Category: Artikel (Page 2 of 6)

Ya, Saya Sudah Menikah

Alhamdulillah, atas izin-Nya, saya ditakdirkan memiliki seorang istri.  Aqad nikah dilakukan pada hari Ahad, tanggal 5 April 2009 yang lalu, di rumah orang tua istri saya, Hegarmanah, Bandung.  Pernikahan yang sangat sederhana, tanpa pemberitahuan kepada publik, tanpa undangan, hanya dihadiri keluarga besar saja.  Total acara sudah selesai dalam waktu yang cukup singkat, 1 jam.  Jika saja sahabat-sahabat saya tidak menodong  dengan pertanyaan soal pernikahan seminggu sebelumnya, hampir saja pernikahan saya nyaris tidak diketahui oleh siapa pun di luar pihak keluarga.

Bukan hal yang kami inginkan untuk merahasiakan rencana pernikahan kami. Inginnya kami juga mengundang sahabat, kolega dan seluruh relasi kami untuk menghadiri acara aqad tersebut.  Bahkan, kami ingin seluruh semesta mengetahui pernikahan kami.  Sebab, kami tahu bahwa pernikahan adalah hal yang sangat sakral dalam kehidupan kami.  Akan tetapi, kami pun memiliki alasan sehingga rencana acara aqad nikah kami ‘rahasiakan’.

donnyrosi5

Permasalahan utama sebetulnya adanya benturan paradigma antara kami dan orang tua kami.  Hal yang lumrah terjadi sebetulnya.  Kami yang masih muda-muda ini tidak terlalu ketat, bahkan tidak terlalu peduli dengan adat istiadat, harus menghadapi orang tua yang cukup ketat dalam hal ini.  Bagi saya, kalau bisa, tidak perlu lah acara adat yang lebih cenderung mengarah kepada hal-hal yang sifatnya syirik itu dilakukan.  Cukup penuhi rukun-rukun nikahnya saja, sesuai tuntunan Islam.  Belum lagi ketika membicarakan soal waktu.

Setidaknya selama 5 bulan, saya dan istri saling mengomunikasikan tentang rencana pernikahan kami.  Untunglah, istri saya waktu itu berada di pihak saya, jadi cenderung lebih mudah bagi saya untuk meyakinkan pihak keluarga istri.  Dalam hal ini, istri saya jadi semacam jembatan komunikasi antara saya dan pihak keluarganya.  Beban yang berat bagi istri saya pastinya untuk bisa mengomunikasikan pikiran-pikiran kami, akan tetapi karena kesabarannya juga, kami bisa menikah sesuai dengan apa yang kami harapkan.

Dalam hal ini, saya memang sangat ngotot untuk bisa menikah sesegera mungkin, sesuai dengan titah Rasulullah SAW.  Bukan sekedar buru-buru, tapi hal tersebut sebagai usaha kami untuk menjaga diri kami dari berbagai macam fitnah yang mungkin muncul.  Juga agar hubungan kami segera diridhai oleh Allah SWT, ini yang paling penting.  Sementara orang tua kami meminta agar kami ‘santai’ saja, jangan terlalu cepat-cepat.  Apalagi kakak istri saya baru saja menikah bulan Desember yang lalu.  Hal ini semakin membuat alasan keluarga kami untuk menunda pernikahan kami semakin kuat.

Kami memang tidak berpacaran saat itu.  Sejak awal berkomitmen satu sama lain, tujuan kami adalah menikah.  Bahkan 1 minggu setelah kami berkomitmen, tujuan saya mendatangi rumahnya adalah untuk meminta izin orang tuanya agar saya bisa menikahi putri mereka.  Jarang sekali bertemu, kemana pun kami pergi sendiri-sendiri.  Komunikasi terbanyak kami hanya melalui SMS, itu pun paling banyak mengomunikasikan rencana pernikahan kami.  Bahwa kemudian muncul rasa rindu, saya kira itu adalah hal yang wajar saja terjadi.  Hal ini pula yang semakin menguatkan pihak keluarga kami untuk tidak terlalu terburu-buru melangsungkan pernikahan.

Pihak keluarga inginnya kami menikah bulan Juni karena kondisi finansial juga menjadi kendala, sementara kami berdua ingin lebih cepat, April bagi kami sudah terlalu lama.  Saya berfikir cukup keras bagaimana sebaiknya agar kami bisa menikah paling lambat di bulan April.  Akhirnya, saya menawarkan sebuah solusi yang menurut saya ‘sama-sama enak’.  Saya mengusulkan untuk memisahkan aqad nikah dan resepsi.  Aqad nikah dilakukan di bulan April, sebagaimana keinginan kami berdua, sementara Resepsi dilakukan di bulan Juni, sesuai keinginan orang tua.  Tanpa diduga, Alhamdulillah, usul saya tersebut diterima oleh keluarga istri saya.  Dengan catatan, ketika aqad nikah hanya keluarga besar saja dulu yang diundang, sementara yang lain akan diundang pada saat resepsi.

Setelah disetujui, proses selanjutnya menjadi sangat mudah dan berjalan sangat lancar.  Alhamdulillah.  Bagi saya, dengan disetujuinya hal tersebut menjadikan hati saya lebih tenang dan santai.  Hal tersebut sempat membuat istri saya salah paham, karena menganggap saya terlalu cuek dengan rencana pernikahan kami.  Padahal yang terjadi sebetulnya adalah, “apalagi yang harus saya pusingkan? tinggal tunggu waktu saja agar segalanya menjadi halal, Insya Allah”.  Ya, begitulah.  Saya menjalani hari-hari pra-nikah justru dengan perasaan yang sangat damai dan tidak terlalu memusingkan apa yang harus saya persiapkan di hari pernikahan.

Lamaran berjalan dengan baik, begitu juga persiapan aqad nikah tidak terlalu merepotkan karena praktis kami tidak terlalu dipusingkan dengan banyaknya undangan dan mempersiapkan jamuan untuk undangan.  Bahkan beberapa hari sebelum aqad nikah, saya masih bisa melakukan hal-hal yang tidak penting seperti facebook-an semalam suntuk, olahraga pagi atau futsal.  Saya membeli peci khusus untuk aqad nikah pada hari Sabtu sore, dan menyadari kalau tidak punya kaus kaki yang bagus beberapa jam sebelum acara aqad nikah, sehingga memaksa saya menggunakan kaus kaki butut untuk acara aqad nikah.  Akan tetapi, bagi saya saat itu segalanya sangat terkendali dan lancar.  Istri saya juga masih bisa mengajar seperti biasa sehari sebelumnya.

Acara Aqad nikah sendiri berjalan sangat khidmat dan cukup singkat, bagi saya sangat mengharukan.  Hanya dalam 1 jam seluruh kegiatan sudah selesai.  Akan tetapi, kami memiliki harapan agar pernikahan kami bisa dijadikan contoh oleh keluarga kami yang lainnya, bahwa sebuah pernikahan bisa dilakukan dengan cukup mudah.  Acara adat yang biasanya ada di pernikahan kakak-kakak istri saya sebelumnya, dihilangkan sama sekali.  Hanya lantunan ayat Al-Qur’an dan beberapa lagu sunda dari kaset yang meramaikan pernikahan kami.  Anehnya, saya memang pernah menginginkan acara pernikahan yang sederhana seperti itu.

Selanjutnya, saat ini kami berdua sedang menyusun rencana untuk melaksanakan acara resepsi, sesuai dengan janji kami kepada orang tua.  Insya Allah, acara resepsi akan dilaksanakan pada hari Ahad, tanggal 7 Juni 2009, bertempat di Masjid Salman, Bandung.  Kali ini kami akan mengundang saudara, kerabat, kolega dan relasi kami, sebanyak yang kami mampu 🙂 Lagi-lagi, saya pernah memimpikan acara resepsi di Salman.  Mudah-mudahan tidak ada halangan yang merintang.  Mudahkanlah, Ya Allah, Ya Rabb.

loading...

Sekelumit ‘Penafsiran’ Sejarah Pangeran Diponegoro

Adalah Don Lopez comte de Paris yang kekar itu, dan berbicara lebih fasih berbahasa Prancis ketimbang bahasa ayah-ibunya Spanyol, yang pertama kali menyuruh budak-budak perempuan itu menutup payudaranya.

Kepada budak-budak perempuan di Semarang yang mengerjakan pos di kota ini — yaitu jalan besar yang sampai 1950-an bernama Bojong, dan kini Pemuda — Don Lopez memotong-motong kain putih dan memberi kepada salah seorang budak perempuan yang tergolong cantik dan belia.

Sambil memberikan potongan kain putih itu kepada budak perempuan tersebut, dia berkata, “Tutup Bagian berharga itu.” Dia menggunakan bahasa Prancis untuk kata ‘berharga’ tersebut. Dalam bahasa Prancis, coutant berarti ‘berharga’.

Sambil menerima kain putih yang diberi oleh Don Lopez, budak perempuan itu memandang bingung.

Kangge nopo iki, ndoro Tuan?” tanya budak cantik itu.

Sambil menunjuk-nunjuk payudara perempuan itu, Don Lopez berkata, “Coutant! Coutant!

Budak perempuan itu makin bingung. Dia melihat payudaranya, apakah ada yang salah dari payudaranya itu.

Kulo boten ngertos, ndoro Tuan,” katanya.

Lagi Don Lopez berkata, “Coutant!

Orang-orang melihat adegan itu sertamerta mengira bahwa kain putih yang ditunjuk-tunjuk ke payudara untuk dipakai sebagai penutup adalah namanya coutant.

Seorang budak yang berdiri di dekat budak perempuan itu lantas berkata kepadanya, “O kuwi jenenge kutang.”

Sejak itu lahirlah entri baru dalam bahasa rakyat yang salah kaprah, bahwa ‘kutang’ adalah kain pembungkus payudara.

Cerita di atas tidak ada urusannya dengan pornografi. Di atas adalah sekelumit dari sebuah buku berjudul “Novel Pangeran Diponegoro: Menggagas Ratu Adil“, karya Remy Sylado, penerbit Tiga Serangkai. Sebuah buku yang bercerita tentang masa kecil Ontowiryo, seorang Pangeran dari kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, yang dibesarkan oleh nenek buyutnya di sebuah desa bernama Tegalrejo, jauh dari hiruk pikuk kraton. Kelak, Ontowiryo dikenal dan dikenang sejarah sebagai Pangeran Diponegoro.

Sejak pertama dilahirkan, Ontowiryo ‘diramal’ oleh kakek buyutnya, Sultan Hamengku Buwono I, akan menjadi seorang yang besar. Seorang Herucokro atau Ratu Adil. Oleh sebab itu, Sultan meminta istrinya, Ratu Ageng, untuk mendidik dan membesarkan Ontowiryo. Dikarenakan perselisihan dengan anaknya, Sultan Hamengku Buwono II, yang kemudian menggantikan tahta ayahnya, Ratu Ageng memilih untuk memisahkan diri dari Kraton dan tinggal di Tegalrejo dengan membawa serta Ontowiryo.

Dibesarkan dalam budaya Jawa dan akhlak Islam, Ontowiryo tumbuh menjadi sosok yang rendah hati, santun, cerdas sekaligus berani dan berakhlak mulia. Keyakinan terhadap nilai-nilai kebenaran yang dipegangnya, ditunjang dengan keterampilan berperang yang dilatih oleh paman-pamannya, menjadikan Ontowiryo juga tumbuh menjadi sosok yang kuat. Itulah sebabnya, ketika tidak ada satu pun yang berani menentang perintah Belanda yang sangat zalim, membiarkan dan melarang menguburkan sesosok mayat petani yang tidak membayar pajak di tengah lapang, Ontowiryo sendiri yang melakukannya. Seperti halnya para pemimpin besar lainnya, Ontowiryo juga sangat menggandrungi buku dan memahami isinya.

Secara keseluruhan, buku ini bercerita tentang proses dan masa persiapan Ontowiryo untuk menjadi seorang Herucokro (Ratu Adil), yang sejak kecil ditanamkan oleh Ratu Ageng. Buku ini juga merupakan buku pertama dari rangkaian “Novel Pangeran Diponegoro“. Oleh sebab itu, di akhir halaman buku ini, cerita dibiarkan menggantung. Masih jauh dari peristiwa Perang Jawa yang bersejarah itu.

Sebagai sebuah ‘penafsiran’ atas sebuah sejarah, Remy Sylado berhasil menyajikan buku ini dengan sangat baik. Selain dilengkapi dengan fakta-fakta yang cukup menarik, Remy juga berani menyisipkan kata-kata yang memaksa kita untuk membuka kamus Bahasa Indonesia lagi. Sebagai seorang Kristen, Remy juga cukup piawai menggambarkan dan menceritakan nuansa Islam dalam buku ini. Dalam beberapa halaman, Remy bahkan mengutip beberapa hadits.

Bagi saya, hal yang menarik dari sebuah novel yang mengadaptasi sejarah adalah menghubungkannya dengan konteks kekinian. Terkadang juga bisa menjadi sebuah koreksi sejarah. Sebagai contoh, buku sejarah yang diajarkan di sekolah hanya menyebut Belanda, Inggris, Portugis dan Jepang yang pernah menjajah Indonesia. Itu pun, Portugis hanya di beberapa daerah Indonesia Timur. Dalam buku ini, Daendells, yang dikenal karena membuat jalan pos Anyer-Panarukan, ternyata datang atas nama Pemerintah Prancis. Daendells sendiri orang Belanda asli, tapi dia datang tidak atas nama Belanda yang saat itu di bawah kekuasaan Prancis.

Dalam hal konteks kekinian, korupsi bisa dijadikan contoh. Bahkan ketika Indonesia masih dikuasai VOC, korupsi sudah menjadi hal yang biasa dilakukan oleh pejabat-pejabatnya. Sudah mendarah-daging mengurat-akar. Begitu juga pengkhianat sekaligus penjilat, demi harta dan kekuasaan, sudah bukan barang yang ‘aneh’ sejak berabad lalu. Dalam buku ini, Danurejo II, yang kemudian dihukum mati oleh Sultan Hamengku Buwono II, merupakan contoh karakter terakhir itu. Dalam masa kini, kita bisa menyaksikan BUMN-BUMN yang seharusnya dipertahankan mati-matian lantas dijual begitu mudahnya. Bagi saya, itu sebuah pengkhianatan. Sama halnya dengan produk hukum kita yang sejak dulu hanya menyentuh ‘orang kecil’, sampai detik ini pun -nyaris- tidak pernah menyentuh pejabat atau mereka yang menguasai uang.

Begitu juga dengan cerita kutang di atas. Bahkan seorang yang dianggap penjajah sekalipun, bisa menilai bahwa payudara wanita begitu berharga. Wanita mana pun tidak mau dianggap budak, tapi bukankah dengan membiarkan payudaranya terbuka -dan bangga dengan keterbukaannya- itu berarti menjadikannya sama saja atau bahkan lebih rendah dari budak?

Ketebalan buku ini standar saja, 340 halaman. Tidak terlalu tebal, tidak juga terlalu tipis. Dijual dengan harga Rp.66.000,- di gramedia, atau bisa didapatkan dengan diskon 20% – 30% di Palasari (Bandung) atau di pameran-pameran buku. Bagi saya, cukup mahal sebetulnya, tapi saya sangat merekomendasikan buku ini sebagai bahan bacaan, terutama bagi yang menyukai novel yang diadaptasi dari sejarah. Hanya satu saja kekurangannya menurut saya, beberapa halaman yang memuat dialog bahasa jawa, tidak disertai dengan translasi dalam bahasa Indonesia-nya. Sehingga, memaksa saya untuk melompati bagian itu, meskipun tidak menggangu jalan cerita seluruhnya. Selebihnya, laik beli dan laik baca.

Virus

Tingkah laku para pembuat virus komputer, saya anggap, terwakili oleh virus yang dibuatnya.  Di dunia komputer, ia menjadi virus, di dunia nyata sang pembuat virus tidak akan berbeda jauh, ia adalah virus itu sendiri.  Perusuh, pembuat onar, pengacau, egois.  Karenanya dia menjadi ‘makhluk’ paling dibenci oleh setiap orang.

Mungkin saya terlalu ‘pukul rata’.  Bisa jadi sang pembuat virus sesungguhnya adalah seorang yang jenius, tapi jelas dia tidak memiliki kehidupan sosial yang baik.  Dan biasanya, dia adalah seorang psikopat. Meskipun, bagi saya, seorang jenius beda tipis dengan seorang idiot ketika kejeniusannya tidak digunakan dengan baik.  Dia tidak mendapatkan apa pun dari kejeniusannya, selain caci maki, sumpah serapah dan berbagai macam kutukan lainnya.  Ya, paling hanya semacam kepuasan ketika virus yang dibuatnya kemudian menyebar dan berhasil membuat pusing ribuan atau bahkan jutaan orang.  Akan tetapi, hanya sebatas itu saja, tidak membuktikan bahwa sang pembuat virus memang orang pintar.  Dia tetaplah dikenal -kalau kemudian terkenal- sebagai perusuh.  Tidak lebih.

Di Indonesia, saya mendapati para pembuat virus hanya sekumpulan orang-orang frustasi dan kekanak-kanakan, dan memang sebagiannya adalah para ABG pencari jati diri.  Biasanya karena patah hati, entah ditolak, entah diputuskan, atau bahkan cinta tak berbalas.  Kita bisa mendapati itu semua dari pesan-pesan yang mereka sampaikan. Dan entah kenapa mereka merasa sebagai orang-orang yang paling menderita.  Sebuah pertanda bahwa mereka tidak memiliki kehidupan sosial yang cukup baik, atau tidak memiliki kepekaan sosial sama sekali … dan jelas, sangat kekanak-kanakan, plus egois.

Beberapa pesan dalam virus terkadang hanya mencantumkan nickname sang pembuat virus.  Identitasnya tidak ingin diketahui.  Ciri khas penjahat …atau banci.  Ah, tapi seorang banci sekalipun masih bisa kita ketahui nama aslinya.  Bandingkan saja dengan ‘jagoan’ di dunia maya, entah itu di dunia programming, networking atau designing.  Mereka bangga dengan namanya.  Sebab namanya sendiri sudah mewakili citra dari orang tersebut.  Hal ini disebabkan karena mereka merasa sudah melakukan hal yang baik dan bermanfaat untuk orang banyak.

Seorang hacker sejati, misalnya, justru adalah seorang yang sangat rendah hati.  Ilmu dan pengetahuannya tentang jaringan komputer sangat tinggi, tapi tidak sedikitpun dia merasa perlu untuk melakukan show off seperti orang-orang yang mengaku hacker atau ingin disebut hacker.  Ketika seorang yang mengaku hacker berbicara tentang bagaimana menjebol keamanan jaringan komputer, seorang hacker sejati berbicara tentang bagaimana mencegah agar keamanan jaringan tidak jebol.  Apa yang dibahas sama saja sebetulnya, tapi ‘judul’-nya berbeda.  Yang satu berbicara tentang “merusak”, satunya lagi berbicara tentang “menjaga”.

Sungguh sangat disayangkan ketika kemampuan untuk berkarya digunakan untuk merusak.  Padahal, dengan kemampuan yang sama, saya yakin seorang pembuat virus bisa membuat program yang lebih bermanfaat.  Sehingga, khazanah dunia telematika di Indonesia bisa semakin kaya.  Bukan oleh hal-hal yang merusak, tapi bermanfaat.  Sampai saat ini, kita masih menanti kemunculan ‘pengganti’ Microsoft Windows, SAP, Oracle, atau UNIX yang berasal dari Indonesia.  Mungkinkah? 🙂

Melampaui Materi

Sepulang dari tugas dan melakukan perjalanan hampir setengah hari dan setengah malam, saya tiba di Bandung menjelang tengah malam. Dengan kondisi lelah dan lapar, saya memutuskan untuk singgah terlebih dahulu di sebuah warung mie rebus langganan. Demi untuk menghilangkan rasa lapar tersebut.

Di warung tersebut terdapat sebuah televisi yang sedang menyiarkan berita-berita terkini. Bang Jek, pemilik warung tersebut, memang menyukai berita dan film action Oh, ya … satu lagi, acaranya si Tukul yang sempat dilarang itu. Oleh karena kesukaannya itu, saya seringkali menghindari datang di-jam-nya si Tukul itu.

Setiap kali saya datang, seringkali dia ‘mengajak’ saya untuk berdiskusi perihal masalah-masalah terkini. Apa pun yang sedang ramai di televisi saat itu. Seperti biasa, Bang Jek akan melontarkan opininya tentang apa pun. Adakalanya saya layani, seringkali saya cuma manggut-manggut saja, atau saya berikan jawaban ketika dia menanyakan sesuatu, atau bahkan saya diamkan, karena saya sedang malas untuk sekedar memberikan tanggapan.

Hanya karena pendidikan saya lebih tinggi, Bang Jek sering memosisikan saya sebagai orang yang lebih tahu daripada dirinya. Dalam hal apa pun. Meskipun saya juga sudah berkali-kali memberikan jawaban “tidak tahu” atau memang tidak saya berikan jawaban, karena saya bingung untuk menjelaskan dengan bahasa yang sangat sederhana dan mudah dimengerti. Saya selama ini tidak pernah menggunakan istilah-istilah asing ketika berdiskusi dengan Bang Jek, tapi tetap saja, mengemasnya menjadi sangat sederhana juga perlu seni tersendiri.

Televisi sedang menayangkan tentang Gaza ketika saya sedang menyantap mie rebus pesanan saya, juga segelas teh hangat. Bang Jek mulai berbicara tentang kekesalannya terhadap Israel, juga keheranannya -sekaligus kagum- terhadap warga Palestina yang meskipun sudah berkali-kali diserang, tapi jumlahnya seperti tidak habis-habis. Lalu mulai berbicara tentang Obama, tentang HAMAS, tentang pemerintah Indonesia dan tentang orang-orang Arab. Ketika berbicara tentang orang-orang Arab itu, tiba-tiba Bang Jek mengeluarkan pernyataan …”Orang-orang Arab mah enak ya? Mereka bisa naik haji kapan pun, nggak perlu bayar ongkos tinggi-tinggi. Nggak seperti kita yang harus nyediain uang puluhan juta.

Mie rebus sudah habis ketika pernyataan itu keluar dari mulut Bang Jek. Saya tergelitik untuk memberikan tanggapan. Saya kemudian menjelaskan, orang-orang Arab memang diberikan keistimewaan seperti itu, mereka juga bisa mendapatkan uang banyak setiap saat karena banyaknya umat Islam yang melakukan Umroh dan Haji. Buat mereka, ibadah haji tidak menjadi sebuah ‘persoalan’ seperti bagi umat Islam di negara lainnya, terutama negara miskin. Mereka bisa berhaji kapan pun, asal mereka mau. Tidak seperti orang-orang Indonesia yang harus jual tanah, atau menabung bertahun-tahun untuk bisa berangkat melaksanakan ibadah Haji. Bahkan banyak juga yang sepanjang hidupnya menabung, dan tetap belum bisa berangkat haji sampai ajal tiba. Ibadah haji menjadi sebuah impian dan cita-cita. Minimal sekali dalam seumur hidup, oleh sebab itu, ibadah Haji jadi ‘barang’ yang mahal.

Akan tetapi, umat Islam Arab, khususnya Mekah, tidak akan memperolah keistimewaan lainnya yang hanya akan diberikan kepada mereka yang berada jauh dari Mekah. Keistimewaan tersebut adalah pahala dari Allah SWT bagi mereka yang berusaha untuk melaksanakan ibadah haji dengan segala daya dan upayanya. Setiap rupiah yang ditabung dan diniatkan untuk beribadah tersebut, akan menjadi tabungan pahala juga. Bahkan jika kemudian meninggal sebelum berangkat Haji, orang tersebut, insya Allah, akan mendapatkan pahala yang bisa jadi nilainya juga lebih besar daripada hajinya orang-orang Arab. Nilai dan arti sebuah pengorbanan sangat terasa bagi umat Islam yang jauh dari Arab.

Keistimewaan lainnya, barangkali, kenikmatan menjalankan ibadah Haji tersebut. Sebuah perjalanan haji bagi seorang muslim layaknya perjalanan pulang. Perjalanan kembali untuk mengenal ‘akar’ darimana dia berasal. Oleh sebab itu, ibadah haji begitu dirindukan oleh setiap muslim. Dan karenanya, ibadah haji menjadi begitu sangat berharga. Perjalanan haji juga menjadi sebuah perjalanan yang penuh kesan, terkadang mengharukan. Maka, tidak mengherankan jika hampir sebagian besar mereka yang pernah melakukan ibadah haji, dipastikan menangis ketika melakukan ibadah tersebut.

Cerita mengharukan tentang seseorang yang mengorbankan ongkos hajinya untuk mengobati tetangganya yang sedang sakit, sementara dia merelakan dirinya tidak jadi berangkat haji. Lalu kemudian Malaikat mengabari dirinya memperoleh pahala Haji mabrur, hanya bisa muncul dari negara yang jauh dari Arab, seperti Indonesia ini. Begitu juga bermacam-macam cerita mengharukan bagaimana seseorang bisa berangkat haji, hanya muncul dari negara yang jauh dari Arab. Karena itu, sebuah perjalanan haji juga bisa berubah menjadi sebuah perjalanan spiritual seseorang. Saya yakin, orang-orang Mekah tidak akan merasakan kenikmatan yang dirasakan oleh mereka yang berangkat haji dari negara seperti Indonesia.

Jika perjalanan ibadah haji bisa dilakukan dimanapun, tidak akan muncul film sebagus “Le Grande Voyage”, misalnya. Begitu pula sinetron “Para Pencari Tuhan”, atau bahkan cerita-cerita ‘seru’ lainnya yang bisa kita dapatkan dari mereka yang pernah melakukan ibadah haji. Maka, disinilah letak adilnya Allah SWT. Orang-orang Arab mendapatkan materi, tapi orang-orang Indonesia yang berhaji mendapatkan lebih banyak hal, yang nilainya melampaui materi. Ibadah haji bisa menjadi kebahagiaan, kenikmatan, pengalaman spiritual atau bahkan kebanggaan seseorang, yang tidak bisa begitu saja hilang dari diri seseorang. Maka, inilah kekayaan sesungguhnya. Kekayaan yang bahkan materi pun tidak bisa menggantikannya, malahan orang-orang rela mengorbankan materi untuk mendapatkannya.

Tentu saja, apa yang saya tulis di atas tidak persis dengan apa yang saya jelaskan pada Bang Jek. Saya menjelaskan jauh lebih sedikit. Saya cukupkan penjelasan ketika Bang Jek mengatakan, “oh …iya, ya?!”. Bagi saya, itu artinya Bang Jek sudah cukup memahami apa yang saya maksud, tidak perlu berpanjang-panjang lebar seperti tulisan ini.

Di perjalanan pulang dari warung Bang Jek ke kostan yang berjarak 100 meter, saya kemudian teringat tentang sebuah komentar. Isinya tentang tuduhan bahwa ibadah haji merupakan rekayasa orang-orang Arab agar mereka bisa mendapatkan devisa yang banyak dari negara lain. Umat Islam selama ratusan tahun sudah dibodoh-bodohi oleh orang-orang Arab. Sekilas memang tampak benar, tapi saya kemudian berani mengambil kesimpulan bahwa orang yang menuduh tersebut tidak pernah atau belum pernah merasakan nikmatnya sebuah keimanan dan beribadah. Cara berfikir orang tersebut sangat materialistis. Padahal, jika nikmatnya keimanan sudah merasuki jiwa seseorang, jangankan berkorban harta, dirinya pun akan dikorbankan.

Benar-Salah

Melakukan hal yang benar, diomongin …
yang salah, diomongin juga…
mending yang benar aja sekalian!

Page 2 of 6

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén