mind.donnyreza.net

Category: Artikel Page 3 of 6

The Art of Decision Making

Ada saat dimana mengambil sebuah keputusan bukan hal yang mudah.  Bahkan menjadi teramat sulit.  Kesulitannya bukan pada bagaimana keputusan itu diambil atau keputusan apa yang akan diambil.  Akan tetapi, lebih kepada apa dampak yang mungkin timbul ketika suatu keputusan diambil.  Apalagi jika hal tersebut berhubungan dengan masa depan kita, atau bahkan nasib seseorang atau orang lain.  Persoalannya, pikiran-pikiran buruk tentang dampak yang akan timbul setelah keputusan diambil lebih sering terbayang-bayang daripada hal-hal baik yang mungkin terjadi.

DomaiNesia

Keputusan untuk berhenti kerja atau menikah, misalnya, adakalanya menjadi sangat rumit.  Muncul macam-macam pertimbangan yang sebetulnya hanya ketakutan-ketakutan saja.  Takut susah dapat pekerjaan lain, takut susah memberi makan anak dan istri, dan lain-lain.  Sementara pada saat yang bersamaan, hati dan pikiran sudah tidak ada di tempat kerja sekarang.  Resah, mengawang kemana-mana.  Sudah tidak nyaman, sudah tidak fokus lagi.  Sehingga, akhirnya, kinerja semakin menurun tapi takut untuk keluar dari pekerjaan yang sudah tidak bisa dinikmati lagi.

Situasi seperti sekarang, dimana banyak perusahaan kolaps akibat krisis ekonomi dan terjadi PHK dimana-mana, membuat keputusan untuk keluar dari tempat kerja menjadi semakin sulit.  Jangan-jangan, tidak ada lowongan di tempat lain yang akan menerima kita.  Sementara untuk membuka usaha sendiri belum mampu, skill juga pas-pasan dan pengalaman kerja juga belum banyak.

Anda mungkin pernah ada dalam situasi dimana anda tidak pernah benar-benar bisa menikmati apa yang sedang anda kerjakan.  Akan tetapi, tuntutan kebutuhan untuk bertahan hidup membuat anda tetap bertahan melakukan pekerjaan tersebut.  Bagaimanapun memuakan, stressfull dan membosankannya pekerjaan tersebut, anda tetap bertahan. Bahkan untuk mencari pekerjaan lain pun anda tidak sempat, karena waktu anda habis tercurah untuk pekerjaan sekarang.   Meskipun ketika anda bekerja, anda tidak merasakan apa yang disebut dengan antusiasme, passion, with pleasure, apalagi cinta.  Padahal itu merupakan faktor paling penting anda bisa bekerja dengan baik dan bersungguh-sungguh.  Akhirnya, anda mengeluh terus setiap bekerja.  Ketika mengeluh sudah menjadi bagian pekerjaan anda setiap saat, bisa dipastikan anda sudah tidak nyaman dengan pekerjaan anda.

Berhenti saja!“, Itu yang sering saya katakan kepada orang lain jika ada yang curhat tentang hal semacam itu.  Tentunya kepada diri sendiri juga.  Beberapa kali juga saya mengatakan kalau memang sudah tidak bisa merasa bahagia dengan apa yang dikerjakan sekarang, untuk apalagi dipertahankan?  Soal besok kerja apa? kerja dimana? makan apa? Itu urusan besok, bukan sekarang.  Anda kan tidak tahu apa besok masih hidup atau tidak?  Anda juga tidak pernah benar-benar tahu tempat bekerja anda sekarang akan  bertahan atau tidak esok pagi?  Daripada menyiksa diri terus-menerus, ya sudah, berhenti saja.  Jika dengan berhenti dari tempat kerja sekarang membuat bahagia, lakukan saja! Besok-besok, jika masih hidup, berusaha lagi saja mencari tempat kerja lain, yang bisa anda nikmati, yang bisa anda cintai.

Ekstrim? mungkin. Akan tetapi, dengan argumen semacam itu, setidaknya sudah dua orang yang terpengaruh dan memutuskan untuk berhenti bekerja dari tempat kerjanya dengan alasan sudah tidak nyaman lagi.  Toh, kenyataannya mereka masih hidup sampai sekarang.  Terlepas dari apakah mereka bahagia dengan kehidupannya yang sekarang atau tidak.  Setidaknya, satu beban pikiran sudah lepas, daripada sepanjang hidup dibebani oleh hal semacam itu terus menerus.

Tidak perlu menunggu “waktu yang tepat”, sebab barangkali apa yang disebut dengan waktu yang tepat itu tidak pernah ada.  Anda lah yang menciptakan waktu yang tepat itu untuk anda sendiri.  Bukan orang lain, bukan situasi tempat kerja anda, bukan juga manajemen perusahaan.  Seburuk apa pun situasinya, atau bahkan sepenting apa pun posisi anda di perusahaan, waktu yang tepat itu anda yang tentukan.  Sebab, jika tidak begitu, anda akan terus terseret dan semakin larut bahkan dibebani pekerjaan yang tidak anda sukai setiap saat.  Orang lain atau manajeman bahkan akan merasa tidak perlu dan tidak ingin tahu kalau anda suka atau tidak dengan pekerjaan itu.  Buat mereka, profesionalisme anda yang dituntut, sebab anda digaji untuk itu.  Masa bodoh anda suka atau tidak dengan tugas yang dibebankan kepada anda.

Tidak perlu juga merasa kasihan kepada orang-orang yang akan anda tinggalkan di tempat kerja.  Percayalah, mereka juga tidak akan merasa kasihan kepada anda jika menyangkut urusan pekerjaan.  Tega sajalah! Jika tidak begitu, anda yang ditegai, sebab -sekali lagi- profesionalisme anda yang dituntut.  Anda juga tidak bisa mengharapkan orang memahami perasaan anda, karena orang lain juga barangkali memiliki masalah yang sama atau bahkan lebih berat daripada anda.

Sungguh sangat merugi jika sepanjang hidup anda dihabiskan dengan hal-hal yang membuat anda tidak bisa merasakan hidup itu sendiri.  Jika selama ini anda sudah berusaha untuk berdamai dengan apa yang anda lakukan, dan masih sulit atau bahkan tidak bisa juga merasakan kebahagiaan, sudah saatnya anda berhenti melakukannya.  Cari hal lain yang bisa anda lakukan, dan anda senang melakukannya.  Jika masih belum dapat juga, teruskan melakukan pencarian.  Itu lebih baik daripada anda terjebak dalam sesuatu yang anda benci dan menghabiskan banyak waktu untuk memikirkan bahkan mengeluhkannya.

Saya sih percaya satu hal.  Pemberi rezeki itu bukan manusia, ada Allah SWT  yang Maha Pemberi Rezeki.  Dia yang lebih kaya daripada manusia.  Kekayaan manusia itu tidak ada ‘seujungkukunya’ kekayaan Allah SWT.  Saya juga sangat yakin bahwa pintu rezeki yang Allah miliki tidak hanya satu, tapi ribuan atau bahkan jutaan pintu rezeki.  Maka, ketika kita meninggalkan satu pintu rezeki, yang sesungguhnya kita lakukan adalah membuka peluang pada diri sendiri untuk bisa membuka pintu yang lain, bahkan tidak hanya satu pintu, tapi juga berpintu-pintu.  Hanya saja, ada pintu yang perlu usaha keras untuk membukanya, ada juga yang sangat mudah membukanya.  Ada pintu yang memberi rezeki banyak, ada juga yang tidak.  Jika anda sudah sangat yakin bahwa Allah SWT akan tetap memberikan rezekinya sepanjang hidup anda, apa lagi yang perlu anda takuti?

Web Hosting

NB: Kamu memintaku untuk menuliskan sesuatu, inilah yang bisa kutuliskan.  Tidak banyak … tapi barangkali bisa memberikan arti 🙂

Jakarta

Sebetulnya, bagi saya selama ini, nyaris tidak ada satu pun hal yang menarik dari kota Jakarta. Satu-satunya yang saya suka adalah kerlap-kerlip lampu yang mewarnai Jakarta di malam hari. Itu saja.

Ah, ya … Jakarta memang menawarkan mimpi dan harapan. Pusat bisnis di Indonesia, sudah pasti Jakarta. Perputaran uang terbesar di Indonesia ada di Kota ini, yang zaman VOC berkuasa lebih dikenal sebagai Batavia. Semua fasilitas, ada di Jakarta. Gaji pegawai di sini, lebih besar dari kota lain. Meskipun, berbanding lurus juga dengan kebutuhan untuk hidup di Jakarta.

Bukan suatu kebetulan Jakarta menjadi Ibukota Indonesia, sebab sejak zaman Hindia Belanda, Batavia sudah menjadi pusat pemerintahan. Dan tidak tergantikan meskipun Jepang berhasil menguasai Indonesia. Hingga akhirnya bangsa Indonesia memiliki kembali negeri ini, Jakarta tetap menjadi pilihan untuk menjadi Ibukota. Meskipun dalam satu waktu, Yogyakarta pernah menjadi ibukota Indonesia, namun hal tersebut tidak berlangsung lama.

Kesan pertama saya bertahun-tahun lalu, ketika masih kecil, Jakarta panas. Dan itu membuat saya tidak betah. Pernah, saya bertekad, Jakarta adalah pilihan terakhir untuk mencari pekerjaan. Namun, toh, di Jakarta juga pekerjaan pertama saya. Meski pada akhirnya saya tidak bertahan lama juga, hanya 9 bulan. Atmosfir Jakarta bagi saya terlalu ‘keras’. Tidak pernah terpikir untuk bisa berlama-lama hidup di Jakarta. Kalau bisa, tidak perlu lah saya hidup di Jakarta. Biarlah orang lain saja yang berlomba-lomba hidup di kota ini. Jakarta bukan bagian saya dan hati saya juga tidak pernah ‘berada’ di sana, meskipun dengan resiko penghasilan saya tidak sebesar teman-teman yang bekerja di Jakarta.

Herannya, dalam beberapa bulan terakhir, saya malah lebih akrab dengan Jakarta. Meskipun tidak sampai jatuh cinta. Biasa saja. Ada kalanya dalam satu minggu, 3 kali bolak-balik Bandung-Jakarta. Semuanya karena tuntutan tugas dan profesionalisme. Selebihnya, karena saya suka perjalanan daripada ‘terkurung’ di kantor.

Beruntunglah Jakarta yang telah ‘melahirkan’ penulis sekaliber Alwi Shahab. Seorang penulis, mantan jurnalis Antara dan Republika. Lewat tulisan-tulisannya di Republika, yang kemudian dibukukan menjadi 4 buah judul buku, Alwi berhasil membawa gambaran tempo doeloe kota Jakarta ke masa kini. Melalui buku-buku berjudul “Robin Hood dari Betawi“, “Queen of The East“, “Saudagar Baghdad dari Betawi” dan “Maria van Engels Menantu Habib Kwitang“, Alwi menceritakan fakta sejarah yang menarik tentang tempat-tempat di Jakarta. Bahkan, saya jadi tertarik untuk mendatangi tempat-tempat yang diceritakan oleh Alwi dalam buku-buku tersebut. Meskipun, tetap tidak sampai membuat saya jadi berminat untuk tinggal di Jakarta, tapi setidaknya ada alasan lain yang menjadikan Jakarta menarik bagi saya.

Merujuk ke buku-buku tersebut, dalam banyak hal, Jakarta tempo doeloe masih lebih baik. Bahkan, bisa dikatakan, yang terjadi di Jakarta sekarang bukanlah sebuah kemajuan, tetapi sebuah kemunduran. Julukan Queen of The East, Ratu dari Timur, yang pernah melekat pada kota Jakarta (Batavia) adalah sebuah pengakuan. Bahkan, saat itu, orang-orang Singapura yang lebih tertarik untuk datang ke Batavia. Sedangkan sekarang, sebaliknya … orang Indonesia yang berlomba-lomba untuk ke Singapura.

Sepanjang membaca buku-buku tersebut, imaji saya bekerja. Membayangkan Batavia. Indah, meski saya tidak tahu pasti seperti apa Batavia yang sesungguhnya. Saya membayangkan seandainya Batavia dulu ada di masa kini, tentu menyenangkan. Walaupun di sisi lain, adalah sebuah fakta kelam juga bahwa di Batavia pernah terjadi pembantaian terhadap lebih dari 10000 orang etnis China. Juga sebuah fakta, selain julukan “Ratu dari Timur”, Batavia juga dikenal sebagai “Kuburan orang Belanda”, karena 25% orang Belanda yang datang ke Batavia, mati di kota tersebut.

Selain itu, Batavia juga pernah mendapat julukan “Venesia dari Timur”, karena banyaknya kanal-kanal di kota tersebut. Karena sungai dan kanal-kanal tersebut merupakan salah satu sarana transportasi yang cukup vital di Batavia. Itulah sebabnya, Jakarta sekarang menjadi rawan banjir, karena banyaknya kanal-kanal air yang sudah berubah bentuk. Fakta lainnya, ternyata memang sejak dulu juga kawasan Gajah Mada dan Hayam Wuruk sekarang, terkenal sebagai daerah ‘hitam’, terutama urusan prostitusi.

Satu lagi fakta yang sebetulnya sangat ironis. Meskipun warga Betawi adalah penduduk asli kota Jakarta, namun Jakarta tidak pernah benar-benar menjadi milik mereka. Satu contoh saja, nama jalan. Nyaris sulit didapati nama jalan yang diambil dari ‘pahlawan’ Betawi. Padahal, sesungguhnya banyak warga Betawi yang berjuang untuk mengusir penjajah dari kota tersebut. Hal tersebut, dianggap sebagai sikap toleran warga Betawi yang sejak dahulu sudah terbiasa hidup dalam kemajemukan. Meskipun, saya berpendapat, hal tersebut karena ketidakberdayaan warga Betawi karena kurangnya -atau bahkan tidak adanya- kesempatan dalam sektor pemerintahan. Saat ini, cukup sulit mendapati warga Betawi yang tinggal di tengah Kota. Sebagian besar ‘terusir’ ke daerah pinggiran Jakarta.

Satu buku lain karya Ridwan Saidi, sejarahwan dan budayawan asli Betawi, juga sahabat Alwi Shahab. Buku tersebut berjudul “Anak Betawi diburu Intel Yahudi“. Sebuah cerpen yang berlatar belakang budaya Betawi, juga disisipi beberapa fakta tentang Jakarta tempo doeloe, terutama gambaran Jakarta tahun 50-70an. Meskipun, buku tersebut tidak memuat fakta sejarah sebanyak buku-buku Alwi Shahab. Namun, buku tersebut bisa dijadikan sebagai referensi untuk mengenal Jakarta tempo doeloe.

Sisa-sisa peninggalan Batavia, masih bisa ditemukan di kawasan sekitar Stasiun Kota, berupa gedung-gedung peninggalan VOC. Sebab kawasan Kota dulunya merupakan pusat kota Batavia, itu sebabnya disebut Kota. Namun, setelah Daendels berkuasa, pusat kota dipindahkan ke kawasan sekitar Monas, Senen dan Masjid Istiqlal sekarang. Pemindahan pusat kota disebabkan sudah mulai padatnya kawasan Kota dan mulai mewabahnya berbagai macam penyakit, diantaranya Malaria.

Setelah membaca buku-buku tersebut, setiap kali ke Jakarta, mata saya mulai tertuju ke gedung-gedung lama, atau nama-nama jalan. Setiap kali menemukan nama gedung atau jalan yang diceritakan dalam buku-buku tersebut, spontan hati saya berkata, “oh, ini tempat terjadinya bla bla bla …“, atau “oh, di sini ternyata daerah yang dulu bla bla bla…“. Selebihnya, Jakarta masih belum mampu membuat saya jatuh cinta.

Lagi, Tentang Kuliner

Saya dapat sebuah pesan di friendster yang berisi tentang tips kesehatan a la Rasulullah SAW. Sebetulnya isi pesan tersebut cukup panjang, tapi akan saya copy-paste beberapa baris terkait makanan.

Ini adalah diet Rasullulah SAW. Ustaz Abdullah Mahmood mengungkapkan, Rasullulah tak pernah sakit perut sepanjang hayatnya karena pandai menjaga makanannya sehari-hari. Insya Allah kalau anda ikut diet Rasullullah ini, anda takkan menderita sakit perut ataupun keracunan makanan.

  1. Jangan makan SUSU bersama DAGING
  2. Jangan makan DAGING bersama IKAN
  3. Jangan makan IKAN bersama SUSU
  4. Jangan makan AYAM bersama SUSU
  5. Jangan makan IKAN bersama TELUR
  6. Jangan makan IKAN bersama DAUN SALAD
  7. Jangan makan SUSU bersama CUKA
  8. Jangan makan BUAH bersama SUSU, CTH : KOKTEL

Oke. Saya kira memang dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk hal tersebut. Artinya, data-data penelitian mutlak ada untuk mendukung pernyataan-pernyataan tersebut. Sayangnya saya tidak tahu harus mencari tahu kemana data-data tersebut. Saya tidak tahu siapa itu Ustadz Abdullah Mahmood, akan tetapi jika ternyata pernyataan-pernyataan tersebut benar adanya, maka tentu saja hal tersebut harus menjadi perhatian kita.

Berikut komentar saya soal pernyataan-pernyataan tersebut:

Point 1, praktis saya akan terselamatkan dari efek campuran dua jenis makanan tersebut karena SUSU dan DAGING bukan makanan favorit saya, alias tidak suka sama sekali. Akan tetapi, saya juga kekurangan gizi dari kedua jenis makanan tersebut 🙁

Point 2, ini juga aman. Saya penyuka IKAN, tapi tidak dengan DAGING.

Point 2, aman. Suka IKAN, anti SUSU.

Point 3, masih aman. AYAM adalah makanan favorit saya yang lain, tapi akan selalu anti dengan SUSU.

Point 4, agak terancam. IKAN dan TELUR, dua makanan yang tak tegantikan. Agak sering juga menyantap kedua jenis makanan tersebut dalam sekali makan.

Point 6, cukup aman. Apa itu DAUN SALAD? Haha. Jarang makan sayur-sayuran.

Point 7, aman. CUKA yang masuk ke dalam tubuh saya hanya lewat Bakso saja. Itu pun sangat jarang.

Point 8, absolutely safe. Coba ya, yang sering ngeledekin saya karena tidak pernah makan es buah atau jus campur SUSU. Perhatikan tuh, jangan cuma bisa meledek saja! :p *yes, serasa di atas angin*

Meskipun, tentu saja, Rasulullah SAW menyukai Susu dan Daging. Hanya beliau tidak mencampur keduanya dengan makanan yang jika tercampur, akan memberikan dampak penyakit. Setahu saya, orang China juga punya aturan untuk tidak mencampur daging merah dan daging putih. Artinya, Ayam dan Daging Sapi misalnya, tidak pernah ada dalam satu piring ketika makan. Rasulullah SAW pun ternyata melakukan hal yang sama.

Faktanya, saya juga sangat langka mengalami sakit perut. Pernah mules, tapi biasanya akibat makanan yang pedas. Perut saya memang tidak terbiasa dengan makanan yang pedas-pedas.

Namun, sekali lagi, diperlukan data-data yang akurat untuk mendukung pernyataan-pernyataan tersebut. Jika sains mendukung, maka bisa menjadi satu lagi bukti bahwa Rasulullah SAW memang manusia yang luar biasa. Shalawat dan Salam untukmu, ya Rasul… 🙂

PS: Kamu tahu … bahkan soal makanan pun, Rasulullah SAW mengajari kita banyak hal. Beruntunglah manusia-manusia yang pernah bertemu dan bergaul dengannya. Akan tetapi, kita pun masih punya kesempatan untuk meneladaninya, agar kelak, beliau mengenali kita sebagai umatnya.

Parade Kemiskinan

Sepanjang sejarah manusia, tidak ada satu hal yang lebih ditakuti, dihindari dan dibenci melebihi kemiskinan. Tidak ada orang yang ingin disebut orang miskin atau ingin menjadi orang miskin. Status dan harga diri suatu bangsa pun dinilai dari jumlah orang miskinnya. Semakin banyak angka kemiskinan, semakin rendah harga diri bangsa tersebut dihadapan bangsa lainnya.

Persoalan kemiskinan bukan masalah kontemporer saja, tapi sudah terjadi sepanjang zaman. Hal tersebut juga menjadi tantangan yang selalu dihadapi oleh para pemimpin dunia. Adalah suatu aib bagi seorang pemimpin, jika dibawah kepemimpinannya, jumlah orang miskin tidak berkurang, apalagi malah semakin bertambah. Angka kemiskinan juga menjadi obyek politik yang cukup ampuh untuk menjatuhkan seorang pemimpin. Tidak heran jika setiap kelompok mengumpulkan angka kemiskinan untuk mempromosikan dirinya sekaligus menjatuhkan kelompok lain.

Kemiskinan -meskipun tidak selalu- identik dengan kriminalitas, kebodohan, penindasan, kelemahan dan -jika dipandang dari sudut agama Islam- bisa mendekati kekufuran. Bahkan, barangkali sering terjadi, secara tidak sadar kita memandang orang lain yang secara materi termasuk dalam kategori miskin, dengan sebelah mata, merendahkan atau menghinakan. Meskipun dengan kemiskinannya, orang tersebut tidak memberikan masalah sedikit pun bagi kita.

Kemiskinan bisa dipandang sebagai dua hal. Sebagai sebab dan sebagai akibat. Sebagai sebab, kemiskinan adalah akar dari sebagian besar tindak kriminalitas. Barangkali sudah cukup bosan kita mendengar atau membaca berita tentang pencurian, perampokan atau pembunuhan yang disebabkan kondisi kemiskinan pelakunya. Tidak sedikit pula berita tentang kasus-kasus bunuh diri atau kelaparan yang disebabkan kemiskinan. Dari sisi ini, kita dapat memandang bahwa kemiskinan sangat jahat.

Sebagai sebuah akibat, kemiskinan merupakan suatu produk. Produk dari ketidakadilan. Ketidakadilan pemimpin, hukum atau sistem, bahkan ketiganya. Pemimpin yang tidak adil akan menempatkan orang miskin sebagai ‘sampah’ yang tidak perlu dipikirkan. Sehingga, pemimpin seperti ini hanya akan mementingkan kepentingan dirinya dan orang-orang disekitarnya, tidak peduli jutaan orang merintih dalam kemiskinannya. Ketidakadilan hukum akan menempatkan orang miskin dalam posisi lemah, apalagi jika hukum bisa dijualbelikan, semakin menderitalah orang miskin. Padahal, hukum harus seimbang dan adil. Ketidakadilan sistem akan membuka peluang orang miskin tertindas, karena dalam sistem yang tidak adil, terjadi hukum rimba; yang kuat dan ber-uang lah yang berkuasa. Suara orang miskin tidak akan didengarkan.

Untuk mengatasi permasalahan kemiskinan, akan lebih mudah jika memandang kemiskinan sebagai akibat atau produk dari ketidakadilan. Artinya, dengan cara tersebut, pertanyaan apa yang menyebabkan terjadinya kemiskinan akan lebih mudah terjawab. Meskipun bukan hal yang mudah menanggulangi kemiskinan, dengan mengetahui sumber penyebab kemiskinan, setidaknya solusi yang bisa diberikan sudah bisa terbayangkan.

Tentu saja, kita merindukan rasa tenang, nyaman, aman dan damai. Akan tetapi, percayalah, hal itu semua tidak akan tercapai jika persoalan kemiskinan masih menjadi masalah terbesar di sekitar kita. Bahkan, barangkali yang sebenarnya terjadi, persoalan kemiskinan merupakan akibat dari ketidakpedulian kita terhadap hal-hal yang menjadi sumber kemiskinan.  Atau, jangan-jangan, kita lah penyebab terjadinya kemisikinan itu!!

Salut dan respek terhadap mereka yang turun langsung dan mengorbankan seluruh waktu, tenaga, materi dan pikirannya untuk mengentaskan kemiskinan.  Sekecil apa pun usaha mereka.  Dan kita? Masa hanya sekedar mau jadi penonton?! :angelpusing:

PS: Ini tulisan yang dibuat karena terpaksa, hasilnya juga rada maksa, salah sendiri maksa-in ikut-ikutan  blogactionday2008 dengan tema poverty. :setan1:

Another PS: Kamu tahu … ada yang lebih menakutkanku daripada miskin materi, adalah miskin cinta-Nya dan miskin mencintai-Nya.

Anomali Konsumen

Judul yang aneh…

Dulu saya beranggapan bahwa perilaku konsumen itu mayoritas akan seperti saya semua. Cuek dan tidak ambil pusing dengan berbagai macam promosi atau iklan di majalah, televisi, dll. Akan tetapi, saya belakangan baru menyadari bahwa, jangan-jangan, saya merupakan sebuah anomali diantara konsumen. *Halah, dramatisir…!!*

Saya pernah bertanya pada sahabat saya, seorang pengusaha madu, perihal pengaruh iklan di beberapa majalah Islami di negeri ini. Besar pengaruhnya dalam hal penjualan, katanya. Sementara pada saat yang bersamaan -ketika itu- saya masih berfikir bahwa iklan-iklan di majalah atau tv itu hanya sekedar pengganggu pemanis saja. My fault, karena saya memang tidak pernah merasa peduli dengan iklan-iklan tersebut, lantas saya mengasumsikan bahwa orang lain akan sama dengan saya. Padahal, sudah jelas-jelas iklan itu berpengaruh besar, ya? Kalau tidak ada pengaruhnya, mana mungkin produk-produk itu mau memasang iklan dengan modal besar? Kamana wae atuh, Don?

Hehe. Bukan tidak tahu, hanya selama ini saya terlalu menggeneralisir orang lain dengan variabel yang melekat pada saya. Jadilah saya berpendapat bahwa sebetulnya mayoritas konsumen berpandangan seperti saya. Ternyata sekarang pikiran saya terbalik, jangan-jangan konsumen seperti saya adalah minoritas.

Saya tidak akan terlalu tergoda dengan kata-kata narsis dari iklan suatu produk. Dan saya juga malas melayani cuap-cuap orang marketing, salesman atau SPG perihal suatu produk. Saya merasa kurang nyaman saja dengan sesuatu yang dilebih-lebihkan. Pegangan saya hanya satu, there is no such thing as perfect product. Bahwa ada produk yang terbaik, benar. Akan tetapi, tidak ada produk yang sempurna. Masalahnya, yang menilai suatu produk itu terbaik adalah pengguna produk tersebut, bukan ‘orang dalam’ produk tersebut. Itu juga sebabnya saya tidak terlalu tertarik dengan MLM.

Akibatnya, saya tidak akan cerewet mengenai kekurangan-kekurangan suatu produk atau layanan yang diberikan dari pembelian produk tersebut. Misalnya, ketika suatu rumah makan terasa lama melayani dan hidangan belum muncul juga. Saya akan menunggu sampai makanan itu tiba, meski sesekali menanyakan perihal lamanya pelayanan tersebut. Agak sedikit kesal pastinya. Setelah makanan tiba, ya dimakan … sampai tuntas. Hanya barangkali, besok-besok saya tidak akan datang ke tempat makan itu lagi.

Kapok kah saya? Belum tentu. Saya agak pemaaf. Barangkali ada faktor lain yang menyebabkan lambatnya pelayanan, misalnya banyaknya pengunjung, kompor meleduk, kehabisan minyak tanah, dll. Saya ‘kan tidak tahu apa yang terjadi di balik dapur. Mungkin suatu saat saya akan datang ke tempat itu lagi, memesan makanan… then, wait and see. Jika pelayanan masih sama seperti dulu ketika saya pertama kali datang, maka itu berarti rumah makan tersebut tidak pernah melakukan evaluasi. Baru lah saya akan sangat malas untuk datang ke tempat itu lagi. Meskipun, bukan berarti saya tidak akan pernah datang lagi. Pintu maaf itu selalu terbuka. *Halah!!*

Kenapa tidak memberikan kritik? Saya kan sudah bilang, saya ini bukan tipikal konsumen cerewet. Apalagi sampai menyebarkan suatu kejadian di surat pembaca media massa. Selama ‘kerugian’ yang saya alami masih bisa ditolerir, untuk apa juga dipermasalahkan?

Ekspektasi saya terhadap suatu produk juga tidak pernah berlebihan. Wajar-wajar saja. Dalam penggunaan nomor handphone misalnya, selama menggunakan operator yang saya gunakan bertahun-tahun, bukan berarti tidak ada gangguan. Pasti ada. Hanya saja, selama ini gangguan yang terjadi sifatnya sesekali. Tidak melulu ada gangguan. Toh, selama ini komunikasi saya dengan orang lain masih lancar-lancar saja. Memang ada sesekali spam, memang ada sesekali tulalit, memang ada saat sesekali sulit mengirim sms, akan tetapi selama hal tersebut tidak berkepanjangan, untuk apa juga dipermasalahkan?

Handphone? Apalagi… Anda akan kasihan melihat saya memegang dua buah handphone lama yang casing-nya sudah pecah-pecah, sudah low-bat dan sesekali perlu dibanting untuk menyalakannya. Ya, benar…dibanting!! Tapi, dibantingnya ke kasur :p Orangtua saya pernah mau membelikan yang baru, tapi saya berakting menolaknya, dengan alasan agar digunakan untuk keperluan yang lain saja. Saya juga bukan tidak pernah dikritik oleh teman-teman saya perihal handphone tersebut. Akan tetapi, selama ini kebutuhan saya akan komunikasi telepon dan sms masih tercukupi, kok. Jadi, buat apa juga beli yang baru? Meskipun kalau melihat handphone-handphone terbaru, ngiler juga melihatnya :))

Dalam membeli suatu produk, saya adalah tipikal konsumen yang lebih menyukai kebebasan untuk memilih. Paling malas jika sudah didekati, ditanya-tanya apalagi sampai diikuti oleh penjaga toko. Percayalah, saya akan langsung pergi jika dibegitukan. Apalagi jika secara tiba-tiba saya didekati dan ditawari suatu produk tertentu, seringnya saya cuekin atau saya tinggalkan. Ini berbeda sekali dengan salah seorang sahabat saya. Dia justru paling suka dengan cara seperti itu. Merasa lebih dilayani, katanya. Sementara buat saya, rese namanya. Biarkan saja saya berkeliaran di toko, saya tidak akan pernah mencuri. Kalau cocok pasti saya beli, kalau tidak cocok pergi lagi.

Barangkali itu lah sebabnya toko buku seperti Gramedia dan BBC di Bandung membuat saya nyaman. Saya merasakan kebebasan untuk memilih dan saya juga bisa datang dan pergi sesuka hati saya. Feels like home. Tentu saja rumah saya ukurannya, karena di rumah saya tidak ada yang suka tiba-tiba mendekati, bertanya-tanya dan promosi produk seperti di mall-mall. :p

Oleh sebab itu, sebelum membeli suatu produk -biasanya elektronik- saya akan mengumpulkan informasi dulu sebanyak-banyaknya. Termasuk juga testimoni dari mereka yang pernah menggunakan produk tersebut. Kemudian, cari tahu di mana saya bisa mendapatkannya. Lantas lakukan perbandingan harga diantara beberapa toko. Syukur-syukur jika harga produk tersebut sudah bisa ditemukan di depan toko, jadi saya tidak perlu menanyakan lagi ke penjaga toko. Atau jika tidak ada, lihat di brosur-brosur yang disediakan toko tersebut. Setelah itu … pulang. Ya, pulang … saya tidak akan membeli pada saat itu juga.

Besoknya atau lusa atau bahkan beberapa hari kemudian, saya datang lagi ke toko yang sudah saya tentukan untuk kemudian melakukan transaksi. Oleh sebab itu, pada hari ketika saya akan membeli produk tersebut, saya tidak pernah berlama-lama di tempat tersebut. Paling lama 15 menit. Barangkali kalau diilustrasikan, dialog yang sering saya lakukan setiap membeli produk adalah seperti ini:

Donny: “*nama produk* masih ada?

Penjaga Toko (PT): “Oh, ada …

Donny: “coba lihat, berapaan?

PT: “bla … bla …ribu rupiah.

Donny: “nggak bisa kurang?

PT: “aduh, nggak bisa euy!

Donny: “ya udah, saya beli satu.

Transaksi dilakukan.

Donny: “Oke, nuhun…

PT: “Sama-sama

Begitulah. Sederhana dan mudah saja bertransaksi dengan saya. 😀 Jika ada yang akan saya beli, maka saya akan fokus ke benda tersebut. Tidak ke yang lain-lain. Buat saya, sebelum membeli suatu produk, saya harus tahu dengan pasti berapa harganya dan tempat mana yang harus saya tuju untuk mendapatkan produk tersebut. Informasi yang saya butuhkan biasanya saya ambil dari brosur resmi atau website resmi produk tersebut.

Memang, pada akhirnya informasi yang saya dapat dari iklan juga, tapi jika iklan tersebut memuat spesifikasi fitur dari produk tersebut. Ditambah review dari orang-orang yang pernah menggunakan, dengan begitu saya juga akan tahu apa yang menjadi kekurangan dari produk tersebut. Jika ingin produknya saya beli, tidak cukup dengan hanya ‘menceritakan’ kelebihan produk tersebut, tapi juga harus mau menceritakan kekurangannya. Akan tetapi, marketing mana yang mau melakukan itu ya? :))

Page 3 of 6

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén