Category: Curhat (Page 1 of 4)

Serba-serbi Pilpres 2014: Sebuah Sikap

Dalam 3 kata, apa kesimpulan kang Donny tentang pilpres 2014?
Beautiful. Unethical. Dangerous.

Sebentar… kayaknya pernah denger…
Hahaha. Lucius Fox, The Dark Knight.

Jadi, yang sebenernya gimana?
Gak tahu juga :-))

Pandangan terhadap 4 orang capres-cawapres tersebut?
Kenyataan bahwa mereka menjadi capres-cawapres adalah sebuah bukti bahwa mereka termasuk orang-orang yang memiliki kelebihan dibandingkan orang kebanyakan di Indonesia. Namun, paling aman, dan menurut saya lebih mendekati adil adalah dengan melihat mereka sebagai manusia, yang punya kelebihan dan kekurangan. Tidak mengangkat ke level malaikat, atau menarik ke level setan. Secara pribadi, pada siapa pun, dengan jabatan apa pun, saya berusaha untuk selalu memandang setiap orang seperti melihat pada diri sendiri. Punya kelebihan, tapi sudah pasti ada kekurangan dan aib yang masih tersembunyi. Cara seperti ini yang saya yakini dapat lebih mendekatkan untuk bersikap adil.

Sejujurnya, komposisi capres+pendukungnya buat saya “enggak banget”, lebih mudah kalau misalnya Prabowo diusung partai pendukung Jokowi sekarang +ARB, dan Jokowi diusung pendukung Prabowo -ARB :v atau mungkin ada calon ke-3 😀

Jelasnya, setelah melihat kenyataan komposisi calon+pendukungnya, saya sudah menyiapkan mental untuk di-presiden-i oleh siapapun. Halah, kesannya kayak apa aja. Heuheu.

Read More

loading...

Anomali Konsumen

Judul yang aneh…

Dulu saya beranggapan bahwa perilaku konsumen itu mayoritas akan seperti saya semua. Cuek dan tidak ambil pusing dengan berbagai macam promosi atau iklan di majalah, televisi, dll. Akan tetapi, saya belakangan baru menyadari bahwa, jangan-jangan, saya merupakan sebuah anomali diantara konsumen. *Halah, dramatisir…!!*

Saya pernah bertanya pada sahabat saya, seorang pengusaha madu, perihal pengaruh iklan di beberapa majalah Islami di negeri ini. Besar pengaruhnya dalam hal penjualan, katanya. Sementara pada saat yang bersamaan -ketika itu- saya masih berfikir bahwa iklan-iklan di majalah atau tv itu hanya sekedar pengganggu pemanis saja. My fault, karena saya memang tidak pernah merasa peduli dengan iklan-iklan tersebut, lantas saya mengasumsikan bahwa orang lain akan sama dengan saya. Padahal, sudah jelas-jelas iklan itu berpengaruh besar, ya? Kalau tidak ada pengaruhnya, mana mungkin produk-produk itu mau memasang iklan dengan modal besar? Kamana wae atuh, Don?

Hehe. Bukan tidak tahu, hanya selama ini saya terlalu menggeneralisir orang lain dengan variabel yang melekat pada saya. Jadilah saya berpendapat bahwa sebetulnya mayoritas konsumen berpandangan seperti saya. Ternyata sekarang pikiran saya terbalik, jangan-jangan konsumen seperti saya adalah minoritas.

Saya tidak akan terlalu tergoda dengan kata-kata narsis dari iklan suatu produk. Dan saya juga malas melayani cuap-cuap orang marketing, salesman atau SPG perihal suatu produk. Saya merasa kurang nyaman saja dengan sesuatu yang dilebih-lebihkan. Pegangan saya hanya satu, there is no such thing as perfect product. Bahwa ada produk yang terbaik, benar. Akan tetapi, tidak ada produk yang sempurna. Masalahnya, yang menilai suatu produk itu terbaik adalah pengguna produk tersebut, bukan ‘orang dalam’ produk tersebut. Itu juga sebabnya saya tidak terlalu tertarik dengan MLM.

Akibatnya, saya tidak akan cerewet mengenai kekurangan-kekurangan suatu produk atau layanan yang diberikan dari pembelian produk tersebut. Misalnya, ketika suatu rumah makan terasa lama melayani dan hidangan belum muncul juga. Saya akan menunggu sampai makanan itu tiba, meski sesekali menanyakan perihal lamanya pelayanan tersebut. Agak sedikit kesal pastinya. Setelah makanan tiba, ya dimakan … sampai tuntas. Hanya barangkali, besok-besok saya tidak akan datang ke tempat makan itu lagi.

Kapok kah saya? Belum tentu. Saya agak pemaaf. Barangkali ada faktor lain yang menyebabkan lambatnya pelayanan, misalnya banyaknya pengunjung, kompor meleduk, kehabisan minyak tanah, dll. Saya ‘kan tidak tahu apa yang terjadi di balik dapur. Mungkin suatu saat saya akan datang ke tempat itu lagi, memesan makanan… then, wait and see. Jika pelayanan masih sama seperti dulu ketika saya pertama kali datang, maka itu berarti rumah makan tersebut tidak pernah melakukan evaluasi. Baru lah saya akan sangat malas untuk datang ke tempat itu lagi. Meskipun, bukan berarti saya tidak akan pernah datang lagi. Pintu maaf itu selalu terbuka. *Halah!!*

Kenapa tidak memberikan kritik? Saya kan sudah bilang, saya ini bukan tipikal konsumen cerewet. Apalagi sampai menyebarkan suatu kejadian di surat pembaca media massa. Selama ‘kerugian’ yang saya alami masih bisa ditolerir, untuk apa juga dipermasalahkan?

Ekspektasi saya terhadap suatu produk juga tidak pernah berlebihan. Wajar-wajar saja. Dalam penggunaan nomor handphone misalnya, selama menggunakan operator yang saya gunakan bertahun-tahun, bukan berarti tidak ada gangguan. Pasti ada. Hanya saja, selama ini gangguan yang terjadi sifatnya sesekali. Tidak melulu ada gangguan. Toh, selama ini komunikasi saya dengan orang lain masih lancar-lancar saja. Memang ada sesekali spam, memang ada sesekali tulalit, memang ada saat sesekali sulit mengirim sms, akan tetapi selama hal tersebut tidak berkepanjangan, untuk apa juga dipermasalahkan?

Handphone? Apalagi… Anda akan kasihan melihat saya memegang dua buah handphone lama yang casing-nya sudah pecah-pecah, sudah low-bat dan sesekali perlu dibanting untuk menyalakannya. Ya, benar…dibanting!! Tapi, dibantingnya ke kasur :p Orangtua saya pernah mau membelikan yang baru, tapi saya berakting menolaknya, dengan alasan agar digunakan untuk keperluan yang lain saja. Saya juga bukan tidak pernah dikritik oleh teman-teman saya perihal handphone tersebut. Akan tetapi, selama ini kebutuhan saya akan komunikasi telepon dan sms masih tercukupi, kok. Jadi, buat apa juga beli yang baru? Meskipun kalau melihat handphone-handphone terbaru, ngiler juga melihatnya :))

Dalam membeli suatu produk, saya adalah tipikal konsumen yang lebih menyukai kebebasan untuk memilih. Paling malas jika sudah didekati, ditanya-tanya apalagi sampai diikuti oleh penjaga toko. Percayalah, saya akan langsung pergi jika dibegitukan. Apalagi jika secara tiba-tiba saya didekati dan ditawari suatu produk tertentu, seringnya saya cuekin atau saya tinggalkan. Ini berbeda sekali dengan salah seorang sahabat saya. Dia justru paling suka dengan cara seperti itu. Merasa lebih dilayani, katanya. Sementara buat saya, rese namanya. Biarkan saja saya berkeliaran di toko, saya tidak akan pernah mencuri. Kalau cocok pasti saya beli, kalau tidak cocok pergi lagi.

Barangkali itu lah sebabnya toko buku seperti Gramedia dan BBC di Bandung membuat saya nyaman. Saya merasakan kebebasan untuk memilih dan saya juga bisa datang dan pergi sesuka hati saya. Feels like home. Tentu saja rumah saya ukurannya, karena di rumah saya tidak ada yang suka tiba-tiba mendekati, bertanya-tanya dan promosi produk seperti di mall-mall. :p

Oleh sebab itu, sebelum membeli suatu produk -biasanya elektronik- saya akan mengumpulkan informasi dulu sebanyak-banyaknya. Termasuk juga testimoni dari mereka yang pernah menggunakan produk tersebut. Kemudian, cari tahu di mana saya bisa mendapatkannya. Lantas lakukan perbandingan harga diantara beberapa toko. Syukur-syukur jika harga produk tersebut sudah bisa ditemukan di depan toko, jadi saya tidak perlu menanyakan lagi ke penjaga toko. Atau jika tidak ada, lihat di brosur-brosur yang disediakan toko tersebut. Setelah itu … pulang. Ya, pulang … saya tidak akan membeli pada saat itu juga.

Besoknya atau lusa atau bahkan beberapa hari kemudian, saya datang lagi ke toko yang sudah saya tentukan untuk kemudian melakukan transaksi. Oleh sebab itu, pada hari ketika saya akan membeli produk tersebut, saya tidak pernah berlama-lama di tempat tersebut. Paling lama 15 menit. Barangkali kalau diilustrasikan, dialog yang sering saya lakukan setiap membeli produk adalah seperti ini:

Donny: “*nama produk* masih ada?

Penjaga Toko (PT): “Oh, ada …

Donny: “coba lihat, berapaan?

PT: “bla … bla …ribu rupiah.

Donny: “nggak bisa kurang?

PT: “aduh, nggak bisa euy!

Donny: “ya udah, saya beli satu.

Transaksi dilakukan.

Donny: “Oke, nuhun…

PT: “Sama-sama

Begitulah. Sederhana dan mudah saja bertransaksi dengan saya. 😀 Jika ada yang akan saya beli, maka saya akan fokus ke benda tersebut. Tidak ke yang lain-lain. Buat saya, sebelum membeli suatu produk, saya harus tahu dengan pasti berapa harganya dan tempat mana yang harus saya tuju untuk mendapatkan produk tersebut. Informasi yang saya butuhkan biasanya saya ambil dari brosur resmi atau website resmi produk tersebut.

Memang, pada akhirnya informasi yang saya dapat dari iklan juga, tapi jika iklan tersebut memuat spesifikasi fitur dari produk tersebut. Ditambah review dari orang-orang yang pernah menggunakan, dengan begitu saya juga akan tahu apa yang menjadi kekurangan dari produk tersebut. Jika ingin produknya saya beli, tidak cukup dengan hanya ‘menceritakan’ kelebihan produk tersebut, tapi juga harus mau menceritakan kekurangannya. Akan tetapi, marketing mana yang mau melakukan itu ya? :))

Dicolek Malaikat Maut

Gila.  Saya baru 2 bulan mengendarai motor di jalanan, tapi sudah berkali-kali ‘dicolek’ sama kematian.  Untungnya, malaikat maut baru ‘nyolek’, belum sampai benar-benar mencabut nyawa.  Jalanan memang mengerikan, kematian mengintai di mana-mana jika saja tidak berhati-hati dan kondisi kendaraan kita tidak baik.

Nyaris ditabrak angkot yang belok tanpa lampu sein.  Nyaris menabrak motor yang berjalan zig-zag.  Nyaris ditabrak truk gara-gara saya mengira truk tersebut akan lurus karena tanpa sein, tapi ternyata belok ke kiri.  Dan hampir-hampir ‘bergesekan’ dengan sesama motor yang ketika akan saya susul, motor tersebut malah berbelok ke kanan dan, lagi-lagi, tanpa sein.  Duh!!  Betapa pentingnya lampu sein bukan?!

Dan kalau saja saya jahat, ingin sekali rasanya menendang pengendara motor yang berkendaraan sambil menelpon.  Bikin kagok karena dengan tidak sadar mengendarai motor secara zig-zag.

Berdasarkan’pengamatan’ langsung, secara garis besar pembuat kekacauan di jalanan adalah; pertama, angkutan umum.  Segala jenis angkutan umum.  Kedua, motor, yang berarti saya juga termasuk di dalamnya.  Perilaku sopir angkutan umum di Indonesia memang sangat mengesalkan.  Ngetem seenaknya, berhenti mendadak.  Kalau perlu ketika melihat calon penumpang, berhenti saat itu juga.  Dan saya selalu waspada tiap kali di depan saya adalah angkutan umum.

Pengendara motor, kadang lebih gila lagi.  Karena ukurannya yang kecil dan bisa masuk ke celah-celah kemacetan, seringkali jadi bikin jalanan tambah ruwet.  Dan banyak sekali saya temukan, di tengah kemacetan semacam itu, dijadikan ajang pamer kebolehan karena bisa kebut-kebutan di tengah kemacetan.  Belum lagi jika motor tersebut menggunakan knalpot yang membuat cekak telinga.  Lengkap sudah kekacauan tersebut.

Rupanya banyak saya temukan pengendara yang tidak mau standar-standar saja.  Artinya, pengendara tersebut ingin kelihatan berbeda dengan yang lain.  Maka, knalpot dibuat berisik, lampu dibuat terang sekali, kalau perlu lampu kabut dipasang, sampai-sampai menyilaukan pengendara dari arah berlawanan.  Masa bodoh dengan keamanan dan keselamatan diri dan orang lain.  Saya bingung, eksistensi diri semacam apa yang ingin dicari di jalanan? Kawan saya mengatakan orang-orang tersebut egois, dan saya sepakat.

Saya merasa lebih nyaman justru ketika melakukan perjalanan ke luar kota karena kendaraan cenderung tidak lebih padat dibandingkan di dalam kota.  Di Bandung, saya paling grogi ketika memasuki daerah Cimahi sampai Padalarang.  Juga di jalan Soekarno-Hatta.  Stress sekali rasanya karena banyaknya motor di jalan-jalan tersebut.

Barangkali memang benar kata ayah saya, setiap orang bisa ngebut, tapi tidak setiap orang bisa membawa kendaraannya pelan-pelan.  Sebab membawa kendaraan pelan-pelan lebih banyak menuntut kesabaran.  Itulah sebabnya di kursus-kursus mengemudi, orang diajari pelan-pelan dulu, tidak langsung ngebut.  Kalau ngebut, orang tidak perlu diajari, cuma perlu keberanian untuk mengambil resiko saja.  Sementara, tidak banyak orang yang mau memberi kesempatan kendaraan lain berbelok atau orang lain menyeberang.

Berikut, daftar pelanggaran yang sering saya temukan di jalanan:

  • Belok tanpa sein
  • Melanggar Lampu Merah, saya belum pernah menemukan pelanggaran terhadap lampu hijau soalnya :p
  • Menyusul dari kanan ketika akan berbelok ke kiri, ini akan mengagetkan pengendara yang disusul
  • Melawan arah untuk mengambil jalan pintas
  • Menelpon saat mengendarai motor
  • Dll, anda sebutkan saja 😀

CTM61.240708.12.00.

Guitar Player

Forgotten Guitar Player

Saya sedang merindukan bermain gitar. Terutama di waktu-waktu sedang sering menyendiri seperti sekarang. Setidaknya sudah hampir 4 tahun saya tidak benar-benar bermain gitar lagi. Pernah beberapa kali memegang gitar lagi, tapi tidak lama. Nyaris lupa dengan lagu-lagu yang pernah saya mainkan sejak SMP sampai awal-awal kuliah.

Saya pernah bermimpi menjadi seorang musisi. Tidak banyak yang tahu bahwa alasan saya memilih kuliah di Bandung sesungguhnya adalah untuk menjadi seorang musisi. Namun, justru setelah di Bandung, keinginan saya itu mulai terkikis. Saya merasa, dunia glamor, dunia panggung atau dunia hiburan, bukan dunia saya. Ada perasaan ketidaknyamanan dalam hati yang membuat saya memilih untuk tidak melanjutkan cita-cita tersebut.

Old Guitar Saya mulai bermain gitar sejak kelas 1 SMP. Alasan saya ingin belajar gitar karena rasanya cool dan macho kalau melihat para pemain gitar. Dan … sepertinya menyenangkan dikelilingi perempuan ketika bermain gitar. Saya tahu rasanya dan … memang menyenangkan. :setan1: Itu, duluuuu. Namun, sesungguhnya saya merasa nyaman saja ketika dalam suasana hati seperti apa pun bisa melampiaskannya melalui gitar. Ada yang bilang, saya terlihat lebih tampan dan tampak melankolis kalau sedang bermain gitar. (Huehehe, anda boleh muntah …!!)

Adalah sahabat-sahabat saya di SMP yang mengajari saya bermain gitar. Lagu pertama yang saya mainkan dengan lancar adalah “Kuberkhayal” dari Five Minutes yang waktu itu kemana-mana memakai sarung. Menyusul kemudian lagu “Kemesraan” dari Iwan Fals. Dari pergaulan dengan sahabat-sahabat saya, kemudian menyusul berbagai macam lagu lainnya yang bisa saya mainkan. Jadi, saya belajar secara otodidak.

Ketika SMA saya mulai membentuk Band dengan teman-teman sekelas. Namun, selama 3 tahun, hanya tiga kali naik panggung. Kelas 1 sekali, kelas 2 sekali dan kelas 3 sekali … alias setahun sekali. Pernah bergabung dengan beberapa band, dari yang paling hancur sampai yang sedikit lebih baik dari pada yang paling hancur 😀 . Dari yang pop-melankolis sampai yang nge-rock abis. Herdyan pernah latihan juga dengan saya. Ketika perpisahan kelas 3, saya jadi gitaris untuk membawakan 3 buah lagu dari Helloween, band rock asal Jerman. Saat itu saya sepanggung dengan Funky Kopral formasi awal, dimana Bondan Prakoso dan Onci “Ungu” masih tergabung didalamnya.

Saking tergila-gilanya ingin menjadi musisi, saya kemudian berlangganan tabloid musik. Saat itu ada Mumu (Muda Musika), tabloid musik yang terbit seminggu sekali. Saya pelajari tips-tips yang ada di tabloid tersebut. Jadilah saya orang yang agak melek soal musik saat itu.

Saat SMA Kelas 3, biasanya tiap kelas memiliki nama. Saya masuk ke kelas 3 IPA 3, yang diberi nama Xtreme (eXacta Three Milenium). Kebetulan saya bisa memainkan lagu “More Than Words” dari Extreme. Jadilah lagu tersebut sebagai lagu “kebangsaan” kelas tersebut dan termasuk lagu yang paling sering dinyanyikan bersama-sama. Sekarang, saya sudah lupa sama sekali dengan chord lagu tersebut.

Gitaris favorit saya adalah Dewa Budjana dan Pay, sementara gitaris luar negeri saya tergila-gila dengan permainan gitar John Petrucci. Sempat juga terpengaruh oleh Paul Gilbert dan Nuno Bettencourt. Saya sangat menyukai lagu instrumental bertajuk “Wanita” dan “Selamat Tidur … Sayang!” dari Budjana, serta “Lost Without You” dari John Petrucci. Beberapa bagian solo gitar John Petrucci di beberapa lagu Dream Theater dan Liquid Tension Experiment sampai membuat saya terkagum-kagum. Namun, sesungguhnya saya sangat ingin sekali bermain gitar seperti Naudo. Gitaris Spanyol kelahiran Brazil yang sudah bermain gitar sejak berumur 5 tahun.

Budjana petrucci02.jpg

Ketika mendengarkan musik, sesungguhnya bukan hanya gitar saja yang menjadi perhatian saya. Bass dan ketukan Drum serta permainan Keyboard atau Piano -jika ada- juga sering saya perhatikan. Saya sangat menyukai gaya permainan drum Ronald ketika masih tergabung di GIGI, terutama di album 3/4.

Pada dasarnya, saya menyukai segala jenis musik. Dari musik sunda sampai rock cadas. Akan tetapi, lagu-lagu yang saya suka adalah yang melodius dan tidak membosankan. Apa pun jenis musiknya. Terutama jika lagu tersebut agak menonjolkan kemampuan musisinya. Terlebih jika unsur gitarnya menonjol, terutama gitar akustik. Beberapa contoh lagu adalah “Have You Ever Really Loved a Woman” dari Bryan Adams, “Merepih Alam” versi Audy, “Khayalku” versi Chrisye dan Nicky Astria serta “The Spirit Carries On” dari Dream Theater. Entah mengapa, rasanya sulit sekali mendapati lagu-lagu Indonesia sekarang yang seperti itu.

Arrrggghhhh, sepertinya saya harus beli gitar lagi…

Bandung, 22 Juni 2008. 01.00

Daftar Gambar:

Rafling With Anak Jalanan

Alhamdulillah, salah satu program untuk membahagiakan anak-anak jalanan yang kami (SSG Daarut Tauhiid Wilayah Cibeunying) bina, berjalan dengan baik.

Hari Sabtu malam (5 April 2008) -ketika saya berada di warnet- Takwir (Ketua Wilayah) mengirim sms yang berisi pesan meminta bantuan untuk mengondisikan anak-anak jalanan bersiap-siap diberangkatkan ke Daarut Tauhiid hari Minggu Pagi (6 April 2008). Sayangnya saya tidak bisa ikut membantu pagi hari itu, karena sudah ada rencana di pagi hari. Lagipula, saya juga baru tahu ketika sms tersebut sampai ke HP saya.

Akan tetapi, saya tetap datang jam setengah 11 pagi, sudah sangat terlambat sebetulnya. Hari ini jadwal saya memang tidak terlalu padat, jadinya bisa datang. Ketika sampai di DT, saya langsung menuju area sentral 5, karena fasilitas rafling ada di sana. Area yang serba guna. Selain sebagai tempat parkir, bisa juga digunakan untuk futsal, syuting TV, kegiatan konser bahkan shalat.

Dari kejauhan saya melihat wajah-wajah yang sangat kenal. Sahabat-sahabat saya di SSG dan juga anak-anak jalanan tersebut, mereka semua berkumpul di bekat dinding rafling. Moment tersebut juga menjadi salah satu obat rindu bagi saya karena sudah hampir 1 bulan saya tidak pernah bertemu lagi dengan mereka.

Baru datang, saya langsung disuruh mendokumentasikan kegiatan tersebut. Untungnya, saya membawa kamera, meskipun ada juga kamera lain yang dibawa oleh teman saya. Beberapa hasilnya, bisa dilihat di bawah.

Raf_1

Salah satu Jargon DT yang dipasang di dinding rafling

 

 

 

Raf_2

Foto Agak Siluet :gaya:

 

 

Raf_3

Yeah, Jump!!

 

 

Raf_4

Situasi belajar-mengajar setelah rafling.

Biasanya di Ciroyom, khusus hari ini dipindahkan di DT.

 

 

Raf_5

Pribadi Tangguh Pantang Mengeluh…cenah!!

 

 

Raf_6
Langitnya cerah ya?!

 

Raf_7
Shalat Dzuhur berjama’ah

 

 Raf_7
Foto Bareng sebelum bubar.

 

Yah, begitulah.  Setelah shalat dzuhur dan makan siang bersama, kami membubarkan diri.  Anak-anak jalanan diantar ke Ciroyom kembali oleh Pak Ketua, Takwir yang rela mobil kijangnya sampai nyaris ceper gara-gara overload 😮 .

Keinginan kami selanjutnya adalah mengajak anak-anak jalanan untuk bisa menikmati pengalaman ke Taman Safari atau Dufan.   Hanya saja kami sedang berusaha untuk mengumpulkan dana atau mencari donatur yang bersedia.  Mudah-mudahan ada yang bersedia.  Selain itu, keinginan terbesar kami adalah mengembalikan mereka ke orangtuanya.  Bagaimanapun, anak-anak tersebut masih memiliki hak pengasuhan yang lebih layak dari orang tua mereka.  Semoga saja.

Saya tidak langsung pulang.  Sempat melihat-lihat buku di SMM (Super Mini Market)  DT, kemudian saya mengejar shalat ashar berjama’ah di Salman.  Disanalah saya bertemu dengannya (siapa Don? oiyyy…siapa?!) :tweety1: , setelah hampir 2 tahun.  Sebetulnya bukan bertemu, hanya melihat.  Dia sedang bersama sahabat-sahabatnya.  Sebetulnya ingin menyapanya  :daah: , tapi…ah, sudahlah!  Lebih baik saya pulang saja.  Lagipula, melihatnya baik-baik saja sudah cukup membuat saya bahagia. 🙂

Monumen.  060408. Maghrib.

NB:

  • 6 April…Happy Birthday Dad!! I Do Love You!
  • Nggak usah penasaran dengan orang di paragraf terakhir, nggak penting.  Lagian pake ditulis segala sih ya? bikin berantakan cerita aja… :bayinyengir:

Page 1 of 4

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén