menyusul berbagai macam lagu lainnya yang bisa saya mainkan. Jadi, saya belajar secara otodidak.

Ketika SMA saya mulai membentuk Band dengan teman-teman sekelas. Namun, selama 3 tahun, hanya tiga kali naik panggung. Kelas 1 sekali, kelas 2 sekali dan kelas 3 sekali … alias setahun sekali. Pernah bergabung dengan beberapa band, dari yang paling hancur sampai yang sedikit lebih baik dari pada yang paling hancur :D . Dari yang pop-melankolis sampai yang nge-rock abis. Herdyan pernah latihan juga dengan saya. Ketika perpisahan kelas 3, saya jadi gitaris untuk membawakan 3 buah lagu dari Helloween, band rock asal Jerman. Saat itu saya sepanggung dengan Funky Kopral formasi awal, dimana Bondan Prakoso dan Onci “Ungu” masih tergabung didalamnya.

Saking tergila-gilanya ingin menjadi musisi, saya kemudian berlangganan tabloid musik. Saat itu ada Mumu (Muda Musika), tabloid musik yang terbit seminggu sekali. Saya pelajari tips-tips yang ada di tabloid tersebut. Jadilah saya orang yang agak melek soal musik saat itu.

Saat SMA Kelas 3, biasanya tiap kelas memiliki nama. Saya masuk ke kelas 3 IPA 3, yang diberi nama Xtreme (eXacta Three Milenium). Kebetulan saya bisa memainkan lagu “More Than Words” dari Extreme. Jadilah lagu tersebut sebagai lagu “kebangsaan” kelas tersebut dan termasuk lagu yang paling sering dinyanyikan bersama-sama. Sekarang, saya sudah lupa sama sekali dengan chord lagu tersebut.

Gitaris favorit saya adalah Dewa Budjana dan Pay, sementara gitaris luar negeri saya tergila-gila dengan permainan gitar John Petrucci. Sempat juga terpengaruh oleh Paul Gilbert dan Nuno Bettencourt. Saya sangat menyukai lagu instrumental bertajuk “Wanita” dan “Selamat Tidur … Sayang!” dari Budjana, serta “Lost Without You” dari John Petrucci. Beberapa bagian solo gitar John Petrucci di beberapa lagu Dream Theater dan Liquid Tension Experiment sampai membuat saya terkagum-kagum. Namun, sesungguhnya saya sangat ingin sekali bermain gitar seperti Naudo. Gitaris Spanyol kelahiran Brazil yang sudah bermain gitar sejak berumur 5 tahun.

Budjana petrucci02.jpg

Ketika mendengarkan musik, sesungguhnya bukan hanya gitar saja yang menjadi perhatian saya. Bass dan ketukan Drum serta permainan Keyboard atau Piano -jika ada- juga sering saya perhatikan. Saya sangat menyukai gaya permainan drum Ronald ketika masih tergabung di GIGI, terutama di album 3/4.

Pada dasarnya, saya menyukai segala jenis musik. Dari musik sunda sampai rock cadas. Akan tetapi, lagu-lagu yang saya suka adalah yang melodius dan tidak membosankan. Apa pun jenis musiknya. Terutama jika lagu tersebut agak menonjolkan kemampuan musisinya. Terlebih jika unsur gitarnya menonjol, terutama gitar akustik. Beberapa contoh lagu adalah “Have You Ever Really Loved a Woman” dari Bryan Adams, “Merepih Alam” versi Audy, “Khayalku” versi Chrisye dan Nicky Astria serta “The Spirit Carries On” dari Dream Theater. Entah mengapa, rasanya sulit sekali mendapati lagu-lagu Indonesia sekarang yang seperti itu.

Arrrggghhhh, sepertinya saya harus beli gitar lagi…

Bandung, 22 Juni 2008. 01.00

Daftar Gambar:

Popularity: 31% [?]

Link Terkait

No related posts

Rafling With Anak Jalanan

Aktifitas, Curhat April 6th, 2008

Alhamdulillah, salah satu program untuk membahagiakan anak-anak jalanan yang kami (SSG Daarut Tauhiid Wilayah Cibeunying) bina, berjalan dengan baik.

Hari Sabtu malam (5 April 2008) -ketika saya berada di warnet- Takwir (Ketua Wilayah) mengirim sms yang berisi pesan meminta bantuan untuk mengondisikan anak-anak jalanan bersiap-siap diberangkatkan ke Daarut Tauhiid hari Minggu Pagi (6 April 2008). Sayangnya saya tidak bisa ikut membantu pagi hari itu, karena sudah ada rencana di pagi hari. Lagipula, saya juga baru tahu ketika sms tersebut sampai ke HP saya.

Akan tetapi, saya tetap datang jam setengah 11 pagi, sudah sangat terlambat sebetulnya. Hari ini jadwal saya memang tidak terlalu padat, jadinya bisa datang. Ketika sampai di DT, saya langsung menuju area sentral 5, karena fasilitas rafling ada di sana. Area yang serba guna. Selain sebagai tempat parkir, bisa juga digunakan untuk futsal, syuting TV, kegiatan konser bahkan shalat.

Dari kejauhan saya melihat wajah-wajah yang sangat kenal. Sahabat-sahabat saya di SSG dan juga anak-anak jalanan tersebut, mereka semua berkumpul di bekat dinding rafling. Moment tersebut juga menjadi salah satu obat rindu bagi saya karena sudah hampir 1 bulan saya tidak pernah bertemu lagi dengan mereka.

Baru datang, saya langsung disuruh mendokumentasikan kegiatan tersebut. Untungnya, saya membawa kamera, meskipun ada juga kamera lain yang dibawa oleh teman saya. Beberapa hasilnya, bisa dilihat di bawah.

Raf_1

Salah satu Jargon DT yang dipasang di dinding rafling

 

 

 

Raf_2

Foto Agak Siluet :gaya:

 

 

Raf_3

Yeah, Jump!!

 

 

Raf_4

Situasi belajar-mengajar setelah rafling.

Biasanya di Ciroyom, khusus hari ini dipindahkan di DT.

 

 

Raf_5

Pribadi Tangguh Pantang Mengeluh…cenah!!

 

 

Raf_6
Langitnya cerah ya?!

 

Raf_7
Shalat Dzuhur berjama’ah

 

 Raf_7
Foto Bareng sebelum bubar.

 

Yah, begitulah.  Setelah shalat dzuhur dan makan siang bersama, kami membubarkan diri.  Anak-anak jalanan diantar ke Ciroyom kembali oleh Pak Ketua, Takwir yang rela mobil kijangnya sampai nyaris ceper gara-gara overload :-o .

Keinginan kami selanjutnya adalah mengajak anak-anak jalanan untuk bisa menikmati pengalaman ke Taman Safari atau Dufan.   Hanya saja kami sedang berusaha untuk mengumpulkan dana atau mencari donatur yang bersedia.  Mudah-mudahan ada yang bersedia.  Selain itu, keinginan terbesar kami adalah mengembalikan mereka ke orangtuanya.  Bagaimanapun, anak-anak tersebut masih memiliki hak pengasuhan yang lebih layak dari orang tua mereka.  Semoga saja.

Saya tidak langsung pulang.  Sempat melihat-lihat buku di SMM (Super Mini Market)  DT, kemudian saya mengejar shalat ashar berjama’ah di Salman.  Disanalah saya bertemu dengannya (siapa Don? oiyyy…siapa?!) :tweety1: , setelah hampir 2 tahun.  Sebetulnya bukan bertemu, hanya melihat.  Dia sedang bersama sahabat-sahabatnya.  Sebetulnya ingin menyapanya  :daah: , tapi…ah, sudahlah!  Lebih baik saya pulang saja.  Lagipula, melihatnya baik-baik saja sudah cukup membuat saya bahagia. :-)

Monumen.  060408. Maghrib.

NB:

  • 6 April…Happy Birthday Dad!! I Do Love You!
  • Nggak usah penasaran dengan orang di paragraf terakhir, nggak penting.  Lagian pake ditulis segala sih ya? bikin berantakan cerita aja… :bayinyengir:

Popularity: 100% [?]

Link Terkait

Mengaji Yes, Teler OK!
Re-Post
Wanita-Wanita Tangguh
Belajar Bijak
Tentang Wanita Berjilbab
Pekalah!
Jangan Terlalu Cepat Menyimpulkan
Total Football, Where Are You?
Ruang Kosong
Mau Kaya? Ngemis Aja!!

Senangkanlah Hatimu!

Curhat, IT Worlds March 18th, 2008

Assalamu ‘alaikum…

Apa kabar dunia blogger? :-D

Belakangan sedang kerja rodi, kerja romusa atau yang sejenisnya deh ;-). Sekarang ini waktu saya memang lebih banyak terpakai untuk pekerjaan, even in holiday. Sesuatu yang tidak terlalu saya sukai, tapi itulah tuntutan profesionalisme. Tidak boleh terganggu oleh like or dislike. Dulu saya sempat ‘nyindir’ orang lain, “masa sih nggak ada waktu buat menulis gara-gara kerja?“. Kenyataannya, saya merasakannya sekarang. Betapa nasib selalu dipergulirkan ya? Inginnya sih seperti om Budi Putra yang memilih untuk jadi seorang blogger profesional. Hanya saja, saya belum percaya diri untuk itu. :-D

Saya kerepotan juga jadi satu-satunya orang IT yang harus memberikan pencerahan dan melakukan perubahan di perusahaan tempat kerja saya sekarang. Sebetulnya sebuah tantangan juga, tantangan besar malah. Salah satunya yang ingin saya lakukan adalah meng-edukasi rekan-rekan kerja saya untuk mulai menggunakan produk-produk open source dan mulai melirik Linux daripada menggunakan “Windows Pirated Edition” seperti sekarang. Apalagi untuk level perusahaan, resikonya cukup besar juga. Masalahnya, saya pun belum sepenuhnya menggunakan produk-produk open source. Jadi, sebetulnya saya ingin ‘mengajak’ rekan-rekan untuk bersama-sama belajar menggunakan OSS (Open Source Software). Masalah lainnya, mayorits rekan saya adalah perempuan. Perlu diakui, Linux dan kawan-kawannya masih ‘milik’ kaum adam. Padahal sebetulnya tidak seperti itu juga. Sekarang sudah bukan zamannya lagi menggunakan Linux dengan command-line murni seperti awal-awal kemunculannya dulu.

Di tengah-tengah rasa suntuk akibat mengejar deadline pekerjaan, saya sempatkan diri untuk memberikan pencerahan kepada diri sendiri. Saya buka situs Hidayatullah, buka Catatan Akhir Pekan-nya Adian Husaini. Ada artikel dengan judul “Ilmu dan Kebahagiaan“, di dalamnya saya dapat kutipan dari bukunya HAMKA, “Tasauf Modern”.

Kalau engkau kaya, senangkanlah hatimu! Karena di hadapanmu terbentang kesempatan untuk mengerjakan yang sulit-sulit….

Dan jika engkau fakir miskin, senangkan pulalah hatimu! Karena engkau telah terlepas dari suatu penyakit jiwa, penyakit kesombongan yang selalu menimpa orang kaya. Senangkanlah hatimu karena tak ada orang yang akan hasad dan dengki kepada engkau lagi, lantaran kemiskinanmu…

Kalau engkau dilupakan orang, kurang masyhur, senangkan pulalah hatimu!

Karena lidah tidak banyak yang mencelamu, mulut tak banyak mencacatmu...”

Kalau tanah airmu dijajah atau dirimu diperbudak, senangkanlah hatimu! Sebab penjajahan dan perbudakan membuka jalan bagi bangsa yang terjajah atau diri yang diperbudak kepada perjuangan melepaskan diri dari belenggu.

Hehe. Saya punya bukunya, tapi belum masuk ke bagian kutipan tersebut. Pantas saja saya kurang ngeh.

Apalagi ya? Sudah dulu ah. Masih harus ngebut kejar deadline dan shalat maghrib dulu.

C 1 T 4 m 1 4 17 6. 61. 180308. 18.15.

NB: Buat Agah, sabar ya?! Insya Allah, saya akan tulis reviewnya ;-)

Popularity: 87% [?]

Link Terkait

Rindu Sekali
Seret Rezeki
Ceritanya…
Raja
Wanita-Wanita Tangguh
Pekalah!
Percik-percik Pikiran
Idul Adha 1428 H: Sebuah Catatan
Love, Faith & Freedom
Kangen…

Belajar Bijak

Curhat March 8th, 2008

Sebuah ‘benturan’ paradigma antara saya dan orang tua pada akhirnya memaksa saya untuk mengambil jalan tengah antara idealisme dan ekspektasi mereka. Ya, saya tidak terlalu bisa meyakinkan kedua orang tua saya perihal ‘jalan pedang’ yang ingin saya tempuh. Saya tidak terlalu menyalahkan mereka, bagaimana pun saya tetaplah ‘anak kecil’ di mata mereka. Mereka ingin yang terbaik bagi saya. Itu saja sudah cukup menjadi pembuktian cinta mereka yang tanpa akhir kepada saya. Pada akhirnya, saya ‘mengalah’. Mudah-mudahan itu pun menjadi bukti cinta saya pada mereka.

Dan, sungguh…hati saya sering luluh dan lidah kerap kali menjadi sangat kelu setiap kali beradu argumen dengan mereka perihal masalah tersebut. Terlebih dengan ayah saya yang tutur katanya halus, namun seringkali menghujam ke dalam hati dan berkali-kali membuat saya terdiam. Saya kenal sekali karakter ayah saya, karena saya mewarisi sebagian besar sifat-sifatnya. Hanya ketampanannya saja yang tidak saya warisi. Anehnya, adik bungsu saya yang mewarisi ketampanannya, tidak mewarisi sifat-sifatnya. Selama ini saya tidak pernah mendapati kata-kata kasar darinya. Dan kata-kata yang menghujam itu, saya tahu pasti berasal dari kelembutan hatinya. Lebih lembut daripada wanita-wanita yang saya kenal, termasuk ibu saya. Oleh sebab itu, beliau sangat dihormati oleh keluarganya, saudaranya, tetangganya dan atasan serta bawahan di tempatnya bekerja. Maka, saya tidak terlalu heran jika kemudian beliau bisa menjadi ‘jalan hidayah’ bagi beberapa orang yang dikenalnya, meskipun pengetahuan ayah saya terhadap agama sangat kurang. Bahkan sampai saat ini, beliau masih terbata-bata membaca Al-Quran.

Akan tetapi, justru ayah saya juga yang menjadi salah satu alasan kenapa saya tidak ingin menjalani hidup seperti yang dijalaninya. Bukan karena saya benci ayah saya, tapi justru karena saya sangat mencintainya. Ayah saya tipikal orang Indonesia pada umumnya. Kurang berani mengambil resiko dan lebih suka untuk berada di dalam comfort zone. Sifat yang menurun pada saya juga sebetulnya. Oleh sebab itu, sepanjang karirnya, beliau memilih untuk menjadi karyawan. Tidak terlalu tertarik untuk berbisnis, karena kapok setiap memulai bisnis selalu ditipu oleh rekan bisnisnya. Saya pun pernah senewen ketika mendengar cerita dari ibu bahwa ayah saya menolak tawaran untuk menjadi CEO di perusahaan tempatnya mengabdi, dan ditempatkan di China. Ketika saya konfirmasi kepada ayah saya, jawabnya “malas, terlalu jauh dan harus belajar bahasa China dulu, lagian sebentar lagi juga pensiun, sementara tanggung jawabnya juga besar“. Ketika saya sindir, “wah, pantas aja kita susah jadi orang kaya“. Beliau hanya tertawa saja.

Soal etos kerja dan loyalitas, saya tidak pernah meragukan beliau. Tentu bukan karena penilaian yang asal-asalan jika ayah saya pernah mendapat penghargaan sebagai “Manager Teladan” di sebuah perusahaan furniture terbesar di Indonesia, tempatnya bekerja selama hampir 20 tahun terakhir. Ketika saya tanya apa alasan perusahaan memberikan penghargaan itu, beliau hanya menjawab, “nggak tahu“. Ternyata, belakangan saya baru tahu kalau penghargaan itu diberikan karena pencapaiannya dalam memenuhi bahkan melebihi target produksi selama 1 tahun. Selain itu, saya juga menyaksikan dengan mata kepala sendiri betapa beliau sangat dekat dengan bawahan-bawahannya dan pembelaannya terhadap nasib bawahannya jika dirasa ada peraturan atau kebijakan perusahaan yang ‘merugikan’ karyawan.

Akan tetapi, entah kenapa ‘prestasi-prestasi’ yang telah dicapai ayah saya tersebut tidak pernah membuat saya ingin mengikuti jejaknya. Saya lebih tertarik untuk berbisnis meskipun saya tahu bahwa karakter yang saya warisi dari ayah terbukti menjadi ‘penghambat’ untuk terjun ke dunia bisnis. Saya terlalu perasa dan terlalu memikirkan perasaan orang lain, lemah dalam bernegosiasi, introvert dan cenderung menghindari konflik. Dan seperti ayah saya juga, perlu diakui bahwa saya juga kurang berani mengambil resiko. Itulah sebabnya, saya sedang belajar mengikis sifat-sifat yang menjadi hambatan tersebut.

Malapetaka itu datang beberapa minggu yang lalu, ketika paman saya menghubungi ayah saya dan menginformasikan bahwa institusi tempatnya bekerja membutuhkan banyak sarjana komputer. Jika diterima, maka saya akan berstatus menjadi PNS dan ditempatkan di Jakarta. Saya sebut malapetaka karena betapa pun menggiurkannya, menjadi PNS tidak pernah ada dalam daftar pekerjaan yang saya minati. Apalagi sampai ditempatkan di Jakarta, kota yang pernah membuat saya ’sakit’. Saya bisa gila jika kemudian mengikuti saran dari orang tua untuk melamar ke institusi tersebut dan sampai diterima.

Sementara itu, apa yang saya cita-citakan pun belum memberikan bukti apa-apa kepada orang tua. Saya malah ‘tersesat’ menjadi operator warnet, pedagang kaki lima atau menjadi tenaga outsourcing yang paling lama hanya 1 bulan. Hidup luntang-lantung, tidak jelas arah dan tujuan serta penghasilan yang pas-pasan. Meskipun, sejujurnya saya cukup menikmati hidup yang kurang mapan seperti itu. Lebih banyak kejutan dan lebih dinamis. Wajar jika kemudian orang tua resah dan sangat berharap pada saya untuk mencoba mengirim lamaran ke tempat paman saya tersebut. Oleh sebab itu, berkali-kali ayah saya menelpon dan meminta saya untuk mengirim lamaran ke tempat tersebut. Begitu pun sudah berkali-kali juga saya mengatakan bahwa saya sedang ada pekerjaan, meskipun bukan pekerjaan tetap. Akan tetapi, ayah saya tetap ‘memaksa’ untuk mengirim lamaran tersebut, karena apabila bekerja di sana, saya bisa lebih mapan. Bingung lah saya.

Saya benar-benar tidak tahu apa lagi yang harus dilakukan. Satu-satunya cara yang terpikir adalah saya harus dapat pekerjaan dalam waktu 1 minggu. Dengan begitu, orang tua saya tidak akan terlalu resah. Tapi, kerja di mana? Sementara sudah setahun lebih saya tidak pernah mengirim surat lamaran lagi karena sudah malas. Sampai akhirnya, saya nyaris saja ‘menyerah’ sebelum di ‘menit akhir’ pertolongan itu datang. Tepat di hari terakhir deadline yang saya tentukan. Telepon dari sebuah perusahaan meminta saya datang untuk wawancara. Padahal, lamaran ke perusahaan itu adalah lamaran terakhir yang saya kirim, satu tahun yang lalu. Esoknya saya datang dan diwawancara, langsung diterima hari itu juga dan besoknya dikirim tugas ke luar kota.

Ada beberapa pertimbangan kenapa akhirnya saya memutuskan untuk back to office. Pertama, saya sangat menghormati ayah saya dan juga berusaha untuk menjaga kehormatannya. Saya berusaha memahami keresahan ayah saya. Sebagai seorang manager, sudah puluhan orang yang melalui bantuannya bisa masuk ke perusahaan tersebut. Tentunya akan menjadi beban pikirannya jika anaknya sendiri malah ‘menganggur’. Sebuah ironi. Saya sendiri tidak pernah meminta untuk dipekerjakan di sana, meskipun ada jatah untuk anaknya, sebuah fasilitas dari perusahaan. Saya hanya tidak suka mengekor kepada ayah saya, karena itu berarti saya harus menanggung beban nama baik ayah saya. Dan saya juga tidak ingin jika suatu saat dibanding-bandingkan dengan beliau. Terus terang saja, saya seringkali merasa bersalah setiap kali ada acara yang melibatkan banyak orang dan saya selalu kebingungan menjawab pertanyaan “kerja di mana?“. Dan setiap kali itu juga, ayah berusaha “membela” saya, meskipun saya tahu, hatinya terusik.

Kedua, perusahaan tempat saya bekerja sekarang berlokasi di Bandung. Dengan begitu, saya masih bisa tetap membantu teman-teman di SSG Cibeunying, saya masih bisa mengajar anak-anak jalanan, saya masih bisa lari pagi di SABUGA, masih bisa shalat Jum’at di Salman, masih bisa ke Daarut Tauhiid, dll. Meskipun, alokasi waktu untuk hal-hal tersebut akan berkurang. Semua itu cukup mengganggu pikiran saya dalam menimbang-nimbang pengambilan keputusan. Selain itu, rencana lainnya mudah-mudahan akan tetap berjalan sesuai keinginan.

Ketiga, Direktur perusahaan tempat saya bekerja sekarang ketika mewawancarai saya pernah mengatakan bahwa mereka akan mendorong karyawannya untuk berbisnis atau entrepreneur. Ini yang kemudian membuat saya cukup tertarik dan bersedia untuk bekerja di sana. Selain itu, di sana saya juga mendapatkan apa yang selama ini saya cari. Juga peluang lain yang mungkin akan berguna di masa yang akan datang. Termasuk peluang untuk ‘mengunjungi’ kota-kota yang belum pernah saya kunjungi, karena biasanya project yang digarap berada di luar kota. Oh, ya…satu lagi, suasana kekeluargaan di tempat kerja. ;-)

Keempat, saya tetap berpeluang untuk memulai bisnis tanpa mengganggu pekerjaan di kantor. Salah satu yang sedang coba saya garap bersama seorang teman SMA adalah sebuah toko online. Kendalanya adalah saya dan Agus, teman tersebut, terpisah kota. Saya di Bandung, Agus di Bogor. Domain name sudah aktif, untuk hosting sementara menumpang di tempat blog ini. Jika toko online ini berhasil, baru kemudian menyewa hosting sendiri. Saat ini baru trial and error, mudah-mudahan bisa berhasil. Akan tetapi web site belum bisa di launching karena saya dan Agus masih harus mendiskusikan soal produk.  Selain itu ada juga tawaran sebuah project dari mantan dosen saya. Namun, hal ini masih dalam pertimbangan karena khawatir tidak bisa tergarap dan mengganggu pekerjaan sekarang.

Saya hanya berharap bahwa keputusan yang sudah diambil merupakan sebuah win-win solution. Orang tua bisa tenang, saya masih bisa melakukan aktivitas-aktivitas yang saya suka, anak-anak jalanan masih bisa saya ajar, masih terlibat di SSG dan masih bisa nge-blog pastinya. :-p Disamping itu, saya juga banyak belajar tentang bagaimana ’sebaiknya’ saya mengarahkan anak-anak saya nanti. Utamanya dalam hal pilih-memilih jalan hidup. Kecuali, tentu saja, saya tidak akan memberi peluang anak-anak saya untuk memilih agama selain Islam. Otoriter memang, tapi saya akan merasa menjadi orang tua yang gagal jika suatu saat anak saya murtad.

Memang ada yang saya korbankan, tapi saya tahu, orang tua saya pun sudah berkorban cukup banyak. Idealisme itu masih ada. Tertanam kuat di hati, mewujud tekad dan sudah tidak sabar untuk merealisasikannya dalam tindakan nyata.

Link Terkait dari Blogger lain:

C 1 H 3 U L 4 17 6. 080308. 07.30.

Popularity: 97% [?]

Link Terkait

Sok Bijak
Re-Post
Ikut-ikutan Bikin Kaleidoskop-BlogTM
Buku Terjemahan dan Program Beasiswa Luar Negeri Sebagai Salah Satu Faktor Kemajuan Sebuah Bangsa
Jangan (Terlalu) Terkejut
Guitar Player
Mengaji Yes, Teler OK!
Lakukan Saja Pak Menteri!
Dunia di Pinggir Lapang
Seri Takdir

Dia yang Kurindu

Esai, Curhat, Puisi Cenah March 3rd, 2008

Dia yang kurindu
yang bibirnya selalu menyebut asma-Nya
yang hatinya terpaut pada-Nya
yang hidupnya diabdikan untuk-Nya

Dia yang kurindu
yang cintanya adalah cinta-Nya
yang ridhanya adalah ridha-Nya
yang senyumnya adalah senyum-Nya

Dia yang kurindu
Muhammad sang terpercaya
shalawat dan salam untuknya
selalu…

Hmm, sudah berapa lama ya saya nggak nulis puisi? Lumayan lama rasanya. Inspirasi awalnya sebetulnya gara-gara kangen sama seorang manusia yang sudah lama tidak pernah bertemu, hampir 2 tahun atau bahkan lebih. Laki-laki atau perempuan? Ah, nggak penting…!! Bait pertama itu bercerita tentang manusia tersebut. Namun, di tengah-tengah penulisan…saya jadi kepikiran Rasulullah SAW. Ya, sudah…saya dedikasikan saja puisi itu untuk beliau. Tadinya mau saya kasih judul “Ode Buat Rasulullah“, tapi merasa kurang cocok. Ciri khas saya sekali. Too much repetition. Maklum lah, saya agak kesulitan berpuitis-puitis ria. Waktu puisi ini masih dalam proses, Catur sempat melihatnya, karena ketika saya ‘tinggalkan’ untuk istirahat, Catur main ke-kostan saya, tapi tidak ada komentar sama sekali.

Agak aneh juga sebetulnya, mengingat belakangan ini saya lebih sering mendengarkan musik rock. Lho, apa hubungannya? Ya, jelas ada. Biasanya musik berpengaruh terhadap kondisi jiwa. Saya juga menulis puisi tersebut ditemani lagu-lagu dari Dream Theater, Liquid Tension Experiment (LTE), Hoobastank serta Linkin Park. Meskipun di tengah-tengah geberan musik mereka yang cadas dan eksploratif itu, saya juga menyelipkan lagu-lagu yang kontemplatif dari Opick, Chrisye dan Iwan Fals, lagu sunda Doel Sumbang, atau musik instrumental dari Budjana, Jubing Kristianto, String Quartet, Yanni dan instrumentalis lain yang tidak saya kenal. Tidak ketinggalan juga Al-Matsurat, beberapa surat di Juz 30 dan ceramah-ceramah dari Athian Ali, Hussein Umar atau Adian Husaini. Winamp disetel dengan mode shuttle, jadilah sebuah kombinasi bunyi-bunyian yang ‘aneh’ dan unpredictable, penuh kejutan.

Menarik sebetulnya, sebuah cara untuk ‘mempermainkan’ mood dan mengatasi kebosanan. Coba saja rasakan sensasinya ketika setelah berbising-bising dengan musik rock instrumental berdurasi 16 menit semacam “When The Water Break” dari LTE, lalu mood anda diajak ‘melayang’ oleh komposisinya Budjana, dan tiba-tiba anda diajak bertafakur oleh lirik-lirik semacam “Bila Waktu telah Berakhir” dari Opick, sebelum akhirnya telinga anda diajak ‘berlari’ lagi mendengarkan lagu “Home” atau “Forsaken” dari Dream Theater. Cara seperti ini, mungkin bisa juga digunakan sebagai latihan agar tidak mudah terkejut. :D

Puisi “Dia yang Kurindu” di atas dihasilkan di tengah-tengah suasana semacam itu. Kalau bagi saya sih aneh, karena setahu saya, sebuah karya puisi biasanya tercipta di tengah-tengah suasana yang hening dan tenang. Apalagi jika dalam puisi itu memuat unsur ke-ilahi-an, spiritualitas atau ajakan untuk berkontemplasi. Jangan-jangan, hal semacam itu sudah biasa dan memang bukan hal yang aneh? Kalau seperti itu, saya yang aneh…WEIRD!! :-p

S 3 K 3 L 0 4. 030308. 22.30

Popularity: 100% [?]

Link Terkait

No related posts