Parade Kemiskinan
Artikel, Esai, Refleksi October 16th, 2008
Sepanjang sejarah manusia, tidak ada satu hal yang lebih ditakuti, dihindari dan dibenci melebihi kemiskinan. Tidak ada orang yang ingin disebut orang miskin atau ingin menjadi orang miskin. Status dan harga diri suatu bangsa pun dinilai dari jumlah orang miskinnya. Semakin banyak angka kemiskinan, semakin rendah harga diri bangsa tersebut dihadapan bangsa lainnya.
Persoalan kemiskinan bukan masalah kontemporer saja, tapi sudah terjadi sepanjang zaman. Hal tersebut juga menjadi tantangan yang selalu dihadapi oleh para pemimpin dunia. Adalah suatu aib bagi seorang pemimpin, jika dibawah kepemimpinannya, jumlah orang miskin tidak berkurang, apalagi malah semakin bertambah. Angka kemiskinan juga menjadi obyek politik yang cukup ampuh untuk menjatuhkan seorang pemimpin. Tidak heran jika setiap kelompok mengumpulkan angka kemiskinan untuk mempromosikan dirinya sekaligus menjatuhkan kelompok lain.
Kemiskinan -meskipun tidak selalu- identik dengan kriminalitas, kebodohan, penindasan, kelemahan dan -jika dipandang dari sudut agama Islam- bisa mendekati kekufuran. Bahkan, barangkali sering terjadi, secara tidak sadar kita memandang orang lain yang secara materi termasuk dalam kategori miskin, dengan sebelah mata, merendahkan atau menghinakan. Meskipun dengan kemiskinannya, orang tersebut tidak memberikan masalah sedikit pun bagi kita.
Kemiskinan bisa dipandang sebagai dua hal. Sebagai sebab dan sebagai akibat. Sebagai sebab, kemiskinan adalah akar dari sebagian besar tindak kriminalitas. Barangkali sudah cukup bosan kita mendengar atau membaca berita tentang pencurian, perampokan atau pembunuhan yang disebabkan kondisi kemiskinan pelakunya. Tidak sedikit pula berita tentang kasus-kasus bunuh diri atau kelaparan yang disebabkan kemiskinan. Dari sisi ini, kita dapat memandang bahwa kemiskinan sangat jahat.
Sebagai sebuah akibat, kemiskinan merupakan suatu produk. Produk dari ketidakadilan. Ketidakadilan pemimpin, hukum atau sistem, bahkan ketiganya. Pemimpin yang tidak adil akan menempatkan orang miskin sebagai ’sampah’ yang tidak perlu dipikirkan. Sehingga, pemimpin seperti ini hanya akan mementingkan kepentingan dirinya dan orang-orang disekitarnya, tidak peduli jutaan orang merintih dalam kemiskinannya. Ketidakadilan hukum akan menempatkan orang miskin dalam posisi lemah, apalagi jika hukum bisa dijualbelikan, semakin menderitalah orang miskin. Padahal, hukum harus seimbang dan adil. Ketidakadilan sistem akan membuka peluang orang miskin tertindas, karena dalam sistem yang tidak adil, terjadi hukum rimba; yang kuat dan ber-uang lah yang berkuasa. Suara orang miskin tidak akan didengarkan.
Untuk mengatasi permasalahan kemiskinan, akan lebih mudah jika memandang kemiskinan sebagai akibat atau produk dari ketidakadilan. Artinya, dengan cara tersebut, pertanyaan apa yang menyebabkan terjadinya kemiskinan akan lebih mudah terjawab. Meskipun bukan hal yang mudah menanggulangi kemiskinan, dengan mengetahui sumber penyebab kemiskinan, setidaknya solusi yang bisa diberikan sudah bisa terbayangkan.
Tentu saja, kita merindukan rasa tenang, nyaman, aman dan damai. Akan tetapi, percayalah, hal itu semua tidak akan tercapai jika persoalan kemiskinan masih menjadi masalah terbesar di sekitar kita. Bahkan, barangkali yang sebenarnya terjadi, persoalan kemiskinan merupakan akibat dari ketidakpedulian kita terhadap hal-hal yang menjadi sumber kemiskinan. Atau, jangan-jangan, kita lah penyebab terjadinya kemisikinan itu!!
Salut dan respek terhadap mereka yang turun langsung dan mengorbankan seluruh waktu, tenaga, materi dan pikirannya untuk mengentaskan kemiskinan. Sekecil apa pun usaha mereka. Dan kita? Masa hanya sekedar mau jadi penonton?!
PS: Ini tulisan yang dibuat karena terpaksa, hasilnya juga rada maksa, salah sendiri maksa-in ikut-ikutan blogactionday2008 dengan tema poverty.
Another PS: Kamu tahu … ada yang lebih menakutkanku daripada miskin materi, adalah miskin cinta-Nya dan miskin mencintai-Nya.
Anomali Konsumen
Artikel, Curhat September 7th, 2008
Judul yang aneh…
Dulu saya beranggapan bahwa perilaku konsumen itu mayoritas akan seperti saya semua. Cuek dan tidak ambil pusing dengan berbagai macam promosi atau iklan di majalah, televisi, dll. Akan tetapi, saya belakangan baru menyadari bahwa, jangan-jangan, saya merupakan sebuah anomali diantara konsumen. *Halah, dramatisir…!!*
Saya pernah bertanya pada sahabat saya, seorang pengusaha madu, perihal pengaruh iklan di beberapa majalah Islami di negeri ini. Besar pengaruhnya dalam hal penjualan, katanya. Sementara pada saat yang bersamaan -ketika itu- saya masih berfikir bahwa iklan-iklan di majalah atau tv itu hanya sekedar pengganggu pemanis saja. My fault, karena saya memang tidak pernah merasa peduli dengan iklan-iklan tersebut, lantas saya mengasumsikan bahwa orang lain akan sama dengan saya. Padahal, sudah jelas-jelas iklan itu berpengaruh besar, ya? Kalau tidak ada pengaruhnya, mana mungkin produk-produk itu mau memasang iklan dengan modal besar? Kamana wae atuh, Don?
Hehe. Bukan tidak tahu, hanya selama ini saya terlalu menggeneralisir orang lain dengan variabel yang melekat pada saya. Jadilah saya berpendapat bahwa sebetulnya mayoritas konsumen berpandangan seperti saya. Ternyata sekarang pikiran saya terbalik, jangan-jangan konsumen seperti saya adalah minoritas.
Saya tidak akan terlalu tergoda dengan kata-kata narsis dari iklan suatu produk. Dan saya juga malas melayani cuap-cuap orang marketing, salesman atau SPG perihal suatu produk. Saya merasa kurang nyaman saja dengan sesuatu yang dilebih-lebihkan. Pegangan saya hanya satu, there is no such thing as perfect product. Bahwa ada produk yang terbaik, benar. Akan tetapi, tidak ada produk yang sempurna. Masalahnya, yang menilai suatu produk itu terbaik adalah pengguna produk tersebut, bukan ‘orang dalam’ produk tersebut. Itu juga sebabnya saya tidak terlalu tertarik dengan MLM.
Akibatnya, saya tidak akan cerewet mengenai kekurangan-kekurangan suatu produk atau layanan yang diberikan dari pembelian produk tersebut. Misalnya, ketika suatu rumah makan terasa lama melayani dan hidangan belum muncul juga. Saya akan menunggu sampai makanan itu tiba, meski sesekali menanyakan perihal lamanya pelayanan tersebut. Agak sedikit kesal pastinya. Setelah makanan tiba, ya dimakan … sampai tuntas. Hanya barangkali, besok-besok saya tidak akan datang ke tempat makan itu lagi.
Kapok kah saya? Belum tentu. Saya agak pemaaf. Barangkali ada faktor lain yang menyebabkan lambatnya pelayanan, misalnya banyaknya pengunjung, kompor meleduk, kehabisan minyak tanah, dll. Saya ‘kan tidak tahu apa yang terjadi di balik dapur. Mungkin suatu saat saya akan datang ke tempat itu lagi, memesan makanan… then, wait and see. Jika pelayanan masih sama seperti dulu ketika saya pertama kali datang, maka itu berarti rumah makan tersebut tidak pernah melakukan evaluasi. Baru lah saya akan sangat malas untuk datang ke tempat itu lagi. Meskipun, bukan berarti saya tidak akan pernah datang lagi. Pintu maaf itu selalu terbuka. *Halah!!*
Kenapa tidak memberikan kritik? Saya kan sudah bilang, saya ini bukan tipikal konsumen cerewet. Apalagi sampai menyebarkan suatu kejadian di surat pembaca media massa. Selama ‘kerugian’ yang saya alami masih bisa ditolerir, untuk apa juga dipermasalahkan?
Ekspektasi saya terhadap suatu produk juga tidak pernah berlebihan. Wajar-wajar saja. Dalam penggunaan nomor handphone misalnya, selama menggunakan operator yang saya gunakan bertahun-tahun, bukan berarti tidak ada gangguan. Pasti ada. Hanya saja, selama ini gangguan yang terjadi sifatnya sesekali. Tidak melulu ada gangguan. Toh, selama ini komunikasi saya dengan orang lain masih lancar-lancar saja. Memang ada sesekali spam, memang ada sesekali tulalit, memang ada saat sesekali sulit mengirim sms, akan tetapi selama hal tersebut tidak berkepanjangan, untuk apa juga dipermasalahkan?
Handphone? Apalagi… Anda akan kasihan melihat saya memegang dua buah handphone lama yang casing-nya sudah pecah-pecah, sudah low-bat dan sesekali perlu dibanting untuk menyalakannya. Ya, benar…dibanting!! Tapi, dibantingnya ke kasur
Orangtua saya pernah mau membelikan yang baru, tapi saya berakting menolaknya, dengan alasan agar digunakan untuk keperluan yang lain saja. Saya juga bukan tidak pernah dikritik oleh teman-teman saya perihal handphone tersebut. Akan tetapi, selama ini kebutuhan saya akan komunikasi telepon dan sms masih tercukupi, kok. Jadi, buat apa juga beli yang baru? Meskipun kalau melihat handphone-handphone terbaru, ngiler juga melihatnya :))
Dalam membeli suatu produk, saya adalah tipikal konsumen yang lebih menyukai kebebasan untuk memilih. Paling malas jika sudah didekati, ditanya-tanya apalagi sampai diikuti oleh penjaga toko. Percayalah, saya akan langsung pergi jika dibegitukan. Apalagi jika secara tiba-tiba saya didekati dan ditawari suatu produk tertentu, seringnya saya cuekin atau saya tinggalkan. Ini berbeda sekali dengan salah seorang sahabat saya. Dia justru paling suka dengan cara seperti itu. Merasa lebih dilayani, katanya. Sementara buat saya, rese namanya. Biarkan saja saya berkeliaran di toko, saya tidak akan pernah mencuri. Kalau cocok pasti saya beli, kalau tidak cocok pergi lagi.
Barangkali itu lah sebabnya toko buku seperti Gramedia dan BBC di Bandung membuat saya nyaman. Saya merasakan kebebasan untuk memilih dan saya juga bisa datang dan pergi sesuka hati saya. Feels like home. Tentu saja rumah saya ukurannya, karena di rumah saya tidak ada yang suka tiba-tiba mendekati, bertanya-tanya dan promosi produk seperti di mall-mall.
Oleh sebab itu, sebelum membeli suatu produk -biasanya elektronik- saya akan mengumpulkan informasi dulu sebanyak-banyaknya. Termasuk juga testimoni dari mereka yang pernah menggunakan produk tersebut. Kemudian, cari tahu di mana saya bisa mendapatkannya. Lantas lakukan perbandingan harga diantara beberapa toko. Syukur-syukur jika harga produk tersebut sudah bisa ditemukan di depan toko, jadi saya tidak perlu menanyakan lagi ke penjaga toko. Atau jika tidak ada, lihat di brosur-brosur yang disediakan toko tersebut. Setelah itu … pulang. Ya, pulang … saya tidak akan membeli pada saat itu juga.
Besoknya atau lusa atau bahkan beberapa hari kemudian, saya datang lagi ke toko yang sudah saya tentukan untuk kemudian melakukan transaksi. Oleh sebab itu, pada hari ketika saya akan membeli produk tersebut, saya tidak pernah berlama-lama di tempat tersebut. Paling lama 15 menit. Barangkali kalau diilustrasikan, dialog yang sering saya lakukan setiap membeli produk adalah seperti ini:
Donny: “*nama produk* masih ada?”
Penjaga Toko (PT): “Oh, ada …”
Donny: “coba lihat, berapaan?”
PT: “bla … bla …ribu rupiah.”
Donny: “nggak bisa kurang?”
PT: “aduh, nggak bisa euy!”
Donny: “ya udah, saya beli satu.”
Transaksi dilakukan.
Donny: “Oke, nuhun…”
PT: “Sama-sama“
Begitulah. Sederhana dan mudah saja bertransaksi dengan saya.
Jika ada yang akan saya beli, maka saya akan fokus ke benda tersebut. Tidak ke yang lain-lain. Buat saya, sebelum membeli suatu produk, saya harus tahu dengan pasti berapa harganya dan tempat mana yang harus saya tuju untuk mendapatkan produk tersebut. Informasi yang saya butuhkan biasanya saya ambil dari brosur resmi atau website resmi produk tersebut.
Memang, pada akhirnya informasi yang saya dapat dari iklan juga, tapi jika iklan tersebut memuat spesifikasi fitur dari produk tersebut. Ditambah review dari orang-orang yang pernah menggunakan, dengan begitu saya juga akan tahu apa yang menjadi kekurangan dari produk tersebut. Jika ingin produknya saya beli, tidak cukup dengan hanya ‘menceritakan’ kelebihan produk tersebut, tapi juga harus mau menceritakan kekurangannya. Akan tetapi, marketing mana yang mau melakukan itu ya? :))
Ramadhan Bareng, Lebaran Bareng
Artikel September 2nd, 2008
Menarik sekali mengikuti berlangsungnya Ramadhan, ‘Iedul Fitri dan ‘Iedul Adha beberapa tahun terakhir. Tentu saja, yang menjadi menarik adalah mengenai apakah Ramadhan, Lebaran dan ‘Iedul Adha tahun ini akan berbeda atau berbarengan lagi? Akan tetapi, yang lebih menarik bagi saya adalah -tentu saja- proses ilmiah dibalik pengambilan keputusan penetapan momen-momen tersebut.
Adalah sebuah buku karya T. Djamaludin yang berjudul Fiqih Astronomi yang membuka pikiran saya dan sedikit menjawab kebingungan saya beberapa tahun lalu. Buku yang sangat ilmiah, baik dari sisi Islam maupun sisi Ilmu Pengetahuan, sekaligus juga bisa menjawab permasalahan tentang terjadinya perbedaan pendapat mengenai momen-momen penting bagi Umat Islam tersebut. Tentunya dilengkapi juga dengan dalil-dalil ilmiah (Al-Qur’an, Hadits, data-data astronomis, gambar, dll). Meskipun masih ada istilah-istilah yang sampai saat ini belum saya pahami juga karena saya tidak mendalaminya. Akan tetapi, dalam waktu-waktu selanjutnya, saya sangat terbantu ketika akan memutuskan kapan sebaiknya saya melakukan ibadah Shaum Ramadhan, ‘Iedul Fitri dan ‘Iedul Adha.
Menurut saya, terjadinya perbedaan pendapat mengenai momen-momen tersebut bukan sebuah indikasi terjadinya perpecahan. Akan tetapi, sebuah proses yang harus dilalui oleh Umat Islam di Indonesia khususnya, menuju ke arah kedewasaan. Toh, meskipun terjadi perbedaan waktu Ramadhan, Lebaran dan Iedul Adha, setidaknya sampai saat ini, tidak pernah sekalipun terdengar adanya bentrok fisik. Bahkan, yang terjadi kemudian, Umat Islam semakin lebih toleran. Juga Umat Islam semakin terbuka pikirannya, bahwa ternyata ada berbagai macam metode dan kriteria dalam hal penentuan waktu-waktu tersebut. Ada proses pendidikan di sana, yang disadari atau tidak disadari oleh umat Islam di Indonesia.
Dulu, ketika segalanya ditentukan oleh pemerintah, kita tidak pernah tahu apa itu “hilal”, “ru’yat” atau “hisab”. Akan tetapi, sekarang, hampir setiap mendekati Ramadhan, kita dapati penjelasan tentang hal-hal tersebut dalam media massa, buku atau blog. Menjadi sangat mudah mendapatkan informasi-informasi tentang itu. Diskusi-diskusi mengenai hal tersebut lebih sering diadakan di Masjid-masjid, kampus-kampus atau di forum-forum dunia maya.
Sesungguhnya pula, kebingungan yang terjadi ketika mendengar soal perbedaan pelaksanaan ibadah-ibadah tersebut, adalah hasil dari kemalasan berpikir. Padahal, setelah kita mengetahui alasan atau dalil-dalil yang digunakan, meskipun sedikit yang kita pahami, segalanya bisa menjadi sangat masuk akal. Bahkan -mungkin- kita juga bisa saja mengkritisi sebuah keputusan suatu lembaga terkait dengan momen-momen tersebut. Atau memprediksi kapan waktu yang dirasa lebih tepat untuk melaksanakan Ramadhan, Lebaran atau ‘Iedul Adha. Setidaknya untuk diri sendiri, syukur-syukur bisa memahamkan orang lain juga.
Kalau dipikir lebih jauh, indah sekali bagaimana Allah SWT mengatur hal-hal semacam ini. Dalil-dalil mengenai awal dan akhir Ramadhan -misalnya- terasa lebih fleksibel. Membuka peluang akal untuk melakukan ijtihad serta mengeksplorasi lebih jauh tentang ilmu pengetahuan yang terkait dengan proses tersebut. Meski banyak yang mencukupkan dengan makna harfiahnya, tetapi banyak pula yang memilih untuk semakin mendalami kajian bidang tersebut. Hasilnya, muncul metode hisab yang erat kaitannya dengan Astronomi atau ilmu falak. Karenanya, perhitungan dan prediksi terjadinya fenomena alam semacam gerhana matahari, gerhana bulan atau waktu shalat menjadi lebih presisi. Gerhana bulan yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir, sudah dapat diprediksikan berbulan-bulan sebelumnya.
Tentu saja, kita semua ingin melaksanakan Ramadhan, Iedul Fitri dan Iedul Adha secara bersama-sama. Dan tahun ini, insya allah, semua itu dapat terlaksana. Muhammadiyah dan PERSIS -meskipun memiliki kriteria hisab yang berbeda- sudah sepakat bahwa Ramadhan, ‘Iedul Fitri dan ‘Iedul Adha tahun ini tidak akan terjadi perbedaan hari lagi. NU, Hizbut Tahrir dan Pemerintah memang belum memutuskan karena menggunakan metode Ru’yatul Hilal. Akan tetapi, jika dilihat dari data hisab yang didapat dari Muhammadiyah dan Persis, kemungkinan besar tidak akan terjadi perbedaan waktu dalam pelaksanaan momen tersebut. Alhamdulillah.
Sumber Informasi:
- Edaran PP Persis tentang Gerhana Bulan Parsial, Awal Ramadhan, ‘Iedul Fitri dan ‘Iedul Adha 1429 H.
- Maklumat Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah 1429 H – Muhammadiyah
- Hilal 1 Ramadhan 1429 H
- Penyatuan Kalender Islam Tantangan Dunia Astronomi, Fuqaha dan Ahli Rukyat (baca juga komentarnya)
- Polemik Seputar Ru’yah dan Hisab
- Fatwa Ulama Islam tentang Penetuan Awal Ramadhan & ‘Ied
Ya … ya…
Saya tahu anda banyak dosa, banyak salah, banyak khilaf.
Jadi, sejak dari awal sudah saya maafkan kok…
Selamat Menjalankan Ibadah Shaum Ramadhan 1429H
Salam Cinta,
:bayikiss:
Donny Reza yang suka bikin Catatan, suka Curhat, seringnya ber-Celoteh dan lebih sering Caper-nya.
Terapi Energi
Artikel August 21st, 2008
Kali ini, saya ingin menyoroti -lagi- salah satu cabang seni yang saya sukai. Musik. Khususnya perkembangan musik di Indonesia saat ini. Meskipun, saya sudah tidak terlalu mengikuti lagi perkembangannya. Anda tahu arah pembicaraan saya kemana? Bagus kalau begitu. Tidak mengerti? Ya, mau bagaimana lagi..?
Bukan kapasitas saya untuk menentukan sebuah karya seni itu buruk atau baik. Meskipun, secara subjektif saya juga bisa menilai mana karya seni yang menurut saya baik, dan mana yang tidak. Baik menurut saya, belum tentu baik menurut orang lain. Selera berbicara. Ketika berbicara selera, maka perdebatan tentangnya akan menjadi sebuah debat kusir tak berujung. Menghabiskan energi.
Seperti juga dalam bidang-bidang lainnya, dalam (industri) musik juga muncul musisi-musisi yang idealis. Adalah mereka yang tidak mau atau enggan berkompromi dengan pasar. Lebih cenderung ingin menjadi trend-setter, meski tidak kunjung nge-trend, dan terkesan egois karena karya yang dihasilkan biasanya ‘beda’ jika tidak ingin dikatakan ‘aneh’. Akan tetapi, musisi semacam ini biasanya memiliki fans yang loyal dan fanatik, meskipun tidak sebanyak fans musisi yang mapan di ‘pasar’. Beberapa memang muncul dan tetap eksis dengan idealismenya, tapi lebih banyak yang mati di tengah jalan atau tergoda oleh kemapanan industri musik dengan mengikuti selera pasar. Begitulah nasib idealis, dimanapun. Selalu berada diantara pilihan antara tetap idealis, atau mengikuti selera pasar.
Memang, ketika berbicara tentang industri musik, tidak bisa dipisahkan dari yang namanya uang. Pastinya seorang idealis pun butuh uang, yang banyak kalau bisa. Lagipula, tidak ada ceritanya seorang idealis identik dengan kemiskinan. Toh, perkembangan musik saat ini juga ditentukan oleh para idealis. The Beatles, Queen atau Elvis Prestley adalah idealis di zamannya. Karena mereka unik, mereka menjadi ikon perubahan dan menginspirasi sampai sekarang. Di Indonesia contoh yang paling kongkrit adalah Slank dan Iwan Fals. Oh ya, satu lagi … Rhoma Irama dan Soneta-nya. Musisi mana yang memiliki fans lebih banyak daripada mereka?
Hanya saja, karena industri dikuasai oleh pemilik uang, maka yang bersangkutanlah yang menjadi decision maker. Pemilik uang tentulah mencari musisi yang -diperkirakan- akan menghasilkan keuntungan besar bagi perusahaan. Singkatnya, perusahaan mencari musisi yang karyanya dipastikan akan laku di pasaran. Sementara yang laku di pasaran biasanya hanya genre musik tertentu saja. Di sinilah sesungguhnya ‘malapetaka’ bagi seniman musik dan musik itu sendiri, terutama bagi para idealis. Sebab, peluang bagi karya musik yang termasuk kategori ‘tidak laku’, ‘kurang peminat’ atau ‘kurang dikenal’ menjadi sangat kecil untuk bisa memasuki industri musik, apalagi sampai masuk ke pasar.
Untungnya, tidak semua pelaku industri juga perilakunya sama. Ada juga yang idealis. Masalahnya, mempertemukan sesama idealis ini juga bukan hal yang mudah. Seperti mencari jodoh saja. Dirasa-rasa cocok, nyatanya tidak. Dirasa-rasa tidak cocok, ternyata memang tidak cocok. Harus sevisi atau setidaknya memiliki beberapa kesamaan maksud dan tujuan, meski tidak harus semua sama. Dan yang jelas, harus siap dengan segala kerugian yang mungkin ditanggung. Disinilah letak perjudiannya.
Pertengahan 90-an adalah saat dimana gerakan Indie (independent) Label mulai muncul. Bandung menjadi barometernya saat itu. Dari deretan musisi Indie, muncul nama-nama yang saat ini sudah cukup dikenal, PAS Band dan /rif. Saat itu, karya mereka memang unik dan beda. Beberapa nama band tetap berada di jalur Indie, atau bahkan ‘mati’. Puppen, Pure Saturday dan Koil adalah contohnya. Ide Indie Label adalah sebuah jawaban atas sulitnya memasuki industri musik saat itu. Dengan dana sendiri -atau patungan- musisi tersebut merekam, mendistribusikan dan mempromosikannya sendiri, tanpa mengorbankan ide-ide mereka dalam bermusik. “Ini karya gua, lu suka? Dengerin! Gak suka? Tinggalin!“, begitu barangkali dalam benak mereka.
Meskipun telinga saya juga terbiasa dengan musik-musik di pasaran, akan tetapi ada saat dimana saya merasa muak bosan dengan kondisi industri musik di Indonesia. Dalam penilaian saya, tidak ada bedanya situasi sekarang dengan era 80-an, ketika lagu-lagu didominasi oleh lagu melankolis nan sendu. Atau ketika musik Malaysia ‘menjajah’ Indonesia. Hanya beda karakter musik saja. Nyaris seluruh musisi baru saat ini menawarkan tipikal musik yang sama. Bertema cinta, romantis, mendayu-dayu, melankolis dan -kalau bisa- bikin nangis. Ah, siapa yang tidak suka lagu semacam itu?
Persoalannya, lagu-lagu semacam itu cenderung ‘melemahkan’ hati pendengarnya. Ya, ya … saya juga tahu rasanya menjadi sentimentil dan melankolis. Dan rasanya tidak bagus, serasa manusia paling apes sedunia. Pret!! Itulah sebabnya, ketika berlagu saya sudah tidak sampai pada tahap ‘menghayati’ isi lirik lagu lagi. Sekedar bersenandung saja, tanpa makna, apalagi sampai menyamakan suasana hati dengan lirik lagu. Kualitas musik adalah yang utama, isi lirik tidak terlalu diperhatikan. Kecuali pada beberapa lagu yang memang berisi pencerahan atau mengajak merenung atau liriknya lucu, seperti lagu “Kesaksian Diri” dari Opick. Sampai merinding saya dibuatnya.
Beruntung, saya masih mendapati dan bisa mendengarkan beberapa musisi yang berani tampil beda. Terus terang saja, di tengah gempuran musik-musik mellow seperti sekarang, musik rock berubah menjadi sesuatu yang begitu saya rindukan. Saya suka musik rock seperti juga saya menyukai genre musik yang lain. Musik alternatife rock pernah begitu berjaya di akhir 90-an dan awal 2000. Akan tetapi, saya kurang menyukai jenis musik tersebut saat itu. Berbeda situasinya dengan sekarang, rasanya ada yang kurang tanpa kehadiran musik rock. Barangkali sebuah indikasi bahwa saya mulai jenuh dengan musik-musik yang mellow.
Maka, mulailah saya mencari musik-musik yang cenderung lebih nge-rock, berisik dan chaos. Ya, saya perlu musik-musik yang lebih bersemangat untuk didengarkan di pagi hari. Seakan-akan hari itu akan berangkat perang, berjuang. Saya memerlukan energi baru. Bukan akan patah hati. Dan ternyata saya mendapati beberapa lagu yang selama ini saya abaikan, lagu “What If” dari Creed dan “Simple” dari Collective Soul adalah contoh musik yang galak.
Lalu saya dipertemukan juga dengan musik-musik Bondan Prakoso & Fade2Black, The Miracle dan Saint Loco. Yeah, i like it. Saya sempat underestimate dengan The Miracle dan Saint Loco, tapi ternyata lagu-lagu mereka yang paling sering saya putar sekarang. Ketidaknyamanan saya hanya pada beberapa lirik lagu Bondan yang cenderung kasar.
The Miracle dijuluki Dream Theater nya Indonesia, karena pada awalnya mereka memang selalu membawakan lagu-lagu Dream Theater. Album perdananya, TheM, juga 80% terpengaruh Dream Theater. Meski tidak segarang Dream Theater. Ada kemegahan dalam musik mereka, keindahan melodi dan pastinya macho. Semuanya menjadi satu. Meski lirik lagu mereka lebih sederhana, tentang cinta juga, tapi musiknya lah yang menjadi kekuatan utamanya.
Diluar dugaan, saya benar-benar jatuh cinta pada musik yang ditawarkan Saint Loco. Sebagian besar materi musiknya bergenre hip rock a la Linkin Park, meski di beberapa bagian, saya merasa seperti mendengar influence Dream Theater. Beberapa lagu menjadi favorit saya, yaitu “Hip Rock”, “Get Up” dan “Terapi Energi”. Saya -sedang- suka sekali dengan geberan gitar dan hentakan drumnya yang ‘galak’. Musik yang benar-benar bisa menyuntikan energi baru.

